Hantu Bara Kaliatus WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito

WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : HANTU BARA KALIATUS / PETUALANGAN WIRO DI LATANAHSILAM

SOSOK YANG TEGAK DI ATAS BATU BESAR DI TENGAH SUNGAI BUKAN LAIN ADALAH LA TANDAI ALIAS HANTU BARA KALIATUS. SEPASANG MATANYA MASING-MASING MEMILKI DUA BOLA MATA BERWARNA MERAH SEPERTI BARA MENYALA MENATAP ANGKER KE ARAH LAKASIPO. SAAT ITU LAKASIPO MASIH DUDUK DI ATAS PUNGGUNG LAEKAKIENAM KUDA TUNGGANGANNYA YANG BERKAKI ENAM. SEMENTARA WIRO , NAGA KUNING DAN SETAN NGOMPOL MASIH BERADA DALAM GENGGAMAN TANGANNYA , BELUM SEMPAT DIMASUKKANKE DALAM KOCEK JERAMI. "MAKHLUK APA ITU GERANGAN…." KATA NAGA KUNING. "KEPALANYA SEPERTI PENDUPAAN! ADA BARA MENYALA!" "LIHAT MATANYA!" NAGA KUNING BERUCAP. "SETIAP MATA ADA DUA BOLA MATA!" "YA , AKU JUGA SUDAH MELIHAT. JANGAN-JANGAN MAKHLUK INI PUNYA EMPAT BIJI DI KANTONG MENYANNYA!" KATA WIRO PULA SAMBIL TERTAWA CEKIKIKAN. "KALIAN JANGAN BERGURAU SAJA!" MEMBENTAK SETAN NGOMPOL. "AKU PUNYA FIRASAT BAHAYA BESAR MENGANCAM LAKASIPO. BERARTI MENGANCAM KITA BERTIGA!"

1

SANG SURYA MASIH BELUM memperlihatkan diri. Udara di penghujung malam itu masih diremangi kegelapan. Angin cuek masih mencucuk menembus kulit hingga ke tulang. Hampir tak sanggup diandalkan , dalam kegelapan mirip itu , di kawah Gunung Latinggimeru berkelebat satu bayangan. Gerakannya cepat , sulit ditangkap mata biasa. Bayangan ini melompat dari satu gundukan kerikil ke gundukan kerikil lainnya. Lalu sesekali kakinya menendang dan "byaaarr!" Gundukan kerikil hancur berantakan!
Batu-batu yang ada dalam kawah Gunung Latinggimeru itu bukan kerikil biasa. Tapi ialah batu-batu yang semenjak ratusan tahun telah berkembang menjadi bara merah menyala dan tentunya panasnya bukan alang kepalang. Jangankan untuk dipijak , berada cukup dekat saja panasnya seolah bisa memperabukan seseorang. Apalagi di dalam kawah terdapat cairan lahar merah mengepulkan asap panas dan sesekali mencuatkan pengecap api hingga setinggi satu tombak! Namun sosok yang berkelebat dari satu kerikil ke kerikil lainnya itu sama sekali tidak mengalami cidera kedua kakinya. Kelebatan tubuhnya yang mengeluarkan angin deras menciptakan cairan lahar bergetar mengeluarkan riak se-olah mendidih. Kalau sosok yang berkelebat di dalam kawah itu bukan sebangsa hantu atau setan tetapi insan adanya maka pastilah ia mempunyai ilmu kenukilan yang luar biasa. .
Tepat ketika cahaya pertama kemunculan sang surya mencuat di ufuk timur , satu bayangan hitam berkelebat dari lamping kawah sebelah barat. Sesaat kemudian bayangan ini tahu-tahu telah berdiri di atas satu gundukan kerikil panas membara , rangkapkan tangan di atas dada. Wajahnya yang gila mengerikan sesaat menatap pada orang yang masih berkelebat dari satu kerikil ke kerikil lainnya.
Makhluk yang tegak di atas kerikil sambil rangkapkan tangan di depan dada itu mempunyai wajah luar biasa gila dan angkernya. Muka itu mirip muka seekor burung gagak hitam. Hidung dan lisan jadi satu ibarat paruh. Sepasang mata kecil tajam memandang tak berkesip ke arah orang yang masih saja melompat dan menendang seolah tidak menyadari kalau ketika itu di dalam kawah ia tidak lagi sendirian. Ini memberi kejelasan , betapapun tingginya ilmu kepandaian orang pertama namun masih jauh berada di bawah makhluk yang barusan datang. Buktinya ia tidak tahu kehadiran makhluk yang bermuka burung yang semakin terang sinar sang surya semakin terang bentuknya. Dia ternyata ialah seorang nenek gila mengenakan pakaian dedaunan kering yang diberi jelaga hitam.
Kesunyian di dalam kawah Gunung Latinggimeru itu tiba-tiba meledak oleh bunyi tawa si nenek bermuka burung. Saat itulah bayangan yang semenjak tadi berkelebat kian kemari tiada henti menyadari kalau di dalam kawah ada orang lain. Cepat ia membalikkan tubuh dan siap menghantam dengan tangan kanannya.
"Seratus hari telah berlalu! Wahai Latandai! Aku tiba memenuhi perjanjian!" Si nenek berseru keras menciptakan seantero kawah bergeletar.
"Nenek Hantu Santet Laknat!" orang di seberang sana keluarkan ucapan kemudian cepat-cepat berlutut di atas kerikil panas. "Nenek , terima hormatku!"
SI nenek kembali tertawa mengekeh.
"Berdirilah wahai Latandai!"
Orang di atas kerikil merah membara segera berdiri tapi cara tegaknya agak membungkuk menunjukan ia masih meneruskan perilaku hormatnya pada si nenek angker.
"Kulihat gerakan tubuh serta kekuatan kakimu telah maju pesat Latandai! Aku senang! Sekarang , hari perjanjian telah datang! Kau akan kuberikan ilmu kesaktian yang selama ini kamu inginkan! Apakah kamu telah siap menerimanya wahai Latandai?!"
"Wahai Nenek Hantu Santet Laknat. Aku Latandai siap mendapatkan ilmu apapun yang akan kamu berikan padaku!"
Si nenek tertawa melengking. "Ilmu Bara Setan Penghancur Jagat akan segera kamu dapatkan! Begitu ilmu itu menjadi milikmu , maka otakmu ada dalam otakku. Kau menjadi milikku. Artinya kamu berada di bawah kekuasaanku. Kau harus melaksanakan semua apa yang saya kata dan perintahkan. Sekali kamu berani membangkang maka ilmu Bara Setan Penghancur Jagat akan menghancurkan dirimu sendiri! Kau mengerti dan paham Latandai?!"
"Aku mengerti. Aku paham wahai Nenek Hantu Santet Laknat!"
Si nenek tertawa panjang. Di timur langit semakin terang. "Berdiri lurus-lurus Latandai! Kepalkan dua tanganmu dan letakkan di samping!"
Lelaki berjulukan Latandai lakukan apa yang dikatakan si nenek. Tubuhnya tegak lurus-lurus di atas kerikil merah panas. Dua tangan ditempelkan rapat-rapat ke sisi kiri kanan.
"Kau sudah siap Latandai?!"
"Aku sudah siap Nek!"
"Sungguh?!"
"Sungguh Nek!"
"Ceburkan dirimu ke dalam lahar!"
Latandai tersentak kaget mendengar perintah yang tidak disangkanya itu.
"Nek…."
"Sekali lagi kamu dirasuk ragu dan bimbangi Sekali lagi kamu berucap dan menolak berbuat! Maka wahai! Cukup hingga di sini saya melihatmu! Kalau saya masih sempat melihatmu maka saya hanya akan melihat rohmu gentayangan antara langit dan bumi!"
Dinginlah tengkuk Latandai. Dia tahu si nenek tidak bicara kosong. Dia sadar wanita renta bermuka burung gagak itu mempunyai kemampuan untuk menghabisinya semudah ia membalikkan telapak tangan! Maka tanpa menunggu lebih lama Latandai melompat , ceburkan diri ke dalam cairan lahar yang mendidih panas di puncak Gunung Latinggimeru itu! Sosok Latandai lenyap karam di bawah permukaan lahar. Di sebelah atas lahar mencuat memercikkan pengecap api. Sepasang mata Hantu Santet Laknat memperhatikan dengan tajam. Mulutnya komatkamit mirip merapal sesuatu. Lalu ia berteriak. "Kau boleh keluar kini Latandai!"
Aneh! Walau berada di bawah permukaan lahar panas dan tebal namun si nenek bisa mengiangkan perintahnya ke indera pendengaran Latandai hingga lelaki itu mendengar kemudian serta meria melesat keluar dari dalam lahar dan tegak kembali di atas kerikil panas membara. Sekujur tubuhnya mengepulkan asap panas dan berwarna merah seolah udang direbus. Latandai mencicipi sesuatu di atas kepalanya. Dia meraba ke atas. Dia juga merasa ada kelainan pada sepasang matanya , ia mengedip-ngedipkan beberapa kali. Lalu ketika ia memandang ke dada dan perutnya terkejutlah lelaki ini.
"Nekl Apa yang terjadi dengan diriku!"
Hantu Santet Laknat mendongak kemudian tertawa panjang.
"Wahai Latandai! Mengapa kamu harus terkejut apalagi takut" ujar si nenek.
Tubuh Latandai bergeletar. Untuk beberapa ketika lamanya ia tidak bisa membuka mulut. Dia melihat ada tumpukan batu-batu merah membara sebesar ujung ibu jari kaki di dada dan di perutnya. Namun ia tidak sanggup melihat bagaimana ketika itu telah terjadi kelainan pada sepasang matanya. Bola matanya yang sebelumnya hanya ada satu pada masing-masing mata kini berkembang menjadi dua dan berwarna merah seolah terbuat dari bara! Dia bisa meraba tapi tidak melihat bagaimana kepalanya seolah telah dibabat sebatas kening kemudian di atas kepala yang sebelumnya ada otak , batok kepala dan rambut itu kini dipenuhi oleh tumpukan batu-batu merah menyala!
"Latandai!" seru Hantu Santet Laknat! "Sekarang kamu telah mempunyai ilmu kesaktian yang disebut Bara Setan Penghancur Jagat!"
"Nek!" kejut Latandai hingga keluarkan seruan tertahan saking tidak percayanya.
Hantu Santet Laknat kembali mengekeh. "Di tubuhmu , mulai dari kepala hingga ke pusar kini terdapat dua ratus bara api! Itu sebabnya mulai ketika ini kamu kuberi nama Hantu Bara Kaliatus! Batu-batu bara itu akan menjadi senjata yang ikut kemana kamu pergi! Kau akan melihat wahai Latandai! Sekali kamu mencabut bara itu dan menghantam lawan , sulit bagi musuh untuk selamatkan diri dari Kematian! Di masing-masing matamu kini ada dua bola mata berbentuk bara api. Jika kamu pentang dua matamu lebar-lebar dan hentakkan rahangmu maka empat larik sinar merah sepanas api neraka akan menebar maut! Kalau kamu tidak percaya silahkan coba. Palingkan matamu ke arah kerikil besar di sebelah sana! Kau sanggup menghancurkan kerikil itu dengan sinar bara setan yang ada pada dua matamu!"
Latandai putar tubuhnya. Palingkan muka dan sepasang matanya ke arah kerikil besar menyembul di permukaan kawah yang barusan ditunjuk si nenek. Dalam keadaan tak berkedip Latandai katupkan rahangnya. Gigi-giginya bergemeletukan. Saat itu juga empat larik sinar semerah bara menyala berkiblat! Melesat dan menyambar ke arah kerikil besar di permukaan kawah.
"Byaaarr!"
Batu merah menyala itu hancur berantakan , lenyap dari permukaan lahar. Yang kelihatan kini hanyalah kepulan asap! Melihat hal itu Latandai segera berpaling dan jatuhkan diri berlutut. "Nenek Hantu Santet Laknat! Aku menghatur ribuan terima kasih. Kau…."
Si nenek potong ucapan Latandai dengan tawa bergelak kemudian berkata. "Kau sudah kuberikan ilmu Bara Setan Penghancur Jagatt Sekarang mari kita mengatur perjanjian dan perintah! Harap kamu dengar baik-baik wahai Hantu Bara Kaliatus! Setiap saya memberi perintah saya bisa eksklusif muncul di hadapanmu atau hanya mengirimkan dari kejauhan melalui angin dengan ilmu yang disebut Ilmu Menyadap Suara Batin. Sekarang saya mulai dengan perintah-perintahku Latandai! Setiap perintah harus kamu lakukan tanpa pernyataan lantaran otakmu ada dalam otakku! Kau berada dalam kekuasaanku! Pertama kamu harus mencari seorang insan berjulukan Lakasipol Aku tak perlu menerangkan siapa adanya insan itu. Kau kenal ia lantaran ia dulunya ialah Kepala Negeri Latanahsilam."
"Aku tahu dan saya kenal Lakasipo. Perintah akan kujalankan Nenek Hantu Santet Laknat!" kata Latandai yung kini telah diberi nama Hantu Bara Kaliatus!
"Perintah ke dua! Kau harus membunuh Luhsantini Istrimu sendiri…."
"Nek!" Latandai terkejut dan hingga keluarkan teman.
"Jahanam! Aku sudah katakan tak ada pertanyaan" Bentakan si nenek menggetarkan Seantero kawah Gunung Latinggimeru.
"Maafkan saya Nek…" ujar Latandai yang jadi kecut melihat tampang si nenek dan mendengar bentakannya yang dahsyat.
"Aku mempunyai alasan mengapa menyuruhmu membunuh Luhsantini. Karena ia seorang istri tidak berbudi dan tidak setia! Luhsantini pernah bekerjasama tubuh dengan seorang cowok berjulukan Lasingar , kerabatmu di Latanahsilam. Selain itu ia juga bermain cinta dengan Hantu Muka Dua! Apa perlunya kamu mempunyai seorang istri mirip itu!"
Latandai mencicipi tubuhnya bergetar dan mukanya mendadak jadi panassampai ke telinga. Dia hendak bertanya dari mana atau bagaimana Nenek Hantu Santet Laknat mengetahui hal itu tapi tidak berani membuka mulut. Apa yang ada dalam pikiran Latandai sudah terbaca oleh si nenek. Maka ia pun berkata.
"Waktu kamu meninggalkan istrimu di kala ia hamil muda kamu bahwasanya telah mengambil satu keputusan tepat! Berbulan-bulan kamu mengelana mencari ilmu!
Kau telah menjadi budak hawa nafsu ingin menguasai aneka macam ilmu kesaktian! Kau hampir jadi orang gila dan kerasukan roh-roh jahat! Syukur kamu bertemu denganku wahai Hantu Bara Kaliatus! Satu ilmu yang kuberikan tidak bisa menandingi seratus ilmu kesaktian yang bisa kamu peroleh dari orang lain!"
"Aku mengerti dan saya berterima kasih Nek ," kata Latandai pula.
"Satu hal lagi harus kamu ketahui wahai Hantu Bara Kaliatus! Kalau istrimu dan Lasingar tidak dihabisi maka mereka kelak akan melanjutkan kekerabatan tidak senonoh itu I Berarti akan lahir lagi anak ke dua , anak ketiga yang bukan darah dagingmu!"
Bergetar sekujur tubuh Latandai mendengar ucapan Hantu Santet Laknat itu. Walau di lubuk hatinya ada rasa kebimbangan namun ketika itu otaknya telah dikuasai oleh si nenek hingga ia tidak bisa berpikir secara jernih , sekurang-kurangnya tekad untuk menyelidik yang dikatakan si nenek apa benar adanya.
"Kau sudah dengar penjelasan! Kau sudah tahu kewajiban harus menyingkirkan istrimu! Membunuh Lasingar! Kau juga patut menghabisi Hantu Muka Dua. Tapi insan satu itu ialah bagianku! Jangan kamu berani menyentuhnya! Aku sendiri yang akan membunuhnya!"
"Aku mendengar dan perintahmu akan kujalankan wahai Nenek Hantu Santet Laknat…" kata Latandai pula.
"Wahai Hantu Bara Kaliatus! Tugasmu di hari pertama mempunyai ilmu kesaktian Bara Setan Penghancur Jagat cukup sekian dulu! Laksanakan segera! Jika kamu hingga gagal saya akan muncul untuk menjatuhkan hukuman!"
Hantu Bara Kaliatus alias Latandai membungkuk dan berkata. "Tugas perintah akan kujalankan! Aku tidak akan menemui kegagalan. Cuma mohon maafmu. Apakah keadaan diriku yang mirip ini tidak bisa dirubah kembali mirip sedia kala?"
Nenek Hantu Santet Laknat tertawa panjang kemudian berkata. "Sudah kukatakan otakmu ada dalam otakku! Dirimu berada dalam kekuasaanku. Berarti hanya saya yang bisa mengembalikan dirimu pada keadaan semula! Setiap ilmu ada syaratnya wahai Latandai. Dan kini ia mendapatkan syarat itu dalam bentuk keadaanmu mirip ketika ini! Bila kamu memang menginginkan perubahan bisa saja saya lakukan! Tapi kamu harus menjalankan semua perintahku lebih dulu. Kau mengerti Hantu Bara Kaliatus?!"
"Aku… saya mengerti Nek ," jawab Latandai walau dengan bunyi setengah tertahan dan dada sesak.
Hantu Santet Laknat menyeringai kemudian tertawa panjang. Ketika tawanya lenyap sosoknya tak ada lagi di lompat Ku. Latandai palingkan kepala. Si nenek tahutahu sudah berada di lamping kawah sebelah timur. Berkelebat cepat sekali seolah menyongsong matahari kemudian pupus dari pemandangan.

2

BELALANG HIJAU RAKSASA ITU TERBANG menembus kabut pagi disaat udara masih cuek menusuk hingga ke tulang sumsum. Di satu tempat ketinggian hewan ini melayang turun kemudian hinggap di atas sebuah kerikil besar. Dua matanya memandang liar kian kemari seolah meneliti keadaan. Sepasang misainya bergerakgerak tiada henti.
"Wahai Laehijau , apakah sanggup kamu membawa kami ke puncak Latinggimeru? Seharian sudah kamu melompat dan melayang menerbangkan kami. Aku khawatir kamu keletihan di tengah jalan dan jatuh!" Satu bunyi memecah kesunyian di tempat itu. Yang bicara ialah seorang wanita muda mengenakan pakaian kulit kayu halus. Kepala dan wajahnya tertutup selendang terbuat dari rumput hijau dikeringkan. Perempuan ini duduk di punggung belalang hijau , menjadikan hewan raksasa itu sebagai tunggangannya. Belalang raksasa tundukkan kepala ke bawah kemudian menggeleng menunjukan ia mengerti dan menjawab ucapan tuan penunggangnya.
"Kau sahabatku yang setia wahai Laehijau. Mudahmudahan para Dewa dan Peri menolong kita hingga kita bisa selamat hingga ke puncak Latinggimeru…."
Baru saja wanita ini selesai berucap tiba-tiba terdengar bunyi tangisan bayi. Astaga. Ternyata dalam bungkusan yang didukungnya di tangan kiri , ada sosok seorang orok yang masih merah lantaran gres berusia 40 hari. Perempuan ini cepat menimang-nimang bayi daam bedungan.
"Anakku Lamatahati , berhentilah menangis. Sebentar lagl kamu akan bertemu dengan bapakmu. Sebentar lagi kamu akan menjadi anak yang syah. Punya Ibu dan punya ayah!" Perempuan itu terus menimang-nimang si bayi hingga akhirnya berhenti menangis. Sesaat ia mendongak ke atas , berusaha menembus tebaran kabut yang menutupi pemandangan. Jauh di atas sana menjulang tinggi puncak Gunung Latinggimeru yang dari kawahnya selalu mengepul asap panas berwarna kemerahan sedang dari perutnya ada bunyi tiada henti menggemuruh menggidikkan dan menggetarkan seantero tempat.
"Laehijau kalau letihmu lenyap bisakah kita melanjutkan perjalanan?"
Belalang raksasa berjulukan Laehijau mirip tadi rundukkan kepalanya dan goyang-goyangkan misainya. Kaki-kakinya diregang menunjukan ia siap melompat. Perempuan di atas belalang peluk erat-erat bayi dalam bedungan. Sesaat kemudian Laehijau telah melesat ke udara , terbang ke arah ketinggian puncak Gunung Latinggimeru.
Untuk beberapa ketika bayi dalam bedungan tertidur pulas. Begitu mulai mendekati puncak gunung , udara yang tadinya sangat cuek kini berkembang menjadi panas. Tubuh Laehijau bergetar menahan panas. Begitu juga wanita di atas punggungnya sementara bayi yang tadi tertidur pulas tersentak bangun kemudian menangis kepanasan.
"Tenang anakku , jangan menangis…." Sang ibu pergunakan ujung bedungan untuk mengipasi bayinya.
Namun Lamatahati terus saja menangis. Semakin jauh ke atas mendekati puncak Gunung Latinggimeru hawa bertambah panas tapi kabut mulai menipis. Setelah terbang berputar-putar dan mulai sempoyongan , Laehijau turun di suatu pedataran sempit di tepi timur puncak Latinggimeru. Dua tombak di depan mereka terbentang kawah yang permukaannya berupa lahar mendidih dan mengepulkan asap. Selain itu ada kabut tebal menebar di sana-sini menutupi pemandangan.
Perempuan di atas punggung belalang hijau memandang berkeliling kemudian menatap lekat-lekat ke arah kawah gunung kerikil itu. Cukup lama ia menunggu dan mencari-cari. Hatinya mulai risau. Orang yang dicari tidak terlihat sama sekali. Bayi dalam bedungan terus menangis , tak tahan oleh hawa panas yang keluar dari kawah.
"Mimpiku memberi petunjuk ia ada di sini. Dua orang penduduk Latanahsilam memberi kesaksian melihat ia dalam perjalanan menuju puncak Latinggimeru ini empat purnama yang lalu. Namun di mana ia gerangan?" Perempuan di atas belalang hijau membatin.
Pada ketika tebaran kabut yang menutupi kawah itu tertiup angin , berarak ke jurusan selatan maka barulah ia sanggup melihat seantero kawah dengan jelas. Sesaat wanita di atas punggung belalang hijau terkesiap ngeri menyaksikan pemandangan di hadapannya. Namun rasa ngeri ini berkembang menjadi kegembiraan ketika ia melihat sosok seorang lelaki tegak tak bergerak di atas sebuah kerikil besar merah menyala. Dari dua kakinya hanya yang sebelah kiri menginjak batu. Yang kanan diangkat dan dilipat ke atas sedang kedua matanya dipejamkan. Jelas orang ini tengah bersamadi dengan cara yang aneh.
"Dia bisa berdiri di atas kerikil api itu! Wahai , berarti Latandai telah berhasil mendapatkan ilmu yang dicarinya…" berucap dalam hati wanita di atas belalang raksasa. Tapi tiba-tiba hatinya mendadak tercekat. "Aneh , mengapa ada kelainan kulit pada dirinya. Kepalanya… tubuhnya…. Kalau saja saya bisa mendekat ke sana…."
Spasang mata wanita di atas belalang raksasa menatap tak berkedip pada lelaki di atas batu.
“Wahai Lamatahati , apapun yang terjadi dengan ayahmu , , akhirnya ia kita temui juga…." Perempuan itu berucap setengah berbisik seraya membelai kepala bayi dalam bedungan yang hingga ketika itu masih terus menangis. Suara tangisan orok ini tadi sempat menciptakan lelaki yang bersamadi di atas kerikil dalam kawah menjadi terganggu. Daun telinganya bergerak-gerak. Pelipis dan rahangnya menggembung. Urat lehernya tampak mengencang sedang dua kelopak matanya yang tertutup mengeluarkan getaran-getaran halus. Hanya dengan menabahkan hati , menutup jalan pendengaran , lelaki yang di puncak kerikil tinggi akhirnya bisa meneruskan samadinya. Namun itupun tidak bertahan lama lantaran tiba-tiba dari puncak timur Gunung Latinggimeru ada bunyi seman keras , melengking ke langit , mencuat ke dasar kawah.
"Wahai Latandai suamiku! Puluhan hari saya habisi! Berbagai negeri saya datangi! Akhirnya kutemui juga kamu ditempat ini! Latandai , buka matamu! Lihat siapa yang kubawa!"
Hantu Bara Kaliatus yang tegak bersamadi di atas kerikil menyala tidak bergerak , juga tidak membuka sepasang matanya yang terpejam.
"Wahai Latandai! Jangan berpura tidak mendengar ucapanku! Berhentilah bersamadi barang seketika. Melompat dan datanglah ke tempat ini! Aku tiba membawa anakmu! Anak kita yang kuberi nama Lamatahati. Seorang bayi pria bertubuh gemuk sehat. Pertanda di masa besarnya ia akan menjadi seorang cowok gagah besar lengan berkuasa berotot mirip ayahnya!" Bersamaan dengan berhentinya ucapan sang ibu , bayi dalam bedungan menangis keras.
Di atas kerikil Latandai mencicipi tubuhnya bergetar. Lehernya menjadi kaku dan telinganya mengiang. Bagaimanapun ia mencoba , getaran pada matanya tak sanggup dikuasainya. Dia sadar bahwa samadinya tak mungkin diteruskan. Didahului teriakan menggeledek sosok Latandai melesat ke atas. Dilain kejap ia telah berdiri dua tombak di hadapan Laehijau si belalang raksasa di atas mana duduk wanita yang membawa bayi.
Belalang raksasa tersurut mundur. Misainya bergerak-gerak sementara wanita yang mendukung bayi berubah pucat wajahnya dan ketakutan setengah mati. Tadi sewaktu Latandai masih berada di dalam kawah ia memang sudah melihat ada kelainan atas diri suaminya itu. Namun sehabis dekat ia tidak mengira kelainan itu ialah satu kengerian yang dahsyat!
Sepasang mata yang mempunyai empat bola mata laksana kobaran api memandang padanya.
"Luhsantini! Perempuan celaka! Beraninya kamu tiba kemari! Berani kamu mengganggu samadiku!"
Perempuan yang disebut dengan nama Luhsantini itu sesaat jadi terkesiap. Keningnya berkerut. Dadanya berdebar dan mulutnya bergetar. Walau takut tapi dicobanya juga menjawab.
"Wahai Latandai suamiku! Bukan diriku bermaksud mengganggu samadimu! Aku tidak sanggup menahan diri. Ini ialah hari ke empat puluh semenjak bayi ini lahir. Ini ialah hari terakhir kamu harus melihat puteramu dan puteramu melihat dirimu! Ini ialah hari terakhir kamu harus mengusap ubun-ubun di kepalanya menunjukan kamu mengakui bahwa Lamatahati ialah anak dari darah yang keluar dari tulang sumsummu! Jika itu tidak terjadi , sesuai aturan dan adat Negeri Latanahsilam maka seumur hidupnya anak ini tidak akan mempunyai ayah yang syah! Jika ia tidak punya ayah ayah syah berarti saya bukan pula ibunya yang syah. Lalu apa akan jadinya anak kita ini kelak? Jika hidup ia akan menjadi anak setan! Tak layak tinggal di Negeri Latanahsilam! Jika mati rohnya akan terkatungkatung antara langit dan bumi! Wahai suamiku Latandai.
Datanglah ke sini. Lihat anakmu! Usap kepala dan tubuhnya. Cium kening dan pipinya!" Sehabis berucap mirip itu Luhsantini jadi ngeri sendiri. Dalam keadaan kepala dan sosok Latandai mirip itu janganjangan bayinya akan celaka jikalau bersentuhan dengan ayahnya!
Lelaki di atas kerikil merah menyala menatap dengan tampang menggidikkan pada wanita di atas belalang raksasa itu. Sepasang matanya menyala-nyala. Terlebih ketika ia melihat bagaimana Luhsantini membuka kain pembedung bayi kemudian mengangkat tinggitinggi bayi lelaki itu dan bergerak hendak disodorkan kepadanya.
"Tidaaakk!" Tiba-tiba meledak teriakan dahsyat dari lisan Latandai. Suara teriakan ini menggema menggidikkan di dalam kawah Gunung Latinggimeru , menggeletar hingga ke permukaan puncak gunung , menciptakan darah Luhsantini tersirap dan seolah berhenti mengalir.
"Tidak? Tidak apa maksudmu wahai suamiku Latandai?" bertanya Luhsantini.
"Bayi itu bukan anakku! Tapi anak haram hasil hubunganmu dengan Lasingar , jauh sebelum saya mengawinimu!"
Luhsantini merasa seolah berdiri di atas bara api yang kemudian runtuh dan menghunjam memurukkannya ke dasar sebuah lobang api!
"Wahai Latandai…. Bagaimana bisa dan teganya kamu berkata mirip itu?! Kita kawin sepuluh bulan purnama yang lalu. Malam pertama kita bekerjasama di Bukit Batu Kawin disaksikan orang renta , para sesepuh Negeri , disaksikan oleh nenek Lamahila dan disaksikan serta direstui oleh para Dewa dan Peri…."
"Apa yang kamu katakan semua benar! Tapi pada ketika saya mengawinimu kamu telah berbadan dua jawaban hubunganmu dengan Lasingar! Aku tertipu!"
Luhsantini hingga terpekik mendengar ucapan Latandai itu. Wajahnya seputih kain kafan.
"Wahai Latandai , demi anak ini saya tulus mendapatkan keadaanmu mirip ini. Demi segala roh yang baik penjaga langit dan bumi! Demi semua para Dewa dan Peri penguasa jagat raya! Aku bersumpah tidak pernah melaksanakan kekerabatan hina terkutuk yang tidak terpuji dengan Lasingar! Pemuda itu hanyalah kerabat sahabat biasa saja…."
"Kerabat sahabat biasa saja?!" Latandai meludah. Ludahnya berwarna merah dan mengepulkan asap. Lalu insan yang telah berkembang menjadi makhluk mengerikan ini tertawa bergelak.
"Banyak saksi di Latanahsilam yang menyampaikan bahwa ia sering menyelinap ke rumahmu dikala dua orang tuamu berburu ke hutan atau mencari ikan di sungai!"
"Latandai…. Sungguh tidak sanggup kupercaya semua ucapanmu! Lasingar sering berada di rumahku lantaran ia berobat pada orang tuaku atas penyakit yang telah lama diidapnya! Jika kamu tahu saya ini sudah bernoda mengapa kamu mengawini diriku…?"
"Itu lantaran saya tertipu! Karena kamu menipuku! Keluargamu menipuku!"
"Wahai Latandai , agaknya Kau yang menipu diri sendiri! Jika bayi ini sudah kukandung jauh sebelum kawin denganmu , mengapa ia kulahirkan sehabis sembilan bulan? Jika saya memang punya kekerabatan keji dengan Lasingar dan hamil sebelumnya seharusnya ia lahir lebih cepat dari itu!"
"Luhsantini! Apapun cakapmu! Apapun dalih yang Iwndak kamu ucapkan saya tetap tidak akan mengakui anak Itu ialah anakku! Dan dirimu yang kotor ini tidak layak hidup lebih lama! Kau dan anakmu lebih baik kulempar ke dalam kawah Gunung Latinggimeru!"
Menggigil sekujur tubuh Luhsantini mendengar kata-kata Latandai itu. Dengan tubuh bergeletar dan dada menggemuruh ia turun dari punggung Laehijau si belalang raksasa kemudian melangkah ke tepi kawah. Bayi dalam bedungan terus menangis tiada henti.
"Latandai…!"
"Diam! Namaku bukan Latandai lagi. Aku kini ialah Hantu Bara Kaliatus!"
"Tidak perduli siapapun kamu punya nama! Tidak kusangka sejahat ini hati dan pekertimu! Dengar insan keji! Pembalasan dan eksekusi alam akan jatuh atas dirimu!" Luhsantini angkat bayi dalam bedungan tinggi tinggi. Lalu berserulah wanita malang ini. "Wahai para Dewa dan para Peri! Wahai semua roh yang ada di antara langit dan bumi! Bayi ini bayi suci! Tiada dosa atas dirinya! Bayi ini keluar dari rahimku! Hasil hubunganku dengan seorang suami berjulukan Latandai!
Namun hari ini Latandai tidak mengakui kalau Lamatahati ialah anak darah dagingnya! Para Dewa dan para Peri serta semua roh! Jatuhkan eksekusi atas diri Latandai! Sengsarakan ia sebelum bayi ini sendiri menderita lantaran perbuatannya! Biarkan tubuhnya mirip itu sepanjang usia! Biarkan ia menderita seumur-umur dalam keangkuhan dan kesesatannya! Wahai anakku Lamatahati. Malang nasibmu! Kau tak akan berayah seumur hidupmu! Aku tak akan diakui adat sebagai ibumu! Aku memohon kepala ke atas kaki ke bawah. Kaki ke atas kepala ke bawahi Kalau kelak kamu sudah remaja para Dewa dan para Peri akan memberi kekuatan padamul Balaskan sakit hati ibumu! Balaskan sakit hati dirimu!"
Bayi dalam bedungan menangis keras. Belum habis gaung bunyi Luhsantini di puncak Gunung Latinggimeru , seolah alam mendengar jerit hati sang ibu yang malang ini tiba-tiba lumpur merah di dasar kepundan menggelegak keras kemudian mencuat tinggi ke udara. Lidah api membumbung mengerikan. Lalu seolah jatuh dari langit didahului bunyi gelegar dahsyat berkiblat satu cahaya biru , eksklusif menghantam sosok Latandai alias Hantu Bara Kaliatus.
Sekujur tubuh lelaki ini seolah dialiri satu sinar biru , menggeletar hebat dan mengepulkan asap. Hantu Bara Kaliatus menjerit keras kemudian tergelimpang roboh di tepi kawah.
Luhsantini memeluk bayinya erat-erat. Belalang raksasa menghentak-hentakkan kakinya seolah memberi arahan biar wanita itu lekas naik ke punggungnya. Luhsantini cepat balikkan tubuh. Sambil mendukung bayinya ia lari ke arah Laehijau. Namun sebelum ia sempat mencapai belalang raksasa itu , di belakang sana sosok Hantu Bara Kaliatus buka sepasang matanya kemudian bergerak bangkit! Mulutnya sunggingkan seringai maut. Lalu ia menggembor keras.
"Luhsantini! Jahat nian kutuk sumpahmu! Tak bisa saya menerima!" teriak Latandai.
"Bukan saya yang jahat! Hatimu yang bejat!" teriak Luhsantini. "Kutuk Dewa dan Peri hanya jatuh pada insan durjana!"
"Perempuan jahanam! Kau dan bayimu tak layak Hidup." Latandai angkat tangan kanannya kemudian dipukulkan ke depan. Dua belas sinar hitam halus berkelebat ganas.
Dalam keadaan murka luar biasa mirip itu Hantu Bara Kaliatus bukan keluarkan ilmu yang gres dimilikinya yakni Bara Setan Penghancur Jagat , melainkan ia menghantam dengan ilmu kesaktian yang telah didapatnya lebih dahulu.
"Selusin Bianglala Hitam." jerit Luhsantini begitu ia mengenali pukulan sakti yang dilancarkan Latandai.
Perempuan ini menjerit sekali lagi. Dia berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke kiri. Tapi salah lumpat. Arah yang ditujunya ternyata ialah kawah Gunung Latinggimeru! Sementara itu dua belas sinar hitam yang menyerangnya demikian cepat membeset udara hingga tidak mungkin dielakkan! Sudah sanggup dibayangkan bagaimana dua belas cahaya ganas Itu akan menembus sosok Luhsantini. Lalu tubuh itu sendiri akan terjungkal masuk kedalam kawah gunung.
Hanya dua jengkal lagi selusin sinar hitam akan menghantam tubuh Luhsantini , tiba-tiba dari arah selatan pinggiran kawah berkiblat selarik cahaya berwarna Jingga. Laksana tameng cahaya Jingga ini melindungi Luhsantini dari hantaman Selusin Bianglala Hitam. Perempuan ini selamat lantaran begitu beradu dengari cahaya Jingga , selusin sinar hitam terpental ke kiri. Namun pentalan dua belas sinar ini melesat ke arah bayi dalam bedungan pelukan sang ibu! Bayi dalam bedungan terpekik keras.
"Anakku!" jerit Luhsantini. Tubuhnya terhuyung. Dia hampir jatuh pingsan ketika melihat wajah bayinya! Sama sekali tidak menyadari bagaimana Latandai melompat ke hadapannya dan tendangkan kaki kanan.
"Plaaakkk!"
Satu benda hijau menghantam pundak kiri Latandai hingga orang ini terpental dan terguling di tanah bebatuan. Benda yang barusan menghantamnya ternyata ialah sayap belalang raksasa. Sehabis menghantam Laehijau merangkul tubuh Luhsantini dengan kaki kiri sebelah depan kemudian dengan cepat hewan ini melompat ke udara , terbang meninggalkan puncak Gunung Latinggimeru.
"Binatang jahanam!" teriak Latandai marah. Gerahamnya bergemeletakan. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimilikinya ia menghantam ke atas. Lepaskan pukulan sakti Selusin Bianglala Hitam Dua belas larik sinar hitam menderu. Di udara belalang raksasa Laehijau keluarkan bunyi menggerung keras ketika tubuhnya pecahan belakang hancur dihantam pukulan sakti yang dilepaskan Latandai. Dalam keadaan mirip itu belalang raksasa ini masih sanggup terbang menyelamatkan diri serta menyelamatkan ibu dan anak yang ada di punggungnya. Tapi berapa lama ia bisa bertahan dengan tubuh yang setengah hancur mirip itu.
Latandai menggembor murka melihat Luhsantini dan anaknya berhasil menyelamatkan diri. Berkali-kali kepalan tangan kanannya dihantamkan ke telapak tangan kiri. Tiba-tiba ada bunyi mengiang masuk ke dalam indera pendengaran orang ini. Itu ialah bunyi Hantu Santet Laknat yang disampaikan lewat ilmu Menyadap Suara Batin.
"Hantu Bara Kaliatus. Kau telah menciptakan kesalahan besar! Sudah kukatakan seratus ilmu yang sudah kamu punya tidak bakal bisa menandingi ilmu Bara Setan Penghancur Jagat! Mengapa kamu tidak menghantam wanita itu dengan ilmu yang kuberikan?! Malah kamu mempergunakan ilmu keropos Selusin Bianglala Hitam! Kau insan tidak berguna. Sekali ini saya memberi pengampunan! Lain kali jikalau kamu masih berlaku teledor kamu akan rasakan eksekusi dariku."
Latandai sadar , segera jatuhkan diri berlutut "Nenek Hantu Santet Laknat. Aku mohon maafmu! Aku mengaku telah berlaku salah! Lain kali saya tidak akan berbuat tolol lagi!"
Jauh di kaki Gunung Latinggimeru , si nenek yang di uluk Hantu Santet Laknat banting-banting kaki saking marahnya. "Hantu Bara Kaliatus tolol keparat! Dia memberi kesempatan pada Hantu Muka Dua untuk mencari dan menemukan Luhsantini kembali.
Ah!.Bagaimana caraku biar menciptakan Hantu Muka Dua berpaling padaku. Padahal dulu-dulu ia seolah bisa gila jikalau sehari tidak bertemu denganku! Tapi sekarang…. banyak bermunculan wanita anggun yang menjadi sainganku. Luhsantini , Luhjelita…. Entah siapa lagi! Kalau saja saya bisa mengguna-guna Hantu Muka Dua. tapi ia terlalu sakti…. Mungkin saatnya saya kembali mempergunakan Ilmu Bersalin Wajah. Tapi Hantu Muka Dua sudah pernah tahu ilmuku itu Memang , tak ada jalan lain. Dua wanita itu harus cepat-cepat dibunuh. Selain itu saya harus cepat menyirap kabar siapa-siapa saja mereka yang bercinta dengan Hantu Muka Dua!"
*
* *

3

HANTU BARA KALIATUS INGAT. Tadi ada selarik sinar Jingga berkelebat menamengi dan menyelamatkan Luhsantini dari pukulan Selusin Bianglala Hitam yang dilepaskannya. Serta meria ia memutar tubuh ke arah selatan. Empat buah bola mata merah menyala lelaki itu membesar berkilat-kilat ketika ia melihat satu pemandangan yang menciptakan darahnya menjadi panas dan tubuh menggeletar oleh rangsangan.
Sejarak lima tombak di hadapannya , di tepi kawah Gunung Latinggimeru tegak seorang gadis berwajah cantik. Tubuhnya yang berkulit putih mulus terbungkus oleh pakaian terbuat dari kulit kayu yang diberi jelaga berwarna ungu. Belum pernah Latandai melihat gadis mengenakan pakaian sebagus dan sangat mempesona mirip yang satu ini. Bagian punggung , ketiak , dada dan pinggul tersibak lebar hingga empat bola mata Latandai menjadi silau.
Di tempat itu tidak ada orang lain. Jangan-jangan gadis berpakaian Jingga inilah yang telah melepaskan pukulan sakti menangkis pukulan Selusin Bianglala Hitam yang tadi dilepaskannya untuk membunuh Luhsantini. Tadinya Latandai hendak mendamprat murka bahkan siap menyerang. Namun melihat wajah begitu anggun , tubuh putih mulus dan molek , hatinya eksklusif menjadi dingin. Terlebih ketika si anggun itu menyapanya.
"Wahai orang gagah di tepi kawahl Gerangan apakah yang menciptakan dirimu begitu murka hingga unjukkan wajah membesi dan memukulkan satu tangan ke tangan lainnya!"
Latandai segera mendekati gadis berpakaian kulit kayu warna Jingga itu. Tiga langkah di hadapan si gadis ia berhenti. Matanya semakin membesar. Perlahanlahan muncul senyum di wajahnya yang garang. "Sungguh para Dewa menawarkan berkah sangat indah padaku. Di tempat mirip ini bagaimana mungkin saya bertemu dengan seorang gadis secantikmu?"
"Kau bukan saja gagah , ternyata sopan dan lembut dalam bertutur sapa…."
"Ah , suaramu semerdu bebunyian yang dimainkan para Peri di langit ke tujuhl Aku berjulukan Latandai. Berjuluk Hantu Bara Kaliatus. Wahai siapa kiranya engkau gerangan?"
"Namamu memperlihatkan kejantanan. Julukanmu menandakan kedahsyatan! Tidak menyangka kiranya saya akan berhadapan dengan seorang gagah dan pasti sakti mandraguna…."
Cuping hidung Latandai bergerak-gerak mendengar kebanggaan yang diucapkan bunyi merdu dan keluar dari lisan berbibir merah mempesona.
"Luar biasa , kamu mempunyai empat bola mata , menjunjung bara api di atas kepala , melekatkan bara api ke dada dan perut! kalau saja tidak takut hangus , ingin rasanya saya berada lebih dekat denganmu…." Sambil berkata gadis itu lemparkan senyum serta kerlingan mata yang menciptakan Hantu Bara Kaliatus semakin merasa mirip d i kahyangan sehingga ia terlupa untuk menanyakan siapa adanya gadis itu.
"Datanglah mendekat , saya tidak akan menciderai wajah anggun dan tubuh sebagusmu…."
Si gadis benar-benar melangkah mendekat. Tapi dua langkah dari hadapan Hantu Bara Kaliatus ia hentikan tindakannya dan tertawa berderai.
"Orang sakti memang sering menampilkan diri secara gila dan berada di tempat aneh! Tapi wahai Hantu Bara Kaliatus , jikalau saya boleh bertanya gerangan apa yang menciptakan kamu berada di pinggiran kawah Gunung Latinggimeru ini?"
"Kawah ini memang jadi tempat kediamanku semenjak beberapa bulan purnama. Tapi hari ini ialah hari terakhir saya berada di sini…."
"Hemmm…. Aku bisa menduga!" kata si gadis seraya kembali kerlingkan matanya. "Tempat ini ialah tempatmu melaksanakan samadi atau tempat menggembleng diri. Jika hari ini kamu selesai melaksanakan semua itu berarti kamu akan kembali pulang menemui anak istrimu…." Kata-kata terakhir diucapkan dengan nada perlahan dan wajah membayangkan kesedihan.
"Aku tidak punya istri , tidak punya anak!" jawab Hantu Bara Kaliatus.
"Wahai! Harap maafkan diriku yang lancang menduga!" kata si gadis seraya mengusap lengan Latandai yang penuh ditumbuhi bulu. Membuat lelaki ini jadi tambah karam dalam rangsangan hasrat yang berkobar-kobar. "Hai! Lenganmu terasa panas…." Si gadis terpekik kecil.
"Aku…. Darahku menjadi panas melihat kecantikanmu!" kata Latandai tanpa malu-malu. "Maukah kamu ikut bersamaku…?"
"Ajakan seorang gagah siapa berani menampik. Tapi kemanakah kamu hendak membawaku…?" Latandai jadi gundah sendiri. Lalu ia tertawa gelakgelak.
"Aku jadi bodoh! Tidak tahu mau mengajakmu kemana…."
"Kemana saja asal kamu yang mengajak tentu saya suka…" kata si gadis pula dan tak lupa dengan kerlingan mata genit yang menciptakan La tandai tambah terambung-ambung mirip di awan! Tangan kanannya meluncur memegang lengan si gadis kemudian setengah berbisik ia berkata." Di lamping kawah sebelah sana ada sebuah goa Di dalamnya ada satu telaga kecil. Hawa di sana sangat sejuk dan bersih. Aku akan membawamu kesana…."
"Ah , bahagia hatiku. Tapi saya ingin sedikit berlamalama di bawah sinar sang surya yang gres terbit ini. Kuharap kamu tidak marah. Sinar mentari sangat bagus Ituat kulit wanita sepertiku…."
"Apapun yang kamu katakan saya akan menurut. Tapi ada satu hal yang ingin kutanyakan…."
"Kata orang bertanyalah sebelum sesat dijalan. Hik…hik… hik!" Si gadis tertawa hingga terlihat barisan gigigiginya yang putih berkilat serta lidahnya yang merah dan berair , menciptakan Latandai tambah geregetan dan ketika itu ingin memeluk serta menciumnya.
"Mengapa kamu tiba ke kawah ini…."
"Wahai Hantu Bara Kaliatus , jangan kamu bercuriga pada diriku. Tadi saya berada di pinggiran kawah sebelah sana. Tiba-tiba kulihat ada sinar hitam dan sinar Jingga bertabur di udara. Cepat-cepat saya ke sini. Sampai di sini sinar hitam dan cahaya Jingga itu tidak kutemukan. Yang kulihat ialah seorang gagah berjulukan Latandai berjuluk Hantu Bara Kaliatus!" Gadis itu kembali tertawa merdu. Latandai ikutan tertawa senang. Lalu lelaki ini berbisik. "Kita ke goa sekarang?"
"Hari masih panjang , mengapa terburu-buru? Tapi jikalau kamu memaksa biar saya mengalah! Aku tak mau kamu menjadi marah!"
Mendengar ucapan si gadis segera saja Hantu Bara Kaliatus menarik tangannya.
"Tunggu dulu!" si gadis berseru.
"Ada apa…?" tanya Latandai.
"Apapun yang akan kita perbuat di dalam goa itu kamu harus berjanji! Jangan hingga bara menyala di kepala , dada dan perutmu menyentuh diriku…."
"Aku berjanji!" jawab Hantu Bara Kaliatus dengan bunyi keras. Hasratnya tambah menggila dan ia benarbenar bahagia luar biasa lantaran tidak menduga akan bertemu dengan seorang gadis jelita yang ketika itu mau saja diajaknya masuk ke dalam goa. Sambil memegang lengan si gadis Latandai mengajaknya berlari sepanjang tepi kawah. Lelaki ini berlari kencang sekali dan bukan merupakan lari biasa. Dia sama sekali tidak menyadari walau ia lari secepat itu tetapi si gadis di sebelahnya bisa mengikuti!
"Wahai! Goa ini benar sejuk dan indah higienis mirip yang kamu katakan!" ujar si gadis begitu mereka masuk ke dalam goa. Langsung saja ia dudukkan diri di lantai goa dekat sebuah telaga kecil berair jernih kebiruan.
"Kalau kita bisa sering-sering berada di tempat ini , hemmm…. Senang sekali hatiku…."
Latandai tertawa lebar kemudian ikutan duduk di lantai. Dia sengaja merapatkan tubuhnya ke pinggul si gadis.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan?!" bertanya gadis itu seperti menantang.
Latandai rangkulkan tangan kirinya di pinggang sang dara.
"Awas bara menyala di kepala , dada dan perutmu! Hik… hik… hik!" memperingatkan si gadis sambil tertawa genit.
"Jangan khawatir , saya akan berhati-hati…" bisik Latandai.
"Astaga…!" si gadis terpekik kecil.
"Ada apa?" tanya Latandai.
Gadis itu masukkan tangan kanannya ke balik dada pakaian kulit kayunya yang menciptakan Latandai membeliak. Dari balik pakaiannya si gadis keluarkan dua buah benda bundar sebesar kepalan berbulu halus.
"Aku membawa dua buah kecapi hutan. Aku pernah memakannya! Rasanya manis sekali. Satu untukmu , satu untukku! Ini kuberikan padamu yang besar lantaran kamu orangnya besar. Aku biar yang kecil. Ayo sama-sama kita makan!"
Gadis itu bantingkan buah kecapinya kelantai hingga terbelah dua. Lalu sambil senyum-senyum memandang pada Latandai ia segera menyantap buah kecapi yang lombut putih dan manis itu. Latandai segera pula membuka buah yang dibelahnya dengan remasan tangan.
"Kecapimu manis…?" tanya si gadis.
"Hemmm…"gumam Latandai sambil mengangguk.
Dia cepat-cepat menghabiskan buah kecapi itu lantaran hasratnya tidak tertahankan lagi. Begitu buah kecapi dimakan habis kembali ia merangkul tubuh si gadis. Tapi belum sempat tersentuh tiba-tiba Latandai mencicipi dadanya sesak , pemandangannya gelap menghitam.
Nafasnya tersendat. "Aku…." Dia hanya sanggup mengeluarkan satu patah ucapan itu kemudian tubuhnya terguling tertelentang di lantai goa.
Gadis berpakaian jingga tertawa panjang. Dengan cepat ia menyidik keadaan Latandai. Setelah memastikan lelaki itu benar-benar pingsan maka tangan dan matanya bekerja menyidik pecahan tubuh di sebelah bawah pusar Latandai. Sesaat kemudian gadis itu menarik nafas panjang. Wajahnya memperlihatkan kekecewaan. "Hanya ada satu tahi lalat di bawah pusarnya…" katanya perlahan. Sesaat ia duduk termenung.
Dalam hati kembali ia berkata. "Mendapatkan satu saja begini sulitnya. Bagaimana mungkin saya sanggup mencari hingga tujuh orang? Wahai diriku yang berjulukan Luhjelita , sulit sekali kiprah yang kamu pikul. Untuk mendapatkan satu ilmu kamu harus menempuh perjalanan berliku , menantang seribu bahaya…."
Gadis yang menyebut dirinya Luhjelita ini menarik nafas panjang. Sesaat ia perhatikan sosok Hantu Bara Kaliatus kemudian mencibir. Dia bangun berdiri. Sebelum keluar dari goa ia tendang lebih dulu kaki kiri Latandai. Lalu berkelebat pergi sambil tertawa cekikikkan. Di satu tempat gadis itu menyelinap ke balik pohon-pohon besar tumbuh rapat berjejeran. Di balik pepohonan mendekam seekor kura-kura raksasa berwarna coklat.
Tidak mirip kura-kura biasa , hewan yang satu ini mempunyai dua buah sayap yang bisa dilipat dan direntangkan. Si gadis melompat naik ke atas kura-kura raksasa kemudian mengetuk punggung hewan ini tiga kati.
Kura-kura keluarkan kepalanya , sayap di kiri kanan direntang lebar. Sesaat kemudian hewan gila ini melayang terbang di udara meninggalkan puncak Gunung Latinggimeru. Sementara itu di dalam goa , tak lama sehabis gadis berpakaian jingga berlalu Hantu Bara Kaliatus mulai siuman. Dia keluarkan keluhan pendek. Tubuhnya menggeliat. Sesaat kemudian ia bangun dan eksklusif melompat bangkit. Empat bola matanya menyorot memandang berkeliling. Dia lari ke lisan goa. Memandang ke seantero kawah Gunung Latinggimeru.
"Aku tertipu!" ucap Hantu Bara Kaliatus sadar. "Gadis jahanam! Aku ingat sekarang! Gadis itu berpakaian warna jingga! Cahaya sakti yang tadi melesat di udara menyelamatkan Luhsantini juga berwarna jingga! Jangan-jangan ia yang punya perbuatan menolong Luhsantini! Kurang ajar! Aku tertipu oleh kecantikan dan keelokan tubuh serta tutur bicaranya yang pintar merayu! Waktu lari tadi…. Gila! Mengapa kini saya gres sadari Aku berlari sekencang angin! Dan ia bisa mengikuti aku!" Hantu Bara Kaliatus bantingbanting kakinya. "Kalau bertemu akan kukuliti sekujur tubuhnya!"
Saking marahnya Hantu Bara Kaliatus tendang kerikil di lisan goa hingga hancur berantakan.
*
* *

4

GEMURUHNYA ARUS SUNGAI TERASA menyeramkan di indera pendengaran Wiro. Naga Kuning dan Setan Ngompol yang berada di atas telapak asisten Lakasipo. Lakasipo sendiri ketika itu duduk di atas sebuah kerikil besar sambil merendam sepasang kakinya yang terbungkus dua kerikil besar berbentuk bola yang di seantero Negeri Latanahsilam kini telah dikenal dengan sebutan Bola Bola Iblis. Bahkan banyak pula yang menjuluki Lakasipo sebagai Hantu Kaki Batu. Sejak ia membunuh Lahopeng , cowok jahat yang hendak mencelakai dirinya , penyebab kematian istrinya Luhrinjani serta perampas kedudukannya sebagai Kepala Negeri Latanahsilam , hampir seluruh penduduk menginginkannya kembali menjadi Kepala Negeri. Namun Lakasipo telah kepalang kecewa. Walau kini ia telah meninggalkan Latanahsilam ia belum tahu kemana ia hendak pergi. Sementara itu rasa suka dan persahabatannya terhadap Wiro dan dua kawannya semakin terasa erat. (Baca serial Wiro Sableng berjudul "Bola Bola Iblis")
Lakasipo memetik selembar daun di tepi sungai. Ketiga orang itu diletakkannya di atas daun , kemudian daun itu diturunkannya ke air. Dengan ukuran tubuh mereka yang kecil maka bagi Wiro dan dua temannya daun itu sama besarnya dengan sebuah rakit. Begitu berada di atas air daun segera dihanyutkan arus.
"Hai! Hendak kamu apakan kami?!" teriak Wiro. Naga Kuning mencengkeram daun sekuat-kuatnya sementara Setan Ngompol Jatuhkan diri tertelentang sambil menahan kencing.
Lakasipo tertawa kemudian mencebur masuk ke dalam sungai hingga daun di mana Wiro dan kawan-kawan berada terlempar ke atas bersama muncratan air tak ampun lagi ketiganya amblas masuk ke dalam air. Sambil tertawa-tawa Lakasipo selidupkan tangan kirinya ke dalam air , menangkap ketiga orang yang sudah megap-megap itu.
" "Dia hendak membunuh kita!" teriak Naga Kuning dengan muka pucat."
"Bagaimana kamu bisa berbuat sejahat ini Lakasipo?!" ujar Setan Ngoropol seraya mengusap wajah yang berair dengan asisten sementara tangan kiri menekan pecahan bawah perutnya yang tak sanggup lagi menahan kencing.
"Lakasipo apa maksudmu rnembenamkan kami ke dalam air?" Wiro akhirnya ikut bertanya.
Lakasipo dekatkan telapa tangan kiri ke mukanya.
"Selama beberapa hari ini kita berempat tak pernah mandi-mandi. Kebetulan bertemu sungai airnya jernih , higienis dan sejuk. Apa salahnya pergunakan kesempatan untuk mandi wahai tiga kawanku? Apalalagi kawanmu kakek bermata jereng berkuping lebar ini. Bau Pesingnya sudah tidak ketelengan!"
"Kalau kamu memang mau memandikan kami bukan begini caranya! Kami bertiga bisa mati tenggelam!" ujar Setan Ngompol kemudian mengomel panjang pendek.
"Air sungai bagimu sejuk tapi bagi kami sama saja karam dalam es! Kami bertiga bisa mati kedinginan!" teriak Naga Kuning.
"Kalian bertiga memang makhluk mirip kutu cebol. Tapi saya tahu kalian mempunyai ilmu kepandaian tinggi! Anggap saja kalian sedang mendapat gemblengan!"
kata Lakasipo kemudian tertawa gelak-gelak hingga ketiga orang itu terbanting di atas telapak tangannya dan dekap , indera pendengaran masing-rnasing biar tidak kesakitan.
"Saatnya , kita melanjutkan perjalanan kata Lakasipo kernudian. Lalu ia bersuit keras.. Laekakienam , kuda hitam raksasa berkaki enam yang jadi tunggangan Lakisipo dan ketika itu! tengah mahdi di sebelah hilir. segera melompat dan berenang rnendapatkan tuannya. Suara hewan ini merancah air sungai menciptakan Wiro dan kawan-kawannya menahan nafas lantaran ngeri sementara air..sungai bermuncratan kian kemari laksana sambaran-ombak.
"Tunggu dulu Lakasipo!" berkata Wiro. "Kau mau bawa ,kami kemana?”
“ Wahai Wiro , bukankah saya sudah menyampaikan Padamu dan Naga Kuning serta Setan Ngompol bahwa akan membawamu ke Bukit Latinggihijau untuk melihat makam istriku?!"
Pendekar 212 garuk-garuk kepalanya. "Kami memang bahagia kamu bawa ke sana ," katanya menyahuti walau dalam hati ia berkata , "kenal saja saya tidak pernah. Lagipula pada simpulan hayatnya wanita itu mengkhianati Lakasipo. Perlu apa pergi ke sana?" Wiro kemudian berkata lagi "Tapi Lakasipo! Sebelum pergi ke Bukit Latinggihijau bagaimana kalau kita mencari dulu Batu Sakti Pembalik Waktu yang hilang itu?"
"Ah , kamu tidak kerasan lama-lama di Latanahsilam "Bukan begitu. Kami suka tinggal di sini. Tapi alam sini sangat berbeda dengan alam kami di tanah Jawa. Marabahaya senantiasa membayangi kami dan muncul tidak terduga. Bukan.karena orang-orang di sini ingin mencelakai karni , tapi lantaran keadaan tubuh kami kecil begini yang menjadi sumber malapetaka! Bayangkan kalau kami hingga dipatuk burung atau ayam raksasa , atau dirubung semut atau disengat tawon. Bayangkan kalau kami hingga terinjak anjing atau kambing atau jadi permainan kucing , dicakar dan digigit!"
"Kalian bertiga tak perlu khawatir wahai para kutu Cebol sobat-sobatku! Bukankah saya akan melindungi dan membawa kalian bertiga kemana saya pergi?"
"Aku percaya pada dirimu Lakasipo. Tapi kami lebih suka jikalau bisa kembali ke alam kami…" kata Naga Kuning pula. "Antarkan kami ke daerah rerumputan itu mencari. Batu Sakti Pembalik Waktu.!"
"Kita sudah pernah ke sana. Kalian sendiri dan juga saya telah menyelidik. Tapi kerikil tujuh warna itu tidak ditemukan…."
"Batu itu pasti ada di sana. Kita mencarinya terburuburu ketika itu. Karena , hampir malam!" kata Setan Ngompol.
Lakasipo gelengkan kepala. "Betapapun kecilnya benda itu , walau hari hampir gelap tapi mataku tak bisa ditipu. Aku pasti akan menemukannya jikalau kerikil itu benar-benar ada di sana…."
“Kalau kamu memang akrab dengan kami , kamu harus mau mengantarkan kami ke sana. sekali lagi. Kita habiskan satu hari penuh untuk mencari kerikil itu!" kata Pendekar 212 Wiro Sableng.
Lakasipo menyeringai. "Persahabatan bukan berarti harus melaksanakan sesuatu yang tidak mungkin wahai sobatku Wiro Sableng. Kita pergi ke Bukit Latinggihijau dulu. Soal kerikil itu kita urus kemudian…."
Lakasipo mengusap kepala kuda hitam berkaki enam yang kini tegakdi sampingnya. Ketika ia hendak , naik ke punggung hewan ini Wiro berkata. "Lakasipo , tunggu! Kalau kamu tidak mau mengantarkan kami ke daerah rerumputan itu , apa kamu juga tidak mau menolong kami mencari Hantu Tangan Empat?"
"Makhluk satu ini…. Dia sulit sekali dicarinya , wahai Wiro."
"Seluas-luasnya Negeri Latanahsilam ini Hantu Tangan Empat pasti punya tempat kediaman. Kalau kita pergi ke sana masakan tidak bertemu?!" berkata Naga Kuning.
"Kalian bertiga tidak tahu siapa adanya Hantu Tangan Empat. Dia jarang berada di tempat kediamannya. Selain itu ia berada di bawah efek Hantu Muka Dua yang selalu memberinya perintah ini itu. Kalau ia pergi bisa satu dua tahun. Apa yang bisa kalian harapkan?"
Wiro garuk-garuk kepalanya. Setan Ngompol.berbisik.
"Aku yakin satu tahun di negeri celaka ini tidak sama dengan satu tahun di negeri kita. Mungkin satu atau dua tahun di sini hanya satu atau dua bulan saja di alam kita. Buktinya orang di sini bisa berusia hingga tiga ratus tahun!"
Saat rtu Lakasipo telah melompat naik ke punggung kuda hitam kaki enam. Sebelum ia memasukkan ketiga orang itu ke dalam kocek jerami di pinggang kanannya Naga Kuning berseru.
"Lakasipo! Bagaimana kalau saya tidak ikut kamu tapi antarkan saja mencari seorang anak perempuan…."
"Seorang anak perempuan?" Lakasipo mengulang heran. Sementara Wiro dan Setan Ngompol memandang lekat-lekat penuh tanda tanya pada si bocah.
"Memangnya kamu ada kenalan anak wanita di Latanahsilam ini? Aku tidak tahu. Tidak saya mengerti! Anak siapa , anak yang mana?"
"Aku melihat anak itu di tepi tanah lapang luas. Sewaktu terjadi perkelahian antara kamu dengan Lahopeng ," menerangkan Naga Kuning.
"Kau ini gila Naga Kuning. Ada puluhan bahkan ratusan anak wanita di negeri yang luas ini. Kau tahu nama anak itu? Kau ini ada-ada saja Naga Kuning. Bocah sebesarmu sudah tahu perempuan!" Wiro hendak menyampaikan sesuatu tapi Naga Kuning cepat kedipkan mata sambil berbisik. "Jangan kamu berani membuka rahasia sobat sendiri Wiro!" ucapan itu menciptakan murid Sinto Gendeng jadi garuk-garuk kepala. Naga Kuning pencongkan lisan kemudian berkata menjawab pertanyaan Lakasipo tadi. "Aku hanya kenal muka , tapi tidak kenai nama anak itu…."
"Mungkin saya bisa membantu!" tiba-tiba Setan Ngompol berkata. "Aku juga memang tidak tahu nama anak wanita itu. Tapi saya ingat betul ciri-cirinya!"
"Hemm…. Coba kamu beri tahu saya ciri-ciri anak itu wahai kakek mata jereng kuping lebar!" kata Lakasipo pula.
Setan Ngompol menyeringai. Dia mengerling dulu pada Naga Kuning gres menjawab. "Anak wanita itu seingatku hanya mengenakan pakaian dari kulit kayu di sebelah bawah. Di sebelah atas polos. Dadanya tidak mengecewakan montok. Sekujur tubuhnya penuh koreng. Lalu di atas bibirnya ada dua jalur ingus yang mengambang terus menerus. Naik kalau disedot , turun lagi kalau dibiarkan…."
“Tua bangka bermulut jahat!" teriak Naga Kuning seraya menarik kolor si kakek ke bawah hingga auratnya menongol! "Bukan gadis itu yang saya maksudkan!"
"Bocah kurang ajari Kau boleh marah! Tapi jangan main tarik kolorku! Lihat! Terong peot dan kantong menyanku berojolan kemana-mana!" Setan Ngompol murka sekali dan cepat-cepat tarik kolor bututnya ke atas.
Sambil menahan tawa Lakasipo berkata. "Naga Kuning , kalau kamu masih ingat ciri-ciri gadis itu , katakan padaku."
"Anaknya putih. Rambutnya dikuncir kepirangpirangan. Dia mempunyai sepasang kaki yang bagus. Pahanya putih sekali. Pakaiannya agak tersingkap di pecahan dada. Aku benar-benar tidak bisa melupakannya! Aku ingin sekali bertemu lagi dengan dia. Ah…."
"Bocah ini sudah ketiban sakit mala rindu tak tahu juntrungan!" Setan Ngompol mengejek. ‘Tapi sebagai sahabat yang nyasar ke negeri asing , saya tidak keberatan menemaninya…."
"Apa maksudmu kakek cebol?’ tanya Lakasipo.
"Kalau bocah ini melihat anak wanita itu , saya juga melihat sorang nenek berbadan molek. Dia mengenakan pakaian kulit kayu yang dililit sepanjang badan. Di sebelah atas pakaiannya itu mirip kemben. Kulihat ternyata dadanya putih dan masih kencang. Hik… hik… hik!"
"Di Latanahsilam hanya ada satu nenek mirip yang kamu sebutkan itu. Namanya Luhlampiri. Dia sudah kawin sembilan kali. Setiap kawin suaminya menemui simpulan hidup dalam waktu tiga puluh hari!"
Setan Ngompol terkejut dan eksklusif terkencing mendengar keterangan Lakasipo itu sementara Wiro senyum-senyum dan Naga Kuning tertawa haha-hihi sambil cibirkan bibir.
"Kau masih ingin mengincar nenek itu , wahai sobatku Setan Ngompol?!" bertanya Lakasipo.
"Aku terpaksa berpikir dulu hingga tujuh kali. Tapi kalau cuma sekadar bertemu saja apa salahnya! Bermain cinta tapi tak perlu kawin! Apa ada aturan yang melarang perbuatan mirip itu di Negeri Latanahsilam ini , wahai sobatku Lakasipo?" bertanya Setan Ngompol.
"Tidak , memang tidak ada aturan yang melarang wahai Setan Ngompol. Juga tidak ada aturan yang melarang kalau satu ketika , jawaban kelakuanmu itu terong peot dan kantong menyanmu tahu-tahu pindah ke jidat!" Lakasipo tertawa gelak-gelak yang menciptakan tangan kanannya berguncang-guncang hingga Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol yang ada di atas telapak tangan itu berjatuhan tumpang tindih.
Naga Kuning yang masih ingin tau pada Setan Ngompol cepat bangun dan berkata. "Setan Ngompol! Kalaupun nenek berjulukan Luhlampiri itu mau dikawin olehmu , apa yang bisa kamu lakukan dengan terong peotmu yang baginya cuma sebesar jarum karatan! Sekali kamu kena kentutnya , anumu bisa mental dan remuk tak karuan rupal Hik… hik… hik!"
Setari Ngompol jadi naik darah. Dia membentak marah. Namun sebelum ucapannya keluar ia sudah tcrkencing duluan!
"Wahai kalian bertiga para sahabatku! Saatnya untuk berangkat ke Bukit Latinggihijau. Kalian akan kumasukkan dulu ke dalam kocek jerami." Baru saja Lakasipo hendak membuka penuiupkocek di pinggang kanannya tiba-tiba ada satu sosok besar melesat keluar dari hutan di seberang sungai. Gerakan makhluk itu menciptakan dua pohon besar yang terlanggar tubuhnya berderak patah dan bertumbangan. Dilain kejap makhluk ini telah berdiri tegak di atas sebuah kerikil besar di tengah sungai.
Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol Langsung tercekat pucat menyaksikan sosok yang berada di tengah sungai itu. Bahkan Lakasipo ikut tersirap kaget.
"Berulang kali saya mendengar ceritanya. Baru sekali ini saya menyaksikan dengan mata kepala sendiri! Benarbenar mengerikan…" kata Lakasipo dengan hati bergetar.
*
* *

5

SOSOK YANG TEGAK DI ATAS BATU BESAR DI tengah sungai bukan lain ialah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus. Sepasang matanya masingmasing mempunyai dua bola mata berwarna merah mirip bara menyala menatap angker ke arah Lakasipo. Saat itu Lakasipo masih duduk di atas punggung Laekaki enam kuda tunggangannya yang berkaki enam. Sementara Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol masih berada dalam genggaman tangannya , belum sempat dimasukkan ke dalam kocek jerami.
"Makhluk apa ini gerangan…" kata Naga Kuning.
"Kepalanya mirip pendupaan! Ada bara menyala!"
menjawab! Wiro. Sementara Setan Ngompol berdiam diri sambil menekap pecahan bawah perutnya lantaran ngeri melihat sosok Hantu Bara Kaliatus. Udara di sekitar sungai yang tadinya sejuk kini berkembang menjadi panas oleh hawa yang keluar dari bara menyala di kepala dan tubuh Hantu Bara Kaliatus.
"Lihat matanya!" Naga Kuning kembali berucap.
"Setiap mata ada dua bola mata!"
"Ya , saya juga sudah melihat. Jangan-jangan makhluk ini punya empat biji di kantong menyairnya!" kata Wiro pula sambil tertawa cekikikan.
"Kalian jangan bergurau saja!" membentak Setan Ngompol. "Aku punya firasat ancaman besar mengancam Lakasipo , berarti mengancam kita bertiga!"
"Wahai orang berkaki kerikil berkuda kaki enam!"
Hantu Bara Kaliatus berseru dari tengah sungai. "Walau rambutmu gondrong riap-riapan , muka tertutup kumis , Janggut dan cambang bawuk tebali Tapi saya masih mengenali siapa dirimu! Dan saya memang sudah lama mencarimu I Bukankah kamu manusianya yang berjulukan Lakasipo dan kini dijuluki Bola Iblis alias Hantu Kaki Batu?."
Lakasipo tidak segera menyahut. Dia perhatikan sekali orang di tengah sungai itu. "Lama sudah kudengar kedahsyatan keadaan dirimu! Jika saya tidak salah menduga bukankah kamu Latandai , kerabat dari Latanahsilam yang kini populer dengan julukan Hantu Bara Kaliatus?!"
Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Dulu kita sama-sama tinggal di Latanahsilam , saling akrab saling berkerabat! Tapi keadaan kini telah menentukan lain! Aku memanggul kiprah membunuh dirimu Lakasipo!"
Terkejutlah Lakasipo mendengar ucapan Hantu Bara Kaliatus itu. Dalam genggamannya Setan Ngompol eksklusif terkencing. Naga Kuning gemetaran sedang Wiro walaupun tampak hening tapi hatinya jadi berdebar. Jika terjadi perkelahian antara Lakasipo dengan orang yang kepala dan tubuhnya dipenuhi bara menyala itu , pasti keselamatan mereka ikut terancam.
"Latandai , hampir delapan puluh tahun kita tidak pernah bertemu! Sekali bersua kamu berniat hendak membunuhkul Siapa yang memberi kiprah gila itu padamu! Mengapa ia menginginkan jiwaku?!" tanya Lakasipo alias Hantu Kaki Batu dengan bunyi lantang.
"Aku tidak ditugaskan untuk bertanya jawab. Tapi mungkin saya bisa memperpanjang saat-saat kematian mu. Asalkan kamu bersedia menjawab pertanyaanku!"
"Manusia gendeng! Hendak membunuh orang tapi mau bertanya dulu!" memaki Naga Kuning.
"Hantu Bara Kaliatus! Belum pagi berganti sore ucapanmu sudah ngaco bertolak belakang! Tadi kamu bilang tidak ingin bertanya jawab. Tapi kini kamu mau mengajukan pertanyaan!"
Tampang Hantu Bara Kaliatus jadi berubah. Bara api di atas kepalanya mengepulkan asap merah. Tidak mengacuhkan ejekan Lakasipo ia berkata. "Aku mencari seorang berjulukan Lasingar. Aku juga mencari seorang wanita berjulukan Luhsantini. Terakhir sekali saya bertemu orang-orang itu sekitar seratus tahun lalu. Lalu ada seorang lelaki berjulukan Lamatahati yang usianya sekitar delapan puluh tahunan. Di mana mereka kini , apakah kamu bisa memberi tahu?"
"Aku pernah mendengar sedikit riwayatmu di masa lalu. Luhsantini bukankah ia istrimu dan Lamatahati bukankah ia anakmu? Aku menaruh curiga kamu punya niat jahat terhadap kedua orang itu. Juga terhadap Lasingar! Aku tak mungkin memberi tahu! Apalagi kamu punya maksud hendak membunuhku!"
Hantu Bara Kaliatus perlihatkan wajah sedih. "Yang kemudian biarlah berlalu. Walau bagaimanapun Luhsantini ialah istriku. Lamatahati ialah anakku dan Lasingar ialah kerabatku! Aku rindu ingin bertemu dengan mereka."
Lakasipo termangu beberapa ketika. Akhirnya ia menjawab. "Istrimu kudengar kabar menyepi diri di satu tempat di sebuah pertapaan di sebelah selatan Gunung Labatuhitam. Lasingar kalau tak salah menetap di Bukit Latinggibiru. Mengenai anakmu Lamatahati tidak pernah kuketahui. Mungkin ia berada di alam lain sebelum kita atau alam seribu dua ratus tahun sehabis kita."
Hantu Bara Kaliatus tatap muka Lakasipo beberapa ketika seolah hendak meneliti apakah keterangannya bisa dipercaya. Kemudian insan ini sunggingkan seringai. "Wahai Lakasipo! Ternyata kamu tidak bakal mati sia-sia! Kau mati dengan menanam budi padaku! Semoga para Dewa dan para Peri menawarkan tempat paling hnflua begini di alam atas langit! Tiba saatnya saya membunuhmu wahai Hantu Kaki Batu"
Habis berkata begitu Hantu Bara Kaliatus sentakan lehernya. Kepalanya bergoyang keras. Sebuah bara menyala melesat dari atas kepala orang ini , menyambar ke arah kepala Lakasipo. Secepat kilat Lakasipo tundukkan kepala. Melompat ke kiri , mencebur ke dalam sungai. Bara menyala lewat setengah jengkal disamping paha kirinya , menebar hawa panas yang sempat menghanguskan cambang bawuknya. Bara menyala sesaat kemudian menghantam sebuah kerikil besar di tepi sungai sehingga meledak dan hancur berkeping-keping!
Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Gerakanmu tidak mengecewakan cepat Hantu kaki Batu. Aku ingin melihat kehebatan sepasang kaki batumu!"Hantu Bara Kaliatus kemudian sentakkan otot di perutnya. Dua buah bara menyala melesat menyerang Lakasipo. Lebih cepat dan lebih ganas! Lakasipo yang masih berada dalam sungai membentak keras kemudian melesat ke udara. Pada ketika dua bara menyala menyambar dan hanya tinggal satu langkah dari perut dan dadanya , Lakasipo tendangkan kedua kakinya.
"Byaaarrr!"
"Byaaarrr!"
Percikan pengecap api mencuat di atas sungai. Membakar daun-daun pepohonan. Lakasipo terdorong keras ke belakang tapi masih sanggup menjejakkan dua kaki batunya di tepi sungai. Rasa sakit menjalar dari kaki hingga ke pinggang. Kalau tidak cepat mengimbangi diri dan pasang kuda-kuda pasti ia akan jatuh terhenyak di tanah. Di atas kerikil di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus tegak dengan tubuh tergontaigontai. Sesaat mukanya seolah tak berdarah ketika menyaksikan bagaimana dua bara yang dihantamkannya ke arah lawan hancur berantakan ditangkis Bola Bola Iblis di kaki Lakasipo!
Lakasipo sendiri tampak berkerut keningnya ketika melihat bagaimana hantaman dua keping kerikil bara merah yang hanya sebesar ibu jari kaki itu menciptakan dua kakinya yang terbungkus kerikil laksana dirajam dalam api. Ketika ia memperhatikan ternyata dua kerikil di kakinya telah gompal! Padahal selama ini tidak satu senjata atau kekuatan sakti puri sanggup merusak dua kerikil bundar itu!
Mendadak Lakasipo merasa ada bacokan halus di tangan kanannya. Tusukan itu bahwasanya ialah gigitan yang dilakukan Wiro untuk menarik perhatian Lakasipo. Hal ini menyadarkan Lakasipo bahwa hingga ketika itu ia masih menggenggam ketiga orang Itu di tangan kanannya. Wiro lambaikan tangan berulang kali. Melihat tanda ini Lakasipo segera dekatkan tangan kanannya ke telinga. Wiro cepat membuka mulut.
"Lakasipo! Lekas masuk kedalam sungai. Manusia bara menyala itu pasti tidak berani mengejar. Seluruh bara menyala di kepala dan tubuhnya pasti akan mati kena air. Di dalam air kamu punya kesempatan bertahan dan menyerang!"
"Kau cerdik!" ujar Lakasipo. Lalu sambil terus menggenggam Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol dengan cepat ia mencebur masuk ke dalam sungai. Air sungai muncrat hingga beberapa tombak. Wiro dan dua temannya yang masih berada dalam genggaman asisten Lakasipo jadi gelagapan begitu mereka ikut karam masuk ke dalam air.
Di atas kerikil di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus menyeringai lebar. "Aku tahu apa yang ada di benakmu Hantu Kaki Batu! Kau kira saya takut turun ke air! Aku masih belum puas kalau tidak menjajal seluruh kesaktianmu sebelum menamatkan riwayatmu!" Setelah berucap Hantu Bara Kaliatus lantas melompat masuk ke dalam sungai.
"Byuuurrr!"
Sosok Hantu Bara Kaliatus lenyap di dalam air. Di permukaan sungai mengepul asap kelabu. Tiba-tiba sosok Hantu Bara Kaliatus muncul kembali. Astaga! Semua bara menyala yang ada di atas kepala dan menempel di tubuhnya ternyata masih menyala! Tidak mati walau terkena air!
"Hantu Kaki Batu! Perlihatkan kehebatanmu!"
Hantu Bara Kaliatus tanggalkan sebuah bara menyala dari atas kepalanya. Sesaat bara itu ditimangtimangnya. Di ketika yang sama Lakasipo ingat akan orang-orang yang ada di tangan kanannya. Dengan cepat ia keluarkan asisten dari dalam sungai. Wiro dan Naga Kuning muntah-muntah semburkan air. Setan Ngompol muntah atas bawah. Walau keadaannya ketika itu megap-megap mirip orang mau sekarat tapi Wiro masih sempat mengintip dari sela jari Lakasipo dan ia menyaksikan sendiri bagaimana bara menyala di kepala dan tubuh lawan tidak menjadi mati walau terkena air!
"Lakasipo…. Huekkk!" Wiro muntah lagi. "Sulit bagimu mengalahkan makhluk bara itu. Kau harus menyelinap ke belakangnya. Totok urat besar dipangkal leher sebelah kanan. Tubuhnya pasti kaku tak bisa bergerak!"
"Kau memang pernah bilang mengenai ilmu totok itu! Tapi mana saya paham melakukannya!" jawab Lakasipo seraya mendekatkan tangan kanannya ke dekat , kepala.
"Luruskan dua jari tangan kirimu! Kerahkan tenaga dalam kemudian tusukkan ke pangkal leher! Ingat , saya pernah memperlihatkan caranya beberapa hari lalu! Kau harus melaksanakan kini sebelum ia menyerang!"
Apa yang dikatakan Wiro tidak gampang bagi Lakasipo melakukannya. Bukan saja lantaran ia tidak pernah mengenal ilmu totokan itu tetapi ketika itu Hantu Bara Kaliatus telah melemparkan bara api yang tadi ditimang nya di tangan kanan.
"Wuussss!"
Batu bara menyala seolah berkembang menjadi sinar merah panjang , melesat di atas permukaan air sungai menyambar ke arah dada Lakasipo. Lakasipo membuang dirinya ke samping sambil melepaskan pukulan Lima Kutuk Dari Langit Lima larik sinar hitam berkiblat memapasi sambaran bara menyala.
"Taar! Taarr! Taarr! Taarr! Taarr!"
Lima letusan keras menggetarkan udara. Sinar hitam dan kilatan nyala api bertaburan. Air sungai bergejolak ke atas antara dua lawan yang tengah bertempur itu hingga untuk beberapa ketika lamanya mereka tak sanggup saling melihat. Lakasipo merasa sakit dan panas pada pinggang sebelah kiri. Namun tidak diacuhkannya lantaran ia ingin mempergunakan kesempatan untuk melaksanakan apa yang diberitahu Wiro tadi. Yakni menotok tubuh lawan. Tapi celakanya Lakasipo lupa pecahan mana dari tubuh Hantu Bara Kaliatus yang harus ditotoknya. Sebelum tubuhnya masuk ke dalam air ia angkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan bertanya. "Wiro , pecahan mana dari tubuh Hantu Bara Kaliatus yang harus saya tutuk!"
Saat itu dalam genggaman asisten Lakasipo Wiro terjepit di sebelah bawah. Walau ia bisa mendengarpertanyaan Lakasipo namun ia tak bisa menjawab.Sebaliknya Naga Kuning berada di sebelah atas antara dua celah jari tangan. Enak saja bocah ini berteriak.
"Totok saja selangkangannya sebelah kanan! Kau harus menyelami Lakukan cepat sebelum muncratan air turun!"
*
* *

6

TANPA PIKIR PANJANG LAKASIPO SEGERA menyelam kemudian bergerak cepat mendekati lawan dengan dua jari tangan kiri terpentang lurus. Hantu Bara merasa dan mendengar ada herrtakanhentakan keras di dasar sungai yakni hentakan Bola Bola Iblis atau dua kaki Lakasipo yang terbungkus batu. Ketika ia menyadari lawan menyusup dalam air dan mendekatinya dengan cepat keadaaan sudah kasip.
Tubuh Hantu Bara menggeletar ketika satu bacokan keras menghantam pangkal paha kanan sebelah atas!
Hantu Bara Kaliatus pukulkan tangan kanannya ke dalam air namun Lakasipo telah lebih dulu menyelinap. Sesaat kemudian ia melesat ke tebing sungai dan berlindung di balik sebuah kerikil besar. Dari balik kerikil itu ia memperhatikan apa yang terjadi atas diri Latandai alias Hantu Bara Kaliatus. Pada ketika bersamaan Lakasipo ingat lagi akan tiga sahabatnya yang terbawa menyelam dan masih berada dalam genggaman tangan kanannya. Cepat-cepat Lakasipo buka tangannya kemudian meletakkan ketiga orang itu di tanah.
"Celaka…. Jangan-jangan mereka mati semua. Wahai sahabatku!" kata Lakasipo dalam hati sewaktu dilihatnya Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol tak satupun yang bergerak! Lakasipo cepat tengkurapkan ketiga orang itu. Lalu hati-hati dan perlahan sekali , dengan mempergunakan ujung jarinya ditekannya punggung dan pantat ketiga orang itu. Air sungai yang memenuhi perut Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol menyembur keluar. Sesaat kemudian ketiganya tampak menggerakkan kaki dan tangan. Walau mereka masih tertelungkup begitu rupa dan nafas agak megap-megap namun masing-masing sudah bisa membuka mata hingga menyaksikan apa yang terjadi dengan diri Hantu Bara Kaliatus mirip yang juga disaksikan oleh Lakasipo.
Saat itu di tengah sungai Hantu Bara Kaliatus berhasil menguasai diri hingga getaran yang menjalari tubuhnya segera lenyap. Namun begitu getaran hilang tiba-tiba ia mencicipi ada satu kelainan pada pecahan tubuh di bawah perut. Rasa berat yang amat sangat. Saat itu ia tidak lagi ingat untuk mencari tahu di mana adanya Lakasipo. Terbungkuk-bungkuk orang ini merambah air. menuju tepian sungai lalunaik ke daratan.
Begitu hingga di dataran dan memandang kebawah. Seruan tertahan keluar dari lisan Hantu Bara Kaliatus!
Matanya membeliak mirip mau melompat dari sarangnya sedang mukanya pucat memutih! Celana yang dikenakan Hantu Bara , yang terbuat dari kulit kayu robek besar di pecahan bawah perut. Dari robekan itu mencuat keluar anggota rahasianya yang telah berubah bentuk menjadi jerawat membesar!
"Demi para roh!" jerit Hantu Bara Kaliatus. "Apa yang terjadi dengan diriku! Wahai para Dewa dan Peri! Tolong diriku!" Setengah meratap Hantu Bara sambar serumpunan dedaunan kemudian ditutupi auratnya dengan daun-daun itu.
Di balik kerikil Pendekar 212 Wiro Sableng ,. Naga Kuning dan Setan Ngompol berusaha bangun dari saling pandang.
"Kau lihat barusan anunya Hantu Bara…?" tanya Setan Ngompol pada Wiro.
Wiro mengangguk.
"Aku heran apa yang terjadi atas dirinya. Sampai kantong menyannya jerawat besar begitu rupa. Dan bukan cuma kantong menyannya saja! Tongkat Gandaruwonya juga…" Setan Ngompol tidak teruskan ucapannya.
Kakek bermata jereng ini melirik pada Naga Kuning kemudian mengerling ke arah Wiro. "Hemmmm…" Setan Ngompol bergumam. "Ini pasti pekerjaan salah satu dari kalian! Memberi kisikan gila pada Lakasipo! Kalau tidak ada yang menotok urat sembung di selangkangannya tidak nanti ia jadi begitu. Lihat , berdiri saja ia mirip tidak mampu. Yang di bawah jerawat membesar. Yang di atas menunjuk kurang ajar!"
Pendekar 212 garuk-garuk kepala. "Aku memang mengajari Lakasipo untuk menotok. Tapi menotok urat besar di leher atas! Bukan di leher bawah!"
"Hik… hik… hik!" Naga Kuning tekap mulutnya menahan ketawa.
"Bocah geblek! Pasti kamu yang mengajari!" kata Setan Ngompol pula pada Naga Kuning. Saat itu Lakasipo rundukkan kepalanya ke tanah.
Perlahan sekali ia berkata. "Wahai Naga Kuning , kalau kita tidak membebaskan tutukan…."
"Totokan! bukan tutukan!" sergah Naga Kuning tapi sambil senyum-senyum.
‘Terserah! Kau menyebut totokan , saya tutukan. Karena totokan dalam bahasa di Negeri Latanahsilam berarti payudara perempuan!"
Setan Ngompol tertawa cekikikan hingga kencingnya terpancar. Wiro garuk-garuk kepala sambil menyengir sedang Naga Kuning tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalau kita tidak membebaskan tutukannya , seumur-umur ia akan menderita mirip itu…."
"Dia perlu celana gres yang gombrang di sebelah bawah! kata Wiro. "Atau sarung!"
"Mana ada sarung di negeri gila ini!" tukas Setan Ngompol.
"Siapa yang berani menolongnya?! Sekali mendekat pasti mati kita dihantamnya!" kata Naga Kuning.
"Lakasipo , bukankah kamu yang menotok selangkangannya? Makara kalau kamu mau berbaik hati kamu saja yang melepas totokannya. Tusuk sekali lagi selangkangannya! Hik… hik… hik!"
Saat itu Hantu Bara Kaliatus duduk tergeletak di tanah. Dia tak habis pikir apa yang terjadi dengan dirinya. Memandang berkeliling ia tidak melihat siapasiapa. Tapi hatinya mulai curiga. Tertatih-tatih orang ini bangun berdiri. Sambil melangkah pergi ia berkata.
"Lakasipo insan jahanam! Akan kucari kamu hingga ke ujung dunia! Pasti kamu yang punya pekerjaan! Jahanam!" Saking marahnya Hantu Bara tinggalkan dua bara menyala dari perutnya kemudian di lemparkan ke depan. Dua bara menyala ini menghantam , pohon besar. Begitu tembus masuk ke batang pohon , pohon ini meledak dan tumbang hancur berentakan.
"Siapa bahwasanya makhluk yang mata dan tubuhnya ditempeli bara menyala itu?!" Naga Kuning bertanya.
"Panjang ceritanya wahai tiga saudaraku! Tapi jikalau kalian ingin tahu biar saya ceritakan sedikit." Lakasipo kemudian menuturkan siapa adanya Hantu Bara Kaliatus.
"Peristiwanya terjadi sekitar hampir delapan puluh tahun silam. Dimulai ketika Latandai kabur dari Latanahsilam sementara istrinya hamil besar. Setelah bayinya hampir berusia empat puluh hari Latandai tidak pernah pulang , maka Luhsantini meninggalkan rumah mencari suaminya itu. Di Latanahsilam ada semacam adat jikalau pada ketika seorang bayi mencapai usia empat puluh hari dan ayahnya tidak hadir untuk satu upacara pengusapan ubun-ubun , penyentuhan tubuh serta menciumanaknya , maka anak itu dianggap tidak mempunyai ayah , sekaligus tidak punya ibu dan jadilah ia semacam anak haram yang dikucilkan…."
"Adat aneh!" ujar Pendekar 212.
"Negeri ini memang diselimuti seribu satu macam keanehan. Latandai dan Luhsantini jelas-jelas dikawinkan secara syah. Masakan lantaran ayahnya tidak mengusap ubun-ubunnya saja ia kemudian jadi anak haram. Dikucilkan…."
‘Terus terang memang banyak kecacatan terutama menyangkut adat yang tidak saya sukai di Negeri Latanahsilam ini ," kata Lakasipo pula. "Tapi bagaimana mau mengikisnya? Siapa saja yang berani merubah adat dan aturan akan dicap sebagai pengkhianat besar. Hukumannya direbus dalam sebuah belanga besi selama empat puluh hari hingga daging dan tulang belulangnya hancur larut dalam air!"
"Menurutmu putera Luhsantini dikucilkan kemudian diusir dari Negeri Latanahsilam. Kemana minggatnya anak itu , apa ia tidak bisa kembali ke sini? Tidak ingin membalas dendam?"
"Putera Luhsantini itu tidak bisa disebut sebagai anak lagi. Saat ini usianya paling tidak sekitar delapan puluh tahunan. Kemana perginya sulit diketahui. Tapi saya menduga kemungkinan masuk ke dalam negeri asal kalian. Kabar terakhir , sebelum ia lenyap dari sini diketahui ia telah mendapat julukan Hantu Balak Anam!"
"Apa?!" Tiga lisan yakni Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol berseru berbarengan.
. "Wahai tiga saudaraku! Melihat raut muka dan seruan kagetmu tadi saya menaruh sangka kamu kenal atau pernah tahu dengan Hantu Balak Anam?!" ujar Lakasipo.
"Orangnya tinggi besar , berambut lurus ke atas mirip ijuk. Alisnya panjang bersambung jadi satu. Lalu di keningnya ada enam buah lobang hitam. Di pipi kiri dan kanan masing-masing ada tiga lobang hitam serupa. Itukah orangnya?!" tanya Wiro.
"Tepat! Memang ia wahai saudaraku Wiro! Mungkin ukuran tubuhnya saja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh kami di sini! Tapi lain dari itu sangat cocok!"
"Dia berada di tanah Jawa. Terakhir sekali ia berada di Telaga Gajahmungkur…." (Mengenai "Hantu Balak Anam" harap baca serial Wiro Sableng berjudul "Pedang Naga Suci 212" yang merupakan Episode ke-4 dari 11 Episode)
"Ah , dugaanku tidak meleset. Makara memang ke sanalah diamengucilkan dirL Apakah ia menjadi hantu jahat atau hantu baik di negeri kalian?’ tanya Lakasipo.
"Walau ia banyak berpihak pada orang-orang golongan putih , namun ia tidak bisa dikatakan termasuk golongan putih. Yang terang ia bukan golongan hitam ," jawab Wiro.
"Aku tidak mengerti. Apa yang kamu maksudkan dengan golongan putih dan golongan hitam ," ujar Lakasipo pula.
Wiro tersenyum kemudian menceritakan apa arti golongan putih dan golongan hitam di rimba persilatan di tanah Jawa.
Sambil garuk-garuk kepala Wiro kemudian berkata. "Kalau kamu tidak oke dengan adat negeri ini , berarti kamu menyadari bahwa Lasingar dan Luhsantini serta Lamatahati sama sekali tidak bersalah. Lalu mengapa kamu memberi tahu di mana orang-orang itu berada? Hantu Bara Kaliatus pasti akan mencari Lasingar dan Luhsantini. Lalu membunuh kedua orang itu. Lamatahati mungkin selamat lantaran menurutmu. ia berada di alam lain…."
Lakasipo jadi terkejut mendengar ucapan Wiro Sableng itu. "Astaga , kamu benar…" katanya dengan bunyi bergetar. "Aku menciptakan kesalahan besar. Aku harus menolong mereka…."
“Tapi apa kamu bisa menduga siapa di antara Lasingar dan Luhsatini yang akan lebih dulu didatangi Hantu Bara Kaliatus?!"
"Kukira dendam Latandai sangat besar terhadap Luhsantini. Gara-gara wanita itulah maka ia mendapatkan bala kutukan. Pasti ia akan membunuh jandanya itu lebih dulu!"
"Kalau kamu yakin hal itu , berarti wanita itu yang harus diselamatkan lebih dulu! Kau tahu tempatnya! Mengapa tidak segera berangkat ke sana!" ujar Naga Kuning.
"Aku…. Aku harus menyambangi makam istriku lebih dulu di Bukit Latinggihijau!" kata Lakasipo pula.
"Istrimu sudah meninggal , Lakasipo!" kata Wiro.
"Tidak ada satu ancaman pun mengancam dirinya dibanding dengan wanita berjulukan Luhsantini itu! Dia yang harus didatangi dan diselamatkan lebih dulu!"
"Lalu bagaimana dengan Hantu Santet Laknat! Aku juga punya urusan yang belum selesai dengan dukun keparat itu! Gara-gara ia sepasang kakiku jadi begini!"
"Bagaimanapun.keadaan kakimu , yang terang kamu kini malah mempunyai ilmu kesaktian yang hebatl Lupakan makam istrimu! Lupakan dulu Hantu Santet Laknat Malah kami bertiga untuk sementara bersedia melupakan mencari Batu Sakti Pembalik Waktu dan mencari Hantu Tangan Empat! Asalkan kamu mau menyelamatkan wanita berjulukan Luhsantini itu!"
Mendengar ucapan Wiro itu Lakasipo alias Hantu Kaki Batu menjadi bimbang. Saking gemesnya Wiro memberi arahan pada Naga Kuning dan Setan Ngompol. Ketiga orang ini serentak menggigit telapak tangan Lakasipo. Walau gigitan itu tidak melukainya namun rasa sakit mirip ditusuk menciptakan Lakasipo tersentak.
"Kalian pembangkang semua!" Mengomel Lakasipo. Lalu ketiga orang itu dimasukkannya ke dalam kocek jerami. Sekali lompat saja ia sudah berada di punggung kuda hitam kaki enam.
* *

7

LAPANGAN KECIL DI BUKIT LATINGGISUBUR pagi itu dipenuhi oleh para penyabung ayam , mereka yang bertaruh atau hanya sekedar menonton. Ketika ayam milik Lakabil dan Latondang sedang hebathebatnya berlaga tiba-tiba sebuah benda melayang di udara dan jatuh di tengah lapangan. Dua ayam yang bertarung berkotek keras kemudian kabur. Orang yang ada di tempat itu serta merta dilanda kegemparan. Betapa tidak. Benda yang bergelimpang ditanah lapang itu ialah sesosok tubuh bergelimpang darah mulai dari kepala hingga ke badan. Dalam keadaan mirip itu dari balik semak belukar sekonyong-konyong keluar sesosok tubuh tinggi besar. Saat itu juga tempat itu diselimuti hawa panas serta bacin gila mirip daging terpanggang.
Kalau tadi semua orang dilanda kegegeran maka kini mereka dicekam ketakutan setengah mati. Mereka tidak tahu pasti makhluk apa yang bahwasanya tegak di depan mereka ketika itu. Sosok tinggi besar ini tegak kaki terkembang tubuh agak terbungkuk seolah menahan sesuatu yang berat di bawah perutnya. Di atas kepalanya ada puluhan bara menyala. Bara yang sama juga menempel di dada dan perut. Di bawah pinggang makhluk ini mengenakan jerami kering dan daundaunan demikian rupa sengaja menutupi pecahan tubuhnya yang besar gembung menonjol.
"Roh jahat kesasar…" bisik seseorang.
"Hantu lapar turun dari langit!" kata yang lain dengan bunyi bergetar.
"Lihat tubuhnya sebelah bawah. Besar nian. Sebesar kelapa!"
"Aneh dan seram! Dia mempunyai empat buah bola mata!"
"Wahai , agaknya ia yang barusan melempar orang bergelimang darah itu! Dia sengaja melempar ke hadapan Lakabil!" kata seorang lainnya.
"Lasingar!" Tiba-tiba orang menyeramkan di tengah lapangan berteriak keras. Tanah lapang terasa bergetar. Daun-daun pepohonan bergemerisik. "Buka matamu lebar-lebar! Apa kamu masih mengenali siapa adanya insan yang menggeletak sekarat di depanmu itu?! Apa kamu juga mengenali siapa diriku?!"
Orang berjulukan Lakabil melangkah mundur dengan muka pucat ketakutan. Matanya memandang berganti-ganti dari si makhluk menyeramkan yang bukan lain ialah Latandai alias Hantu Bara Kaliatus kemudian pada sosok yang tergeletak di tanah.
"Lasingar! Jawab pertanyaanku!" Terbungkuk bungkuk keberatan ia maju dua langkah mendekati Lakabil.
Seseorang di tepi lapangan beranikan diri berkata. "Wahai makhluk yang kepalanya menjunjung bara menyala! Orang yang kamu ajak bicara itu berjulukan Lakabil. Bukan Lasingar."
"Benar! Dia Lakabil! Tak ada orang berjulukan Lasingar di sini."
Hantu Bara Kaliatus melirik tajam pada dua orang yang barusan bicara itu. "Kalian berdua berbanyak mulut! Kalian tahu apa!" Tiba-tiba Hantu Bara Kaliatus menyergap. Dua tangannya bergerak.
"Bukkk!"
"Bukkk!"
Dua orang yang tadi bicara menjerit keras. Tubuh mereka terpental. Jatuh bergedebukan di tanah dengan lisan hancur.
"Ada lagi yang mau bicara?!" sentak Hantu Bara Kaliatus.
Tak ada yang menjawab. Tak ada yang berani bergerak. Hantu Bara Kaliatus melangkah ke hadapan orang berjulukan Lakabil tapi yang dipanggilnya dengan Lasingar.
"Kau pintar berpura-pura. Tak mau menjawab. Seolah tidak mengenal siapa insan satu ini! Dia ialah kerabatmu Latorikl Penduduk Negeri Latanahsilam. Sekitar delapan puluh tahun silam ia yang menangkap berair dirimu sewaktu berada di atas ranjang bersama Luhsantini!"
Pucatlah wajah Lakabil. Dalam hati ia membatin.
"Walau kini saya berhadap-hadapan , tapi apa benar makhluk gila ini Latandai adanya…. Celaka , bagaimana ia tahu saya tinggal di sini!"
"Kerabat ," kata Lakabil. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan…."
Hantu Bara Kaliatus menyeringai. "Kau masih meneruskan kepura-puraanmu! Aku ialah Hantu Bara Kaliatus! Luhsantini ialah istriku yang telah kamu cabuli hingga hamil. Ingatanmu sudah terang kini Lasingar?!
Atau perlu kubelah batok kepalamu , kukeluarkan otakmu dan kucuci di sungai Lapanjangbiru?"
"Han…. Hantu Bara Kaliatus…. Kau… kamu ialah Latandai!" ujar Lakabil dengan bunyi tercekat Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. "Sekarang otakmu mulai jernih rupanya! Apa kamu juga sudah ingat bahwa namamu bahwasanya Lasingar? Bukan Lakabil yang kamu palsukan semenjak puluhan tahun bersembunyi di Bukit Latinggisubur ini?"
Dalam takut yang amat sangat , semua orang yang mendekam di tempat itu merasa heran apa bahwasanya yang dibicarakan makhluk menyeramkan itu dengan kerabat yang selama ini mereka kenal berjulukan Lakabil. Tapi si makhluk menyeramkan menyebutnya sebagai Lasingar.
"Latandai…. Perihal insiden delapan puluh tahun silam itu , saya tidak melakukannya. Aku…."
Hantu Bara Kaliatus menggembor keras. Dia menunjuk pada orang yang terkapar di tanah. "Latorik saksi mata. Saksi hidup yang sebentar lagi akan meregang nyawa! Dia yang melihat kamu dalam keadaan bugil di atas ranjang bersama Luhsantini! Di atas anjungan rumah kediaman orang renta gadis itu!"
"Latandai saya bersumpah…. Demi para Dewa dan para Peri. Aku tidak menggauli calon istrimu Luhsantini. Aku berada dirumahnya untuk berobat , saya tidak tahu…tidak mengerti mengapa hari itu tahu-tahu saya berada di atas ranjang bersama Luhsantini dalam keadaan tidak berpakaian…."
"Jahanam pendusta! Setelah merambas tumbuhan muda kamu tidak berani mengakui perbuatan kejimu! Dengar baik-baik Lasingar! Ketika Luhsantini kukawini , gadis itu sudah tidak perawan lagi! Kau melaksanakan kebejatan itu bukan cuma sekali! Pasti berulang-ulang! Alasan sakit hanya tipu muslihatmu semata biar bisa mendekati Luhsantini! Jahanam terkutuk!"
"Demi para Dewa dan para Peri. Demi para arwah ke dua orang tuaku! Aku bersumpah , Latandai! Aku tidak melaksanakan semua yang kamu tuduhkan itu!"
"Lasingar! Ternyata kamu bukan saja seorang laknat Tapi berani bersumpah palsu menyebut para Dewa dan para Peri! Bahkan menyebut roh orang tuamu!
Kalau kamu benar tidak melaksanakan perbuatan terkutuk itu mengapa melarikan diri?! Bersembunyi tinggal di Bukit Latinggisubur ini selama puluhan tahun?! Menukar nama menjadi Lakabil!"
"Latandai…. Aku ketika itu berada dalam keadaan tidak mungkin membela diri. Kalau benar orang itu Latorik , apa yang disaksikannya mungkin karangan belaka! Mungkin saja seseorang menyuruh atau memaksanya berbuat begitu. Memberi kesaksian palsu…."
"Bukkkk!"
Kaki kanan Hantu Bara Kaliatus mendarat telak di dada Lasingar. Orang ini terpental dan ambruk di bawah sebatang pohon. Darah segar mengucur dari mulutnya. Nafasnya sesak , nyawanya seolah terbang. Dia mengerang dengan sekujur tubuh bergeletar. Hantu Bara Kaliatus menyeret sosok berdarah ke hadapan Lasingar. Orang yang berada dalam keadaan luka parah itu dijambaknya kemudian membentak. "Latorik! Sebelum kamu keburu mampus katakan apa yang kamu lihat delapan puluh tahun silam di atas ranjang di anjungan rumah kediaman Luhsantini! Kalau kamu mati para Dewa dan para Peri akan mengampuni segala dosamu lantaran kamu telah berbuat baik , memberi kesaksian yang benar!"
Orang yang bergelimang darah itu tidak segera menjawab. Mungkin ia tidak lagi bisa bersuara. Hantu Bara Kaliatus menggoncang kepala Latorik.
"Bicara! Atau kugeprak pecah kepalamu ketika ini juga!" teriak Hantu Bara Kaliatus.
"A… aku…." Latorik bersuara walau perlahan. "Del…delapan puluh tahun silam…. Suatu pagi , mirip biasa saya membawa satu bumbung berisi air ke rumah orang renta Luhsantini. Tanpa sengaja aku…. Aku menjenguk ke anjungan. Aku melihat dia…."
"Dia siapa?! Sebutkan nama!" hardik Hantu Bara Kaliatus.
"Dia… , ia Lasingar… saya melihat Lasingar dan Luhsantini saling berpelukan. Keduanya dalam pulas tertidur. Keduanya tidak berpakaian…."
"Latorik jahanam! Kau mengarang kisah memfitnah diriku! Bejat sekali pekertimu!" Teriak Lakabil alias Lasingar menggeledek. Dari pinggangnya dihunusnya sebilah bendo kerikil kemudian ditusukannya ke dada Latorik , tepat di arah jantung hingga orang ini tewas seketika!
Kalau semua orang tersentak kaget melihat apa yang dilakukan Lasingar itu , sebaliknya Hantu Bara Kaliatus tertawa bergelak. Dia tadi sengaja tidak mencegah pembunuhan itu. Jambakannya di rambut Latorik dilepaskan hingga sosok tak bernyawa ini tergelimpang di tanah.
"Lasingar insan terkutukl Kau terlambat membungkam lisan Latorik! Dia keburu memberi kesaksian! Didengar oleh para Dewa dan Peri serta para roh! Termasuk roh orang tuamu! Disaksikan pula oleh kerabat sepenyabungahmu! Sekarang giliranmu menyusul ke alam langit ke tujuh!"
Hantu Bara Kaliatus tanggalkan , sebuah bara menyala di dadanya kemudian dilemparkan ke arah Lasingar. Lasingar tak tinggal diam. Parang kerikil berdarah yang masih dipegangnya dipergunakan untuk menangkis.
"Traaanggg!"
Parang kerikil hancur berantakan. Lasingar menjerit. Suara jeritannya lenyap begitu bara menyala menembus keningnya kemudian meledak menghancurkan sebagian tubuhnya mulai dari kepala hingga ke dada!
Hantu Bara Kaliatus memandang berkeliling. Tak seorang pun masih terlihat di tempat itu. Ternyata semua orang telah kabur melarikan diri lantaran takut akan menjadi korban keganasan makhluk bara menyala itul
Hantu Bara Kaliatus putar langkah hendak meninggalkan tempat itu. Namun gerakannya tertahan ketika di langit dilihatnya ada satu cahaya biru sebesar ujung jari kelingking. Makin lama cahaya ini semakin membesar , menukik ke bawah. Bertambah besar dan terang. Sepuluh tombak di atas kepala Hantu Bara Kaliatus cahaya tadi berubah membentuk satu sosok tubuh seorang perempuan. Bersamaan dengan itu bacin harum mewangi menebar di tempat tersebut.

8

MELIHAT SIAPA YANG MUNCUL DI ATASNYA itu Latandai alias hantu Bara Kaliatus jadi tercekat. Buru-buru ia menjatuhkan diri ber-lutut seraya dalam hati membatin. "Gerangan pesan apa yang dibawanya padaku. Berkah atau hukuman. Kalau ia hingga melihat keadaanku mirip ini…."
Hantu Bara Kaliatus mendongak ke atas dan letakkan dua tangan yang dirapatkan di .atas kepala.
"Wahai Peri Bunda , Simpul Agung Dari Segala Peri , Peri Junjungan Dari Segala Junjungan , Berkah apakah yang hendak kamu berikan padaku hingga tidak biasanya kamu menampakkan diri mirip ini…."
Angin bertiup sejuk beberapa ketika lamanya. Di atas sana bayangan biru berbentuk sosok seorang wanita memandang sayu pada hantu Bara Kaliatus. Sosok yang disebut Peri Bunda ini berwajah seorang wanita separuh baya anggun , agung dan anggun. Di kepalanya ada sebentuk mahkota bertabur batu-batu permata berkilau-kilau. Tubuhnya terbungkus selendang tipis warna biru bergulung-gulung panjang. Demikian panjangnya seolah ujung pakaian ini tergantung hingga ke langit.
"Wahai insan berjulukan Latandai ," Peri Bunda berkata dari atas sana. Suaranya walau , lembut tapi mengiang keras masuk ke indera pendengaran Hantu Bara Kaliatus.
"Aku tiba bukan membawa berkah! Kami para Peri di angkasa raya merasa sedih. Karena semenjak kamu keluar , dari kawah Gunung Latinggimeru , maka di Negeri Latanahsilam telah bertambah satu lagi Hantu yaitu Hantu Bara Kaliatus. Hantu yang perwujudannya ialah bagaimana keadaan dirimu sendiri ketika ini…. Kami ingin melenyapkan semua Hantu yang ada , malah kini ketambahah satu lagi. Kami tahu ada Hantu baik dan ada Hantu jahat di antara kalian. Selama puluhan tahun kami para Peri telah mengikuti perjalanan hidupmu. Ternyata kamu bukan termasuk golongan Hantu baik. Di tubuhmu sebelumnya ada dua ratus bara merah menyala. Kini bara itu telah banyak berkurang. Berarti belasan bara maut telah kamu pergunakan untuk membunuh insan lainnya!’ Ketahuilah Latandai , membunuh ialah sesuatu yang tidak diizinkan kecuali dalam membela diri , keluarga.dan para kerabat. Tapi mirip yang saya saksikan sendiri hari ini kamu telah menjadi penyebab kematian dua orang. Pertama Latorik. Walau bukan tanganmu yang menghabisinya tapi kematiannya berpangkal alasannya ialah pada perbuatanmu. Kedua Lasingar. Kau membunuhnya atas dasar kesaksian yang diragukan. Tidak ada pembuktian yang sempurna. Semurah itukah nyawa insan di matamu…?"
Untuk beberapa ketika lamanya Latandai alias Hantu Bara Kaliatus membisu tertunduk masih berlutut dan dua tangan masih di atas kepala.
"Latandai , dari tadi kulihat kamu berlutut terus. Berdirilah dan bicara secara wajar. Aku bukan sebangsa Peri gila hormat…"
Latandai alias Hantu Bara Kaliatus jadi gundah dan kecut. Kalau ia berdiri , Peri Bunda pasti akan melihat kelainan keadaan auratnya sebelah bawah.
"Wahai Latandai , apakah kamu tidak mendengar. Berhentilah berlutut. Bicara dengan berdiri padaku." kata Peri Bunda.
Perlahan-lahan , terbungkuk-bungkuk Hantu Bara Kaliatus bangun berdiri. Celakanya ketika berdiri , celananya yang sudah tidak karuan rupa merosot ke bawah. Cepat-cepat Latandai memegangi , menariknya ke atas dan membenahi dedaunan yang dipakainya untuk melindungi anggota rahasianya.
Meskipun semua itu dilakukan dengan cepat oleh Latandai , namun Peri Bunda masih sempat melihat. Sang Peri eksklusif tersentak dan palingkan mukanya yang serta merta menjadi sangat merah. Latandai kembali jatuhkan diri mengambil perilaku berlutut biar tubuh sebelah bawahnya yang menggembung tersingkap tidak kelihatan dari atas sana.
"Wahai Peri Bunda , Simpul Agung Dari Segala Peri , Peri Junjungan Dari Segala Junjungan. Tiada niat membunuh orang tidak berdosa. Latorik terpaksa saya aniaya. Karena semula ia tidak mau memberi keterangan atas apa yang dilihatnya…."
"Apa yang dilihat seseorang belum tentu apa nyatanya. Begitu juga dengan Latorik…."
"Mengenai Lasingar…. Dia lelaki terkutuk yang mempergunakan kesempatan untuk merayu dan meniduri calon istriku! Mana mungkin saya mengakui Lamatahati sebagai anakku padahal ia lahir dari benih yang ditanamkan insan mesum itu ke dalam rahim Luhsantini!" kata-kata Latandai jadi keras dan kasar.
Peri Bunda tersenyum rawan dan gelengkan kepalanya.
"Latandai…. Hidup di alammu penuh teka teki. Apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi. Apa yang terjadi belum tentu itu nyatanya. Kami para Peri tahu kalau otakmu sudah dicuci oleh Hantu Santet Laknat. Kau telah dijadikan boneka penurut kemauannya. Kau berada dalam kekuasaannya. Kami para Peri masih menaruh kasihan serta impian padamu. Kau belum lama tersesat. Masih ada jalan kembali. Jangan teruskan menebar maut. Apa kamu hendak menghabiskan sisa bara menyala di kepala , dada dan perutmu untuk membunuh orang? kembali ke puncak Gunung Latinggimeru. Campakkan batu-batu bara menyala itu ke dasar kepundan. Hiduplah sebagai Latandai kembali….Bila tiba saatnya apa yang bahwasanya terjadi akan tersingkap."
"Peri Bunda , saya menghormatmu seribu hormat. Namun apa yang kamu katakan tidak sanggup saya lakukan…."
"Aku tidak menyampaikan apa-apa wahai Latandai.
Aku memberi perintah padamu!" kata Peri Bunda pula.
"Maafkan diri saya Peri Bunda. Ampuni dirikul Sekali ini saya terpaksa tidak bisa mematuhi perintahmu. Jika Peri Bunda memang berniat baik , mengapa diriku yang menjadi incaran. Bukankah banyak Hantu lain di Negeri ini yang malang melintang berbuat kejahatan. Misalnya Hantu Santet Laknat. Hantu Muka Dua! Mengapa bukan mereka yang dihukum…?!"
"Wahai Latandai , jangan menganggap kami para Peri bodoh dan memilih-milih. Kau ialah insan yang tersesat terakhir kali. Makara masih ada kesempatan untuk memperbaiki dirimu. Hantu-Hantu lainnya akan mendapatkan giliran. Biar kami para Peri dan para Dewa yang mengatur…. Satu hal lagi wahai Latandai. Aku melihat ada yang tidak beres di antara kedua kakimu! Binatang berbisa apa gerangan yang telah menggigitmu hingga auratmu menjadi jerawat mirip itu…?"
"Wahai Peri Bunda , saya tidak tahu terang apa yang bahwasanya terjadi. Tapi ini saya alami sehabis saya berkelahi dengan Lakasipo alias Hantu Kaki Batu alias Bola Bola Iblis."
"Latandai , berdasarkan penglihatanku seseorang telah menutukmu. Tapi ilmu tutukan tidak dikenal di Negeri Latanahsilam. Berarti ada orang luar yang menyusup masuk ke Negeri ini !"
"Saya tidak tahu Peri Bunda semenjak kedua kakinya dibungkus Bola Bola Iblis , Lakasipo mempunyai beberapa keanehan. Peri Bunda , saya gembira bertemu denganmu. Semoga pertemuan ini ada hikmahnya. Jika kamu mau memberi izin saya akan meninggalkan tempat ini…."
"Jika itu katamu , terpaksa saya menghalangi wahai Latandai! Karena saya tahu kamu akan membunuh lagi beberapa orang yang belum tentu berdosa!"
Peri Bunda kembangkan dua tangannya. Pakaian birunya bergulung-gulung di udara. Perlahan-lahan sosok tubuhnya turun mendekati Latandai. "Peri Bunda , jangan terlalu memaksa. Aku bisa bertindak nekad!" Latandai alias Hantu Bara Kaliatus berteriak. Peri Bunda hanya tersenyum dan terus melayang turun. Hantu Bara Kaliatus ambil sebuah bara menyala di atas kepalanya kemudian dilemparkan ke arah Peri Bunda.
"Wussss!"
Bara menyala itu menembus sisi kiri pakaian Peri Bunda hingga berlubang dan terbakar.
"Luar biasa! Hebat sekali!" Seru Peri Bunda sambil memperhatikan pakaiannya yang berlubang dan terbakar. Dia meniup satu kali. Kobaran api serta merta padam. Pakaian yang berlobang kembali utuh mirip semula. Peri Bunda memandang sayu pada Hantu Bara Kaliatus. "Petunjuk sudah kuberikan. Peringatan sudah kusampaikan. Kau nekad menempuh jalan hidup berdasarkan gerak hati dan denyut jantung serta otakmu yang terbungkus bara api. Padahal ketahuilah wahai Latandai. Otakmu bahwasanya sudah dicuci oleh Hantu Santet Laknat. Kau telah dijadikannya boneka penurut perintahnya. Kau telah dikuasai oleh nenek jahat itu. Sekarang terserah padamu. Kau akan mencicipi sendiri kesudahannya kelak wahai Latandai. Namun saya masih mau memberi petunjuk terakhir bagi keselamatan dirimu. Jika kamu tidak mau kembali ke Gunung Latinggimeru untuk membersihkan semua bara menyala di kepala , muka dan tubuhmu maka carilah Luhsantini.
Minta maaf dan minta ampun padanya. Minta ia mencabut sumpah dan kutuk yang telah dijatuhkannya atas dirimu. Karena jawaban kutukannya , ilmu yang kamu sanggup dari Hantu Santet Laknat telah berkembang menjadi malapetaka seumur hidupmu! Temui Luhsantini. Maka kamu akan selamat dan kembali ke keadaan serta kehidupan semula…."
Perlahan-lahan sosok Peri Bunda melayang naik ke atas udara , makin tinggi , makin tinggi dan akhirnya lenyap seolah menerobos ke balik langit.
"Luhsantini…." Hantu Bara Kaliatus kepalkan tinju kanannya. "Kekasih gelapmu sudah kubunuh! Sekarang giliranmu kuhabisi! Karena kutuk sumpahmu saya jadi begini! Berpantang bagiku untuk minta maaf dan ampun pada perempuan! Akan kuhabisi kamu Luhsantini!"

9

PERJALANAN MENUJU GUNUNG LABATUHITAM di daerah selatan bukan perjalanan mudah. Walau Lakasipo alias Hantu Kaki Batu menunggangi Laekakienam , kuda raksasa berkaki enam namun mereka harus melewati daerah berbukitbukit , lembah tandus , menyeberangi sungai serta menembus rimba belantara yang nyaris jarang dilewati manusia. Selama perjalanan Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol lebih banyak berada di dalam kocek jerami sehingga keadaan mereka bertiga cukup menderita.
Memasuki malam Lakasipo hentikan kudanya di bibir sebuah lembah berbatu-batu. Wiro dan dua kawannya dikeluarkan dari dalam kocek kemudian diletakkan di atas sebuah kerikil datar. Lakasipo meletakkan sepotong kecil jambu hutan untuk santapan ketiga orang itu. Walau sangat kecil tapi bagi Wiro dan kawankawannya sepotong jambu hutan itu hampir seukuran besar tubuh mereka hingga ketiganya tak sanggup menghabiskan.
Sementara Lakasipo membaringkan tubuhnya di tanah , Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol bercakap-cakap.
"Berapa lama lagi kita berada dalam keadaan mirip ini?" Setan Ngompol berbaring di kerikil sambil usap-usap perutnya.
"Begitu Lakasipo berhasil menyelamatkan Luhsantini , kita harus memaksa ia mencari Hantu Tangan Empat atau mendapatkan kembali Batu Sakti Pembalik Waktu itu! Aku ingin segera kembali ke tanah Jawa."
"Lalu bagaimana dengan gadis di Latanahsilam yang sekali melihat menciptakan kamu tergila-gila itu?’tanya Setan Ngompol sambil menyeringai.
Naga Kuning terdiam. Dia berpaling pada Pendekar 212 yang duduk bertopang dagu. "Apa yang kamu pikirkan Wiro?" Tanya Naga Kuning.
"Aku ingat orang-orang di alam jauh di sana. Guruku Eyang Sinto Gendeng , sobatku si Bujang Gila Tapak Sakti , kemudian Kakek Segala Tahu. Gadis berambut panjang pirang berjulukan Bidadari Angin Timur itu…Puteri Duyung. Banyak lagi yang lainnya. Mereka semua pasti tidak mengetahui apa yang telah terjadi dengan kita bertiga."
"Pendekar 212 , menurutmu mana yang lebih baik. Mencari Hantu Tangan Empat lebih dulu atau Batu Pembalik Waktu itu?"
Wiro garuk-garuk kepalanya. "Dua-duanya sama penting. Tapi jikalau saya boleh menentukan , lebih baik kita mencari Hantu Tangan Empat lebih dulu."
"Mengapa begitu?" bertanya Naga Kuning.
"Waktu Hantu Tangan Empat muncul di tanah Jawa , sosok tubuhnya sama besardengan sosok tubuh kita. Di Negeri Latanahsilam tidak mungkin sosoknya tetap sebesar kita. Pasti ia akan sebesar raksasa mirip Lakasipo. Berarti ia mempunyai semacam ilmu kepandaian atau ilmu kesaktian untuk membesarkan dan mengecilkan badannya! Kalau kita bisa mendapatkan ilmu itudari ia berarti sosok kita bisa berubah sebesar orang-orang di sini. Berarti kita bisa selamat dari segala macam ancaman , insan , hewan ataupun cuaca."
"Kau benar Pendekar 212. Tapi apakah Hantu Tangan Empat mau menawarkan ilmu itu pada kita bertiga?’ tanya Setan Ngompol.
"Mungkin padamu akan diberikan Wiro ujar Naga Kuning. "Tapi pada kami berdua belum tentu. Apalagi kurasa ia masih menaruh dendam terhadapku !"
"Mudah-mudahan kakek gila itu tidak sejahat yang kamu sangka. Bukankah ia katanya hanya suruhan Hantu Muka Dua saja?" kata Wiro.
"Jangan-jangan Hantu Muka Dua itu yang punya ilmu kepandaian menciptakan orang besar dan kecil. Berarti tipis impian kita mendapatkan ilmu tersebut. Aku lebih suka kita berusaha mati-matian mencari kerikil tujuh warna itu!" ujar Naga Kuning pula.
Lima jari raksasa bergerak di permukaan batu.
"Wahai para saudaraku. Kita harus melanjutkan perjalanan. Agar pagi besok kita bisa hingga di tempat tujuan."
Mendengar ucapan Lakasipo itu Wiro segera berteriak.
"Lakasipo , jikalau Luhsantini sudah kamu selamatkan , kamu harus berjanji membantu kami mencari Hantu Tangan Empat atau mendapatkan Batu Sakti Pembalik Waktu!"
"Hal itu bisa kita bicarakan nanti para saudaraku ," jawab Lakasipo yang menciptakan Wiro dan kawan-kawannya menjadi jengkel tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ketika Lakasipo hendak memasukkan ketiga orang itu kembali ke dalam kocek jerami tiba-tiba ada satu bunyi merdu tiba dari kejauhan.
"Lakasipo wahai suamiku , belum berbilang ahad berbilang bulan saya berada di alam roh. Tega nian hatimu tak pernah menjengukku lagi…."
Suara yang tiba dari jauh itu menggeletarkan kerikil di atas mana Wiro dan dua kawannya berada.
"Ada bunyi wanita di kejauhan…" bisik Naga Kuning.
"Suara itu menyebut Lakasipo suaminya. Pasti itu bunyi Luhrinjani…."
‘Tapi berdasarkan Lakasipo istrinya itu bukankah sudah mati dan dimakamkan di Bukit Latinggihijau. Bagaimana kini bisa muncul…."
"Itu mungkin hanya bunyi rohnya ," berkata Setan Ngompol dan berkemas-kemas menekap pecahan bawah perutnya biar tidak terkencing.
"Kalian berdua jangan bicara saja. Lihatdi kejauhan sana. Ada satu sosok gila mendatangi ke sini!" Berkata Wiro.
Pada ketika bunyi itu terdengar wajah Lakasipo berubah. Lelaki ini cepat bangun berdiri dan memandang ke kejauhan dari arah mana datangnya bunyi tadi. Dadanya berdebar ketika di antara pepohonan ia melihat ada seorang wanita melangkah mirip melayang-layang. Rambut tergerai lepas , pakaian sehelai kain sutera putih tipis yang tak pernah dilihat Lakasipo sebelumnya. Makin dekat wanita itu , makin terang kelihatan wajahnya.
"Luhrinjani…" desis Lakasipo. Dia eksklusif ingat pada insiden yang lalu. Ketika ia juga disongsong oleh sosok Luhrinjani yang kemudian menjebaknya hingga dua kakinya terpendam ke dalam kerikil besar. Apakah sekali ini roh istrinya tiba lagi untuk mencelakainya. Lakasipo melangkah mundur.
"Celaka! Jangan-jangan Lakasipo kedatangan setan istrinya sendiri! Kita bisa ditinggalkan begitu saja di atas kerikil ini!" ujar Wiro.
"Lakasipo wahai suamiku! Aku berada begini dekat di hadapanmu. Kau seolah tertegun lupa. Apa kamu tidak lagi mengenali istrimu sendiri , Lakasipo?"
Sosok wanita itu kini hanya terpisah dua langkah dari hadapan Lakasipo.
"Perempuan raksasa itu…" bisik Naga Kuning.
"Wajahnya anggun , pakaiannya sangat tipis. Aku sanggup melihat sekujur auratnya! Lihat , tubuhnya putih bagus. Dadanya sebesar kerikil raksasa di sungai , Tonilnya begitu mulus…. Ah… saya bisa bersembunyi dalam pusarnya! Hik… hik… hik…!"
Setan Ngompol usap-usap sepasang matanya berulang kali. Sementara Wiro memandang dengan ternganga.
"Lihat , ada tahi lalat di kiri pahanya sebelah dalam. Kalau saja saya bisa memanjat kakinya yang bagus mulus itu…."
"Tua bangka berpikiran kotor!" tukas Wiro pada Setan Ngompol. "Coba kamu perhatikan! Apa kamu tidak melihat dua kakinya yang tersembul dari balik pakaian putih itu tidak menginjak tanah?!"
Pucatlah wajah Setan Ngompol dan juga Naga Kuning ketika memandang ke bawah sana. Sepasang kaki wanita itu memang melayang di udara!
"Luhrinjani…. Aku tidak tahu kamu ini makhluk apa adanya. Penjelmaan hantu atau roh yang gentayangan. Dulu kamu pernah muncul. Kemunculanmu membawa celaka bagi diriku! Lihat dua kakiku! Terpendam ke dalam dua bola kerikil yang tak bisa saya hancurkan! Apakah ketika ini kamu muncul lagi hendak mencelakaiku?!"
"Kau tidak menginginkan pertemuan ini , wahai Lakasipo?’ tanya Luhrinjani.
"Bukan saya tidak menginginkan wahai Luhrinjani. Tapi jikalau ini semua hanyalah bayang-bayang hampa atau mimpi jelek yang akhirnya membawa celaka diriku…."
"Kau tidak mimpi wahai Lakasipo. Kau juga tidak berhadapan dengan bayang-bayang hampa. Dulu saya muncul lantaran ada satu kekuatan mistik yang sangat hebat menguasai diriku. Memaksa saya keluar dari liang makam dan memerintahkan saya untuk mencelakaimu. Tapi kini yang tiba ini ialah Luhrinjani yang sebenarnya. Yang diberi kekuatan oleh para Peri dan roh untuk keluar dari dalam makam guna menemuimu. Aku inginkan pertemuan ini Lakasipo. Aku merindukanmu…."
Sosok Luhrinjani maju mendekat. Sebaliknya Lakasipo cepat melangkah mundur. Ketika melangkah tadi ujung bawah pakaian yang dikenakan Luhrinjani menjadikan siuran angin. Tiga orang di atas kerikil eksklusif berguling-guling. Walau rasa takut mencekam ketiga orang di atas kerikil namun mereka tak habis pikir. Bagaimana seseorang yang sudah mati bisa hidupdan muncul mirip ini. "Aneh , gres sekali ini saya dengar ada hantu merasa rindu…." Bisik Naga Kuning.
"Naga-naganya kita sebentar lagi akan menyaksikan dua raksasa saling bercumbu…" kata Setan Ngompol pula sambil satu tangan menekap lisan biar tidak tertawa dan satu tangan lagi menekap pecahan bawah perutnya.
"Luhrinjani…. Aku…. Aku masih tidak mengerti. Mengapa kamu bisa muncul mirip ini. Apakah dirimu , tubuhmu nyata…."
"Diri dan tubuhku kasatmata senyata saya melihat kamu wahai! Lakasipo…" jawab Luhrinjani. "Ulurkan tanganmu.
Pegang jari-jariku! Pegang wajahkul Pegang sekujur tubuhku! Semuanya nyata. Aku bukan bayangbayang , bukan pula asap…."
Lakasipo tidak berani ulurkan tangannya untuk menyentuh wanita di hadapannya.
"Lalu… kemudian apa maksud kedatanganmu Luhrinjani….Ki… kita tak mungkin bersatu kembali. Atau mungkin…."
"Kita tak mungkin bersatu kembali memang wahai Lakasipo. Tapi tali kekerabatan kita tak pernah putus walau kita berada di dua alam berlainan…."
"Maksudmu Luhrinjani…?"
"Kita dua suami istri berpisah mati. Kita dua suami istri yang belum sempat mengecap nikmatnya hidup sebagai suami istri. Apakah kamu tidak menginginkannya Lakasipo?"
Luhrinjani ulurkan tangan kanannya menyentuh jari-jari tangan Lakasipo. Lelaki ini tersentak kaget. Jari-jari tangan itu ialah jari-jari sungguhan.
"Usap wajahku Lakasipo , sentuh tubuhku…" bisik Luhrinjani.
Sesaat Lakasipo masih ragu. Lalu ia memberanikan diri mengangkat tangan membelai wajah wanita di hadapannya itu. Dia benar-benar memegang insan hidup! Kenyataan yang tidak bisa dipercaya itu menciptakan Lakasipo jadi merinding dan cuek sekujur tubuhnya. Perlahan-lahan ia melangkah mundur. Tiba-tiba ada bacin harum semerbak memenuhi tempat itu. Lalu satu cahaya biru terang muncul di kejauhan , bergerak di antara pepohonan. Makin lama makin besar dan makin dekat.
"Astaga! Lihat!" seru Naga Kuning sambil menunjuk ke atas. Sementara Wiro dan juga Setan Ngompol pelototkan mata terheran-heran.
Saat itu cahaya biru tadi telah berkembang menjadi sosok seorang wanita separuh baya anggun sekali. Tubuhnya terselubung lilitan pakaian biru bergulunggulung panjang seolah tergantung hingga ke langit. Di kepalanya ada sebentuk mahkota yang ditebari batu-batu permata berkilauan.
"Peri Bunda , terima hormat saya!" kata Lakasipo begitu melihat siapa yang berada di atasnya.
"Lakasipo menyebut wanita anggun itu Peri Bunda…" bisik Wiro pada dua temannya.
"Setahuku yang namanya Peri itu hanya ada dalam dongeng…" menyahuti Setan Ngompol.
"Di negeri serba gila ini bisa saja terjadi. Bukankah ketika ini kita berada di alam seribu dua ratus tahun silam?" ujar Wiro. "Yang saya herankan , kalau peri separuh baya cantiknya mirip ini , yang lebih muda tentu selangit tembus!"
"Aku jadi kepingin tahu , apakah ada Peri bawah umur sebayaku?!" ujar Naga Kuning tengil.
Si Setan Ngompol ikut-ikutan latah. "Kalau ada peri renta seusiaku , benar-benar nikmat rasanya tinggal di negeri gila ini!"
"Kalian berdua sama tololnya! Selama keadaan tubuh kita mirip ini jangan berharap yang bukanbukan!" kata murid Sinto Gendeng pula.
"Wahai Lakasipo…." Peri Bunda berkata dengan bunyi lembut tapi jelas. "Jangan kamu merasa takut pada sosok Luhrinjani istrimu itu. Dia memang telah berada di alam lain. Namun kami para Peri telah berusaha melaksanakan sesuatu , memberi berkat padamu dengan menghadirkan istrimu dalam keadaan seutuhnya. Terima kehadirannya dengan segala rasa suka cita wahai Lakasipo. Dia istrimu yang syah. Karena itu tidak ada halangan bagimu untuk memperlakukannya sebagaimana adanya…."
"Peri Bunda , kalau itu berkah yang kamu turunkan pada saya , saya tidak tahu harus mengucapkan terima kasih bagaimana ," kata Lakasipo seraya membungkuk dalam-dalam.
"Saya juga menghaturkan terima kasih wahai Peri Bunda ," kata Luhrinjani seraya menjatuhkan diri , berlutut di samping Lakasipo.
"Mungkin Peri itu bisa berbuat sesuatu untuk kita ," kata Wiro tiba-tiba. "Lekas k’rta memohonkan sesuatu! Siapa tahu ia bisa menolong…."
Naga Kuning dan Setan Ngompol cuma membisu saja. Sebaliknya Wiro yang berada di atas kerikil datar melambai-lambaikan tangannya biar terlihat oleh sang Peri. Tapi hingga tangannya mirip mau copot Peri Bunda tidak melihat dirinya. Wiro berteriak keras-keras. Peri Bunda menolehpun tidak.
"Lakasipo , saya tidak akan hadir lebih lama di tempat ini. Pergunakan waktumu sebaik-baiknya. Ada satu hal yang bahwasanya ingin kubicarakan denganmu…."
"Jika Peri Bunda sudi mengatakannya pada saya…" ujar Lakasipo pula:
"Mataku menangkap tiga sosok gila di atas kerikil sana"
Lakasipo berpaling ke atas batu. Wiro kembali lambaikan tangannya. "Mereka ialah saudara-saudara angkat saya wahai Peri Bunda…."
"Ini satu kecacatan yang bahwasanya ingin kubicarakan denganmu Lakasipo. Tapi mirip kataku tadi saya tidak ingin mengganggumu ketika ini. Aku pergi sekarang. Di lain waktu saya akan kembali untuk bicara denganmu mengenai ketiga makhluk gila itu…."
"Peri Bunda! Jangan pergi dulu!" teriak Wiro. "Kami butuh pertolonganmu! Bisakah kamu membesarkan kami bertiga…!"
Teriakan yang dikeluarkan Wiro tidak terdengar ke indera pendengaran Lakasipo ataupun Luhrinjani. Tapi Peri Bunda sanggup mendengarnya dengan jelas. Sepasang mata sang Peri melirik ke bawah ke arah batu. Dia tersenyum kemudian berkata.
"Apamu yang minta dibesarkan wahai makhluk aneh?" Peri Bunda bertanya. Masih tersenyum ia meneruskan. "Mungkin anumu itu minta dibesarkan mirip apa yang kalian lakukan terhadap Hantu Bara Kaliatus?”
Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol terkesiap kaget mendengar ucapan Peri Bunda.
"Dia mendengar teriakanku tadi!" kata Wiro gembira.
Dia memandang ke atas. "Yaaaa…." Murid Sinto Gendeng kecewa. Peri Bunda itu telah lenyap. Yang tinggal hanya baunya yang harum serta bunyi tawanya yang merdu di kejauhan.
"Peri satu ini kurasa termasuk Peri tengil. Masakan anunya Hantu Bara Kaliatus disebut-sebut!" Wiro berucap sambil garuk-garuk kepala.
Sesaat sehabis Peri Bunda menghilang di kegelapan malam , Lakasipo berpaling ke kiri. Tangannya diulurkan menyentuh tangan Luhrinjani.
"Luhrinjani wahai istriku… kamu benar-benar nyata! Kau benar-benar hidup!" ujar Lakasipo.
"Aku memang kasatmata wahai Lakasipo. Aku memang hidup. Tapi kasatmata dan hidup terbatas. Aku hanya bisa muncul jikalau ada saling pertalian rasa di antara kita.
Jika para roh mengizinkan dan para Dewa serta Peri merestui. Peluk diriku , Lakasipo. Peluk yang kuat…."
Lakasipo ulurkan dua tangannya memeluk tubuh Luhrinjani. "Cium wajahku Lakasipo , belai tubuhku…."
Bisik Luhrinjani kemudian pakaian sutera tipisnya lepas jatuh ke tanah.
Tiga orang di atas kerikil yang menyaksikan insiden itu dengan mata melotot , terpental kena sambaran angin pakaian yang jatuh. Tapi ketiganya cepat bangun kembali dan pentang mata menyaksikan apa yang terjadi di depan mereka.
"Lihat dada wanita itu! Walah Mak! Besar amat!" kata Setan Ngompol dengan mata melotot.
"Bisa mati yummy saya kalau hingga ketiban!" ujar Naga Kuning yang juga memandang dengan mata mendelik. "AstagaI Lihat! Dia melepaskan pakaian Lakasipo! Mereka berdekap-dekapan!"
"Seumur hidup gres sekali ini saya menyaksikan dua makhluk raksasa bercumbul Padahal yang wanita bahwasanya sudah mati!" kata Setan Ngompol pula kemudian terkencing-kencing.
"Kedua-duanya sudah tidak berpakaian lagll Gila!" seru Naga Kuning. "Lihat , mereka membaringkan diri di tanah…."
Saat itu tak sengaja kaki Lakasipo menyentuh celananya yang terbuat dari kulit kayu dan ada di tanah hingga tergeser ke atas kerikil dan menutupi Wiro , Naga Kuning serta Setan Ngompol.
"Aduh! Mengapa jadi gelap begini?!" teriak Naga Kuning.
"Sial! Kita tidak bisa melihat apa-apa lagi!" ujar Wiro.
Setan Ngompol ikut menggerutu panjang pendek sambil terkencing-kencing. Ketiga orang ini berusaha meloloskan diri dari bawah himpitan pakaian Lakasipo. Tapi dengan keadaan tubuh mereka sekecil itu , walau dengan mengerahkan tenaga sekalipun sulit bagi mereka untuk bisa keluar.
"Wiro! Pergunakan kapak saktimu! Lubangi celana sialan ini! Biar kita bisa mengintip!" teriak Naga Kuning. Masih ingin tau bocah tengil ini rupanya.

10

HUJAN LEBAT MEMBUAT LAKASIPO TIDAK dapat memacu kencang kuda tunggangannya. Di dalam kocek jerami yang berair , Wiro , Naga Kuning dan Si Setan Ngompol kedinginan setengah mati. Bukan saja lantaran kocek yang berair oleh air hujan , tapi juga jawaban terpaan angin deras yang menembus masuk melalui celah-celah anyaman jerami.
Menjelang pagi dalam keadaan letih dan mata mengantuk Lakasipo hentikan kudanya di tepi sebuah rimba belantara. Saat itulah Japat-lapat telinganya menangkap bunyi aneh. "Seperti bunyi orang meracau.
Tapi juga mirip seseorang mengerang. Eh , malah berubah mirip bunyi tangis bawah umur ," membatin Lakasipo sambil terus memasang telinga.
Di dalam kocek bunyi itu juga terdengar oleh Wiro dan kawan-kawannya. Mereka berusaha mengangkat epilog kocek untuk melihat. Namun gres sedikit tersingkap ketiganya jatuh terduduk lantaran ketika itu Lakasipo menyentakkan kudanya , bergerak masuk ke dalam rimba. Ingin menyelidik bunyi apa adanya yang barusan didengarnya.
Masuk ke dalam rimba sejauh beberapa puluh tombak , di bawah sebatang pohon besar Lakasipo melihat satu pemandangan hampir sulit dipercaya. Di bawah pohon itu terikat sosok tubuh seorang anak perempuan. Pakaiannya yang terbuat dari kulit kayu serta seluruh tubuh mulai dari kepala hingga kaki kotor bercelemongan tanah dan berair oleh air hujan. Dari mulutnya yang terus-terusan ternganga keluar imam erangan serta lelehan darah. Dua matanya terpejam. Lakasipo segera hentikan kudanya dan cepat melompat turun. Suara kaki batunya yang menghentakhentak menggetarkan Seantero tempat menciptakan anak wanita yang terikat di pohon buka kedua matanya sedikit. Satu pekik halus keluar dari lisan anak itu. Lalu ada bunyi panjang yang sulit dimengerti.
Ketika Lakasipo melangkah lebih dekat , tengkuknya yang memang sudah berair oleh air hujan kini menjadi tambah dingin. Dari lisan anak wanita yang ternganga itu menjulur panjang pengecap merah diselimuti ludah campur darah. Lidah itu ternyata berada dalam keadaan terikat , dibuhul demikian rupa hingga selain kesakitan si anak jadi tak bisa bicara!
"Kejahatan gila macam apa ini!" ujar Lakasipo penuh geram. "Wahai anak , siapa yang berlaku sekeji ini padamu?!"
Anak wanita yang ditanya hanya keluarkan bunyi mengerang sambil gelengkan kepala sedikit. Dua matanya kembali dipejamkan.
"Bagaimana cara saya menolong anak ini. Melepas lidahnya yang dibuhul!" pikir Lakasipo.
Mendengar bunyi Lakasipo yang keras lantang tadi Wiro dan kawan-kawannya kembali berusaha mengangkat epilog kocek kemudian mengintai keluar. Ketiganya sama keluarkan seruan kaget lantaran muka anak wanita yang lidahnya terjulur dalam keadaan terikat itu tepat berada di depan mereka di muka kocek!
Naga Kuning yang pertama sekali mengenal anak wanita itu. "Astaga! Ini anak wanita yang kulihat di tanah lapang waktu terjadi Bakucarok antara Lakasipo dengan Lahopeng!"
"Benar memang dia…" kata Setan Ngompol. "Apa yang terjadi dengan anak ini…?"
"Bagaimana bisa berada sejauh ini. Pasti ada orang jahat yang membawanya kemari. Mengikatnya dan….Gila! Baru sekali ini saya melihat pengecap dibuhul mirip itu! Kejam sekalil Aku harus keluar dari tempat ini! Aku harus menolong anak itu!" Naga Kuning segera hendak loloskan dirinya dari bawah epilog kocek. Tapi Pendekar 212 Wiro Sableng segera pegang lengannya dan berkata , "Maksud menolong boleh saja sobatku! Tapi pakai otak! Pertolongan apa yang bisa kamu lakukan. Anak itu puluhan kali lebih besar tubuhnya dari sosokmu!"
"Aku…." Naga Kuning jadi gundah sendiri. "Aku kasihan melihatnya. Aku tak bisa membiarkannya teraniaya mirip itu!"
"Aku juga kasihan. Kita semua merasa kasihan. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa. Kau tadi mendengar apa yang dikatakan Lakasipo. Dia pasti bisa menolong anak itu…."
Naga Kuning tendangi dinding kocek dan berteriak keras-keras untuk menarik perhatian Lakasipo. Tapi Hantu Kaki Batu ini tidak mencicipi tendangan itu dan juga tidak mendengar teriakan Naga Kuning. Dengan cepat Lakasipo membuka lilitan tali yang mengikat si anak wanita ke batang pohon. Begitu ikatan lepas kalau tidak segera ditahan , anak ini pasti jatuh roboh ke tanah. Keadaan tubuhnya selain menyedihkan juga sangat lemah sekali. Dengan hati-hati Lakasipo baringkan tubuh anak wanita itu ke tanah. Sewaktu Lakasipo membungkuk dan jaraknya dengan tanah lebih dekat , kesempatan ini dipergunakan Naga Kuning untuk menyelinap keluar kocek kemudian melompat ke tanah.
"Anak nekat. Gila betul dia!" teriak Setan Ngompol kemudian terkencing.
"Kurasa kita juga harus segera keluar dari sini!" kata Wiro. Lalu terjun ke tanah menyusul Naga Kuning. Tinggal Setan Ngompol sendirian. Dia gundah mau melompat gamang dan ngeri. Tinggal sendirian di dalam kocek jerami ia merasa jerih. Sesaat matanya yang jereng berputar-putar dan daun telinganya yang lebar bergerak-gerak. Akhirnya sambil pejamkan mata dan tekap pecahan bawah perutnya dengan dua tangan sekaligus , kakek ini jatuhkan diri ke tanah. Untuk beberapa lamanya ia tergeletak melingkar di tanah sambil beser terus-terusan.
Naga Kuning lari menuju pecahan kepala anak wanita yang terbaring di tanah. Dia berusaha memanjat ke bahu. Tapi setiap dicoba tergelincir kembali lantaran tubuh anak wanita itu licin jawaban kebasahan air hujan. Saat itulah Lakasipo melihat sosok Naga Kuning dan Wiro serta Setan Ngompol.
Dia hendak murka dan menegur tapi lantaran lebih mementingkan menolong anak wanita itu maka untuk sementara Lakasipo tidak mengacuhkan tiga orang tersebut.
Dengan sangat hati-hati dan hingga keluarkan keringat cuek Lakasipo berhasil membuka pengecap yang terbuhul. Lidah itu masuk ke dalam lisan dengan mengeluarkan bunyi keras. Bersamaan dengan itu menyembur darah segar. Si anak wanita mengerang pendek kemudian terkulai tak bergerak.
"Kau membunuhnya!" teriak Naga Kuning. Wiro dan Setan Ngompol juga merasa khawatir.
"Kau tak usah takut Naga Kuning. Anak ini hanya jatuh pingsan. Sebentar lagi ia pasti siuman. Kulihat kamu begitu cemas. Jangan-jangan anak ini yang pernah kamu tanyakan berulang kali itu…." Lakasipo berkata sambi dekatkan mukanya ke tanah.
‘Tolong ia Lakasipo! Memang anak ini yang tempo hari kulihat di pinggir tanah lapang!" jawab Naga Kuning.
"Tak sengaja akhirnya kamu temui juga dia. Hanya sayang dalam keadaan begini rupa…."
"Selamatkan ia Lakasipo! Lakukan apa saja biar ia tidak mati!" kata Naga Kuning kemudian dengan kedua tangannya dipegangnya lengan si anak yang ukurannya puluhan kali lebih besar dibanding dengan lengan Naga Kuning. Bocah ini kerahkan tenaga dalamnya untuk dialirkan ke dalam tubuh anak wanita itu.
"Sudah , kamu tak perlu susah-susah. Biar saya yang menolong!” kata Lakasipo. Lalu tangan kirinya ditempelkan ke kening anak wanita sedang asisten mencekal pergelangan kaki kirinya. Dari atas dan dari bawah Lakasipo salurkan tenaga dalamnya. Tak berapa lama kemudian si anak buka kedua matanya. Sesaat ia menatap ke atas tak berkesip. Dia melihat langit di antara celah-celah daun pepohonan. Lalu pandangannya membentur wajah Lakasipo yang berambut berantakan , wajah tertutup cambang bawuk , kumis dan jenggot meranggas liar. Anak ini hendak menjerit lantaran ketakutan yang amat sangat.
*
* *

11

LAKASIPO TERSENYUM. DIA COBA TENANGKAN anak wanita itu. Sambil mengusap keningnya ia berkata. "Anak , jangan takut! Aku bukan orang jahat…"
"Kau…." Hanya sepotong bicara si anak hentikan ucapannya. Leher dan lidahnya terasa sakit. Dari mulutnya masih meleleh darah.
"Totok tenggorokannya di bawah dagu sebelah kanan!” Wiro berteriak. "Sakit pada lisan dan pengecap anak itu pasti berkurang "
Lakasipo palingkan kepalanya pada Wiro. "Aku pernah menutuk orang. Akibatnya luar biasa! Bagian bawah perutnya jadi melembung bengkaki Apa ketika ini kamu juga hendak menipuku , mencelakai anak wanita ini?"
"Aku tidak seberengsek itu! Yang dulu kamu lakukan ialah petunjuk gila bocah berjulukan Naga Kuning ini!" sahut Wiro.
"Lakasipo , sobatku ini memang benar. Totok di tempat yang tadi dikatakannya. Leher di bawah dagu sebelah kanan. Waktu dengan Hantu Bara Kaliatus saya sengaja berbuat gila biar insan itu tahu rasa!"
"Hemm…. Baik , tapi jikalau kalian menipuku lagi tahu sendiri akibatnya…" kemudian Lakasipo tusukkan dua jari tangan kanannya ke lekukan antara dagu dan leher kanan anak perempuan. Si anak mengeluh pendek. Darah berhenti mengucur dari mulutnya.
"Mulut dan lidahmu masih terasa sakit…?" Lakasipo bertanya.
Anak wanita itu sesaat menatap muka Lakasipo seolah untuk meyakinkan bahwa ia memang tidak berhadapan dengan orang jahat. Lalu periahan-lahan kepalanya digelengkan.
"Kau bisa bicara sekarang?"
Anak wanita itu mengangguk.
"Lakasipo , tanyakan siapa namanya! Beri tahu saya di sini! Beri tahu namaku Naga Kuning!" teriak Naga Kuning pula.
"Bocah geblek!" maki Setan Ngompol.
Naga Kuning tidak perdulikan ucapan orang. Dia memanjat ke lengan anak wanita itu kemudian lari sepanjang lengan kiri naik ke bahu. Mengira ada semut yang menjalar di tangannya si anak wanita pergunakan jari asisten hendak menindas. Untung Lakasipo memperhatikan apa yang hendak dilakukan anak itu. Dengan cepat ia memegang Naga Kuning dan meletakkannya di tanah.
"Anak konyol! Hampir mampus kamu ditindas orang!
Hik… hik… hik…!" kata Setan Ngompol kemudian tertawa cekikikan dan tentunya sambil ngompol.
"Anak , kalau saya tidak salah kamu ialah penduduk Latanahsilam. Benar?" tanya Lakasipo.
Yang ditanya mengangguk.
"Mengapa kamu berada sejauh ini! Seorang diri! Dan waktu kami temukan tadi kamu dalam keadaan setengah pingsan pengecap terbuhul!"
Naga Kuning banting-banting kaki kemudian mengomel sendirian. "Aku minta tanya siapa namanya malahtanya hal-hal lain!"
"Saya… saya mendengar suara-suara halus aneh…."
Anak wanita itu tiba-tiba berucap. Terbata-bata tapi cukup jelas.
"Itu bunyi satu dari dua saudaraku makhluk cebol sebesar kutu. Tapi tak usah perdulikan mereka dulu. Kau bisa duduk bersandar ke pohon biar kutolong.. “
Lalu Lakasipo tolong mendudukkan anak wanita itu di tanah dan menyandarkannya ke pohon.
"Nah , kini terangkan siapa namamu. Apa yang terjadi dengan dirimu ," kata Lakasipo pula.
Si anak tidak segera menjawab. Sudut matanya melihat sesuatu. Ketika ia menukikkan pandangan ke tanah dekat ujung kakinya , terkejutlah ia melihat ada tiga sosok tubuh sangat kecil yang bukan lain
adalah Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol.
"Tiga makhluk yang kamu bilang cebol sebesar kutu…. Mereka itu yang kamu maksudkan saudara-saudaramu wahai Bapak penolong?" Ketika Lakasipo tersenyum dan mengangguk si anak berkata. "Sungguh aneh. Baru sekali ini saya melihat ada insan sekecil ini. Aneh , tapi lucu-lucu…."
"Aku yang lucu! Si kakek bacin pesing dan pahlawan gondrong ini apa lucunya!" kata Naga Kuning.
"Wahai Bapak penolong , bagaimana kamu bisa punya saudara mirip mereka?" Lalu si anak melihat sepasang kaki Lakasipo yang terbungkus kerikil bundar besar. "Wahai Bapak penolong. Ternyata kamu juga mempunyai kecacatan di kedua kakimu! Saya ingat sekarang…. Wahai bukankah Bapak ini kepala Negeri Latanahsilam , Bapak Lakasipo?"
Lakasipo menyeringai. "Dulu saya memang Kepala Negeri Latanahsilam. Sekarang tidak lagi…."
"Bukankah Bapak yang telah membunuh Lahopeng dalam Bakucarok di tanah lapang?"
Lakasipo menghela nafas panjang. "Kejadian itu sudah berlalu. Sekarang kami berempat ingin tahu siapa namamu. Apa yang terjadi dengan dirimu hingga kamu berada sejauh ini , diikat d ipohon , dibuhul lidahnya!"
Si anak tidak segera menjawab. Pandangannya kembali ditujukan pada tiga sosok kecil di ujung kakinya. Melihat orang memandang ke arahnya Naga Kuning lambaikan tangannya berulang-ulang. "Wahai Bapak Lakasipo , bolehkah saya memegang tiga makhluk kecil yang katamu saudara-saudaramu itu…?"
"Asyiki Tentu saja boleh!" berteriak Naga Kuning.
Lakasipo alias Hantu Kaki Batu hendak mencegah tapi si anak telah lebih dulu mengulurkan tangannya memegang Naga Kuning , Wiro dan Setan Ngompol.
"Makhluk gila , lucu!" kata anak wanita itu.
Wiro dan kawan-kawannya diletakkan di telapak tangan kiri dan dipandanginya sambil tertawa-tawa. "Yang satu sudah kakek-kakek , satunya abang muda berambut gondrong. Satunya lagi mirip anak kecil…."
"Bukan tampaknya , ia memang anak keci!" kata Setan Ngompol.
"Kakek kuping lebar , saya lihat kamu tidak pakai celana! Apa kamu tidak punya celana atau memang suka tidak pakai celana?"
Setan Ngompol tutupi auratnya sebelah bawah kemudian tertawa cekikikan.
"Namaku Naga Kuning!" berseru Naga Kuning. "Jika tubuhku sebesarmu atau tubuhmu sebesarku kita pasti sama-sama sebaya. Siapa wahai namamu , sahabatku anak perempuan?’ Bocah ini bicara meniru-niru gaya orang Latanahsilam.
Anak wanita yang ditanya tersenyum. "Namaku Luhkimkim. Kau anak lucu. Aku suka berteman denganmu walau kamu kecil sebesar kutu!"
"Lihat! Kalian dengar semua!" teriak Naga Kuning pada Setan Ngompol dan Wiro Sableng. "Dia suka padaku! Yahui…!" Di atas telapak tangan anak wanita itu Naga Kuning kemudian bersalto tiga kali berturutturut menciptakan si anak wanita tertawa senang.
"Wahai Luhkimkim , saya ikut bahagia kalau kamu suka pada tiga saudaraku itu. Tapi awas si kakek bermata jereng berkuping lebar itu. Dia tukang ngompol Namanya Setan Ngompol. Lalu cowok yang gondrong itu berjulukan Wiro Sableng. Dia punya julukan hebat yakni Pendekar Kapak Maut Naga Geni 2121 Kami sudah tahu namamu , kamu sudah tahu siapa nama kami. Sekarang harap kamu suka menjawab pertanyaanku tadi. Mengapa kamu berada di tempat ini. Siapa yang telah berlaku jahat terhadapmu."
Luhkimkim mirip hendak menangis. Tapi anak ini berusaha tabahkan diri biar tidak mengeluarkan air mata. Setelah mengusap lelehan darah yang masih menempel di sudut bibirnya Luhkimkim kemudian memberi keterangan.
"Makhluk jahat berjulukan Mantu Muka Dua yang menjatuhkan tangan jahat mencelakai saya…."
"Hantu Muka Dua?" mengulang Lakasipo. "Dia memang populer jahat , menganggap diri Raja Di Raja para Hantu di Latanahasilam. Tapi sungguh tak kupercaya wahai Luhkimkim kalau ia tega berlaku sekeji ini terhadap seorang anak kecil sepertimu. Kesalahan apa yang telah kamu lakukan? Dendam apa yang bersarang di hati makhluk biadab itu?"
"Kesalahan saya tidak punya wahai Bapak penolong. Tapi ada satu rahasia kejahatan besar yang dilakukan Hantu Muka Dua yang saya ketahui. Itu sebabnya ia menculik saya , kemudian membawa saya ke sini…."
"Luhkimkim , katakan kejahatan apa yang telah diperbuat Hantu Muka Dua?" bertanya Wiro.
"Saya tak sengaja melihat ia membawa cowok berjulukan Lasingar ke anjung rumah kediaman Luhsantini. Lasingar dibaringkannya di atas ranjang , di sebelah Luhsantini. Kedua mereka itu sama-sama dalam keadaan tidak berpakaian. Sama-sama pingsan. Lalu saya lihat ia menanggalkan pakaiannya sendiri. Lalu Hantu Muka Dua menindih! tubuh Luhsantini. Sebelum pergi Hantu Muka Dua merangkulkan tangan Lasingar ke tubuh Luhsantini…."
"Makhluk jahanam! Benar-benar keji biadab!" kata Lakasipo geram.
Pendekar 212 Wiro Sableng garuk-garuk kepalanya. Lalu berkata. "Kami mendengar kabar ada seorang cowok berjulukan Latorik yang juga melihat insiden Luhsantini bersama Lasingar dalam keadaan bugil di atas ranjang. Latorik kemudian dianiaya oleh Latandai , akhirnya dibunuh oleh Lasingar yang bertahun-tahun sembunyi di satu bukit , menyaru dengan nama Lakabil. Jika kamu benar mengetahui rahasia Hantu Muka Dua sebagai pelaku keji , mengapa Hantu Muka Dua tidak membunuhmu?"
Luhkimkim tak bisa menjawab pertanyaan Wiro itu. Semua orang terdiam. Suasana sunyi dan tidak yummy itu akhirnya dipecahkan oleh bunyi Lakasipo.
"Aku pernah mendengar kabar bahwa Hantu Muka Dua punya satu pantangan besar. Yaitu pantangan membunuh perempuan. Agaknya pasti itu sebabnya ia tidak membunuh Luhkimkim. Membawanya ke tempat ini dengan dua maksud. Pertama , kalau anak ini tidak mati disantap hewan buas maka kemungkinan ke dua ia akan gagu seumur hidup lantaran lidahnya sudah dibuhul…."
"Makhluk berjulukan Hantu Muka Dua itu harus dihajar habis-habisan! Mayatnya direbus dalam pendaringan besi hingga tulang belulangnya leleh jadi air.
Bukankah ada aturan mirip itu di Negeri Latanahsilam?" ujar Naga Kuning.
"Naga Kuning , kamu tidak tahu siapa adanya Hantu Muka Dua. Sebagai Raja Di Raja para Hantu di Negeri Latanahsilam ilmu kesaktiannya setinggi langit se dalam lautan!"
"Tiap kehebatan pasti ada kelemahannya!” Kata Naga Kuning tak mau kalah.
"Betul ," ujar Luhkimkim. "Tapi kelemahannya apa ? Naga Kuning memandang berkeliling. Wiro berkata kata. "Saat ini yang lebih penting ialah menyelamatkan wanita berjulukan Luhsantini itu. Hantu Bara Kaliatus pasti mencari dan membunuhnya. Lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan."
"Wahai Bapak Lakasipo , apakah saya boleh ikut bersamamu?" tanya Luhkimkim.
"Tentu saja boleh! Siapa yang melarang!" Yang menjawab ialah Naga Kuning. Lakasipo dan Wiro menyeringai.
Setan Ngompol mengulurkan tangan kemudian mendorong kepala berambut jabrik si bocah. "Enak saja kamu bicaral Upil Luhkimkim saja lebih besar dari tubuhmu! Biar Lakasipo yang mengambil keputusan!"
"Suka atau tidak suka apa kalian tega meninggalkan Luhkimkim sendirian di dalam rimba belantara ini?" sanggah Naga Kuning.
Tak ada yang menukas ucapan Naga Kuning itu. Akhirnya Lakasipo memegang lengan Luhkimkim kemudian menaikkan anak wanita ini ke atas punggung kuda kaki enam. Begitu berada di atas punggung kuda raksasa itu Luhkimkim bertanya. "Wahai Bapak Lakasipo , bagaimana dengan tiga sahabatku yang luculucu ini. Apakah saya boleh memegang mereka terus atau…."
"Kami lebih suka berada dalam genggamanmu dari pada masuk kembali ke dalam kocek pesing itu!" kata Naga Kuning cepat , "Bukan begitu sobatku Wiro?’ Naga Kuning kedipkan matanya.
Pendekar 212 Wiro Sableng tertawa lebar sambil garuk-garuk kepala. Setan Ngompol berbisik ke indera pendengaran Naga Kuning. "Kalau anak wanita itu tahu kamu bahwasanya seorang kakek berusia seratus dua puluh tahun , jangan harap ia masih akan suka padamu!"
"Setan Ngompol , awas kalau kamu berani membuka rahasia , Kuremas terong peot dan kantong menyanmu!"
kata Naga Kuning mengancam. Wiro tertawa bergelak. Setan Ngompol merengut masam. Sambil membalikkan tubuh belakang layar tangannya diusapkan ke bawah perut. Lalu tangan yang berair kena air kencing itu dipeperkannya ke muka Naga Kuning hingga bocah ini menyumpah-nyumpah. Semua insiden ini dilihat oleh Luhkimkim dengan tertawa-tawa. Derita yang dialaminya jawaban penculikan dan siksaan yang dilakukan Hantu Muka Dua jadi terlupakan.
***

12

GUNUNG LABATUHITAM SESUAI DENGAN NAMANYA merupakan satu gunung kerikil berwarna hitam. Tak satu tetumbuhanpun hidup di sana kecuali sejenis lumut. Di bawah panas teriknya matahari , di kaki selatan gunung kelihatan melesat satu bayangan merah , berkelebat cepat dari satu gundukan kerikil ke gundukan lainnya. Mengingat batubatu di tempat itu diselimuti lumut licin dan orang tersebut sanggup bergerak begitu cepat tanpa kakinya terpeleset , terang ia mempunyai ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Di satu lamping kerikil orang ini tendangkan kaki kirinya.
"Bukk!"
Satu gerakan hebat melanda lamping batu. Batu yang ditendang sama sekali tidak cacat atau rusak sedikitpun , apa lagi hancur. Tapi justru sebuah kerikil besar yang terletak di belakang kerikil yang ditendang keluarkan bunyi berderak. Lalu seolah menjadi ringkih secara tiba-tiba kerikil itu hancur menjadi bubuk dan bertebaran hampir sama rata dengan kerikil rendah di sekitarnya! Inilah ilmu pukulan sakti yang disebut Di Balik Labukit Menghancur Lagunung! Dan terang orang berpakaian merah itu tengah melatih diri , mulai dari ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam termasuk pukulan sakti tadi.
Selagi berlatih diri mirip itu tiba-tiba orang ini melihat ada bayang-bayang hitam berputar-putar di atas daerah berbatu-batu itu. Dia mendongak ke langit. Wajahnya berubah. Dengan cepat ia lari ke balik satu lamping kerikil kemudian menciptakan beberapa kali lesatan dan akhirnya menyelinap lenyap ke dalam sebuah goa.
Orang ini ternyata ialah seorang wanita berwajah cantik. Melihat raut mukanya ia mirip gres berusia tiga puluhan. Padahal bahwasanya usianya telah mencapai seratusan tahuni Perempuan ini tidak terus masuk ke dalam melainkan mengintai di lisan goa , memandang ke langit.
"Kemarin , hari ini.." katanya perlahan. "Telah dua kali ia muncul. Pasti melaksanakan pengintaian. Walet terbang…. Siapa gerangan penunggangnya? Terlalu jauh. Tak bisa kulihat wajahnya. Tapi…."
Tiba-tiba benda yang menjadikan bayang-bayang di bebatuan itu menukik ke bawah kemudian lenyap di balik goa. Perempuan berpakaian merah terbuat dari kulit kayu yang dicelup dengan jelaga merah menunggu sesaat.
Menatap ke udara. "Tak muncul lagi. Seperti kemarin pasti ia sudah pergi…."
Perlahan-lahan , tetap hati-hati wanita itu melangkahkan kakinya keluar dari goa. Baru bertindak empat langkah tiba-tiba di samping kiri goa terdengar bunyi menegur. Suara yang sudah sekian puluh tahun tak pernah di dengarnya. Suara yang cukup dikenalnya dan menciptakan dua kakinya seolah dipantek ke kerikil yang dipijaknya.
"Luhsantini , saya ada di sini…."
Perempuan itu berbalik dengan cepat. Wajahnya berubah pucat , keningnya mengerenyft dan sepasang mata terbuka lebar.
"Latandai…" desis wanita di depan goa.
"Benar , yang kamu lihat memang Latandai!"
"Wahai para Dewa dan Peri…. Bagaimana ia tahu saya berada di sini!" membatin wanita berpakaian merah. Lalu pandangannya membentur pecahan bawah lelaki itu. Yang jerawat menggelembung . “Ya Dewa , ya Peri , apa yang telah terjadi pada dirinya ? Dia mirip menahan beban yang begitu berat .Tegak terbungkuk…."
"Tak ada yang perlu kamu takutkan wahai Luhsantini. Aku tiba membawa kesalahan masa lalu. Aku tiba untuk meminta ampun dan maafmu. Apa yang kulakukan dimasa kemudian ialah satu kesalahan besar. Mengusirmu dan mengusir anak kita. Lamatahati anakku…. Dimana kamu sekarang. Ayahmu membekal dosa besar terhadapmu , lebih besar dari dosaku terhadap ibumu…."
Luhsantini yang semula berada dalam ketakutan kini terheran-heran. "Apa yang telah menciptakan lelaki ini berubah. Dulu ia begitu benci terhadapku , terhadap Lamatahati. Sekarang seperti ia menyadari semua kesalahan itu. Mencariku untuk minta maaf dan ampun. Merindukan Lamatahati. Ada apa di balik semua ini…."
"Luhsantini , berkatalah. Berucaplah. Jangan membisu saja. Aku ingin kita melupakan masa kemudian walau mungkin ada yang salah di antara kita. Biarlah saya mengakui kesalahan ada di pihakku. Biar saya menanggung segala dosa. Tapi perjalanan hidup ini tidak bisa kita hentikan begitu saja…."
"Latandai…" kata Luhsantini dengan bunyi bergetar.
"Jika kerukunan yang hendak kamu cari , jikalau hidup bersama yang kamu dambakan , menyesal sekali wahai Latandai. Tak mungkin hal itu kulakukan…."
"Wahai Luhsantini…" ujar Latandai alias Hantu Bara Kaliatus dengan bunyi tercekat dan tersurut dua langkah.
"Kau tak ingin lantaran keadaaanku yang mirip ini? Kepala seolah bertopi bara. Mata seolah api menyala. Tubuh penuh bara api!"
"Bukan…. Bukan itu wahai Latandai. Tapi di antara kita ada satu jurang besari Jurang kesalahpahaman yang sangat kasatmata adanya…."
"Wahai Luhsantini , saya tiba tidak membawa segala yang berbau masa lalu. Aku ingin kita bersatu kembali. Jika kamu ihklas , jikalau kamu suka hal itu bisa terjadi. Mengenai diriku yang celaka ini akan bisa disembuhkan , akan bisa kembali ke asal keadaan semula. Asalkan saja kamu mau memohon kepada para Dewa dan Peri , kepada para roh yang ada antara langit dan bumi. Mintakan ampun untukku. Cabut kutuk dan sumpahmu dulu! maka semua bara api yang ada di kepala dan tubuhku akan sirna…. Aku mohon padamu Luhsantini. Ini satu-satunya ajakan kalau hidup ini masih bisa panjang. Kalau masa depanku masih kamu terima…."
Hantu Bara Kaliatus jatuhkan dirinya di atas kerikil , berlutut dengan kepala tertunduk dan dua tangan disatukan membentuk sembah. Untuk beberapa lamanya Luhsantini tegak tak bergerak , sepasang mata tak berkesip pandangi lelaki yang pernah hidup sebagai suaminya. Di luar sadar dua mata yang tidak berkesip itu tampak berkaca-kaca. Getaran-getaran muncul di dadanya.
"Wahai Latandai , jikalau niatmu sebersih itu , jikalau pintamu sesuci yang saya dengar , saya yakin para Dewa dan para Peri mendengar pintamu. Tetapi apakah diri yang hina ini bisa memintakan apa yang kamu mohonkan itu dan sudikah para Dewa dan para Peri mengabulkan ajakan kita?"
"Wahai Luhsantini. Belum lama berselang saya didatangi Peri Bunda. Simpul Agung Dari Segala Peri , Peri Junjungan Dari Segala Junjungan. Dia memberi petunjuk bahwa keadaan diriku bisa pulih kembali jikalau kamu bersedia memohonkan ampun kepada para Dewa , para Peri dan para roh…."
"Jika begitu wahai Latandai bilsa memang begitu kesepakatan Peri Bunda , saya tulus mendapatkan kenyataan , saya rela memohon…. “. Luhsantini jatuhkan diri berlutut di atas kerikil , berhadap-hadapan dengan suaminya , saling terpisah lima langkah satu sama lain.
Perlahan-lahan wanita itu angkat kedua tangannya ke atas. Lalu dari mulutnya meluncur ucapan : "Wahai para Dewa dan para Peri , para roh yang ada di antara langit dan bumi. Delapan puluh tahun kemudian saya Luhsantini pernah memohon menjatuhkan sumpah dan kutuk atas diri Latandai. Ya para Dewa dan para Dewi , wahai para roh , saya tidak menyangka akan demikian besar jawaban sumpah dan kutuk itu. Selama delapan puluh tahun kami hidup tersiksa. Tanpa tahu dimana beradanya kini putera kami Lamatahati. Rasanya ya para Dewa dan para Peri serta para roh. Sudah cukup semua siksaan eksekusi itu. Ampuni kesalahan kami wahai para Dewa , Peri dan roh. Ampuni terutama dosa dan kesalahan suamiku Latandai. Aku memohon kaki ke atas kepala ke bawah. Aku meminta kepala di atas kaki di bawah. Cabutlah kutuk dan sumpah itu. Sembuhkan suamiku. Lenyapkan semua bara api yang menempel di kepala , wajah serta sekujur tubuhnya! Kasihani kami wahai para Dewa , Peri dan para roh. Aku tahu kalian mendengar ajakan yang saya sampaikan dengan hati tulus serta kudus ini…."
Air mata bercucuran jatuh membasahi pipi Luhsantini kiri kanan menunjukan wanita ini benar-benar memohon sepenuh hati atas kesembuhan suaminya. Sesaat kesunyian mencengkam kemudian ada bunyi bergetar seperti gempa keluar dari sentra bumi di bawah kaki Gunung Labatuhitam. Saat itu tak ada mendung tak ada hujan. Namun mendadak guntur menggelegar. Dari langit mencuat cahaya terang menyilaukan seolah , petir menyambar kemudian menghantam sosok tubuh Hantu Bara Kaliatus yang berlutut di atas batu. Batu tempat Bara Kaliatus berlutut hancur berkepingkeping , berkembang menjadi bara. Sosok Latandai sendiri terpental belasan tombak. Lalu melayang jatuh , tergelim-pang di celah antara dua kerikil besar. Dari tubuhnya mengepul asap.
"Latandai!" pekik Luhsantini. Perempuan ini melompat dari berlututnya , menghambur ke tempat Latandai terkapar. Dia melihat kenyataan bagaimana kini tidak sebuah bara apipun ada di kepala , dada dan perut Latandai. Dengan keluarkan pekik gembira seraya menyebut para Dewa , Peri dan roh berulang kali wanita ini jatuhkan diri memeluk suaminya.
"Latandai… Latandai…" panggil Luhsantini berulang kali mendekap wajah lelaki itu dengan dua tangan dan menciuminya.
Sosok Latandai bergerak. Dua matanya yang tadi terpejam perlahan-lahan terbuka. Dia menatap Luhsantini sesaat kemudian tersenyum. Bola matanya yang tadinya ada empat kini kembali hanya dua. Tangan kanannya diusapkannya ke kepala , muka , dada dan perut. Tak ada lagi bara menyala! Latandai berseru gembira kemudian bangun berdiri. "Aku sembuh Luhsantini! Aku sembuh! Permohonanmu dikabulkan!" Latandai mendukung , memeluk dan meciumi istrinya sambil berputar-putar di atas batu. "Terima kasih Peri Bunda , terima kasih semua Peri dan para Dewa , para roh!"
Perlahan-lahan Luhsantini diturunkannya. Dari mulutnya keluar bunyi tertawa aneh. Ketika Luhsantini hendak menjauhkan kepalanya guna sanggup memandang wajah lelaki itu mendadak dua tangan Latandai menyambar cepat ke lehernya. Demikian kencangnya hingga wanita ini mencicipi nafasnya seolah berhenti dan tulang lehernya mirip mau patah. Lidahnya mulai terjulur.
"La…Latandai… Apa yang kau.. laku…lakukan…Kau mencekikku…."
Tawa Latandai semakin keras. "Perempuan tolol. Apa kamu kira menolongku berarti menghapus semua dosa terkutuk yang pernah kamu lakukan dengan Lasingar?!"
"Latandai. Ap… apa maksud ucapanmu. Bukan…. Bukankah kamu berkata tidak ingin membicarakan hal masa silam. Lag… lagi pula saya tidak pernah melaksanakan perbuatan tidak senonoh dengan Lasingar…."
Latandai mendengus. "Delapan puluh tahun kemudian kamu berdusta. Sekarang masih saja berdusta! Siapa percaya padamu! Aku sudah sembuh Luhsantini! Dengar. Aku sudah sembuh! Dan saya tidak memerlukan dirimu lagi! Mampuslah wanita jalang!"
Sepuluh jari kokoh Latandai disertai tenaga luar dan dalam yang sangat hebat mencengkeram siap menghancurkan leher Luhsantini. Pada ketika itulah asisten Luhsantini menghantam ke depan , mengarah ke perut Latandai. Melepas pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung!
Tapi Latandai tidak buta. Tangan kirinya secepat kilat di babatkan ke bawah.
"Bukkk!"
Dua lengan saling beradu keras. Kedua orang itu terpental dan sama-sama kesakitan. Begitu lepas dari cekikan Latandai , Luhsantini berteriak marah. "Manusia laknat! Binatang saja kalau ditolong tidak akan pernah berkhianat! Kau memang Hantu jahanam yang harus dimusnahkan!" untuk kedua kalinya Luhsantini menyerang dengan pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung.
Latandai cepat menyingkir. Gerakannya memang tidak terlalu cepat jawaban hambatan di pecahan bawah perutnya. Sadar dan khawatir serangan lawan bisa mencelakainya maka lelaki ini menangkis dengan melepaskan pukulan sakti Selusin Bianglala Hitam. Dua belas larikan sinar hitam halus menggebubu. Luhsantini mirip gila melihat berkiblatnya dua belas sinar hitam itu. Delapan puluh tahun silam , pukulan inilah yang telah menciptakan cacat puteranya Lamatahati! Seperti hendak mengadu jiwa , dengan nekad Luhsantini sambuti pukulan lawan dengan pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung. Kali ini dengan tangan kiri kanan sekaligus.
Kesaktian Luhsantini boleh hebat , namun ia kalah jauh pada tenaga dalam. Begitu dua pukulan sakti bentrokan , terdengarlah pekik wanita ini. Tubuhnya terlempar ke udara setinggi tiga tombak kemudian jatuh di atas batu. Darah mengucur di mulutnya. Dada pakaian merahnya robek dan hangus besar hingga auratnya tersingkap putih. Latandai sendiri terlempar satu tombak. Punggungnya menghantam gundukan batu. Sekujur tubuhnya bergetar hebat. Dadanya mendenyut sakit dan tubuhnya pecahan bawah seolah hendak tanggal. Terbungkuk bungkuk ia melangkah mendekati sosok Luhsantini. Saat itu dilihatnya saiah satu kaki wanita itu bergerak hingga pakaiannya tersibak di pecahan paha. Nafas Latandai sesaat tertahan. Darahnya menyentaknyentak. Apalagi ketika matanya membentur dada Luhsantini yang tidak tertutup. Nafsunya eksklusif menggelegak.
"Mungkin ada baiknya ia tidak segera mati…" kata Latandai menyeringai. Dia membungkuk di atas tubuh Luhsantini. Agar yakin wanita itu tidak menciptakan gerakan tiba-tiba yang sanggup mencelakainya , kedua tangan Luhsantini dilipatnya ke belakang.
"Kraaakk!"
Salah satu lengan Luhsantini berderak patah. Tapi tak ada bunyi jerit kesakitan keluar dari lisan wanita ini , lantaran keadaannya ketika itu nyaris pingsan. Latandai menyeringai , tangannya bergerak menyingkapkan pakaian merah Luhsantini sesaat lagi maksud terkutuknya akan kesampaian tiba-tiba satu ringkikan keras menggelegar di daerah bebatuan itu.
"Wuuuutt!"
Kalau tidak lekas menyingkir pecahlah kepala Latandai kena tendangan dua kaki depan kuda raksasa berkaki enam!

13

RAHANG LATANDAI MENGGEMBUNG KETIKA melihat apa yang barusan hendak menghantam kepalanya. "Hantu Kaki Batu Jahanam!" teriak Latandai. "Kau mencari mati berani mencampuri urusanku!" Sebelum melompat turun dari kudanya Hantu Kaki Batu alias Lakasipo berkata pada Luhkimkim. "Bawa kuda ke balik kerikil tinggi di sebelah kiri. Tunggu di sana bersama tiga saudaraku hingga urusanku selesai…."
"Untuk urusan keji mirip yang kamu lakukan siapa saja boleh ikut campur Latandai! Ho… ho! Bara di kepala , mata dan tubuhmu sudah lenyap rupanya! Bagaimana caranya kamu menipu para Dewa dan para Peri?! Ha… ha… ha!"
"Jahanam kamu Lakasipo! Perempuan itu ialah istriku sendiri! Mengapa kamu sebut saya melaksanakan kekejian! Dan beraninya kamu menghina para Dewa dan para Peri!"
"Latandai! Raut wajah dan bentuk tubuhmu boleh berubah mirip sediakala! Tapi hati bejat dan otak jahat tetap mendekam di dalam dirimu!"
"Sudah! Jangan bicara banyak! Kalau kamu memang mau mati , saya bisa memberi cara yang tercepat!" Lalu Latandai pukulkan dua tangannya ke depan. Dua lusin sinar hitam menggebubu. Latandai lepaskan dua pukulan Selusin Bianglala Hitami
Luhkimkim , Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol yang menyaksikan perkelahian itu dari balik besar tersentak kaget melihat kehebatan serangan yang dilancarkan Latandai.
Sederetan batu-batu besar di depan sana hancur berkeping-keping dilanda pukulan sakti yang dilancarkan Latandai. Tapi Lakasipo sendiri sudah lenyap Selagi Latandai berusaha mencari di mana lawannya berada tiba-tiba dari samping terdengar bunyi rantai bergemerincingan disertai sambaran sebuah bola kerikil ke arah dadanya..
Latandai cepat jatuhkan diri ke samping kemudian berguling menjauh. Dari jarak tiga tombak kembali ia menggempur dengan pukulan dua belas jalur sinar hitam. Walau bisa mengelak namun lambat laun Lakasipo terdesak juga. Melihat hal ini Wiro segera berkata pada Luhkimkim. "Kalau Lakasipo berkelahi dalam jarak terlalu renggang , dirinya bisa celaka. Lekas kamu berteriak padanya. Beri peringatan biar ia berkelahi dalam jarak dekat. Orang kondor mirip Latandai pasti tak bisa bergerak gesit dan cepat lantaran keberatan di selangkangannya!"
Bukannya mengikuti apa yang dikatakan Pendekar 212 , anak wanita berjulukan Luhkimkim itu malah bertanya. "Apa artinya kondor?"
"Kau ini ada saja yang ditanyakan. Kondor artinya barang si Latandai itu sebesar gentong!"
"Gentong? Apa pula artinya gentong?!"
Wiro garuk-garuk kepala. Naga Kuning akhirnya berkata. "Sobatku Kimkim! Sudah , jangan banyak tanya. Lekas kamu beri tahu saja Latandai. Kalau hingga terlambat ia bisa celaka. Kita semua nanti juga ikutikutan celaka!"
Mendengar kata-kata Naga Kuning yang ada di telapak tangannya itu Luhkimkim segera berteriak.
"Bapak Lakasipo , hadapi lawanmu dalam jarak pendek! Dia ada kondornya! Kondornya ada gentongnya! Pasti tak bisa bergerak cepat kalau diserang dari dekat! Kalau dari jauh kondornya bisa leluasa!"
Wiro tertawa bergelak sambil garuk-garuk kepala mendengar teriakan Luhkimkim itu. Naga Kuning tertawa gelak-gelak. Sedang Setan Ngompol terpingkalpingkal dan terkencing-kencing!
Walau tidak begitu terang apa yang dimaksudkan anak wanita itu namun Lakasipo bisa juga menangkap arti ucapan Luhkimkim. Memang jikalau ia menggempur dari jarak jauh berarti lawan akan bisa menghujaninya dengan pukulan-pukulan sakti yang mengeluarkan dua belas jalur hitam maut itu. Maka Lakasipo pusatkan tenaga dalamnya ke kaki. Bola Bola Iblis mengeluarkan bunyi menghentak menggetarkan tanah dan bebatuan di tempat itu begitu Lakasipo melangkah cepat mendekati lawan. Tubuhnya melesat ke udara. Bola kerikil di kaki kanannya menyambar ke kepala lawan. Serangan ini bukan olah-olah hebatnya lantaran mirip diketahui di dalam dua kaki Lakasipo masih tersimpan ilmu kesaktian yang disebut Kaki Roh Pengantar Maut. Di samping itu sesekali Lakasipo barengi pula serangan dua kakinya dengan pukulan sakti Lima Kutuk Dari Langit. Lima sinar hitam menderu ganas. Latandai yang tahu keganasan pukulan lawan tidak berani menyambuti dan semakin terdesak. Dalam keadaan mirip itu terpikir olehnya kalau dirinya kembali mempunyai bara menyala akan lebih gampang baginya menghadapi lawan. Maka dalam hati kemudian ia berdoa meminta. "Wahai para Dewa , Peri dan semua rohl Aku mohon kembalikan diriku menjadi Hantu Bara Kaliatus!"
Tapi tak terjadi apa yang diharapkan. Latandai kembali memohon malah dengan-mengeluarkan bunyi keras. Sampai berulang kali. Tetap saja tidak terjadi apa-apa. "Nenek Hantu Santet Laknat! Wahai di mana kau! Tolong aku. Tolong Aku nek. Kembalikan bara di kepala , dada dan perutku!’ Latandai ganti memohon pada si nenek sakti yang selama ini menguasai otak dan dirinya. Namun sia-sia belaka. Dalam keadaan terdesak salah satu ujung rantai di kaki Lakasipo sempat merobek pipi kirinya hingga terluka besar dan kucurkan darah! Latandai tambah was-was dan kecut ketika dilihatnya Luhsantini siuman dari pingsannya , kemudian terhuyung-huyung melangkah ke arahnya.
"Wahai kerabat yang saya kenal dengan nama Lakasipo!" Luhsantini berseru. "Latandai ialah suami khianat musuh besarku! Serahkan dirinya padaku!"
"Kerabat Luhsantini! Siapapun kamu adanya , kamu berada dalam keadaan terluka! Menyingkirlah! Biar saya mewakilimu menuntaskan urusan dengan insan keji ini!"
"Sayang saya tidak mau diwakili wahai kerabat. Jika kamu tak mau menyerah berarti terpaksa kita menyerangnya bersama-sama!" ujar Luhsantini pula. Walau tangan kanannya patah dan sakitnya bukan main namun amarah dan dendam kesumat yang memperabukan dirinya menciptakan Luhsantini tidak perdulikan semua cidera yang dialaminya. Kalau Lakasipo menyerang dari arah depan maka wanita ini menyerbu dari samping kirinya. Tanpa ampun berulang kali Luhsantini lepaskan pukulan Di Balik Labukit Menghancur Lagunung!
Digempur dahsyat dari dua jurusan menciptakan Latandai terdesak hebat dan leleh nyalinya. Lebih-lebih ketika satu jotosan Luhsantini mengancurkan sambungan siku tangan kirinya hingga lengan kiri itu mulai dari siku ke bawah menjadi buntung!
Kini nyali Latandai benar-benar putus! Sambil melepas pukulan Selusin Bianglala Hitam dua kali berturut-turut untuk melindungi dirinya , ia melompat ke atas sebuah kerikil besar kemudian melayang turun ke bawah dan tahu-tahu secara tak terduga telah menyambar sosok Luhkimkim yang ada di balik batu.
Anak wanita ini terpekik saking kaget , takut dan kesakitan lantaran Latandai mencekal rambut kemudian menyeret Luhkimkim ke arah walet raksasa tunggangannya. Wiro dan Naga Kuning yang masih ada dalam genggaman anak wanita itu tak kalah takutnya. Setan Ngompol jangan dibilang lagi. Begitu Latandai melayang turun menjambak rambut Luhkimkim kakek satu ini sudah terbeser-beser!
Luhsantini dan Lakasipo melompat ke hadapan Latandai. Orang ini ganda tertawa. "Kau ingin membunuhku? Silahkan! Jangan kira saya tidak tega membunuh anak wanita ini?" Luhsantini menyumpah dalam hati. Lakasipo menggeram keras.
"Kemana kamu pergi! Sekalipun ke ujung langit akan kukejar!" teriak Lakasipo.
"Ho… ho! Begitu! Silahkan kejar kaiau kamu mampu!" ejek Latandai. Lalu ia melompat ke atas punggung walet terbang. Luhkimkim yang masih terus dicekalnya diletakkanya di belakang kuduk walet. "Selamat tinggal para kerabat! Selamat tinggal Lakasipo malang. Selamat tinggal Luhsantini jalang! Ha… ha… ha!"
Luhsantini saking marahnya hendak lepaskan satu pukulan tangan kosong jarak jauh dengan tenaga dalam penuh. Tapi Lakasipo cepat pegang tangan wanita itu. "Jangan. Kalau pukulanmu meleset anak wanita itu bisa celaka. Lagi pula dalam genggamannya ada tiga orang saudaraku!"
Walau tidak mengerti apa atau siapa yang dimaksud Lakasipo dengan tiga orang saudaranya itu namun Luhsantini urungkan niatnya untuk menghantam.
Sementara itu walet tunggangannya semakin tinggi , naik keudara. Suara gelak tawa Latandai masih terdengar di atas sana. Di dalam genggaman Luhkimkim yang gemetaran ketakutan , Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol merasa sudah terbang nyawa masing-masing.
"Celaka kita semua. Celaka sahabatku Luhkimkim" ujar Naga Kuning.
Tiba-tiba dari langit sebelah timur ada satu sinar biru terang sekali. Makin lama makin besar dan bergerak ke bawah ke arah walet terbang. Sesaat kemudian cahaya biru itu berkembang menjadi sosok seorang wanita yang bergoyang-goyang mirip asap. Bersamaan dengan itu bacin harum semerbak memenuhi udara.
"Peri Bunda!" seru Lakasipo dan Luhsantini begitu ia melihat lebih terang dan mengenali siapa adanya sosok biru , di atas sana. Kedua orang ini segera jatuhkan diri berlutut. Sampai ketika itu Lakasipo secara tidak sadar masih memegangi tangan kiri Luhsantini yang tadi hendak memukul. Luhsantini sendiri tidak pula berusaha untuk melepaskan tangannya dari pegangan orang.
Latandai yang ada di atas walet terbang jadi berubah kecut tampangnya ketika ia melihat siapa yang muncul dari langit di atasnya. Dia berusaha mempertenang diri lantaran hingga ketika itu masih menguasai Luhkimkim yang tetap terus dijambaknya. "Kalau Peri itu berbuat macam-macam kupecahkan kepala anak ini!" kata Latandai dalam hati.
"Wahai Latandai insan culas!" Peri Bunda berseru.
Mahkota di kepalanya mengeluarkan sinar berkilauan. Pakaiannya yang berupa gulungan selendang biru panjang melambai-lambai. "Istrimu memohon pengampunan secara ikhlas. Ternyata petunjukku dan kemauan baik istrimu kamu salah gunakan. Kau pakai untuk menipu. Hukuman tak bisa lepas darimu Latandai!"
"Peri Agung! Jika kamu berani mencelakai diriku , anak wanita ini akan kulempar ke bawah sana! Biar kepalanya mendarat hancur di atas bebatuan!" Latandai mengancam.
Peri Agung tersenyum. "Kau ingin membunuh anak itu! Jatuhkanlah kini juga! Aku peri Bunda tidak tergoda ancamanmu!"
"Peri jahanam!" rutuk Latandai. Nekad sudah orang ini. Jambakannya di rambut Luhkimkim diperkencang. Lalu dengan satu betotan keras anak itu dilemparkannya ke bawah.
Luhkimkim menjerit keras. Tangannya yang menggenggam Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol terbuka. Tak ampun lagi ketiga orang ini melayang jatuh sama-sama memekik. Di bawah sana Luhsantini dan Lakasipo tak kalah kagetnya dan keluarkan seruan tertahan. Hanya beberapa ketika lagi tubuh Luhkimkim akan jatuh di atas bebatuan disusul oleh tubuh Wiro dan kawan-kawannya , tiba-tiba ujung pakaian biru Peri Bunda melesat bergulung-gulung ke bawah , menyambar tubuh Luhkimkim sehingga anak ini merasa mirip di ayunan. Waktu pakaian menggulung tubuh anak wanita itu tiga sosok tubuh Wiro dan kawankawannya ikut tergulung.
"Hai apa yang terjadi?!" teriak Setan Ngompol yang sudah berair kuyup aurat sebelah bawahnya.
"Kita melayang dalam gulungan pakaian makhluk gila di atas sana!’ ujar Wiro.
Walah! Aku tahu kita berada di mana! Kita memang tergulung tapi saya berada di atas dada Luhkimkim! Maut mengintai tapi rejeki besar yang kudapati Hik…hik..: hik!" Itu suaranya Naga Kuning.
Tubuh Luhkimkim mendarat lembut di Atas sebuah kerikil besar. Begitu juga Wiro , Naga Kuning dan Setan Ngompol yang ada di atas dada wanita Ini. Luhkimkim cepat memegang tiga sahabat kecilnya itu kemudian berlutut sambil dongakkan kepala ke atas dan berkata "Peri Bunda , Peri Agung , saya Luhkimkim mengucap kan terima kasih atas pertolonganmu."
"Anak baik anak berbudi saya mengucapkan terima kasih kembali Jaga baik-baik tiga temanmu…" rnenyahuti Peri Agung sambil tersenyum.
"Makhluk berjulukan Peri Agung itu ternyata memang anggun ," bisik Setan Ngompol ke indera pendengaran Wiro kemudian senyum-senyum sendiri sambi! memandang ke atas. Sementara itu Luhsantini dan Lakasipo segera mendatangi Luhkimkim.
Di atas sana , di punggung walet Latandai jadi gundah sendiri dalam kecutnya. Tiba-tiba digebraknya tubuh hewan itu. Namun sebelum hewan ini melayang terbang menjauhi Peri Bunda , tahu-tahu sang Peri sudah berada di hadapannya. Telapak tangan kirinya diacungkan ke depan kepala walet hingga hewan ini seperti kaku tak bisa bergerak barang sedikitpun.
"Latandai! Aku terpaksa menjatuhkan eksekusi atas dirimu sekali lagi. Kau akan menjadi makhluk berjulukan Hantu Bara Kaliatus kembali! Namun kamu tidak mempunyai kesaktian apa-apa. Dua ratus bara api akan kususupkan dalam perutmu! Seumur-umur kamu akan hidup dengan sekujur tubuh mirip dipanggang!"
Peri Bunda angkat tangan kanannya kemudian dua jari menjentik. Dua ratus sinar merah sebesar ujung ibu jari kaki , entah dari mana datangnya melesat masuk ke dalam perut Latandai. Dari luar perut itu kelihatan memancarkan sinar terang bara api. Latandai menjerit keras tiada hentinya
Peri Bunda tarik tangan kirinya. Walet yang tadi mengapung kaku tak bergerak kini kepakkan sayapnya kemudian terbang menuju ke barat. Di atas punggungnya Latandai terbaring menelungkup kelojotan dan terus berteriak-teriak. Bersamaan dengan itu sosok Peri Bunda melesat ke atas kemudian lenyap seolah menembus langit.
"Luhkimkim , kamu tak apa-apa?" tanya Lakasipo
sambil membantu anak wanita itu berdiri. Si anak yang masih dicekam ketakutan hanya menjawab dengan gelengan kepala. Lalu tangan kirinya diulurkan.
"Ha… ha…! Wahai tiga saudaraku! Syukur kalian juga selamat! Aku tadi sudah sangat khawatir! Agar tidak kena celaka lagi biar kalian kumasukkan kembali ke dalam kocek!"
"Kami lebih suka dipegang oleh Luhkimkim saja!" kata Naga Kuning cepat-cepat sambil senyum-senyum.
"Makhluk-makhluk aneh. Manusia , atau apa mereka itu? Bagaimana kamu menyampaikan mereka ialah saudara-saudaramu wahai Lakasipo?" tanya Luhsantini.
"Panjang ceritanya. Kalau kamu suka akan kuceritakan dalam perjalanan…."
"Eh , memangnya kita mau mengadakan perjalanan kemana? Tempat tinggalku ialah di daerah ini…" kata Luhsantini pula.
Air muka Lakasipo jadi kemerah-merahan. "Maksudku…. Hemm , saya menduga apa gunanya kamu memencilkan diri terus menerus di tempat sunyi ini. Lebih baik kembali ke Negeri Latanahsilam bersama kami!"
"Berat bagiku untuk kembali ke sana wahai Lakasipo. Hidup ini sudah terlanjur bergelimang derita…. Aku lebih suka pergi ke tempat yang lain. Mungkin saya akan mencari puteraku yang hilang…."
"Jika kamu suka saya mau membantu mencari puteramu itu. Namun itu bukan pekerjaan gampang lantaran kabarnya ia telah masuk ke dunia para saudarasaudaraku ini…. Tapi tidak ada salahnya berusaha. Asalkan sebelum melaksanakan pencarian kita ke Lanahsilam dulu untuk sama-sama mengantarkan anak wanita ini. Lagi pula tanganmu yang patah perlu rawat."
Luhsantini termangu sejenak. Sepertinya ia tengah menimbang-nimbang. Sesekali ia melirik pada Lakasipo. Di atas tangan Luhkimkim Naga Kuning berbisik.
"Kurasa wanita itu naksir sama Lakasipo. Tapi mungkin merasa gundah , bagaimana ya rasanya kalau punya kekasih yang dua kakinya dibungkus kerikil mirip bola…?’
"Salah-salah lagi asyik bercumbu kaki sang kekasih bisa ketiban gandulan kerikil itu!" menyahuti Wiro.
Ketiga orang itu tertawa terpingkal-pingkal. Bersamaan dengan itu Lakasipo sendiri secara tak sengaja memperhatikan dua kakinya. Dalam hati lelaki ini membatin. "Mungkin keadaan dua kakiku ini yang menciptakan Luhsantini tidak mau melaksanakan perjalanan bersama-sama." Menyadari keadaan dirinya Lakasipo kemudian menaikkan Luhkimkim ke atas punggung kuda kaki enam Laekakienam. Ketika Lakasipo sudah berada di punggung hewan raksasa itu Luhsantini masih tegak termangu.
"Selamat tinggal wahai Luhsantini. Aku tidak memaksa kamu ikut bersama kami. Kemana pun kamu pergi berlakulah hati-hati."
Luhsantini anggukkan kepala mendengar ucapan Lakasipo itu. Ketika kuda kaki enam ‘itu mulai melangkah wanita ini bertanya.
"Apa masih cukup tempat bagiku di punggung kuda itu?"
Lakasipo tertawa lebar. Dia melompat turun. Menolong Luhsantini naik ke atas kuda kemudian melompat naik dan duduk di belakang Luhsantini.
"Wah , kalau begini biar yang dua orang itu bahagia , lebih baik kita mencari jalan jauh berputar. Biar lama Hik… hik… hik!" Naga Kuning tertawa cekikikan.
"Sebenarnya bukan cuma Lakasipo dan Luhsantini yang ingin dan merasa senang. Kau juga kan?!" kata Wiro pula.
"Sssst… jangan bicara keras-keras! Nanti Lakasipo mendengar! Kita bertiga nanti bisa masuk ke dalam kocek bacin pesing itu!" Naga Kuning tertawa geli.
"Bagaimana rasanya tadi menempel di dada anak itu waktu jatuh dari atas walet…?" Setan Ngompol bertanya.
"Kakek gendeng!" ujar Naga Kuning akal-akalan marah. Lalu menyambung ucapannya. "Kalau ada kesempatan lagi saya mau-mau sajal Hik… hik… hik!"

TAMAT
Segera terbit!!!
PERI ANGSA PUTIH

No comments for "Hantu Bara Kaliatus WIRO SABLENG Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"