Tipu Daya Para Iblis WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito

WIR0 SABLENG

Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212

Karya: Bastian Tit0

EP : MUSLIHAT PARA IBLIS
BAB I

WALAU saat itu masih sangat pagi dan sang surya belum muncul namun Lawunggeni merasa kerikil di atas mana beliau duduk bersila tak ubahnya mirip bara. Untuk beberapa lamanya 0rang tua ini memandang dengan mata mendelik tak berkesip pada lelaki separuh baya yang duduk di depannya. Keadaan Lawunggeni baik pakaian maupun tubuhnya sungguh mengenaskan. Dulu pakaian yang dikenakannya yaitu pakaian bagus terbuat dari materi mahal. Kini pakaian itu hanya tinggal p0t0ngan-p0t0ngan kain c0mpang-camping , k0t0r dan bau. Kulit muka dan tubuhnya hitam melepuh padahal dulu beliau mempunyai kulit kuning bersih. Keganasan bahari telah merubah 0rang tua ini mirip jerangk0ng hidup. 0rang yang dipandang bersikap tenang. Balas memandang se0lah tanpa rasa. Hal ini menciptakan Lawunggeni menjadi geram. Pelipisnya bergerak-gerak dan rahangnya menggembung tanda beliau berusaha menahan amarah.
“Pangeran S0ma!” tegur Lawunggeni. Suaranya perlahan tapi tajam mendesis.
“Harap kau mau menggunakan pikiran dan perasaan. Hampir enam bulan saya mengarungi bahari selatan untuk mencarimu. Kulitku melepuh hangus , pakaian di tubuh hancur luluh , kulitku hitam terbakar sengatan matahari. Tubuhku berubah se0lah jerangk0ng hidup! Dan kau menyambut kedatanganku se0lah saya ini cuma patung hidup atau kerikil tanpa nyawa! Padahal sudah kukatakan. Aku mengarung lautan menyabung nyawa untuk mencarimu demi kesembuhan adik perempuanmu satu ayah!”
Lelaki separuh baya yang dipanggil dengan sebutan Pangeran S0ma sama sekali tidak bergerak bahkan wajahnya yang setengah putih setengah biru tidak bergeming memperlihatkan perubahan. Sepasang matanya sama sekali tidak memantulkan perasaan apa-apa. Di dalam mulutnya gigi-giginya bergerak mengunyah sirih campur tembakau.
”Kau tahu saya tiba tapi kau buta. Kau mendengar apa yang kusampaikan namun kau mirip tuli! Hatimu telah bermetam0rf0sis batu! Mungkin kau sudah bukan insan lagi Pangeran. Kau sama sekali tidak punya perasaan…!”
Perlahan-lahan lelaki separuh baya itu angkat kepalanya , menengadah memandang ke langit yang masih dibungkus kegelapan. Mulutnya bergerak menyunggingkan seringai kemudian terbuka.
“Aku ingin tanya padamu wahai utusan Sri Baginda yang tiba dari jauh dan katanya menyabung nyawa demi kesembuhan se0rang gadis. Ketika Sri Baginda menyuruh 0rang membuang s0s0k bayiku dari istana lantaran malu mempunyai se0rang putera yang cacat muka , apakah beliau menggunakan pikiran dan punya perasaan?! Dia mendengar nasehat para abdi dalem tapi telinganya tertutup se0lah tuli. Hatinya se0lah batu! Ucapanmu barusan mengingatkan saya pada banyak hal di masa silam. Kau tahu dimana ibuku kini berada ki Lawunggeni? Mengalami nasib dibuang atau mungkin juga telah disingkirkan dari muka bumi?!! Atas perintah Sri Baginda yang mengutusmu tiba kemari!”
“Pangeran S0ma , apa yang telah terjadi tiga puluh tahun silam tak perlu diungkit. Lagi pula Sri Baginda telah memesan. Selain meminta 0bat padamu juga saya diminta membawamu ke K0taraja. Hanya saja mengenai Ibumu… saya tidak tahu menahu. Perempuan itu melenyapkan diri sehari sehabis beliau tahu bahwa kau dibuang.”
“Ki Lawunggeni , kau melaksanakan perjalanan percuma. Kau mengarungi bahari selatan menyabung nyawa sia-sia. Pulanglah , saya tak bisa men0l0ngmu!”
“Pangeran , saya taitu kemampuanmu. Semua tabib di Puri Agung menyampaikan hanya kau yang bisa men0l0ng adik perempuanmu dari sakit lumpuh yang dideritanya…”
“Aku tak bisa men0l0ng apa-apa Ki Lawunggeni. Kembalilah ke K0taraja dan berd0alah. Hanya Tuhan yang bisa men0l0ng gadis itu…”
“Hatimu dicekam dendam Pangeran. Aku tahu hanya kau yang bisa meng0batinya. Kalau tidak saya tak akan bersusah payah tiba ke sini. Kami semua yakin gelarmu Raja 0bat Delapan Penjuru Angin bukan nama k0s0ng belaka. Kalau 0rang lain kau t0l0ng masa kau tidak mau menyelamatkan diri adikmu sendiri walau beliau hanya adik satu ayah?!”
Perlahan-lahan Pangeran S0ma turunkan kepalanya. Sepasang matanya menatap pada 0rang tua utusan Kerajaan itu. Dipandang begitu rupa Ki Lawunggeni menjadi gelisah.
“Ki Lawunggeni , apakah kau melihat t0pan mengamuk malam tadi di lautan?!”
Ki Lawunggeni menjadi heran. “Aneh ,” katanya dalam hati. “Lain yang dibicarakan lain yang ditanyakannya! Jangan-jangan insan satu ini sudah tidak waras lagi pikirannya!”
“Aku bertanya Ki Lawunggeni!”
“Aku tidak mengerti maksud pertanyaanmu Pangeran. Tapi saya ingat betul malam tadi tidak ada t0pan mengamuk di tengah laut.”
“Hemmm… itu berarti alam tidak menyukai kehadiranmu di tempat ini!” ujar Pangeran S0ma. “Sekali lagi kukatakan kembalilah ke k0ra saja. Bawa kembali hadiah yang kau bawa ini! Pangeran S0ma g0yangkan kepala ke arah seperangkat p0ci-p0ci tempat sirih terbuat dari emas yang diletakkan di atas kerikil di hadapannya. “Aku hidup di alam , berteman dan menyatu dengan alam. Aku tidak butuh benda-benda itu.”
Lama Ki Lawunggeni terdiam. Semakin ditatap wajah Pangeran S0ma yang biru sebelah itu semakin berk0bar rasa jengkelnya. Dengan perilaku kasar perlengkapan tempat sirih itu dimasukkannya ke dalam kant0ng kain. Lalu beliau berdiri. Sebelum memutar tubuh beliau berkata. “Ternyata saya menemui sese0rang yang tidak mirip saya perkirakan. Tugas sebagai se0rang tabib penyembuh tidak mengenal kebencian. Sekalipun musuh wajib dit0l0ng. Aku tiba ke tempat yang salah. Kasih sayang sejati ternyata belum menjamah hati sanubarimu Pangeran. Selamat tinggal!”
“Tunggu dulu Ki Lawunggeni!” ujar Pangeran S0ma alias Raja 0bat Delapan Penjuru Angin tiba-tiba. Dua jari tangannya diluruskan kemudian ditusukkan ke kerikil merah di hadapannya. Dua jari tembus ke dalam batu. Ketika ditarik , dua keping kerikil yang pecah ikut terangkat. Pangeran S0ma cepat menggenggam dua keping kerikil merah yang kemudian meremasnya.
“Ulurkan tanganmu Ki Lawunggeni!”
Walau terkesiap Ki Lawunggeni ulurkan tangan kanannya.
“Kembangkan telapak tanganmu.”
Kembali Lawunggeni melaksanakan apa yang dikatakan 0rang. Telapak tangan kanannya dikembangkan lebar-lebar. Pangeran S0ma buka tangan kanannya yang menggenggam. Dari tangan yang terbuka itu mengucur keluar kerikil merah yang tadi diremasnya dan telah bermetam0rf0sis bubuk.
“Minumkan bubuk kerikil merah itu pada 0rang yang sakit. Ampasnya jadikan lulur untuk kedua kaki yang lumpuh.”
“Bubuk batu…” ujar Ki Lawunggeni dalam hati. “Baru kali ini saya mengetahui bubuk kerikil dijadikan 0bat. Apakah bisa mujarab?” Ada keraguan dalam diri suruhan Sri Baginda dari K0taraja ini.
“Aku sanggup membaca apa yang ada dalam pikiranmu , Ki Lawunggeni ,” tiba-tiba Raja 0bat Delapan Penjuru Angin berkata. “Jika ada keraguan dalam hatimu silahkan kau buang saja bubuk itu. Kembali ke K0taraja dengan berhampa tangan!”
Ki Lawunggeni mirip disentakkan mendengar ucapan Pangeran S0ma itu. “Luar biasa. Bagaimana beliau bisa membaca apa yang ada dalam benakku!” Namun sadar kalau 0rang telah memperlihatkan 0bat yang dimintanya , maka beliau cepat-cepat membungkuk.
“Maafkan diriku. Aku telah salah menduga. Perjalananku ke sini ternyata tidak sia-sia. Terima kasih Pangeran. Terima kasih banyak…”
“Pergilah…”
Ki Lawunggeni kembali membungkuk. “Kalau begitu biar kutinggalkan benda ini…” Si 0rang tua letakkan kant0ng kain berisi seperangkat tempat sirih dari emas itu di atas batu.
Pangeran S0ma menggeleng. “Aku tidak membutuhkan benda itu. Bawa saja…”
“Terima kasih… Aku pergi sekarang…”
Sesaat sehabis Ki Lawunggenl meninggalkan tempat itu Pangeran S0ma alias Raja 0bat Delapan Penjuru Angin bangun berdiri. Dia tegak tepat di atas kerikil merah yang tadi dicungkilnya hingga berlubang. Mulutnya k0mat-kamit beberapa kali. Ketika ekspresi itu dibukanya cairan merah meluncur jatuh. Sesaat kemudian l0bang kerikil yang tadi pecah tertutup , rata utuh mirip semula.
Pangeran S0ma menarik napas panjang. Dia menatap ke tengah bahari sementara di kejauhan ada sinar kuning se0lah mencuat keluar dari dasar samudera. Itulah sinar pertama sang surya yang mulai terbit. Mendadak Pangeran S0ma pejamkan kedua matanya. Telinganya dihadapkan ke arah lautan lepas.
“Ada anak insan karam di dalam laut. Pusaran air tidak membuatnya mati. Arus dasar bahari selatan menggiringnya ke dalam ter0w0ngan sebelah atas. Kalau saja saya bisa menghadangnya sebelum jatuh ke dalam ter0w0ngan sebelah bawah , mungkin saya bisa menyelamatkannya… Tiga mimpiku secara beruntun rupanya menjadi kenyataan. Aku melihat bahtera besar dan bahtera kecil. Aku mendengar bunyi jeritan se0lah membelah langit. Agaknya saya akan mendapat mitra penghuni pulau kerikil merah ini. Samakah malang nasibnya dengan diriku?”
Manusia bermuka biru sebelah ini , yang punya kesaktian meng0bati dengan remasan kerikil merah melangkah cepat menuju ke p0t0ngan selatan pulau kerikil itu.

***


BAB II
S0S0K tubuh Ki H0k Kui karam ke dasar laut. Empat jalur darah yang keluar dari dua tangan dan dua kakinya yang buntung kelihatan mengerikan. Adalah aneh belasan ikan hiu ganas yang ada di sekitar situ tak seek0rpun memburu dan menjadikannya mangsa. Hanya beberapa dikala lagi tubuh Ki H0k Kui akan hingga di dasar bahari tiba-tiba satu pusaran air menyed0tnya. Tubuh buntung itu tertarik ke atas kemudian diseret ke arah pulau kerikil merah. Kejadiannya cepat sekali. Di lain kejap s0s0k Ki H0k Kui lenyap!
Apa yang telah terjadi?
Dalam keadaan tidak sadar diri Ki H0k Kui terseret masuk ke dalam sebuah ter0w0ngan batu. Di satu tempat ketika air bahari tidak lagi menggenangi ter0w0ngan , kalau tadi tubuhnya mirip melayang dalam air bahari maka kini tubuh itu berguling-guling mirip b0la.
“Braaakk!”
S0s0k Ki H0k Kui melabrak dinding batu. Ternyata ter0w0ngan itu buntu. Namun tepat di p0t0ngan yang buntu , sebelah atasnya terdapat satu l0bang besar. Di sebelah atasnya lagi l0bang itu dikelilingi 0leh gundukan batu-batu merah tinggi dan runcing. Sese0rang yang berada di luar sana tidak akan gampang mengetahui kalau di tempat itu ada sebuah l0bang batu.
Sepasang kaki tersembul dari balik jubah putih yang berkibar-kibar ditiup angin laut. Itulah kaki Pangeran S0ma alias Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. Dia berdiri di p0t0ngan datar yang sempit di tepi l0bang batu. Sinar matahari yang gres terbit menerangi pinggiran l0bang dan menyeruak ke bawah. Ketika Pangeran S0ma memperhatikan ke dalam l0bang berubahlah parasnya. Sesaat matanya terpejam dan mulutnya berucap. “Ini 0rang Cina yang saya lihat dalam mimpiku. Ternyata anak insan ini bernasib jauh lebih malang dari diriku. Gusti Allah , mengapa malapetaka begitu berat kau timpakan pada dirinya? Tantangan apakah yang hendak kau berikan padaku ya Allah?”
Pangeran S0ma membuka kembali kedua matanya dan memperhatikan ke dalam l0bang kerikil merah. “Dua tangan dan dua kaki buntung. Seperti ditebas senjata tajam. Mukanya tak bisa kulihat terang , bergelimang dengan darah. Ada sesuatu melekat… ada sesuatu terikat di dadanya…” Pangeran S0ma merunduk. Kepalanya diturunkan hingga masuk sejauh dua jengkal ke datam l0bang batu. “Sebuah kitab…” desis lelaki ini. Dia membuka matanya lebar-lebar. Berusaha membaca g0resan pena yang tertera di sampul kitab.
Hanya sebagian yang bisa dibacanya lantaran sebagian lagi tertutup 0leh bayangan gelap kerikil g0a yang tidak tersentuh sinar matahari. Namun Pangeran S0ma sudah bisa menduga. “Kitab Putih Wasiat Dewa…” ucapnya dengan bunyi bergetar. Kembali beliau teringat pada tiga kali mimpi yang dialaminya. “Tuhan Maha Benar. Petunjuk dalam mimpi terang adanya. Gusti Allah… Apa yang harus saya lakukan? Beri saya petunjuk lebih lanjut.”
Lama Pangeran S0ma menatap s0s0k tubuh Ki H0k Kui yang terlentang di dasar l0bang pada ujung ter0w0ngan buntu. “Lukanya akan membusuk… beliau akan mati. Tuhan , dengan kuasaMu saya ingin men0l0ngnya. Dengan kuasaMu selamatkan nyawa 0rang ini.”
Tangan kanan Pangeran S0ma bergerak ke arah satu gundukan kerikil merah runcing di samping kirinya.
”Traakkk!”
Ujung runcing itu dipatahkannya. Lalu tangannya meremas. Perlahan-lahan tangan itu diturunkan sedalam mungkin ke dalam l0bang batu. Lalu lima kali berturutturut genggamannya dibuka. Pada genggaman pertama kerikil merah yang telah jadi bubuk jatuh bertabur dan masuk ke dalam ekspresi Ki H0k Kui. Taburan kedua dan ketiga jatuh pada buntungan luka di tangan kiri kanan. Bubuk-bubuk kerikil merah keempat dan kelima menyiram di atas luka buntung dua kaki Ki H0k Kui. Dari ekspresi dan empat p0t0ngan tubuh yang kejatuhan bubuk kerikil merah itu kelihatan keluar kepulan asap. Pangeran S0ma menarik napas lega. “Tuhan , Kau t0l0ng 0rang ini…”
Namun kelegaan Raja 0bat Delapan Penjuru Angin ini hanya sesaat. Tiba-tiba beliau mencicipi kerikil merah tempatnya berpijak bergetar keras. Tubuhnya terg0ntai-g0ntai. Pemandangannya nanar. Sepasang lututnya berg0yang g0yah. Makin usang getaran itu semakin keras.
“Gempa!” seru Pangeran S0ma.
”Rrrrrkkkk… Kraaaakkkk!”
Pangeran S0ma cepat membuang diri ke samping supaya tidak terjerembab masuk ke dalam l0bang batu. Untuk beberapa lamanya beliau duduk terhenyak di antara dua gundukan kerikil merah. Ketika getaran lenyap tanda gempa berakhir perlahan-lahan beliau berdiri. Yang diperhatikannya pertama kali yaitu lubang kerikil itu. Begitu beliau memandang ke dalam berubahlah paras sang Pangeran.
S0s0k tubuh Ki H0k Kui tidak ada lagi di dasar l0bang. Dasar l0bang itu sendiri kini kelihatan terbelah rengkah.
”Tubuh 0rang itu pasti jatuh ke dalam ter0w0ngan sebelah bawah. Aku tak mungkin men0l0ngnya. Hanya kuasa Tuhan yang bisa menyentuhnya…”
Perlahan-lahan Pangeran S0ma bangun berdiri. Sambil melangkah mundur melewati celah dua kerikil runcing kedua matanya masih terus memandangi l0bang kerikil itu.

***

BAB III
DUA kuda hitam berlari kencang menembus kabut dini hari. Kegelapan perlahanlahan sirna begitu sang surya muncul menyapu permukaan lereng gunung. Kabut pun menghilang. Butiran-butiran embun di dedaunan menguap pupus. Dua penunggang kuda se0lah berpacu supaya lebih dulu hingga di puncak gunung Merapi. Bau busuk aneh membersit mengikuti kemana mereka pergi. Bila sese0rang tidak tahu siapa adanya mereka atau tidak pernah melihat tampang-tampang keduanya pastilah akan menduga bahwa jangan-jangan dua 0rang ini bukan insan tetapi sebangsa setan atau jin yang gentayangan semenjak pagi buta.
Penunggang kuda di sebelah kanan mengenakan jubah hitam. Mata kanannya besar mendelik sedang mata kiri kecil se0lah terpejam. Kepalanya sulah licin di p0t0ngan kiri tapi berambut tebal berserakan di sebelah kanan. Pada keningnya 0rang ini mempunyai tiga guratan aneh. Wajahnya yang garang angker ibarat setan tertutup kumis dan cambang bawuk lebat.
Temannya yang memacu tunggangannya di sebelah kiri mengenakan pakaian terbuat dari kain tebal k0t0r dan r0mbeng. Mukanya tak kalah mengerikan dari kawannya lantaran penuh cacat mirip daging dicacah. Selain itu p0t0ngan bawah kel0pak kedua matanya menggembung merah dan selalu basah. Antara dua mata yang angker tapi juga menjijikkan ini terpancang satu hidung tinggi bengk0k mirip paruh burung elang. Kedua lengannya penuh bulu. Jari-jarinya bukan mirip jari insan lantaran berbentuk cakar dengan kuku-kuku hitam panjang mengandung racun. Di punggungnya tergantung satu kant0ng kain yang tadinya berwarna putih tapi kini kelihatan merah 0leh n0da darah yang mulai mengering. Entah apa isinya bungkusan ini tapi yang terang dari bungkusan itulah membersit sumber wangi sangat busuk itu! Dari ciri-ciri dua 0rang ini terang mereka bukan lain yaitu dua bersaudara sumpah darah Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.
Seperti dituturkan dalam Epis0de II (Wasiat Dewa) mereka ditipu 0leh Pangeran Matahari sehingga menenggak racun yang akan membunuh mereka dalam temp0 300 hari. Sang Pangeran tidak percaya bahwa dua kaki tangannya itu telah benar-benar berhasil membunuh Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wir0 Sableng kecuali jikalau mereka bisa membawa ke hadapannya kepala Pendekar 212. Selama hal itu tidak mereka laksanakan maka Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tidak akan mendapatkan 0bat pemusnah racun. Makara mereka hanya tinggal menunggu mati saja.
“Saudaraku Elang Setan!” berseru Tiga Bayangan Setan. “Bagaimana kalau Pangeran celaka itu tidak memperlihatkan 0bat pemusnah racun tiga ratus hari yang mendekam dalam tubuh kita?!”
Elang Setan menyeringai. “Kali ini kurasa beliau tidak punya alasan. Kalaupun beliau mungkir saya sudah nekad untuk mengadu jiwa! Bagaimana dengan kau?!”
“Aku akan bertindak lebih cerdik darimu!” jawab Tiga Bayangan Setan.
”Hemmm… apa maksudmu?!”
“Aku akan berusaha mencuri Kitab Wasiat Iblis yang dimilikinya terlebih dulu. Selama kitab sakti itu berada di tangannya sulit bagi kita untuk membunuhnya. Ingat insiden di dekat sumur kerikil di bukit itu waktu beliau membunuh Iblis Tua Ratu Pes0lek? Kitab iblis itu tidak bisa dibentuk main!”
“Kau betul ,” kata Elang Setan pula. “Kita harus memancingnya demikian rupa. Kalau beliau sudah dibikin mampus pada salah satu kant0ng pakaiannya pasti akan kita temui 0bat pemusnah racun itu!”
Jalan menuju ke puncak gunung semakin mendaki tajam , penuh dengan batu-batu terjal. Di satu tempat kedua 0rang ini turun dari kuda masing-masing , melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Mereka sama sekali tidak memperdulikan indahnya pemandangan di kejauhan. Yang mereka pikirkan dikala itu yaitu secepatnya mencapai puncak gunung Merapi tempat kediaman Pangeran Matahari guna menuntaskan urusan. Sementara itu di puncak gunung , tak berapa jauh dari sebuah bangunan dua 0rang gadis asyik bermain air di telaga dangkal berair jernih dan sejuk. Rambut mereka yang panjang berair riap-riapan di punggung mereka yang putih. Tiba-tiba gadis di sebelah kanan berbisik pada gadis satunya.
“Pangeran datang…”
“Hemmmm…Kalau begitu kau pergilah. Bukankah hari ini giliranku untuk bersenang-senang dengannya?”
“Jangan berkata begitu. Apa kau lupa sang Pangeran se0rang lelaki berpengaruh perkasa?!”
“Gila , saya tak suka bercumbu kalau ada gadis lain di dekatku!”
Gadis di sebelah kanan tertawa geli. “Apa kau lupa kita ini bahwasanya sudah bukan gadis lagi? Kita telah memperlihatkan semua yang kita miliki pada pangeran itu!”
“Terserah kau mau bicara apa. Tapi saya tidak sudi beliau mencumbu kita berdua sekaligus…”
“Jangan ndes0 , mengapa kau sengaja melewatkan pengalaman yang sangat hebat ini?!”
Pemuda bertubuh kekar , berambut tebal hitam yang melangkah cepat menuju telaga sunggingkan senyum kemudian berseru.
“Kekasih-kekasihku cantik! Mengapa kalian mendahului mandi di telaga?”
“Maafkan kami Pangeran.” jawab gadis yang berada di tepi telaga. ”Pangeran kami lihat masih tidur nyenyak. Mana kami berani membangunkan.”
“Pangeran tampak letih. Kami sengaja membiarkan supaya Pangeran bisa istirahat…” menambahkan gadis satunya.
“Aku Pangeran Matahari letih?” Lelaki itu tertawa gelak-gelak kemudian buka mantel hitamnya. “Akan saya buktikan pada kalian berdua dikala ini juga bahwa saya tidak pernah mengenal letih!”
Gadis di pinggir telaga tersenyum genit sedang kawannya tampak bersemu merah wajahnya.
Pangeran Matahari buka mantel hitamnya. Ketika bajunya ditanggalkan dua gadis melihat sebuah kitab hitam terikat di dadanya yang tegap ber0t0t dan berbulu.
“Pangeran… Kau selalu membawa kitab itu kemana kau pergi. Rupanya kitab itu sangat penting bagimu…”
“Kitab ini merupakan nyawa kedua bagiku!” jawab Pangeran Matahari seraya meletakkan pakaiannya di tepi telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya hati-hati sekali di atas bajunya kemudian dibungkusnya dengan baju itu.
Air telaga muncrat menyiprat ke atas ketika c0w0k itu mel0mpat masuk ke dalam telaga. Dua gadis berpekikan. Yang satu merasa bangga dan eksklusif mendekati sang Pangeran. Gadis kedua tertegun di tengah telaga dengan muka merah. Tiba-tiba beliau melihat dua s0s0k mendatangi dari arah kiri telaga.
“Pangeran , ada yang datang…” Si gadis memberi tahu.
Pangeran Matahari palingkan kepala. “Jahanam-jahanam itu tiba pada waktu yang salah!” rutuk Pangeran Matahari. Lalu hidungnya mencium wangi busuk.
Elang Setan dan Tiga Bayangan Setan nampak terkejut ketika mendapatkan 0rang yang mereka cari ternyata tidak sendirian berada di telaga itu. Walau ada firasat sang Pangeran akan murka besar namun mereka tidak mau melepaskan pandangan mata dari dua s0s0k tubuh bagus dua gadis yang ada dalam telaga , yang satu malah berada dalam dekapan Pangeran Matahari.
”Bangsat! Siapa yang menyuruh kalian kemari?!” hardik Pangeran Matahari.
“Kami tidak menemuimu di rumah sana kemudian tiba ke sini. M0h0n maafmu Pangeran lantaran tidak mengira kalau kau tidak sendirian di sini…” jawab Elang Setan.
“Jangan berani melangkah lebih dekat! Kembali ke rumah dan tunggu saya di sana!”
“Kami akan menunggu sesuai perintahmu Pangeran ,” jawab Elang Setan seraya membungkuk. Tiga Bayangan Setan juga ikut membungkuk memberi h0rmat.
“Tunggu dulu! Apa kalian tiba membawa g0sip baik?!”
Elang Setan mengangguk. Dia angkat bungkusan kain yang dipanggulnya di pundak kiri. Bau busuk menyengat menciptakan dua gadis cepat menutup hidung.
“Hemmmmm…” Pangeran Matahari menyeringai. “Kalau begitu kalian lekas ke rumah. Aku segera menyusul!”
“Pangeran! Kita belum mandi bersama. Kita belum…” berkata gadis dalam rangkulan Pangeran Matahari.
Sang Pangeran lepaskan rangkulannya. Setelah membenamkan hidungnya di celah dada si gadis beliau berbisik.
“Ada urusan sangat penting. Aku tak akan lama. Kalian berdua tetap di sini. Aku segera kembali!”
Si gadis mengikuti kepergian Pangeran Matahari dengan pandangan kecewa. Dia berpaling pada temannya di tengah telaga. Lalu dengan muka cemberut beliau berkata. “Dua insan bermuka setan dan wangi busuk itu rupanya lebih penting daripada kita berdua.”
“Aku punya firasat sesuatu yang mengerikan akan terjadi ,” jawab gadis di tengah telaga kemudian berenang menuju ke tepian. “Bagaimana kalau kita tinggalkan saja tempat ini.”
“Tinggalkan tempat ini? Jangan bertindak ndes0 sahabatku. Kita belum sempat bersenang-senang. Belum mendapatkan hadiah… Kalau Pangeran membatalkan janjinya malanglah nasib kita!”
“Terus terang saya tidak percaya pada kesepakatan c0w0k itu. Selain kita beliau punya beberapa wanita peliharaan dan kekasih gelap. Salah satu diantaranya gadis el0k berbadan harum yang mengenakan pakaian tipis warna biru itu.”
”Sebagian dari ucapanmu ada betulnya. Kalaupun kita tidak dikawini kurasa sudah kepalang tanggung untuk mundur. Sasaran kita kini yaitu uang pelengkap dan harta lainnya. Dan dengar… Jangan sekali-kali kau berani meninggalkan tempat ini. Kalau Pangeran bilang tunggu di sini kita harus menunggu. Nyawa insan baginya tidak lebih berharga dari nyawa seek0r lalat…”
Ketika Pangeran Matahari hingga di bangunan di puncak gunung Merapi , Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang duduk di tangga depan segera berdiri. Sang Pangeran memperhatikan bungkusan yang dipanggul Elang Setan sesaat kemudian bertanya.
“Berita baik apa yang kalian bisa sampaikan padaku? Kalian berhasil mendapatkan kepala musuh besarku Pendekar 212 Wir0 Sableng?”
“Kami bernasib mujur Pangeran. Perintah Pangeran telah kami laksanakan dengan baik!” jawab Tiga Bayangan Setan kemudian memberi isyarat pada Elang Setan dengan anggukkan kepala.
Elang Setan turunkan kant0ng kain yang dipanggulnya kemudian meletakkannya di lantai bangunan. Bau busuk memancar santar. Perlahan-lahan Elang Setan membuka ikatan kant0ng , ketika kant0ng ditunggingkannya menggelindinglah p0t0ngan kepala insan di atas lantai. Bau busuk menghampar bukan 0lah-0lah.
“Pangeran saksikan sendiri…!” kata Elang Setan sambil menyeringai sementara Tiga Bayangan Setan lantas saja tegak sambil berkacak pinggang. Sepasang mata Pangeran Matahari membuka besar besar. Di lantai dua langkah di hadapannya tergeletak p0t0ngan kepala insan berlumuran darah. Rambutnya panjang hitam awut-awutan. Pada keningnya ada ikatan kain putih. Sang Pangeran membungkuk sedikit supaya sanggup meneliti lebih jelas. Satu seringai tersungging di mulutnya. Perlahanlahan beliau berpaling pada Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan.
“Kalian manusia-manusia hebat!” memuji Pangeran Matahari. Lalu tertawa bergelak.
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan ikut-ikutan tertawa.
“Ini memang kepala si keparat Pendekar 212 itu!” ujar Pangeran Matahari pula dengan wajah berseri. ”Sekarang siapa yang bisa menandingiku dalam rimba persilatan?!”
”Tak se0rangpun Pangeran! Kau kini jadi raja di raja dunia persilatan!” kata Elang Setan.
Pangeran Matahari kembali memandang pada p0t0ngan kepala di lantai. “Aku percaya itu memang kepala jag0an bedebah itu! Aku kenal betul wajahnya!”
“Kami bangga kalau kini Pangeran bisa percaya bahwa Pendekar 212 sudah tamat riwayatnya! Mati di tangan kami dua bersaudara!”
“Ya… ya saya percaya!” kata Pangeran Matahari pula seraya mengusap-usap telapak tangannya satu sama lain.
Elang Setan melirik pada Tiga Bayangan Setan kemudian mendehem beberapa kali.
“Pangeran , turut perjanjian dikala ini tentunya kami akan mendapatkan 0bat pemusnah racun tiga ratus hari itu…” kata Tiga Bayangan Setan pula.
Pangeran Matahari menyeringai. “Kalian rupanya benar-benar takut mati! Tak usah khawatir , kesepakatan akan kutepati. Malah kalian akan kuberi hadiah besar!”
“Terima kasih Pangeran! Terima kasih!” kata Elang Setan dan Tiga Bayangan Setan berbarengan sambil membungkuk berulang kali. Sang Pangeran meraba ke balik mantel hitamnya. Dari sebuah tabung kecil terbuat dari bambu dikeluarkannya dua butir 0bat berwarna merah kemudian satu demi satu diserahkannya pada kedua 0rang bermuka setan di hadapannya itu. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan cepat menyambut! Namun sehabis memegang 0bat itu mereka tidak segera menelannya. Ada keraguan pada tampang masing-masing.
“Kalian tidak mempercayai diriku?!” Pangeran Matahari membentak.
“Ka… kami tidak bermaksud begitu Pangeran. Cuma mengingat telah dua kali kau menjalankan muslihat…”
“Keparat! Muslihat yaitu permainan iblis! Aku bukan iblis! Kalau kalian mau mampus buang saja 0bat itu!” Pangeran Matahari membentak dengan mata membeliak.
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan serta merta menelan 0bat yang ada dalam genggaman mereka. Keduanya tampak pucat ketika mendadak merasa ada hawa panas menjalar di saluran tengg0r0kan terus merambat ke perut. Namun perlahan-lahan hawa panas itu lenyap berganti dengan rasa sejuk.
”Terima kasih Pangeran…” kata Elang Setan.
”Mengenai hadiah yang tadi kau katakan itu…” berucap Tiga Bayangan Setan.
Pangeran Matahari menyeringai. ”Hemmm….Ada dua gadis el0k bertelanjang dalam telaga. Kalian telah melihatnya , betul…?”
”Benar , kami telah melihatnya Pangeran!”
”Itu hadiah besar buat kalian! Kalian b0leh memperlakukan apa saja terhadap mereka. Termasuk membunuhnya! Kalau kalian tega… Ha… ha… ha…!”
Habis berkata begitu Pangeran Matahari jambak rambut p0t0ngan kepala Pendekar 212 kemudian melangkah menuruni tangga. Akan halnya Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tidak tunggu lebih usang lagi segera menghambur lari menuju telaga. Dua gadis di dalam telaga tentu saja menjerit ketakutan begitu dua insan bermuka setan ini muncul , membuka pakaian dengan cepat kemudian menceburkan diri ke dalam air dan eksklusif menubruk mereka dan menyeretnya ke tepi telaga. Sek0ny0ng-k0ny0ng ada bayang-bayang jatuh di sekitar mereka. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan memandang ke langit.
”Dia!” teriak Elang Setan seraya menunjuk ke atas.

***

BAB IV
TIGA Bayangan Setan tak kalah kagetnya. Di udara dikala itu tampak tujuh buah payung melayang dalam keadaan terkembang. Pada gagang payung warna merah bergantung se0rang gadis el0k berpakaian biru berkembang-kembang kuning. Payung merah melayang turun lebih cepat sementara enam payung lainnya menebar se0lah melindungi payung merah dan si gadis.
“Dia berani muncul! Benar-benar minta mampus!” kata Tiga Bayangan Setan.
Rahangnya menggembung dan gerahamnya bergemeletakan. Sejak dirinya dibentuk cidera pada perkelahian beberapa waktu kemudian di muara Kali 0pak dendam insan setan ini terhadap gadis berpayung itu memang bukan main-main. Begitu juga s0batnya si Elang Setan. Tapi dikala itu Elang Setan yang biasanya kasar entah mengapa bisa berpikiran lebih jernih. Dia cepat memegang pundak sahabatnya seraya berbisik.
“Kalau mengikuti dendam kita berdua memang harus memperk0sanya kemudian menggebuknya hingga hancur luluh! Tapi lebih baik dikala ini kita menghindari…”
“Jangan bicara ngac0 Elang Setan!” hardik Tiga Bayangan Setan.
“Tenang s0batku! Pakai pikiran sehat! Dua gadis el0k yang sudah ada di tangan ini belum sempat kita nikmati. Mengapa merep0tkan diri mencari urusan dengan gadis berpayung itu?! Jangan lupa Pangeran Matahari masih berada di puncak gunung ini. Mendadak beliau tahu kita memuslihatinya urusan bisa kapiran!”
Pelipis Tiga Bayangan Setan bergerak-gerak.
”Kau betul. Baik , mari kita b0y0ng gadis-gadis ini kemudian tinggalkan tempat ini!”
Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang dalam keadaan bugil yang segera memanggul dua gadis yang juga tanpa pakaian sama sekali. Keduanya bergerak cepat meninggalkan telaga sehabis terlebih dulu menyambar pakaian masing-masing. Dua gadis yang mereka panggul menjerit-jerit tiada hentinya.
”Dua setan telanjang! Jangan pergi dulu!” seru gadis yang bergelantungan di payung merah yang tentu saja yaitu Puti Andini bergelar Dewi Payung Tujuh.
”Jahanam!” maki Tiga Bayangan Setan dan cepat menyusup di antara semak belukar.
”Hai! Aku hanya ingin bertanya!” teriak Puti Andini.
”Bertanyalah pada iblis telaga!” teriak Elang Setan.
”Apakah kalian telah menemukan mayat Pendekar 212?!”
”Hah! Itu yang hendak kau tanyakan!” jawab Tiga Bayangan Setan. “Ketahuilah kami bukan cuma menemukan mayat c0w0k itu tapi juga telah menebas batang lehernya dan menyerahkan p0t0ngan kepalanya pada sese0rang!”
Paras Puti Andini berubah , hatinya berguncang , tapi pikirannya tak lekas terpengaruh. “Mungkin dua bangat itu tidak berdusta. Ah , celaka kalau begini. Makin berat dan besar urusanku! Bagaimana caranya kini saya mencari jejak Kitab Putih Wasiat Dewa itu!” Si gadis memandang ke bawah. S0s0k Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan masih terlihat di sela-sela pep0h0nan dan semak belukar. Maka beliau berteriak kembali. “Kepada siapa kalian serahkan kepala Pendekar 212?!”
“Kau punya kepandaian tinggi! Silahkan menyelidik sendiri!” jawab Tiga Bayangan Setan.
“Atau tanya pada setan neraka!” teriak Elang Setan.
“Gadis sakti! T0l0ng kami!” Gadis yang berada di panggulan Elang Setan tibatiba berteriak minta t0l0ng.
“Kalian gadis-gadis sesat! Memilih hidup jadi pelacur! Perlu apa saya merep0tkan diri men0l0ng kalian!” jawab Dewi Payung Tujuh yang jadi jengkel 0leh jawaban dua bersaudara sumpah darah tadi. Lalu beliau kembali berseru pada Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan. “Jika kalian tidak mau memberi tahu ihwal Pendekar 212 tak jadi apa. Jawab pertanyaanku yang satu ini! Apakah puncak gunung int tempat kediaman 0rang sakti bergelar Pangeran Matahari?!”
“Ha… ha! Kau rupanya hendak bergendak dengan sang Pangeran!” berseru Elang Setan. “Kau memang c0c0k jadi peliharaannya!”
“Tapi hati-hati! Sekali beliau sudah b0san padamu , kau akan dipesianginya mentahmentah!”
menimpali Tiga Bayangan Setan. “Walau kau punya tujuh nyawa dan kepandaian setinggi langit , jangan harap bisa menghadapi keganasan Kitab Wasiat Iblis yang dimilikinya!”
“Hemmm… jadi benar kabar yang kusirap. Kitab Wasiat Iblis itu telah jatuh ke tangan Pangeran Matahari ,” Kata Puti Andini dalam hati. ”Aku punya dugaan mungkin sekali Pangeran Matahari yang memerintah mereka menebas kepala Pendekar 212 kemudian diserahkan padanya. Dua insan setan itu tidak punya daya lantaran mereka berada dalam kekuasaan sang Pangeran. Bukankah waktu di pantai temp0 hari saya lihat ada tanda keracunan di bibir mereka?”
Tak usang kemudian Puti Andini melayang turun menjejakkan kedua kakinya yang berkasut kulit di tepian telaga. Enam payung sengaja dibiarkannya mengambang berputar-putar di udara. Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan tak kelihatan lagi. Sayupsayup masih terdengar jeritan-jeritan dua gadis yang mereka b0y0ng namun Puti Andini tidak peduli.
Sambil memegangi payung merah di atas kepala beliau memandang berkeliling.
“Sunyi… damai , serba hijau dan segar…” katanya dalam hati. “Tapi di balik semua itu saya mencium sesuatu yang berbahaya , sesuatu yang mengerikan di tempat ini… Hemm , jikalau keterangan dua insan setan itu bahwa Pendekar 212 benar-benar sudah tewas sanggup mendapatkan amanah , berarti saya akan kehilangan jejak penuntun. Sebenarnya beliau bisa kujadikan sahabat untuk mendapatkan kitab sakti itu. Kini putus harapanku menyusuri jejak Kitab Putih Wasian Dewa , apalagi mendapatkannya. Guru pasti akan memarahiku setengah mati. Ah , mengapa beliau memberi kiprah begini berat padaku? Tuhan , c0baan apa lagi yang akan saya hadapi…?”
Selagi beliau memandang berkeliling sekali lagi sek0ny0ng-k0ny0ng terdengar bunyi bentakan-bentakan di kejauhan. “Ada 0rang lain di tempat ini. Pangeran Matahari…?”
desis Puti Andini dalam hati. Lalu beliau mend0ngak. Se0lah bicara pada insan saja , beliau berkata pada enam payung yang mengambang dan berputar-putar di udara. “Kalian jangan tertipu angin. Jangan berani kemana mana. Tunggu tanda atau tunggu hingga saya datang!” Habis berkata begitu gadis ini cepat berkelebat ke arah datangnya bunyi bentakan tadi. Dia hentikan langkahnya di balik serumpunan semak belukar lebat. Bau busuk menghampar menusuk hidung.
Memandang ke depan dilihatnya sebuah bangunan. Di hadapan bangunan ini terdapat halaman dan di tengah halaman terpampang satu pemandangan yang menciptakan Puti Andini mendelik , berubah pucat wajahnya dan cuek tengkuknya!
Sebatang tiang bambu menancap di tengah halaman. Pada ujung atas tiang ini menancap p0t0ngan kepala manusia. Inilah rupanya sumber wangi busuk yang menyengat itu. Walau wajahnya tertutup rambut g0ndr0ng berserakan serta n0da darah yang telah membeku namun Puti Andini masih bisa mengenali. Wajah itu yaitu wajah Pendekar 212 Wir0 Sableng!
Mendadak saja si gadis mencicipi dadanya berdebar keras dan sesak. “Dua insan setan itu tidak berdusta! Mereka memang benar-benar telah memenggal kepala Pendekar 212…!” Puti Andini terduduk terhenyak di tanah di balik semak belukar.
“Walau guru menyuruh saya membunuhnya , sebetulnya saya tidak ada permusuhan dengan c0w0k itu Belakangan ini saya selalu ingat padanya. Wajahnya sering muncul dalam bayanganku…” Puti Andini menarik nafas dalam berulang kali. Tanpa disadarinya sepasang matanya berkaca-kaca. “Untuk terakhir kali saya ingin mengurus jenazahnya.
Aku hanya melihat kepalanya. Dimana gerangan badannya…? Mungkin di dalam bangunan? Milik siapa bangunan itu? Tempat kediaman Pangeran Matahari?”
Selagi berpikir mirip itu tiba-tiba bayangan hitam berkelebat keluar dari dalam bangunan. Sesaat kemudian Puti Andini melihat se0rang c0w0k gagah bertubuh tinggi kekar berdiri di tengah halaman. Tampangnya yang keras kelihatan merah mengelam , Pelipisnya bergerak-gerak dan sepasang matanya meny0r0tkan hawa amarah. 0rang ini mengenakan mantel hitam. Pada baju hitamnya yang tersingkap di balik mantel terpampang gambar gunung biru dan matahari kuning.
”Pangeran Matahari… Pasti dia!” membatin Puti Andini.
“Bangsat! Jahanam keparat! Berani beliau memuslihati diriku!” 0rang bermantel yang bukan lain Pangeran Matahari adanya membentak sambil hantamkan kaki kanannya ke tanah.
Puti Andini terkesiap ketika melihat bagaimana tanah yang terkena hempasan kaki melesak hingga setengah jengkal dan berwarna kehitaman.
”Manusia ini mempunyai tenaga dalam tidak di bawah tingkat yang dimiliki guru…” kata Puti Andini dalam hati.
”Tiga Bayangan Setan! Elang Setan! Kalian bisa kabur dari puncak Merapi! Tapi kalian tidak bisa l0l0s dari kematian! Akan kukelupas kulit tubuhmu! Kucincang daging serta tulang kalian! Bangsat! Setan! Kurang ajar! Mengapa saya hingga berlaku b0d0h! Seharusnya 0bat penawar racun tiga ratus hari itu tidak saya berikan pada mereka!”
Pada puncak kemarahannya Pangeran Matahari mel0mpat ke atas. Tangan kanannya menyambar rambut p0t0ngan kepala yang menancap di ujung bambu. Dengan geram p0t0ngan kepala Pendeka 212 itu dibantingkan ke tanah.
“Praaakkk!”
P0t0ngan kepala rengkah kemudian menggelinding ka arah semak belukar di balik mana Puti Andini mendekam bersembunyi. Gadis ini mencicipi tubuhnya menggigil berada sedekat itu dengan p0t0ngan kepala. Dia menekap mulutnya supaya tidak mengeluarkan suara. Matanya membeliak memandangi p0t0ngan kepala Pendekar 212 itu.
Untuk beberapa lamanya Pangeran Matahari masih menyumpah sambil melangkah mundar mandir di halaman bangunan. Tiba-tiba beliau ingat.
“Dua bedebah itu! Mereka pasti masih berada di telaga. Bersenang-senang dengan dua gadis yang kuhadiahkan! Jahanam! Kalian akan rasakan tanganku! Sekarang kalian sanggup s0rga , sebentar lagi akan kusumpalkan neraka ke pantat dan sekujur tubuh kalian!”
Dengan beringas Pangeran Matahari berkelebat menuju ke telaga. Sampai di telaga beliau bukan saja tidak menemukan Tiga Bayangan Setan dan dua gadis itu tapi justru disambut 0leh satu pemandangan. Sepasang alis mata Pangeran Matahari berjingkrak ke atas. Keningnya mengernyit dan dua matanya membeliak. Di atas tepian telaga enam buah payung banyak sekali warna melayang berputar-putar.
“Enam payung warna-warni…” desis sang Pangeran. Lalu satu persatu menyebut warna payung itu. ”Hitam , hijau , kuning , biru , putih , ungu… Mana satu lagi yang berwarna merah…” Dia memandang berkeliling. “Jadi betul keterangan yang kudapat temp0 hari. Dewi Payung Tujuh berada di tempat ini…”
Pangeran Matahari memandang berkeliling dengan mata membeliak tajam. Lalu beliau berteriak. “Dewi Maling Tujuh! Aku tahu kau ada di tempat ini! Harap perlihatkan diri! Makara tamu jangan menyelinap mirip tikus c0mberan!”
Tak ada jawaban. Pangeran Matahari berteriak sekali lagi. Tetap tak ada jawaban.
”Jahanam!” makinya. Lalu beliau berlari kembali ke tempat kediamannya. Di halaman bangunan hanya kesunyian menyambutnya. Tak kelihatan siapapun. Namun beliau mencicipi suatu kelainan. Dekat p0t0ngan kepala Pendekar 212 yang tercampak di tanah tergeletak satu benda lain mirip kertas.
Begitu Pangeran Matahari tadi meninggalkan tempat itu , Puti Andini menyibak semak belukar supaya lebih terang melihat p0t0ngan kepala itu. Tidak syak lagi itu memang kepala Pendekar 212 Wir0 Sableng. Namun! Matanya yang tajam melihat sesuatu. Dia teringat pada caci maki Pangeran Matahari yang menyumpahi Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan yang dituduh telah memuslihati menipunya.
”Ada keganjilan pada p0t0ngan leher itu. Sepertinya kulit luar tidak menyatu dengan daging di sebelah dalam…” Puti Andini memandang ke jurusan lenyapnya Pangeran Matahari tadi kemudian dengan cepat keluar dari semak-semak. Sambil menahan napas tangannya yang gemetaran diulurkannya. Matanya dipejamkan begitu jari-jarinya menyentuh kulit leher pada p0t0ngan yang terp0t0ng. Tengkuknya terasa cuek dan jantungnya berdegup keras menahan rasa ngeri. Puti Andini sentakkan jari-jari tangannya dua kali.
“Sreettt! Srettt!”
Terdengar dua kali bunyi mirip benda r0bek. Ketika kemudian beliau membuka matanya terbeliaklah gadis ini. Sebagian dari kulit leher dan kulit wajah p0t0ngan kepala yang tadi disentakkannya kini terkelupas. Kelupasannya berada dalam pegangannya! Dan wajah 0risinil p0t0ngan kepala itu walau tidak tersibak keseluruhannya tapi cukup terang terlihat.
“Bukan wajah Pendekar 212…” desis Puti Andini. Matanya kemudian memandangi kelupasan kulit muka yang dir0beknya. “T0peng tipis. Dua insan setan itu ternyata memang benar memuslihati Pangeran Matahari. P0t0ngan kepala 0rang lain diberi t0peng tipis ibarat wajah Pendekar 212…”
Puti Andini campakkan r0bekan t0peng tipis kemudian secepat kilat menyelinap meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa dikala saja sehabis beliau berkelebat pergi Pangeran Matahari muncul kembali. Dia meng0brak abrik semak belukar di sekitar halaman. Berkelebat menyelidik kian kemari.
“Kurang ajar! Aku yakin tadi beliau pasti ada di sini!” maki sang Pangeran.
Kemudian diperhatikannya p0t0ngan kepala yang menggeletak di tanah. Di dekat p0t0ngan kepala itu ada secarik benda mirip kertas atau kulit. Pangeran Matahari melangkah mendekati. “Dia mer0bek t0peng tipis di p0t0ngan kepala. Hemm. Agaknya Dewi Payung Tujuh tengah melaksanakan satu penyelidikan. Mungkin beliau tengah mencari Kitab Wasiat Iblis? Tapi mengapa tidak berani unjukkan diri. Malah kabur? Akan saya hancurkan enam payungnya yang ditinggal di tepi telaga!”
Pangeran Matahari cepat kembali ke telaga namun beliau kecewa dan murka besar. Saat itu beliau mendengar bunyi suitan keras enam kali berturut-turut. Datangnya dari udara. Ketika beliau mend0ngak enam payung yang tadi mengambang di sekitar telaga kini kelihatan membubung cepat ke udara. Payung ke tujuh berwarna merah berada paling atas dan pada tangkai payung bergantung gadis el0k berpakaian biru berkembangkembang. Si gadis melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa mengejek.
Dalam marahnya Pangeran Matahari hantamkan kedua tangannya ke udara lepaskan pukulan ”Telapak Matahari”. Terdengar dua bunyi mendesis berbarengan. Bersamaan dengan itu dua rangkum angin menebar hawa panas menderu ke udara. Sudah sanggup dibayangkan 0leh Pangeran Matahari bahwa enam payung akan hancur lebur dihantam pukulan saktinya dan si gadis akan cidera berat. Namun dugaannya meleset. Sang Pangeran lupa memperhitungkan jarak yang terpisah antara beliau dengan sasaran. Saat itu tujuh payung dan Puti Andini sudah terlalu jauh di udara. Walaupun dua serangan saktinya masih sanggup mencapai sasaran namun daya kekuatannya tak bisa menciderai. Malah secara luar biasa enam buah payung tiba-tiba berputar kemudian menukik ke bawah membentengi payung merah dan Puti Andini.
“Kurang ajar! Dewi Payung Tujuh! Apa kau kira bisa l0l0s dari kematian?!” teriak Pangeran Matahari.
Lalu beliau busungkan dada dan kerahkan tenaga dalam ke tempat terletaknya Kitab Wasiat Iblis.
”Bunuh!” perintah Pangeran Matahari.
Dada dan Kitab Wasiat Iblis sesaat menjadi panas namun hawa panas itu cepat meredup dan lenyap. Dari kitab sakti di dadanya sama sekali tidak keluar sinar sakti yang diharapkan. Pangeran Matahari lipat gandakan tenaga dalamnya. Malah sambil menepuknepuk kitab itu beliau berteriak berulang kali.
“Bunuh! Bunuh!”
Tidak terjadi apa-apa. Tak ada sinar maut mencuat keluar dari dada sang Pangeran.
”Kitab Wasiat Iblis!” desis Pangeran Matahari dengan bunyi bergetar. “Apa yang terjadi?! Apa kitab ini telah hilang kesaktiannya?” Saking geramnya disibakkannya mantel hitamnya kemudian dir0beknya baju hitamnya. Kitab Wasiat Iblis yang diikatkannya di dada tersingkap. Sekali lagi beliau mengerahkan tenaga dalam penuh dan berteriak.
“Bunuh!”
Tetap saja tidak terjadi apa-apa!
Tampang sang Pangeran menjadi gelap. Rahangnya menggembung. Kitab Wasiat Iblis direnggutkannya dari dadanya. Kalau mengikuti kemarahannya mau beliau mer0bek dan membanting kitab sakti itu ke tanah. Dengan tubuh bergetar kesudahannya beliau terduduk di sebuah kerikil di tepian telaga. Kitab Wasiat Iblis diletakkannya di pangkuannya dan dipandanginya dengan mata mel0t0t. Sebelumnya sang Pangeran telah beberapa kali menyaksikan bagaimana Kitab Wasiat Iblis itu secara luar biasa mengeluarkan sinar maut yang sanggup membunuh. Beberapa 0rang t0k0h silat kawakan telah menjadi k0rbannya.
Diantaranya Iblis Tua Ratu Pes0lek (Epis0de I: Wasiat Iblis) dan Datuk Sengkang Makale alias Hantu Tinggi Pelebur Jiwa (Epis0de II: Wasiat Dewa) tanpa beliau berbuat suatu apapun. Sinar kematian itu keluar dari Kitab Wasiat Iblis begitu saja menghantam mati lawan-lawannya. Sekarang mengapa kesaktian kitab itu tidak keluar? Sang Pangeran tidak mengetahui bahwa walau kitab itu mempunyai kesaktian dan kekuatan membunuh luar biasa namun jikalau dirinya tidak diserang maka kesaktian yang terkandung dalam kitab itu tidak akan keluar! Sekali sese0rang menyerang dan siapa saja yang memegang Kitab Wasiat Iblis terancam keselamatannya maka barulah kekuatan sakti yang ada di dalam kitab dengan sendirinya akan keluar mendahului membunuh lawan! Penuh kecewa sang Pangeran duduk termenung sambil sekali-sekali menjambak rambutnya yang tebal.
”Mungkin ini disebabkan saya tidak melaksanakan puasa selama tiga kali malam Jum’at Kliw0n mirip yang dikatakan dalam kitab…” pikir Pangeran Matahari. Namun hatinya meragu. “Pada dikala kitab itu saya dapatkan , tanpa puasa kesaktiannya telah sanggup membunuh Iblis Tua Ratu Pes0lek. Sekarang mengapa bisa jadi begini…?”
Inilah kali pertama dalam hidupnya Pangeran Matahari menjadi sangat bingung. Perlahan-lahan beliau berdiri tinggalkan telaga. Kitab Wasiat Iblis dimasukkannya kembali ke balik baju hitamnya yang r0bek.

***

BAB V
SUARA se0rang bernyanyi itu tiba dari salah satu bukit kerikil di sebelah timur pulau. Cukupi jauh dari tempat Wir0 berada dikala itu. Dia memasang indera pendengaran baik-baik , berusaha mendengar terang setiap bait nyanyian yang dilantunkan.

Laut selatan tak pernah tenang
Gel0mbang selalu tiba menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu tua renta malang
Yang dinantikan budak malang
Apakah dikala ini petunjuk Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini final penantian dan permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh harapan
Agar tubuh tua ini bisa lepas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta

Murid Eyang Sint0 Gendeng garuk-garuk kepalanya. Dia c0ba mencerna arti nyanyian itu. ”Menunggu ribuan pagi ribuan petang , berarti ada se0rang tua bangka di puncak bukit sana. Yang dinantikan budak malang. Eh , apa saya yang ditunggunya? Apa beliau kenal pada diriku. Yang terang nasibku dikala ini buka cuma malang tapi juga melintang! Ha… ha… ha!” Pendekar 212 tertawa sendiri. “Bait final nyanyian aneh itu se0lah si penyanyi ingin buru-buru mati. Aneh!” Wir0 percepat langkahnya.

Karena ingin cepat-cepat melihat siapa adanya 0rang yang menyanyi maka Wir0 pergunakan ilmu ”Menembus Pandang” yang didapatnya dari Ratu Buyung (baca Epis0de III: Wasiat Sang Ratu) Tenaga dalamnya dialirkan ke matanya kiri kanan. Dia mend0ngak memandang ke puncak bukit kerikil di sebelah Timur. Lalu mata itu dikedipkan dua kali.

Mula-mula Wir0 melihat warna merah berkepanjangan mengambarkan dimana-mana di atas sana hawa batu-batu merah yang ada. Kemudian kurang jelas beliau melihat ses0s0k tubuh berjubah putih. Wajahnya tak terlihat terang lantaran membelakangi. Kalau beliau ingin melihat p0t0ngan depan 0rang itu berarti beliau harus berputar setengah pulau. ”Daripada menghabiskan waktu lebih baik saya terus saja menempuh jalan ini ,” pikir murid Sint0 Gendeng.

Suara nyanyian itu diulang-ulang beberapa kali. Namun pada ulangan keempat mendadak bunyi nyanyian lenyap di bait pertengahan.

”Hemm… 0rang tua di puncak bukit sana pasti sudah kecapaian menyanyi ,” pikir Wir0.

Tak usang kemudian beliau hingga di kaki bukit kerikil merah di sebelah timur. Di sini Wir0 gres menyadari satu keanehan. Pulau ini usianya pasti sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Tapi tak satu bagianpun batu-batu di sini diselimuti lumut. Semua higienis , kerikil merah asli. Tak terpengaruh 0leh cuaca. Karena kerikil merah itu tidak licin , meskipun bukit yang didakinya cukup terjal namun Wir0 tidak mengalami kesulitan naik ke atas. Begitu hingga di puncak bukit kerikil merah Wir0 segera melihat s0s0k 0rang berjubah putih itu , duduk di atas sebuah kerikil merah pada puncak bukit yang tak seberapa luasnya. 0rang ini membungkus kepalanya dengan sehelai kain putih ibarat selendang.

Mengira 0rang tengah bersemadi maka Wir0 melangkah dengan hati-hati , berputar dan sesaat kemudian hingga di hadapan 0rang itu. Ternyata selendang putih di kepalanya menutupi hampir seluruh wajahnya. Hanya sepasang matanya saja yang kelihatan terpejam. Bagian selendang di p0t0ngan ekspresi kelihatan berair dan berwarna merah. Sepasang tangan dan kaki 0rang itu tersembunyi di balik jubahnya. Wir0 mencium wangi sirih dan tembakau. Tapi hidungnya yang tajam mencium wangi lain. Karena tiba-tiba 0rang di hadapannya mengeluarkan bunyi maka Wir0 tak berkesempatan untuk mengingat-ingat dimana sebelumnya beliau pernah mencium wangi itu.

“Ribuan pagi ribuan petang… Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan… Yang menunggu tua renta malang… Yang dinantikan budak malang…”

Perlahan-lahan Wir0 duduk bersila di hadapan 0rang berjubah dan berselendang putih itu.

“0rang tua , maaf kalau kehadiranku mengganggumu. Apakah kau yang dijuluki Raja 0bat Delapan Penjuru Angin?”

Yang ditanya menghela napas panjang kemudian menjawab. “Kau telah bertemu dengan 0rang yang kau cari. Giliran diriku yang bertanya ada keperluan apa kau mencariku anak manusia? Sebelum kau menjawab pertanyaan itu jawab dulu pertanyaan ini. Apa kau manusianya yang dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212?”

”Aku belum menerangkan siapa diriku bagamana beliau bisa menerka? 0rang tua ini benar-benar berkepandaian sangat tinggi ,” kata Wir0 dalam hati. Maka diapun menjawab.

“Aku memang yang 0leh 0rang-0rang t0l0l diberi gelar begitu padahal saya hanya anak insan berjulukan Wir0 Sableng!”

Si 0rang tua tertawa mengekeh. Bau aneh kembali menusuk hidung Wir0. Dalam hati beliau membatin.

"Menurut keterangan 0rang tua ini mempunyai wajah biru sebelah. Tapi wajahnya ditutup begitu rupa , sulit bagiku untuk melihat“

“Anak insan , jikalau kau benar-benar Pendekar 212 , perlihatkan padaku Kapak Maut Naga Geni 212!” tiba-tiba 0rang di hadapan Wir0 berkata.

Wir0 terkesiap. “Bertemu gres sekarang. Bagaimana 0rang tua ini tahu kalau saya Pendekar 212 dan punya senjata Kapak Maut Naga Geni 212! Ah , pengetahuannya tentu luas sekali padahal… Dari tadi beliau tak pernah mengeluarkan kedua tangannya dari balik jubah. Jangan jangan si Raja 0bat ini buntung!”

”Aku menunggu jawabanmu anak muda!”

Wir0 garuk-garuk kepala kemudian tersenyum. “Jangan cengengesan di hadapanku! Kalau kau berani memuslihati diriku berarti umurmu tidak bakal panjang. Kau tak akan pernah meninggalkan pulau ini…”

”Nasibku jelek. Senjata mustika itu dan pasangannya sebuah kerikil hitam sakti lenyap dicuri 0rang…”

Si 0rang tua geleng-gelengkan kepalanya. “Seperti dalam nyanyianku tadi , kau ternyata memang se0rang budak malang. Apa kau tahu siapa yang telah mencuri dua senjata saktimu itu?’

”Dua 0rang berjuluk Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan…” jawab Wir0.

“Hemmm… Mereka memang iblis-iblis berkepandaian tinggi. Tapi saya tidak begitu saja percaya 0m0nganmu. Setahuku Pendekar 212 tidak pernah mengenakan pakaian serba hitam mirip yang kau kenakan dikala ini. Dia selalu pakai baju dan celana putih. Aku ingin melihat dadamu. Kabarnya di situ ada rajahan angka 212. Jika kau memang mempunyai gres saya bisa percaya!”

“Sialan! Sulit juga rupanya menciptakan urusan dengan tua bangka ini!” rutuk Wir0 dalam hati. Lalu beliau buka baju hitam pinjaman Ratu Duyung di p0t0ngan dada.

Sepasang mata Raja 0bat Delapan Penjuru Angin melihat rajah angka 212 pada dada Wir0.

“Kau sudah saksikan sendiri?” tanya Wir0.

0rang tua itu anggukkan kepala.

”Nah kini giliranku bertanya…”

”Tunggu dulu!” mem0t0ng Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. “Ada hubungan apa antara kau dengan Ratu Duyung?!”

“Eh , 0rang ini benar-benar tahu banyak ihwal diriku ,” pikir Wir0. “Aku berhutang budi dan nyawa pada penguasa bahari itu. Itu saja…”

”Hemm… Sekarang saya masih ingin satu kepastian. Ulurkan kedua tanganmu. Telapak dibuka ke atas!”

“Ah 0rang tua. Kau rupanya menyuruh saya menirukan lagak pengemis. Tapi mengapa dua tangan sekaligus?” tanya Wir0 sambil tertawa.

“Jangan berani bergurau padakul* menyentak 0rang tua. “Lekas ulurkan kedua tanganmu!”

Walau kini beliau mulai jengkel dengan perilaku 0rang tua itu namun Wir0 ulurkan juga kedua tangannya ke depan. Telapak tangan dikembangkan ke atas.

Pada dikala itulah tanpa diduga sepasang tangan si 0rang tua yang semenjak tadi mendekam di balik jubah tiba-tiba melesat keluar dari balik jubah putih.

”Bukk!”

”Bukk!”

Dua j0t0san laksana palu g0dam menghantam ke arah Pendekar 212 Wir0 Sableng.

***


BAB VI

JERITAN keras meledak keluar dari ekspresi murid Sint0 Gendeng ketika dua j0t0san yang dihantamkan 0rang tua berjubah dan bertutup kepala putih itu mendarat di dada dan pipi kanannya. Kepalanya se0lah terlempar pecah , dadanya laksana remuk. Tubuhnya mencelat hingga dua t0mbak , menggelinding ke lereng bukit , tertahan pada satu gundukan kerikil merah runcing! Darah menyembur dari mulutnya. Tubuh Wir0 tergeletak tak berkutik lagi!

Di atas sana terdengar bunyi tawa mengekeh kemudian satu bayangan putih berkelebat , melayang turun dan berdiri di hadapan s0s0k Pendekar 212. Dengan ujung kakinya 0rang ini membalikkan tubuh Wir0.

“Ha… ha… ha! Mampus juga kau akhirnya!” Habis berkata begitu 0rang ini buka jubah putih dan selendang epil0g wajahnya. Di balik jubah itu ternyata 0rang ini mengenakan jubah lain yang k0t0r dekil serta bau. Tangannya yang tersembul dari balik jubah penuh dengan k0reng bernanah dan menebar wangi busuk. Wajahnya lebih mengerikan lagi lantaran hancur penuh 0leh k0reng cacar air busuk yang sama! Tiga jari kanannya yang tersembul di balik jubah tampak buntung kehitaman. Salah satu p0t0ngan bawah jubahnya hangus mirip pernah terbakar.

Pada punggungnya tergantung sebuah caping bambu. Dari mulutnya beliau menyemburkan cairan merah sirih dan tembakau. Ketika caping itu dikenakannya di atas kepalanya dan sehelai kain ditutupkannya ke wajahnya jelaslah sudah 0rang tua ini bukan lain yaitu si Makhluk Pembawa Bala! Makhluk iblis yang sebelumnya telah dua kali menc0ba membunuh Wir0!

Sambil tertawa-tawa beliau menjambak rambut g0ndr0ng Pendekar 212 kemudian yummy saja beliau menyeret Wir0 ke arah timur pulau. Hampir lima puluh t0mbak menyeret , Makhluk Pembawa Bala hentikan langkahnya di satu p0t0ngan pulau dimana terdapat satu kerikil rata berukuran dua kali dua t0mbak. Di atas kerikil warna merah ini tergeletak ses0s0k tubuh kurus kering se0rang tua berambut , berkumis dan berjanggut putih. Wajahnya sebelah kanan berwarna biru. Saat itu b0leh dikatakan 0rang tua ini nyaris telanjang lantaran hanya secarik kain putih kecil yang terselempang di aurat sebelah bawah perutnya. Melihat keadaannya dikala itu yang tak bisa bergerak maupun bersuara kecuali hanya sepasang matanya saja yang bergerak-gerak nyatalah dirinya berada dalam keadaan tert0t0k. 0rang tua yang malang ini bukan lain yaitu si Raja 0bat Delapan Penjuru Angin.

Makhluk Pembawa Bala hempaskan tubuh Wir0 di samping s0s0k si 0rang tua. Pinggul mereka saling bersentuhan. Wajah Raja 0bat Delapan Penjuru Angin berubah pucat ketika melihat c0w0k yang tergeletak di sampingnya. Makhluk Pembawa Bala mend0ngak ke langit kemudian tertawa gelak-gelak. Dengan kaki kanannya ditendangnya tulang kering Raja 0bat.

”Ini anak insan yang kau tunggu dalam nyanyianmu itu?! Ha… ha… ha..!

Nasibnya memang malang! Dia keburu mampus sebelum sempat melihat tampangmu!”

Makhluk Pembawa Bala kembali tertawa mengakak. “Eh , kau membisu saja! Ah , biar saya berbaik hati sedikit membuka jalan suaramu supaya saya bisa mendengar apa saja uneg-uneg yang hendak kau keluarkan!”

Makhluk Pembawa Bala membungkuk kemudian men0t0k pangkal leher sebelah kiri Raja 0bat. Saat itu juga punahlah t0t0kan yang menutup jalan suaranya.

“Kau bukan insan tapi iblis! Apa salah c0w0k itu hingga kau membunuhnya?!” Begitu jalan suaranya terbuka Raja 0bat eksklusif membentak.

”Ha… ha… ha! Mentang-mentang sudah bisa bicara 0m0nganmu tidak sedap masuk ke telingaku. Kau tidak melihat kenyataan Raja 0bat! Kalau saya tega membunuh kec0ak satu ini apa kau kira saya tidak tega mencabut nyawamu?!”

”Tadipun saya sudah bilang supaya kau segera membunuhku! Kau tak bakal mendapatkan keterangan apa-apa dariku!” jawab Raja 0bat.

”Kita akan lihat! Kita akan lihat!” kata Makhluk Pembawa Bala pula.

”Silahkan kau mau membunuh saya cara bagaimana! Menghancurkan kepalaku! Mematahkan batang leherku atau menjeb0l isi perutku!”

“Ah! Rupanya kau tahu juga banyak cara mati yang enak! Ha… ha… ha! Tidak…semua cara yang kau sebutkan itu tidak akan kejadian. Aku punya cara lain yang lebih sedap… Pertama , satu persatu kuku jari tangan dan kakimu akan kubet0t lepas. Lalu kulit kepalamu akan kukupas. Setelah itu lidahmu… 0h tidak… Lidah belakangan. Aku masih ingin mendengar jeritanmu. Salah satu matamu akan kuk0rek lebih dulu. Setelah itu…hik… hik… hik! Ini yang sedap dan lucu! Kau pasti akan menikmatinya. Bijimu akan kupencet , kulepas , kupencet. Lepas… pencet… lepas… pencet! Ha… ha… ha… Kalau suaramu sudah serak lantaran menjerit gres kuremas hancur bijimu itu! Ha… ha… ha… ha!”

Selagi Makhluk Pembawa Bala bicara sambil tiada hentinya tertawa Raja 0bat Delapan Penjuru Angin rahasia mencicipi bahwa pinggul Wir0 yang bersentuhan dengan pinggulnya terasa hangat. Lalu ada denyutan-denyutan halus pada sisi perut si pemuda. Dari gejala ini si Raja 0bat segera maklum kalau c0w0k itu bahwasanya belum menemui kematian tapi cuma pingsan dengan luka dalam teramat parah. Hati 0rang tua ini menjadi lega , 0taknya segera bekerja.

Saat itu Makhluk Pembawa Bala telah keluarkan sebuah catut besi dari balik jubah dekilnya. Benda ini ditimang-timangnya beberapa kali kemudian beliau berlutut di ujung kaki Raja 0bat.

”Aku masih memberi kesempatan padamu. Memilih mati tersiksa atau kau lekas memberi tahu dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa itu!”

”Kalau hendak membunuhku mengapa tidak eksklusif saja? Mengapa masih bertanya-tanya?! Aku sudah bilang tidak tahu menahu s0al segala kitab tuhan itu! Kalaupun tahu tak bakal kukatakan pada makhluk berandal macammu.”

Makhluk Pembawa Bala tertawa gelak-gelak.

”Rupanya kau menentukan menyusul c0w0k ini. Kupikir-pikir dalam usiamu yang seratus tahun ini apa perlunya kau hidup lebih lama! Baik! Jika kau ingin mampus saya tuan besarmu segera membuka pintu neraka untukmu!”

Makhluk Pembawa Bala kemudian tempelkan ujung catut besi ke kuku ibu jari kaki kanan Raja 0bat. Mulutnya yang k0rengan bernanah menyeringai , “Umur sudah bangk0tan. L0bang neraka sudah menunggu! Masih tidak tahu diri! Rasakan siksaanku!”

Dua ujung catut menjepit kuku. Ketika siap untuk disentakkan tiba-tiba Raja 0bat berseru. ”Tunggu!”

”Hemmm. Apa kau mau bicara?!” tanya Makhluk Pembawa Bala pula.

“Ya… ya… Aku menyerah!” jawab Raja 0bat.

“Kalau begitu lekas bicara! Katakan dimana beradanya Kitab Putih Wasiat Dewa itu!”

“Ba… baik… Tapi untuk mengetahuinya tak bisa diterangkan begitu saja. Aku harus melaksanakan sesuatu. Aku harus melihat di alam mistik gres bisa membaca dan mengatakan…”

“Jangan berani menipu!”

“Terserah padamu! Jika tidak percaya saya tak bisa melaksanakan apa yang kau minta…”

“Apa yang hendak kau lakukan? Apa kau tidak bisa eksklusif mengatakan?!”

“Tidak… Aku harus minta petunjuk dari alam mistik lewat asap kerikil merah…”

“Apa itu asap kerikil merah?”

“Jika dibacakan mantera dan ditebarkan bubuk kerikil merah ke udara maka akan kudapat petunjuk dimana beradanya kitab sakti itu. Petunjuk tak bisa didapat cepat , tergantung bagaimana alam mistik menerimanya…”

“Aku tidak percaya!” kata Makhluk Pembawa Bala seraya berdiri kemudian melangkah mundar-mandir.

“Kalau begitu bunuh saya kini saja!” Raja 0bat se0lah benar-benar pasrah dan tidak takut sama sekali.

”Setan!” memaki Makhluk Pembawa Bala seraya tendang rusuk Raja 0bat hingga 0rang tua ini mengeluh tinggi dan mengerenyit kesakitan. “Baik , saya akan lepaskan t0t0kanmu. Tapi jikalau kau berani memuslihatiku kau akan mampus lebih cepat!” Ancam Makhluk Pembawa Bala kemudian beliau membungkuk dan lepaskan t0t0kan di tubuh si 0rang tua.

Begitu t0t0kan di tubuhnya lepas Raja 0bat bangun dan duduk bersila. Dengan sehelai kecil kain putih ditutupnya auratnya sebelah bawah kemudian beliau rangkapkan dua tangan di depan dada. Sebelum pejamkan matanya beliau memberi tahu.

“Aku akan bersemadi sambil merapal mantera…”

“Cepat lakukan!” hardik Makhluk Pembawa Bala seraya berkacak pinggang dan mengawasi.

Raja 0bat kemudian pejamkan kedua matanya. Mulutnya yang berisi sirih dan tembakau berk0mat-kamit tiada henti. Makhluk Pembawa Bala menunggu tidak sabaran. Tak selang berapa usang 0rang tua ini buka kedua matanya. 0rang di depannya segera menghardik.

“Kau sudah tahu dimana letak kitab sakti itu?!”

”Harap bersabar…” jawab Raja 0bat pendek. Lalu tangan kanannya diulurkan ke depan. Dengan dua jari tangannya dicungkilnya kerikil merah di hadapannya. Pecahan kerikil ini kemudian diremasnya hingga hancur menjadi bubuk. Selagi perhatian Makhluk Pembawa Bala tertuju pada tangan kanannya , perlahan-lahan Raja 0bat turunkan tangan kirinya ke bawah. Dua jari mencungkil kerikil merah di ujung lututnya. Seperti dengan tangan kanan tadi , pecahan kerikil diremasnya hingga berubah jadi bubuk sementara mulutnya terus berk0mat kamit.

”Pertunjukan apa yang hendak diperlihatkan jahanam ini padaku!” rutuk Makhluk Pembawa Bala semakin tidak sabar.

Mulut si 0rang tua tiba-tiba terbuka. Lalu terdengar suaranya berucap. “Alam mistik akan kusebar persembahan! Sebagai imbalan beri petunjuk padaku. Beri petunjuk padaku dimana letaknya Kitab Putih Wasiat Dewa. Persembahan harap dibalas dengan petunjuk supaya seimbang budi di alam gaib…”

Perlahan-lahan Raja 0bat angkat tangan kanannya. Bubuk kerikil merah yang ada dalam genggamannya disebarkan ke udara. Maka di tempat itu bertebarlah bubuk yang bermetam0rf0sis asap merah. Untuk beberapa lamanya ada wangi aneh yang menindih wangi busuk tubuh Makhluk Pembawa Bala. Untuk beberapa lamanya pula pemandangan si makhluk tertutup 0leh lapisan asap merah. Pada dikala itulah dengan cepat Raja 0bat gerakkan tangan kirinya ke samping. Begitu beliau berhasil menyentuh ekspresi Pendekar 212 , bubuk kerikil merah yang ada dalam genggamannya disumpalkannya ke dalam ekspresi sang pendekar. Lalu dengan dua ujung jarinya dit0t0knya urat besar di leher si pemuda.

“Hekkk!”

Bubuk kerikil merah larut dan masuk ke dalam tengg0r0kan Wir0 terus masuk ke dalam perutnya.

“Aku mendengar bunyi 0rang tercekik!” Tiba-tiba Makhluk Pembawa Bala berteriak. Dia mulai curiga.

”Itu suaraku batuk lantaran kemasukan debu kerikil merah. Jangan berani buka bunyi lagi dan jangan bergerak dari tempatmu. Kalau tidak semua bisa buyar dan saya tak sanggup petunjuk dari alam gaib!”

Makhluk Pembawa Bala meskipun murka terpaksa menutup ekspresi dan tak bergerak dari tempatnya berdiri yakni sekitar lima langkah di hadapan Raja 0bat yang duduk bersila di atas kerikil merah.

***


BAB VII

PADA dikala bubuk kerikil merah masuk ke dalam tubuhnya terjadilah hal yang luar biasa. Tubuh Pendekar 212 yang dikala itu menderita luka dalam yang amat parah dan keadaannya tak beda dengan 0rang yang sedang sekarat diserang 0leh satu aliran sakti hawa sejuk. Setelah mengalir ke seluruh jalan darahnya hawa ini berkumpul di p0t0ngan dada yakni pada p0t0ngan yang kena hantaman Makhluk Pembawa Bala. Saat itulah Wir0 perlahan-lahan kembali siuman. Pipi kanan dan dadanya mendenyut sakit. Lalu dirasakannya hawa sejuk aneh menyengat dadanya. Rasa sejuk mendadak bermetam0rf0sis sengatan hawa panas luar biasa. Mulut Pendekar 212 terbuka lebar hendak berteriak lantaran kesakitan. Tapi tak ada bunyi yang keluar. Dia c0ba menggerakkan tangan untuk memegang dada. Tak bisa. Sadarlah murid Sint0 Gendeng kalau dikala itu dirinya berada dalam keadaan tert0t0k. Dia c0ba melirik ke samping. Di udara dilihatnya ada tebaran asap merah menutupi pemandangan. Lalu telinganya mendengar bunyi 0rang meracau mirip membaca mantera.

“Aku ingat betul. Makhluk Pembawa Bala menghantamku dengan tiba-tiba. Aku pingsan. Sekarang berada di mana diriku ini? Asap aneh apa di depanku itu. Siapa pula yang sedang membaca mantera?” Berbagai pertanyaan muncul dalam hati Pendekar 212. Perlahan-lahan sengatan hawa panas lenyap. Hawa sejuk kembali muncul di sekitar dada. Tapi tidak usang lantaran hawa sejuk ini bergerak mengalir menuju ke atas , naik ke kepala Wir0 mengarah pipi kanannya yang dikala itu bisul besar hingga matanya hampir tertutup. Di sebelah dalam ada p0t0ngan tulang pipinya yang retak.

Wir0 merasa kepalanya mirip dipanggang ketika tiba-tiba hawa sejuk lenyap berganti dengan hawa panas yang menghantam laksana sambaran petir. Kalau saja dirinya tidak tert0t0k dikala itu pasti jeritannya setinggi langit.

”Gila! Apa yang terjadi dengan diriku! Siapa yang punya pekerjaan ini?!” rutuk Pendekar 212 dalam hati.

Ketika hawa panas hilang berganti dengan hawa sejuk Wir0 mencicipi sakit di kepalanya lenyap , bisul besar di mukanya sebelah kanan telah berkurang walau matanya masih agak menggembung.

“Ada sese0rang meng0bati diriku. Siapa…?” Wir0 berusaha membalikkan tubuh dan memutar kepala tapi tidak bisa lantaran dirinya masih berada dalam keadaan tert0t0k.

Pada dikala itulah tiba-tiba murid Sint0 Gendeng mendengar bunyi halus mirip nyamuk mengiang di telinganya.

“Ada 0rang sakti memberikan sesuatu padaku…” ujar Wir0 dalam hati.

“Anak muda… Sebentar lagi asap merah di depanmu akan pupus. Kau akan melihat se0rang menggunakan caping di kepalanya , mengenakan jubah k0t0r tegak beberapa langkah di depanmu. Kau harus membunuh insan itu. Pergunakan ilmu kesaktianmu yang paling hebat. Kau harus bisa membunuhnya dengan sekali menghantam. Kalau tidak kau dan juga saya akan celaka besar!”

Wir0 hendak menjawab tapi tak mampu. Sesuai petunjuk yang didengarnya murid Sint0 Gendeng ini segera salurkan tenaga dalamnya ke tangan kiri dan tangan kanan. Saat itu juga sepasang lengannya hingga ke ujung kuku bermetam0rf0sis seputih perak. Ini satu mengambarkan bahwa Pendekar 212 siap melancarkan pukulan “Sinar Matahari” dengan tenaga dalam penuh!

”Tua bangka keparat!” tiba-tiba. Wir0 mendengar bunyi 0rang membentak. “Apa kau sudah mendapat petunjuk?! Aku sudah tidak sabaran! Aku punya firasat kau hendak menipuku! Lebih baik kau kubunuh dikala ini juga!”

“Kalau kau bersabar sedikit lagi , saya segera mendapat petunjuk. Di hadapanku sudah terlihat sesuatu. Aku akan menyampaikan padamu apa yang saya lihat. Aku melihat se0rang nenek dengan wajah seseram setan. Di kepalanya ada satu mahk0ta memancarkan sinar kehijauan. Di tangan kanannya beliau memegang sebuah t0ngkat besi berwarna kuning. Aku lihat beliau berucap menyampaikan sesuatu. Aku dengar beliau mengatakan… mengatakan…”

“Mengatakan apa?!” sentak Makhluk Pembawa Bala.

Saat itu asap merah bubuk kerikil merah perlahan-lahan mulai menipis. Seperti yang dikatakan ngiangan bunyi di telinganya , walau dengan sudut matanya Wir0 sanggup melihat ses0s0k tubuh berdiri beberapa langkah di hadapannya. 0rang ini menggunakan caping di kepalanya , mengenakan sehelai jubah butut. Tangan dan mukanya mengerikan lantaran dipenuhi cacar air bernanah dan menebar wangi busuk.

“Makhluk Pembawa Bala!” kata Wir0 dalam hati.

Amarah eksklusif naik ke kepalanya. “Aku sudah menduga…” Maka Pendekar 212 segera kerahkan seluruh tenaga dalamnya pada tangan kanan kiri.

”Nenek bermuka setan mengatakan…” kembali terdengar bunyi Raja 0bat sambil tangan kirinya dengan cepat bergerak ke arah punggung dan pangkal leher Pendekar 212. “Nenek itu menyampaikan siapa yang ingin mengetahui dimana tersembunyinya Kitab Putih Wasiat Dewa maka beliau harus mendengarkan dengan indera pendengaran terpentang dan mata terpejam. Makhluk Pembawa Bala harap kau buka telingamu baik-baik dan pejamkan kedua matamu!”

Makhluk Pembawa Bala yang tegak beberapa langkah dari hadapan si Raja 0bat segera pasang indera pendengaran baik-baik. Ketika beliau hendak memejamkan mata , di balik asap merah yang semakin menipis tiba-tiba beliau melihat s0s0k tubuh Pendekar 212. Lalu pandangannya membentur wajah si c0w0k dan kurang jelas melihat sepasang mata Wir0 yang terbuka.

“Eh… Pemuda itu bukankah beliau tadi sudah mati…?!” Makhluk Pembawa Bala angkat tangan kanannya dan maju selangkah. ”Jahanam! Tua bangka keparat! Kau menipuku!” teriak Makhluk Pembawa Bala marah. Tangan kanannya dihantamkan pada Raja 0bat. Justru pada dikala itu pula s0s0k Pendekar 212 mel0mpat ke hadapannya. Dari jarak hanya tiga langkah murid Sint0 Gendeng lepaskan pukulan ”Sinar Matahari” dengan tangan kiri kanan. Dua larik sinar panas menyilaukan berkiblat.

Suara Jeritan Makhluk Pembawa Bala karam 0leh gemuruh dua pukulan “Sinar Matahari” yang menghantam dirinya. Tubuh 0rang ini mencelat ke udara dalam keadaan cerai berai , hangus dan mengepulkan wangi menggidikkan!

Sepasang kaki yang hancur hangus melesat ke timur. P0t0ngan tubuh dengan isi perut berbusaian mencelat ke barat. Dua tangan terlepas entah kemana. Bagian dada dan kepala yang hancur melesat ke utara ke arah lautan lepas!

Di tengah bahari selatan yang dikala itu 0mbaknya mulai besar tanggapan tiupan t0pan dari utara , sebuah jukung kelihatan meluncur pesat membelah 0mbak. Perahu kecil ini ditumpangi 0leh se0rang nenek berdandan aneh yang mengingatkan kita pada Iblis Tua Ratu Pes0lek. Meskipun sudah tua keriputan namun si nenek berdandan menc0r0ng. Bibir dan pipi dicat merah. Bedak putih kekuningan hampir setebal dempul menutupi wajahnya. Sepasang alis hitam mencuat ke atas. Sanggulnya rapi dan bagus. Dia mengenakan sehelai baju panjang berwarna hitam dengan bunga-bunga putih. Selagi enak-enak di dalam bahtera yang dihantam gel0mbang itu tiba-tiba beliau melihat satu benda melayang di udara.

“Burung bukan , kampret juga bukan! Makhluk apa yang melayang itu…?” si nenek membatin seraya berdiri tegak di atas jukung dan terus mend0ngak memperhatikan benda yang melayang di udara. Alisnya yang mencuat mengernyit. Dia tidak sanggup memastikan benda apa itu adanya. “Tak puas kalau saya tidak tahu benda apa yang melayang itu!” katanya dalam hati. Ketika benda di udara hampir lewat di atas kepalanya , si nenek angkat tangan kanannya. Terjadilah satu hal yang hebat. Benda yang melayang di udara seakan-akan tertahan. Ketika si nenek memutar-mutarkan tangannya benda itu ikut berputar.

Begitu si nenek gerakkan tangannya perlahan-lahan ke bawah , benda yang di udara seakan-akan tersed0t ikut tertarik ke bawah. Sesaat kemudian ”braakkk!” Benda itu jatuh bergedebuk di lantai bahtera di hadapan si nenek. Bau busuk bercampur wangi sangitnya daging yang terpanggang melanda hidungnya.

Sepasang mata wanita tua berdandan menc0r0ng itu mendelik besar. Yang dilihatnya dikala itu yaitu p0t0ngan tubuh insan mulai dari dada hingga ke kepala dalam keadaan terpanggang hangus mengerikan!

”00 ladalah! Seumur hidup gres kali ini saya menyaksikan pemandangan begini rupa! Manusia atau binatang yang menggeletak di hadapanku ini?” ujar si nenek. Sambil menekap hidungnya beliau c0ba meneliti kemudian geleng-gelengkan kepala. ”Tak bisa kukenali…” katanya. “Aku tak mau ketumpangan makhluk busuk mirip ini. Pergilah!”

Sekali kaki kirinya menendang maka p0t0ngan tubuh dan kepala yang mengerikan itu , yang bukan lain yaitu p0t0ngan tubuh dan kepala Makhluk Pembawa Bala mencelat mental hingga beberapa t0mbak dan jatuh ke dalam bahari , dilamun 0mbak dan amblas karam tak kelihatan lagi.

***


BAB VIII

PENDEKAR 212 jatuhkan diri ke atas kerikil datar merah. Berlutut dengan dada turun naik. Wajahnya yang masih bisul tampak agak pucat. Perlahan-lahan beliau duduk bersila , atur jalan napas , darah dan tenaga dalam. Ketika beliau berpaling ke kiri pandangannya membentur 0rang tua bermuka biru itu. Wir0 segera bangun berdiri , melangkah mendekati kemudian berlutut di hadapannya. Untuk beberapa lamanya beliau memandangi wajah berbelang biru , rambut , janggut dan kumis panjang memutih itu.

“0rang tua , saya berterima kasih padamu. Kalau tidak dengan pert0l0nganmu saya pasti sudah menemui janjkematian di tangan Makhluk Pembawa Bala itu. Aku berhutang budi dan nyawa padamu dan tak tahu bagaimana harus membalasnya…” Wir0 membungkuk h0rmat hingga tiga kali.

“Makhluk Pembawa Bala itu memang jahat busuk , ganas dan licik. Sejak satu tahun belakangan ini beliau malang melintang di bahari selatan. Pasti ada sesuatu yang dicarinya. Sekaligus menunggu sese0rang untuk dibunuh… Mungkin sekali ada yang menyuruhnya.”

“Pasti diriku yang diarahnya. Siapa yang menyuruhnya apakah kau tahu 0rangnya?” tanya Wir0. Yang ditanya menggeleng.

“Ada permusuhan apa antara kau dengan dirinya hingga beliau inginkan nyawamu?!”

“Aku tidak tahu. Dua kali beliau menghadangku di tengah lautan. Aku berhasil l0l0s. Kali yang ketiga beliau memuslihati diriku dengan menyamar menjadi…”

Si 0rang tua tersenyum. “Dia menyamar menyerupaiku dan berhasil mengelabuimu…”

“Sekali lagi saya berterima kasih atas pert0l0nganmu ,” kata Wir0 pula.

“Pert0l0nganku belum selesai. Putar dudukmu. Hadapkan punggungmu ke arahku…”

Walau tidak mengerti apa maksud 0rang tua itu namun Wir0 memutar duduknya membelakangi. Pada dikala itulah tanpa bunyi dan tanpa disadari 0leh Wir0 tiba-tiba 0rang tua di belakangnya mengangkat tangan kanan dan menghantam punggungnya.

“Bukkk!”

Wir0 Sableng menjerit keras. Tubuhnya mencelat hingga satu t0mbak , terbanting menelungkup di atas kerikil merah. Punggungnya laksana hancur luluh. Bersamaan dengan teriakannya tadi dari mulutnya menyembur darah hitam berbuku-buku. Wir0 menc0ba bangkit. Terhuyung-huyung sambil menyeka darah yang membasahi pinggiran mulutnya beliau mendatangi si 0rang tua kemudian jatuhkan diri di hadapannya dan membentak dengan mata mel0t0t.

”0rang tua , kau hendak membunuhku…?!”

“Aku hanya membersihkan sisa-sisa darah beku yang masih bersarang di dadamu tanggapan pukulan Makhluk Pembawa Bala itu. Jika darah beku itu terus mendekam di tubuhmu , kau akan menemui janjkematian dalam waktu dekat sehabis disiksa 0leh penyakit yang sulit disembuhkan…”

”Terima kasih , lagi-lagi kau telah men0l0ngku ,” kata Wir0 begitu menyadari bahwa apa yang dilakukan 0rang tua itu tadi yaitu men0l0ngnya. Sesaat Wir0 pandangi 0rang yang duduk di hadapannya itu kemudian berkata. “0rang tua , melihat pada ciri-cirimu saya yakin bukankah kau 0rang yang digelari Raja 0bat Delapan Penjuru Angin itu?”

Yang ditanya tersenyum kemudian menjawab.

“Kau sudah tahu siapa diriku. Sekarang katakan siapa dirimu.”

”Namaku Wir0 Sableng. Aku murid Eyang Sint0 Gendeng dari Gunung Gede…”

“Gunung Gede jauh sekali dari tempat ini. Jika kau menyabung nyawa untuk menyeberangi daratan mengarungi lautan berarti ada sesuatu yang sangat penting menjadi tujuanmu.”

Wir0 kemudian menceritakan pengalamannya dit0l0ng pertama kali 0leh anak buah Ratu Duyung (baca Epis0de II: Wasiat Dewa). “Ketika saya dilepas pergi 0leh Ratu Duyung , di tengah bahari mendadak muncul dua 0rang berkulit hitam yang tubuhnya bersirip mirip ikan. Mereka bermaksud membunuhku tapi saya berhasil l0l0s. Belum usang selamat dari dua makhluk keparat itu tiba-tiba Makhluk Pembawa Bala muncul pula. Nasibku masih untung. Sebelum ajalku hingga di tangan makhluk busuk itu enam 0rang anak buah Ratu Duyung walaupun dalam keadaa kurang jelas kulihat tiba men0l0ngku. Rupanya Makhluk Pembawa Bala tidak punya nyali melawan mereka kemudian melarikan diri…”

“Cerita dan pengalamanmu luar biasa! Tapi kau belum menyampaikan apa tujuanmu tiba ke pulau ini…”

“Aku mendapat petunjuk dari Ratu Duyung bahwa sebuah pulau yang keseluruhannya terdiri dari kerikil merah terletak di tenggara. Aku harus menuju ke pulau itu. Namun mirip yang kututurkan tadi , di tengah bahari saya dihadang 0leh 0rang-0rang yang hendak membunuhku. Dalam keadaan pingsan perahuku mungkin sekali ter0mbang ambing ke pulau ini. Lalu entah apa yang terjadi saya dapatkan diriku berada di sebuah kerikil datar miring berwarna merah. Baru saja saya siuman tiba-tiba ada satu benda bersinar melayang jatuh dari angkasa , menembus ke dalam bat0k kepalaku. Setelah itu saya mirip ditelan waktu. Aku melihat satu jalinan kisah mirip satu mimpi yang panjang…”

“Hebat sekali… Hebat sekali apa yang kau tuturkan tadi ,” kata Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. “Tapi mengapa kau masih belum menyampaikan apa tujuanmu mencari pulau kerikil merah ini?”

“Aku mendapat kiprah dari guruku Eyang Sint0 Gendeng serta dua t0k0h silat yaitu Si Raja Penidur dan Kakek Segala Tahu. Mereka menyuruh saya mencari dan mendapatkan sebuah kitab sakti berjulukan Kitab Putih Wasiat Dewa. Menurut mereka kau satu-satunya 0rang yang mengetahui di mana beradanya kitab itu.”

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin tertawa. “Aku hanya se0rang tukang 0bat tak berguna. Kemampuanku serba terbatas termasuk pengetahuanku. Bagaimana mungkin mereka bisa menduga bahwa saya satu-satunya 0rang yang mengetahui dimana beradanya kitab sakti itu?”

”Ketika bertemu dengan Ratu Duyung , wanita sakti itu juga memberi tahu bahwa memang hanya kau yang mengetahui hal kitab sakti itu.”

”Hemmmmm.. Ratu Duyung. Dia memang insan luar biasa. Cantik dan mempunyai kepandaian tinggi ,” kata si 0rang tua pula. “Anak muda. 0rang-0rang yang menyuruhmu itu benar-benar memperlihatkan kiprah maha berat padamu. Kau tahu mengapa mereka inginkan kitab itu?”

“Menurut mereka dalam dunia persilatan akan muncul sebuah kitab sakti yakni Kitab Wasiat Iblis. Barang siapa yang memilikinya akan menjadi raja di raja dunia persilatan. Karena kitab ini berdasarkan pada ped0man hitam yang sesat maka harus dimusnahkan. Hanya ilmu yang terkandung dalam Kitab Putih Wasiat Dewa yang sanggup mengalahkan kesaktian Kitab Wasiat Iblis. Kini kitab iblis itu kabarnya sudah jatuh ke tangan se0rang sakti sesat dan jahat yaitu Pangeran Matahari.”

Untuk pertama kalinya Raja 0bat Delapan Penjuru Angin meludah membuang cairan sirih dan tembakau yang ada di mulutnya ke atas kerikil merah di sampingnya. Anehnya cairan itu se0lah meresap ke dalam kerikil , sesaat kemudian lenyap tak berbekas.

“Anak muda , selama tujuh puluh tahun saya memencilkan diri di pulau ini…”

“Tujuh puluh tahun?” mengulang Wir0 sambil menatap lekat-lekat ke wajah si 0rang tua. Lalu beliau memandang sekeliling pulau. Sejauh mata memandang hanya kerikil , bebukitan dan pegunungan merah yang tampak. Sama sekali tak satu tetumbuhanpun yang kelihatan. Tujuh puluh tahun memencilkan diri? Siapa bahwasanya si Raja 0bat ini?

Pember0ntak yang dikejar-kejar kemudian lari ke sini?” Begitu Wir0 membatin. Dia tidak tahu kalau bahwasanya si 0rang tua yaitu se0rang Pangeran.

“Makhluk Pembawa Bala dan dirimu yaitu dua insan terakhir yang mendatangi pulau ini sehabis tujuh puluh tahun. Kau bisa membayangkan. Sekian usang saya tak pernah meninggalkan pulau. Bagaimana mungkin saya mengetahui segala urusan dunia persilatan di luar sana , termasuk kitab yang kau katakan itu…?!”

”Jadi?!” seru Wir0 kemudian terdiam. Hanya matanya saja yang memandang besar dan tak berkesip pada Raja 0bat yang duduk bersila di depannya dengan air muka tidak berubah. “Jadi kau sama sekali… benar-benar kau tidak mengetahui ihwal Kitab Putih Wasiat Dewa itu?”

”Mendengarnyapun gres sekali ini?’ jawab Raja 0bat.

Wir0 menarik napas panjang. Lalu ”plaakk!” Dia menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan kanan. Dia mirip terhenyak di atas kerikil merah yang didudukinya.

Dalam hati beliau setengah mengeluh setengah menyumpah. “Celaka! Percuma saya jauhjauh menyabung nyawa! Lebih baik mati saja supaya tidak kecewa sebesar ini!” Saking kesalnya Wir0 kemudian garuk-garuk kepalanya hingga rambutnya yang g0ndr0ng awutawutan.

Kemudian beliau memandang pada si Raja 0bat tak berkesip. Satu hal teringat dalam benaknya. “Jangan-jangan si muka belang ini Raja 0bat palsu pula dan hendak memuslihatiku!” pikir Pendekar 212.

”Raja 0bat ,” ujar Wir0 pula. “Saat pertama kali saya menginjakkan kaki di pulaumu ini saya mendengar bunyi 0rang menyanyi. Bukankah kau yang menyanyi itu?”

Si Raja 0bat tidak menjawab. Hanya menatap Wir0 dengan air muka tidak berubah. Namun sesaat kemudian beliau bertanya. “Mengapa kau bertanya begitu?”

“Ah , tidak apa-apa!” jawab murid Sint0 Gandeng. ”Suara yang menyanyi buruk tak yummy didengar. Lebih bagus bunyi kaleng r0mbeng diberi kerikil kemudian dig0yangg0yang…”

Wir0 melirik. Dilihatnya paras belang si 0rang tua agak berubah sedikit.

Dalam hati Wir0 tertawa. ”Rasakan kau. Kena batunya saya sindir!” Lalu beliau meneruskan.

”Tapi bait-bait dalam nyanyiannya itu mengingatkan saya akan sesuatu!”

“Sesuatu apa?” tanya Raja 0bat.

“Bahwa berdusta atau memuslihati 0rang itu hanyalah pekerjaan manusiamanusia culas mirip Makhluk Pembawa Bala yang sudah k0j0r itu. Tak layak dilakukan 0leh 0rang-0rang yang dianggap mempunyai kepentingan untuk berbaik budi dan men0l0ng sesamanya…”

“Ah , saya ingat pada se0rang Biksu di K0taraja. Ucapanmu hampir bersamaan dengan Biksu itu. Kau punya talenta jadi Biksu!” Raja 0bat kemudian tertawa gelak-gelak.

“Menjadi Biksu , menjadi pemuka agama atau t0k0h silat ataupun hanya se0rang rakyat jelata sepertiku sama saja. Sese0rang tidak dipandang dari siapa dirinya. Tapi dari apa yang dikatakannya dan apa yang dilakukannya!” jawab Wir0 pula. Lalu beliau melirik lagi. Kembali dilihatnya tampang si Raja 0bat yang belang biru itu berubah. ”Rasakan!” maki Wir0 lagi dalam hati.

“Anak muda , bait-bait dalam nyanyian itu setahuku tak ada sangkut pautnya dengan apa yang kau ucapkan…”

”Nah , nah!” kata Wir0 dalam hati seraya menyeringai. “Secara tidak eksklusif beliau mengakui bahwa memang dialah si penyanyi. Tapi biar saja saya tak mau membuatnya malu.”

Sambil menggaruk kepalanya Wir0 kemudian berkata.

“Raja 0bat , nyanyian yang kudengar itu se0lah Menceritakan ihwal se0rang tua renta yang telah puluhan tahun menunggu kedatangan se0rang budak malang. Pertemuan dengan budak itu yaitu final penantian datangnya satu cita-cita bahwa beliau akan kembali menghadap Yang Kuasa tanpa beban batin. Aku berharap , akulah budak malang dalam nyanyian itu dan kaulah 0rang tua gagah yang melaksanakan penantian!”

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin menatap wajah Pendekar 212 beberapa ketika kemudian tertawa gelak-gelak.

”Wir0 , dalam perilaku b0d0hmu ternyata kau yaitu se0rang cerdik. Memang saya telah menunggumu semenjak tujuh puluh tahun yang lalu…”

”Tujuh puluh tahun yang lalu?” ulang Wir0 dengan nada tidak percaya dan mata membesar. ”Gila! Saat itu saya masih belum lahir. Makara anginpun rasanya belum!” Raja 0bat tertawa.

”Tujuh puluh tahun kemudian ada dua insiden yang tak pernah kulupakan. Pertama , kedatangan se0rang utusan Kerajaan berjulukan Lawunggeni. Meminta 0bat untuk puteri Sri Baginda yang yaitu juga adikku lain ibu…”

Terkejutlah Wir0 mendengar keterangan Raja 0bat itu.

”Jadi , kalau begitu kau yaitu se0rang Pangeran!” katanya.

Si 0rang tua hanya tersenyum kecil. “Sri Baginda mengucilkan diriku lantaran malu mempunyai se0rang anak bermuka cacat mirip ini… Selama bertahun-tahun saya dibuang di sebuah hutan. Aku hidup sendirian hanya berteman alam. Tetumbuhan dan binatang. Ibuku jatuh sakit. Jiwanya terguncang hebat. Diam-diam beliau meninggalkan tempat Istana tanpa se0rangpun mengetahui. Saat ini kurasa beliau sudah tak ada lagi.”

“Aku ikut sedih mendengar kisahmu. Lalu bagaimana kau bisa menjadi spesialis dalam ilmu peng0batan…?” tanya Wir0 pula.

“Tuhan memberi petunjuk , alam memberi jalan. Selama di hutan saya mengetahui dan mempelajari bahwa akar pep0h0nan , kulit dan daun tetumbuhan , darah dan daging serta kulit binatang masing-masing mempunyai daya peng0batan yang ajaib…”

“Di hutan , saya bisa memaklumi lantaran hutan mengandung seribu satu macam 0bat jikalau insan memang mau menyelidiki. Tapi di pulau kerikil ini. Seperti yang saya lihat sama sekali tidak ada p0h0n , tetumbuhan , apa lagi binatang!”

”Tuhan menyebabkan 0bat bukan hanya dari tetumbuhan dan hewan. Tapi juga dari batu! Dengan kerikil merah di pulau inilah saya menyembuhkan adik perempuanku dari kelumpuhan. Juga dengan kerikil merah pula saya men0l0ngmu hingga luka dalammu yang parah bisa sembuh dan tulang pipimu yang retak bisa bertaut kembali…”

“Luar biasa! Batu bisa dijadikan 0bat… Bagaimana caranya?” tanya Wir0 terheran heran.

“Kalau tidak melihat sendiri memang sulit mempercayai ,” sahut Raja 0bat. Lalu dengan dua tangan kanannya ditusuknya kerikil di depannya hingga pecah berkepingkeping. Diambilnya satu kepingan kerikil yang lancip tajam. Dengan gerakan tak terduga Raja 0bat kemudian men0rehkan kerikil itu ke lengan Pendekar 212 hingga Wir0 berseru kaget dan kesakitan. Darah mengucur dari daging lengannya yang terk0yak.

“Apa yang kau lakukan ini?!” teriak Wir0.

“Kau ingin membuktikan bahwa kerikil bisa dijadikan 0bat. Bukan begitu?!”

“Tapi kau bukan meng0batiku. Malah mencelakai!” teriak Wir0 lagi.

Tenang saja si Raja 0bat ambil dua pecahan kerikil merah. Lalu diremasnya hingga kepingan-kepingan kerikil itu menjadi hancur sehalus bubuk. Bubuk kerikil merah ini kemudian ditebarnya di atas gesekan luka pada lengan Wir0. Asap tipis mengepul dari luka itu. Ketika asap lenyap luka di lengan Wir0 telah bertaut kembali. Yang terlihat hanya tebaran bubuk merah. Begitu si 0rang tua menyapu bubuk itu maka terlihat keadaan lengan Wir0 mirip semula se0lah tak pernah terluka sedikitpun!

“Bukan main. Kau memang hebat dan pantas menyandang gelar Raja 0bat Delapan Penjuru Angin!” memuji Wir0 seraya garuk-garuk kepala. “Sekarang , apakah kau masih tak mau menceritakan perihal Kitab Putih Wasiat Dewa itu?”

0rang tua di hadapan Wir0 tersenyum. “Kau pintar mengatur jalan percakapan. Tapi kesudahannya kau tetap pada tujuan semula. Aku suka padamu anak muda. Aku hanya berkisah satu kali. Makara kau dengar baik-baik.”

***


BAB IX

TUJUH puluh tahun yang silam , berdasarkan Raja 0bat Delapan Penjuru Angin ses0s0k tubuh buntung tanpa tangan dan kaki terdampar ke pulau kerikil merah lewat sebuah ter0w0ngan di bawah pulau.

“Menurut taksiranku , 0rang itu berusia hampir sama denganku , yaitu sekitar tiga puluh tahun. Melihat kepada kulit dan wajahnya saya yakin beliau berasal dari Ti0ngk0k. 0rang Cina…”

Wir0 yang ingat pada penuturan Ratu Duyung eksklusif saja mem0t0ng. “Ratu Duyung pernah menyampaikan padaku , 0rang Cina itu yaitu Ki H0k Kui , murid Kanjeng Sri Ageng Musalamat yang bergelar Tiat Th0uw H0uw alias Harimau Kepala Besi!”

Raja 0bat tersenyum. “Selain keterangan Ratu Duyung apakah kau ingat dengan apa yang terjadi dengan dirimu sebelumnya? Di luar sadarmu kau karam ke dalam alam mistik masa tujuh puluh tahun yang kemudian itu…”

“Betul sekali. Dalam alam aneh itu saya melihat segala sesuatunya seakan-akan saya berada di dalamnya. Bahkan saya melihat Jenderal Suma bercinta p0l0s-p0l0san dengan kekasih gelapnya yang berjulukan L0uw Bin Ni0 bergelar Tjui-hun Hui-m0 alias Iblis Terbang Pencabut Nyawa…”

“Hal-hal yang agak ser0n0k rupanya melek baik-baik dalam benakmu , anak muda!” menyindir Raja 0bat hingga Wir0 hanya bisa mesem-mesem sambil garuk kepala.

Si 0rang tua lantas melanjutkan penuturannya.

”Aku berusaha meng0bati luka pada empat angg0ta badannya yang buntung dan memasukkan bubuk kerikil merah ke dalam mulutnya. Satu hal menarik perhatianku. Pada dada 0rang Cina ini ada terikat sebuah kitab. Mungkin terbuat dari daun l0ntar. Aku sempat membaca g0resan pena pada sampul kitab. Di situ tertulis Kitab Putih Wasiat Dewa…”

Murid Sint0 Gendeng hampir terl0njak mendengar keterangan si Raja 0bat. “Apa yang terjadi kemudian? Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

“Sesuatu yang tak terduga terjadi dengan sek0ny0ng-k0ny0ng. Aku belum sempat turun memasuki l0bang di ujung ter0w0ngan itu. Tiba-tiba terjadi satu gempa dahsyat. Batu merah di dasar lubang ter0w0ngan rengkah. S0s0k Ki H0k Kui itu amblas ke bawah. Setahuku di bawah sana ada sebuah ter0w0ngan lagi. Dia pasti jatuh ke sana…”

“Raja 0bat ,” kata Wir0 dengan bunyi bergetar , ”Jadi kau tak sempat mengambil Kitab Putih Wasiat Dewa yang kau lihat terikat di dada Ki H0k Kui?!”

0rang tua itu menggeleng. “Aku juga tak mungkin men0l0ng Ki H0k Kui lantaran sehabis beliau amblas celah kerikil di dasar l0bang ter0w0ngan secara aneh bertaut kembali sehabis terjadi gempa berikutnya…”

”Jadi kitab sakti itu ikut amblas bersama s0s0k Ki H0k Kui?” tanya Wir0 dan beliau tak perlu menunggu jawaban. Untuk kedua kalinya murid Sint0 Gendeng ini mirip terhenyak. “Raja 0bat , selama tujuh puluh tahun mendekam di pulau ini apakah kau mengetahui kalau H0k Kui masih hidup atau sudah mati di dasar ter0w0ngan kerikil sana? Apa kau tak pernah menyelidik dengan masuk ke dalam bahari kemudian mencari ter0w0ngan kedua itu?”

“Sebentar lagi saya akan membawamu ke ekspresi ter0w0ngan yang bermuara di dalam lautan itu. Kau akan saksikan sendiri apa penghalangnya. Di bahari sekitar ter0w0ngan atas maupun bawah siang malam selalu berkeliaran ikan-ikan hiu penyantap daging manusia!”

“Jangan-jangan 0rang itu sudah menemui ajalnya…” kata Wir0 perlahan. Putuslah harapannya untuk mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Tubuhnya terasa lemas. Pandangannya k0s0ng. Lalu beliau berpaling pada Raja 0bat. “0rang tua , mirip kusaksikan tak ada p0h0n tak ada tetumbuhan pulau ini. Selama tujuh puluh tahun berada di sini kau hidup makan apa…?”

“Rezeki dari Tuhan selalu ada bagi setiap hambaNya ,” Jawab Raja 0bat. “0mbak melempar banyak sekali macam ikan ke ekspresi ter0w0ngan. Binatang-binatang itulah yang jadi santapanku.”

“Maksudmu kau panggang dulu atau bagi mana?”

“Tak ada api di pulau ini. Tak ada kayu untuk pemanggang…”

“Jadi kau makan mentah-mentah?”

Raja 0bat tersenyum. “Tak ada kuliner paling sedap di dunia ini selain ikan mentah yang segar.”

Tengg0r0kan Pendekar 212 jadi turun naik mendengar ucapan itu.

“Eh , kulihat tengg0r0kanmu turun naik. Seleramu menitik rupanya mendengar nikmatnya ikan mentah…”

“Justru saya mirip mau muntah!” jawab Wir0 p0l0s.

Raja 0bat tertawa mengekeh. “Justru kau akan segera menc0banya , anak muda. Kecuali kalau kau ingin berpuasa selama kau berada di sini.”

”Aku akan berusaha mencapai ter0w0ngan tempat Ki H0k Kui berada…”

Raja 0bat menarik napas dalam kemudian berkata , ”Puluhan tahun berada di sini saya telah berulang kali menc0ba hal itu. Lewat ekspresi ter0w0ngan di dalam bahari selalu gagal lantaran terhalang 0leh ikan-ikan hiu buas. Pernah pula kuc0ba untuk memb0b0l dari atas sini supaya ada jalan tembus ke ter0w0ngan di bawah sana namun sia-sia saja. Jari-jari tanganku tak bisa melakukannya. Setiap kucungkil kerikil merah di atas ter0w0ngan dengan jari-jari tanganku secara aneh beberapa hari kemudian kerikil itu membentuk lapisan gres di atasnya.”

“Menurutmu apakah Ki H0k Kui masih hidup di bawah sana?” tanya Wir0.

”Itulah yang saya masygulkan…” sahut Raja 0bat.

”Apakah kau pernah mencium wangi busuknya mayat manusia?”

Raja 0bat menggeleng.

”Kalau 0rang itu masih hidup tentu beliau sudah tua renta sepertimu. Kalau ternyata beliau sudah meninggal usang , berarti sia-sia semua apa yang telah saya lakukan!”

”Kau mempunyai ilmu pukulan yang hebat. Bagaimana kalau kau c0ba memb0b0lkan ter0w0ngan sebelah atas supaya bisa tembus ke ter0w0ngan sebelah bawah?”

“Aku akan c0ba! Baiknya kini juga. Tapi… Raja 0bat , apakah kau tidak kedinginan hanya menutupi tubuhmu dengan sehelai kain sekecil itu?”

”Aku sudah terbiasa dengan alam di pulau ini. Namun untuk s0pannya biar saya mengambil pakaian dulu. Aku tahu kau tak suka memandangi tubuh tua kurus kering mirip jerangk0ng ini. Lain halnya kalau saya se0rang gadis berwajah el0k dan punya tubuh mulus. Ha… ha… ha… !”

Raja 0bat membawa Wir0 ke sebuah lekukan batu. Di dalam lekukan kerikil ini terletak sebuah peti terbuat dari besi yang p0t0ngan luarnya sudah karatan. Terdengar bunyi berkereketan ketika epil0g peti dibuka. Dari dalam peti ini Raja 0bat mengeluarkan sebuah jubah putih yang eksklusif dikenakannya. Dari sini beliau membawa Wir0 ke pertengahan pulau kerikil di mana terdapat satu l0bang yang merupakan ujung sebuah ter0w0ngan. Dasar l0bang digenangi air dan beberapa ek0r ikan sebesar ibu jari kaki kelihatan berkeliaran kian kemari.

“Itu makananku…” kata Raja 0bat sambil menunjuk pada ikan-ikan itu. ”Nah kau sudah siap?”

“Apa yang harus saya lakukan?” tanya Wir0.

“Kerahkan tenaga dalam penuh. Lepaskan pukulan saktimu yang paling hebat. Hantam dasar l0bang itu. Di bawah sana ada sebuah l0bang yang merupakan ujung ter0w0ngan di mana Ki H0k Kui berada. Jika kau bisa menjeb0l dasar ter0w0ngan ini , kita akan bisa melihat apakah Ki H0k Kui masih hidup dan apakah Kitab Putih Wasiat Dewa Hu masih ada padanya…”

Wir0 segera melangkah lebih dekat ke tepi l0bang. Tangan kanannya diangkat. Tenaga dalam dialirkan penuh. Tangan kanan itu segera bermetam0rf0sis seputih perak , panas dan menyilaukan.

“Raja 0bat…” tiba-tiba Wir0 berpaling dan turunkan tangannya.

”Ada apa?” tanya si 0rang tua heran.

“Jika l0bang itu kuhancurkan , kau akan kehilangan tempat penampungan ikanikan yang jadi santapanmu sehari-hari…”

Raja 0bat jadi terkejut mendengar ucapan Pendekar 212 itu. “Eh , anak muda. Kau benar juga. Tapi… Hemmm! Ya sudah! Hantam saja! S0al makananku biar kita pikirkan nanti saja!” kata 0rang tua itu akhirnya.

Wir0 kemudian angkat tangan kanannya. Tapi mendadak beliau turunkan tangannya kembali dan memandang pada Raja 0bat.

“Eh , ada apa lagi?” tanya 0rang tua itu.

”Bagaimana kalau pukulan saktiku bukan saja menghancurkan l0bang itu tapi menciderai bahkan bisa membunuh Ki H0k Kui di bawah sana…?”

“Ah , ini susahnya!” ujar Raja 0bat sambil usap-usap dagunya yang berjanggut putih panjang.

Tiba-tiba Wir0 ingat akan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung. “Biar kuc0ba…” katanya. Lalu matanya diarahkan tepat-tepat pada l0bang kerikil merah. Tenaga dalam dialirkan ke kepala. Sepasang matanya kemudian dikedipkan dua kali.

”Eh , apa yang tengah dilakukan anak ini ,” bertanya Raja 0bat dalam hati. Samar-samar Wir0 melihat sebuah l0bang lain di bawah l0bang yang ada di hadapannya. Namun hanya itu yang bisa dilihatnya. Setelah itu mirip ada satu kekuatan dahsyat menerpa ke arahnya menciptakan kepalanya terhuyung ke belakang dan kedua matanya sakit laksana dicucuk.

“Kau barusan melaksanakan apa?!” tanya Raja 0bat.

Wir0 hanya menggelengkan kepala. Hatinya bimbang. Namun dikala itu didengarnya Raja 0bat berkata. “Kau mau melaksanakan atau tidak? Tak ada jalan lain untuk mengetahui apakah 0rang itu ada di ter0w0ngan kedua atau tidak. Terserah padamu anak muda… Tugasku sudah selesai memberi petunjuk…”

Wir0 garuk-garuk kepalanya. “Tadi saya memang tidak melihat apa-apa di dalam lubang kedua. Namun mungkin saja Ki H0k Kui berada di dalam ter0w0ngan , tak jauh dari l0bang itu…”

“Bagaimana Wir0?!” Raja 0bat bertanya dengan nada mendesak.

“Baiklah. Aku terpaksa melakukan. Kalau 0rang Cina itu hingga mati 0leh pukulan saktiku , d0sanya biar kau yang tanggung!”

“Apa?! Tunggu dulu! seru Raja 0bat. “Enak saja kau bicara!”

Wir0 menyeringai.

“Kalau kau tak mau menanggung sendirian , baik. Kita bagi dua. Kau menanggung separuh , d0sa yang separuh lagi saya yang tanggung. Adil ‘kan?!”

“Gila!” maki Raja 0bat.

“Dunia ini memang sudah gila Raja 0bat. Suka atau tidak kita bahwasanya telah ikut larut dalam kegilaan itu!” jawab Wir0 pula.

“Kalau begitu kau hantamlah!” kata Raja 0bat akhirnya.

“Tidak , sebelum kau menyampaikan baiklah d0sa pembunuhan ini dibagi dua!”

Raja 0bat menggerutu panjang pendek. “Sukamulah! Aku berdasarkan saja!”

***


BAB X

DIDAHULUI satu bentakan keras Wir0 hantamkan tangan kanannya ke dalam l0bang. Sinar putih menyilaukan berkiblat. Satu dentuman keras menggelegar. Pulau kerikil merah itu bergetar laksana dilanda gempa. Baik Wir0 maupun Raja 0bat sama-sama terpelanting dan jatuh duduk beberapa t0mbak jauhnya dari l0bang ter0w0ngan.

”Kau tak apa-apa , Raja 0bat?” tanya Wir0.

“Aku baik-baik saja , cuma pantatku terasa geli-geli!” jawab Raja 0bat yang menciptakan Wir0 terg0ncang-g0ncang menahan tawa. “Ay0 kita lihat apa hasil hantamanmu!”

Kedua 0rang itu segera bangun berdiri dan melangkah ke tepi l0bang kerikil merah. Dua pasang mata memandang terperangah dan mel0t0t ke dalam l0bang kerikil kemudian saling pandang satu sama lain.

“Kau saksikan sendiri Wir0. Ada kekuatan aneh yang tak bisa kita tembus…”

Wir0 garuk-garuk kepala dan terduduk di tepi l0bang. ”Tidak mungkin… Tidak mungkin!” katanya berulang kali.

“Apa yang tidak mungkin?” tanya si Raja 0bat.

Wir0 tak menjawab. Dia berdiri dan melangkah cepat ke arah satu gundukan kerikil merah setinggi insan yang terletak kira-kira lima t0mbak dari tempat mereka berada. Dua t0mbak dari gundukan kerikil itu Wir0 berhenti. Tangan kanannya diangkat ke atas. Tenaga dalam dikerahkan. Lalu “wuusss!”

Sinar putih panas berkiblat.

”Braaakkk! Byaaarr!”

Satu dentuman keras menggelegar.

Gundukan kerikil di depan sana hancur berantakan. Setiap kepingan yang mencelat ke udara se0lah bermetam0rf0sis bara menyala dan mengepulkan asap!

Raja 0bat terkesiap menyaksikan insiden itu. Sebaliknya mirip tak percaya Wir0 memandang hancuran kerikil kemudian perhatikan tangan kanannya.

“0rang tua , kau saksikan sendiri pukulan Sinar Matahari yang gres kulepaskan sanggup menghancurkan gundukan kerikil besar , tebal dan tinggi itu. Lalu…” Wir0 berpaling ke arah l0bang ter0w0ngan. Penasaran , dengan langkah cepat beliau mendatangi , berdiri di tepi l0bang kemudian menghantam.

Untuk kesekian kalinya pulau kerikil merah itu dilanda gelegar dentuman dan bergetar hebat. Wir0 yang berada di tepi l0bang terbanting jatuh punggung. Raja 0bat terg0ntai-g0ntai kemudian r0b0h!

Tak perduli tulang punggung dan tulang pantatnya sakit murid Sint0 Gendeng cepat berdiri dan melangkah ke tepi l0bang batu. Si Raja 0bat mengikut dari belakang. Ketika keduanya memandang ke bawah , masing-masing sama keluarkan seruan tertahan. Seperti tadi , l0bang kerikil itu tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Air bahari tergenang jernih dan ikan kecil-kecil masih berenang kian kemari!

Raja 0bat pegang pundak Pendekar 212 kemudian berkata. “Wir0 , ada satu kekuatan yang tak bisa kita kalahkan. Mungkin ini membawa pada satu petunjuk…”

”Bagiku petunjuknya sudah terang ,” kata Pendekar 212 pula.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak berj0d0h dengan Kitab Putih Wasiat Dewa itu!”

“Jangan cepat berputus asa…”

“Raja 0bat , saya bukan 0rang yang gampang menyerah. Tapi kalau kenyataan begitu rupa kurasa tak ada gunanya…”

”Dengar anak muda! Dengar dulu ucapanku! Tujuh puluh tahun silam. Sehari sehabis Ki H0k Kui amblas ke dalam ter0w0ngan kedua , pada malam harinya saya bermimpi. Tidak… Bukan bermimpi! Tapi ada yang tiba padaku. Mula-mula saya dengar bunyi tiupan seruling. Tak usang kemudian menyusul gelegar bunyi auman binatang buas yang menggetarkan seanter0 pulau. Setelah itu muncul bayangan se0rang tua bertubuh sangat tinggi. Mengenakan selempang kain putih. B0la matanya berwarna biru angker. Dia memegang sebatang t0ngkat kayu putih. Di pinggangnya tersisip sebuah salung , yakni seruling khas 0rang seberang. Dia tidak tiba sendiri tapi membawa seek0r binatang besar. Seek0r harimau putih yang mempunyai mata hijau menggidikkan. S0s0k tubuh mereka antara ada dan tiada , se0lah terbuat dari asap atau kabut tipis. Namun apa yang diucapkannya cukup terang masuk ke telingaku. Aku masih ingat katakatanya.

”Pangeran S0ma , anak insan bergelar Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. Aku Datuk Ra0 Basaluang Ameh dan sahabatku ini yaitu Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Hari ini sesuatu telah terjadi di pulau dan kau tahu apa yang terjadi itu".

Se0rang anak insan yang tiba dari negeri jauh atas kehendak Yang Kuasa telah tersesat ke pulau ini dan mendekam dalam ter0w0ngan kerikil yang menjadi sumber kehidupanmu. Dia tiba membawa sebuah kitab sakti berjulukan Kitab Putih Wasiat Dewa. Kitab ini berusia ratusan tahun dan dititipkan secara turun temurun pada 0rang0rang tertentu. Kitab ini mengandung satu ilmu kesaktian yang bisa membendung angkara murka disebabkan 0leh perbuatan manusia-manusia iblis. Hanya ilmu dalam kitab inilah yang akan sanggup menumpas ilmu jahat dan segala ilmu hitam yang hendak menguasai dunia secara keji.

Namun kitab ini hanya berj0d0h pada satu 0rang yang telah ditentukan 0leh takdir. Tujuh puluh tahun dari kini 0rang itu akan muncul di pulau ini. Kepadanyalah kau harus memberi tahu di mana kitab itu berada. Kau berada di bawah satu amanat. Jika kau memberitahukan hal ihwal kitab itu pada 0rang lain yang tidak berhak , maka malapetaka akan jatuh atas dirimu…”

Raja 0bat memandang pada Wir0 dan berkata. “Waktu itu entah saya sadar entah tidak , saya bertanya pada 0rang tua yang muncul membawa harimau putih itu. Datuk Ra0 , tujuh puluh tahun bukan kurun waktu yang pendek. Apakah saya masih akan hidup selama itu? Sang Datuk menjawab. Pangeran S0ma s0al umur , s0al hidup dan mati insan hanya Tuhan yang tahu. Kau tak usah pertanyakan hal itu Aku masih belum puas. Lalu saya bertanya lagi. Siapa adanya 0rang yang akan muncul itu? Bagaimana saya tahu bahwa dialah 0rangnya? Datuk Ra0 menjawab. Lihatlah ke samping kirimu Pangeran.

Perhatikan baik-baik. Kau akan melihat bayangan 0rang yang kumaksudkan itu. Aku kemudian berpaling ke kiri. Tiba-tiba saja mirip dalam kabut , saya melihat s0s0k se0rang c0w0k kekar , berambut g0ndr0ng , mengenakan pakaian serba hitam. Bajunya tidak berkancing. Tiupan angin menyingkapkan pakaiannya dan saya melihat ada tiga rajah di dadanya. Angka 212! S0s0k yang kulihat itu ternyata yaitu dirimu , Wir0! Ketika tadi pertama kali saya melihat kau saya tahu bahwa memang kaulah 0rang yang saya tunggu selama kurun waktu tujuh puluh tahun itu. Sebelum pergi Datuk Ra0 Basaluang Ameh mengajarkan sebait nyanyian padaku. Aku menyanyikan lagu itu pada dikala saya mengetahui kedatanganmu di pulau ini.”

”Bagaimana kau bisa mengetahui kedatanganku?” tanya Wir0 ingin tahu.

”Datuk Ra0 juga memperlihatkan sebuah benda aneh padaku. Katanya pada dikala saya mengetahui kau akan tiba kerikil itu harus saya letakkan demikian rupa kemudian merapal satu bacaan. Lalu berseru begini:

Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun
menukik bumi. Cari dan dapatkan anak insan peserta Delapan Sabda Dewa. Di
dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal
malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru
angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti batu
pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik
bumi. Cari dan dapatkan anak insan peserta Delapan Sabda Dewa”

Wir0 ternganga mendengar ucapan si 0rang tua. Sambil memegang lengan Raja 0bat beliau berkata. ”Aku Ingat! Waktu itu hari gres berganti malam dan saya gres saja sadar dari pingsan. Sebelumnya memang saya mendengar ada nyanyian aneh. Kau yang bernyanyi. Lalu belum sempat saya berdiri tiba-tiba di angkasa saya melihat ada sebuah benda bercahaya melayang turun cepat sekali. Laksana kilat! Kukira bintang jatuh! Aku jadi kaget setengah mati ketika menyadari benda bercahaya itu jatuh ke arahku , masuk ke dalam bat0k kepalaku! Aku menjerit. Sekujur tubuhku terasa cuek bukan kepalang se0lah saya dipendam di dalam gunung es. Ketika saya siuman ada beberapa keanehan. Luka di keningku sembuh dengan sendirinya. Lalu saya sadari penuh dalam pingsanku saya melihat apa yang terjadi di daratan Ti0ngk0k masa tujuh puluh tahun kemudian hingga kesudahannya Ki H0k Kui dibantai secara keji dan mencebur masuk ke dalam bahari tak jauh dari pulau ini.”

Raja 0bat anggukkan kepalanya beberapa kali kemudian berkata. “Kedatanganmu telah kuketahui dalam mimpiku malam tadi. Aku melihat satu 0mbak besar bergulung menuju pulau kerikil merah ini. Di atas 0mbak saya lihat s0s0k dirimu. Dari mimpi itu saya sudah maklum bahwa kau akan segera tiba ke tempat ini. Itu sebabnya dari pagi saya sudah duduk menunggu sambil melantunkan nyanyian yang diajarkan Datuk Ra0 Basaluang Ameh…” Raja 0bat hentikan keterangannya. Dia menatap pada c0w0k yang duduk di hadapannya. Sejurus kemudian beliau berkata lagi. “Kau tadi menyebut Delapan Sabda Dewa. Dalam kemunculannya tujuh puluh tahun kemudian Datuk Ra0 pernah menyebutnya…Apa kau ingat unsur-unsur delapan sabda itu?”

Wir0 mengangguk.

“C0ba kau sebutkan ,” kata Raja 0bat pula ingin menguji.

“Tanah , air , api , udara , bulan , matahari , kayu dan batu…”

Si 0rang tua tersenyum kemudian mengangguk-angguk. “Hebat! Kau bisa mengingat semua. Datuk Ra0 pernah memberi tahu padaku. Tapi 0takku tidak setajam 0takmu. Aku selalu lupa delapan sabda itu. Apalagi kalau disuruh menyebut sesuai urut-urutannya…”

Wir0 menghela napas panjang.

“Anak muda , kau tampak gelisah , tapi juga masih ada bayangan frustasi pada wajahmu…”

“Kau berulang kali menyampaikan kitab itu berj0d0h padaku. Tapi buktinya saya ataupun kau tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya lebih baik saya meninggalkan tempat ini. Mungkin saya perlu minta petunjuk lebih jauh dari tua-tua dunia persilatan. Mungkin juga menemui Ratu Duyung untuk bertanya…”

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin terdiam.

”Aku tidak tahu bagaimana harus mencegahmu. Aku yakin sekali bahwa Kitab Putih Wasiat Dewa memang sudah ditakdirkan jatuh ke tanganmu , sesuai dengan petunjuk gurumu dan dua t0k0h silat yang kau katakan itu , juga sesuai amanat Datuk Ra0. Yang kau perlukan hanyalah bersabar dan mencari jalan mencari akal…”

”Bersabar telah jadi bagianmu. Kau telah bersabar selama tujuh puluh tahun menunggu kedatanganku. Mencari jalan dan mencari l0gika ada baiknya juga menjadi bagianmu…”

“Wir0 , apa jadinya kalau kitab sakti itu hingga jatuh ke tangan 0rang lain? Tugasmu yaitu mendapatkan kitab itu untuk menyelamatkan dunia persilatan…."

"Apa yang kau ucapkan barusan memang betul 0rang tua. Tapi saya sanggup mengukur kemampuan sendiri. Aku tak mungkin mendapatkan kitab itu. Jika hingga jatuh ke tangan 0rang lain maka itu yaitu takdir yang sebenarnya. Aku m0h0n maaf dan saya merasa lebih baik pergi saja…."

Baru saja Wir0 berkata begitu tiba-tiba ada satu bunyi merdu terdengar di udara di antara desau angin laut.

"Kita belum saling bertemu bertatap muka. Mengapa buru-buru hendak meninggalkan pulau yang indah ini?!"

Raja 0bat dan Wir0 sama-sama terkejut. Serta merta keduanya palingkan kepala.

***


BAB XI

Kalau Raja 0bat Delapan Penjuru Angin terkesiap dan tak percaya melihat ada sese0rang tahu-tahu muncul di pulau kerikil merah itu maka sebaliknya murid Sint0 Gendeng keluarkan seruan kemudian bersiul panjang.

"Aaaaahhhhh…. Mungkin yang ini yang berj0d0h denganku!" kata Wir0 sambil pentang matanya lebar-lebar.

Di hadapan mereka dikala itu berdiri se0rang gadis mengenakan baju panjang hitam berbunga-bunga putih. Wajahnya el0k sekali dan sikapnya genit. Dia berdiri sambil mengg0yang-g0yangkan pinggulnya dan senyum bermain di mulut. Kecantikan dan perilaku genitnya inilah yang menciptakan Wir0 tadi hingga keluarkan siulan panjang.

"Gadis el0k saya mengh0rmatimu sebagai tetamu. Katakan siapa dirimu…." Raja 0bat menegur.

Gadis tak dikenal itu masih memandang pada Wir0. Tanpa mengalihkan matanya beliau menjawab pertanyaan Raja 0bat.

"0rang tua kau menganggap saya sebagai tetamu. Rupanya kau merasa diri jadi pemilik dan tuan rumah di pulau kerikil gersang tak berpenghuni ini. Kalau begitu mengapa kau tidak segera menyuguhkan minuman untuk tamu agungmu ini?" Habis berkata begitu si gadis tertawa ha-ha hi-hi.

"Aha!" ujar Wir0. "Suaramu semerdu kicau burung , tawamu semerdu buluh perindu. Kalau saya b0leh bertanya naik apa kau tiba kemari?"

Si gadis tersenyum dan kedipkan matanya.

”Hemmm… Jelas saya ke sini tidak jalan kaki! Hik…hik…hik! Maunya saya ke sini digend0ng 0lehmu! Hik… hik… hikk! Aku bukan burung jadi tak bisa terbang! Pemuda ganteng tapi t0l0l! Tentu saja saya ke sini naik perahu!”

Mendengar jawaban 0rang Wir0 jadi garuk-garuk kepala. “Aku bahagia dengan gadis sepertimu. Cantik dan pintar bergurau…”

Raja 0bat mem0t0ng ucapan Wir0. “Kau kemari tidak secara kebetulan , bukan?”

“Apa kau kira saya sengaja ke sini untuk menyambangi dirimu dan melihat tampangmu yang buruk ini? Hik…hik…hik. Masih banyak c0w0k gagah di dunia ini yang sedap untuk dipandang. Terus terang saya menyesal tersesat ke tempat ini. Masih untung ada se0rang c0w0k gagah di sini! Hik…hik…hik… Kalau tidak kacau sudah pemandanganku! Hik…hik…hik!

”Kau belum menerangkan siapa dirimu…” kata Wir0 kemudian bangun berdiri dan melangkah ke arah si gadis. Terpisah tinggal tiga langkah dari hadapan gadis itu tiba-tiba Wir0 mendengar ada bunyi mengiang di telinganya.

“Wir0 , jaga jarakmu dan hati-hatilah. Aku melihat siapa gadis ini sesungguhnya. Di balik wajahnya yang el0k saya melihat wajah se0rang nenek berdandan menc0r0ng…”

“Eh?!” Wir0 berpaling ke arah Raja 0bat lantaran beliau tahu 0rang tua itulah yang barusan memberikan ucapan itu padanya. Dalam hati Wir0 berkata. “Aku tidak buta. Yang kulihat terang se0rang gadis el0k jelita. Tapi Raja 0bat tak mungkin berdusta.

Apakah gadis ini siluman bahari yang menampakkan diri sebagai gadis cantik?” Wir0 kemudian amati sepasang kaki si gadis. Tapi pakaiannya yang dalam menjala kerikil tempatnya berdiri menciptakan Wir0 tak bisa melihat kaki si gadis. Penasaran Wir0 maju mendekat.

“Maafkan kalau saya sedikit jahil!” kata Wir0. Lalu dengan cepat tangan kirinya menyingkap p0t0ngan bawah pakaian panjang gadis itu. Wir0 melihat sepasang kaki berkasut menginjak kerikil dan dua betis putih bagus.

“Dia bukan setan bukan siluman!” kata murid Sint0 Gendeng dalam hati. “Bagaimana Raja 0bat bisa bicara begitu tadi…” Lalu Wir0 turunkan kembali pakaian si gadis.

Gadis di hadapannya d0ngakkan kepala dan tertawa panjang. “Kau sudah melihat betisku yang putih dan bagus. Mengapa tanggung-tanggung. Apakah kau tidak ingin melihat p0t0ngan tubuhku yang lain-lain?”

Paras belang Raja 0bat Delapan Penjuru Angin berubah. Sebaliknya Wir0 Sableng tertawa lebar. Enak saja mulutnya nyepl0s bicara. “Kalau rejeki kami memang besar mengapa tidak ingin? Bukankah men0lak rejeki termasuk salah satu d0sa?”

“Hik…hik… hik! Pemuda ganteng , saya suka cara bicaramu. Kau suka bergurau , saya juga. Rupanya kita punya sifat dan selera sama. Hemm. Kau bisa jadi kekasihku…”

Gadis el0k itu keluarkan lidahnya yang merah berair dan beberapa kali membasahi bibirnya dengan ujung lidah. “Kalau kau memang jujur mau melihat tubuhku , saya tidak akan menutup rejekimu. Tapi bagaimana dengan sahabatmu 0rang tua berjubah putih itu?”

Bagian putih wajah Raja 0bat kelihatan menjadi merah. Lalu Wir0 yummy saja menjawab. “Tua atau muda sama saja. Yang namanya pria tidak ada beda. Sekarang terserah kau…”

Si gadis tersipu-sipu. Dia berpaling pada Raja 0bat kemudian berkata. “0rang tua , kalau kau memang tidak suka tutup saja matamu. Atau men0leh ke belakang. Tapi lebih k0ndusif kalau kau angkat kaki meninggalkan tempat ini…”

”Sudah , tak usah perdulikan dia!” ujar Wir0. “Apa yang hendak kau pertunjukkan padaku?”

Si gadis melirik ke arah Raja 0bat. 0rang tua itu tidak beranjak dari tempatnya. Juga tidak men0leh ke belakang atau memejamkan matanya.

”Kau benar!” kata si gadis tiba-tiba pada Wir0.

”Benar apa?” tanya Pendekar 212.

“Tadi kau bilang pria itu tua atau muda sama saja. Sahabatmu 0rang tua itu ternyata tidak berpaling , tidak memejamkan mata dan juga tidak pergi dari sini. Berarti beliau juga suka! Hik… hik… hik…”

”Wir0…” tiba-tiba mengiang bunyi Raja 0bat di indera pendengaran Pendekar 212. “Aku memang tidak berpaling , tidak memejamkan mata dan juga tidak pergi dari sini. Ada satu keganjilan pada gadis itu. Aku sudah melihat. Cuma sayang kau tidak percaya. Apapun pendapatmu saya tetap di sini dengan mata terpentang. Aku khawatir beliau tadi telah mencuri dengar apa yang kita bicarakan.”

Wir0 sesaat garuk kepalanya sambil menatap wajah el0k di depannya.

“Kau sudah siap?” tanya si gadis.

Wir0 mengangguk.

Gadis berpakaian hitam berkembang putih itu gerakkan kedua tangannya ke bawah menyingsingkan pakaian ke atas. Makin ke atas , makin ke atas dan kemudian dengan gerakan cepat tahu-tahu pakaian itu sudah tanggal dari tubuhnya!

Sepasang mata Pendekar 212 terpentang lebar. Darahnya mengalir lebih cepat dan sekujur tubuhnya mendadak s0ntak menjadi panas menyaksikan gadis el0k tanpa selembar benangpun kini menutupi auratnya , tegak hanya dua langkah di hadapannya dengan kaki terkembang dan tangan bert0lak pinggang. Sikapnya benar-benar menantang. Lain halnya dengan Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. Walau sepasang matanya menatapi tubuh telanjang itu namun pandangannya tampak k0s0ng dan di balik kebugilan si gadis itu justru beliau melihat sesuatu yang menciptakan hatinya rahasia merasa cemas.

“Pemuda ganteng! Sekarang saya menantangmu!” kata si gadis sambil kembali ulurkan lidahnya yang merah.

“Menantang bagaimana maksudmu…?” tanya Wir0.

Si gadis tertawa cekikikan. “Kau akal-akalan tidak tahu padahal saya tahu nafsumu sudah hingga di tengg0r0kan! Hik…hik…hik. Dengar saya sudah menanggalkan seluruh pakaian. Sekarang kutantang supaya kau juga membuka semua pakaianmu. Bukankah kita punya selera sama?!”

“Ah…” Wir0 garuk-garuk kepala. “Kalau sekedar melihatmu begini siapa saja suka. Aku paling n0m0r satu. Tapi kalau kau suruh saya membuka pakaian , walah! Aku tidak mau jadi 0r0k lagi!”

”Kau sungguhan tidak mau menikmati apa yang kau lihat?

“Aku sungguhan. Melihat saja bagiku sudah cukup. Aku tak berani lebih dari itu…”

”Kau tidak merasa rugi?”

”Rugi tidak , untung juga tidak. Anggap saja impas!” jawab Wir0 sambil menyeringai sementara di belakangnya Raja 0bat Delapan Penjuru Angin jengkel bukan main melihat perilaku dan mendengar kata kata Pendekar 212 itu.

”Dengar , tidak sepuluh tahun sekali saya mempelihatkan diriku mirip ini. Kalau saya sudah mengenakan pakaianku walau kau minta sambil menangis air mata darah saya tak bakal mau menanggalkannya kembali!”

“Gadis el0k , sebaiknya kau kenakan pakaianmu kembali. Kalau masuk angin kau bisa berabe ,” kata Wir0 pula.

”Hemm… Kau juga tak ingin menyentuh tubuhku? Kau tinggal pilih p0t0ngan mana yang kau senang…”

”Terima kasih…”

“Kau berlagak malu lantaran ada 0rang tua itu disini?”

”Bukan begitu. Sinar matahari mulai menyengat. Sayang kalau kulitmu yang mulus hingga disengat panas…”

Gadis itu tersenyum. “Kau jujur. Aku suka padamu. Baiklah , saya tidak akan mempermainkan dirimu lebih lama. Akan kuperlihatkan padamu siapa saya sebenarnya…” Habis berkata begitu si gadis kemudian g0yangkan pinggulnya.

***


BAB XII

MURID Sint0 Gendeng tergagau dan keluarkan seruan tertahan. Dua matanya masih terpentang lebar tapi kini beliau menyaksikan satu pemandangan berbeda mirip langit dan bumi. Sementara itu Raja 0bat Delapan Penjuru Angin tetap damai walau rahasia beliau tetap berwaspada. Di hadapan Wir0 kini bukan lagi tegak se0rang gadis berwajah el0k dengan tubuh p0l0s mulus. Wajah el0k itu kini telah bermetam0rf0sis wajah se0rang neneknenek yang dilumuri bedak setebal dempul. Sepasang alis mata diberi penghitam dan mencuat ke atas. Bibir dan pipi semerah saga. Tubuh telanjang yang tadi begitu bagus dan ekspresi putih kini telah bermetam0rf0sis tubuh kurus kering berkulit keriput. Sepasang payudaranya yang tadi membusung kencang kini hanya tinggal sepasang daging leper menjijikkan. Yang tetap sama dari insan ini hanya sanggul rambut di kepalanya hitam dan rapi. Perlahan-lahan si nenek kenakan pakaiannya kembali.

Sambil garuk-garuk kepala Wir0 bertanya. ”Nenek el0k , siapa kau ini sebenarnya?”

Dipanggil nenek el0k wanita berdandan menc0r0ng di hadapan Wir0 tertawa mengekeh. ”Seumur hidup gres sekali ini ada 0rang yang memanggil saya dengan sebutan itu. Nenek cantik! Aku suka panggilan itu. Kau benar-benar suka membany0l. Aku bahagia bergurau. Kita rupanya benar benar c0c0k satu sama lain. Apakah kau masih suka kujadikan kekasihku?”

Ditanya begitu Pendekar 212 jadi mesem-mesem dan kembali garuk-garuk kepalanya.

“Eh , saya memperhatikan. Kalau sedang menghadapi sesuatu yang membuatmu tercekat kau selalu menggaruk-garuk kepalamu… Untung!”

”Untung bagaimana?” tanya Wir0 tidak mengerti.

”Untung kau menggaruk kepalamu yang sebelah atas. Kalau kau menggaruk kepala yang lain… Hik… hik… hik!”

Wir0 terbatuk-batuk mendengar ucapan si nenek. ”Kau belum menyampaikan siapa dirimu bahwasanya ,” ujar murid Sint0 Gendeng.

”Juga harap terangkan ada keperluan apa kau tiba ke sini?” ikut bicara Raja 0bat.

Si nenek julurkan kepalanya ke arah Raja 0bat. ”Eh , kukira kau sudah tidur tadi…” katanya sambil senyum-senyum. “Kalau berdasarkan umur seharusnya saya c0c0k denganmu. Tapi maaf saja s0batku tua , saya lebih suka dengan anak muda ini walau saya tahu beliau belum tentu suka padaku. Hik… hik… hik…”

“Apakah kau tidak mau menerangkan siapa dirimu?” tanya Wir0.

”Hemmm… Apa susahnya menerangkan diriku ,” jawab si nenek. Tapi mendadak beliau putuskan ucapannya dan mend0ngak ke langit.

”Eh , kampret tua ini mengapa tiba-tiba menangis?” ujar Wir0 dalam hati ketika melihat si nenek teteskan air mata. Air mata itu segera berguling di atas kedua pipinya yang berbedak tebal.

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin juga terheran heran melihat perihal si nenek.

”Nek , ada apa kau menangis…?” Wir0 bertanya seraya ulurkan tangan dan memegang lengan kiri wanita tua itu. Yang dipegang kemudian meremas tangan Wir0 dengan jari-jari tangan kanannya. Sesaat kemudian pegangannya dilepaskan.

“Aku mempunyai se0rang saudara kembar… Namanya tak perlu kalian tahu! Dia dikenal dengan julukan Iblis Tua Ratu Pes0lek…” Sampai di situ si nenek hentikan ucapannya. Dia menyeka air mata di kedua pipinya.

Di dikala yang sama Wir0 mendengar bunyi Raja 0bat mengiang di telinganya.

“Aku pernah dengar siapa adanya Iblis Tua Ratu Pes0lek itu. Se0rang nenek yang mau melaksanakan kejahatan apa saja asal diberi imbalan barang berharga mirip pelengkap , uang. Kalau saudaranya jahat kurasa yang satu ini tidak seberapa beda. Tetap waspada anak muda. Dia bisa merubah dirinya menjadi seek0r singa lapar yang siap menyergapmu…”

Wir0 tidak perdulikan peringatan Raja 0bat. Dia malah berkata pada si nenek.

“Kalau saudara kembarmu itu berjuluk Iblis Tua Ratu Pes0lek , apakah kau menyandang gelar Iblis Muda Ratu Pes0lek…?”

Yang ditanya tersenyum sedikit namun senyum itu tidak sanggup menutup kesedihannya. “Aku tidak menyandang gelar apa-apa. Tapi 0rang-0rang brengsek di dunia persilatan memanggilku Iblis Putih Ratu Pes0lek. Mungkin ini disebabkan lantaran saya punya cara dan jalan hidup yang bertentangan dengan abang kembarku itu…”

“Lalu apa maksud kedatanganmu ke pulau ini dan pakai menyamar serta telanjang segala dan tahu-tahu kini menangis?” tanya Wir0.

“Walau kakakku 0rang jahat tapi beliau tetap abang kembar sedarah sedaging. Beberapa waktu yang kemudian saya mendengar beliau menemui janjkematian dibunuh 0rang. Aku berusaha mencari jenazahnya untuk diurus baik-baik. Di samping itu saya sudah punya tekad bundar untuk mencari siapa pembunuh jahanam itu dan membalaskan sakit hati dendam kesumat kematian abang kembarku…”

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin menarik napas lega lantaran mengetahui bahwa wanita tua itu tiba ke pulau bukan untuk menciptakan kejahatan walau tadi segala perbuatannya menciptakan beliau jadi panas dingin. Namun 0rang tua ini kembali jadi tidak yummy ketika mendengar Wir0 ejekan pertanyaan.

“Lalu kau kira apakah pembunuh abang kembarmu itu ada di pulau ini? Dia mungkin?!” Wir0 yummy saja tudingkan ibu jari tangan kanannya ke arah Raja 0bat.

Iblis Putih Ratu Pes0lek gelengkan kepala. “Aku ke sini sebetulnya tersesat tidak sengaja… Dalam perjalanan di bahari selatan saya melihat sebuah benda melayang di udara.

Mula-mula kukira burung atau kelelawar. Tapi ketika benda itu jatuh di lantai bahtera ternyata yaitu satu kepala insan , busuk dan terpanggang. Tak sanggup kukenali. Namun satu hal kuketahui kepala itu datangnya dari arah pulau ini. Lalu saya c0ba menyelidik kemari. Yang kutemui kau yang ganteng dan temanmu yang tua buruk itu!”

Wir0 tersenyum dan berpaling pada Raja 0bat yang dikala itu dilihatnya jadi meringis asam mukanya yang belang.

“Iblis cantik…” kata Wir0 perlahan. ”Apakah kau sudah tahu siapa pembunuh abang kembarmu itu?”

Si nenek rapikan sanggulnya , permainkan ujung lidahnya di atas bibir. Sikapnya yang mendendam tertutup 0leh gayanya yang genit. Dia mengangguk. “Mereka berdua…” jawabnya. “Sepasang insan setan…”

“Apa?!” Wir0 bertanya setengah berseru lantaran mendadak saja beliau ingat pada dua musuh besarnya.

“Yang satu berjulukan Tiga Bayangan Setan. Jahanam satunya dikenal dengan nama Elang Setan!”

“Ah! Kita punya musuh-musuh yang sama rupanya!” ujar Wir0.

“Apa maksudmu?” tanya si nenek. “Apa mereka juga membunuh abang kembarmu?!”

Kalau tidak menahan diri Wir0 hampir meledak bunyi tawanya. “Aku tidak punya saudara kembar. Kalau punya pasti kasihan dia…”

“Eh , kasihan bagaimana?” tanya Iblis Putih Ratu Pes0lek pula sambil kerenyitkan keningnya hingga sepasang alisnya yang tebal hitam tambah mencuat ke atas.

“Tampangku sudah begini jelek. Kalau punya abang kembar pasti tampangnya lebih jelek!”

Iblis Putih Ratu Pes0lek tatap wajah Pendekar 212 sesaat kemudian meledaklah tawa si nenek ini.

”Wir0! Kita punya urusan besar! Mengapa kau membuang waktu berk0ny0lk0ny0l melayani wanita itu!” Suara Raja 0bat tiba-tiba mengiang di indera pendengaran murid Sint0 Gendeng. Tapi Wir0 cuma damai saja dan memberi isyarat dengan gerakan tangan supaya Raja 0bat mau bersabar.

“Satu hari suntuk saya mendengar senda guraumu saya bisa ng0mp0l habishabisan!”

Iblis Putih Ratu Pes0lek berucap sambil menyeka pipinya kiri kanan. Setelah hentikan ketawa beliau kemudian ejekan pertanyaan.

“Tadi kau menerangkan Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan juga yaitu musuh-musuh besarmu. Perbuatan keji apa yang telah mereka lakukan terhadapmu?”

“Mereka berdua berniat membunuhku. Mereka berhasil dan pergi begitu saja , tidak mengira kalau saya bahwasanya masih hidup. Sese0rang kemudian men0l0ngku. Aku selamat namun dua senjata mustika milikku mereka curi…”

“Senjata apa?”

Wir0 hendak menerangkan tapi lewat kepandaiannya mengirimkan bunyi secara rahasia Raja 0bat memperingatkan. “Wir0 , jangan memberi keterangan banyak pada 0rang yang tidak kau ketahui siapa dan bagaimana dirinya…”

Wir0 melangkah mendekati Raja 0bat dan bicara setengah berbisik. ”Dia secara jujur menceritakan diri dan keadaannya. Menurutmu apakah saya perlu membatasi diri? Siapa tahu beliau malah bisa membantu…”

Raja 0bat termangu kemudian sehabis menarik napas dalam beliau berkata. “Terserah padamulah anak muda…”

“Eh , apa yang dikatakan sahabat tuamu itu?’ tanya Iblis Putih Ratu Pes0lek ketika Wir0 kembali ke hadapannya. “Tidak apa-apa , beliau cuma mau menyampaikan sedang sakit perut dan mau buang hajat. Aku bilang silahkan saja tapi saya tidak menjamin kalau nanti kau rahasia akan mengintipnya waktu buang hajat!”

”0… lala!” si nenek pel0t0tkan mata tapi kemudian tertawa gelak-gelak. “Apa untungnya saya mengintip tubuh pe0t begitu? Paling-paling saya cuma akan melihat ter0ng b0ny0k! Hik…hik…hik!”

Kedua 0rang itu jadi sama-sama tertawa riuh menciptakan Raja 0bat selain heran juga jengkel dan meng0mel dalam hati habis-habisan.

Setelah puas tertawa Wir0 kemudian menerangkan. ”Senjata milikku yang dicuri dua insan setan itu yaitu sebilah kapak bermata dua dan pasangannya sebuah kerikil hitam…”

Iblis Putih Ratu Pes0lek mend0ngak ke langit. ”Aku tidak mirip kakakku suka malang melintang kemana mana di rimba persilatan. Tapi kalau kau menyebut kapak bermata dua , setahuku di dunia persilatan hanya ada satu insan yang mempunyai senjata mirip itu. Apakah kau Pendekar…?”

Si nenek tidak teruskan ucapannya saking hatinya terguncang keras.

”Dugaanmu tepat. Aku m0nyet buruk yang dijuluki 0rang Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Gelar gila padahal kemampuanku dibanding dengan dirimu saya masih kalah jauh…”

“Anak muda , nama besarmu sudah bertahun-tahun kudengar dengan penuh rasa kagum. Rejekiku sungguh besar kalau hari ini saya bisa bertemu denganmu. Kau pintar merendah diri. Aku benar-benar suka padamu. Jika Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan pernah berniat keji hendak membunuh kemudian mencuri dua senjata mustikamu sedang mereka juga yaitu musuh-musuh besarku , berarti kita memang berj0d0h satu sama lain. Paling tidak untuk sama-sama seperjalanan mencari dua bedebah itu! Terakhir sekali ada yang melihat mereka berada di muara Kali 0pak , tengah bicara dengan se0rang gadis yang membawa tujuh buah payung.”

“Gadis membawa tujuh buah payung? Ah , dialah yang menyelamatkan saya dari tangan dua setan itu…” Saat itu Wir0 jadi terkenang pada Puti Andini yang berjuluk Dewi Payung Tujuh dan rasanya ingin sekali beliau bertemu dengan gadis itu.

“Kabarnya beliau el0k dan cerdik tinggi…” kata si nenek se0lah cemburu.

“Tidak secantikmu di masa muda ,” jawab Wir0 yang menciptakan Iblis Putih Ratu Pes0lek jadi terbatuk-batuk beberapa kali.

“Pendekar 212 , kau pintar mengajuk hati 0rang. Apakah kau mendapatkan ajakanku pergi seperjalanan?”

”Nenek el0k , terus terang saya suka pergi sama-sama dengan kau. Namun…”

”Namun! Nah buntutnya ini yang jelek!” kata si nenek yang sudah maklum kalau sang jag0an tak mungkin diajaknya pergi sama-sama.

“Jangan salah mengira. Selain masih punya urusan yang belum selesai di tempat ini , saya juga mendapat keterangan bahwa dua senjata mustikaku itu telah diserahkan 0leh dua setan tadi pada sese0rang…”

“Berarti Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan telah diperalat sese0rang untuk membunuhmu dan mencuri kapak serta kerikil mustika itu… ‘

“Tepat sekali!”

“Apa kau sudah tahu siapa biang racunnya?”

Wir0 anggukkan kepala. “Dia musuh bebuyutanku , se0rang jag0an sesat dikenal dengan julukan Pangeran Matahari”

Paras si nenek mendadak s0ntak berubah. Jangan-jangan beliau juga yang membunuh saudara kembarku…”

”Kau harus memastikan hal itu supaya tidak kesalahan tangan…”

“Tapi bagaimanapun juga Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan memang sudah saatnya harus disingkirkan dari muka bumi. Kejahatan mereka sudah bertumpuk , lebih tinggi dari gunung! Dan bedebah yang berjulukan Pangeran Matahari itu kabarnya telah mempunyai satu ilmu baru. Ilmu Iblis yang bersumber pada sebuah kitab…” (Seperti diketahui yang membunuh Iblis Tua Ratu Pes0lek yaitu Pangeran Matahari. Baca Epis0de I: Wasiat Iblis)

“Kitab Wasiat Iblis! Dia memang telah mempunyai kitab itu. Yang akan menjadikannya raja di raja dunia persilatan…”

“Kalau tidak ada yang mencegah kiamatlah dunia persilatan ini…”

“Nenek el0k , mengingat kau juga digelari 0rang sebagai wanita iblis , maaf bicara saya masih belum tahu kau ini di pihak mana adanya…”

Si nenek tersenyum. ”Tadi sudah kukatakan , jalan hidupku berbeda dengan abang kembarku. Nasib dan mukaku yang jelek. Tapi hatiku rasa-rasanya tidak mirip itu. Cuma terus terang sebagai insan biasa walau mungkin sudah bau-bau tanah kalau ada lelaki yang mau bercumbu denganku kuliner saya men0lak. Apa kau punya minat anak muda? Kalau kau sudah tua sepertiku nanti , kelak kau akan mencicipi sendiri bahwa rangsangan itu makin dikekang semakin mau meledak. Kalau kau tidak percaya c0ba tanyakan saja pada kawanmu si tua itu. Tapi kurasa beliau malu-malu mengakuinya , hik…hik…hik!” Iblis Putih Ratu Pes0lek kemudian tertawa cekikikan.

“Nenek el0k , perbedaan antara kita tidak menghalangi untuk bersahabat…”

“Hanya erat , tidak pakai cumbu-cumbuan segala?” tanya si nenek.

“Itu bisa kita bicarakan nanti…”

“Anak muda gila!” makian itu mengiang di indera pendengaran Wir0. “Jangan kau berani menciptakan kesepakatan dan memperlihatkan cita-cita pada 0rang mirip dia. Sekali beliau menagih beliau akan mengejarmu hingga ke liang kubur sekalipun!”

Wir0 garuk-garuk kepalanya.

“Kau menggaruk kepala , pasti ada sesuatu yang menyekat hatimu. Aku tahu semenjak tadi sahabat tuamu secara rahasia mengirimkan ucapan-ucapan padamu walau saya tidak tahu apa yang dikatakannya…”

“Tak usah perdulikan sahabatku itu. Dia 0rang tua yang baik…”

”Baiklah c0w0k gagah. Aku sungguh bangga bisa bertemu dengan jag0an besar yang selama ini kukagumi segala tindak tanduknya. Aku baiklah dengan kata-katamu tadi. Persahabatan melebihi segala-galanya. Tapi kalau ada bumbu-bumbunya tentu akan lebih sedap bukan?” Si nenek mend0ngak ke langit. “Matahari sudah tinggi. Aku harus tinggalkan tempat ini untuk mencari insan keji penyebab kematian abang kembarku.

Sebelum pergi saya ingin tanyakan satu hal padamu. Apakah hari sepuluh bulan sepuluh punya arti bagimu?”

“Hari sepuluh bulan sepuluh…?” ulang Wir0 dan c0ba mengingat-ingat. Lalu beliau menggelengkan kepala walau agak meragu.

“Ini ada artinya bagimu?” tanya si nenek lagi. Lalu dari balik dada pakaiannya beliau mengeluarkan secarik kertas yang sudah lecak. “Bacalah!” katanya seraya menyerahkan kertas itu pada Wir0.

Wir0 mengambil kertas yang dis0d0rkan. Di situ tertera sebait tulisan. Hari Sepuluh Bulan Sepuluh di Pangandaran.

Begitu membaca apa yang tertulis di kertas tersebut paras Pendekar 212 mendadak berubah. Dia kemudian tepuk kepalanya sendiri. ”Astaga!” desisnya.

“Kau ingat kini , anak muda?” ujar si nenek.

Wir0 mengangguk. “Dari mana kau mendapatkan surat ini? Siapa yang membuatnya?”

“Se0rang sahabat…”

“Iblis Pemabuk?”

“Nah , kau sudah tahu 0rangnya?” kata Iblis Putih Ratu Pes0lek pula. “Hari sepuluh bulan sepuluh masih cukup lama. Kalau mustahil bertemu lagi berarti kita akan bertemu pada hari tersebut. Eh , apakah kau sudah mendapat undangan serupa dari si pemabuk aneh itu! Karena beliau lebih banyak membunuh 0rang daripada memperlihatkan perilaku bersahabat.”

“Aku bertemu dengannya di tempat kediaman Ratu Duyung…”

”Ratu Duyung!” seru si nenek. Lalu berdecak berulang kali. “Kau sungguh beruntung bisa masuk ke tempat kediamannya. Eh , apakah kau sudah diajaknya tidur? Hik… hik… hik!”

Wir0 tertawa lebar. “Pertanyaanmu ada-ada saja nenek cantik…”

Si nenek kembali mend0ngak ke langit. “Sayang matahari sudah tinggi. Aku harus pergi kini , sebelum pergi apakah saya b0leh menciummu?”

Wir0 belum sempat menjawab ataupun menyingkir tahu-tahu.

“Cup! Cup!”

Pipinya kiri kanan kena dicium si nenek. Ketika beliau memandang ke depan Iblis Putih Ratu Pes0lek telah berkelebat pergi. Hanya bunyi tawa cekikikannya terdengar menggema di seanter0 pulau perlahan-lahan sirna di kejauhan.

“Enak dicium 0rang itu?” tanya Raja 0bat sambil senyum-senyum sementara Wir0 g0s0k-g0s0k pipinya kiri kanan dengan kedua tangan. Wir0 mendekat dan duduk di hadapan si 0rang tua. “Raja 0bat rasanya akupun harus bersiap pergi…”

”Kau hendak melupakan Kitab Putih Wasiat Dewa begitu saja? Mengabaikan kiprah dari guru dan dua t0k0h persilatan yang kau h0rmati? Menganggap enteng tragedi besar yang bisa menciptakan final zaman rimba persilatan?”

Wir0 termangu sesaat. “Aku mustahil dapatkan kitab sakti itu. Mungkin dikala ini belum entah nanti. Itu sebabnya saya pergi untuk mencari petunjuk lebih lanjut. Mungkin saya harus menemui ketiga 0rang itu…”

Raja 0bat gelengkan kepala. “Petunjuk sudah kau terima. Di mana beradanya kitab itu sudah kau ketahui. Tinggal kita mencari l0gika bagaimana mendapatkannya.”

“Satu-satunya jalan yaitu ter0w0ngan di bawah bahari yang kau katakan itu. Tapi ikan-ikan hiu pemangsa insan berkeliaran di sana…” kata Wir0. “0bat bubuk kerikil merahmu , apakah bisa digunakan untuk meracuni ikan-ikan itu?’

“0batku untuk menyembuhkan makhluk , bukan untuk membunuh ,” jawab Raja 0bat pula.

”Kalau saya masuk ke dalam bahari dan membunuh binatang-binatang itu dengan pukulan Sinar Matahari…”

“Itu lebih celaka lagi , Wir0. Setiap kau membunuh seek0r ikan hiu di sekitar ekspresi ter0w0ngan , sepuluh kawannya akan muncul membantaimu!”

“Kalau begitu terang tak ada jalan untuk mendapatkan kitab itu. Kita juga tidak tahu apakah Ki H0k Kui masih ada di dalam l0bang sana… Lalu apa gunanya kita berdebat?”

“Bukan berdebat anak muda , tapi mencari segala akal. Aku ingin , semua 0rang juga ingin , jikalau kau meninggalkan pulau ini Kitab Putih Wasiat Dewa sudah menjadi milikmu…”

“Apa yang harus saya lakukan…?” ujar Wir0 perlahan.

Ditanya mirip itu Raja 0bat juga tak bisa menjawab. Sek0ny0ng-k0ny0ng di kejauhan terdengar bunyi 0rang berteriak.

“Penghuni pulau , saya tiba menjalankan amanat! Harap beri tanda dimana kau berada!”

Suara teriakan itu menggema keras dan untuk beberapa lamanya gres lenyap dari pendengaran Raja 0bat dan Wir0 Sableng. Saat teriakan menggema kerikil pulau yang diduduki kedua 0rang itu ikut bergetar.

“Gangguan gres tiba pula…” kata Raja 0bat.

“Yang tiba 0rangnya pasti mempunyai kepandaian sangat tinggi serta tenaga dalam tepat ,” ujar Wir0 pula.

Raja 0bat berdiri. Sekali berkelebat 0rang tua ini melesat dan naik ke atas sebuah kerikil besar di tempat ketinggian. Memandang berkeliling beliau melihat 0rang yang berteriak itu jauh di sebelah barat pulau. Saat itu Wir0 sudah melesat pula dan tegak di samping Raja 0bat.

”Melihat caranya tiba dengan memberi tahu lebih dulu berarti 0rang ini siapapun adanya beliau punya niat baik. Lekas kau beri tanda supaya beliau tahu kita berada di sini.”

”Tanda akan saya berikan. Namun saya tidak baiklah dengan ucapanmu. Bahwa 0rang itu punya niat baik gres bisa dibuktikan kalau kita sudah menyelidik. Hati-hati dan jangan bertindak lengah!”

Raja 0bat kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

”Aku ada di sini! Jika tiba membawa maksud baik silahkan kemari. Jika membawa maksud keji terselubung lebih baik segera angkat kaki!”

Teriakan Raja 0bat tak kalah hebatnya dengan teriakan 0rang tadi. Pendatang di sebelah barat segera melihat Raja 0bat dan Wir0 di puncak kerikil itu. Dia balas mengangkat tangan kemudian berlari mendatangi.

***


BAB XIII

DALAM waktu singkat 0rang itu sudah hingga di hadapan Wir0 dan Raja 0bat. Ternyata beliau se0rang lelaki muda bertubuh tinggi kekar , mengenakan pakaian serba putih yang tidak dikancing hingga dadanya yang penuh 0t0t terpentang lebar. Keningnya diikat dengan sehelai kain putih. Rambutnya ber0mbak tebal dan panjang. Di atas sepasang matanya yang memandang dengan perilaku tajam melintang sepasang alis tebal hitam. Bibirnya yang tipis panjang dan hidungnya yang tinggi menandakan kekerasan hati. Sekujur tubuhnya mulai dari rambut hingga ke kaki berair kuyup.

“0rang muda , kau telah berhadapan dengan penghuni pulau. Harap jelaskan siapa dirimu dan ada keperluan apa tiba ke sini.” Menegur Raja 0bat.

Mendengar ucapan itu , 0rang yang barusan tiba segera menjura kemudian menganggukkan kepala pada Wir0.

“Kau tentu Raja 0bat Delapan Penjuru Angin , saya bangga kesudahannya bisa menemuimu. Namaku Mahesa Kelud. Aku tiba menjalankan amanat dari Ratu Duyung…”

Wir0 dan Raja 0bat saling berpandangan.

“Jadi Ratu Duyung yang mengirimkanmu ke pulau ini?’ tanya Raja 0bat.

Pemuda itu mengangguk. Dia berpaling pada Wir0. Sekali lagi beliau menganggukkan kepala memberi h0rmat “Kau tentunya Pendekar 212 yang p0puler itu…”

“Ah , bagaimana kau bisa tahu?” tanya Wir0.

“Ratu Duyung yang mengutusku kemari sebelumnya telah memberi tahu bahwa kelak di pulau ini selain bertemu dengan Raja 0bat , saya juga akan bertemu dengan se0rang c0w0k gagah bergelar Pendekar 212…”

“Tempat kediaman Ratu Duyung rasanya sangat jauh dari sini. Bagaimana kau bisa menemukan pulau ini dengan mudah?” bertanya Wir0.

“Tidak gampang , saya menghabiskan waktu sehari penuh. Itupun dibantu dengan panduan anak buah Ratu Duyung dan ditarik beberapa ek0r ikan lumba-lumba…”

“Jadi kau kesini setengah berenang… Pantas pakaianmu berair kuyup…”

“Kira-kira begitu…” jawab 0rang yang mengaku berjulukan Mahesa Kelud.

“Apa amanat yang kau bawa hingga Ratu Duyung mengutusmu ke sini?” tanya Raja 0bat.

”Sebelumnya Ratu Duyung berulang kali memantau lewat cermin saktinya. Dia mengetahui kesulitan yang kalian hadapi di tempat ini…”

“Kesulitan apa?’ tanya Wir0.

“Dia tidak menyampaikan dengan rinci. Cuma memberi tahu bahwa kalian tengah mengalami kesulitan dan saya harus membantu…”

“Kalau kau tidak tahu kesulitan yang kami hadapi bagaimana mungkin bisa membantu?” ujar Raja 0bat pula.

“Ratu Duyung hanya menyampaikan supaya saya menghancurkan kerikil merah , membuka jalan sebuah l0bang di bawah pulau…”

Terkejutlah Raja 0bat dan Pendekar 212 mendengar kata-kata 0rang yang tidak mereka kenal itu.

“Hanya itu yang dikatakannya , tak ada hal-hal lain?” bertanya Raja 0bat.

Mahesa Kelud menggeleng. Baik Raja 0bat maupun Wir0 Sableng tidak sanggup memastikan apakah 0rang ini benar-benar tidak mengetahui perihal Kitab Putih Wasiat Dewa itu.

“Saudara muda kami sangat berterima kasih dan menghargai kedatanganmu. Namun kami mewaspadai apakah kau bisa men0l0ng kami dari kesulitan. Sebelumnya kami berdua telah bekerja keras namun sia-sia. Kau diamanatkan untuk menghancurkan kerikil merah. Kau membawa peralatan apa?’

Atas pertanyaan Raja 0bat itu Mahesa Kelud mengangkat kedua tangannya kemudian mengepalkan tinjunya.

“Aku cuma punya sepasang tangan ini. Raja 0bat…”

Kembali Raja 0bat dan Wir0 Sableng saling berpandangan.

“Pukulan sakti Sinar Matahari saja tidak bisa menjeb0l kerikil merah di p0t0ngan l0bang itu. Kalaupun saya mempunyai Kapak Naga Geni 212 dikala ini juga belum tentu senjata mustika itu akan bisa menjeb0l lapisan kerikil merah. Dia sesumbar bisa menjeb0l kerikil merah dengan mengandalkan sepasang tinju! Benar-benar k0ny0l! Tetapi saya tak b0leh terlalu memandang sebelah mata. Bukankah ada ujar-ujar yang menyampaikan di atas langit masih ada langit lagi…?!” Begitu Pendekar 212 berkata dalam hati.

“Raja 0bat dan Pendekar 212 , saya tidak punya waktu banyak. Tunjukkan p0t0ngan mana yang harus kujeb0l nanti akan kukerjakan…”

“Kucing besar yang berair kuyup ini kuharap saja tidak bermulut besar. Biar saya menguji lebih dulu!” kata Wir0 dalam hati.

“S0bat , kami berdua ingin melihat kemampuanmu. C0ba kau hantam kerikil merah besar di samping kananmu itu.”

Mahesa Kelud berpaling ke kanan. ”Aku tidak menyalahkan kalian. Sebelumnya kita tidak saling kenal. Tahu-tahu saya muncul berlagak mirip se0rang maha jag0. Tapi jikalau kalian ingin mengujiku , mana mungkin saya menampik?!”

Habis berkata begitu Mahesa Kelud maju mendekati kerikil besar. Tangan kanannya berkelebat.

“Bukkkk!”

“Byaaarrr!”

Batu merah sebesar s0s0k tubuh gajah yang kena j0t0san Mahesa Kelud hancur lebur berantakan. Wir0 garuk-garuk kepala. “Dengan salah satu pukulan sakti saya juga bisa menghancurkan kerikil itu. Tapi apakah beliau bisa menghancurkan kerikil di l0bang ujung ter0w0ngan sana?”

“0rang muda kau telah memperlihatkan satu hal yang luar biasa. Bagaimana saya tahu bahwa kau benar-benar dikirim 0leh Ratu Duyung dan tidak tiba dengan maksud culas.”

Mendengar ucapan itu Mahesa Kelud menjawab. “Menurut Ratu Duyung Pendekar 212 mempunyai kemampuan untuk melihat jauh. Saat ini Ratu Duyung sengaja menunggu , siap dengan cermin saktinya. Jika kau mengadakan sambung rasa pasti kau akan bisa melihat sang Ratu dan mendapatkan gejala darinya.”

Raja 0bat memandang pada Pendekar 212. “Aku hanya mempunyai ilmu Menembus Pandang. Tak mungkin dipergunakan untuk melihat jauh…” kata Wir0 pula.

“Ratu menyadari hal itu. Itu sebabnya beliau sengaja menunggu hingga kau melaksanakan sesuatu. Katanya lewat cermin sakti beliau akan menyalurkan tenaga dalam dan hawa aneh hingga kau sanggup melihatnya walau terpisah sangat jauh…”

Murid Sint0 Gendeng segera kerahkan tenaga dalamnya ke kepala kemudian kedipkan sepasang matanya dua kali berturut-turut. Kepalanya berg0yang-g0yang 0leh munculnya satu gel0mbang angin halus. Sesaat kemudian beliau melihat bahari membiru. Lalu ada cahaya matahari se0lah keluar dari dalam laut.

Kemudian walaupun kurang jelas beliau melihat sebuah benda memantulkan sinar menyilaukan. Itulah pantulan cahaya yang jatuh pada cermin yang dipegang Ratu Duyung. Tak selang berapa usang Wir0 melihat wajah sang Ratu menganggukkan kepala beberapa kali. Lalu perlahan-lahan bayangan wajah itu lenyap.

“Aku melihat sang Ratu. Dia memberi tanda yang bisa dipercaya bahwa kau memang utusannya…”

Raja 0bat kemudian memegang pundak Mahesa Kelud. ”Ikuti aku…” katanya. 0rang tua ini berkelebat. Tubuhnya melayang turun dari bukit kerikil , dengan cepat beliau berjalan menuju l0bang di ujung ter0w0ngan. Mahesa Kelud mengikuti. Wir0 menyusul di belakang.

Tak usang kemudian mereka hingga di pertengahan pulau di mana terletak l0bang pada ujung ter0w0ngan. Raja 0bat berdiri di pinggir l0bang.

“Ini l0bangnya. Dasar l0bang dulunya rengkah tanggapan gempa. Kemudian secara aneh bertaut kembali. Sanggupkah kau menjeb0lnya dengan kekuatan pukulanmu?”

“Sem0ga Tuhan membantu kita semua ,” jawab Mahesa Kelud pada Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. Dia melangkah ke tepi l0bang batu.

“Tunggu dulu!” seru Wir0.

“Ada apa Wir0?” tanya Raja 0bat.

”Kita perlu memberi tahu bahwa di bawah l0bang ini ada sebuah l0bang lagi. Ki H0k Kui besar kemungkinan berada di sana. Jika pukulan yang menjeb0l lantai l0bang sebelah atas sempat mengenai dirinya…”

“Jangan khawatir Pendekar 212… Pukulanku hanya akan menghancurkan benda yang kita inginkan. Sekalipun ada sehelai rambut di belakang kerikil itu pasti tidak akan tersentuh… Hanya saja kita terpaksa membunuh ikan-ikan kecil itu.”

Baik Wir0 maupun Raja 0bat menjadi lega mendengar keterangan Mahesa Kelud itu.

Lalu lelaki ini kerahkan tenaga dalamnya dan disalurkan pada sepuluh jari tangan yang telah mengepal membentuk tinju. 0t0t-0t0t lengan Mahesa Kelud mengembang. Uratnya bert0nj0lan. Rahangnya mengencang. Tiba-tiba beliau mel0mpat masuk ke dalam l0bang. Bagian tubuh sebelah atas masuk lebih dulu. Dua tangan menghantam ke dasar l0bang kerikil merah.

“Bukkk!”

“Bukkk!”

“Byaarr!”

“Byaaar!”

Dua j0t0san dahsyat menghantam dasar l0bang hingga hancur berantakan. Semua hancuran kerikil merah dan ikan-ikan kecil tak satupun yang amblas ke dalam tetapi mental dan muncrat ke atas l0bang. Hebatnya lagi walau pecahan-pecahan kerikil mengenai kepala dan mukanya namun Mahesa Kelud sama sekali tidak cidera barang sedikitpun!

“Betul-betul luar biasa!” seru Wir0 ketika beliau melihat sebuah l0bang besar kini menganga di bawah sana. Cukup untuk susukan dua 0rang sekaligus. Raja 0bat turun lebih dulu disusul 0leh Wir0 sementara Mahesa Kelud tetap berdiri di luar. Masuk ke dalam l0bang ujung ter0w0ngan kedua mula-mula dua 0rang itu tidak sanggup melihat apa-apa. Selain cahaya matahari yang masuk agak terbatas juga debu hancuran kerikil merah masih menghalang di sebelah atas.

Setelah mendekam beberapa dikala sepasang mata Wir0 dan Raja 0bat menjadi biasa dan bisa melihat keadaan seluruh l0bang bahkan sebagian ter0w0ngan sebelah kanan.

Memandang berkeliling , mata Raja 0bat membentur sesuatu di lantai l0bang. 0rang tua ini tercekat dan tersurut satu langkah.

”Pendekar 212 , kita terlambat. Ki H0k Kui telah usang menemui kematian. Tapi apa yang kita cari berada di depan mata…” Raja 0bat berkata.

Wir0 cepat meny0r0ngkan tubuh dan kepalanya di samping s0s0k Raja 0bat Delapan Penjuru Angin. Memandang ke depan murid Sint0 Gendeng melihat sebuah jerangk0ng insan tanpa tangan dan kaki tergeletak dalam keadaan utuh di lantai g0a kerikil merah arah ter0w0ngan. Pakaian yang menempel di tubuh tengk0rak ini sebagian besar sudah hancur. Pada tulang-tulang dada jerangk0ng tergeletak sebuah benda yang tak lain yaitu Kitab Putih Wasiat Dewa. Kitab yang terbuat dari daun l0ntar ini ternyata dalam keadaan utuh walau ada beberapa p0t0ngan ujung sebelah atas dan bawah mulai hancur dan tertutup lumut. Pada sampul kitab sebelah depan terang terlihat g0resan pena dalam abjad Jawa kun0 : Kitab Putih Wasiat Dewa.

Sekian usang mencari dan mengejar kitab sakti itu , begitu berhadapan Pendekar 212 justru merasa merinding sendiri dan tak berani eksklusif mengulurkan tangan mengambilnya. Dalam hati malah beliau sempat berkata. “Kitab sakti , bentuknya biasa-biasa saja malah sudah butut…”

“Kau tunggu apa lagi anak muda? Kitab yang kau cari sudah di depan mata.

Ambillah…” Raja 0bat memberi jalan pada murid Sint0 Gendeng untuk mengambil kitab sakti itu.

Mendengar ucapan si 0rang tua Wir0 dengan gemetar ulurkan tangan kanannya untuk mengambil Kitab Putih Wasiat Dewa. Begitu jari-jari tangan Pendekar 212 menyentuh kitab sakti tiba-tiba di kejauhan terdengar lantunan bunyi seruling. Bersamaan dengan itu satu auman dahsyat menggelegar menggetarkan seanter0 pulau dan se0lah hendak mer0b0hkan l0bang dan ter0w0ngan dimana kedua 0rang itu berada. Wir0 terkesiap kaget dan cepat bertindak mundur sementara Kitab Putih Wasiat Dewa telah berada dalam pegangannya.

“Dia datang…” bisik Raja 0bat Delapan Penjuru Angin.

“Dia siapa?” tanya Wir0 tak mengerti.

“Kau lihat saja. Sebentar lagi beliau akan menampakkan diri…”

Wir0 memandang ke depan. Matanya dibuka lebar-lebar tapi rahasia tengkuknya terasa cuek juga dan lututnya bergetar. Di hadapannya di arah ter0w0ngan beliau hanya melihat benda tipis putih , entah kabut entah asap.

***

BAB XIV

Perlahan-lahan kabut tipis itu berubah membentuk dua s0s0k makhluk. Yang pertama yaitu s0s0k se0rang tua bertubuh sangat tinggi , mempunyai wajah gagah. Dia mengenakan selempang kain putih. Di tangan kirinya beliau memegang sebatang t0ngkat terbuat dari kayu putih. Kegagahan wajahnya hampir tertutup 0leh keangkeran sepasang matanya yang berwarna biru , yang memandang seakan-akan menembus. Pada pinggangnya 0rang tua ini menyisipkan sebatang saluang yakni sebuah suling besar khas Minangkabau. Di sebelahnya mendekam seek0r harimau besar berwarna putih mempunyai b0la mata berwarna hijau. Dua makhluk yang muncul dari dalam kabut putih ini yaitu Datuk Ra0 Basaluang Ameh dan harimau pengiringnya Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Bersamaan dengan terbentuknya s0s0k dua Datuk itu mendadak s0ntak ruangan di dalam l0bang dan ter0w0ngan menjadi sangat cuek hingga baik Wir0 maupun Raja 0bat menggigil kedinginan. Padahal selama puluhan tahun Raja 0bat sudah terbiasa dengan dinginnya udara di pulau kerikil merah itu , tetap saja 0rang tua ini menjadi g0yah lututnya.

“Aduh , mengapa udara tiba-tiba menjadi dingin! Kalau terus-terusan begini saya bisa-bisa tak sanggup menahan kencing!” kata Wir0 dalam hati padahal dikala itu tengkuknya sudah merinding 0leh angkernya suasana.

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin segera membungkuk memberi h0rmat. Dia menendang kaki Wir0 supaya segera memberi pengh0rmatan.

“Eh , dua makhluk ini sama dengan yang saya lihat sewaktu diriku karam ke dalam arus masa lampau…” pikir Wir0. Lalu beliau cepat-cepat membungkuk.

“Pangeran S0ma…” Datuk Ra0 angkat bicara. “Tujuh puluh tahun kita tidak bertemu. Tujuh puluh tahun kau membuktikan kesabaranmu , menunggu sesuai amanatku.

Hari ini tugasmu selesai. Aku dan Datuk Ra0 Bamat0 Hijau mengucapkan terima kasih padamu dan puji syukur pada Yang Maha Kuasa bahwa kesudahannya apa yang kita rencanakan tujuh puluh tahun kemudian kini menjadi kenyataan walau se0rang gagah dari kita yaitu Ki H0k Kui telah mendahului. Ketahuilah Raja 0bat , semua apa yang terjadi yaitu atas jalan dan kehendak Allah. Kita semua hanyalah para pelaku yang memikul beban menjalankan tugas. Ada yang hendak kau sampaikan Pangeran?”

“Pertama sekali kita memang patut memanjatkan puji syukur pada Gusti Allah yang telah memberi kekuatan pada kita hingga semua apa yang Datuk inginkan bisa terlaksana. Selanjutnya masih ada amanat yang harus kami laksanakan hingga petunjuk lebih jauh dari Datuk sangat diperlukan.”

Datuk Ra0 Basaluang Ameh mengangguk sedang Datuk Ra0 Bamat0 Hijau keluarkan gerengan perlahan.

“Pangeran lantaran semua kiprah sudah kau laksanakan maka kau kini bebas untuk melaksanakan apa saja. Namun jikalau saya b0leh memberi petunjuk ada baiknya kau meninggalkan pulau ini. Kembali ke Kerajaan. Di sana kau akan lebih banyak keuntungannya daripada di sini. Di sana kau bisa berbuat lebih banyak kebajikan daripada di sini. Perlu kau ketahui Ayahandamu Sri Baginda telah usang wafat. Kau harus merintis kembali hubungan darah yang selama ini terputus dengan saudara-saudaramu…”

“Terima kasih Datuk. Kata-kata Datuk akan saya perhatikan ,” jawab Pangeran S0ma alias Raja 0bat Delapan Penjuru Angin.

Datuk Ra0 Basaluang Ameh memalingkan kepalanya ke arah Pendekar 212 Wir0 Sableng. Pandangan sepasang mata biru angker itu menciptakan murid Sirrt0 Gendeng tercekat.

“Anak insan terlahir berjulukan Wir0 Saksana , 0leh gurumu kau diberi nama Wir0 Sableng dan 0leh dunia persilatan kau dijuluki Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Hari ini kesudahannya kita bertemu muka juga…”

“Astaga…” membatin Wir0. ”Bagaimana makhluk ini bisa tahu nama asliku.”

Sang Datuk melanjutkan. “Tujuh puluh tahun yang silam nama dan rupamu sudah tertanam di alam mistik dan hanya beberapa 0rang pintar saja mengetahui. Lewat liku perjalanan panjang , terakhir lewat mimpi si Raja Penidur kau kesudahannya terlibat penuh dalam urusan besar ini. Urusan menyelamatkan dunia persilatan dari final zaman yang akan ditimbulkan 0leh manusia-manusia keji berhati iblis. Hari ini Kitab Putih Wasiat Dewa itu hingga di tanganmu. Karena memang begitu takdir mengatakan. Tugasmu sangat berat. Kau harus menjaga kitab itu mirip menjaga nyawamu sendiri sebelum kau kesudahannya mempunyai kesempatan untuk memusnahkan kitab hitam 0rang-0rang sesat pembawa malapetaka yaitu Kitab Wasiat Iblis. Kau telah mengetahui di tangan siapa beradanya Kitab Wasiat Iblis itu. Kejahatan memang selalu satu langkah lebih dulu dari kebenaran. Tapi satu hal yang pasti kebenaran tidak pernah tunduk dan kalah dari kejahatan. Dalam alam mistik yang kau lihat ketika kau pingsan , kau telah mengetahui sebagian isi Kitab Putih Wasiat Dewa. Aku tahu kau telah menghafal dengan baik apaapa yang disebut sebagai Delapan Sabda Dewa. Tugasmu kini yaitu membuka halaman kelima yang selama ini tak satu 0rangpun diperkenankan membuka dan membaca apalagi mempelajari isinya. Pulau kerikil merah ini yaitu tempat yang baik bagimu untuk meresapi segala isi Kitab Putih Wasiat Dewa yang hanya terdiri dari delapan halaman itu. Tapi jikalau kau ingin pergi ke tempat lain yang kau lebih suka tak ada yang melarang. Kitab itu hanya berj0d0h denganmu. Bila kau telah selesai mempelajari isinya harus kau simpan baik-baik. Karena kelak pada seratus tahun dimuka gres ada 0rang lain yang berj0d0h lagi dengan kitab itu. Sekarang harap kau berlutut di hadapanku. Berlutut bukan berarti kau menyembahku atau saya merasa lebih tinggi darimu. Hanya Tuhan yang disembah umat dan tiada insan yang lebih tinggi di mata Tuhan kecuali ketakwaannya…”

Dengan mengg0yangkan t0ngkat kayu putihnya Datuk Ra0 Basaluang Ameh memberi isyarat pada Wir0 supaya maju kemudian berlutut di hadapannya. Dengan menabahkan diri Wir0 melaksanakan apa yang diperintah. Dia maju hingga sejarak satu langkah dari hadapan Datuk Ra0 Basaluang Ameh , kemudian berlutut.

“Apa gerangan yang hendak dilakukannya terhadapku?” membatin murid Sint0 Gendeng. Matanya melirik pada Datuk satu lagi yakni si harimau putih besar. M0nc0ng binatang ini hanya dua langkah dari hadapannya di sebelah kanan!

Datuk Ra0 Basaluang Ameh meletakkan t0ngkat kayu putihnya di atas kepala Wir0. “Arahkan kepalamu ke kanan dan ulurkan lehermu. Menunduk sedikit…”

Sesuai yang diperintah Wir0 Sableng putar kepalanya ke kanan , lehernya dipanjangkan dan kepala agak ditundukkan. Dengan perilaku mirip itu kepalanya berada sangat dekat dengan ekspresi harimau putih. Napas sang jag0an mendadak menjadi sesak dan lututnya bergetar keras.

“Datuk Ra0 Bamat0 Hijau ,” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh seraya angkat t0ngkat putihnya dari atas kepala Pendekar 212. ”Temanmu sudah siap…”

Harimau putih besar itu menggereng keras. Wir0 merasa seakan-akan dilemparkan mental ke langit ke tujuh. Tiba-tiba binatang itu melangkah mendekatinya. Kepalanya diulurkan dan mulutnya dibuka besar-besar. Lalu haummm!

Kepala Pendekar 212 amblas masuk ke dalam ekspresi Datuk Ra0 Bamat0 Hijau! Nyawa murid Sint0 Gendeng serasa terbang. Selangkangannya mendadak s0ntak berair tanda beliau tak sanggup lagi menahan kencingnya!

“Kalau binatang ini hingga mengatupkan mulutnya , putus leherku!” ujar Wir0 dalam hati. Lututnya g0yah.

Di dalam ekspresi harimau Wir0 merasa kepalanya dilanda hawa panas dan sejuk silih berganti. Sekujur pakaian hitamnya telah berair 0leh keringat. “Apa yang tengah dilakukan binatang ini? Mau diapakan diriku ini 0leh si Datuk…?” Wir0 merasa makin usang nafasnya makin pengap.

“Cukup Datuk ,” terdengar bunyi Datuk Ra0 Basaluang Ameh.

Datuk Ra0 Bamat0 Hijau mengaum keras. Karena kepalanya masih berada di dalam ekspresi harimau putih itu maka Wir0 merasa se0lah kepalanya pecah amblas disambar petir. Sewaktu harimau putih menarik mulutnya , sekujur kepala Pendekar 212 kelihatan berair kuyup. Dari mata , hidung dan indera pendengaran serta mulutnya kelihatan ada darah mengucur. Raja 0bat tampak gelisah tetapi Wir0 sendiri tidak merasa sakit apa-apa.

“Datuk , bersihkan dulu kepala dan muka temanmu ,” kata Datuk Ra0 Basaluang

Ameh pada sang harimau. Binatang ini ulurkan lidahnya. Lalu dengan pengecap itu dijilatinya seluruh kepala dan muka Pendekar 212. Rambut Wir0 menjadi kering , n0da-n0da darah di mukanya menjadi bersih.

Wir0 menarik napas lega. Lalu cepat-cepat mau berdiri.

“Tunggu , pekerjaan Datuk Ra0 Bamat0 Hijau masih belum selesai ,” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh.

”Walah! Mau diapakan lagi diriku ini?” pikir Wir0. Namun tak berani men0lak atau membantah.

“Ulurkan tangan kananmu Pendekar 212. Lima jari tangan harus dikepal kuatkuat ,” perintah Datuk Ra0.

Wir0 ulurkan tangan kanannya.

“Datuk…” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh pada harimau putih di sebelahnya.

Binatang ini maju dua langkah , ulurkan kepalanya dan buka lebar-lebar mulutnya.

“Haummmm!“

Tangan kanan Wir0 hingga sebatas siku lenyap masuk ke dalam ekspresi harimau itu.

“Gila! Jangan hingga binatang ini kemasukan setan dan mengger0g0t putus tanganku! Uhhh… Perutku mendadak sakit. Jangan-jangan saya sudah kecipirit!”

Sesaat kemudian mirip tadi Wir0 mencicipi ada hawa panas dan sejuk menjalari tangannya silih berganti.

“Cukup Datuk…” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Harimau putih bersurut. Wir0 cepat tarik tangannya. “Untung tanganku masih utuh!”

“Buka kepalanmu Pendekar 212 dan kembangkan telapak tanganmu lebar-lebar ,” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh selanjutnya.

Wir0 Sableng buka kepalan dan kembangkan telapak tangan kanannya lebar-lebar.

“Apa yang kau lihat di telapak tanganmu Pendekar 212?” tanya Datuk Ra0 Basaluang Ameh.

Ketika beliau memperhatikan terkejutlah murid Sint0 Gendeng. Raja 0bat yang tegak di sampingnya tak kalah kagetnya. Pada telapak tangan kanan Wir0 tertera sangat terang gambar kepala harimau putih.

“A…ada gambar kepala harimau putih Datuk…” jawab Wir0 dengan ekspresi bergetar.

“Itu gambar temanmu Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Berarti kini kau telah mempunyai satu kekuatan dahsyat Wir0. Jika kau tiup satu kali gambar itu akan lenyap. Jika kau tiup lagi gambar itu akan muncul. Bersamaan dengan munculnya gambar itu tubuhmu sudah dialiri kekuatan yang membuatmu bisa menghadapi lawan tangguh. Kau bisa menghancurkan benda apa saja tanpa harus mengalirkan tenaga dalam. Tapi ingat dan selalu ingat , setiap ilmu bukan segala-galanya…”

Wir0 masih mel0t0t memandang telapak tangan kanannya kemudian beliau melirik pada Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Harimau putih ini mengaum keras menciptakan Wir0 tergagau dan Raja 0bat tersurut.

“Datuk Ra0 Bamat0 Hijau , kita kini berteman. Jangan takuti diriku…”

Datuk Ra0 Basaluang Ameh tersenyum. “Datuk Ra0 Bamat0 Hijau merasa bahagia berteman denganmu. Kau tak usah takut padanya Wir0. Pada dikala kau memerlukannya beliau akan muncul secepat kilat menyambar…”

Wir0 mengangguk tapi matanya kembali memandangi tangannya. Dia ingin tahu. Tangan kanannya itu didekatkannya ke mulut. Lalu beliau meniup. Gambar kepala harimau putih serta merta lenyap. Wir0 masih belum percaya. Kembali beliau meniup. Gambar kepala harimau itu kembali muncul!

“Pangeran S0ma dan Pendekar 212 Wir0 Sableng. Tugas kami berdua sudah selesai. Kini kiprah besar menghadang kalian , terutama kau Wir0. Selamatkan dunia persilatan. Makin cepat kau menyingkirkan Kitab Wasiat Iblis makin baik bagi rimba persilatan. Semuanya kini mempertaruhkan diri dalam tanganmu Wir0. Jaga dirimu baikbaik. Jaga betul Kitab Putih Wasiat Dewa itu. Kau harus berhasil. Jika saya merasa perlu untuk memberikan sesuatu padamu , saya akan muncul…”

“Terima kasih Datuk Ra0 ,” kata Wir0 pada 0rang tua berselempang kain putih itu.

Lalu beliau berpaling pada harimau besar. Terima kasih teman…” Binatang ini buka mulutnya lebar-lebar kemudian mengaum keras se0lah menyampaikan sesuatu menyambut ucapan Wir0 tadi.

Datuk Ra0 Basaluang Ameh berpaling pada Raja 0bat dan berkata. “Beritahu c0w0k ini supaya membersihkan tanda merah bekas kecupan bibir di kedua pipinya…”

Pendekar 212 terkejut dan cepat mengusap pipinya kiri kanan. Sementara itu perlahan-lahan s0s0k dua makhluk di hadapannya kembali bermetam0rf0sis kabut putih tipis dan kesudahannya lenyap dari pemandangan. Hawa cuek yang tadi mencekam ikut sirna. Keadaan di dalam l0bang di ujung ter0w0ngan itu bermetam0rf0sis panas. Wir0 memandang berkeliling.

“Aneh , l0bang kerikil sesempit ini bagaimana tadi kita berempat bisa berada di sini…?” ujar Pendekar 212 terheran-heran Lalu beliau pandangi tangan kanannya kembali.

“0rang berjulukan Mahesa Kelud itu mempunyai ilmu pukulan hebat luar biasa. Sanggup menjeb0l kerikil di l0bang. Menurut Datuk Ra0 kini saya sudah mempunyai satu ilmu yang hebat. Aku mau buktikan hingga di mana kehebatanku. Apa ilmu baruku sanggup menghancurkan kerikil merah ini?”

Wir0 memutar tubuhnya menghadap ke dinding kerikil di ujung ter0w0ngan.

“Tanpa tenaga dalam saya sanggup menghancurkan apa saja!” katanya. Lalu beliau mundur selangkah. Tangan kanannya dikepal. Hanya mengandalkan tenaga luar murid Sint0 Gendeng hantam kerikil merah di depannya. Langsung dikala itu juga beliau terpekik sambil kibas-kibaskan tangan kanannya. Dinding kerikil di hadapannya sama sekali tidak bergeming. Malah ketika memperhatikan ternyata jari-jari tangannya lecet dan bengkak! Hampir terlepas ucapan k0t0r dari mulutnya. ”Raja 0bat , jangan-jangan saya sudah kena dimuslihati Datuk Ra0. Kau dengar sendiri tadi ucapannya menyampaikan bahwa saya kini telah mempunyai satu ilmu pukulan yang bisa menghancurkan apa saja! Buktinya? Kau lihat sendiri tanganku! Untung tidak ada jari-jariku yang patah!”

Raja 0bat Delapan Penjuru Angin tertawa lebar.

“Eh , sudah saya ditipu 0rang dan kesakitan setengah mati kau malah menertawaiku! Jangan-jangan kau berk0mpl0t dengan dua makhluk asap tadi!”

“Anak muda. jangan cepat menduga salah. Tak ada yang menipu memuslihatimu. Kau sendiri yang salah!”

”Nah…nah! Sekarang malah kau menuduhku yang salah! Apa-apaan ini sebenarnya?!”

“Waktu kau memukul dinding kerikil merah itu , apakah di telapak tanganmu sudah ada gambar temanmu si harimau putih itu?”

”Eh?!” Wir0 kembangkan telapak tangan kanannya. Dia kemudian berpaling pada si 0rang tua di sampingnya. “Kau betul… Memang saya yang ngac0!” katanya. Habis berkata begitu kemudian meniup telapak tangan kanannya. Serta merta di telapak tangan itu muncul gambar kepala harimau putih. Lalu beliau mundur kembali satu langkah.

“Sekarang!” teriak Pendekar 212 sambil menghantam menj0t0s dinding kerikil di depannya. Terdengar bunyi menggelegar. Dinding kerikil merah amblas hancur berantakan!

Murid Sint0 Gendeng jadi terperangah sendiri. “Kau betul Raja 0bat. Datuk Ra0 dan harimau putih itu tidak menipu. Aku yang t0l0l!” Lalu beliau tiup telapak tangan kanannya. Gambar kepala harimau putih serta merta lenyap.

Raja 0bat menepuk pundak Pendekar 212. “Simpan Kitab Putih Wasiat Dewa itu dan kita harus keluar dari dalam l0bang ini.” Lalu 0rang tua itu mendahului keluar dari dalam l0bang batu. Wir0 cepat memasukkan kitab sakti ke balik pakaiannya. Tapi beliau tidak segera menyusul Raja 0bat keluar dari dalam l0bang. Dia melangkah ke ekspresi ter0w0ngan di mana tergeletak s0s0k jerangk0ng Ki H0k Kui. Dipegangnya bat0k kepala tengk0rak dan diusapnya berulang kali sambil berkata.

“Kalau kau masih hidup tentu sudah jadi kakek dikala ini. Kakek Ki H0k Kui , jasamu membawa Kitab Putih Wasiat Dewa ke tanah Jawa ini hanya Tuhan saja yang bisa membalas dengan pahala besar. Aku harus pergi kini Kek. Aku berterima kasih padamu. Sem0ga saya bisa melanjutkan tugasmu. Aku d0akan supaya kau mendapat tempat yang paling baik di akhirat. Tapi d0akan juga saya ya , supaya saya berhasil dan siapa tahu bisa jalan-jalan ke negeri leluhurmu di Ti0ngk0k sana!”

Di atas l0bang Raja 0bat yang sempat mendengar d0a Wir0 itu walau tidak sabaran tapi jadi senyum-senyum juga mendengar segala apa yang diucapkan Wir0 itu.

“Selamat tinggal kakek Ki H0k Kui!” Wir0 mengusap sekali lagi bat0k kepala tengk0rak itu kemudian melesat keluar l0bang.

Begitu berada di atas l0bang kembali yang pertama sekali dilakukannya yaitu mencari lelaki berjulukan Mahesa Kelud tadi.

“Eh , kemana 0rang sakti yang tadi men0l0ng kita menjeb0l dasar l0bang kerikil merah…” tanya Wir0 sambil mencari-cari.

Raja 0bat memandang berkeliling. Tapi Mahesa Kelud memang tak ada lagi disitu.

“Rasanya beliau sengaja pergi duluan. Tidak mau berbasa busuk mendapatkan ucapan terima kasih kita ,” kata Raja 0bat.

”Kelak saya akan mencari 0rang gagah itu untuk menghaturkan terima kasih ,” kata Wir0 pula. (Siapa adanya Mahesa Kelud harap baca serial Mahesa Kelud karangan Bastian Tit0)

“Aku ingat pada ucapan Datuk Ra0 tadi. Rasanya memang sudah saatnya saya meninggalkan pulau kerikil ini. Kembali ke K0taraja. Kau mau sama seperjalanan denganku?” tanya Raja 0bat pada Pendekar 212.

“Aku suka sekali pergi bersamamu. Namun ada satu hal yang saya pikirkan dikala ini…”

“Apa…”

”Mungkin ada baiknya saya kembali dulu ke tempat Ratu Duyung. Dia banyak membantuku dalam perjuangan mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa ini. Dia juga memberiku ilmu yang sangat berharga. Kalau bukan 0rang-0rangnya yang menyelamatkan , saya tak akan pernah hingga di pulau ini…”

”Hemmm.. Hutang budi memang satu hal yang sulit untuk dibayar. Apakah kau punya pikiran untuk men0l0ngnya dari penyakitnya? Membebaskannya dari kutukan dengan jalan memenuhi permintaannya melaksanakan hubungan badan…?”

Pendekar 212 garuk-garuk kepala. “Ratu Duyung pernah bercerita bahwa beliau telah menc0ba menghubungimu untuk meminta 0bat penyembuhan…”

“Betul , itu terjadi puluhan tahun kemudian sewaktu saya masih dikucilkan di tengah hutan… Aku tak bisa men0l0ngnya. Penyakit lantaran kutukan tidak sanggup disembuhkan dengan 0bat.”

”Puluhan tahun kemudian katamu? Makara berapa umurnya dikala ini?”

”Seratus tahun… Mungkin dua ratus tahun!” Jawab Raja 0bat. “Eh , mengetahui umur Ratu Duyung apakah kini kau jadi hilang selera?”

Wir0 tertawa lebar. “Terus terang saya tak bisa melupakannya. Aku harus menemuinya kapan-kapan. Tapi kalau b0leh saya bertanya mengapa beliau tidak meminta lelaki lain untuk melaksanakan hal itu. Misalnya lelaki muda yang gagah utusannya tadi si Mahesa Kelud itu…”

Raja 0bat menggelengkan kepala. “Masalahnya bukan pr0blem nafsu Wir0. Tapi menyangkut semacam kasih sayang tulus. Dia tak mungkin melakukannya dengan 0rang yang tidak dicintainya…”

“Maksudmu… Maksudmu Ratu Duyung mencintaiku?” tanya Wir0.

“Bukan cuma beliau Wir0. Tapi kalau bisa saya sebutkan satu persatu di antaranya Pandansuri anak angkat almarhum Raja Renc0ng dari Utara. Lalu Anggini murid Dewa Tuak. Suci alias Dewi Bunga Mayat. Lalu masih ada Bidadari Angin Timur , Dewi Payung Tujuh…”

“Sudah… sudah!” seru Wir0 sambil garuk-garuk kepala. “Bagaimana kau bisa tahu semua itu?!”

Raja 0bat tertawa mengekeh. “Tuhan memperlihatkan beberapa kelebihan pada tua renta buruk ini… Kalau saja saya masih muda sepertimu hemm…”

Wir0 membalas senda gurau Raja 0bat itu dengan gurauan pula. “Kau menyesal terlanjur lahir cepat? Walau sudah tua bukankah kau bisa meramu 0bat berpengaruh hingga bisa berbuat lebih hebat dari anak muda?! Ha… ha… ha! Kalau kau nanti meramu 0bat berpengaruh itu jangan lupakan diriku. Tinggalkan barang segenggam! Ha…ha…ha!”

Raja 0bat tertawa penc0ng kemudian berkata. “Kau sudah siap meninggalkan pulau ini dan seperjalanan denganku?”

”Tentu saja!”

“Maaf saja anak muda. Aku merasa malu berjalan sama-sama denganmu!”

“Eh , memangnya ada apa Raja 0bat?” tanya Wir0.

“Di pipimu kiri-kanan masih ada tanda merah bekas kecupan Iblis Putih Ratu Pes0lek itu!”

“Eh , bukankah tadi waktu di l0bang sudah kubersihkan?!”

“Apanya yang kau bersihkan. Tanda itu masih ada!”

“Jangan bergurau Raja 0bat!”

“Siapa yang bergurau?!”

“Wah… wah!” Wir0 pergunakan kedua tangannya untuk mengg0s0k pipinya kiri kanan. “Sudah hilang?” tanyanya pada Raja 0bat.

Yang ditanya menggeleng. Kini Wir0 pergunakan baju hitamnya dan mengg0s0k keras-keras.

“Tetap tidak hilang!” memberi tahu Raja 0bat.

“Gila! Alat pewarna bibir apa yang digunakan nenek setan itu. Jangan-jangan sebangsa cat yang tak bisa dihapus. Tapi tunggu dulu. Aku belum menc0ba yang ini!”

Wir0 ludahi kedua telapak tangannya kiri kanan. Dengan basahan ludah beliau membersihkan kedua pipinya.

“Percuma saja Wir0. Tanda bibir bekas kecupan itu tak mau hilang. Kau harus mencari sejenis minyak untuk menghilangkannya!”

“Mati aku! Bagaimana saya bisa kemana-mana mirip ini?!“

“Agaknya kau terpaksa menggunakan t0peng atau menggunakan cadar!”

“Nenek setan keparat!“ maki Wir0.

***

TAMAT

SEMUA HAK KARYA CIPTA CERITA INI ADALAH MILIK

ALMARHUM BASTIAN TIT0

No comments for "Tipu Daya Para Iblis WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"