Hantu Santet Laknat WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : HANTU SANTET LAKNAT / PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : HANTU SANTET LAKNAT / PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM
LUHTINTI TERTAWA. DENGAN MANJA DIA TURUN DARI PANGKUAN WIRO. WALAU KEADAAN DI DALAM GOA REDUP AGAK GELAP NAMUN WIRO MASlH BlSA MELIHAT BAHWA SAAT ITU DI SEBELAH ATAS LUHTINTI TIDAK MENGENAKAN APA-APA LAGI. "WIRO , SEPERTI AKU KATAKAN TADI AKU INGAT ADA SATU CARA YANG BlSA MEMBUAT KITA MAMPU KELUAR DARI RIMBA BELANTARA TERKUTUK INI." "KALAU BEGITU LEKAS KATAKAN …." "CARANYA SANGAT SEDERHANA WIRO ," KATA SI GADIS DENGAN WAJAH DITENGADAHKAN DISERTAI LAYAMGAN SENYUM. "KAU MENGAWINI AKU , MENGAMBIL AKU JADI ISTRIMU …." PENDEKAR 212 TERSENTAK MENDENGAR KATA-KATA LUHTINTI ITU. SI GADIS SEBALIKNYA MALAH TERTAWA PANJANG.
SATU
LANGIT malam bertambah gelap ketika bulan sabit tertutup lenyap dibalik awan hitam. Di kejauhan terdengar bunyi auman hewan buas dari arah rimba belantara Lasesatbuntu. Suara tiupan angin berdesirdingin. Tiba-tiba ada bunyi sayap menggelepar di udara. Lalu tampak dua titik merah bercahaya melayang dari jurusan Gunung Latinggimeru.Dua titik merah ini ternyata ialah sepasang mata seekor kelelawar besar yang terbang menuju puncak sebuah bukit watu berbentuk kerucut tumpul. Di atas bukit watu ini tampak mendekam duduk satu sosok tubuh kurus kering mempunyai wajah mirip seekor burung gagak hitam. Mulut dan hidungnya jadi satu membentuk paruh. Sepasang matanya kecil tanpa alis. Tubuhnya mengenakan sehelai pakaian dari jerami kering warna hitam.
Dari sikapnya duduk makhluk ini mirip tengah bersemadi. Tapi anehnya sementara dua tangannya diletakkan di atas watu , dua kakinya dinaikkan ke atas disilangkan di atas pundak kiri kanan. Orang ini ialah dukun seribu jahat seribu keji yang di Negeri Latanahsilam dikenal dengan nama Hantu Santet Laknat.
Banyak orang telah jadi korban kejahatannya. Antara lain Lakasipo (Baca Bola Bola Iblis) dan Lawungu (baca Rahasia Kincir Hantu). Kemudian nenek dukun jahat ini juga telah menguasai Latandai hingga orang berjuluk Hantu Bara Kaliatus ini menjadi kaki tangannya yang mau melaksanakan apa saja termasuk membunuh istrinya sendiri lantaran si nenek sudah mencuci otaknya (baca Episode Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul Hantu Bara Kaliatus.)
Kelelawar bermata merah bercahaya berputar dua kali di sebelah Timur kemudian melesat ke arah puncak watu kerucut tumpul. Suara kepakan sayap hewan ini masuk ke pendengaran si nenek Membuat ia segera buka sepasang matanya yang semenjak tadi dipejamkan. Bibirnya bergetar ketika ia mengucap.
"Junjungan telah tiba …."
Kelelawar hitam keluarkan bunyi pekikan aneh. Hantu Santet Laknat turunkan dua kakinya. Lalu ia bersujud di atas batu. Ketika ia berdiri kembali kelelawar bermata merah telah mengapung di udara , hanya satu tombak di sebelah depan atas kepalanya. Kepakan sayapnya yang menjadikan angin deras membuat rambut dan pakaian si nenek melambai-lambai.
"Junjungan selamat tiba saya ucapkan! Sudilah Junjungan memberi tahu maksud kedatangan!" Si nenek kembali bersujud hingga keningnya menempel di watu kemudian ia duduk tak bergerak , menatap ke atas , menunggu Kelelawar hitam yang mengapung di udara keluarkan bunyi memekik halus. Sayapnya berhenti bergerak. Lalu sosok hitamnya mengepul , bermetamorfosis asap. Asap ini secara asing kemudian membentuk satu sosok sangat angker.
Hantu Santet Laknat yang juga bertampang angker tetap saja mengkirik kuduknya walau sebelumnya sudah beberapa kali ia melihat sosok angker tersebut Makhluk yang mengapung dalam kegelapan malam di atas bukit watu berbentuk kerucut tumpul itu ialah satu sosok berjubah hitam yang wajahnya berupa tengkorak Tangan dan kakinya yang tersembul dari pecahan bawah jubah serta ujung lengan jubah berupa jerangkong tulang belulang putih. Sepasang mata tengkorak yang hanya merupakan lobang besar mengeluarkan cahaya kemerahan.
Di atas batok kepala yang putih bertumbuhan rambut-rambut putih panjang , melambai-lambai ditiup angin malam. Tiba-tiba rambut yang menjulai ke bawah itu berjingkrak ke atas , tegak berdiri , kaku laksana kawat Dua bolongan mata pancarkan cahaya merah lebih terang. Mulut tengkorak yang didereti barisan gigi-gigi besar bergerak membentuk seringai menggidikkan. Dari sela-sela giginya keluar kepulan asap. Sesaat kemudian makhluk muka tengkorak tubuh jerangkong yang tertutup jubah hitam itu keluarkan ucapan. Suaranya bergema asing , seolah keluar dari satu liang dala.
"Hantu Santet Laknat , tiada kekecewaan paling hebat selain kekecewaan terhadap dirimu. Semua apa yang kamu lakukan menemui kegagalan! Aku sudah cukup bersabar diri. Mungkin sudah saatnya kamu meninggalkan Negeri Latanahsilam. Kukirim kembali ke tempat asalmu di dasar Samudera Labiruhijau!"
Si nenek berjulukan Hantu Santet Laknat keluarkan bunyi tercekat dari hidung dan mulutnya yang jadi satu berbentuk paruh burung. Lalu buru-buru ia jatuhkan diri , bersujud di hadapan makhluk yang disebutnya dengan panggilan junjungan.
"Wahai Junjungan , bukan saya membela diri. Semua kiprah telah saya laksanakan. Namun apa yang kemudian terjadi sungguh di luar dugaan …."
Makhluk muka tengkorak menyeringai. Dari mulutnya berhembus keluar asap putih.
"Hantu Santet Laknat , kamu memang tidak mebela diri. Tapi kamu pintar mencari nalar untuk berdalih! Aku ingin tahu apa yang kamu maksudkan dengan insiden di luar dugaan itu!"
"Junjungan , kalau kamu mau mendengar , akan kuterangkan satu persatu ," kata Hantu Santet Laknat Lalu nenek bermuka burung gagak hitam ini angkat kepalanya yang semenjak tadi bersujud menempel di atas batu.
"Kejadian pertama , menyangkut Lakasipo yang kemudian dijuluki Hantu Kaki Batu itu. Junjungan pasti tahu bagaimana saya berhasil membangkitkan roh istrinya yang berjulukan Luhrinjani. Lalu kusuruh ia menjebak suaminya sendiri hingga sepasang kaki Lakasipo karam dalam cairan yang bermetamorfosis batu! Tapi kemudian tak terduga ada seorang makhluk asing bersama dua kawannya muncul menolong Lakasipo. Jika Junjungan mau men-dengar , biar saya menceritakan apa yang terjadi sejelas-jelasnya ."
Makhluk muka tengkorak berambut putih riap riapan enyeringai. Dari hidung dan mulutnya kembali mengepul asap putih. Sedangkan dari dua matanya memancar cahaya kemerahan. Dia keluarkan bunyi mendengus kemudian berkata.
"Tak ada salahnya saya mendengar ceritamu , Hantu Santet Laknat Paling tidak saya mau membandingkan apa yang kamu bilang sama dengan apa yang saya ketahui. Jika kamu berdusta , kamu tahu apa akibatnya!"
"Aku tidak berdusta wahai Junjungan. Akan kuceritakan semua padamu …." Lalu si nenek bermuka burung gagak hitam itu memulai penuturannya ….
* * *
Dalam keadaan sang surya yang sebentar lagi akan karam Lakasipo mendukung mayit Luhrinjani , istrinya yang menemui ajal , mati bunuh diri di jurang watu tak jauh dari Bukit Batu Kawin. Dia melangkah mendekati lubang watu yang telah disiapkannya sebagai makam sang istri. Jenazah wanita yang hanya sempat dikawininya selama tiga hari itu dengan hati-hati dimasukkannya ke dalam lubang. Tak ada orang lain di tempat itu. Hanya alam semata yang menyaksikan penguburan Luhrinjani. Mendadak cuaca berubah. Gulungan awan hitam entah dari mana datangnya muncul menutupi langit Petir mendera sabung menyabung , guntur menggelegar. Lalu hujan lebat turun membasahi bumi. Lakasipo merasa tidak enak.Dia memandang ke langit Gelap. Sesaat gerakannya menurunkan mayit ke dalam lubang jadi tertahan. Kilat menyambar. Sekejapan udara menjadi terang benderang. Saat itulah Lakasipo melihat bagaimana sepasang mata mayit Luhrinjani yang barusan dibaringkannya di liang watu dan semenjak tadi tertutup tiba-tiba kelihatan membuka.
Bukan itu saja! Wajah wanita yang sudah jadi mayat itu juga tampak tersenyum!
"Luhrinjani ..!. desis Lakasipo. Tubuhnya bergetar. Cahaya kilat lenyap. Bukit watu Latinggihijau kembali diselimuti kegelapan. Sesaat Lakasipo asih terkesiap. Namun begitu sadar ia cepat mengambil sebuah watu besar berbentuk pipih dan menutupkannya di atas lubang makam. Enam buah watu kemudian disusunnya di atas watu pipih epilog makam itu. Sebelum bertindak pergi , di bawah hujan lebat dan dalam keadaan lembap kuyup Lakasipo pandangi makam istrinya. Lalu mulutnya berucap perlahan..
"Wahai Luhrinjani …. Apapun yang telah kamu lakukan sebelum ajalmu , saya Lakasipo telah melupakan dan memaafkan semuanya…. Kau lihat sendiri Luhrinjani , saya sudah menyiapkan satu makam untuk diriku di samping makammu." Lakasipo melirik kearah sebuah makam kosong yang sebelumnya sengaja dibuatnya di sebelah kubur sang istri.
"Aku akan meninggalkanmu Luhrinjani. Aku akan sering-sering mklihatmu. Tenanglah dalam peristirahdanmu. Para Dewa dan para Peri akan menghiburmu. Selamat tinggal wahai Luhrinjani …." Lakasipo cium watu makam di pecahan kepala kemudian berdiri berdiri.
Hujan mulai reda tapi cuaca masih kelam. Lakasipo turuni bukit Latinggihijau , berjalan ke tempat ia meninggalkan Laekakienam , kuda tunggangannya. Belum lama menunggangi kuda itu , tiba-tiba Lakasipo melihat ada satu bayangan putih berkelebat di hadapannya. Kuda hitam berkaki enam bertanduk dua itu angkat empat dari enam kakinya kemudian meringkik keras. Sepasang matanya yang merah pancarkan sinar aneh.
Lakasipo cepat usap tengkuk tunggangannya ,
”Tenang Lae. … Tenang. Tak ada yang perlu kamu takutkan." Lakasipo memandang berkeliling. Saat itu ia sudah mencapai kaki bukit Latinggihijau. Sudut matanya menangkap sesuatu di arah kiri. Laekakienam kembali memperlihatkan gelagat gelisah. Lakasipo cepat berpaling. Bayangan putih itu kembali muncul di kejauhan sana. Di antara formasi pepohonan. Ada satu sosok wanita berpakaian putih. Meliuk-liuk mirip asap tertiup angin. Ketika ia memperhatikan wajah wanita itu tersiraplah darah Lakasipo! Wajah itu ialah wajah Luhrinjani!
"Luhrinjani …" desis Lakasipo.
"Bagaimana mungkin! Barusan saja saya menguburkanmu di makam watu …."
Sosok putih di antara formasi pepohonan tiba-tiba lambaikan tangan seolah memanggil Lakasipo. Lalu lapat-lapat ada suara.
"Lakasipo …. Lakasipo suamiku. Datanglah keari. Tolong diriku. Keluarkan saya dari alam gelap. Lakasipo …."
"Wajah itu wajah Luhrinjai! Suara itu bunyi Luhrinjani …." desis Lakasipo.
"Lakasipo …. Turun dari kudamu. Kemarilah …. Tolong diriku wahai suamiku …." Mula-mula Lakasipo masih diselimuti rasa takut dan heran. Lalu ia mulai bimbang. Matanya digosok berulang kali.
"Aku tidak bermimpi. Sosok itu memang Luhrinjani ," Lakasipo segera turun dari kudanya. Setengah berlari ia menghampiri sosok Luhrinjani. Dia berlari di sela-sela pepohonan melompati semak belukar , tidak lagi memperhatikan jalan yang dilaluinya.
"Wahai Lakasipo suamiku …. Lekaslah. Lari lebih cepat Jarak kita hanya tinggal dekat…" Sosok Luhrinjani kembali memanggil-manggil. Lakasipo lompati serumpunan semak belukar pendek. Namun begitu turun ke tanah , dua kakinya amblas masuk ke dalam dua buah lubang sedalam pangkal betis. Kalau tidak cepat ia imbangi diri pasti akan tersungkur di tanah. Dia tarik dua kakinya. Tapi alangkah terkejutnya Lakasipo. Dia sama sekali tidak sanggup mengeluarkan kedua kakinya. Lalu ia mendengar bunyi menggelegak mirip air mendidih. Ketika ia memandang ke bawah mukanya jadi pucat.
Dua kakinya dilihatnya terpendam dalam cairan asing berwarna kelabu berbuih-buih. Begitu gejolak buih berhenti , cairan telah bermetamorfosis keras , memendam sepasang kaki Lakasipo ke tanah.
"Apa yang terjadi … ?!" Lakasipo membungkuk Meraba cairan beku yang memendam dua kakinya.
"Betul!" ujar Lakasipo dengan bunyi bergetar.
"Tidak mungkin!" Dia gerakkan kakinya berusaha melepas diri. Sia-sia saja. Dia memukul dengan dua tangannya berulang kali. Pukulan yang sanggup menghancurkan watu karang itu bahkan tidak sanggup membuat bergeming watu keras yang memendam dua kakinya. Lakasipo segera keluarkan ilmu pukulan sakti berjulukan "Lima Kutuk Dari Langit". Lima lariksinar hitam menggidikkan menghantam batu.
"WUSSSS! Bummmm!"
Sinar hitam berbalik mental ke udara disertai dentuman keras. Tapi dua kakinya tetap saja terpendam dalam watu keras yang tidak hancur , retakpun tidak. Lakasipo penasaran. Dia kembali kerahkan ilmunya. Hawa Sakti dikerahkan pada dua kakinya. Dia keluarkan kesaktian berjulukan "Kaki Roh Pengantar Maut." Cahaya hitam memancar dad kakinya kiri kanan. Tapi segera meredup. Dan celakanya hawa sakti yang tadi dikerahkannya seolah berbalik mencengkeram dua kakinya. Sakitnya bukan kepalang.
"Celaka! Apa yang terjadi dengan diriku! Pasti ada orang jahat …" Lakasipo ingat pada sosok Luhrinjani. Ketika ia memandang ke depan justru dilihatnya sosok itu bergerak mirip melayang tiba ke arahnya.
"Luhrinjani …."
Tiba-tiba terdengar bunyi berdentrangan. Sosok Luhrinjani ternyata memegang sebuah rantaiditangan kanannya. Pada kedua ujung rantai ada sebentuk jopitan besi besar.
"Luhrinjani! Betul kamu yang ada di hadapanku ini?" tanya Lakasipo. Luhrinjani menyeringai. Wajah itu mendadak berubah. Mula-mula pada mulutnya. Mulut ini mencuat enonjolkan gigi-gigi mengerikan. Lalu kulit wajahnya aeolah leleh hingga membentuk tulang tengkorak. Dua mata bermetamorfosis sepasang rongga mengerikan. Rambutnya yang hitam juga lenyap. Kepalanya kini telah menjadi sebuah kepala tengkorak putih. Lalu dua tangan yang tersembul dari balik pakaian putih bergantian pula menjadi tulang belulang mengerikan.
Lakasipo keluarkan seruan tertahan saking kagetnya. Sosok tengkorak merunduk. Dengan satu gerakan sangat cepat makhluk ini mejapit pangkal betis Lakasipo kiri kanan.
"Kau! kamu bukan Luhrinjani! kamu makhluk jahat jejadian!" teriak Lakasipo. Sosok tengkorak tertawa melengking.
"Takdir jelek telah jatuh atas dirimu Lakasipo! Kau akan terpendam dalam dua watu seumur hidupmu. Tubuhmu akan rusak , busuk dan hancur luar dalam. Kau akan mengalami siksaan hebat sebelum menemui ajal!"
"Makhluk jahanam! Kau pasti suruhan orang jahat! Katakan siapa yang menyuruhmu?!" teriak Lakasipo.
"Kau akan mendapatkan jawaban lama sekali Lakasipo ," jawab makhluk muka tengkorak
"Setelah sosokmu bermetamorfosis jerangkong dan rohmu melayang di langit hampa!" Lakasipo hantamkan tangan kanannya. Pukulan "Lima Kutuk Dari Langit" menderu. Lima larik sinar hitam berkiblat
"Bummmm!"
Pukulan sakti menghantam telak sosok putih di depan sana.
"Braaakkk! Byaaarrr!"
Sosok putih hancur berantakan. Serpihan tulang tengkorak dan tulang jerangkong bertaburan di udara. Lalu bermetamorfosis asap lenyap tanpa bekas. Lakasipo meraung keras. Dia hantamkan pukulan sakti bertubi-tubi. Namun akhirnya ia lemas sendiri dan jatuh terduduk di tanah. (Secara lebih lengkap kisah di atas sanggup Anda baca dalam Episode pertama Petualangan Wiro di Negeri Latanahsilam berjudul "Bola Bola Iblis" )
* * *
DUA
SI NENEK bermuka burung gagak hitam bersujud di batu. Begitu berdiri ia pribadi berkata."Wahai Junjungan , itulah kisah bagaimana saya telah mencelakai Lakasipo. Aku berhasil melakukannya sesuai dengan seruan Lahopeng , musuh besar Lakasipo. Junjungan , bukankah saya juga telah memberi tahu padamu sebelum saya menyantet Lakasipo melalui roh istrinya hingga dua kakinya karam dalam dua buah batu. Namun mirip kataku tadi , secara tidak terduga muncul satu makhluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang. Walau sosoknya hanya sejari kelingking tapi ia bisa menolong Lakasipo… ."
Makhluk yang dipanggil dengan sebutan Junjungan menyeringai jelek kemudian rangkapkan dua tangan jerangkongnya.
"Hantu Santet Laknat saya tahu sebetulnya kamu lebih banyak dipengaruhi oleh Lahopeng hingga menempuh cara keliru dalam menyantet Lakasipo. Sebenarnya kamu bisa membunuh orang itu dengan ilmu Lintah Penyedot Jantung! Dalam waktu sepenanakan nasi saja Lakasipo pasti sudah menemui ajal! Mengapa harus menggunakan jalan sulit berbelit , menyantet lewat roh halus segala?!"
Hantu Santet Laknat terdiam. Lalu ia buru-buru jatuhkan diri bersujud dan berkata.
"Kalau caraku memang keliru , saya mohon maafmu wahai Junjungan …."
"Apa yang kamu terima dari Lahopeng sebagai upah?" Sang Junjungan bertanya.
"Dia menyampaikan beberapa butir watu permata. Semua sudah kutelan ," jawab si nenek bermuka gagak hitam. Sang Junjungan menyeringai.
"Kau sengaja menelan batu-batu permata itu. Berarti kamu masih ingin mempertahankan llmu Bersalin Wajah yang kamu miliki …"
"Kira-kira memang begitu wahai Junjungan ," jawab Hantu Santet Laknat
"Sekarang saya ingin kamu menerangkan perihal makhluk dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang , yang katamu muncul tak terduga menolong Lakasipo …."
" Aku akan terangkan padamu wahai Junjungan. Aku akan terangkan …" kata Hantu Santet Laknat pula sehabis lebih dulu bersujud tempelkan keningnya di atas batu.
"Orang itu masih muda. Namanya Wiro Sableng , konon ia berjuluk Pendekar 212 …."
"Dua satu dua …" engulang sang Junjungan.
"Apa artinya itu?"
"Mohon maafmu wahai Junjungan. Aku sendiri tidak mengerti apa arti tiga buah angka itu …."
"Kau harus menyelidikinya nanti. Mungkin di situ terletak kehebatannya. Tapi bisa juga sekaligus letak kelemahannya …. Teruskan keteranganmu Hantu Santet Laknat!"
"Pemuda itu muncul bersama dua temannya. Yang satu seorang bocah berjulukan Naga Kuning. Satu lagi seorang kakek amis pesing lantaran selalu kencing di celana. Dipanggil dengan sebutan Setan Ngompol."
"Air kencing…" berkata sang Junjungan.
"lngat hal itu Hantu Santet Laknat Cairan itu salah satu benda terlarang yang bisa mencelakai dirimu…."
"Aku selalu ingat hal itu wahai Junjungan ," kata Hantu Santet Laknat pula. Lalu ia lanjutkan keterangannya.
"Wiro bertemu dengan Lakasipo dalam rimba belantara. Tadinya Lakasipo hendak membunuh cowok itu dan dua kawannya. Tapi entah bagaimana mereka kemudian jadi dekat Bahkan cowok inilah yang kemudian menolong Lakasipo. Mula-mula ia pergunakan sebuah senjata aneh. Sebilah kapak bermata dua…..”
"Sebilah kapak bermata dua katamu?"
"Betul sekali Junjungan ," jawab si nenek.
”Tunggu , coba kusirap dulu senjata itu adanya. Sampai dimana kehebatannya…."
Makhluk tengkorak berjubah hitam dongakkan kepalanya. Dua tangan dirangkapkan di depan dada. Dari dua rongga matanya memancar cahaya kemerahan sedang dari hidung dan sela mulutnya membersit keluar asap putih. Sesaat kemudiaan ia berucap.
"Kapak itu menyimpan banyak kesaktian. Semua berasal pada kekuatan api putih. Kau harus berhati hati. Kau harus mengusahakan untuk mendapatkannya …."
"Akan saya lakukan Junjungan…!"
Sang Junjungan kembali mendongak. Matanya kembali memancarkan cahaya merah dan asap putih lagi-lagi berhembus keluar dari hidung dan mulutnya.
"Tapi Hantu Santet Laknat… Menurut apa yang saya sirap dari alam mistik , bukan kapak itu yang bisa membebaskan Lakasipo! Dalam alam mistik kulihat ada sesosok hewan berbulu putih polos. Seekor harimau …."
"Benar Junjungan. Setelah gagal membebaskan Lakasipo dengan dua larik sinar hijau yang keluar dari matanya , cowok itu lantas keluarkan satu ilmu kesaktian aneh. Dia memelihara seekor harimau putih bermata hijau. Harimau jejadian inilah yang kemudian bisa memutus rantai besi pengikat kaki Lakasipo. Juga hewan ini menggali tanah watu tempat Lakasipo terpendam hingga akhirnya ia bisa keluar dari dalam tanah!"
"Aku harus menyirap kembali ke alam gaib!" kata sang Junjungan. Lagi-lagi ia mendongak ke langit dan rangkapkan dua tangan di atas dada jubah hitam. Sesaat kemudian ia memandang pada Hantu Santet Laknat. Rambut putih di atas kepalanya kelihatan tegak kaku mirip kawat
"Nenek bermuka burung gagak!" katanya.
"Kau benar-benar menemui seorang lawan tangguh. Dua larik sinar hijau yang katamu keluar dari sepasang matanya ialah senjata sakti mistik berjulukan Sepasang Pedang Dewa! Aku tidak bisa menduga Dewa dari mana yang menyampaikan ilmu itu padanya. Ketika ia menolong Lakasipo bukankah keadaan dirinya masih sebesar kelingking?"
"Benar Junjungan …."
"Karena sosoknya yang kecil , ia tidak bisa menghimpun kekuatan. Tapi kini sosoknya sama besar dengan mahkluk di Negeri Latanahsilam. Kehebatan Sepasang Pedang Dewa tidak bisa dianggap enteng. Kau benar-benar harus hati-hati terhadap orang itu Hantu Santet Laknat. Lalu harimau putih yang kamu sebutkan itu , hewan mistik tersebut memang pelindung yang mengikutinya kemana ia pergi. Walau ia tidak bisa menghancurkan dua watu bulat yang membungkus kaki Lakasipo tapi harimau putih itu sangat berbahaya!"
Hantu Santet Laknat bengong sejenak Lalu berkata.
"Sebenarnya saya tidak takut pada cowok itu wahai Junjungan. Aku yakin bisa membunuhnya kalau berhadapan!"
"Jangan menganggap enteng makhluk satu ini Hantu Santet Laknat. Dia bukan saja punya ilmu kesaktian hebat , tapi juga mempunyai nalar dan otak cerdik!"
"Kalau begitu saya minta petunjukmu wahai Junjungan ," memohon Hantu Santet Laknat
"Dengar baik-baik apa yang saya ucapkan!" kata sang Junjungan pula.
"Jika seseorang merasa sanggup menguasai musuh , maka ia harus menghancurkan musuh itu. Tapi kalau ia merasa belum atau tidak sanggup maka ia haws merangkul musuh tersebut , menjadikannya sahabat Pada saatnya ia merasa bisa maka gres ia menghancurkan sang musuh!"
"Aku mengerti apa yang kamu katakan itu Junjungan. Tapi yang belum terperinci , apa yang harus saya lakukan terhadap cowok berjulukan WiroSableng itu?" tanya Hantu Santet Laknat pula.
"Kau harus enjebaknya semoga ia tidak bisa kembali pulang ke negerinya! Aku tahu kamu punya otak berakal dan nalar panjang! Kau harus enjebak cowok itu masuk ke dalam Rimba Lasesatbuntu. Buat ia tak bisa keluar lagi. Buat ia mendekam seumur hidupnya dalam rimba belantara itu. Dengan demikian segala npa yang kamu lakukan tidak akan menerima gangguan …."
Hantu Santet Laknat mengangguk-angguk.
"Kalau begitu petunjukmu akan saya lakukan …."
"Tapi! Seperti ucapanku tadi!" berkata sang Junjungan.
"Jika kamu menghadapi perlawanan dan kamu tidak sanggup melawannya , kamu harus menjalankan rencana ke dua. Kau harus merangkul musuh berbahaya itu! Kau harus memperlakukannya sebagai suami! Kau harus mengawininya!"
Sosok si nenek Hantu Santet Laknat tersentak saking kagetnya mendengar ucapan sang Junjungan.
"Wahai Junjungan , bagaimana mungkin saya mengawini cowok itu … ?"
"Mengapa tidak mungkin? Dia pria , kamu perempuan? Apa kesulitannya? Lain halnya kalau kalian sama-sama lelaki atau kalian dua duanya perempuan!"
"Maksudku …. Maksudku bukan itu wahai Junjungan! Tekad-ku sudah bulat untuk membunuhnya dari pada di belakang hari menjadikan malapetaka bagi diriku. Tapi untuk mengawininya …."
"Hantu Santet Laknat , apa kamu pernah melihat sendiri? Pernah bertemu muka dengan cowok berjulukan Wiro itu?" tanya sang Junjungan pula.
"Selama ini memang belum pernah Junjungan."
"Makin cepat kamu bertemu dengan cowok itu makin baik! Lihat saja nanti bagaimana perilaku dan perasaanmu sehabis melihatnya!"
"Junjungan , kalau maksudmu saya akan tertarik padanya mungkin jauh panggang dari api. Bukankah kamu tahu bahwa hanya ada satu orang yang saya cintai di dunia ini? Yaitu Hantu Muka Dua."
Muka tengkorak sang Junjungan menyeringai. Dari mulutnya mengepul asap putih.
"AKu tidak ingin kamu memutus cinta dengan Hantu Muka Dua. Tapi kalau saya jadimu sudah semenjak lama saya tinggalkan makhluk keji satu itu. Setiap hari ia bergelimang dosa dengan gadis anggun , Apa kamu merasa dirimu bisa bersaing dengan gadis-gadis itu walau kamu punya llmu Bersalin Wajah? Karena itu lagi-lagi kuminta semoga kamu segera mencari cowok berjulukan Wiro itu. Jika kamu meang tidak suka padanya dan tidak ingin merangkulnya , tidak ingin berselingkuh dengan kekasihmu si Hantu Muka Dua , maka kamu tinggal menjebloskan Wiro ke dalam rimba Lasesatbuntu."
"Aku akan lakukan apa katamu.wahai Junjungan ," kata Hantu Santet Laknat mengambil perilaku mengalah.
"Sekarang mengenai muridmu berjulukan Latandai alias Hantu Bara Kaliatus itu!" kata makhluk muka tengkorak dan jerangkong berjubah hitam.
"Bukankah kamu telah memerintahkannya untuk membunuh Lakasipo dan istrinya sendiri yang berjulukan Luhsantini itu? Jangan kamu berdusta! Semua kiprah itu belum terlaksana!"
"Aku mohon maafmu Junjungan. Hantu Bara. Kaliatus meang sedang kucari-cari lantaran semenjak beberapa lama ini ia tidak muncul. Setahuku ia memang pernah hendak mencoba membunuh istrinya Luhsantini. Tapi muncul seorang gadis sakti penunggang kura-kura terbang berjulukan Luhjelita. Gadis ini menolong Luhsantini hingga maksud Hantu Bara Kaliatus membunuh istrinya gagal. Dia juga gagal membunuh Lakasipo!"
"Murid mirip itu tidak ada gunanya. Kau harus cari dia! Perintahkan sekali lagi untuk membunuh Lakasipo dan Luhsantini. Jika ia gagal lagi saya perintahkan padamu untuk membunuh murid tak mempunyai kegunaan itu! Kau harus sadar Hantu Santet Laknat! Lakasipo ialah salah satu musuh besarmu yang selalu berusaha mencari dan membunuhu. Karena ia sudah tahu kaulah yang menyantet dirinya!" Hantu Santet Laknat mengangguk perlahan.
"Akan saya lakukan apa katamu wahai Junjungan."
"Sekarang mengenai insan berjulukan Lawunqu!" berucap sang Junjungan.
"Kau gagal membunuh insan satu itu padahal sekujur tubuhnya hingga tulang belulangnya telah diselubungi luka borok membusuk tanggapan santetanmu! Mengapa kamu gagal membunuh insan itu?! Apa yang telah terjadi?!"
"Aku mohon aafmu wahai Junjungan. Seperti. insiden yang lain-lainnya , insiden satu inipun gagal tanggapan ulah tak terduga. Padahal racun ular yang saya susupkan ke tubuh Lawungu ialah racun paling jahat! Kali ini yang punya pekerjaan ialah Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab …."
"Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab!" mengulang makhluk muka tengkorak
"Aku sudah lama mendengar kalau ia memang bersekutu dengan Lawungu dan juga Lasedayu! Tapi kesaktiannya tidak cukup bisa untuk menyembuhkan santetanmu terhadap Lawungu. Kecuali ada satu kekuatan atau kesaktian lain …."
"Aku menyirap kabar ia menemukan sendok emas sakti berjulukan Sendok Pelangkah atau Sendok Pemasung Nasib. Dengan benda itu ia mengobati Lawungu!" Menjelaskan Hantu Santet Laknat (Harap baca Episode sebelumnya berjudul "Rahasia Kincir Hantu")
"Aku kecewa! Benar-benar kecewa! Semua ilmu kepandaian yang saya berikan Upadamu seolah tidak ada artinya dan gunanya. Sendok sakti itu! Bagaimana bisa jatuh ke tangan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab?"
"Dari kabar yang saya sirap , konon Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab merampasnya dari tangan Hantu Muka Dua!"
"Kalau Hantu Muka Dua bisa dipercaya mirip itu berarti memang benar kabar yang saya dengar bahwa Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab ialah makhluk paling tinggi kepandaiannya di Negeri Latanahsilam. Wahai , kamu harus memutar otak , mempergunakan kelicikan untuk menyingkirkan Hantu Sejuta Tanya Sejuta Jawab. Tapi buat dulu ia menderita tersiksa batin sebelum kamu habisi …."
"Caranya bagaimana wahai Junjungan?" tanya Hantu Santet Laknat.
"Kudengar ia punya dua orang cucu yang cantik-cantik. Bernama Luhkemboja dan Luhkenanga. Mungkin kamu bisa melaksanakan sesuatu atas diri mereka. Biar Hantu Sejuta Tanya Hantu Sejuta Jawab tahu rasa! Sekarang apa kamu tahu dimana beradanya Sendok Pemasung Nasib itu?"
"Aku memang tengah menyelidik dan menyirap kabar. Aku akan berusaha mendapatkannya…."
"Sendok emas sakti itu harus kamu dapatkan. Tapi yang penting bagimu ketika ini ialah mencari cowok asing berjulukan Wiro itu!"
"Aku akan segera melakukannya wahai Junjungan ," kata Hantu Santet Laknat pula.
"Jangan lupa menuntaskan urusan nyawa dengan Lakasipo dan Luhsantini. Aku akan mengawasi prilaku serta semua perbuatanmu di Negeri Latanahsilam. Sekali lagi kamu mengecewa-kan saya , riwayatmu akan kuakhiri selama-lamanya. lngat hal itu Hantu Santet Laknat! Jika saya masih merasa kasihan padamu mungkin saya hanya akan mencabut semua kepandaian yang pernah saya berikan padamu. Tapi itu gres kemungkinan saja. Karena saya lebih suka melihat kamu terjelapak tanpa nyawa! lngat itu baik-baik!" Kuduk Hantu Santet Laknat terasa dingin.
"Aku akan ingat , wahai Junjungan ," kata si nenek muka gagak kemudian sujud di atas batu. Ketika ia mengangkat kepalanya kembali makhluk kepala tengkorak tubuh jerangkong sudah tidak ada lagi.
* * *
TIGA
KUDA hitam berkaki enam dan mempunyai sepasang tanduk di kepalanya tegak di puncak bukit watu dengan perilaku gagah. Di atasnya duduk Hantu Kaki Batu , memandang ke arah lembah watu dibawahnya. Di kejauhan menjulang Gunung Labatuhitam."Sunyi , tak kelihatan ada makhluk apapun di bawah sana. Apakah semenjak berpisah dengank tempo hari ia memang kembali ke sini atau pergi ke tempat lain?" Hantu Kaki Batu alias Lakasipo bertanya-tanya dalam hati.
"Kalau ia memang tidak ada di tempat ini kemana saya harus mencari?" Lakasipo memandang seputar lembah yang dipenuhi bebatuan hitam banyak sekali bentuk dan ukuran sambil usap-usap tengkuk laekakienam , kudaraksasa tunggangannya.
"Lae , keluarkan ringkikanmu. Beri tanda bahwa kita berada di tempat ini!" kata Lakasipo berucap pada kuda hitamnya. Mendengar ucapan itu kuda hitam berkaki enam angkat empat kaki depannya kemudian keluarkan bunyi ringkikan keras , menggelegar dan bergema di seantero daerah bukit dan lembah batu. Begitu bunyi gema ringkikan kuda lenyap , suasana di tempat itu kembali sunyi. Lakasipo memandang lagi , menyelidik ke setiap sudut lembah.
"Mungkin saya harus turun menyelidik ke lembah. Setahuku di bawah sana ada satu goa. Mungkin ia tengah melatih ilmu atau bersemadi hingga tidak mendengar bunyi ringkikan Laekakienam." Berpikir begitu Lakasipo segera tepuk pinggul kudanya. Namun sebelum hewan bermata merah ini bergerak melangkah tiba-tiba dari arah langit sebelah utara terdengar bunyi suitan keras. Mendongak ke atas Lakasipo melihat satu makhluk hitam bersayap lebar , melesat terbang ke arah bukit di mana ia berada , ditunggangi seorang lelaki berambut panjang melambai-lambai. "Walet raksasa!" desis Lakasipo.
"Penunggangnya pasti si jahanam Latandai! Masih hidup rupanya makhluk keji satu itu!" Baru saja Lakasipo berkata begitu tiba-tiba dari atas sana melesat dua buah benda berapi yang mengeluarkan cahaya merah mirip ekor panjang. Satu menghantam ke arah kepala Laekakienam , satu lagi menyambar ke jurusan kepala Lakasipo. Lakasipo keluarkan seruan keras. Tangan kirinya menepuk pinggul Laekakienam. Kuda hitam raksasa ini meringkik dahsyat kemudian melompat ke kiri. Binatang ini selamat lantaran benda merah berbuntut api lewat hanya setengah jengkal dari sisi kiri kepalanya. Benda ini yang ternyata ialah sebuah bara menyala amblas masuk ke dalam lamping batu. Lamping watu kepulkan asap tebal lalu
"krakkk! Byaaarr!"
Dinding watu itu hancur berantakan! Ketika menggebrak pinggul kudanya Lakasipo sendiri ketika itu telah melesat dari punggung kuda , membuat gerakan jungkir balk Sambil melayang turun ia hantamkan kaki kanannya yang terbungkus watu berbentuk bola.
"Byaaarr!"
Benda merah menyala yang hendak menghantam kepalanya mencelat mental , hancur bertaburan. Lakasipo sendiri merasa kakinya mirip disengat api Termiring- miring ia tegak di atas watu bukit Ketika diperhatikan temyata ada pecahan watu yang membungkus kakinya telah menjadi gompal dan hangus di salah satu bagian.
Di udara , penunggang walet raksasa tertawa bergelak , Setelah berputar dua kali walet hitam itu menukik turun. Saat itulah Lakasipo hantamkan tangan kanannya. Lima jari tangan menjentik keras.
Lima larik sinar hitam membeset ke udara , menggempur walet raksasa dan penunggangnya dari lima jurusan. Seperti tahu ancaman walet raksasa menggebrakkan sayapnya. Binatang ini menukik tajam sementara penunggangnya melompat sebat , kemudian laksana terbang ia melayang ke bawah dan turun di atas bukit watu , terpisah sejarak dua belas langkah dari hadapan Lakasipo.
Sepasang alisnya menjungkat ke atas ketika mendengar bunyi walet hitam menguik di udara menunjukan hewan itu mengalami kesakitan hebat Nyatanya , salah satu dari lima larikan sinar hitam berhasil menghantam sayapnya , merobek hangus pecahan kulitnya dan menghancurkan jaringan tulang-tulangnya. Sebagian dari sayap itu kelihatan menciut pendek Dalam keadaan oleng dan sayap mengepulkan asap walet hitam ini mendarat di atas sebuah watu berbentuk miring. dari mulutnya tiada henti keluar bunyi menguik kesakitan.
"Hantu Kaki Batu jahanam!" merutuk orang yang barusan melompat dari punggung walet hitam dan berhasil selamatkan diri dari serangan larikan sinar hitam. Rahangnya menggembung. "llmu Lima Kutuk dari Langit yang dimilikinya benar-benar berbahaya!”
“Dia harus bayar mahal apa yang telah dilakukannya! Dia telah melukai walet tungganganku!" Orang yang tegak di hadapan Lakasipo itu bertubuh tinggi besar tapi tidak sekekar Lakasipo.
Berdirinya agak terbungkuk seolah ada sesuatu yang berat di bawah perutnya. Gerakannya walau kelihatan hebat , tapi mata orang pintar akan melihat bahwa sebetulnya ia bergerak lamban. Rambutnya panjang acak-acakan. Pipi kirinya ada cacat besar bekas luka. Tangan kirinya sebatas siku ke bawah disambung dengan sejenis logam biru yang dipenuhi tonjolan tonjolan runcing. Yang hebat dan juga asing ialah keadaan pecahan tubuhnya di sebelah dada hingga ke perut. Seolah ada api di sebelah dalam , pecahan tubuhnya itu meancarkan cahaya kemerah-merahan. Cahaya ini berasal dari bara menyala yang mendekam di dalam tubuhnya.
Beberapa waktu silam dari dukun jahat si nenek Hantu Santet Laknat ia pernah mendapatkan satu ilmu dahsyat yang disebut Bara Setan Penghancur Jagat. Di kepala , dada dan perutnya menempel dua ratus bara menyala yang bisa dijadikannya senjata ganas luar biasa. Kejahatan dan kekejian yang dibuatnya mengakibatkan Peri Bunda enjatuhkan kutuk. Baa menyala yang tadinya ada di luar tubuhdimasukkan ke dalam perutnya! Membuat ia menderita tersiksa setengah mati.
Dalam keadaan antara hidup dan mati ia melaksanakan tapa di satu tempat terpencil hingga akhirnya ia bisa meredam panasnya bara menyala yang ada di dalam tubuhnya. Malah kemudian bara menyala itu kembali sanggup dipergunakannya sebagai senjata mirip barusan yang dilakukannya terhadap Laekakienam dan Lakasipo.
"Hantu Kaki Batu! Kau masih berani tiba ke tempat ini mencari istriku Luhsantini! Benar-benar berani mati!" Lakasipo tertawa bergelak.
"Hantu Bara Kaliatus ternyata kamu masih hidup! Tapi sayang , otakmu sudah miring! Apa kamu tidak sadar , semenjak kamu hendak membunuhnya yang ke dua kali , semenjak itu pula ia tidak sudi lagi menjadi istrimu?! Baginya kamu tidak lebih dari pada iblis biadab dari pusaran neraka jahanam!" Mendidih amarah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.
"Makhluk jahanam! Perampas istri orang! Kalau Luhsantini ada di sini biar wanita celaka itu menyaksikan bagaimana saya memanggang tubuhmu hingga gosong!"
" Jangan bicara terlalu sombong hantu laknat! Cacat di pipi kirimu bekas hantaman rantai kakiku , serta cacat di lengan kirimu bekas hajaran Luhsantini masih membekas nyata! Apa kamu mau minta perhiasan hajaran gres dariku?! Atau mungkin kamu minta barang di bawah pelutmu saya buat tambah besar dari yang ada sekarang?!" (Seperti dituturkan dalam Episode berjudul "Hantu Bara Kaliatus” atas nasihat pembangkang Naga Kuning Lakasipo telah menotok urat besar di pangkal paha Hantu Bara Kaliatus. Akibatnya anggota rahasia lelaki itu menjadi gembung besar mirip orang kondor. lnilah yang membuat gerakannya menjadi lamban).
Tambah mendidih amarah Hantu Bara Kaliatus mendengar kata-kata Lakasipo itu. Rahangnya menggembung , mulutnya berkomat-kamit. Dia angkat tangan kirinya tinggi-tinggi melewati kepala.
"Bleeepp … bleepp … bleeppp!"
Dari belasan tonjolan runcing yang ada di sekujur lengan besi Hantu Bara Kaliatus membersit nyala api berwarna biru gelap mengeluarkan bunyi mendesis tak berkeputusan.
"Hantu Kaki Batu , sayang sekali! Kau tidak menyadari bahwa kamu akan menemui kematian lebih cepat dari yang kamu duga!"
"Nyawa insan tidak berada dalam kuasa insan lainnya! Karenanya jangan bicara berpongah diri! Mungkin kamu yang lebih dulu akan kujebloskan ke alam Roh!" Bersamaan dengan selesai ucapannya Hantu Kaki Batu melompat. Kaki kirinya yang terbungkus bola watu berdesing mencari sasaran di pinggul Hantu Bara Kaliatus dalam jurus yang disebut "Kaki Roh Pengantar Maut." Dari kaki serta bulatan watu membersit sinar hitam. Bersamaan dengan itu tangan kanannya lepaskan pukulan "Lima Kutuk Dari Langit"!
Hantu Bara Kaliatus seolah menganggap enteng serangan maut yang dilancarkan lawan. Sambil tertawa mengejekdia gerakkan tangan kirinya. Terjadilah hal yang membuat kejut Hantu Kaki Batu bukan alang kepalang. Begitu Hantu Bara Kaliatus menggerakkan tangan kirinya yang sebagian terbuat dari logam asing , dari belasan tonjolan runcing , bergulung keluar larikan larikan api panjang berwarna biru , sangat panas. Gulungan api ini berbentuk demikian rupa mirip jaringan besar yang dengan cepat menghantam dan menggulung ke arah Hantu Kaki Batu!
"Api lblis Penjaring Roh!" teriak Lakasipo menyebut ilmu yang dikeluarkan lawannya itu.
"Setahuku ilmu ini hanya dimiliki oleh Hantu Santet Laknat! Celaka! Bagaimana jahanam ini bisa memilikinya!"
"Dress!"
Bola watu di kaki kiri Lakasipo terpental.Tubuhnya ikut terpelanting hingga tiga tobak. Lalu jatuh terbanting di tanah.
"Wuss! Wusssss! Wusssss! wussssss!"
Lima larik sinar hitam pukulan sakti Lima Kutuk Dari Langit yang tadi dihantamkan Lakasipo hancur bertaburan bermetamorfosis asap begitu saling bentur dengan jaringan api biru. Dengan uka pucat dan sekujur tubuh sakit Lakasipo cepat berdiri berdiri. Namun
"wuuutttt!"
Jaringan Api lblis cepat berkelebat menggulung dan membungkus tubuhnya.
"Cessss! Cessss! Cessss!"
Tubuh Lakasipo terpanggang hangus di beberapa bagian. Lelaki ini menjerit kesakitan. Dia berusaha lepaskan diri dari jaring api biru tapi sia-sia saja. Semakin dicoba semakin banyak pecahan tubuhnya yang terluka hangus!
"Celaka! Aku tak bisa membebaskan diriku! Aku akan terpanggang hancur dalam jaring api ini!" Di hadapan Lakasipo. Hantu Bara Kaliatus berkacak pinggang dan tertawa bergelak. Sekali ia meniup maka api biru yang membersit dari tonjolan tonjolan runcing di tangan kirinya pun padam. Tapi jaring api biru masih tetap membungkus sosok Lakasipo dan semakin panas hingga Lakasipo merasa tubuhnya seolah mulai meleleh!
"Bara Kaliatus keparat! Apa hubunganmu dengan Hantu Santet Laknat?!" Berteriak Laksipo.
"Ha …. ha …. ha! Makara kamu rupanya mengenali ilmu kesaktian yang kini menjaring sekujur tubuhmu! Ha … ha … ha! Dengar baik-baik wahai makhluk malang! Aku ialah murid si nenek sakti berjuluk Hantu Santet laknat yang kamu tanyakan itu! Ha … ha … ha … ha!"
Dalam sakitnya Lakasipo terkejut bukan main. Lebih-lebih ketika mendengar Hantu Bara Kaliatus meneruskan ucapannya.
"Dendam kesumatku terhadapmu hari ini terbalas sudah! Sekaligus saya berhasil pula melaksanakan kiprah dari guruku! Selamat tinggal Hantu Kaki Batu! Sebelum matahari karam sekujur tubuhmu akan bermetamorfosis bangkai meleleh!"
Lakasipo mendongak langit. Saat itu sang surya telah jauh menggelincir ke arah barat. Tak lama lagi matahari akan segera tenggelam. Berarti umurnya memang tak akan lama. Dia coba gerakkan tangan untuk menghantam tapi
"cesss!"
Sedikit saja ia bergerak , jaring api melukai dan menghanguskan tubuhnya!
"Hantu .Bara Kaliatus jahanam! Kelak para Dewa akan menjatuhkan eksekusi atas dirimu!" Hantu Bara Kaliatus yang sudah berjalan beberapa langkah menghampiri walet tunggangannya balikkan diri. Sambil menyeringai ia berkata.
"Kalau kamu merasa punya Dewa , panggilah! Berteriak minta tolong! Agar kamu bisa keluar dari Api lblis Penjaring Roh! Ha … ha … ha!" Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak kemudian tinggalkan tempat itu.
"Terkutuk kamu Latandai! Terkutuk kamu Hantu Bara Kaliatus!" teriak Lakasipo. Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tidak perdulikan teriakan caci maki Lakasipo. Sambil terus tertawa ia menghampiri walet hitam. Dia tahu walau hewan itu menderita cidera tanggapan hantaman Lakasipo tadi , sang walet masih bisa menerbangkannya meninggalkan lembah watu itu. Namun tiga langkah di hadapan walet raksasa , kaki Hantu Bara Kaliatus seolah terpantek ke tanah. Matanya membeliak begitu menyaksikan bagaimana kepala walet tunggangannya berada dalam keadaan hancur. Dua sayap dan kakinya menggelepar dan melejang-lejang beberapa kali kemudian membisu tak berkutik lagi. Hantu Bara kaliatus berteriak marah.
"Jahanam berani mati! Siapa membunuh waletku?!" Sebagai jawaban tiba-tiba menggema bunyi cekikikan dari balik sebuah watu besar di samping kiri Hantu Bara Kaliatus. Lelaki ini segera membalik dan menghantam dengan pukulan Selusin Bianglala Hitam!. Dengan ilmu kesaktian inilah dulu ia hendak membunuh istrinya atas suruhan Hantu Santet Laknat!.
Dua belas sinar hitam menderu angker. Dua belas lobang kelihatan di watu itu. Asap mengepul lalu
"braakk … byaaarrr!"
Batu besar hancur berantakan berkeping-keping. Pecahan dan debunya beterbangan ke udara mmenertupi pemandangan. Ketika kepingan watu dan debu surut jatuh ke tanah dan keadaan terang kemlbali , di depan sana tampak berdiri dua orang. Yang pertama seorang kakek yang berdiri terbalik secara asing yakni dua tangan dijadikan kaki sedang sepasang kaki berada di sebelah atas.
Orang ke dua seorang wanita anggun berpakaian serba merah. Saat itu Lakasipo berada di dalam keadaan cidera berat. Hampir sekujur tubuhnya hangus tanggapan bersentuhan dengan Api lblis Penjaring Roh. Sakitnya bukan olah-olah. Lututnya sudah goyah , pemandangannya berkunang-kunang. Walau kurang jelas ia masih bisa mengenali siapa adanya dua orang di seberang sana.
* * *
EMPAT
MULUT Lakasipo bergetar ketika perlahan , antara terdengar dan tiada ia menyebut nama kedua orang itu."Hantu Langit Terjungkir…. Luhsantini…." Kakek yang tegak di atas dua tangannya itu memang Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir adanya. Sedang wanita anggun berpakaian serba merah ialah Luhsantini , bekas istri Hantu Bara Kaliatus.
Melihat kemunculan istrinya , Hantu Bara Kaliatus yang sedang murka lantaran menemukan walet terbang tunggangannya dalam keadaan mati pecah kepala jadi bertambah marah. Sekali lompat saja ia telah berada di hadapan Luhsantini.
"Perempuan laknat! lstri celaka! Pasti kamu yang telah membunuh walet tungganganku! Kepalanya hancur!"
"Makhluk keji tak mengenal tobat! Tangan kirimu sudah kuhancurkan! Apa itu tidak cukup menjadi pelajaran? Rupanya kamu memang minta kuhancurkan kepalamu mirip saya menghancurkan kepala walet hitam itu!" Balas mendamprat Luhsantini. Hantu Bara Kaliatus keluarkan bunyi menggembor. Mulutnya berteriak.
"lstri celaka! Dicari-cari tidak bertemu! Sekarang malah muncul sendiri mengantar nyawa!" Rahang Hantu Bara Kaliatus menggembung kemudian begitu ia meniup ke depan , dua buah bara menyala melesat menyerang Luhsantini. Tapi Luhsantini cepat menyingkir selamatkan diri
"Makhluk keji! Haram bagimu menyebut diriku istri!"
"Kalau begitu biar kusebut kamu gendak Lakasipo alias Hantu Kaki Batu! Mungkin kamu lebih bahagia dipanggil begitu!" Penuh luapan amarah kembali Hantu Bara Kaliatus menyergap Luhsantini. Dia melompat sambil kembali semburkan dua bara api yang ada dalam perutnya. Jelas sekali ia benar-benar ingin membunuh Luhsantini.
Perempuan ini cepat berkelebat dan siap balas menyerang. Namun dari samping kakek yang tegak kepala ke bawah kaki di atas gerakkan dua kakinya. Dua larik angin dahsyat berwarna ke biruan menebar hawa cuek melabrak ke depan.
Latandai alias Hantu Bara Kaliatus tersentak kaget ketika hantaman angin itu sanggup membuat dua bara api yang disemburkannya terpental kesamping hingga Luhsantini selamat dari serangannya. Selain itu sambaran angin tadi sempat membuat ia terhuyung huyung hingga dua langkah.
"Tua bangka jahanam! Siapa kau!" teriak Hantu Bara Kaliatus walau rahasia ia sudah bisa menduga siapa adanya kakek asing berpakaian compang camping dan berdiri kaki ke atas kepala ke bawah ini. Kakek yang dibentak keluarkan bunyi mengekeh. Dua kakinya digerakkan kembali , siap untuk menghantam , tapi di sebelahnya Luhsantini berkata.
. "Kakek Hantu Langit Terjungkir , harap kamu suka menolong lelaki dalam jaring api biru itu! Biar saya melayani jahaman sesat yang otaknya sudah dicuci oleh si dukun santet Hantu Santet Laknat ini!" Mendengar ucapan Luhsantini Hantu Langit Terjungkir berkata
"Hati-hatilah. Perhatikan gerak tangan kirinya! llmu jaring api birunya sangat berbahaya!" Sehabis memberi ingat begitu si kakek segera berkelebat ke arah sosok yang terjebak dalam jaring api. Dari jauh ia tidakbegitu terperinci dan tidak mengenali siapa adanya orang itu. Tapi begitu berdekatan , terkejutlah si orang tua.
"Lakasipo …." Katanya menyebut nama itu dengan bunyi bergetar.
"Kau rupanya …. Aku memang tengah mencarimu. Sejak kamu tiba ke Lembah Seribu Kabut , saya selalu teringat padamu dan ingin bertemu denganmu …."
"Kek , saya tak sanggup menyalahkanmu ," jawab Lakasipo. Saat itu tubuhnya yang penuh luka dan hangus sudah mulai goyah. Tegaknya menghuyung. Pemandangannya mirip kabur. Dia kumpulkan seluruh tenaga untuk bisa keluarkan ucapan menyam-bung kata katanya tadi.
"Kau tentu masih merasa sangat penasaran. Karena kebodohan dan kelalaianku hingga sendok emas sakti yang bisa mengembalikan kesaktianmu amblas dilarikan orang!" Kepala si kakek yang berada di sebelah bawah kelihatan digelengkan beberapa kali.
"Wahai … Bukan! Sendok sakti itu memang sangat penting artinya bagi penyembuhan diriku yang menderita tersiksa penuh sengsara ini. Tapi jauh lebih penting ada hal lain yang hendak saya bicarakan denganmu. Menyangkut rahasia saya sebagai seorang ayah dan …."
"Kek , saya …." Belum habis Hantu Langit Terjungkir bicara Lakasipo sudah memotong. Saat itu sosoknya yang berada di dalam jaring api biru tersandar ke belakang.
"Cesss!”
Daging punggungnya yang bersentuhan dengan jaring api pribadi luka. Lakasipo keluarkan jerit kesakitan. Tulang-tulang di sekujur tubuhnya seolah leleh. Dia jatuh terkulai. Pingsan tak sadarkan diri.
"Jaring jahanam! Kalau tidak kutolong sesaat lagi ia pasti akan hangus menemui ajal! Para Dewa beri saya kemampuan menolong dirinya!" Enteng sekali , laksana kabut mengambang di udara , sosok Hantu Langit Terjungkir naik ke atas. Lalu laksanakan kilat gerakannya berubah cepat luar biasa , melompat ke pecahan atas jaring Api lblis Penjaring Roh kemudian mencengkram!
"Cesss! Cesssss!"
Telapak tangan kiri kanan Hantu Langit Terjungkir hangus terkelupas. Sakitnya bukan kepalang tapi si kakek cuma kelihatan menyeringai. Dia kerahkan tenaga dalamnya yang secara asing berpusat di kening. Dari tubuhnya kelihatan memancar asap kebiru-biruan. Ketika mulutnya meniup ke bawah maka menyemburlah cahaya biru menebar hawa cuek luar biasa.
"Ceeessssssss!"
Jaring Api lblis Penjaring Roh yang merupakan pancaran api biru panas luar biasa keluarkan bunyi mendesis panjang laksana diguyur air es. Asap biru membubung ke udara. Warna birunya bukan saja menjadi redup tapi hawa panasnya serta merta lenyap.
Jaring biru itu kini tidak bedanya mirip terbuat dari tali biasa. Lakasipo selamat dari kematian walau hampir sekujur tubuhnya hangus terkelupas dan ketika itu ia masih tergeletak tak sadarkan diri. Dengan dua tangannya Hantu Langit Terjungkir berusaha merobek putus jaring api biru. Tapi luar biasanya jaring yang sudah berubah cuek itu atos sekali. Bagaimanapun si kakek mengerahkan kesaktiannya tetap saja ia tidak bisa menjebol jaring guna mengeluarkan Lakasipo yang masih terjerat.
"Jaring jahanam! Setahuku Hantu Santet Laknat tidak mempunyai kepandaian membuat jaring mirip ini. Kalau tadi makhluk bertangan logam itu mengaku murid si nenek , pasti dukun jahat itu dapatkan ilmu keparat ini dari seseorang. Aku harus mencari tahu siapa adanya …. Tapi perduli setan! Yang penting ketika ini anakitu sudah berhasil saya selamatkan. Kalau perlu saya akan membawanya dalam keadaan masih berada dalam jaring itu.
Mungkin benar kabar yang pernah ku dengar. Hanya ada beberapa orang saja di Negeri Latanahsilam ini yang sanggup menjebol jaring celaka itu. Satu diantaranya si nenek berjuluk Hantu Lembah Laekatakhijau. Tapi tak bisa kuduga apa nenek itu masih hidup. Yang kedua seorang setengah waras berjuluk Hantu Raja Obat atau Hantu Seribu Obat. Tapi salah-salah meminta bisa isi perutku dibedolnya dijadikan ramuan obat!"
Hantu Langit Terjungkir alias Lasedayu pandangi sosok Lakasipo yang melingkar di dalam jaring api biru. Mata orang renta ini tampak berkaca-kaca. Perlahan-lahan tubuhnya melayang ke bawah. Dari sisi kanan kembali ia memperhatikan. Kini pandangan matanya dipusatkan pada pecahan belakang atas ajudan Lakasipo.
Di antara daging yang terluka dan hangus ia masih bisa melihat tanda asing dekat ketiak lelaki itu. Yakni tanda mirip sekuntum bunga dalam lingkaran. Tetesan air mata jatuh membasahi kening Hantu Langit Terjungkir.
"Aku yakin …. Yakin sekali. Dia salah seorang dari mereka. Wahai Dewa …. Beri saya petunjuk. Yang penting ketika ini selamatkan nyawanya. Sembuhkan luka lukanya …."
Baru saja Hantu Langit Terjungkir berucap mirip itu tiba-tiba disampingnya ada bunyi orang berkata.
"Tua bangka tolol! Memakai tangan sebagai kaki! Kau menangis meneteskan air mata! Apa orang di dalam jaring itu sudah menemui ajal? Menyingkirlah! Aku mau tahu siapa yang mampus! Orang atau binatang! Jangan-jangan dia! Kalau benar dial sungguh sial nasib diriku!" Setelah itu
"buuuut … !"
Ada bunyi orang kentut! Lalu ada satu tangan mendorong. Seperti diketahui walau Hantu Langit Terjungkir telah kehilangan banyak ilmu kesaktian tanggapan dirampas oleh Hantu Muka Dua , namun sewaktu berada di Lembah Seribu Kabut ia berhasil menghimpun tenaga dalam gres dan membuat ilmu kesaktian. Tidak gampang untuk mendorong sosok tubuhnya.
Tapi gerakan orang barusan ternyata bisa membuat si kakek terhuyung-huyung dan sepasang tangannya tergeser satu jengkal ke kiri! Satu sosok berpakaian kuning kemudian lewat disamping Hantu Langit Terjungkir , ulurkan kepala memperhatikan ke dalam jaring api biru.
"Huh! Hanya seekor kadal raksasa mati hangus! Apa perlunya ditangiskan?!" Si baju kuning berkata kemudian tertawa cekikikan. Kemudian
"buuuuttt!"
* * *
LIMA
HANTU Langit Terjungkir delikan matanya. Yang tegak di depan jaring ternyata seorang nenek yang sekujur tubuhnya serba kuning mulai dari rambut hingga ke kaki. Di punggungnya ia memanggul sebuah keranjang besar terbuat dari rotan penuh dengan bulu dan kotoran ayam. Saking marahnya mendengar Lakasipo dianggap seekor kadal raksasa si kakek membentak."Matamu kuning belekan! Pantas! Manusia hidup kamu katakan kadal! Kalau bisamu cuma mengigau dan kentut lekas angkat kaki dari tempat ini!" Tanpa berpaling pada Hantu Langit Terjungkir si nenek muka kuning yang bukan lain ialah Luhkentut alias Nenek Selaksa Angin alias Selaksa Kentut songgengkan pantatnya lalu
"buuutttt … !"
Dia kentut seenaknya! Setelah itu ia tertawa cekikikan. Sepasang matanya yang kuning sesaat melirik ke arah Hantu Langit Terjungkir. Tiba-tiba ia hentikan tawanya dan mukanya yang kuning kelihatan berkerenyit.
"Heh …. Rasa-rasanya saya pernah melihat tampangmu sebelumnya. Apakah saya pernah mengenal dirimu?!"
"Lebih baik kamu tidak kenal diriku! Siapa sudi kenal dengan nenek-nenek busuk sepertimu!" Luhkentut alias Nenek Selaksa Angin alias Hantu Sclaksa Angin tertawa lalu
"buutt!"
Dia kembali terkentut-kentut.
"Tua bangka tidak tahu diri! Jangan kira Cuma kamu saja yang bisa kentut! Aku juga bisa!" Teriak Hantu Langit Terjungkir. Lalu dari mulutnya ia keluarkan suara
"buuuttlt … !"
Hantu Selaksa Angin mendongak ke langit kemudian tertawa gelak-gelak.
"Kau memang hebat dalam keanehanmu! Pertama kulihat kamu pergunakan tangan sebagai kaki , sementara kaki cuma diuncang-uncang di udara! Lalu kalau saya kentut dari pantat kamu pintar kentut dari mulut! Apa tidak asing dan hebat?! Hik.. hik … hik!" Hantu Langit Terjunkir memaki panjang pendek.
Sebelumnya ia memang sudah mendengar sifat dan kelakuan nenek satu ini. Maka ia berucap.
”Tidak heran kalau penyakit kentutmu tidak pernah sembuh! Sifat , ucapan dan perbuatanmu selalu mirip orang tidak waras!"
"Siapa bilang saya tidak bisa sembuh! Ada seorang cowok dari negeri seribu dua ratus tahun mendatang tengah menolongku! Aku pasti sembuh! Buktinya kini kentutku sudah tidak panjang lagi mirip dulu!"
"Tua bangka tolol! Masih banyak urusanku di tempat ini. Lekas menyingkir dari sini! Jangan mengganggu orang dengan verbal dan pantatmu!"
"Huh! Bicara sombongnya! Wahai! Kalau tidak kebetulan lewat di sini , dan mengira kadal hangus itu cowok penolongku , perlu apa saya berada di tempat hi!" Si nenek cibirkan bibirnya. Dia melirik pada si kakek , kemudian perhatikan hirau tak hirau perkelahian yang terjadi antara Luhsantini dengan Hantu Bara Kaliatus. Si nenek kembali songgengkan pantatnya dan
"buu ttt… !" Lalu ia putar tubuh hendak pergi.
"Tunggu!" Hantu Langit Terjungkir berseru.
"Pemuda asing yang kamu katakan itu. Apakah namanya Wiro Sableng?"
"Apa perdulimu! Siapapun namanya apa urusanmu?!" tukas Luhkentut.
"Buuumt!" saking geramnya Hantu Langit Terjungkir keluarkan bunyi mirip orang kentut dari mulutnya.
"Aku memang harus perduli. Pemuda itu pernah menyelamat kan diriku! Dengar kamu nenek jelek muka kuning! Jika kamu berani mencelakai cowok itu , akan kurajam tubuhmu! Akan kubuat kamu jadi matang mirip ikan asap!" Si nenek songgengkan pantatnya. Kembali hendak keluarkan kentut. Tapi tak jadi. Seperti tadi mukanya yang kuning kembali tampak mengerinyit.
"lkan asap …." ujar si nenek mengulang.
"Aku pernah mendengar nama hidangan itu. lkan pindang … ! Itu nama lainnya! Wahai …. Apakah saya pernah mengenal dirimu sebelumnya kakek asing yang pergunakan dua tangan sebagai kaki?!"
"Sudah kubilang saya tidak sudi kena! denganmu! Lekas angkat kaki dari tempat ini!" teriak Lasedayu alias Hantu Langit Terjungkir. Si nenek menyeringai.
"Aku akan pergi. Kau tak usah khawatir. Siapa sudi berlama-lama di tempat celaka ini! Tapi sebelum pergi saya mau lihat dulu tampangnya yang tertutup janggut dan kumis menjulai itu! Siapa tahu saya memang pernah kenal dirimu!" Lalu dengan satu gerakan cepat Nenek Selaksa Kentut alias Selaksa Angin menyambar dua kaki Hantu Langit Terjungkir. Maksudnya ia hendak membalikkan tubuh si kakek sebagaimana mestinya yaitu kepala ke atas kaki ke bawah. Dengan demikian ia bisa melihat lebih terperinci sosok serta wajah si kakek.
Namun sebelum sempat hal itu dilakukannya tiba-tiba di arah kiri terdengar bunyi bergemuruh mirip ada pohon yang tumbang kemudian menyusul jeritan perempuan. Gerakan si nenek jadi tertahan sementara Hantu Langit Terjungkir begitu mendengar bunyi jeritan serta merta berkelebat ke kiri.
Apa yang terjadi?
Sesaat sehabis tadi Hantu Langit Terjungkir meninggalkan Luhsantini lantaran hendak menolong Lakasipo yang terjerat dalam jaring api biru , tanpa menunggu lebih lama Latandai alias Hantu Bara Kaliatus menyergap ke arah Luhsantini yang bekas istrinya itu.
"Perempuan laknat , istri terkutuk! Sebelum kubunuh kamu lekas katakan dimana berada anakku si Lamatahati?!" Mendendar ucapan Hantu Bara Kaliatus itu Luhsantini pribadi mendamprat!
"Jangan kamu berani menyebut Lamatahati sebagai anakmu! Bukankah dulu kamu hendak membunuhnya bersama diriku di tepi kawah Gunung Latinggimeru?! Manusia durjana! Sebelum kamu membunuhku biar saya lebih dulu mencabut nyawamu! Biar kemudian para Dewa menggiring Rohmu ke pusaran neraka atas langit" Habis berkata begitu Luhsantini berkelebat Tangan kanannya laksana kilat menyambar ke arah dada Hantu Bara Kaliatus. Dari sambaran angin yang mendahului datangnya pukulan , Hantu Bara Kaliatus maklum kalau serangan Luhsantini tidak bisa dianggap remeh. Karena ia tidak bisa bergerak cepat tanggapan tubuhnya sebelah bawah yang menggembung besar maka Hantu Bara Kaliatus pribadi jatuhkan diri , jatuh punggung ke tanah.
"Bukkkk!"
Pukulan Luhsantini menghantam lamping watu Di sebelah depan watu itu tidak kelihatan bergeming sedikitpun , apa lagi retakatau jebol. Tapi luar biasanya , disebelah belakang lamping watu keluarkan bunyi berderak kemudian retak-retak. Satu per satu retakan itu kemudian berderai jatuh , mengepulkan asap mirip hangus! lnilah kehebatan lima pukulan yang selama ini dipelajari dan diyakini Luhsantini , disebut Di balik Labukit Menghancurkan Lagunung!
Melihat serangannya luput , Luhsantini tak tinggal diam. Selagi Hantu Bara Kaliatus masih tertelentang di tanah ia cepat mengejar dengan serangan ke dua. Kalau tadi tenaganya yang bekerja maka kini kaki kanannya membuat gerakan menghunjam. Tumit Luhsantini menderu ke arah kening Hantu Bara Kaliatus.
"lstri laknat wanita jahanam!" teriak Hantu Bara Kaliatus seraya gulingkan diri ke kanan.
"Terima kematianmu!" Sambil berdiri , dalam keadaan setengah duduk Hantu Bara Kaliatus kerahkan tenaga dalam kemudian menyambar.
"Wuutt! Wuuuuttt!"
Latandai keluarkan ilmu Bara Setan Penghancur jagat. Tiga bara merah menyala menyambar cepat dan ganas ke arah Luhsantini. Satu mengarah kepala. Yang ke dua mencari sasaran di dadanya , sedang bara ke tiga menderu ke pecahan bawah perutnya.
Melihat tiga serangan dahsyat mengancam dirinya mau tak mau Luhsantini batalkan gerakannya menghantam kepala lawan. Dengan cepat wanita ini berkelebat ke kanan sambil lepaskan satu pukulan tangan kosong. Luhsantini berhasil menghantam mental bara menyala yang menyerang ke arah kepalanya. Walau serangan sangat berbahaya itu sanggup ditangkis , namun tak urung tangan kanannya bergetar hebat sedang ujung lengan panjang pakaian merahnya kepulkan asap. Ujung lengan itu ternyata telah hangus!
Dengan melompat tadi , Luhsantini juga berhasil menghindari watu bara ke dua yang melesat ke arah dadanya , Namun serangan ke tiga masih sempat menyerempet pinggulnya. Perempuan ini terpekik kesakitan. Bukan saja pinggul pakaian merahnya robek hangus tapi daging pinggulnya ikut terserempet luka! Selagi Luhsantini tertegak menahan sakit , Hantu Bara Kaliatus telah berada di hadapannya. Menyeringai sambil angkat tangan kirinya yang disambung dengan logam.
"Gendakmu sudah kujebloskan dalam jaring api biru! Sekarang giliranmu!" Hantu Bara Kaliatus kertakkan rahang. Tangan kirinya digerakkan. Dari pentolan pentolan runcing di sepanjang lengan palsu yang terbuat dari logam itu , melesat keluar larikan-larikan sinar biru , bergulung membentuk jaring. Lalu menyambar ke arah Luhsantini! Perempuan itu cepat menghindar , melompat dan berlindung ke balik sebatang pohon.
"Wuuusss!"
Jaring api yang disebut Api lblis Penjaring Roh menyambar. Laksana senjata tajam membelah air begitulah kelihatan jaring api itu melewati batang pohon. Begitu lewat batang pohon serta merta berubah hangus hitam kebiru-biruan kemudian tumbang dengan bunyi bergemuruh. Luhsantini cepat menyingkir namun ia terkesiap kaget ketika tiba-tiba saja , cepat sekali. Di atasnya jaring api biru telah menyambar ke bawah , siap menjerat tubuhnya! Perempuan ini keluarkan pekik ngeri seraya coba menghantam dengan pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Namun sia-sia saja!
Sekejapan lagi Luhsantini akan dilibas Api lblis Penjaring Roh tiba-tiba menyambar satu gelombang kabut memencarkan warna kebiru-biruan dan menebar hawa cuek luar biasa. Begitu kabut ini bersentuhan dengan jaring api biru terdengar bunyi "ceesss. ..cessss" berkepanjangan. Cahaya jaring biru kelihatan menjadi redup. Hawa panasnya serta merta menjadi lenyap. Tapi gerakan jaring yang hendak menjerat sosok Luhsantini tetap tidak tertahankan.
Sesaat kemudian wanita itu sudah terlibat dalam jaring. Masih untung larikan-larikan api jaring telah bermetamorfosis mirip tali-tali biasa. Kalau tidak pasti sekujur wajah dan tubuh Luhsantini akan menjadi terbakar hangus!
"Celaka!" Di sebelah sana Hantu Langit Terjungkir berseru kaget melihat bagaimana Luhsantini telah masuk dalam libatan jaring. Bagaimana pun ia berusaha meloloskan diri tetap saja tidak berhasil. Si kakek sendiri ketika itu tengah berusaha mengatur jalan darah dan pernafasannya. Bentrokan antara kabut saktinya tadi dengan api jaring biru telah membuat tubuhnya tergoncang hebat luar dalam. Begitu keadaannya pulih kembali , cepat ia berkelebat mendekati Luhsantini. Tangannya bergerak kian kemari untuk merobek dan memutus jaring. Sia-sia belaka! Hantu Bara Kaliatus keluarkan bunyi tawa bergelak.
"Jangan harap ia bisa keluar dari dalam jaring itu! Tidak ada satu makhlukpun bisa membebaskannya! Aku memang tidak berhasil membunuh mereka. Tapi saya sudah cukup puas menjebloskan keduanya seumur hidup dalam Api lblis Penjaring Roh Ha… ha … ha!" Hantu Bara Kaliatus balikkan badannya kemudian tinggalkan tempat itu.
"Makhluk keparat!" teriak Hantu Langit Terjungkir.
"Kemana kamu lari akan kukejar! Tapi sebelum kamu mati di tanganku ada sesuatu yang perlu kutanyakan!" Melihat si kakek hendak mengejar Hantu Bara Kaliatus jadi murka tapi juga khawatir.
"Kakek yang tegak menyungsang ini mempunyai kepandaian tinggi! Keadaanku membuat saya tak bisa bergerak cepat. Dia pasti bisa mengejarku! Jahanam! Aku harus sanggup mencegahnya!" Hantu Bara Kaliatus buka mulutnya lebar-lebar kemudian meniup ke arah si kakek. Yang keluar kali ini bukan lesatan bara api tetapi satu gelombang api. Hantu Langit Terjungkir berseru kaget ketika ia dapatkan dirinya tiba-tiba terkurung kobaran api. Cepat-cepat ia kerahkan tenaga dalam yang ada di kening ke kaki kanannya. Satu larikan besar kabut cuek membeset udara begitu si kakek tendangkan kaki kanannya. Kabut ini kemudian bergulung-gulung menyambar kobaran api.
"Wusss … wussss!"
Kobaran api !enyap. Namun Hantu Bara Kaliatus tak ada lagi di tempat itu.
"Kurang ajar!" Hantu Langit Terjungkir memaki. Dia meman-dang berkeliling. Memperhatikan Lakasipo yang ada dalam jaring. Melihat pada nenek bermuka dan berpakaian serba kuning. Sesaat ia tampak bimbang.
"Apa yang harus saya lakukan …. Lakasipo sementara dalam keadaan kondusif walau masih dilibat jaring. Nenek muka kuning itu nanti saja kuselidiki siapa dirinya. Biar saya mengejar Hantu Bara Kaliatus. Aku tadi sempat melihat ada tanda bunga dalam lingkaran di lengan kanannya sebelah belakang. Wahai , bagaimana mungkin ada darah dagingku sejahat dirinya? Seganas itukah kutuk Dewa terhadap diriku? Aku harus menyidik , harus tahu siapa ia sebetulnya sebelum saya salah menjatuhkan tangan maut!" Habis berkata begitu Hantu Langit Terjungkir segera berkelebat ke arah yang diduganya lenyapnya Hantu Bara Kaliatus.
"Kek! Jangan pergi!" teriak Luhsantini ketika melihat Hantu Langit Terjungkir berkelebat pergi. Saat itu ia masih terus berusaha menjebol jaring semoga bisa lolos. Tapi si kakek keburu lenyap. Luhsantini alihkan pandangannya pada nenek muka kuning.
"Wahai! Menurut penglihatanku kamu ialah seorang ber-kepandaian tinggi. Mengapa tidak mencoba membebaskan diriku dan menolong cowok itu?!"
"Buuttt!" si nenek men jawab dengan terkentut kemudian tertawa cekikikan membuat Luhsantini menjadi merah wajahnya dan menggerutu marah.
"kalau bisamu cuma kentut melulu , harap pergi saja dari sini!"
Nenek Selaksa Angin pencongkan mulutnya.
"Aku memang mau pergi. Aku mau mengejar kakek asing tadi! Aku harus harus mencari jawab apa saya kenal padanya atau tidak!"
"Perempuan renta tidak bermalu! Kakek itu terperinci tidak sudi berkenalan denganmu , mengapa kamu kejar kejar? Jangan-jangan kamu bangsa renta bangka gatal!" Luhsantini mendamprat saking marahnya. Dimaki mirip itu si nenek jadi marah. Tangan kanannya bergerak dan
"plaak!" Tamparannya melayang ke pipi kanan Luhsantini. Tamparan yang cukup keras itu membuat Luhsantini terbanting dan terguling-guling dalam jaring. Pipi kanannya serasa lebam dan tulangnya seolah pecah. Terhuyung-huyung Luhsantini berdiri dan menggapai-gapai dalam libatan jaring. Dalam sakit dan juga marahnya tiba-tiba ia melihat salah satu tali jaring di pecahan mana tadi tamparan si nenek mendarat berada dalam keadaan putus! Berarti nenek muka kuning itu mempunyai kesaktian yang bisa memutus jaring!
"Tua bangka gatal! Mengapa kamu cuma menamparku satu kali?! Ayo tampar lagi! Lakukan sepuasmu!" Tiba-tiba Luhsantini berteriak. Si nenek pelototkan matanya. Dia hendak bergerak maju dan benar-benar hendak menampar Luhsantini. Tapi tiba-tiba ia hentikan gerakannya dan menyeringai. Setelah kentut dua kali ia berkata.
"Jangan kira saya tidak tahu nalar busukmu! Kau minta saya menampar semoga bisa memutus tali-tali jaring!"
"Buutt!" Si nenek kentut.
"Perlu apa menolongmu. Lebih baik saya mencari kibul ayam jantan. Tinggal enam belas ekor lagi! Aku akan segera sembuh! Hik. .. hik!" Si nenek songgengkan pantatnya ke arah Luhsantini kemudian kentut lagi dua kali berturut-turut. Setelah itu sekali berkelebat wanita renta itupun lenyap. Luhsantini memaki habis-habisan.
"Nenek otak miring! Mencari kibul ayam jantan katanya! Apa artinya kibul? Tua bangka tidak berbudi!" Luhsantini kemudian periksa pecahan jaring yang putus. Dia coba menarik-narik dan memasukkan kepalanya.
Tapi lobang di jaring masih sangat kecil. Jangankan kepalanya , kepalannya saja tak bisa disusupkan. Dalam bingungnya lantaran tidak tahu apa yang hendak dilakukan Luhsantini memandang ke arah sosok Lakasipo yang masih terjerat di dalam jaring satunya. Dia tak sanggup memastikan apakah lelaki itu hanya pingsan saja atau sudah menemui ajal.
"Lakasipo! Lakasipo!" Luhsantini memanggil berulang-ulang. Namun sosok Lakasipo tidak bergerak. Hanya ada bunyi erangan pendek keluardari mulutnya. Setelah itu keadaan di tempat itu kembali sunyi senyap.
Sementara di langit sang surya semakin mendekati ufuk tenggelamnya. Sebentar lagi tempat itu akan menjadi gelap. Dalam keadaan mirip itu tiba-tiba semak belukar di sebelah kiri terkuak. Tiga sosok muncul dan salah satu diantaranya berucap.
"Seruan yang memanggil-manggil nama Lakasipo tadi pasti tiba dari tempat ini! Tapi tak ada siapa siapa di sini!"
"Hei! Lihat di sebelah sana! Ada orang tergeletak di dalam jaring aneh!" Suara ke dua berseru Menyusul orang ke tiga ikut berteriak.
"Di sebelah situ juga ada jaring satu lagi! Ada orang terjebak di dalamnya!"
"Kawan-kawan! Kau lekas menilik orang di dalam jaring sebelah sana! Aku akan berusaha menolong orang satunya!" Ketika orang yang bicara ini melompat ke hadapan jaring dimana Luhsantini berada kagetlah ia lantaran ia masih bisa mengenali siapa adanya wanita itu.
"Bukankah …. Bukankah kamu orangnya yang berjulukan Luhsantini?" orang itu bertanya sambil garuk garuk kepala. Luhsantini memperhatikan dari dalam jaring. Matanya penuh selidik.
"Kau siapa?"
"Aku Wiro , saudara angkat Lakasipo. Mungkin kamu tidak mengenali diriku. Karena pertama kali bertemu dengan kawan-kawan sosok kami bertiga masih sebesar jari!" Sepasang mata Luhsantini pandangi Pendekar 212. Dia melirik pada sosok dua orang di sebelah sana yakni Naga Kuning dan Si Setan Ngompol.
"Wahai! Aku ingat riwayat kalian bertiga!"
"Apa yang terjadi denganmu? Siapa orang yang ada di dalam jaring sebelah sana …."
"Dia Lakasipo." Terkejutlah Wiro mendengar jawaban Luhsantini itu. Dia memandang berkeliling. Lalu bertanya.
"Aku harus menolongmu! Ceritakan bagaimana kejadiannya hingga dirimu terjebak dalam jaring asing ini!"
"Jangan perdulikan diriku. Lebih baik kamu menolong Lakasipo lebih dulu. Keadaannya gawat …" kata Luhsantini.
"Kalau begitu …." Wiro garuk kepalanya kemudian melangkah cepat menghampiri Lakasipo yang tergeletak di tanah , berada dalam jaring. Naga Kuning dan Si Setan Ngompol berusaha membebaskan lelaki itu. Namun akhirnya mereka galau sendiri lantaran apapun yang mereka coba tidak sanggup memutus jaring api biru.
"Wiro! Keluarkan kapakmu. Mungkin itu bisa digunakan memutus jaring celaka ini …." Dari. balik jaring tiba-tiba terdengar bunyi orang berucap. Suara Lakasipo. Tanpa banyak kisah murid Sinto Gendeng segera keluarkan KapakMaut NagaGeni212. Cahaya matahari yang hendak karam memantuk kuning kemerahan di permukaan dua mata kapak. Ketika Wiro hendak membungkuk mencari pecahan yang baik di sebelah kaki jaring untuk dibacok dengan kapak sakti , tiba-tiba ada satu bayangan biru berkelebat dan tegak di hadapan Wiro. Pendekar 212 angkat kepalanya.
"Luhcinta!" ujar murid Eyang Sinto Gendeng ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Tentu saja Pendekar 212 merasa bangga sanggup bertemu kembali dengan gadis anggun jelita itu. Namun dibalik kecantikan si gadis ketika itu Wiro melihat ada satu bayangan rasa gelisah.
"Wiro , ada satu hal sangat penting ingin kubicarakan denganmu. Harap kamu sudi mengikutiku … !" Suara Luhcinta terdengar lirih menunjukan memang ada satu tekanan batin yang tengah dialaminya ketika itu. Si gadis tahu Wiro akan ,memenuhi kehendaknya. Karenanya tanpa menunggu jawaban Wiro ia segera berkelebat pergi.
"Kalian berdua tunggu di sini. Aku tidak akan lama ," kata Pendekar 21 2. Lalu ia segera berkelebat pula ke arah lenyapnya Luhcinta.
"Seharusnya ia tinggalkan kapak saki itu. Agar kita bisa menolong Lakasipo!" kata Naga Kuning.
"Dia segera kembali. Dia sendiri bilang tak bakal lama!" menyahut Si Setan Ngompol.
"Kau orang renta yang mirip tidak pernah muda saja Kek! Seorang cowok dan seorang pemudi berdua-dua di satu tempat sunyi , mana mungkin mau sebentar saja. Apa lagi Luhcinta kelihatannya mirip punya problem besar!" Apa yang dikhawatirkan Naga Kuning , bocah asing yang sebetulnya ialah kakek berusia 120 tahun itu menjadi kenyataan , Sampai matahari karam dan kegelapan mencekam di lembah watu itu , Pendekar 212 tak kunjung muncul.
"Apa kataku. Jangan-jangan sesuatu telah terjadi dengan Wiro! Kek , kamu tunggu di sini. Aku akan menyelidik!" Si Setan Ngompol yang takut ditinggal sendirian pribadi terkencing.
"Aku ikut bersama!" katanya pada Naga Kuning seraya pegangi celana si bocah. Berjalan beberapa tindak Naga Kuning hentikan langkahnya.
"Bagaimanadengan Luhsantinidan Lakasipo?" Anak ini bertanya pada Si Setan Ngompol kemudian memandang pada Luhsantini. Dari balik jaring terdengar wanita itu berucap.
"Jangan perdulikan diriku! Lekas cari Wiro. Lakasipo perlu lekas ditolong. Keadaannya gawat!"
"Kami segera mencarinya! Bertahanlah!" berkata Setan Ngompol. Lalu tetap masih sambil pegangi pantat celana Naga Kuning ia berkata.
"Ayo jalan duluan! Arah sana! Aku lihat si gondrong itu tadi menuju ke sana!" Si kakek menunjuk ke arah formasi pohon-pohon besar dan semak belukar yang merupakan pecahan luar atau tepi rimba belantara yang disebut Lasesatbuntu.
* * *
ENAM
PENDEKAR 212 berlari cepat melewati formasi pepohonan dan semak belukar tinggi. Luhcinta berada di sebelah depannya. Walau ketika itu cahaya sang surya yang hendak karam mulai redup namun lantaran Luhcinta tak berapa jauh di depannya dengan gampang Wiro bisa mengikuti lari si gadis.Sebentar saja kedua orang itu telah masuk jauh ke dalam rimba belantara. Di satu tempat sosok Luhcinta lenyap. Wiro hentikan larinya , memandang berkeliling.
"Luhcinta! Dimana kau?!" Wiro memanggil. Suaranya bergema dalam rimba belantara yang mulai gelap itu. Tak ada jawaban. Wiro menunggu. Sesekali terdengar bunyi desir dedaunan yang saling gesek oleh tiupan angin.
"Luhcinta?!" Wiro memanggil kembali. Setelah dinantikan tetap tak ada jawaban Wiro bersiap untuk mengerahkan Ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung. Namun tak jadi lantaran ketika itu lapat-lapat mendadak ia mendengar bunyi orang menangis.
"ltu mirip bunyi Luhcinta! Ada apa ia menangis …." Wiro sibakkan serumpunan semak belukar kemudian bergerak cepat ke arah datangnya bunyi orang menangis. Suara tangisan itu terdengar semakin terperinci tanda semakin dekat. Namun hingga sekian lama Wiro masih belum juga menemukan Luhcinta. Sementara itu tanpa disadarinya Wiro telah masuk makin jauh ke dalam rimba belantara Lasesatbuntu.
Di satu tempat Wiro akhirnya hentikan langkah. Udara bertambah kelam. Wiro mulai menyadari kecacatan yang dihadapinya.
"Suara tangis gadis itu dekat sekali. Aku mirip bisa meraba-nya kalau tanganku kuulurkan. Tapi sosoknya tetap tidak kelihatan …."
"Luhcinta! Kau berada di mana?!" Wiro berteriak.
"Wiro …. Aku di sini …. Di balik pohon ," ada bunyi wanita menjawab. Di samping kiri Wiro memang ada sebuah pohon besar yang akar gantungnya menjulai sarat menjadikan satu peman-dangan angker. Pendekar 212 segera mendekati pohon ini , sibakkan akar-akar gantung di sekitarnya. Begitu ia hingga di balik pohon besar , memang benar di situ dilihatnya Luhcinta duduk di atas akar besar yang menonjol di tanah. Gadis ini duduk dengan pundak tersentak-sentak menahan sesenggukan. Wajahnya ditutup dengan kedua tangan.
"Luhcinta …." Wiro pegang pundak si gadis.
"Ada apa hingga kamu menangis. Kalau memang mau bicara mengapa jauh-jauh masuk ke dalam hutan. Di sini keadaannya gelap. Hawanya tidak enak. Mari kita "kembali ke lembah watu sana. Kalau memang ada sesuatu , kamu bisa mengatakannya parjang lebar di sana. Selain itu ada dua orang sahabat yang perlu kita tolong."
"Wiro , biar kita berdua-dua dulu di sini barang sesaat. Memang ada ganjalan hati yang hendak saya keluarkan semoga kamu tahu ," kata Luhcinta pula.
"Kalau begitu maumu oke ," jawab Wiro. Sang cowok menduga jangan-jangan gadis ini hendak membicarakan insiden belum lama berselang. Menyangkut hubungannya dengan Luhjelita , Peri Angsa Putih serta Peri Bunda. Sambil membelai rambut Luhcinta ia berkata.
"Usap air matamu , turunkan dua tanganmu biar saya bisa melihat wajahmu yang cantik. Setelah itu katakanlah apa yang hendak kamu sampaikan …." Luhcinta hentikan bunyi isaknya. Perlahan-lahan ia turunkan kedua tangannya. Saat itu seolah tiba dari atas pohon mendadak terdengar bunyi tawa bergelak.
Demikian hebatnya tawa itu hingga Wiro merasa tanah di sekitar pohon bergetar sepetai ada lindu. Dalam kejutnya murid Sinto Gendeng serta merta mendongak memandang ke atas pohon. Tapi ia tidak melihat siapa-siapa di situ.
"Aneh!" pikir Wiro.
"Luhcinta , kamu mendengar bunyi orang tertawa tadi?" bertanya Wiro seraya palingkan kepala , memandang kepada Luhcinta kembali. Seperti melihat setan kepalatujuh begitulah kaget-nya sang jagoan ketika melihat baik sosok maupun wajah yang duduk dihadapannya ketika itu bukan lagi Luhcinta. Tapi satu sosok seorang nenek berjubah hitam. Wajahnya luar biasa angker lantaran hidung dan mulutnya menjadi satu membentuk paruh burung.
Sepasang matanya yang kecil menyembul tanpa allis berputar-putar r6emandangi Wiro. Sesaat kemudian nenek ini keluarkan bunyi tawa "bergelak yang sama dengan bunyi bergelak sebelumnya.
"Siapa kau?!" hardik Wiro.
"Luhcinta! Kau tengah bergurau mempermainkanku atau bagaimana?"
"Hik … hik … hik! Siapa bemama Luhcinta! Siapa bergurau mempermainkanmu! Hik … hik … hik!" Suara si nenek tinggi kecil , mendenging dan menyentak. Wiro yang mulai mencium adanya ancaman di balik kecacatan ini segera kerahkan tenaga dalamnya untuk sewaktu-waktu bisa menghantam.
"jika kamu bukan Luhcinta berarti kamu setan rimba belantara! Makhluk jejadian! Jangan berani mempermainkan , apalagi bermaksud jahat mencelakaiku!" Si nenek kembali tertawa panjang. Sambil tertawa ia berdiri berdiri. Wiro mundur beberapa langkah.
Astaga , si nenek kurus hitam dan agak bungkuk ini ternyata satu kepala lebih tinggi dari dia.
"Pendekar212 Wiro Sableng , ketika ini kamu memang sudah celaka!"
"Nenek sialan! Apa maksudmu?! Siapa kamu sebenarnya? Mana Luhcinta?!"
"Luhcinta tak pernah ada di tempat ini! Hik … hik. .. hik! Yang ada hanyalah aku. Hantu Santet Laknat!"
"Hantu Santet Laknat!" Wiro berseru tegang. Kejapan itu juga ia ingat semua penuturan Lakasipo. Juga insiden yang menimpa Lawungu.
"Kau menipuku! Kau memperdayaiku masuk ke dalam rimba belantara ini!"
"Kau memang sudah tertipul Sudah terjebak dalam rimba Lasesatbuntu! Seumur hidup kamu tak bakal bisa keluar lagi dari tempat ini! Dewa sekalipun tak bakal bisa menolongmu! Hik … hik … hik! Nasibmu memang malang anak muda!"
Hantu Santet Laknat tertawa panjang kemudian melangkah mundur. Sebaliknya Wiro cepat bergerak. Sekali lompat saja ia sudah mencekal rambut putih di kepala si nenek dengan tangan kiri sementara ajudan mencengkeram di leher.
"Tua bangka keparat! Aku memang sudah lama mendengar kejahatanmu! Antara kita tidak ada permusuhan! Mengapa kamu hendak mencelakai aku? Siapa menyuruhmu?!" Si nenek hanya menjawab dengan tawa cekikikan.
Wiro gerakan dua tangannya. Sosok si nenek dibanting-kannya ke tanah hingga mengeluarkan bunyi bergedebukan. Tapi hebatnya si nenek cepat berdiri dan kembali tertawa panjang melengking-lengking. Dengan dua tangannya Wiro tangkap leher si nenek. Namun ia tak bisa meneruskan gerakannya untuk mencekik atau mematahkan leher kurus itu. Seperti ada satu kekuatan asing membendung apa yang hendak dibuatnya. Tiba-tiba si nenek gerakkan kedua tangannya.
"Bukk … bukkk … bukkk!" Jotosan keras melanda dada Pendekar 21 2. Berteriak kesakitan Wiro terpaksa lepaskan cengkeramannya di leher si nenek. Terhuyung-huyung ia cepat imbangi diri kemudian tidak menunggu lebih lama Wiro menghantam tubuh si nenek dengan pukulan sakti Segulung Ombak Menerpa Karang. Serangkum angin sedahsyat prahara melabrak tubuh si nenek. Jangankan tubuh insan , sesuai dengan hebatnya nama pukulan sakti itu , watu karangpun bisa dihancur leburkannya.
Sosok Hantu Santet Laknat mencelat ke udara. Pukulan Wiro yang terus melabrak pohon besar di belakang si nenek membuat pohon itu bergoncang keras. Batangnya berderak , di sebelah bawah akar-akarnya bergeletar kemudian "braakk!" Pohon besar miring bergemuruh dan tumbang sehabis batangnya terlebih dulu hancur berkeping-keping.
Wiro melompat , mencari sosok Hantu Santet Laknat yang dipastikannya sudah ikut hancur dan berkaparan di sekitar tumbangan pohon. Tapi ia tidak menemukan apa-apa. Pendekar 212 memaki panjang pendek. Saat itulah tiba-tiba terdengar bunyi tertawa , panjang melengking-lengking di belakangnya. Wiro berbalik. Hendak menghantam dengan pukulan Sinar Matahari. Tapi ia sama sekali tidak melihat sosok si nenek. Dalam keadaan mirip itu Wiro merasa ada cairan meleleh di bibirnya. Ketika ia mengusap dan memperhatikan ternyata darah.
"Aku terluka di dalam. .." kata Wiro dalam hati dan kini gres ingat kalau tadi dadanya telah dihantam bertubi-tubi oleh Hantu SantetLaknat
"Nenek jahanam itu. Kalau mau ia bisa membunuhku dengan pukulannya. Tapi ia tidak melakukan! Pasti ia menyem- bunyikan maksud lebih jahat dan lebih keji terhadapku!" Murid Sinto Gendeng usap dadanya yang mendenyut sakit.
Perlahan-lahan ia dudukdi tanah. Mengatur jalan darah , pernafasan dan kerahkan tenaga dalam ke dadanya yang sakit
* * *
DALAM gelapnya malam , di atas pohon di pinggir daerah rimba Lasesatbuntu , Hantu Santet Laknat mendekam tak bergerak. Sepasang matanya yang tanpa alis terpejam. Paruh burungnya bergerak-gerak. Saat itu pikirannya sedang kacau. Hatinya terus menerus membatin."Betul apa yang diucapkan Junjungan. Ternyata cowok itu mempunyai wajah cakap serta perawakan gagah sempurna. Wahai …. Bersyukur saya masih bisa menahan diri hingga pukulanku tadi tidak hingga merenggut nyawanya. Wahai , apakah hatiku telah tergoda? Junjungan , apakah saya benar harus mengikuti ucapanmu? Mengawini cowok itu , menjadikannya sebagai suamiku? tapi bagaimana mungkin? Keadaan rupaku yang mirip ini tidak memberi jalan baginya untuk menyukai diriku. Apalagi ia sudah mengetahui kejahatan yang saya lakukan terhadapnya. Aku memang mempunyai ilmu kesaktian berjulukan llmu Bersalin Wajah. Dengan ilmu itu saya bisa merubah diri setiap ketika saya suka. Merubah wajah dengan wajah siapa saja yang saya suka. Tetapi hal itu tak bisa infinit …. Apa yang harus saya lakukan … ?"
Hantu Santet Laknat duduk tak bergerak , mendekam sambil rangkapkan dua tangan di depan dada. Wajah Pendekar 212 Wiro Sableng selalu terbayang sekalipun ia memejamkan kedua matanya.
"Pemuda itu …. lakasipo dan Hantu Muka Dua tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirinya. Mungkin saya harus mengurangi , menarik sebagian manteraku semoga ia tidak celaka di dalam hutan. Setelah itu apa yang harus kuperbuat? Menemuinya? Bercinta dengannya? Aku harus tahu siapa gadis idamannya. Untuk bersalin wajah menjadi Luhcinta rasanya teralu berbahaya. Aku harus mencari wajah seorang lain yang disukainya. Mungkin Luhjelita…?".
* * *
TUJUH
DALAM gelapnya malam Wiro berusaha mencari jalan keluar dari rimba belantara gelap itu. Bukan saja ia tidak berhasil keluar tanpa disadarinya ia malah tersesat semakin dalam ke dalam hutan. Di satu tempat Wiro menemukan sebuah telaga kecil. Dia berhenti di sini dan memutuskan untuk tetap berada di tempat itu hingga matahari terbit Malam terasa lama.Udara mencucuk dingin. Kesunyian menjadikan rasa tidak yummy bagi Wiro selain ketika itu dadanya masih mendenyut sakit. Sesekali terdengar bunyi asing dikejauhan. Entah bunyi hewan buas entah bunyi makhluk halus penghuni rimba belantara. Sepanjang malam Wiro insomnia lantaran selalu diganggu oleh puluhan bahkan mungkin ratusan nyamuk hutan yang mirip berlomba-lomba ingin menghisap darahnya.
Menjelang pagi , serasa matanya , mau terpejam lantaran tak sanggup menahan kantuk tiba-tiba Wiro melihat sesuatu bergerak di seberang telaga kecil.
"Manusia , mirip perempuan. Dalam gelap tubuhnya kelihatan putih. Astaga …. Perempuan itu nyaris tidak berpakaian di sebelah atas … ." Wiro berdiri berdiri. Melihat Wiro bergerak orang di seberang telaga serta merta menyelinap ke balik semak belukar.
"Tunggu! jangan lari! Aku bukan orang jahat!" Berseru Wiro. Cepat ia memutari telaga Namun ketib hingga di balik semak belukar sosok itu tak ada di sana.
"Jangan-jangan yang kulihat tadi hantu penghuni rimba belantara ini …” pikir Wiro dengan tengkuk merinding. Dia kembali ke tempatnya semula. Menunggu kalau-kalau sosok tadi terlihat kembali. Tapi orang itu ternyata tidak muncul lagi. Wiro memandang ke arah timur. Langit masih tampak gelap menunjukan sang surya masih lama gres akan terbit.
Tiba-tiba terdengar bunyi mirip ada satu benda meluncur di dalam air. Wiro palingkan kepalanya menatap tajam-tajam ke dalam telaga. Kejut cowok ini bukan alang kepalang ketika tiba-tiba pandangannya membentur satu sosok panjang , hitam berkilat melesat keluar dari dalam telaga , pribadi menyambar ke arahnya!
"Ular besar!" seru Wiro , Dia jatuhkan diri ke tanah kemudian berguling menjauhi tepi telaga. Namun dari arah kanan tiba-tiba ada yang menyambar.
”Wuuuuttt!"
"Bukkkk!"
Wiro mengeluh tinggi. Tulang pinggulnya serasa hancur. Binatang panjang yang keluar dari dalam telaga ternyata telah menghantamnya dengan ujung ekornya. Lalu hewan ini yang memang mirip ular tapi mempunyai dua kepala keluarkan desisan keras , kembali melesat ke arah Wiro.
Kali ini Wiro tak tinggal diam. Sambil tekuk lututnya sedikit dan menahan sakit pada pinggulnya Wiro hantamkan satu jotosan ke pangkal leher ular kepala dua.
"Bukkkk!"
Pukulan yang dilancarkan dengan jurus berjulukan Kepala Naga menyusup Awan itu dengan telak mendarat di leher ular kepala dua Jangankan benda hidup , watu sekalipun pasti akan hancur berantakan dihantam pukulan sakti mengandung tenaga dalam tinggi itu. Namun justru ketika itu Wiro sendiri yang jatuh terkapar dan mengeluh kesakitan. Tangan kanannya dikibas-kibaskan. Sakit bukan main seolah jari-jarinya ada yang remuk!
"Ular kepala dua ini pasti hewan jejadian!" pikir Wiro.
"Ular biasa pasti sudah mampus kena hantamanku tadi!" Saat itu Wiro tak bisa berpikir lebih lama. Dalam gelap ular kepala dua yang tadi hanya sempoyongan dilanda pukulan Wiro sambil keluarkan bunyi mendesis kembali menyerang. Tubuhnya yang hitam berkilat berubah lunrs. Laksana tombak besi yang dilemparkan dengan sebat , hewan ini melesat ke arah selangkangan Wiro.
"Kurang ajar! Mengapa barangku yang diincarnya!" maki Pendekar 212. Dengan cepat ia melompat. Lalu dari atas kirimkan tendangan ke kepala ular. Hebat sekali hewan ini bukan saja bisa mengelak dengan cara rundukkan kepala , tapi tiba-tiba sekali pecahan belakang tubuhnya berkelebat demikian rupa.
"Wuuuutttt!"
Sebelum ia sadar apa yang terjadi tahu-tahu Wiro dapatkan dirinya sudah dilibat ular hitam besar itu mulai dari pinggang hingga ke dada. Kepalanya dan kepala ular saling berhadap hadapan. Binatang berkepala dua ini buka mulutnya lebar-lebar. Dalam gelap Wiro sanggup melihat pecahan dalam dua verbal ular , Lidahnya merah bercabang. Gigi-giginya panjang runcing , memancarkan sinar aneh.
"Wuuuuttt!"
Dua kepala ular menyambar ubun-ubun jagoan 212. Wiro hantamkan dua tangannya ke atas. Satu memukul , satu lagi berusaha mencekal leher hewan itu. Celakanya , dua gerakan tangan Wiro itu tidak satupun menemui sasaran!
"Tamat riwayatku!"
Wiro masih berusaha menggerakkan kepalanya ke samping untuk menghindarkan patukan ular. Namun sia-sia saja! Sesaat lagi ubun-ubun di batok kepala Pendekar 212 akan jebol dihantam patukan dua kepala ular , tiba-tiba dari kegelapan melesat selarik sinar hitam. Laksana pedang sinar itu membabat pangkal leher ular kepala dua.
”Crassss”
Leher itu putus. Darah muncrat menyembur kepala dan pakaian Wiro. Tidak tunggu lebih lama Wiro segera betot tubuh ular yang melingkar menggulung dirinya kemudian dibantingkannya ke sebuah watu di tepi telaga. Lalu ia memandang berkeliling. Dia tak melihat siapa-siapa.
"Orang pintar yang barusan menolongku!" Wiro berseru.
"Harap sudi perlihatkan diri untuk mendapatkan ucapan terima kasihku!" Tak ada jawaban. Tak ada gerakan. Wiro seka kepala dan mukanya yang berselomotan darah ular. Dia hendak membungkuk ke telaga , bermaksud mencuci mukanya. Tapi khawatir kalau kalau ada lagi ular mirip tadi , jagoan ini segera urungkan niatnya.
"Lebih baik saya menjauh dari telaga keparat ini!" Wiro lantas mencari tempat yang dirasakannya lebih aman. Di atas sebatang pohon yang tidaK terlalu tinggi dan berdaun jarang akhirnya ia duduk di salah satu cabang. Kantuknya sudah lenyap semenjak tadi-tadi.
"Hantu Santet Laknat! Ini semua gara-gara nenek keparat itu! Aku tidak ada permusuhan dengan dia. Mengapa ia mencelakai diriku mirip ini. Janganjangan…!" Wiro garukk kepalanya.
"Mungkin lantaran saya sahabat atau saudara angkat Lakasipo Mungkin ia tahu saya pernah menolong lelaki itu. Makara menganggap saya sebagai musuhnya. Gila betul!"
Sementara itu di tempat lain dalam gelap dan dinginnya malam menjelang pagi Hantu Santet Laknat mendekam tak bergerak di balik sebuah watu berlumut. Saat itu ia dibayangi rasa takut
"Kalau Junjungan mengetahui saya tadi telah menyelamatkan cowok itu , .bukan saja saya akan kena damprat. Hukuman berat pasti akan dijatuhkannya atas diriku!" pikir si nenek. Namun hati kecilnya menyahuti.
"Perlu apa takut pada Junjungan. Bukankah ia sendiri menyuruhku semoga mengawini cowok itu? Menjadikannya sebagai suamiku?! Kalau siang tiba kamu harus melaksanakan sesuatu! Kau harus dapatkan cowok itu! Lupakan Hantu Muka Dua! Kau hanya tergila seorang diri padanya! Bertepuk sebelah tangan! Kau harus mendapatkan cowok berjulukan Wiro itu! Harus!"
* * *
"RIMBA belantara asing …" kata Wiro yang ketika itu masih mendekam di atas pohon berdaun jarang."Suara kicau burungpun terdengar menyeramkan!" Dia memandang ke arah timur. Langit di ufuk sana mulai kelihatan terang menunjukan sang surya sebentar lagi akan muncul memperlihatkan diri menerangi jagat.
Dari atas pohon Wiro memandang ke arah telaga kecil. Di tepi telaga tampak bangkai besar ular hitam masih tergeletak. Kicau burung semakin riuh. Di kejauhan ayam hutan mulai berkotek bersahut-sahutan. Langit di sebelah timur semakin terang. Wiro melompat turun dari atas pohon melangkah menuju telaga. Bangkai ular ditendangnya dengan kaki kiri hingga terpental jauh. Dia memperhatikan keadaan didalam dan sekitar telaga. Setelah memastikan tempat itu benar-benar kondusif gres ia masuk ke dalam telaga untuk membersihkan diri.
Ketika ia keluar dari telaga Wiro dapatkan matahari telah muncul di sebelah timur.
"Aku harus keluar dari hutan celaka ini!" kata Wiro dalam hati. Karena tidak tahu arah mana yang harus ditempuhnya , Wiro kemudian menentukan berjalan ke jurusan timur. Menyongsong sang surya yang gres terbit Dia berjalan cepat di antara pepohonan dan semak belukar lebat. Di satu tempat terbuka berupa pedataran yang ditumbuhi rumput liar Wiro hentikan langkahnya. Cahaya matahari yang sedang bergerak naik ketika itu gres mencapai ujung pedataran.
Wiro kemudian sengaja melangkah ke ujung pedataran ini semoga dirinya bisa tersiram sinar matahari. Sebagian pakaian dan rambut di kepalanya ketika itu masih lembap kuyup sehabis dicuci di telaga. Hatinya merasa lega sedikit lantaran ketika itu sakit di dadanya telah jauh berkurang. Hanya pikirannya masih dibungkus oleh teka-teki siapa kira-kira orang yang telah menolongnya dari serangan maut ular kepala dua tadi malam ,
"Mungkinkah Peri Angsa Putih , atau Peri Bunda … ?" Ketika Wiro mencapai ujung pedataran , sewaktu sinar matahari menyentuh dirinya terjadilah hal yang tidak terduga dan benar-benar mengejutkan. Pakaian putih yang dikenakannya mendadak sontak mengepulkan asap laksana terbakar. Di lain kejap seluruh pakaian itu lenyap tidak berbekas! Kini ia berdiri dalam keadaan bugil polos. Kapak Naga Geni 212 dan watu hitam pasangannya jatuh ke tanah. Wiro jadi kalang kabut. Cepat-cepat ia mengambil dua benda sakti itu kemudian cepat-cepat pula ia menutup auratnya sebelah bawah dengan tangan kiri.
"Gila! Apa yang terjadi? Mana mungkin sinar matahari bisa membuat sirna pakaianku!" Dia memandang berkeliling.
"Untung tak ada orang lain! Benar-Benar gila! Bagaimana mungkin saya berkeliaran dalam hutan ini , mencari jalan keluar , bertelanjang bulat mirip ini?! Kalau hingga bertemu orang lain , orang wanita matilah aku! Kemana saya sembunyikan perabotan di bawah perutku!" Wiro hendak menggaruk kepalanya dengan tangan kiri Tapi tak jadi. Karena kalau tangan kirinya diangkat ke atas berarti aurat di bawah perut yang ditutupinya akan terbuka melompong!
"Gila! Aku harus bagaimana?!" Wiro memaki panjang pendek
"Jangan-jangan ini lagi-lagi pekerjaannya Hantu Santet Laknat! Nenek celaka jahanam!".
* * *
DELAPAN
SETIAP kali Naga Kuning menepuk lepas tangan si Setan Ngompol yang selalu memegang celananya , kembali si kakek menjambret pakaian bocah itu."Kakek geblek! Bagaimana saya bisa berlari cepat kalau kamu selalu memegangi pantat celanaku!" Naga Kuning mengomel.
"Jangan salahkan diriku!" jawab Setan Ngompol.
"Aku menaruh firasat hutan ini celaka! Kita bakal menghadapi ancaman tak terduga! Sudah satu malaman kita di dalam hutan! Kita mirip berputar-putar tak karuan. Wiro tak kunjung ditemukan!" Jawab Setan Ngompol sambil tangan kirinya ditekapkan ke bawah perut.
"Naga Kuning , baiknya kita kembali saja ke lembah watu …."
"Tidak bisa! Kita harus mencari Wiro hingga dapat. Aku juga punya firasat kalau si sableng itu sedang dihadang marabahaya!"
"Malam gelap , dingin. Di dalam rimba angker begini rupa! Aku …." Serrrr. Si kakek tak sanggup lagi menahan kencingnya. Dia beser sambil terus lari mengikuti Naga Kuning.
"Sebentar lagi bakal siang. Apa tidak kamu lihat langit di sebelah timur sudah mulai terang?!" Bocah ini pukul lengan orang renta itu hingga lepas. Tapi kembali si kakek ulurkan tangan pegangi pantat celana Naga Kuning.
"Kek! Lebih baik kamu berteriak-teriak memanggil Wiro. Mungkin bisa menolong menemukannya lebih cepat!"
"Di dalam rimba belantara angker begini rupa saya tak berani berteriak Salah-salah leherku bisa dicekik dedemit penghuni hutan!" Saking kesalnya Naga Kuning menjawab.
"Kalau di sini memang ada dedemit bukan lehermu sebelah atas yang dicekiknya. Tapi lehermu sebelah bawah yang peot amis pesing itu!"
"Anak samba!! Jangan Kau menakut-nakuti diriku!" kata si kakek pula dan perkencang pegangannya pada pakaian si bocah. Tak lama kemudian mentari mulai kelihatan muncul di ufuk timur. Keadaan yang tadinya gelap kini menjadi terang , membuat lega hati si Setan Ngompol.
"Ada pedataran berumput di sebelah sana!" Naga Kuning berseru sambil menunjuk ke arah barat
"Kita menuju ke sana! Aku perlu istirahat! Dadaku sudah sesak. Nafasku tinggal satu-satu !" Kedua orang itu berjalan cepat di sela-sela kerapatan pepohonan dan menyeruak di antara semak belukar. Hanya tinggal beberapa tombak lagi mereka akan hingga di ujung pedataran rumput liar tiba-tiba ada satu hawa asing tiba dari depan , mendorong mereka hingga Naga Kuning yang berada di sebelah depan terhuyung keras ke belakang , mendorong si kakek , membuatnya hampir jatuh! Menyangka si bocah sengaja hendak bercanda lagi , si Setan Ngompol mengomel marah.
"Anak geblek! Masih berani kamu main-main! Jangan kamu kira perbuatanmu barusan lucu! Kalau saya hingga jatuh dan pantatku cidera , kupencet barang bututmu!"
"Siapa main-main? Apa maksudmu?!" Naga Kuning mendamprat tak kalah marahnya
"Mengapa kamu barusan akal-akalan terhuyung-huyung? kalau bukan sengaja mau mendorongku hingga jatuh!"
"Siapa pura-pura! Perlu apa mendorong tubuh rongsokan macam kau! Kau tahu , ada angin asing menyambar dari depan!"
"Dusta besar! Aku tidak merasa apa-apa!"
"Kalau tidak percaya majulah. Jalan ke arah sana …." Setan Ngompol menyeringai. Masih menganggap si bocah bergurau. Dia melangkah ke depan. Baru berjalan tiga langkah tiba-tiba ada angin menyambar keras , membuatnya terpental dan jatuh duduk di tanah , pribadi terkencing-kencing. Mukanya pucat
"Ada yang tidak beres. Tempat ini pasti tempat angker. Lekas pergi dari sini …" kata Setan Ngompol seraya berdiri berdiri. Naga Kuning memandang berkeliling. Meski hatinya mulai was-was namun ia ingin mencoba sekali lagi. Kali ini ia tidak berjalan cepat tapi melangkah perlahan-lahan. Pada langkah ke empat tubuhnya mirip membentur sebuah tembok yang tidak kelihatan. Dia tidak bisa meneruskan langkah. Dua tangannya diacungkan ke depan. Dia menyentuh sesuatu yang keras tapi tidak berujud. Dia coba mendorong. Daya dorongnya membalik ke arah dirinya sendiri. Makin keras ia mendorong makin keras daya balik mendera tubuhnya.
"Ada apa … ?" bertanya Setan Ngompol ketika dilihatnya wajah Naga Kuning bukan saja keringatan tapi juga memutih pucat.
"Ada kekuatan aneh. Seperti ada tembok beling yang tak terlihat menghalang di depan sini ….”
"Coba kamu hantam dengan pukulan sakti! Masakan tidak jebol! Mana ada tembok yang tidak kelihatan! Kau punya bisa-bisa sendiri Naga Kuning!" kata Setan Ngomnpol sambil menahan kencing lantaran kakek ini memang sudah ketakutan.
"Kau saja yang memukul!" sahut Naga Kuning. Karena kesal terus-terusan tidak dipercaya anak ini lantas dorong punggung si kakek hingga Setan Ngompol hampir tersungkur dan pancarkan air kencing.
"Bocah sialan!" maki Setan Ngompol. Tapi membisu diam ia kerahkan juga tenaga dalam ke ajudan kemudian memukul ke depan.
"Bukkk!"
Jotosan Setan Ngompol menghantam sesuatu yang tidak kelihatan. Si kakek terpekik kesakitan. Tangan yang tadi memukul dikibas-kibas sementara tangan kiri bum-buru menekap pecahan bawah perut tapi air kencingnya sudah keduluan mancur.
"Kalau sudah tahu rasa gres percaya!" kata Naga Kuning sambil mencibir. Lalu ia memandang ke jurusan depan. Tiba-Tiba anak ini berteriak.
"Kek! Lihat!"
"Ada apa lagi?!" sembur Setan Ngompol yang masih kesakitan.
"Lihat si sableng itu! Dia ada di sana! Mengapa ia telanjang begitu rupa? Sudah benar-benar sableng ia rupanya!" Mendengar ucapan Naga Kuning si kakek Setan Ngompol segera palingkan kepala , memandang ke jurusan yang ditunjuk.
"Astaga!" Kagetlah si Kakek.
"Apa yang terjadi dengan anak itu! Jangan-Jangan ia sudah dipukau setan hingga jadi gila! Bertelanjang bulat begitu rupa! Lihat , perabotannya gundal-gandil kemana-mana! Gila betul! Wiro! Hai! Wiro!" Setan Ngompol berteriak. Suara teriakannya keras dan menggema di seantero rimba belantara lantaran ia berteriak disertai pengerahan tenaga dalam. Naga Kuning juga ikut berteriak memanggil-manggil Wiro. Malah anak ini berlari kedepan , tapi terhempas kembali seolah ada dinding yang tak kelihatan telah ditabraknya.
"Wiro!" teriak Naga Kuning sambil lambai-lambaikan tangan.
"Wiro! Anak sableng!" Setan Ngompol kembali berteriak. Di ujung sana , dekat pedataran rumput liar , Pendekar 212 kelihatan berjalan kian kemari mirip orang bingung. Dia memandang ke langit , berpaling ke kiri atau ke kanan , memandang berkeliling. Sekali-sekali tangannya menggaruk-garuk kepala. Agaknya ia sama sekali tidak mendengar teriakan Naga Kuning dan Setan Ngompol! Dan memang asing luar biasa bagi Setan Ngompol dan Naga Kuning lantaran ketika itu Wiro sama sekali tidak mengenakan pakaian. Dia berjalan polos kian kemari sambil memegang kapak sakti dan watu hitam.
"Aneh! Masakan ia tidak mendengar teriakan kita!" ujar Setan Ngompol. Naga Kuning juga terheran heran.
"Sepertinya ada sesuatu yang membatasi antara kita dengan dia. Dinding tak kelihatan itu …. Kita bukan saja tak bisa melintasi tempat ini , malah bunyi kita juga tidak bisa tembus ke sebelah sana!" kata Naga Kuning. Otaknya bekerja. Dia melihat sebuah watu sebesar kepalan. Batu ini diambilnya kemudian dilemparkannya ke arah Wiro di ujung lapangan.
Tapi "blukkk!" Batu sebesar kepalan itu mental kembali. Kalau tidak lekas merunduk watu itu akan medarat di kening Setan Ngompol. Terkencing-kencing si kakek memaki panjang pendek.
"Bocah edan! Kau mau membuat somplak kepalaku!"
"Wiro! Hai! Kau budek atau tuli? Torek hah?!" Naga Kuning kembali berteriak Tapi sia-sia saja. Wiro tetap tidak mendengar padahal jarak mereka hanya terpisah kurang dari tujuh tombak.
"Jangan-jangan anak itu sudah dicium setan congek hingga telinganya jadi tuli!" kata Naga Kuning
"Aku.khawatir ia bukan cuma tuli , tapi matanya juga ikut-ikutan tidak beres. Masakan kita berada sedekat ini ia tidak bisa melihat!" ujar Setan Ngompol pula.
"Kita cari jalan berputar. Mungkin bisa tembus! Jalan ke ujung sana gres membelok ke arah pedataran rumput!" kata Naga Kuning. Setan Ngompol setuju.
Dua orang itu lari ke ujung timur. Setelah cukup jauh mereka membelok ke kiri. Tapi "buukk.. bukkk!" Kembali sosok mereka menghantam dinding yang tidak kelihatan. Selagi terhuyung-huyung tiba-tiba Naga Kuning berseru.
"Dia lenyap! Wiro lenyap!"
Saat itu Pendekar 212 yang tadi berada di dekat lapangan sebelah sana kini memang lenyap tak kelihatan lagi.
"Kemana kita harus mencari? Apa yang terjadi dengan anak itu?!" Setan Ngompol tampak galau sekali dan tak putus-putusnya menekapkan tangan ke bawah perut.
"Aku tidak percaya pada segala macam setan , jin atau dedemit!" berkata Naga Kuning.
"Jangan-jangan ada orang jahat berkepandaian tinggi me-nguasai daerah rimba belantara ini sengaja hendak mencelakai Wiro!" berbisik Naga Kuning.
"Kalau cuma masih namanya insan , bagaimana pun tinggi kepandaiannya pasti bisa kita tembus. Kau boleh saja tidak percaya. Tapi kurasa kita tengah berhadapan dengan sebarisan jin atau dedemit penguasa hutan! Kita harus mencari seseorang untuk minta bantuan. Aku punya firasat kalau tidak ditolong si Wiro itu tak bakal bisa keluar dari hutan ini hingga final zaman dan kita tak bisa tembus masuk ke dalam!"
"Kalau mau minta tolong pada siapa?" tanya Naga Kuning.
"Nanti kita selidiki. Yang penting kita harus tinggalkan tempat ini sebelum kita berdua juga ditelanjangi!" Walau ia sendiri yang berkata begitu tapi rasa takut tak bisa dibendungnya. Begitu Naga Kuning lari meninggalkan tempat itu si kakek segera mengikuti sambil terkencing-kencing.
* * *
SEMBILAN
WIRO duduk dengan paha dirapatkan. Kapak Naga geni 212 dan watu hitam diletakkannya di atas pangkuan. Memandang ke langit dilihatnya matahari mulai menggelincir ke barat Sampai ketika itu ia masih galau lantaran tidak tahu apa sebetulnya yang terjadi dengan dirinya.Apa lagi sehabis hampir setengah harian ia mengelilingi rimba belantara itu namun tidak kunjung bisa keluar. Tanpa setahunya sepasang mata mengintip dari balik serumpunan semak belukar lebat Tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah benda hijau melayang di udaraa kemudian jatuh di tanah , beberapa langkah di hadapannya.
Pendekar 212 tidak segera memperhatikan benda apa yang jatuh di tanah itu. Sebaliknya perhatiannya lebih tertuju pada arah datangnya benda tersebut Saat itu ia melihat ujung semak belukar di sebelah sana tampak bergerak-gerak. Tanpa sadar akan keadaan dirinya dan mengira ada orang bermaksud jahat padanya ia cepat melompat ke arah semak belukar sambil putar Kapak Maut Naga Geni 212 di atas kepala. Sinar putih berkilauan bergulung di udara , bunyi mirip tawon mengamuk menderu.
Begitu Wiro menjejakkan kaki di tanah di balik semak belukar , satu pekikan wanita melengking keras di tempat itu. Meman-dang ke depan Wiro sanggup kan dirinya berhadap-hadapan dengan seorang gadis anggun berkulit hitam manis. Karena hanya mengena-kan pakaian terbuat dari daun-daun hijau yang disambung-sambung , maka lekuk-lekuk tubuhnya yang bagur dan kencang terlihat cukup jelas. Ketika melihat Wiro yang tanpa pakaian tegak di hadapannya , kembali si gadis terpekik keras dan balikkan badannya kemudian lari ke balik semak belukar lain di sebelah kiri.
Murid Eyang Sinto Gendeng gres sadar akan keadaan dirinya dan jadi kalang kabut berusaha menutupi aurat. Dalam bingungnya ia hampir hendak lari , berlindung ke balik semak belukar yang sama di mana gadis tadi bersembunyi.
"Gila! Apa yang terjadi dengan diriku! Aku takut dan malu bertemu orang. Malah kini bertemu seorang gadis. Siapa dia?! Manusia sungguhan atau makhluk halus jejadian? Jangan-jangan ia Hantu Santet Laknat yang kembali merubah diri hendak mencelakaiku! Mungkin juga ia sosok orang yang kulihat malam tadi … ?"
Wiro kemudian berlindung ke belakang semak belukar di mana sebelumnya gadis berbaju daun hijau tadi pertama kali sembunyi. Dari sini ia bisa melihat benda hijau yang masih tergeletak di tanah. Ketika diperhatikannya sekali lagi gres ia menyadari. Benda hijau itu ialah rangkaian daun-daun hijau yang dibuat demikian rupa hingga merupakan sehelai celana pendek walau agak mekar di sebelah bavrlah , mirip pakaian perempuan.
"JanganJangan gadis itu hendak berbuat baik. Sengaja melemparkan pakaian dari daun itu untukku! Ah!" Wiro garuk garuk kepala. Dia memandang ke arah semak belukar di seberang sana. Si gadis agaknya masih sembunyi ditempat itu. Wiro perhatikan kembali pakaian dari daun kemudian berjingkat-jingkat sambil dua tangan yang memegang kapak dan watu hitam ditutupkan ke auratnya sebelah bawah , ia melangkah mendekati pakaian itu. Ketika ia membungkuk hendak mengambil pakaian dari daun itu tiba-tiba dari balik sermak belukar terdengar si gadis berseru.
"Tunggu!"
"Sial!" Wiro memaki lantaran terkejut dan hentikan langkahnya. Dia cepat tutup auratnya sebelah bawah kemudian berpaling ke arah semak belukar.
"Ada apa ini sebenarnya? Kau siapa?! Apa celana dari daun itu bukan untukku?!" Dari balik semak belukar terdengar jawaban.
"Celana itu memang untukmu! Tetapi kamu dilarang menyentuh dengan tanganmu! Ambil celana dengan jalan menjepit dengan jari-jari kaki kananmu! Lalu lemparkan ke udara. Sebelum jatuh sambut dengan kepalamu! Jika celana itu memang ditakdirkan menjadi pakaianmu , celana itu akan pribadi menempel di tubuhmu!" Wiro tentu saja terheran-heran mendengar klarifikasi itu. Sambil garuk-garuk kepala ia membatin.
"Aneh-aneh saja! Ambil celana musti dengan kaki segala!" Lalu Wiro berkata ditujukan pada gadis di belakang semak belukar.
"Aku tidak tahu apa kamu tengah menolangku , sedang mem-permainkan diriku atau menyembunyikan kejahatan di balik semua ke kecacatan ini! Orang gila saja pasti tahu mana ada orang mengenakan celana dengan cara menjepit dan melemparkannya ke udara! Gila dan aneh! Aneh dan gila! Mengapa musti begitu?!" Dari baliksemak belukardi seberang sana kembali terdengar bunyi orang menjawab.
"Kau berada di dalam rimba Lasesatbuntu…."
"Hutan Lasesatbuntu!" ujar Wiro. Dia ingat , Lakasipo pernah menuturkan keangkeran hutan ini. Lalu ia olok-olokan pertanyaaan.
"Apa kamu penguasa rimba belantara ini?"
"Bukan! Kita senasib…."
"Apa maksudmu senasib?!" tanya Wiro lagi.
"Jangan banyak bertanya dulu. Dengar , sebagian dari daerah hutan Lasesatbuntu ini berada di bawah efek ilmu hitam. Tak tembus pandang , tak tembus suara. Para Peri dan para Dewa pun tidak sanggup menembus , melihat dan mendengar apa yang terjadi di sini! Jika celana itu memang layak bagimu maka begitu menyentuh kepalamu ia akan bergerak turun menutupi tubuhmu dari pinggang ke bawah." Wiro bengong sesaat. Pakaian dari daun itu terletak di tanah di tempat terbuka. Jika ia melaksanakan apa yang dikatakan si gadis , dari tempatnya bersembunyi gadis itu akan sanggup melihatnya terperinci sekali.
"Aku akan lakukan apa yang kamu katakan! Tapi harap kamu jangan memperhatikan!"
"Siapa sudi memperhatikan! Dari tadipun saya sudah mem-balikkan diri!" jawab si gadis dari balik rerumpunan semak belukar. Wiro ulurkan kaki kanannya.
"Sialan! Mengapa saya jadi keluarkan keringat dingin!" Murid Sinto Gendeng ini memaki sendiri di dalam hati. Pakaian dari daun itu dijepitnya dengan jari-jari kaki kanan kemudian mirip yang dikatakan gadis berkulit hitam manis itu Wiro lemparkan benda itu ke udara. Begitu melayang jatuh ia cepat sambut dengan kepalanya.
”wuuuttt!”
"Seettt!”
Pakaian dari daun itu melewati kepala Wiro , turun ke dada terus ke perut seolah ia tidak mempunyai dua tangan yang menghalangi gerak. Sesaat kemudian pakaian itu telah melingkar mentutupi auratnya mulai dari pinggang hingga ke paha.
"Aneh! Benar-benar aneh! Seperti sulap saja!" kata Wiro sambil garuk kepala. Dia ingat pada gadis yang sembunyi di balik semak belukar.
" Aku sudah berpakaian! Terima kasih kamu sudah menolongku! Aku akan menemuimu!" Di belakang semak belukar Wiro kembali berhadap-hadapan dengan gadis berkulit hitam manis tadi.
"Aku tidak mengenalmu. Kau telah menyampaikan pakaian dari daun asing ini padaku! Siapa kamu sebenarnya. Apa maksudmu dengan Ucapan kita senasib tadi?"
"Namaku Luhtinti. Aku sahabat Lakasipo. Laki-laki itu pernah menolongku dari tangan jahat Hantu Muka Dua!"
"Namaku Wiro. Aku juga sahabat Lakasipo!" Luhtinti mengangguk.
"Aku pernah mendengar riwayat dirimu dan dua sahabatmu dari Laksipo ," kata si gadis pula. Tiba-tiba Wiro ingat.
"Aku harus keluar dari hutan ini. Lakasipo dalam bahaya! Dia masuk dalam sebuah jaring iblis milik nenek jahat berjuluk Hantu Santet Laknat! Aku harus menolongnya.
"Kau tak bisa berbuat apa-apa …. Kau tak mungkin bisa keluar dari dalam rimba belantara ini. Kau berada di bawah efek dan kekuasaan ilmu hitam Hantu Santet Laknat!" Wiro terkejut
”Apa?! Bagaimana kamu bisa tahu?! Jangan-jangan kamu ialah kaki tangan nenek jahat itu!"
"Aku senasib denganmu! Hantu Santet Laknat menjebloskaan saya ke dalam rimba belantara ini atas perintah Hantu Muka Dua. Dulu saya ialah budak .Hantu Muka Dua yang dipaksa menjadi kaki tangan pembantunya bersama empat orang gadis lain. Ketika saya melarikan diri bersama Lakasipo , ia menuduhaku sebagai pengkhianat Karena ia punya pantangan membunuh maka ia menyuruh Hantu Santet Laknat untuk menghukumku. Aku dijebloskan ke dalam rimba belantara ini! Tak mungkin bisa keluar lagi untuk selama-lamanya.
Ketika pertama saya dijebloskan ke dalam rimba ini , hal yang kamu alami juga terjadi atas diriku. Pakaianku musnah secara asing begitu tersentuh sinar matahari. Aku membuat dua pakaian dari daun. Satu kupakai sendiri , satu lagi yang kamu kenakan itu …." (Mengenai riwayat Luhtinti baca Episode berjudul "Peri Angsa Putih")
"Celaka… celaka ,…" Wiro berucap berulang kali. Kapak Maut Naga Geni 212 dan watu hitam sakti diselipkannya ke pinggang celana yang terbuat dari sambungan-sambungan daun-daun hijau itu yang ternyata selain tebal juga cukup kuat.
"Kita memang telah dilanda celaka dihantam bala!" menyahuti Luhtinti.
"Apa benar katamu , kita selama-lamanya akan terpendam dalam rimba belantara ini. Tak bisa keluar dan orang dari luar juga tak bisa menolong kita termasuk para Peri dan Dewa?!”
"ltulah nasib kita …" jawab Luhtinti sedih.
"Aku tidak percaya! Pasti ada cara! Pasti ada jalan! Setiap ilmu hitam bagaimanapun hebatnya pasti ada titik kelemahannya! Pada titik kelemahan itu kita sanggup menghancurkannya!"
"Aku sudah tiga purnama berada dalam rimba celaka ini. Gerak dan pandanganku terbatas. Setiap saya coba mencari jalan ke-luar , saya hanya berputar-putar dan selalu kembali ke tempat semula. Aku ingin menjerit , ingin menangis! Bahkan kadang kala timbul jalan sesat dalam benak dan hatiku! lngin bunuh diri saja! Tapi …."
Murid Eyang Sinto Gendeng pandangi wajah dan sosok Luhtinti. Jika tidak dalam keadaan mirip itu ia akan menyadari betapa gadis berkulit hitam manis ini bukan saja mempunyai wajah anggun jelita tapi juga tubuh yang sangat bagus dan tersingkap di sana-sini penuh menggairahkan. Sebaliknya Luhtinti yang berada dalam keadaan lebih damai setiap ia menatap paras sang jagoan dadanya terasa berdebar. Dia harus mengakui , tidak ada cowok di Negeri Latanahsilam yang mempunyai wajah segagah cowok asing ini.
Wiro kepalkan dua tangannya. Lalu ia ingat akan "llmu Menembus Pandang" yang di dapatnya dari Ratu Duyung. Pada Luhtinti ia berkata.
"Kita pasti bisa keluar dari sini! Aku akan berusaha!" Lalu Wiro salurkan tenaga dalamnya ke kepala. Matanya dikedipkan dua kali berturut-turut. Dia memandang berkeliling. Seperti diketahui dengan ilmu itu Wiro bisa melihat apa saja dikejauhan sekalipun terhalang sesuatu.
Namun ketika itu hingga ia cucurkan keringat cuek dan sepasang matanya menjadi perih ia tidak bisa melihat apa-apa. Yang terlihat tetap saja semak belukar , pohon-pohon dan benda-benda lain yang ada di sekelilingnya.
"Aku tak bisa …" ujar Wiro perlahan antara kecewa dan marah.
"Wahai , sudah nasib kita mirip ini …."
"Aku tak mau mengalah pada nasib!" kata Wiro keras.
"Kalaupun saya harus menemui asuh di dalam rimba celaka ini , nenek jahat berjulukan Hantu Santet Laknat itu harus kuhabisi lebih dulu!" Tiba-tiba Wiro mencium amis aneh. Nafasnya mendadak menjadi sesak. Dadanya mendenyut sakit. Tenggorokannya terasa panas. Dia batuk-batuk berulang kali. Lalu ada cairan mengalir keluar dari hidungnya. Wiro meraba ke bawah bibir.
"Hidungku berdarah!" kata Wiro terkejut. Hal yang sama juga terjadi dengan Luhtinti. Tapi ia tampak lebih tenang.
"Hawa asing itu tiba lagi …" kata si gadis. Dia memberi instruksi pada Wiro semoga cepat mengikutinya meninggalkan tempat itu. Tak lama kemudian sehabis berjalan cukup jauh amis asing itu lenyap.
"Hawa asing itu …" menerangkan Luhtinti.
"Bisa muncul setiap ketika secara tak terduga. Dan itu bukan cuma satu-satunya siksaan yang bakal kamu alami. Ada hawa asing yang membuat mata menjadi perih berair serta hidung dan pendengaran mengeluarkan cairan. Ada hawa asing yang membuat kulit terasa gatal. Ketika digaruk rasa gatal bermetamorfosis rasa melepuh. Lalu belum lagi gangguan binatang-binatang jejadian …."
"Tadi malam saya diserang ular asing kepala dua. Pasti semua ini perbuatannya Hantu Santet Laknat!"
"Siapa lagi kalau bukan ia …."
"Kau berjalan terus. Kita ini mau kemana?" bertanya Wiro.
"Dalam rimba belantara ini ada satu tempat yang sedikit agak aman. Sebuah goa watu …. Masih jauh dari sini. Cepat ikuti saya …." Tak lama berjalan mengikuti Luhtinti sekonyong konyong Wiro mendengar ada bunyi orang memanggil-manggil di belakangnya.
"Wiro … ! Wiro!"
"Wiro! Hai! Kami ada di sini!"
Pendekar 212 segera hendak berpaling. Tapi Luhtinti cepat berteriak.
"Jangan menoleh! Jangan menyahuti!"
"Memangnya kenapa?" tanya Wiro heran.
"Yang memanggilmu itu ialah bunyi mistik dari alam roh jahat yang berada dalam kekuasaan Hantu Santet Laknat!"
"Mana mungkin!" sahut Wiro.
"Aku kenali betul! Itu bunyi dua sahabatku! Naga Kuning dan kakek berjuluk si Setan Ngompol."
"Percaya padaku wahai sahabat! Kita berada dalam rimba Lasesatbuntu! Rimba seribu celaka seribu petaka. Kita berada di bawah kekuasaan Hantu Santet Laknat! Suara-Suara yang kamu dengar itu ialah tipuan jahat semata!"
"Kalau … kalau saya menoleh apa yang terjadi?" tanya Wiro.
"Jika kamu hingga menjawab apa lagi menoleh , kepalamu akan berubah tempat. Bagian muka akan berada di sebelah belakang , yang belakang akan menghadap ke depan. Kau akan tersiksa begini rupa selama tiga puluh hari tiga puluh malam!"
"Aku tidak percaya!" kata Wiro.
"Aku pernah mengalami sendiri pertama kali dijebloskan ke dalam rimba belantara ini!" menerangkan Luhtinti.
Di belakang sana masih terdengar bunyi Naga Kuning dan Setan Ngompol memanggil-manggil.
"Tapi bagaimana kalau bunyi itu sungguhan bunyi sahabat-sahabatku. Mereka mungkin dalam bahaya!"
"Percaya padaku Wiro!"
"Tapi Luhtinti …."
"Kalau kamu tidak percaya dan tidak mau ikuti nasehatku , silakan saja. Menolehlah! Berpaling ke belakang! Tapi nanti jangan menyesal!" kata Luhtinti dengan muka pucat.
Murid Eyang Sinto Gendeng gerakkan kepalanya. Tapi setengah jalan ia merasa jerih juga dan hentikan gerakannya. Luhtinti hembuskan nafas lega.
"Ayo , lekas ikuti aku! Goa itu masih jauh dari sini." Wiro geleng-geleng kepala dan kembali berjalan mengikuti si gadis. Baru saja mereka melangkah pergi di belakang sana terdengar bunyi tawa keras , melengking tinggi menggetarkan seantero rimba belantara.
"Gila …" rutuk Pendekar 212.
Setelah berjalan cukup jauh Wiro beranikan diri olok-olokan pertanyaan.
"Kalau tadi saya menoleh , apa hanya kepalaku sebelah atas saja yang berubah tempat? Kepala sebelah bawah apa juga ikut berpindah ke belakang?"
"Aku tak mengerti maksudmu. Coba ulangi pertanyaanmu …." kata Luhtinti. Wiro menyeringai. Dia membisu saja tidak mengulangi pertanyaannya.
"Hai , apa yang kamu tanyakan tadi?"
"Tidak , tidak apa-apa … !" jawab Pendekar 212. Luhtinti hentikan langkahnya dan menatap sejurus pada Wiro. Wajah si gadis kemudian tampak bersemu merah. Cepat-Cepat ia palingkan kepala dan melangkah pergi. Wiro kembali menyeringai seraya garuk-garuk kepala. Di sebelah depan Luhtinti berkata dalam hati.
"Lakasipo memang pernah menuturkan riwayat dan sifat-sifat cowok asing ini. Tapi tidak kusangka , dalam keadaan mirip ini ia masih bisa bicara kurang ajar! Sableng …. Wiro Sableng. Kata orang di negeri sana Sableng artinya sinting , tidak waras. Di sini artinya kencing kuda …. dua-duanya betul. Otak cowok ini memang agaknya sedikit kurang waras dan mulutnya bicara meluncur mirip kencing kuda!" Luhtinti tertawa sendiri.
"Kulihat kamu tertawa. Ada apa Luhtinti…?" bertanya Wiro.
"Tidak , tidak ada apa-apa ," jawab si gadis. Pendekar 212 garuk-garuk kepala.
"Ah , ia ganti membalas rupanya!" kata Wiro dalam hati.
* * *
SEPULUH
WIRO pegang lengan Luhtinti. Sambil memandang berkeliling ia berkata."Keadaan di tempat ini asing sekali. Barusan saja saya masih melihat matahari di langit dan cuaca terang benderang. Mengapa tahu-tahu di sini keadaan redup , matahari mendadak lenyap , udara berubah gelap seperti siang telah berganti dengan malam. Atau ketika ini hari sebetulnya memang telah malam? Aku menangkap bunyi jengkerik tiada henti di sekitar sini. Lalu ada bunyi kodok …."
Disentuh lengannya begitu rupa membuat Luhtinti jadi berdebar. Si gadis balas letakkan jari jari tangannya yang halus di atas tangan Wiro.
"lnilah daerah yang kukatakan sedikit kondusif bagi kita …. Di luar sana sebetulnya hari masih siang. Tapi di sini siang malam sama saja. Suara jengkerik dan kodok tak pernah putus …."
"Katamu ada sebuah goa …. Aku tidak melihat apa-apa ," kata Wiro pula. Luhtinti menunjuk pada tiga pohon besar yang tumbuh berdampingan.
"Di balik pohon besar sebelah kanan ada satu gundukan tanah tertutup semak belukar liar. Lalu ada barisan batu-batu besar. Di bawah salah satu watu besar sebelah tengah ada sebuah lobang setinggi kepala manusia. ltulah pintu goa…."
"Menurutmu tempat ini cukup kondusif bagi kita. Memangnya Hantu Santet Laknat tidak bisa memburu kita hingga ke sini?"
"Nenek jahat itu bisa saja gentayangan hingga kesini. Tapi setahuku ia tidak begitu suka mendatangi tempat ini. Selama saya berada di tempat ini , apalagi di dalam goa , seperti kekuatan jahatnya tidak bisa menyentuh diriku."
"Tapi kamu tak bisa mendekam terus menerus di dalam goa itu!" kata Wiro.
"Betul , tapi selama saya tidak tahu cara lain untuk menyelamatkan diri maka goa ini satu-satunya tempat saya berlindung …. Ikuti aku. Di luar sana sebentar lagi hari akan memasuki senja. Senja akan bermetamorfosis malam. Jika malam tiba Hantu Santet Laknat selalu gentayangan membuat hal-hal asing untuk mencelakai diriku …." Luhtinti dan Wiro melewati formasi tiga pohon besar.
Sementara itu bunyi jengkerik dan kodok serta hewan malam lainnya terdengar semakin keras dan berada di mana-mana. Seperti yang dikatakan si gadis , di bawah salah satu watu besar itu kelihatan sebuah lobang setinggi manusia. Tanpa ragu-ragu Luhtinti segera memasuki lobang yang merupakan verbal goa. Wiro bimbang sejenak. Tiba-Tiba ada hawa cuek menerpa sekujur tubuhnya , membuat Wiro menggeletar menggigil.
"Hawa asing , pasti perbuatan jahat Hantu Santet Laknat …." pikir Wiro. Cepat-Cepat ia masuk ke dalam goa. Walau keadaan di dalam goa redup namun disini udara terasa lebih hangat.
"Kau tidak mempunyai lampu minyak atau obor?" bertanya Wiro pada Luhtinti.
"Api ialah kawannya makhluk jahat mirip Hantu Santet Laknat Aku tidak pernah menyalakan apapun di dalam goa ini."
"Lalu di dalam sini apa yang akan kita lakukan?" tanya Wiro.
"Kita berlindung dari ilmu hitamnya Hantu Santet Laknat. Paling tidak kamu bisa beristirahat…"
"Mana mungkin saya beristirahat?" Aku harus mencari jalan menyelamatkan diri. Lalu menolong Lakasipo dan sahabatnya berjulukan Luhsantini yang terjebak dalam jaring Hantu Santet Laknat!" Luhtinti menarik nafas dalam.
"Dulu , hari-hari pertama saya tersesat ke dalam rimba belantara celaka ini , saya juga selalu berusaha mencari jalan untuk keluar dari hutan ini. Tapi sehabis berminggu-minggu tidak membawa hasil saya sadar. Yang harus saya lakukan ialah bagaimana bisa mempertahankan hidup dan menjaga semoga tidak berubah pikiran alias gila! Menyelamatkan diri sendiri saja tidak bisa , apalagi hendak menolong orang di luar sana!"
Wiro bengong walau kurang sepakat dengan ucapan gadis berkulit hitam manis itu. Di luar bunyi berisik hewan malam masih terus terdengar berkepanjangan masuk dan bergaung hingga ke dalam goa. Bersamaan dengan masuknya bunyi hewan binatang malam tanpa disadari kedua orang itu , ikut bersama hembusan angin masuk pula satu hawa aneh.
"Aku letih dan ingin istirahat…" kata Luhtinti dari sudut goa. Lalu ia menguap.
"Aku juga letih. Perutku lapar …" jawab Wiro. Mulutnya terbuka. Seperti Luhtinti ia juga ikut – ikutan menguap.
* * *
PENDEKAR 212 Wiro Sableng tidak tahu berapa lama ia terbaring lelap di lantai goa. Ketika terbangun ia dapati ada satu sosok hangat dan harum terbaring rapat di sebelahnya. Satu tangan halus melintang merangkul di atas dadanya. Darah sang jagoan mengalir lebih cepat. Badannya terasa panas dan kencang. Setiap ia menghela nafas , amis harum tadi masuk ke dalam alur pernafasannya , membangkitkan rangsangan aneh. Wiro berusaha memalingkan kepala untuk mengetahui siapa gerangan yang tidur di sebelahnya sambil memeluk tubuhnya. Sebelum ia sempat melihat wajah orang , satu bunyi berbisik hangat di telinganya."Wiro , kamu sudah bangun…?" Lalu ada satu benda lembut , hangat dan lembap menjilati daun telinganya , membuat Pendekar 212 jadi merinding menggeliat.
"Luhtinti?" Wiro menyebut nama gadis itu lantaran bunyi yang barusan didengar dan dikenalinya ialah bunyi Luhtinti. Cepat-cepat Wiro berdiri dan duduk. Karena si gadis tidak mau melepaskan rangkulannya , sosoknya jadi ikut berdiri dan kini terduduk diatas
pangkuan Wiro.
"Wiro , ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Aku lupa memberi tahu sebelumnya …. "!
"Aku …. Luhtinti saya …."
"Aku ingat satu cara yang bisa membuat kita keluar dari dalam rimba Lasesatbuntu ini …."
"Katakanlah ," jawab Wiro ketika Luhtinti hentikan ucapannya.
"Tapi harap kamu dudukdi lantai. Kalau kamu duduk di pangkuanku rasanya saya tak bisa bernafas!" Luhtinti tertawa. Dengan manja ia turun dari pangkuan Wiro , lepaskan rangkulannya dan duduk di lantai. Walau keadaan di dalam goa itu redup dan agak gelap namun Wiro masih bisa melihat bahwa ketika itu di sebelah atas Luhtinti tidak mengenakan apa-apa lagi. Dadanya yang polos kencang menantang. Senyumnya tidak berkeputusan dan sepasang matanya menatap tidak lepas-lepas dari wajah Wiro.
"Kau mirip berubah. Ada apa Luhtinti?" tanya Wiro.
"Wahai , saya terlalu bergembira , Wiro. Seperti kamu katakan tadi saya ingat ada satu cara yang bisa membuat kita bisa keluar dari rimba belantara terkutuk ini!"
"Kalau begitu lekas kamu katakan semoga kita secepatnya berusaha melaksanakan ," jawab Wiro. Bau harum yang merebak dari tubuh dan rambut si gadis membuat darah sang jagoan tambah bergejolak. Apalagi kalau sesekali ia memberanikan diri memandang ke dada Luhtinti. Kemudian matanya melihat pakaian hijau pecahan atas yang sebelumnya di kenakan Luhtinti terletak di lantai goa. Wiro ambil pakaian yang terbuat dari daun-daun ini kemudian menutupkannya ke dada si gadis.
"Bicaralah Luhtinti. Katakan bagaimana caranya kita bisa keluar dari rimba belantara Lasesatbuntu ini."
"Caranya sangat sederhana Wiro ," kata si gadis dengan wajah ditengadahkan disertai layangan senyum dan mata membesar.
"Kau mengawini saya , mengambil saya jadi istrimu …." Pendekar 21 2 tersentak mendengar kata-kata Lu htinti itu. Si gadis sebaliknya malah tertawa panjang.
"Ucapanku belum selesai. Kau sudah mirip ketakutan …" kata Luhtinti seraya pegang lengan Wiro.
"Perkawinan ini hanya sekedar untuk memusnahkan kekuat-an hitam. Hantu Santet Laknat yang mengurung kita di hutan ini. Kau tidak perlu selama-lamanya mengambil diriku sebagai istri. Begitu kekuatan hitam Hantu Santet Laknat musnah , kamu boleh saja meninggalkan diriku …."
"Tapi ….”
"Dengar dulu ," potong Luhtinti.
”Jangan kamu mengira perkawinan ini harus melalui segala macam upacara atau meminta izin para Peri dan Dewa. Cukup kita melaksanakan kekerabatan sebagai suami istri di dalam goa ini. Itu sudah berarti kamu mengawini diriku …."
"Hal itu mustahil kulakukan Luhtinti!" kata Wiro.
"Mengapa tidak mungkin?!"
"Perkawinan ialah sesuatu yang suci dan sakral! Mana mungkin kita kawin mirip kucing atau ayam begitu saja. Luhtinti tertawa panjang.
"Kita ini memang bukan kucing dan bukan juga ayam! Makara kalau kita kawin bukan berarti kita kawin kucing atau kawin ayam! Lagi pula perkawinan kita ialah demi untuk menyelamat-kan diri dari malapetaka yang bisa mencelakai kita hingga kiamat!"
"Aku menentukan celaka hingga final zaman …" kata Wiro tegas sambil berdiri berdiri. Dia segera ingat akan insiden yang dialaminya di Puri Pelebur Kutuk milik Ratu Duyung ketika berusaha menyelamatkan diri sang Ratu dari kutukan jahat yang akhirnya membuat Wiro kehilangan semua kesaktian (Mengenai Ratu Duyung harap baca serial Wiro Sableng berjudul Wasiat Sang Ratu terdiri dari 8 Episode sedang mengenai insiden di Puri Pelebur Kutuk sanggup diikuti dalam serial Wiro Sableng berjudul Tua Gila Dari Andalas , terdiri dari 11 Episode)
Kini untuk bisa selamat dari tangan Hantu Santet Laknat dan keluar dari rimba belantara Lasesatbuntu , apakah memang ia harus melaksanakan kekerabatan tubuh dengan Luhtinti? Wajah Luhtinti tampak berubah sedih mendengar ucapan Wiro tadi.
"Wahai , kenapa kamu berpikiran begitu dangkal? Bagiku keselamatan diriku sendiri sudah tidak kupikirkan lagi , Wiro. Aku justru ingin membantu menyelamatkan dirimu. Apalagi kamu mengata-kan bahwa dua orang sahabatmu di luar sana yang mungkin berada dalam bahaya. Lalu kamu sendiri pula yang menyampaikan bahwa Lakasipo dan Luhsantini terjerat dalam jaring Hantu Santet Laknat. Kuharap kamu mau mempertimbangkan. Semua yang akan kita lakukan bukan mencari kesenangan pribadi. Tapi untuk menolong dirimu dan diri orang lain. Atau mungkin kamu tidak ingat lagi untuk kembali ke negeri asalmu di tanah Jawa sana?"
Pendekar 212 pandangi wajah Luhtinti tak berkesip.
"Semua yang kamu katakan itu benar adanya. Tapi melaksanakan kekerabatan tubuh denganmu tak mungkin saya lakukan …." Luhtinti tersenyum. Perlahan-lahan ia berdiri berdiri. Pakaian daun yang menutupi dadanya jatuh ke lantai goa. Kembali dada gadis ini ter-singkap polos. Tubuhnya kemudian dirapatkan ke tubuh Wiro yang tegak tersandar ke dinding goa.
Lalu dua tangan Wiro dibimbingnya ke pinggulnya. Ketika Wiro menyentuh pinggul gadis itu , ia tidak mencicipi apa-apa kecuali memegang kulit yang lembut dan halus. Wiro melirik ke bawah. Dadanya bergoncang. Dia tidak tahu entah kapan dan bagaimana caranya si gadis telah membuka pakaiannya disebelah bawah. Karena ketika itu dilihatnya Luhtinti tegak tanpa sehelai daunpun menutupi auratnya!
" Wiro ,lakukanlah. Demi keselamatanmu dan sahabat-sahabatmu…." Luhtinti berkata lirih , wajahnya ditengadahkan , lidahnya yang merah lembap tergantung antara bibirnya yang mirip delima merekah dan bergetar halus.
"Luhtinti , saya tidak bisa melaksanakan permintaanmu …." Aku yakin kamu bisa. Jika kamu mau…. Jika tidak , berarti kamu bukan saja tega mencelakai diri sendiri tapi juga tega membiarkan sahabat-sahabatmu menemui malapetaka!" Sambil berkata Luhtinti semakin rapatkan tubuhnya ke tubuh Wiro.
Dua tangannya merangkul ke pinggang dan punggung Pendekar 212. Lalu perlahan-lahan tubuh Wiro dibawanya luruh jatuh ke lantai goa. Ketika gadis itu hendak menanggalkan pakaian di tubuh Wiro , sang Pendekar segera sadar. Dia melompat berdiri dan lari ke luar goa.
"Wiro!" Luhtinti berdiri berdiri , menyambar pakaian daunnya kemudian mengejar. Wiro sengaja menyembunyikan diri di tempat gelap , di antara dua watu besar dibalik serumpunan semak belukar. Di sekelilingnya bunyi jangkrik ditingkah bunyi kodok terdengar tidak berkeputusan. Sambil duduk Wiro genggam kapak saki Naga Geni 212 yang diletakkannya di pangkuannya.
"Luhtinti , saya menaruh curiga. Jangan-jangan gadis itu me-nyembunyikan satu niat jahat Mengapa ia tiba-tiba memperlihatkan perilaku jalang? Waktu bertemu pertama kali rambut dan tubuhnya tidak wangi. Tapi tadi baunya harum sekali. Dan amis harum itu merangsang darah di tubuhku. Di sengaja menggunakan minyak pemikat Gila , hampir saja! Jika ia memang tahu rahasia keluar dari hutan terkutuk ini seharusnya…."
"Wiro. …!” Pendekar 212 tersentak. Memandang ke depan Luhtinti tahu-tahu sudah tegak di hadapannya. Gadis ini telah mengenakan pakaian daunnya.
"Mungkin saya telah melaksanakan satu kesalahan besar. Aku …. Aku harus minta maaf padamu …." Si gadis duduk bersimpuh di tanah di hadapan Wiro. Murid Sinto Gendeng usap-usap gagang kapak saktinya.
"Tak ada yang harus dimaafkan Luhtinti. Aku tahu maksudmu baik Hanya saja saya tidak bisa melaksanakan apa yang kamu minta …."
"Aku tak ingin membicarakan hal itu lagi. Udara di luar sini terasa dingin. Baiknya kita masuk kembali ke dalam goa. Aku berjanji tidak akan menganggumu lagi …."
"Kau saja masuk ke dalam goa ," kata Wiro sambil terus mengusap-usap kapaknya dan pandangi lobang lobang senjata itu. Entah mengapa ketika itu muncul saja niat di hati murid Eyang Sinto Gendeng untuk meniup kapak itu mirip meniup suling. Apa lagi di sekitarnya bunyi jangkerik dan kodok masih menggema terus. Wiro angkat kapaknya , dekatkan ujung gagang kapala kapak yang berbentuk kepala naga.
Jika verbal kepala naga itu ditiup , dan lobang-lobangnya ditelusuri dengan jari-jari tangan maka senjata itu memang akan mengeluarkan bunyi mirip suling. Kalau meniupnya dengan mengerahkan tenaga dalam maka bunyi yang keluar akan terdengar sangat keras , bisa-bisa memekakkan telinga. Wiro menatap ke arah Luhtinti sebentar kemudian berkata.
"Aku ingin berada ditempat ini barang beberapa saat. Aku ingin sendirian …." Luhtinti merasa tidak yummy mendengar ucapan Wiro itu. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Perlahan-lahan gadis ini berdiri berdiri. Tetapi gerakannya tertahan sewaktu melihat Wiro mendekatkan gagang kapak yang berbentuk kepala naga itu ke bibirnya.
"Wahai , apa yang hendak kamu lakukan Wiro?" tanya si gadis.
"Senjataku ini mempunyai beberapa keandalan. Satu diantaranya bisa ditiup dijadikan suling. Aku ingin menenangkan pikiran. Siapa tahu saya masih ingat beberapa nyanyian lama. Kalau tiupan serulingku jelek , jangan kamu tertawakan …."
"Wiro! Jangan kamu lakukan itu!" kata Luhtinti tiba-tiba seraya berdiri berdiri. Wajahnya tampak lain.
"Eh , jangan melaksanakan apa maksudmu?" tanya Wiro heran
"Jangan tiup kapakmu! Jangan keluarkan bunyi seruling di tempat ini!"
"Memangnya kenapa? Jika kamu tidak suka bunyi tiupan serulingku masuk saja ke dalam goa dan tekap dua telingamu rapat-rapat!" kata Wiro pula. Lalu kembali ia dekatkan verbal naga pada gagang Kapak Maut Maga Geni 212 ke bibirnya. Belum sempat ia meniup Luhtinti berteriak seraya melompat.
"Wiro! Hentikan perbuatan itu! Jangan! Kau mengundang tragedi besar!"
"Bencana apa?" tanya Wiro.
"Aku tak bisa mengatakan. Yang penting jangan meniup kapakmu. Simpan senjata itu!" Melihat air muka si gadis , mendengar nada suaranya yang keras Pendekar 212 Wiro Sableng jadi curiga. Tanpa perdulikan Luhtinti Wiro meniup. Kali ini Luhtinti benar-benar murka rupanya. Sekali ia bergerak tangannya menyambar hendak merampas Kapak Maut Naga Geni 212 dari tangan Wiro.
Namun Wiro tidak tinggal diam. Masih tetap duduk kaki kanannya diajukan ke depan , menahan perut Luhtinti hingga gerakannya merampas tidak bisa dilakukan. Selagi si gadis berusaha menurunkan kaki Wiro sambil memukul , Pendekar 212 tiup kapak saktinya. Karena ia meniup dengan pengerahan tenaga dalam maka bunyi yang keluar menggema keras menusuk telinga.
"Jangan!" teriak Luhtinti seraya menekap telinganya. Wiro meniup terus , lebih keras dan tak karuan lantaran selain masih terus menahan tubuh Luhtinti dengan kakinya semoga gadis itu tidak bergerak lebih dekat , ia juga harus mengelak kian kemari lantaran Luhtinti mulai melepaskan pukulan-pukulan. Ternyata pukulan si gadis bukan sembarangan lantaran mengeluarkan angin tajam menunjukan ada pengerahan tenaga dalam tinggi.
Luhtinti kembali berteriak. Dadanya yang kencang beroncang keras. Dari ubun-ubunnya ada asap putih mengepul tipis. Wajahnya yang anggun tampak mengerenyit mengkirik. Bibirnya bergerak-gerak mirip tengah melafatkan mantera. Sepasang matanya mendelik.
Pendekar212 meniup kapaksaktinya lebih keras. Luhtinti menjerit dahsyat! Di udara yang redup gelap terdengar bunyi berderak mirip ada benda rengkah dan siap runtuh. . Daun pepohonan kelompok demi kelompok tampak jatuh berluruhan. Suara jengkerik dan kodok yang tadi terdengar tidak berkeputusan lenyap mirip ditelan bumi. Lalu di sela-sela jari tangan Luhtinti yang digunakan untuk menekap telinganya kiri kanan kelihatan ada cairan merah mengalir. Darah!
"Aku sudah curiga!" kata Wiro dalam hati. Matanya tak berkesip terus mengawasi Luhtinti. Tiupan serulingnya semakin menggila. Kemudian terjadilah beberapa keanehan. Kawasan sekitar goa yang tadinya redup perlahanlahan menjadi terang. Peman-dangan yang tadinya sangat terbatas berangsur-angsur menjadi luas dan jauh. Lalu yang sama sekali tidak terduga dan membuat jagoan 212 jadi merinding ialah perubahan yang terjadi atas diri Luhtinti.
Pakaian Luhtinti yang sebelumnya berupa daun-daun hijau kini bermetamorfosis sehelai jubah hitam. Ketika Wiro melirik dirinya sendiri ia juga kaget lantaran dapatkan pakaian putihnya yang sebelumnya sirna secara asing kini telah menempel kembali dl badannya sementara celana yang terbuat dari daun-daun hijau masih menempel diatas pakaian putihnya. Namun Wiro tidak perdulikan kecacatan yang ada pada dirinya lantaran ia lebih memperhatikan apa yang terjadi pada Luhtinti. Wajah si gadis yang tadinya hitam manis anggun jelita ini bermetamorfosis satu wajah menyeramkan dengan sepasang mata kecil menonjol tanpa alis. Mulut dan hidungnya jadi satu membentuk paruh bengkok dan hitam. Kalau tadi rambut serta tubuhnya menebar amis harum semerbak , kini sebaliknya memancarkan amis busuk!
"Hantu Santet Laknat!" teriak Wiro kaget.
"Jadi kamu rupanya!" Si nenek menyeringai geram.
"Aku menyampaikan madu , kamu lebih suka minum racun! Aku menyampaikan kenikmatan hidup , kamu lebih suka menelan hazab!" Habis berkata begitu si nenek keluarkan bunyi jeritan melengking mirip hendak merobek langit. Dua tangannya kemudian didorongkan ke depan!
* * *
SEBELAS
WIRO maklum selain mempunyai ilmu hitam jahat si nenek juga menguasai ilmu silat dan kesaktian tinggi serta kelicikan budi busuk tak terduga. Karenanya ia bertekad untuk menghadapi Hantu Santet Laknat habis-habisan.Dua gelombang angin menyapu kearahnya. Wiro membentak garang. Sesaat bunyi tiupan seruling lenyap. Sambil melompat ke atas dan jungkir balik di udara Wiro yang memegang kapak sakti di tangan kiri kembali meniup senjata itu. Kali ini dengan pengerahan hampir tiga perempat tenaga dalamnya! Wiro maklum sudah kelemahan ilmu hitam Hantu Santet Laknat dalam menyirap daerah rimba belantara Lasesatbuntu. Yaitu tidak sanggup bertahan dan buyar terhadap kekuatan bunyi yang dahsyat!
Mungkin itu sebabnya ia tidak terlalu suka berada di daerah sekitar goa yang selalu dihantui bunyi jangkrik dan kodok terus menerus. Walau suara-suara hewan itu tidak hingga membuyarkan ilmu hitamnya namun hatinya selalu tidak tentram kalau telinganya mendengar bunyi asing berkepanjangan.
Kawasan rimba belantara dimana dua orang yang bertempur itu berada semakin terang. Daun-daun pepohonan tambah banyak yang rontok. Tanah terasa bergetar. Tapi Hantu Santet Laknat yang menderita cidera pada dua telinganya tidak merasa gentar. Marah besar melihat dua serangannya tadi luput , si nenek kembali menggebrak. Sepasang matanya yang kecil menonjol ke depan mengeluarkan asap. Wiro mengira dari dua mata itu akan melesat dua larik sinar mematikan.
Tapi ternyata tidak. Malah secara tak terduga dari verbal si nenek yang berbentuk paruh melesat keluar dua larik kobaran api berbentuk sinar asing warna biru. Sinar api ini bergulung-gulung membentuk jaring yang kemudian dengan kecepatan kilat menebar ke arah Pendekar 212.
"Api lblis Penjaring Roh!" seru Pendekar 212 begitu mengenali benda yang melesat ke arahnya itu. Jaring inilah sebelumnya yang telah menjerat Lakasipo dan Luhsantini. Sampai ketika itu Wiro tidak mengetahui bagaimana keadaan kedua orang itu. Hantu Santet Laknat keluarkan tawa mengekeh kemudian sentakkan mulutnya yang berbentuk paruh.
"WUSSSSS!”
Jaring api biru menyambar ke arah kepala Pendekar 212. Wiro hantamkan tangan kanannya , melepas pukulan Sinar Matahari. Sinar putih panas terang benderang berkiblat!
"Bummmm!"
Sinar biru dan putih saling bentrokan di udara! Tanah bergetar mirip dilanda gempa. Pendekar 212 keluarkan seruan keras. Tubuhnya terpental hingga dua tombak kemudian terbanting di tanah. Hawa panas mendera seolah badannya diselubungi kobaran api. Ketika ia berdiri berdiri , kagetlah murid Sinto Gendeng ini. Kapak Maut Naga Geni 212 tidak ada lagi di tangan kirinya! Memandang ke depan , ternyata senjata itu telah berada dalam jaring api biru yang mengambang di udara , dikendalikan oleh Hantu Santet Laknat lewat hidung dan mulutnya yang berbentuk paruh.
Walau kapak sakti yang masih berada dalam jaring api biru itu tidak mengalami kerusakan namun sulit bagi Wiro untuk merampasnya kembali.
"Tua bang ka jahat! Kembalikan kapak itu padaku!" Si nenek keluarkan bunyi tertawa mengekeh.
"Pemuda tolol! Jangan bersombong diri mengira bisa mengalahkanku! Kapak ini akan kukembalikan padamu asal kamu mau bersumpah! Bersedia menjadi kekasih peliharaanku!"
"Tua bangka tidak tahu diri! lblis penjaga neraka pun tidak sudi bergendak denganmu! kamu akan menyesal kalau tidak segera mengembalikan kapak itu padaku!"
"Begitu? Hik.. hik … hik!" si nenek kembali mengekeh.
"Kau inginkan kapak silakan mengambil sendiri!" Lalu Hantu Santet Laknat goyangnya kepalanya. Jaring.api iblis serta merta lenyap. Kapak Naga Geni 212 kini berada di tangan kiri si nenek. Dengan tangan kanannya Hantu Santet Laknat tiba-tiba merorotkan pecahan dada jubah hitamnya sebelah atas hingga ia kini tegak dalam keadaan setengah telanjang. Gagang Kapak Naga Geni 212 diciumnya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Bagian gagang yang berbentuk kepala naga dihisap-hisapnya dengan cara menjijikkan. Lalu senjata itu diletakannya di atas dadanya yang peot. Secara asing kapak sakti itu menempel di dadanya.
"Wahai! Kau tunggu apa lagi? Kau inginkan kapakmu kembali , silakan ambil!" berseru Hantu Santet Laknat sambil berkacak pinggang dan senyum-senyum genit
"Jahanam!" rutuk Pendekar 212. Sesaat ia hanya bisa tegak dengan mata mendelik.
"Ho … ooo! Kau tak mau mendekati diriku , tak mau mengambil kapak lantaran takut menyentuh dadaku yang buruk. Jangan takut anak muda! Saat ini saya bukan lagi Hantu Santet Laknat si nenek buruk. Tapi saya ialah gadis-gadis yang mengasihimu! Lihat! Kau tinggal menentukan mana yang kamu suka! Pandang baik-baik!"
Saat itu Pendekar 212 memang masih memandangi si nenek dengan penuh geram. Tapi mendadak ia berseru kaget dan tersurut beberapa langkah. Sosok dan wajah Hantu Santet Laknat mendadak bermetamorfosis wajah sosoksetengah telanjang Ratu Duyung , kemudian bermetamorfosis sosok dan wajah Anggini kemudian Pandansuri dan malah Bunga alias Suci , gadis yang telah meninggal di tanah Jawa itu. Begitu terus berganti-ganti.
"Astaga! Bagaimana mungkin ia bisa melaksanakan itu!" membatin Wiro dengan tubuh bergetar.
"Kau tidak ingin mengambil kapak dan menyentuh dadaku?! Aku kekasihmu! Bidadari Angin Timur!" Sosok di depan Wiro berucap. Dan ketika itu Wiro benar-benar melihat sosok utuh serta wajah anggun Bidadari Angin Timur tegak , tersenyum di hadapannya dalam keadaan dada membusung putih dan polos. Selagi Wiro terpana tak bergerak sepcrrti itu tiba-tiba di udara melesat cahaya biru dan "wuttt!" Hantu Santet Laknat pergunakan kelengahan lawan untuk menyerang. Api lblis Penjaring Roh Kembali melesat , menebar menjirat ke arah Pendekar 212.
"Kau tak akan bisa lolos! Kali ini kamu tak akan bisa menyelamatkan diri! Masuk ke dalam jaring! Masuk ke dalam jaring!" Suara Hantu Santet Laknat mengiang asing di pendengaran Wiro. Ternyata nenek jahat ini telah pergunakan ilmu kesaktiannya yang disebut Menyadap Suara Batin. Ucapannya itu masuk ke pendengaran Wiro , menyerap ke dalam otak dan hatinya. Antara sadar dan tidak murid Sinto Gendeng kini bukan cuma berdiri membisu , tapi malah melangkah maju seolah menyambut kedatangan jaring api birir yang hendak menggulung dirinya dari atas!
"Wiro awas!" satu teriakan keras tiba-tiba menggeledek di tempat itu , membuat Pendekar 212 segera sadar dan cepat jatuhkan diri di tanah , bergulingan sambil lepaskan satu pukulan sakti dalam jurus Tangan Dewa Menghantam Rembulan. Ini ialah salah satu dari tujuh inti jurus pukulan sakti yang didapatnya dari sebuah kitab sakti yang diberikan Datuk Rao Basaluang Ameh , makhluk yang dianggap setengah insan setengah Dewa.
(Baca serial Wiro Sableng berjudul "Delapan Sabda Dewa" yang merupakan Episode ke 4 dari 8 Episode)
"Buummmm!"
Satu ledakan dahsyat menggelegar di udara. Sosok Wiro terhenyak amblas hingga satu jengkal ke dalam tanah! Sekujur tubuhnya mirip memar dan tulang belulangnya laksana terpanggang. Dadanya mendenyut sakit Dari sela bibirnya mengalir darah! Di atas sana jaring api biru terpental hingga dua tombak. Tapi kembali melayang cepat ke bawah. Kali ini tidak menyerang ke arah Wiro , tapi pada orang yang tadi berteriak memberi peringatan padanya.
Terhuyung-huyung Wiro keluar dari dalam lobang di tanah. Ketika ia memandang ke depan terkejutlah Pendekar 212. Semula ia tidak mengenali. Tapi kemudian sadar , orang yang hendak dilibas jaring api biru itu ialah Luhtinti yang kini mengenakan pakaian berwarna hitam. Pakaiannya yang terbuat dari daun daun hijau masih menempel di tubuhnya.
"Celaka Luhtinti! Dia pasti tak bisa menyelamatkan diri dari jaring api itu! Aku tak mungkin menolongnya!" Tiba-tiba Wiro ingat Dari mulutnya kelisar seruan keras.
"Sepasang Pedang Dewa!"
Saat itu juga dari sepasang mata Pendekar 212 memancar dua larik sinar hljau berbentuk sepasang pedang. Sesaat lagi jaringan api biru akan jatuh menimpa dan menggulung Luhtinti , dua pedang asing itu berkiblat ganas. Udara dibeset oleh dua larik sinar hijau. Lalu
"taar … taarrr!"
Dua ledakan keras menggelegar. Wiro terbanting ke tanah. Luhtinti terpekik dan terguling-guling babak belur tapi selamat Di sebelah sana Hantu Santet Laknat menjerit keras. Tubuhnya mencelat hingga tiga tombak kemudian muntahkan darah hitam! Tertatih-tatih si nenek berdiri berdiri. Dari kepalanya mengepul asap putih. llmu sepasang Pedang Dewa yang juga didapat Wiro dari Datuk Basaluang Ameh sirna. Jaring api biru lenyap entah kemana.
Tapi luar biasanya ternyata si nenek masih memegang Kapak Maut Naga Geni 212 di tangan kanannya! Dia meludah ke tanah kemudian memandang beringas pada Wiro.
"Jangan kira kamu bisa mengalahkan saya , anak muda! Kapak saktimu menjadi milikku! Hik … hik … hik!" Si nenek kembali meludah.
"Lain waktu saya akan kembali! Tidak untuk membunuhmu! Tapi untuk bercinta denganmu! Kau tak akan kulepas hingga hari final zaman sekalipun! Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu! Hik … hik … hik! Selamat tinggal anak muda. Selamat tinggal kekasihku! Hik … hik … hilt…!" Pendekar212 jadi merinding mendengar kata-kata Hantu Santet Laknat itu.
Sosok si nenek berkelebat dan di mata Wiro ia mirip melayang terbang ke udara hingga ia mustahil mengejar. Padahal ini ialah tipuan ilmu hitam belaka lantaran sebetulnya ketika itu Hantu Santet Laknat hanya berjalan biasa meninggalkan tempat itu.
"Kembalikan kapakku!" teriak Wiro. Di udara Wiro melihat Hantu Santet Laknat melayang terbang semakin jauh dan akhirnya lenyap dari pemandangan.
""Mati aku!" keluh Wiro sambil tepuk keningnya sendiri kemudian jatuhkan diri. Untuk beberapa lamanya ia terduduk menjelepok di tanah. Kemudian pandangannya membentur sosok Luhtinti yang tergelimpang pingsan. Ketika tubuh gadis itu bergerak menggeliat Wiro segera mendekati untuk menolong
"Luhtinti …. Kau betulan Luhtinti?!" tanya Wiro. Dia khawatir kalau-kalau gadis itu lagi-lagi ialah jelmaan ilmu hitam Hantu Santet Laknat. Luhtinti buka dua matanya.
"Wiro …" katanya perlahan.
"Syukur kamu masih hidup. Tadinya saya sudah frustasi …."
"Tunggu! Bagaimana saya tahu kamu ialah Luhtinti yang asli. Bukan jejadian Hantu Santet Laknat!" kata Wiro sambil tetap menjaga jarak dan berlaku waspada.
"Aku memang tidak bisa membuktikan …" kata Luhtinti pula.
"Tapi kalau kamu bersangsi , wahai , tinggalkan saja diriku kini juga!" Wiro garuk-garuk kepalanya.
"Kalau begitu biar saya yang membuktikan ," kata Wiropula. Lalu Pendekar 212 ulurkan tangan kanannya ke dada si gadis seraya berkata.
"Jika kamu masih inginkan kita bersenang bahagia di dalam goa , apa boleh saya meraba dadamu lebih dulu?" Berubah paras Luhtinti. Sepasang matanya mendelik.
"Aku tidak percaya pada pendengaranku! Bagaimana mungkin kamu berbuat dan berucap mirip itu padaku?!" Wiro menyeringai. Sambil garuk-garuk kepala ia berkata.
"Sekarang saya yakin kamu Luhtinti betulan …."
"Aku tak mengerti. Memangnya ada apa … ?" tanya si gadis.
"Kalau kamu Luhtinti jejadiannya Hantu Santet Laknat , waktu saya katakan hendak meraba dadamu tadi pasti kamu sudah membuka pakaianmu dan angsurkan diri!" Merahlah paras Luhtinti.
Nanti saya ceritakan bagaimana nenek keparat itu hendak mengelabuiku. Sekarang terangkah apa yang terjadi dengan dirimu." Wiro kemudian menolong Luhtinti berdiri dan duduk. Maka Luhtinti lantas menuturkan.
"Malam tadi sewaktu kita berada dalam goa. Tiba tiba Hantu Santet Laknat muncul. Dia menginjak ulu hatiku dengan kakinya hingga saya tidak sadar. Ketika tadi saya siuman kudapati diriku dicampakan si nenek di satu tempat tak jauh dari sini. Tubuhku terbungkus pakaianku sendiri yang dulu pernah sirna terkena sentuhan matahari. Selain pakaian ini , mirip kamu lihat saya masih mengenakan daun-daun hijau ini." Luhtinti kemudian membuka dan campakkan daun-daun hijau di atas pakaiannya itu. Wiro mengikuti , menanggalkan dan membuang celana daunnya.
"Aku yakin telah terjadi sesuatu yang membuat musnah ilmu hitam si nenek. Lalu saya mendengar bunyi bentakan-bentakan serta tawa cekikikan Hantu Santet Laknat Aku cepat-cepat menuju ke sini …."
"Aku harus berterima kasih sekali lagi padamu. Kalau tadi kamu tidak berteriak memberi ingat , saya pasti sudah dilibas nenek celaka itu di dalam jaring apinya!" Wiro ingat pada Lakasipo , Luhsantini dan mitra kawannya.
"Aku harus meninggalkan tempat ini. Aku musti mencari kawan-kawanku. Menolong Lakasipo dan Luhsantini."
"Aku ikut bersamamu!" kata Luhtinti pula
"Eh …." Wiro pandangi si gadis sambil garuk-garuk kepala.
"Ada apa?" tanya Luhtinti
"Sebenarnya saya lebih suka kamu mengenakan pakaian dari daun itu. Dari pada pakaian hitam yang menyembunyikan kebagusan tubuhmu ini!"
"Pemuda bermata gatal!" kata Luhtinti seraya memencet hidung Pendekar 21 2 hingga Wiro terpekik kesakitan.
* * *
MESKI keadaannya babak belur dan ia tidak sanggup menjaring Wiro namun Hantu Santet Laknat masih terhibur lantaran ia berhasil mendapatkan senjata sakti Kapak Maut Naga Geni 212 milik Wiro Sableng. Lagi pula mirip yang tadi diucapkannya tanpa malu si nenek memang telah jatuh cinta pada jagoan kita. Sambil berjalan ia berkata sendirian"Kapak sakti ini akan kubawa ke Gunung Latinggimeru. Akan kubuang ke dalam kawahnya! Biar terpendam seumur umur! Betapapun saya mencintainya saya tetap harus berjaga-jaga!" Habis berkata begitu si nenek lantas meludah. Ludahnya masih bercampur darah menunjukan ia menderita luka di dalam.
Baru saja Hantu Santet Laknat meludah , bahkan ludahnya belum sempat jatuh ke tanah tiba-tiba ada satu bunyi di belakangnya berkata.
"Dari pada jauh jauh dan susah-susah pergi ke Gunung Latinggimeru untuk membuang kapak itu , lebih baik serahkan saja padaku!"
"Pemiliknya dicintai tapi barangnya mau dibuang! Hik … hik … hik! Lucu juga nenek peot satu ini!" Kejut Hantu Santet Laknat bukan kepalang. Dalam hati ia membatin.
"Walau keadaanku mirip ini , tapi ialah aneh! Aku hingga tidak tahu dan tidak mendengar kalau ada beberapa orang mengikuti langkahku disebelah belakang! Agaknya mereka mempunyai kepandaian tinggi!" Dengan cepat si nenek memutar badan.
* * *
DUA BELAS
KARENA mengejar setengah hati dan sambil mencari ayam jantan , akhirnya si nenek berjuluk Nenek Selaksa Angin alias Selaksa Kentut itu kehilangan jejak Hantu Langit Terjungkir. Tapi nenek kurang waras ini agaknya tidak begitu perduli. Siang itu ia tampak duduk di bawah sebatang pohon rindang. Keranjang besar berisi tiga ekor ayam terletak di hadapannya. Di sekitarnya tujuh ekor ayam bergelimpangan mati dengan dubur amblas dikarenakan telah dicabuti kibulnya untuk disantap.Si nenek lunjurkan sepasang kakinya. Dadanya sesak turun naik Sambil usap-usap perutnya ia memandang ke arah keranjang.
"Aku sudah menelan tujuh puluh empat kibul ayam jantan. Tinggal tiga ekor itu. Huh … saya akan sembuh! Pasti sembuh! Kalau tidak , cowok asing itu akan kucabut duburnya , akan kubetot ususnya! Tiga ekor lagi …. Tapi saya benar-benar kenyang! Rasanya mau muntah!" Luhkentut alias Nenek selaksa Kentut usap-usap perutnya yang gembul. Lalu
"buut … prett!" Dia terkentut!
Sekali ini si nenek memandang berkeliling , kemudian pegang-pegang pantatnya sendiri. Bola matanya yang kuning berputar-putar.
"Kentutku terdengar asing sekali ini! Buutnya pendek kemudian ada prettnya! Hik … hik. .. hik! Enak juga kedengarannya! Jangan Jangan saya memang siap sembuh!" Girang sekali si nenek jadi bersemangat. Lalu ia ambil salah seekor ayam dalam keranjang. Dengan cepat hewan itu dipesianginya. Dijebol ujung duburnya kemudian dimakan mentah-mentah. Begitu habis disambarnya ayam ke dua. Masih megap-megap ia tancap ayam ke tiga! Dengan mata mendelik sehabis menelan kibul ayam yang terakhir si nenek berteriak seraya melompat.
"Tujuh puluh tujuh! Aku sudah menelan tujuh puluh tujuh kibul ayam! Aku sudah sembuh!" Si nenek mencicipi geli-geli di sekitar duburnya. Lalu
"butt.. prett!" Dia kentut lagi , dengan bunyi asing tidak mirip biasanya.
"Heh , bagaimana ini! Aku masih kentut! Berarti belum sembuh! Kurang ajar! Apakah saya telah tertipu! Aku harus mencari anak itu!"
Tiba-tiba semak belukar di samping kiri si nenek bergerak. Luhkentut cepat berbalik seraya hendak menghantam dengan tangan kanannya.
"Nek , jangan! Ini kami!" Satu bunyi berseru kemudian dua sosok berkelebat dan muncul di hadapan Luhkentut!
"Kalian!" hardik si nenek muka kuning dengan mata melotot!
"Mana kawanmu yang berjulukan Wiro Sableng itu?!"
"Kami justru kehilangannya!" jawab salah satu dari dua orang yang barusan tiba yang bukan lain ialah Naga Kuning.
"Kami tengah mencarinya! Dia lenyap dan tak muncul lagi sehabis mengikuti seorang gadis berjulukan Luhcinta ," menerangkan orang ke dua yaitu si kakek berjuluk si Setan Ngompol.
"Hemm. … Dia berani menipuku , kini malah asyik bercinta dengan gadis berjulukan Luhcinta itu! Kurang ajar! Kau bakal mendapatkan pembalasanku Wiro! Aku setengah mati menelan tujuh puluh tujuh kibul ayam jantan! Penyakit kentutku ternyata tidak sembuh!"
"Butt..l prett!"
"Nek jangan salahkan sahabat kami! Jika mendengar kentutmu kurasa kamu sudah hampir sembuh …."
"Hampir sembuh bagaimana! Apa kamu tuli tidak mendengar saya masih kentut-kentut?!" hardik si nenek kepada Setan Ngompol hingga kakek ini terpancar air kencingnya.
"Tunggu Nek ," Naga Kuning menyahuti.
"Kau memang masih kentut-kentut. Tapi apa kamu tidak menghitung? Sekarang kentutmu jauh berkurang. Tidak terus-terusan mirip dulu. Lagi pula kalau dulu kentutmu panjang buuttt. .. buuuutttt. .. buuttt! Sekarang kamu cuma kentut pendek-pendek saja. Butt! Dan sekali-sekali. Lalu ada perhiasan Prett! Apa itu tidak berarti kamu sudah hampir sembuh malah kentutmu terdengar indah lucu?!"
"lndah lucu bapak moyangmu! Aku tetap harus mencari cowok itu! Kalian berdua harus memperlihatkan dimana ia berada!"
"Kami tidak tahu Nek , sungguh!" jawab Naga Kuning.
"Sahabatku nenek muka kuning ," Setan Ngompol ikut bicara.
"Jika kamu hendak mencelakai Wiro padahal ia telah menolong menyembuhkan penyakit kentutmu , paling tidak mengurangi , bisa-bisa kamu bakal kena . kutuk!"
"Kekek mata lebar kuping sumplung! Kena kutuk apa maksudmu? Apa telingamu yang sebelah lagi mau kuambil dan kupindah ke selangkanganmu?!"
"Serrr!" Kencing si kakek pribadi terpencar. Tergagap-gagap Setan Ngompol berkata.
"Maksud kami berdua baik. Memberi tahu semoga kamu tidak salah kaprah …."
"Aku tidak mengerti! Apa itu salah kaprah!" hardik Luhkentut.
"Begini Nek ," Naga Kuning coba menerangkan.
"Sahabat kami Wiro Sableng telah menolongmu. Walau penyakit kentutmu tidak sembuh seluruhnya tapi dibanding dulu sudah jauh berbeda. Kini kamu Cuma kentut sekali-sekali. Kentutmu jadi pendek. Lalu ada sedikit hiasan Prett dibelakangnya! Kau bukannya berterima kaSih pada sahabatku itu , tapi malah mau mencelakainya. Mencelakai orang yang telah menolong bisa-bisa penyakit kentutmu kambuh kembali. Malah lebih parah , lebih panjang! Bagaimana kalau kamu nanti kentut sambil kepulkan asap dari duburmu!"
Habis berkata begitu Naga Kuning tekap hidung dan mulutnya mencegah jangan hingga tersembur tawanya.
"Anak kurang ajar! Jangan kamu berani menakut nakuti diriku! Kuperas peralatanmu gres tahu rasa!" Nenek muka kuning ulurkan tangannya ke pecahan bawah perut Naga Kuning. Si bocah tentu saja cepat-cepat melompat selamatkan diri. Setan Ngompol walau agak takut-takut segera berkata.
"Anak itu tidak menakut-nakuti. Kalau kamu tidak percaya padanya harap percaya padaku. Kita sama-sama tua.."
"Aku renta masuk akal , kamu renta terjemur , amis dan buruk!" semprot Nenek Selaksa Kentut. Si Setan Ngompol tersurut dua langkah. Sambil menahan kencing dengan bunyi perlahan ia berkata.
"Terserah padamu. Aku hanya memberi tahu. Kalau kamu hingga salah kaprah bisa celaka. Apa kamu suka nanti setiap kentut kamu juga sekaligus mencret?!" Naga Kuning membuang muka menahan tawa. Si Setan Ngompol akal-akalan membetulkan celananya padahal sudah tidak sanggup menahan kencing. Kedua orang ini melirik ke arah si nenek muka kuning.
Saat itu Luhkentut tampak bengong mirip berpikir pikir Diam membisu ia merasa kecut Apalagi mendengar ucapan si kakek. Bagaimana kalau nanti ia benar benar kentut dan mencret hanya gara-gara hendak mencelakai pernuda berjulukan Wiro Sableng itu? Si nenek melangkah mondar-mandir. Diam membisu ia mengakui dan sebetulnya merasa bahagia lantaran kentutnya kini memang hanya tinggal sekali-sekali. Walaupun kentut , suaranya tinggal pendek dan ada perhiasan Prett yang oleh si bocah berjulukan Naga Kuning itu disebut sebagai sesuatau yang "indah"
Satu senyum akhirnya menyeruak di wajah si nenek. Dia memandang pada dua orang di hadapannya.
"Baiklah , saya memang pantas berterima kasih pada sahabatmu berjulukan Wiro Kencing Kuda itu. Kebaikan seharusnya memang musti dibalas dengan kebaikan. Aku akan rnencarinya untuk berterima kasih bukan untuk mencelakainya …."
"Kau memang orang yang rendah hati tinggi budi!" memuji Setan Ngompol
"Baik hati dan en gg…. Lumayan cakep!" kata Naga Kuning menyambungi.
"Cakep? Apa itu cakep?" tanya Luhkentut tak mengerti.
"Cakep artinya kamu anggun selangit tembus!" jawab Naga Kuning. Si nenek tertawa mengekeh.
"Kau pintar memuji Tapi dibalik pujianmu itu kamu masih bercanda pembangkang mempermainku! Mana ada di dunia ini nenek-nenek punya kecantikan selangit tembus! Kau salah berucap. Bukan selangit tembus tapi selangit gosong! Hik … hik … hik!" Setelah mendongak ke langit sebentar si nenek berkata.
"Kita segera saja mencari sahabatmu itu. Aku khawatir anak murid Hantu Santet Laknat berjulukan Hantu Bara Kaliatus itu telah berbuat macam-macam mencelakai orang!" Naga Kuning kemudian menceritakan di mana dan bagaimana terakhir kali ia dan Setan Ngompol melihat Wiro dalam keadaan tanpa pakaian berada di satu pedataran liar dalam rimba belantara Lasesatbuntu.
"Kawanmu itu sudah kena sirap nenek dukun jahat itu! Kalau kita hingga terlarnbat bisa-bisa mereka berdua sudah jadi suami istri!"
"Suami istri?" Naga kuning terkejut.
"Apa?!" Setan Ngompol tersentak kaget , tak percaya pada pendengarannya.
"Kurasa anak itu belum cukup gila untuk mau bercinta dengan si nenek jelek amis itu!" Luhkentut menyeringai.
"Hantu Santet Laknat bukan dukun jahat namanya kalau tidak bisa menyirap menipu orang. Setahuku ia punya ilmu hitam yang disebut llmu Bersalin Rupa. Dia bisa merubah diri menjadi gadis paling anggun di muka bumi ini. Apa sahabatmu si Sableng itu tidak akan terangsang?"
"Celaka! Wiro benar-benar dalam ancaman besar!" kata Naga Kuning.
"Aku punya dugaan , kalau Hantu Santet Laknat menjebak cowok mirip sahabatmu itu , ia pasti punya satu maksud tersembunyi! Kita berangkat kini juga ke rimba Lasesatbuntu!"
"Nek , sebelum pergi , saya mau tanya apa potongan kuping kananku masih ada padamu?" bertanya Setan Ngompol harap-harap cemas.
"Aku tak tahu saya simpan dimana kupingmu itu! Entah sudah kubuang entah sudah kujadikan masakan anjing!"
"Celaka!" Setan Ngompol tersurut pucat dan keluarkan kencing. Tangan kanannya mengusap-usap pendengaran kanannya yang tak ada daunnya lagi lantaran memang sudah diambil oleh nenek tukang kentut itu waktu berada di goa tempat disembunyikannya patung Luhmintari (Baca Episode berjudul Hantu Langit Terjungkir)
Kemampuan si nenek mengambil dan memindah bagian-bagian tubuh insan ini dimungkinkan lantaran ia mempunyai ilmu yang disebut Menahan Darah Memindah Jazad
"Memangnya kenapa kamu tanyakan kupingmu itu?!" bertanya Luhkentut.
"Sesuai perjanjian , kuping itu untuk jadi jaminan bahwa kamu bisa disembuhkan. Sekarang kamu sudah bisa dikatakan sembuh. Lagi pula bukankah kita ini kini sudah bersahabat?" Setan Ngompol berkata sambil tersenyum dan kedip-kedipkan matanya.
Si nenek muka kuning tertawa masam. Dia meraba-raba pakaian kuningnya , rnencari-cari disetiap sudut sosok tubuhnya. Meraba hingga di bawah perut si nenek berhenti. Matanya yang kuning menatap pada Setan Ngompol kemudian dikedipkan. Si nenek kemudian balikkan badannya sambil mengangkat pakaian kuningnya ke atas. Sesaat kemudian ketika ia kembali membalik , potongan kuping kanan Setan Ngompol sudah berada di tangan kirinya.
"lni , kamu ambillah kembali! Aku memang tidak butuh lagi kupingmu ini!" Setan Ngompol mendapatkan potongan kupingnya. Benda itu terasa hangat , lembap dan amis pesing.
"Nek , kamu letakkan di mana kupingku ini tadi … ?" tanya Setan Ngompol.
"Kakek tolol! Coba kamu cium sendiri! Kau pasti sudah tahu kusimpan dimana daun telingamu itu!" jawab si nenek kemudian berpaling pada Naga Kuning. Kedua orang ini kemudian sama-sama tertawa cekikikan.
"Aku … !" Setan Ngompol kibas-kibaskan potongan daun telinganya.
"Bagaimana ini …. Bagaimana saya menempelkannya ke telingaku kembali. Nek … !" Luhkentut ambil daun pendengaran yang dipegang si kakek kemudian ditempelkannya ke pendengaran kanan Setan Ngompol. Tapi tempelannya ternyata terbalik. Bagian daun pendengaran yang seharusnya menghadap ke depan diletakkannya di sebelah belakang. Akibatnya Setan Ngompol merasa bising lantaran telinga" kirinya menangkap bunyi dari depan bahagia pendengaran kanan menangkap bunyi dari sebelah belakang. Naga Kuning yang mengetahui hal ini membisu saja sambil menahan ketawa.
"Sudah?! Kau puas sekarang?!" tanya Luhkentut.
"Pu … puas Nek. Tapi …. Ah , saya tak tahu apa yang salah pada diriku! Tempat ini tiba-tiba mirip bising …."
"Kek ," kata Naga Kuning.
"Kau mirip masih meratapi diri. Seharusnya kamu berterima kasih pada nenek itu. Dia telah mengembalikan potongan daun telingamu …."
"Aku memang berterima kasih!" jawab Naga Kuning.
"Tapi kamu tahu dimana ia menyirnpan kupingku ini?" kata Setan Ngompol dengan mata melotot.
"Sudahlah , mengapa hal itu diributkan. Kau sudah dapatkan telingamu kembali dan sudah dipasangkan ditempatnya semula!"
"Tapi apa kamu tidak melihat tadi?! Dia meletakkan kupingku di anunya!"
"Sudahlah Kek , seharusnya kamu berterima kasih dan merasa senang. Si nenek sudah menyimpan dan menempatkan daun teli-ngamu di tempat yang paling kondusif , sedap hangat dan terhormat …"
"Sedap bapak moyangmu! Daun telingaku malah lembap dan bau!" kata Setan Ngompol. Naga Kuning tertawa cekikikan. Tanpa perdulikan si Kakek ia segera melangkah menyusul nenek muka kuning yang sudah berjalan duluan menuju rimba Lasesatbuntu.
Di sebelah belakang si kakek berjalan mengikuti. Sesekali ia usap daun telinganya yang basah. Lalu tangannya didekatkan ke lobang hidung.
"Sial …. Tapi hemmm…. Baunya lama-lama terasa enak-enak sedap. Betul juga omongan bocah sialan itu!" Si kakek kemudian mesem-mesem tertawa. Melangkah sambil mengendus-endus jari-jari tangannya.
TAMAT
* * *
BERHASILKAH NENEK SELAKSA KENTUT , NAGA KUNlNG DAN SI SETAN NGOMPOL MENEMUI WIRO?
BERHASILKAH WIRO MENDAPATKAN KAPAK SAKTINYA YANG TELAH DIRAMPAS HANTU SANTET LAKNAT?
JUGA BERHASILKAH HANTU LANGIT TERJUNGKIR MENGEJAR HANTU BARA KALIATUS UNTUK MENYINGKAP RAHASIA TANDA BUNGA DALAM LINGKARAN PADA LENGAN LELAKI ITU? DAPATKAH LAKASIPO DAN LUHSANTlNl DIKELUARKAN DARI JARING API BIRU?
HARAP PEMBACA MENGlKUTl EPISODE BERIKUTNYA BERJUDUL :
BERHASILKAH WIRO MENDAPATKAN KAPAK SAKTINYA YANG TELAH DIRAMPAS HANTU SANTET LAKNAT?
JUGA BERHASILKAH HANTU LANGIT TERJUNGKIR MENGEJAR HANTU BARA KALIATUS UNTUK MENYINGKAP RAHASIA TANDA BUNGA DALAM LINGKARAN PADA LENGAN LELAKI ITU? DAPATKAH LAKASIPO DAN LUHSANTlNl DIKELUARKAN DARI JARING API BIRU?
HARAP PEMBACA MENGlKUTl EPISODE BERIKUTNYA BERJUDUL :
BADAI FITNAH LATANAHSILAM
No comments for "Hantu Santet Laknat WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"
Post a Comment