Simpulan Zaman Di Pangandaran WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : KIAMAT DI PANGANDARAN
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tito
EP : KIAMAT DI PANGANDARAN
SATU
LANGIT di atas teluk Penanjung di Pangandaran tampak higienis tak berawan sedikit pun. Sinar sang surya yang tidak terhalang terasa semakin terik begitu sang penerang jagat ini merayap semakin mendekati titik tertingginya.Di puncak bukit karang sebelah timur Ratu Duyung yang merupakan tokoh silat golongan putih pertama yang muncul di tempat itu , masih tegak terheran-heran ketika beliau melihat lblis Pemabuk berada di bukit sebelah barat.
"Manusia satu ini sulit diduga jalan pikirannya. Ketika bertamu ke tempatku terang beliau memperlihatkan perilaku berbaik-baik dengan orang-orang golongan putih. Sekarang tahu-tahu beliau berada di pihak sana. Hemmm …. Jangan-jangan si gendut buruk itu sudah tergoda rayuan manis Pangeran Matahari dan tipuan busuk minuman keras. Aku melihat ada lima gentong raksasa di bukit sana. Pasti berisi minuman keras kesukaannya …. Manusia kalau sudah jadi budak minuman dirinya pun akan dijualnya. Sayang… sayang sekali …."
Selagi sang Ratu membatin mirip itu , tiba-tiba satu bayangan berkelebat dan di lain kejap sudah tegak di depannya. Dua orang anak buah Ratu Duyung cepat melompat ke depan sambil melintangkan senjata berupa tongkat besi yang ujungnya memancarkan sinar biru menggidikkan.
Sambil menekan rasa terkejutnya Ratu Duyung memberi isyarat pada ke dua anak buahnya untuk mundur. Lalu beliau memandang pada orang yang tegak di hadapannya. Seorang renta berpakaian rombeng. Selapis kulit tipis yang menutupi wajahnya berwama sangat pucat. Rambutnya yang putih panjang melambai-lambai ditiup angin.
"Orang renta , apakah kau tidak tersesat tiba ke bukit ini? Bukankah kau yang dijuluki Si Muka Mayat alias Si Muka Bangkai , guru Pangeran Matahari … ?"
Ratu Duyung menegur. Cermin lingkaran dalam geng-gamannya ditempelkan ke dada.
Orang renta bungkuk berpakaian rombeng yang memang guru Pangeran Matahari adanya tertawa mengekeh.
"Ratu Duyung , Ratu maha sakti maha manis …. Bagus dan syukur sekali kau telah mengenali diriku hingga saya yang renta ini tidak perlu repot-repot menerangkan siapa diriku!"
Ratu Duyung tersenyum. "Pujian bisa menyesatkan. Kau yakin tidak tersesat tiba ke bukit ini?" "Tentu saja tidak ," sahut Si Muka Mayat. "Aku tiba ke sini untuk membincangkan satu hal sangat penting yang bakal menguntungkan dirimu …."
"Hemmm …. Jika seorang musuh menyampaikan satu laba ini ialah satu hal yang patut ditanyakan dan dicurigai …."
Si Muka Bangkai tertawa panjang. "Ratu Duyung , waktuku tidak banyak. Sebelum kawan-kawanmu berdatangan saya ingin menyampaikan sesuatu padamu.
Maksudku lebih terang ialah menyampaikan sesuatu padamu …. Sesuatu yang menyangkut keadaan dirimu dan masa depanmu!"
"Orang renta , ucapanmu menarik sekali. Harap kau suka meneruskan dengan cepat alasannya ialah saya pun tidak suka berbincang berlama-lama denganmu!" kata Ratu Duyung pula.
"Aku sanggup mencarikan seorang perjaka yang bisa menyembuhkan dirimu dan memusnahkan kutukan yang selama ini menyiksa dirimu …."
Paras Ratu Duyung kelihatan berubah. "Apa kau menyampaikan dirimu atau muridmu Pangeran Matahari?!"
Si Muka Mayat tertawa bergelak. "Aku yang sudah renta bangka reot begini mana mungkin masih perjaka. Muridku si Pangeran Matahari itu terang sudah tidak perjaka lagi. Yang ingin kutawarkan padamu ialah seorang Pangeran dari Surokerto yang saya kenal baik. Orangnya gagah. Kau pasti tidak kecewa. Jika kau suka silahkan kau mengatur pertemuan …."
Ratu Duyung walaupun sangat murka dikala itu namun masih bisa tersenyum. "Sayang saya tidak suka pada tawaranmu itu. Juga tidak suka pada Pangeran yang kau sebutkan itu …." Habis berkata begitu Ratu Duyung menatap ke langit. "Matahari sudah tinggi , selagi kau masih ada kesempatan . untuk kembali ke bukit di sebelah barat sana , sebaiknya lekas-lekas kau angkat kaki. Kawan-kawanmu akan kecewa kalau kau hingga menemui janjkematian lebih dulu di sarang musuh!"
Si Muka Bangkai menggeram dalam hati. "Aku tahu kehebatan para tokoh silat golongan putih , termasuk dirimu. Tapi kalau saya tidak punya nyali mana saya akan menjejakkan kaki di tempat ini?” Saking geramnya sesudah mengeluarkan kata kata itu Si Muka Bangkai pergunakan tangan kirinya untuk mencengkeram ujung runcing watu karang yang ada di dekatnya. Batu karang itu serta merta bermetamorfosis hitam dan mengepul tanda di selimuti hawa panas luar biasa. Ketika si orang renta menjentikkan jari-jari tangannya watu karang itu pribadi bertaburan ke udara , bermetamorfosis debu hitam yang sangat halus!
"Orang renta , mengapa kau tidak lekas angkat kaki?! Apa kau kira kami di sini perlu tukang sulap sepertimu?" ujar Ratu Duyung. Lalu beliau gerakkan tangannya yang memegang cermin bulat. Sinar putih menyilaukan berkiblat ke arah taburan halus debu karang. Serta merta debu-debu halus itu bermetamorfosis merah membara. Ratu Duyung gerakkan lagi cerminnya. Ribuan bahkan mungkin jutaan debu merah bergerak laksana sebuah tabir kearah Si Muka Bangkai.
Orang renta yang mempunyai ilmu kebal segala benda panas ini ganda tertawa ketika dapatkan dirinya diserang oleh debu-debu merah membara itu. Dia sengaja tegak terbungkuk-bungkuk sambil bertolak pinggang menuju datangnya serangan dinding debu. Tapi Ratu Duyung yang sudah pernah mendengar kehebatan Si Muka Bangkai ini berlaku cerdik. Sekali agi cermin bulatnya digerakkan. Dinding debu bertabur ke udara. Kini jutaan debu menyambar ke arah si orang renta dari ratusan arah.
Si Muka Bangkai dorongkan ke dua tangannya ke depan. Sebagian debu panas merah tersapu mental dan lenyap namun sebagiannya lagi lolos dan menyerang ke arah setiap lobang yang ada di tubuhnya.
Orang renta ini terbatuk-batuk. Matanya jadi perih dan telinganya mirip mengiang. Sebelum nafasnya menjadi sesak cepat-cepat beliau melompat mundur seraya kirimkan satu pukulan sakti ke arah Ratu Duyung. Sang Ratu menyambut dengan kerlipan cahaya dari cermin bulatnya. Dua kekuatan tenaga dalam saling beradu di udara.
"Dess … dess!"
Si Muka Bangkai mencicipi tangannya kesemutan dan denyut darah dalam urat-urat besar di tubuhnya menjadi kacau. Cepat-cepat beliau menyeIinap ke balik watu karang besar kemudian melompat jauh dan turun dari bukit , kembali ke bukit sebelala barat , Ratu Duyung sendiri sesaat tampak tergontai-gontai namun segera sanggup menguasai dirinya kembali.
Belum sempat Si Muka Bangkai memberi tahu kegagalan pertemuannya dengan Ratu Duyung di bukit sebelah timur yang hanya dipisahkan oleh satu pedataran pasir berbatu-batu selebar lima tombak , tiba-tiba terdengar bunyi mirip cambukan cemeti yang menyakitkan telinga. Suara cemeti ini sesekali diseling oleh bunyi tawa membahana disertai maki-makian.
Orang-orang di bukit sebelah barat termasuk Si Muka Bangkai yang gres saja kembali dari bukit timur jadi melengak dan memperhatikan dengan mata dibesarkan.
"Ha … ha … ha … ! Lihat keledai dungu! Tolol bodoh! Mendaki bukit buruk begini saja tidak mampu! Ayo jalan! Lari! Lari atau kupecut bokongmu! Ha … ha … ha!" Lalu terdengar bunyi cemeti berkelebat berulang kali. Tak usang kemudian semua mata sama menyak-sikan bagaimana seorang bertubuh sangat gemuk , berbobot sekitar 200 kati mendaki menuju puncak bukit karang dengan menunggang seekor keledai kecil kurus! Tapi kalau diperhatikan temyata si gemuk ini bukannya menunggang alasannya ialah walau pantatnya berada di atas punggung keledai tapi ke dua kakinya menjejak tanah dan berjalan mengikuti langkah empat kaki keledai! Selain itu setiap beliau memecutkan cemetinya , bukan tubuh keledai itu yang dihantamnya tapi pahanya sendiri yang dideranya hingga celana hitamnya robek di sana-sini.
"Perjalanan gila yang melelahkan! Ha. .. ha. .. ha!" kata si gendut begitu hingga di puncak bukit karang.
"Ada apa sebenamya di tempat ini? Hari sepuluh bulan sepuluh! Kukira ada pesta makan besar. Yang kulihat cuma manusia-manusia tegak berdiam diri. Entah sedang kebingungan entah lagi tegang! Kalau lagi galau apa yang dibingungkan! Kalau lagi tegang apanya yang tegang! Ha … ha … ha … ha…!"
Si gendut terus mengumbar tawa mengekeh. Ketika tawanya sekonyong-konyong lenyap beliau kemudian sorongkan kepalanya ke depan. Tangan kirinya diletakkan di atas kening. Tangan kanan menunjuk ke bukit di seberangnya ke arah Dewa Sedih yang sedang menangis tersedu-sedu.
"Anak cengeng itu! Mengapa beliau bisa kesasar ke sana?!" ujar si gendut. Lalu beliau berteriak. "Hai Dewa Sedihf Kalau mau nangis mengapa jauh-jauh hingga ke sini! Ha. .. ha … hal Anak brengsek! Seumur hidup bisanya cuma mengeluarkan air mata! Ha … ha … ha!" Di bukit seberang sana Dewa Sedih bangun berdiri dari atas watu karang kemudian mengepalkan tinjunya ke arah si kakek gendut. Walau beliau sangat murka dikala itu tapi wajahnya tetap saja ditekuk sedih.
"Orang sombong selalu tertawa! Dewa Ketawa! Kau selalu mencampuri urusanku! Kau selalu mengintili ke mana saya pergi! Hik … hik! Aku kakakmu memerintahkan biar kau segera minggat dari tempat itu. Hik … hik … hik!" Habis mengancam Dewa Sedih menangis sejadi-jadinya. Temyata oi gendut yang tiba menunggang keledai ialah Dewa Ketawa , adiknya sendiri.
"Kau boleh saja memerintah! Tapi hari ini bukan urusan abang denqan adikl Tapi urusan dengan orang-orang yang kepingin cepat-cepat matil Ha. .. ha … ha!" Menjawab Dewa Ketawa dari seberang bukit.
Dewa Sedih banting-bantingkan kakinya ke watu bukit kemudian kembali ke tempat duduknya di gundukan watu dan meneruskan tangisnya.
Pangeran Matahari mendekati Dewa Sedih dan berkata. "Kau harus membunuh adikmu itu. Kau dengar!"
"Hatiku sedih …. Hatiku sedih!" jawab Dewa Sedih kemudian menangis lagi.
”Jahanam!" maki Pangeran Matahari. Baru saja beliau menyumpah mirip itu di bukit sebelah timur kembali terjadi satu hal yang menarik perhatian. Di antara bunyi tawa Dewa Ketawa tiba-tiba terdengar bunyi kerontangan kaleng yang keras sekali , menciptakan gendang-gendang pendengaran serasa ditusuk.
Si Muka Bangkai tampak tercekat sementara Delapan Tokoh Kembar di lereng bukit kelihatan termangu-mangu , memandang tak berkesip ke arah bukit di hadapan mereka. Seorang kakek bercaping , berpakaian compang camping , membekal sebuah buntalan butut dan membawa sebuah tongkat buruk berjalan melenggang lenggok sambil menggoyang-goyangkan sebuah kaleng rombeng di tangan kanannya!
Begitu hingga di puncak bukit pribadi saja beliau melompat ke atas kereta dan duduk uncang-uncang kaki sambil kerontangkan kaleng rombengnya tiada henti. Ketika Ratu Duyung melirik padanya beliau menjura sambil angkat capingnya dan berkata. "Cucuku bermata biru nan manis jelita! Jangan marahi saya ya kalau saya kurang asuh duduk di atap keretamu! Seumur hidup saya belum pernah naik kereta sebagus ini. Makara duduk di atapnya saja sudah mirip di sorga rasanya! Harap kau maklum! Sekian tak lebih tak kurang dan terima kasih!"
Ratu Duyung cuma bisa tersenyum. Dia kemudian memandang ke arah utara. Hatinya dikala itu kurang tenteram. Ada satu hal yang menjadi pikirannya. Kalau Pendekar 212 Wiro Sableng tidak muncul di tempat itu sia-sialah perjalanan jauhnya dari maritim selatan hingga ke puncak bukit itu!
"Kakek Segala Tahu!" berbisik Si Muka Bangkai pada muridnya ketika beliau mengenali siapa adanya kakek bercaping dan membawa kaleng rombeng yang barusan datang.
"Aku sudah tahu ," jawab sang murid. "Aku tidak perduli mereka semua. Musuh besarku masih belum kelihatan! Gurunya si nenek keparat bemama Sinto gendeng itu juga tidak tampak mata hidungnya! Dia akan menyesal kalau tidak menghadiri kematian muridnya di Pangandaran ini!"
Belum lagi perhatian orang terhadap Kakek Segala Tahu sirap tiba-tiba dua sosok gila berkelebat di puncak bukit karang sebelah timur. Mereka ialah orang-orang yang menyelubungi tubuh merek dengan kain putih. Di cuilan kepala kain putih Itu diikat begitu rupa hingga menyerupai pocong!
Dari kedua orang ini yang kelihatan hanyalah sepasang mata mereka di cuilan kain yang sengaja dilubangi.
"Mayat hidup dari mana yang kesasar ke sini? berseru Dewa Ketawa kemudian si gemuk ini tertawa gelak-gelak. Kakek Segala Tahu tenang-tenang saja seolah tak perduli dengan kemunculan dua orang berselubung kain putih itu. Apalagi mereka sengaja tegak agak jauh dan kelihatannya tengah berbisik-bisik.
"Aku belum melihat mata hidungnya!" kata orang berselubung di sebelah kanan.
"Aku tidak heran kalau beliau tidak hingga tiba ke sinil Soalnya saya mencurigai otaknya masih waras atau tidak!"
"Setan kau! Jangan kau berani menghinanya…. Aku tahu kau beberapa kali berusaha menjebaknya!"
"Hik. .. hik …. Aku tidak sungguhan dan tidak berniat sejauh itu. Hanya hal satu itu yang saya pantas memujinya! Hik.. . hik!"
"ltu katamu sekarang! Kalau dulu kau memang berhasil …. Hemmm …. ‘Kubembeng usus besarmu hingga ke ujung dunia!"
"Hik … hik … hik!"
"Sudah! Jangan tertawa juga. Apa kau masih punya persediaan minyak wangi? Tubuhku sudah keringatan. Aku kawatir nanti beliau mengenaliku … ." Dari balik pakaian anehnya orang disebelah kanan mengulurkan tangan menyerahkan sebuah tabung kecil terbuat dari bambu.
"lni yang terakhir. Setelah itu jangan harap saya akan menyampaikan lagi padamu!"
"Kurasa ini kali yang penghabisan saya meminta minyak wangi padamu! Setelah duduk perkara gila di tempat ini selesai , saya tidak butuh lagi …!"
"Berarti kau akan kembali ke anyir badanmu semulal Hik … hik … hik!"
"Diam! Jangan tertawa tidak karuan di tempat mirip ini!" kata orang berselubung sambil menyirami tubuhnya dengan minyak wangi. Dia memandang ke lereng bukit di depannya kemudian berkata.
"Coba kau lihat ke sana. Aku hampir tak percaya. Delapan Tokoh Kembar mau-mauan tiba ke sini jadi kaki tangan membantu Pangeran Matahari!"
"Astaga! Setahuku mereka ialah orang-orang yang tidak terlalu usil. Meskipun brengsek namun tidak mau menciptakan bentrokan dengan kita orang-orang golongan putih … ."
"Hemmm … Aku bisa mengira jalan ceritanya. Rata-rata Delapan Tokoh Kembar itu tidak punya keyakinan teguh. Gampang tergoda , terutama oleh harga dan perempuan. Aku melihat ada seorang gadis manis berbaju biru mendampingi mereka. Pasti ini penyebabnya!"
"Celakal Kalau Delapan Tokoh Kembar menyerbu berbarengan langit pun bisa diruntuhkannya. Kita harus mencari akal!"
"Tak usah kawatir. Serahkan mereka padaku. Tapi saya perlu pertolongan beberapa orang lagi.
“hmm …. Hik … hik. .. hik!"
"Sialan kau! Masih saja tertawa tidak karuan. Apa Kamu tidak mendengar ada satu orang gila lagi tengah berlari mendaki bukit menuju ke mari?!"
*
* *
* *
DUA
DI PUNCAK bukit karang sebelah timur tiba-tiba terdengar bunyi orang berlari sambil bemyanyi-nyanyi. Hanya sesaat kemudian berkelebatlah satu bayangan putih. Orang ini temyata seorang kakek berambut putih jarang , memelihara kumis dan janggut panjang putih. Matanya yang sangat lebar terpuruk dalam pipi dan rongga cekung.Mukanya hampir tidak berdaging. Sekilas tampang insan satu ini hampir sama dengan Si Muka Bangkai. Bedanya Si Muka Bangkai sudah bungkuk sedang yang satu ini masih kelihatan gagah.
"Astaga! Dia rupanya!" Salah seorang berselubung kain putih keluarkan seruan kaget. Ada kilatan cahaya gila pada sepasang matanya. "Keadaannya masih gagah , sikapnya masih ceria. Tapi pada sepasang matanya terbayang banyak penderitaan hidup …."
"Eh sobatku , kau kenal orang gila itu?!" bertanya sang sobat di sebelahnya. "Aku dengar kau bergumam mirip bicara sendirian!"
"Lebih dari kenal! Dia …."
"Kau tak bisa meneruskan ucapan. Aku dengar bunyi mirip keselekan di tenggorokanmu! Ah! Aku ingat sekarang! Kau punya kekerabatan mesra dengan kakek itu di masa muda puluhan tahun silam. Dan saya juga ingat. Si Muka jerangkong itu ialah Tua Gila dari Pulau Andalas!"
"Ssttt! Jangan keras-keras bicara! Nanti setan ganjal itu mendengar dan mengenali diriku!"
"Hik … hik … hik! Kau berlagak aib tak mau dikenali , tak mau ditemui. Padahal saya tahu betul hatimu dikala ini sedang berbunga-bunga melihat dirinya!"
"Jangan meracau tak karuan!"
"Hik … hik. .. hik!"
Orang renta yang gres tiba dan bukan lain ialah Tua Gila adanya hentikan nyanyiannya yang tak karuan. Dia memandang berkeliling. Lalu berseru "Onde …. Onde! Betul ruponyo! Hari sapuluah Bulan sapuluah! Banyak urang-urang gilo bakumpua Di siko! Ha … ha … ha!"
"Si renta bangka itu kumat gilanya! Bicara menggunakan bahasa sendiri! Dikira dikala ini beliau berada di kampungnya!" Salah satu orang berselubung kain putih keluarkan bunyi mengomel. Sementara di cuilan yang lain Dewa Ketawa kembali tertawa gelak-gelak.
Tua Gila lanjutkan ocehannya. Seolah mendengar omelan orang beliau tidak lagi menggunakan bahasa daerahnya. "Kalian semua ialah teman-teman yang tidak pernah saya jumpa selama puluhan salam Hormatku untuk kalian … ." Lalu Tua Gila mem-bungkuk memberi hormat pada orang-orang di depannya sambil menyebut nama.
"Dewa Ketawa ….”
”kakek Segala Tahu ”
”…. Ah , yang dua itu bersembunyi di balik kain kafan , saya tak bisa mengenali! Ha …ha.. ha … Tapi biar saya memberi hormat juga pada dua hantu kuburan ini! Ha… ha… ha!" Lalu Tua Gila membungkuk memberi hormat pada dua sosok yang berselubungkan kain putih. Salah satu dari dua orang berselubung tampak salah tingkah. Untung saja tubuh dan wajahnya tertutup kain putih.
Tua Gila memandang ke jurusan Ratu Duyung. Sambil membungkuk beliau berkata. "Mataku sudah lemur , pendengaranku kurang tajam. Sahabat muda yang manis jelita ini belum kukenal belum pernah kudengar. Hormatku untukmu…."
Ratu Duyung membalas penghormatan itu dengan menjura tapi membatalkan niatnya ketika didengamya Tua Gila berkata. "Gadis manis , mudah-mudahan kau segera mendapatkan jodoh! Aku turut berdoa untukmu! Ha … ha … ha!" Tua Gila lantas kedap-kedipkan matanya beberapa kali.
Paras Ratu Duyung kelihatan menjadi merah. Ada satu getaran gila terjadi dalam tubuhnya. "Apa maksud orang renta ini dengan ucapannya tadi? Aku akan mendapatkan jodoh? Siapa?" Ah , hanya seorang renta gila mengapa saya harus memikirkan segala ucapannya!" Ratu Duyung membatin.
"Sepi sekali di sini. Semua kulihat pada tegang , untuk melenyapkan kesunyian dan ketegangan biar saya menyanyi!"
Di atas kereta Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya. Di sebelah sane Dewa Ketawa kumat penyakitnya dan mulai mengumbar tawa. Tua Gila buka mulutnya lebar-lebar mirip benar-benar mau menyanyi. Tapi temyata tidak. Karena tiba-tiba beliau palingkan kepalanya ke arah utara kemudian berseru.
"Teman-temanl Apa kalian tidak mencium anyir sesuatu yang harum…?" Tua Gila mendongak dan menghirup udara dalam-dalam. Yang lain-lain jadi ikut-ikutan
Baru satu kali orang-orang di bukit itu mengendus tahu-tahu seorang renta berpakaian selempang kaln biru sudah berada di situ. Dia memanggul sebuah bumbung bambu dl pundak kiri kanan. Dia layangkan pandangan pada semua orang yang ada dl situ sambil elus-elus janggutnya yang putih sedada. Salah seorang dari dua sosok berselubung kain putih keluarkan bunyi mendesah halus dan tangan kanannya ditekapkan ke dada seolah menahan degup jantungnya yang tiba-tiba bergoncang.
"Eh , ada apa? mitra di sebelahnya bertanya.
"Kau mirip kaget melihat si renta gagah itu …. Kau memegangi dada. Apa jantungmu mau copot?!"
"Tidak …. Aku tidak apa-apa. Hanya nafasku terasa sesak , alasannya ialah terus-terusan berada di balik selubung ini!"
Kawan orang berselubung ini keluarkan tawa perlahan kemudian setengah berbisik beliau berkata. "Tadi kau menggodaku! Sekarang gilirankul Jangan kau klra saya tidak tahu hubunganmu di masa muda dengan si tukang minum itu. Hik … hik … hik!"
"Kita sama-sama kena batunya. Makara harap berhenti" Orang renta berjanggut putih terus layangkan pandangan. Nampaknya beliau mirip mencari-cari seseorang. "Anak setan itu pasti telah mendustaiku. Orang yang dikatakannya tak ada di sini!" Beberapa dikala lamanya beliau pandangi dua sosok berselubung kain putih. Lalu beliau berpaling ke kiri. Pandangannya terbentur wajah dan sosok Ratu Duyung. Tidak berkesip mata itu memperhatikan dari rambut hingga ke kaki kemudian beliau gelengkan kepala berulang kali!
"gluk … gluk .. gluk!"
Terdengar bunyi tenggorakannya meneguk lahap tuak wangi mumi yanq dikenal dengan nama tuak kayangan Dewa ketawa meledak tawanya ketika beliau melihat orang renta ini. Dia menunjuk kemudian mulutnya menyerocos “ kita sama-sama dipanggil orang dewa. Tapi mengapa minum sendiri saja tidak membagi bagi ! sungguh tidak sopan! Ha…ha…ha…!”
Orang renta yanq membawa tuak berpaling kemudian menjawab ”Anak kecil berapa sih usiamu! Kalau kuberi tuak kayangan ini nanti kau bisa mabok! Syukur-sukur kalau kau Cuma ngompol”
"Ah , sudah renta nyatanya mulutmu masih suka Bicara jorok" kata Dewa Kelawa , Dia tertawa dulu sebentar gres melanjutkan ucapannya. "Kau pasti tahu , lelaki mana ada yang suka ngompal! Ngompol itu kan penyakitnya perempuan!" Dewa Ketawa kembali tertawa terpingkal-pingkal.
"Si Dewa Ketawa sialan itu , apa kau kira beliau merasani diriku?"
"Hik … hik! Perlu apa dipikiran ucapan orang-orang gila!" jawab si teman. "Yang musti kau pikir dan doakan ialah orang yang kita tunggu"
"Seumur hidup saya tidak pernah mendoakannya Kalau beliau hingga tidak tiba , berarti mencari sengsara sendiri! Atau mungkin beliau masih dikepung pikiran takut alasannya ialah kitab itu tidak ada lagi padanya?!
Diatas atap kakek segala tahu goyang-goyangkan tangan kanananya tiada henti. Suara berisik membuncah puncak bukit itu , terdengar terang hingga kebukit diseberangnya. Saat itu orang renta ini sebenamya sedang risau , beliau mendongak kelangit ” matahari memang sudah tinggi , tapi tengah hari masih usang , kalau anak itu tiba terlalu cepat dan setan iblis dibukit sana keburu menyerbu , urusan bisa kapiran! Hmmmm…. saya mesti melaksanakan apa?”
*********
TIGA
Kita kembali beberapa dikala sewaktu yang kuasa tuak tengah berlari cepat menuju teluk penanjung di pangandaran. Di satu tempat beliau hentikan larinya dan memamdang kearah kejauhan , desisnya.”Yang dibarat ditancapi bendera hitam yang di timur ditancapi bendera putih diatas sebuah kereta ! hhhhmmm gejala apa ini ?”
Selagi beliau berkata-kata sendirian , mirip itu , dari Balik lamping watu karang terdengar suara.
”ssssttt…. Suro Lesmono ! sedang apa kau disitu?"
Paras Dewa Tuak berubah. Dia berpaling ke arah Batu karang dan dengan cepat peganq tabung bambu di sebelah kanan.
"Seklan puluh tahun dunia terkembang! Puluhan tahun malang melintang! Tidak banyak yang tahu nama asliku” Lalu orang renta Ini berteriak , "Orang di balik karang Lekas unjukkan dirumu! "
Tak ada gerakan , tak ada jawaban.
"Bagus Kau minta saya hancurkan rupanya!" Dewa Tuak menggeram. Tabung bambu yang sudah Dipegangnya didekatkan ke bibir kemudian "gluk. .. gluk … gluk!’ Minuman keras itu diteguknya beberapa kali. Begitu mululnya penuh tuak , minuman keras itu kemudian disemburkannya ke arah watu karang. Terjadilah satu hal yang hebat. Batu karang kukuh atos Itu pecah di beberapa bagian. Kepingan-kepingannya berpelan-tingan ke udara.
Sekali lagi Dewa Tuak meneguk Tuak dalam bambu. Ketika beliau hendak menyembur untuk ke dua kalinya dengan mengerahkan tenaga dalam dua kali lipat dari yang tadi , dari balik watu karang yang hancur itu menghambur sesosok tubuh berpakaian hitam disertai seruan ” Dewa tuak tahan !”
"Anak setan?" Kau rupanya!" Dewa Tuak mendamprat begitu melihat yang berdiri didepannya ialah jagoan 212 Wiro sableng ” usang tidak bertemu , sekali bertemu kau kurang ajar! Cepat Kau katakan dari siapa kau tahu namaku hah! ”
”Jangan murka dulu kek!” kata wiro sambil tersenyum-senyum yang menciptakan yang kuasa tuak jadi tambah jengkel. ”Ada satu orang yang memberi tahu namamu itu , Dia juga bertitip pesan ingin sekali bertemu denganmu , kurasa beliau sudah ada dipuncak bukit sana menunggumu!”
” Orang itu lelaki atau peerempuan?" kemudian seka mulutnya yang penuh dengan tuak.
”perempuan!”
“Masih muda ataukah sudah tua?” tanya yang kuasa tuak lagi.
“Bisa muda bisa tua!” jawab murid sinto gendeng.
"Anak kurang asuh Jangan kau berani main-main padaku!"
"Aku tidak main-main"
Dewa Tuak dekatkan lagi tabung bambu kebibimya kemudian meneguknya tuaknya banyak sekali hingga mukanya merah laksana udang rebus.
"Kau tahu Nama wanita itu’? tanyanya kemudian.
"Namanya saya tidak tahu. Tapi gelamya tahu … !’
"Sialanl Sebutkan saja gelamya!" kata Dewa Tuak kemudian meneguk tuaknya dari bumbung bambu.
"lblis Putih Ratu Pesolek!"
Tenggorokan yang kuasa Tuak tercekik mendengar Julukan yang disebutkan pemdekar 112. Air mukanya yang merah sesaat tampak memutih. Dihadapannya dilihatnya wiro senyum-senyum
" Setan ganjal ini tahu apa hubunganku dengan wanita itu.. !.’" Dewa tuak berpikir-pikir.
”Kek , kau tunggu apa Iagi ! lekas naik ke bukit! Dia pasti sudah menunggumu. ..!"
"Anak setan! ,Jangan kau berani menggodaku , kau sendiri mengapa berada disini bukannya naik ke bukit!. Aku lihat dibukit sana musuh-musuhmu sudah lengkap menunggumu , siap membunuhmu hingga lumat!”
Wiro menyeringai" kau pergi saja duluan kek , saya masih ada dua hal yang harus kukerjakan…”
”hmmmm apa saja pekerjaan itu? ”
”menunggu seseorang dan mengusut keadaan dikawasan ini! Kau tahu Pangeran matahari ialah insan keji licik , bukan tidak mungkin beliau hendak menyiasati kita!”
"Siapa orang yang kau tunggu?”
”Pasti seorang gadis!"
"Ah …. kau memang betul. Aku. …"
"Orangnya si Bidadari Angin Timur itu?!"
"Et , bagaimana kau bisa tahu Kek?" ujar Wiro terbelalak.
"Ha … ha… ha Dewa Tuak teguk dulu tuak harumnya gres menjawab."Kau tengah menghadapi satu teka-teki besar anak muda….. Kau pecahkanlah sendiri!" Setelah meneguk tuaknya sekali lagi Dewa tuak meninggalkan tempat itu.
Pendekar 212 Wiro sableng garuk-garuk kepala. Dia menatap ke langit.
"masih usang datangnya tengah hari , Masih ada kesempatan untuk bertanya pada kakek segala tahu , saya sudah mendengar bunyi kerontangan kaleng bututnya dipuncak bukit sana! Selain itu saya perlu mengusut keadaan dikawasan ini”
Lalu Wiro mencari tempat yanq agak tinggi. Dengan mengerahkan ilmu ”menembus pandang” yang didapatnya dari ratu duyung beliau mulai menyapu daerah sekitar situ dengan pandangan matanya yang sanggup melihat benda-benda walaupun terhalang oleh benda lain.temyata banyak hal yang menciptakan murid sinto gendeng ini menjadi kaget.
Pertama ketika beliau memandang kebukit sebelah barat , dibukit itu dimana berkumpul para tokoh silat golongan putih banyak tersembunyi banyak sekali peralatan dan senjata rahasia yang sulit terlihat oleh mata biasa , mulai dari panah beracun dan pisau terbang hingga pada bola-bola hitam berisi materi peledak. Lima materi peledak ini juga ditanam dijalan masuk menuju keteluk yang diapit oleh dua buah bukit.
Semua peralatan rahasia yang dipasang Di bukit tinur dihubungkan pada satu peralatan berupa kawat yang sanggup mengatur hidup matinya peralatan-peralatan maut itu. Tapi untuk materi peledak yang ditanam di antara dua bukit sama sekali tidak dihubungkan dengan alat pengatur tersebut.
Berarti siapa saja yang menginjaknya akan menciptakan materi itu meledak. Tubuh Si penginjak akan hancur Berkeping-keping
”Jahanam keji Licik!" rutuk Pendekar 212 dalam hati". Pasti pangeran keparat itu yang mendalangi perbuatan ini! Semua yang di bukit timur berada dalam ancaman besar. Aku harus segera melaksanakan sesuatu! Aneh , mengapa ratu duyung tidak mengetahui hal ini. Padahal dengan ilmu menembus pandang yang dimilikinya beliau pasti bisa melihat lebih terang semua yang tersembunyi di tempat itu!”
Murid sinto gendeng sama sekali tidak mengetahui bahwa sesudah ratu duyung menyampaikan ilmu ”Menembus pandang” itu padanya maka ilmu yang dimiliki sang ratu sendiri akan lenyap selama 777 hari. Ilmu itu akan muncul dan dikuasainya kembali selewat jangka waktu tersebut.
”Aku harus cepat melaksanakan sesuatu!” pikir wiro. Hal kedua yang mengejukan wiro ialah ketika beliau melihat sosok Bidadari Angin timur di bukit barat , berada di antara delapan lelaki berjubah merah berkepala botak kuning.
”Ditunggu-tunggu temyata beliau ada di situ? Jahanam!
Terbuka sudah kedoknya. Makara kaki tangan Pangeran Matahari beliau rupanya! Mereka pasti punya huhungan tertentut Aku benar-benar tertipu Tak pelak lagi pasti kitab putih wasiat yang kuasa sudah diberikannya pada pangeran keparat itu!”
Wiro lantas ingat pertemuannya dengan bidadari angin timur belum usang berselang.
”Tapi bagaimana kalau betul gadis itu punya kembaran ?” wiro jadi garuk kepala sendiri.
”yang ada dibukit barat itu yang mana adanya? Yang dulu pernah menampar piplku atau yang menipu dan melarikan kitab sakti itu? atau mungkin sebenamya Memang Cuma satu Bidadari Angin Timur?!”
Dalam bingun wiro teruskan menyusuri bukit sebelah barat dengan ilmu ”menembus pandangnya” kembali beliau terkejut ketika iblis pemabuk dan dewi payung tujuh juga berada di sana.
”Iblis pemabuk , mirip insan tidak punya pegangan. Sekarang menjadi antek pangeran matahari , kemudian gadis sialan dari tanah seberang itu! Kalau tidak mengharapkan sesuatu pasti beliau tidak akan bergabung dengan insan manusia sesat itu. Dia mengincar kitab putih wasiat dewa. Agaknya beliau sudah tahu kalau kitab itu kini berada disana. Lalu ditambah dendamnya terhadapku tempo hari.!”
Wiro sadar sudah terlalu usang beliau berada di tempat itu. “ saya harus segera bergabung dengan para tokoh” , beliau memandang kelangit sang surya masih cukup jauh dari titik tertingginya.
Dengan ilmu menembus pandang wiro bisa melihat siapa saja yang berada dibukit sebelah timur. Mula-mula dilihatnya kakek segala tahu ,
“aku harus cepat menemui kakek itu , mungkin beliau bisa memecahkan teka-teki rahasia kelemahan Tiga bayangan setan , sempurna tengah hari bolong , pilih yang ditengah!”.
Dada jagoan 212 berdebar ketika beliau melihat ratu duyung. Lama murid sinto gendeng menatap wajah sang ratu dengan banyak sekali perasaan menyelimuti hatinya. Kasihan ada sayang pun ada sedang rasa berhutang budi dan nyawa tentu saja tidak pernah dilupakannya.
Murid Sindo Gendeng palingkan kepala ke jurusan lain. Dia tersenyum ketika pandangannya hingga pada sosok yang kuasa ketawa dan yang kuasa tuak. Lalu terlihat dua sosok tubuh mengenakan pakaian gila berselubung kainputih.
"Seumur hidup tidak pernah saya ketahui ada dua tokoh golongan putih punya dandanan mirip itu.
Dua pocong hidup itu siapa mereka adanya!”
Wiro kerahkan tenaga dalamnya yang ada dikepala. Bagaimanapun dicobanya beliau tidak bisa menembus kain putih yang jadi pakaian dua orang itu. ”aneh mengapa tidak bisa tembus?” pikir wiro. Dia berpaling kearah ratu duyung. ”akan kucoba yang satu ini” kata wiro dalam hati. Tenaga dalamnya dilipat gandakan , namun tetap saja beliau tidak bisa menembus kebalik pakaian orang.
Wiro garuk-garuk kepala ” watu ,pohon air dan dinding bisa kutembus , mengapa pakaian tidak bisa? Ah , jangan-jangan ilmu ini memang tidak untuk dipergunakan untuk berkurang ajar!” wiro tertawa sendiri.
”aku harus segera menuju puncak bukit sebelah timur sebelum pergi pedataran pasir antara dua ukit karang saya bersihkan dulu!”
”braaakkk!”
Wiro hantam watu disampingnya dengan pukulan bertenaga dalam tinggi. Batu karang hancur menjadi sembilan keping. Dia menentukan lima keping yang besar-besar kemudian bersiap melemparkan watu itu satu persatu kearah pedataran dimana tersembunyi lima bola maut yang bisa meledak! Tapi gerakan sang jagoan tertahan ketika beliau melihat tiba-tiba ada yang tiba dari utara , berlari secepat angin!
”eh hewan atau setan yang tiba ini!” ujar wiro.
************
EMPAT
SEORANG lelaki bertubuh gemuk luar biasa , berkopiah hitam kupluk , mengenakan baju terbalik dan kesempitan muncul dari arah utara. Melihat kepada bobotnya yang begitu besar sulit dipercaya beliau bisa berlari laksana angin. Apalagi sambil berlari beliau menjunjung sebuah keranjang rotan raksasa. Di dalam keranjang itu , bergelung di atas tumpukan jerami kering kelihatan sosok insan gendut , lebih gendut dari lelaki yang menjunjungnya. Dari bunyi mengorok yang keluar dari mulutnya terang si gemuk ini tengah tertidur nyenyak. Tetapi dibilang tidur mengapa ada sebuah pipa panjang yang menyala dan menebar anyir tembakau mencantel di sela bibimya?"Hebatnya lagi , si gemuk yang menjunjung keranjang berisi insan raksasa itu berlari sambil tangan kirinya memegang kipas kertas yang tiada henti-hentinya dikipaskan pada wajahnya yang selalu keringatan!
"Bujang Gila Tapak Sakti!" seru Wiro. Walau beliau besar hati tapi tiba-tiba beliau menjadi merinding. Si gemuk yang dipanggilnya dengan sebutan Bujang Gila Tapak Sakti itu temyata berlari memasuki pedataran pasir berbatu-batu yang diapit oleh dua bukit karang. Padahal lima materi peledak telah ditanamkan musuh di tempat itu! Jangankan si gendut berpeci kupluk itu , seekor tikus saja kalau menginjak bola-bola maut yang ditimbun di bawah pasir pastilah akan meledak dan menghancurkan tubuhnya hingga berkeping-kepingl Apalagi si gendut ini membawa beban pula yaitu seorang insan raksasa berbobot ratusan katil Orang di dalam keranjang rotan besar itu bukan lain ialah salah satu tokoh silat paling gila dirimba persilatan yang dikenal dengan julukan Si Raja Penidur!
"Bujang Gila Tapak Sakti!" seru Wiro dengan bunyi menggelegar alasannya ialah beliau kerahkan tenaga dalamnya.
"Berhenti! Tahan larimu! Jangan melewati pedataran pasir!" Orang yang diteriaki menoleh sekilas pada Wiro. Dia lambaikan kipasnya tapi terus saja berlari kencang.
"Kerbau tolol itu apa beliau tuli tidak mendengar teriakanku?! Celakal Bagaimana saya harus mencegahnya!" Wiro masih berpikir untuk menyelamatkan orang dari ancaman bola-bola maut yang ditanam musuh justru dikala itu si gendut Bujang Gila Tapak Sakti sudah jauh memasuki pedataran di antara dua bukit.
Murid Sinto Gendeng terbelalak. Ternyata tidak satu pun bola maut itu yang meledak walau ada dua dari lima bola yang sempat terpijak kaki si gendut! "Gila! Luar biasa! llmu meringankan tubuhnya hebat luar biasal Bagaimana beliau bisa meredam beratnya tubuh Si Raja Penidur yang ada di dalam keranjang besar?!" Selagi Wiro garuk-garuk kepala Bujang Gila Tapak Sakti dan Si Raja Penidur sudah berada di puncak bukit watu karang sebelah timur. Kemunculan Bujang Gila Tapak Sakti yang juga ialah kemenakan Dewa Ketawa disambut dengan penuh rasa kagum oleh semua orang yang ada di situ. Dewa Ketawa tertawa mengekeh. Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah Si Raja Penidur dan Dewa Ketawa yang bertubuh sama-sama gendut Tua Gila berseru.
"Sekarang ada tiga gajah infeksi di tempat ini! Uhhhh! Anak tolol! Apa perlunya kau bawa-bawa gajah ngorok itu ke sini. Kau hanya menciptakan sempit tempat orang bemafas saja!"
Bujang Gila menyeringai. Dia berkipas-kipas beberapa kali kemudian goyangkan kepalanya. Keranjang rotan besar di atas kepalanya bergeser ke samping , perlahan-lahan melayang turun ke bawah. Raja Penidur sendiri mirip tidak terganggu terus saja tidur mendengkur!
Kalau kedatangan Bujang Gila Tapak Sakti dan Si Raja Penidur disambut dengan raga kagum serta besar hati di bukit timur , maka di bukit sebelah barat justru hal itu menciptakan para tokoh golongan hitam menjadi geger dan tegang. Pangeran Matahari yang tahu gelagat tidak baik cepat berkata memberi semangat.
"Hanya dua kerbau tak berguna! Tidak ada yang harus ditakutkan! Kitab Wasiat lblis ada di tanganku! Jangankan dua makhluk infeksi itu. Semua mereka bisa kubuat mampus!"
Habis berkata begitu Pangeran Matahari segera mendekati Makhluk Pembawa Bala dan berbisik. "Kau lihat sendiri. Lima bola maut yang kau tanam di pedataran sana tidak satu pun yang meledak ketika dilewati si gendut keparat itu. Aku tidak ingin ada yang tidak beresl Lekas kau pergi ke tempat pengendali. Langsung hidupkan alat pengendalil Aku dan yang lain-lainnya akan menuruni bukit sejauh mungkin. Berjaga-jaga biar kalau bukit di sana meletus tidak ada yang bisa lolos!" Ketika semua orang di puncak bukit karang sebelah barat bergerak menuju kaki bukit dan berhenti di tepi pedataran pasir lblis Pemabuk satu-satunya yang masih tetap berada di puncak bukit.
Pangeran Matahari berpaling. Melihat tokoh gemuk pendek itu masih berada di atas bukit beliau berteriak biar lblis Pemabuk segera turun. Mendengar dirinya dipanggil sambil terhuyung-huyung lblis Pemabuk goyang-goyangkan tangannya kemudian berteriak.
"Aku menentukan tetap di atas sini saja! Kecuali ada yang mau membantu menurunkan lima gentong tuak ini ke bawah sana!"
Rahang Pangeran Matahari menggembung. Di sebelahnya , gurunya Si Muka Bangkai berbisik. "Jangan perdulikan beliau Nanti akan kuhancurkan lima gentong itu. Kalau sudah tidak ada lagi tuak di atas kuliner beliau mau bertahan di sana!"
"Aku kawatir kemunculannya di sini bukan membantu kita tapi menciptakan kekacauan saja!" jawab Pangeran Matahari.
"Kita lihat saja. Kalau beliau nanti masih banyak cingcong biar tubuhnya kubuat tuak!" kata Si Muka Bangkai.
Melihat gerakan orang-orang di bukit sebelah barat , orang-orang di bukit sebelah timur tidak tinggal diam. Mereka segera menuruni bukit untuk menyongsong kedatangan lawan dan berhenti di tepi pedataran pasir sempurna di seberang kelompok Pangeran Matahari! Dua kelompok para tokoh dunia persilatan golongan putih dan golongan hitam kini saling berhadap-hadapan dan hanya terpisah lima tombak satu sama lainnya! Sementara itu di langit matahari merayap mendekati titik tertingginya.
"Makhluk Pembawa Bala keparat! Apa yang dilakukannya? Mengapa peralatan rahasia masih belum bekerja! Mengapa masih belum terjadi ledakan! Padahal orang-orang di bukit karang sebelah barat telah mulai turun!
Jahanam betul si Makhluk Pembawa Bala itu Kelak akan saya tambahkan bacokan kayu di batok kepalanya!"
Baru saja sang Pangeran memaki begitu tiba-tiba ledakan dahsyat mendera daerah teluk lima kali berturut-turut!
Dua kelompok para tokoh di kaki bukit barat dan timur menjadi terkejut besar.
"Jahanam! Apakah bumi sudah kiamat?!" Seseorang terdengar berteriak. Pasir dan hancuran batu-batu beterbangan ke udara menciptakan pemandangan menjadi gelap. Tanah bergoncang hebat. Dua bukit bergetar mirip hendak roboh.
Air maritim menggelombang membentuk ombak besar yang kemudian menghempas di teluk. Di kaki bukit sebelah barat terdengar raungan meratap Dewa Sedih. Sebaliknya di kaki bukit sebelah timur Dewa Ketawa tertawa keras ditimpali bunyi kerontangan kaleng!
"Tiarap! Cari perlindungan!" terdengar ada yang berteriak. Ketika pasir dan bebatuan runtuh ke tanah dan pemandangan menjadi terang kembali kelihatanlah satu pemandangan yang mendebarkan.
Di saluran menuju ke teluk , di ujung dua kaki bukit , tampak lima lobang raksasa menguak tanah!
Para tokoh yang tadi berlindung di balik batu-batu besar di kaki bukit dan ada yang bertiarap perlahan-lahan keluar unjukkan diri. Ada yang terdengar memaki sambil bersihkan pakaian dan rambut mereka yang terkena hamburan pasir akhir ledakan.
Muka mereka yang tadi pucat pasi kini berdarah kembali. "Setan edan! Apa yang terjadi! Habis kotor pakaian putihku! Untung dandananku tidak rusak!" Salah seorang dari dua sosok berselubung kai n putih memaki.
Lalu di balik kerudung kain putihnya beliau menge-luarkan alat-alat rias dan merias wajahnya kembali!
"Aku yakin! Ada jahanam menanam alat peledak di tempat ini!" teriak seseorang.
"Pasti itu pekerjaaan busuk si licik keji Pangeran Matahari!" menyahuti seorang lainnya.
Di kaki bukit sebelah barat rahang Pangeran Matahari menggembung. Pelipisnya bergerak-gerak tanda beliau tengah murka besar. Dia berpaling ke bukit di atasnya.
"Jahanam! Apa yang dikerjakan makhluk keparat itu! Mengapa yang meledak justru bola-bola maut di tempat lain! Mengapa yang di bukit timur tidak meledak! Pisau dan panah beracun mengapa belum bekerja! Makhluk Pembawa Balal Di mana kau?! Keparat tolol!" Pangeran Matahari berpaling pada Elang Setan kemudian berkata. "Lekas kau pergi menyelidik ke tempat pengendalian alat rahasial Kalau Makhluk Pembawa Bala berkhianat segera saja kau habisi!"
Mendengar perintah itu dan merasa menerima kepercayaan Elang Setan segera berkelebat. Dari kaki bukit sebelah timur tiba-tiba ada yang berseru. "lblis Pemabuk! Tidak sangka kau rupanya sudah jadi kaki tangan orang-orang jahat!"
Di atas bukit barat lblis Pemabuk bantingkan kendi berisi tuak yang sedang diteguknya hingga pecah berkeping-keping. Dengan tubuh menghuyung beliau maju satu langkah. "Setan ganjal dari mana yang berani bicara kurang asuh padaku!"
"Aku sahabat lamamu Dewa Tuak!" jawab orang di kaki bukit timur. "Tapi kini kita tidak dekat lagi! Kau menentukan berkumpul dengan orang-orang sesat Aku mana mau memalsukan perbuatanmu! Najis!"
Dewa Tuak kemudian angkat tabung bambunya ke bibir dan meneguk tuak mumi itu dengan lahap. "Dewa Tuak! Kau tidak lebih baik dari dirikul Kalaupun saya berada di tempatmu , apa yang bisa kau berikan? Di sini saya bisa berpesta dengan lima geniong tuak sedap!"
"Dasar tolol!" teriak Dewa Tuak.
"Jahanam! Kau berani memakiku!" Dari atas bukit lblis Pemabuk tanggalkan dua kendi yang terikat di pinggangnya. Dua kendi ini kemudian dilemparkannya ke bawah ke arah Dewa Tuak. Lemparan ini bukan lemparan sembarangan alasannya ialah disertai tenaga dalam tinggi. Dua kendi itu sanggup memecahkan kepala serta menjebol tubuh Dewa Tuak. Belum lagi tuak yang menyembur keluar dari dalamnya yang sanggup menembus daging dan tulang manusia!
"Ha … ha! Apakah kegegeran hari sepuluh bulan sepuluh sudah dimulai di Pangandaran ini?!"seru Dewa Tuak. Tua Gila dan Dewa Ketawa tertawa gelak-gelak Dewa Sedih kembali terdengar meratap. Dewa Tuak lemparkan tabung bambunya ke udara menyambut datangnya serangan dua kendi. Bumbung bambu dan dua kendi dari tanah bertemu di udara.
"Traakkk …. Traakkk!"
Tuak kayangan di dalam bumbung bambu dan tuak keras di dalam dua kendi bermuncratan ke seantero tempat. Bumbung bambu patah dua sedang dua kendi tanah hancur berantakan. Di atas bukit lblis Pemabuk terhuyung-huyung. Kalau beliau tidak Iekas berpegangan pada gentong besar di dekatnya pasti beliau akan jatuh terjengkang. Di lain pihak , di kaki bukit Dewa Tuak usap-usap dadanya yang mendenyut sakit. Orang renta ini terbatuk-batuk beberapa kali dan cepat atur jalan darah serta tenaga dalamnya. Rupanya walau bentrokan tabung bambu dan dua kendi tanah terjadi di udara namun tenaga dalam ke dua orang tokoh silat itu saling memukul dengan hebatnya.
"Gusti Allah! Hancur bumbung tuakku!" Teriak Dewa Tuak sambil memandang ke udara. "Tuakku tumpah semua! Jahanam kau lblis Pemabuk!"
Orang renta berpakaian selempang kain biru itu melompat satu tombak. Mulutnya dibuka lebar-lebar. Lalu terjadilah satu pemandangan yang sulit dipercaya.
Tuak kayangan yang berhamburan dari bumbungnya yang patah laksana tersedot mengalir masuk ke dalam lisan Dewa Tuak. Walau banyak yang terbuang tapi sebagian besar masih sempat masuk ke dalam tenggorokannya. "Ah , untung masih ada yang bisa kutenggak! Sialan kau lblis Pemabuk!" Perlahan-lahan Dewa Tuak turun ke tanah.
"Dewa Tuak! Kasihan kau kehilangan satu tabung!" Di atas bukit sebelah barat lblis Pemabuk berseru kemudian tertawa gelak-gelak. "Jangan khawatir , saya punya lima gentong tuak keras. Aku akan hadiahkan satu gentong padamu! Ha … ha … ha!"
"Terima kasih , Siapa suka minuman yang sudah dicampur dengan air kencing!" teriak Dewa Tuak kemudian tertawa mengekeh diikuti oleh semua orang yang ada di kaki bukit sebelah timur itu sementara Si Raja Penidur masih enak-enakan ngorok.
"Jahanam! Apa maksudmu!" teriak lblis Pemabuk dengan mata melotot.
"Ha … ha … ha! Dasar orang tolol! Kerjamu mabuk saja hingga tidak tahu orang sudah mengerjaimu!"
"Jahanam! Kalau kau tidak segera menjelaskan saya hancurkan tabungmu yang satunya!"
"Masih saja tolol!" seru Dewa Tuak. "Tuak keras dalam lima gentong yang kau minum itu sebelumnya sudah dikencingi Pangeran Matahari dan gurunya Si Muka Bangkai! Ha … ha … ha!"
Berubahlah tampang lblis Pemabuk. Dia memandang ke arah Pangeran Matahari dan Si Muka Bangkai. Dua orang ini segera berteriak berbarengan.
"Dusta!"
Tapi lblis Pemabuk sudah tergoda ucapan Dewa Tuak "Kalau kau masih mau dekat dan inginkan tuak yang harum sedap , saya masih ada satu bumbung penuh!" teriak Dewa Tuak pula.
"Dewa Tuakl Siapa bilang saya memutuskan persahabatan denganmu!" teriak lblis Pemabuk. Lalu beliau menyambar ke kanan. Ketika beliau melompat turun dari atas bukit semua orang yang ada di tempat itu menjadi terkesiap kagum. lblis Pemabuk melayang ke bawah bukit sambil memanggul salah satu dari lima gentong besar berisi tuak keras yang beratnya ratusan kati.
Dari atas lblis Pemabuk kemudian lemparkan gentong itu ke arah Si Muka Bangkai.
"Pengkhianat keparat!" teriak Si Muka Bangkai murka sekali. Enam larik sinar , dua hiam , dua kuning dan dua merah berkiblat di udam. ltulah dua pukulan sakti Gerhana Matahari" yang dilepas oleh Pangeran Matahari dan Si Muka Bangkai ke arah lblis Pemabuk. Yang diserang cepat menyingkir. Gentong yang dilemparkannya hancur berantakan di udara akhir pukulan sakti yang dilepaskan Si Muka Bangkai.
Celakanya uak yang ada dalam gentong itu jatuh mengguyur Si Muka Bangkai mulai dari kepala hingga ke kaki , Dewa Ketawa gelak terkekeh. Bujang Gila Tapak Sakti terpingkal-pingkal sambil berkipas-kipas sedang Dewa Sedih keluarkan pekik keras kemudian menangis.
Dari arah kaki bukit sebelah timur tiba-tiba memancar satu cahaya putih menyilaukan , pribadi menahan sinar sakti pukulan Pangeran Matahari. Di udara kelihatan mirip ada bunga api mencuat ke langit disertai letusan keras. Pangeran Matahari tersurut dua langkah. Parasnya berubah. Dia berpaling ke kaki bukit sebelah timur. Di situ dilihatnya Ratu Duyung perlahan-lahan turunkan tangannya yang memegang cermin bulat.
Cahaya putih menyilaukan tadi temyata keluar dari cermin di tangan sang Ratu untuk menolong lblis Pemabuk dari keroyokan.
"Dewa Tuak tidak berani menyerangku. Ratu Duyung
hanya melaksanakan tindakan bertahan Berarti mereka sudah tahu kelemahan Kitab Wasiat Iblis!" Pangeran Matahari mencicipi dadanya berdebar. "Aku harus mencari nalar biar semua orang itu menyerangku! Akan kuamblaskan nyawa mereka satu persatu!’”
Baru saja Pangeran Matahari berkata dalam hati tiba-tiba terdengar bunyi kaleng berkerontangan , disusul bunyi nyanyian Kakek Segala Tahu.
"lngat kata sahabat. Yang hitam jangan diserang! Alihkan perhatian dan mengambil perilaku bertahan ltulah jalan kehidupan lngat kata sahabat. Yang hitam jangan diserang!"
Pangeran Matahari mendengus. Di sampingnya dalam keadaan berair kuyup Si Muka Bangkai berbisik.
"Muridku mereka sudah tahu kelemahan kitab saktimu itu. Kau harus berhati-hati , saya akan memancing biar mereka menyerangmu!"
Pangeran Matahari tidak menjawab. Dia lagi-lagi berpaling ke atas bukit dengan penuh geram. "Makhluk Pembawa Bala jahanam! Elang Setanl Apa kau tidak menjalankan kiprah yang saya perintahkan?”.
Tiba-tiba dari atas puncak bukit karang sebelah barat itu satu sosok tubuh tampak mencelat di udara. Semua orang dongakkan kepala melihat apa yang terjadi!
****************
LIMA
SOSOK tubuh yang melayang dari atas bukit itu jatuh terkapar di depan Pangeran Matahari. Meski keadaannya tak bisa dikenali lagi tapi sang Pangeran maupun Tiga Bayangan Setan tahu betul itu ialah sosok tubuh Elang Setan.Tiga Bayangan Setan berteriak keras dan pukul-pukul dadanya sendiri melihat kematian saudara angkat darahnya itu. Tenggorokan Panqeran Matahari naik turun. Dia memandang ke puncak bukit di atasnya.
Walau tidak tampak siapa pun di atas sana namun beliau tahu musuh telah berhasil menyusup ke bukit tempat beliau dan para tokoh silat golongan hitam berada. Dia belum melihat siapa adanya orangnya namun menaruh syak wasangka orang itu bukan lain musuh bebuyutannya yaitu Pendekar 212 Wiro Sableng.
Dalam keadaan murka dan ingin tau oleh kematian Elang Setan Pangeran Matahari merasa terganggu oleh ratap tangis Dewa Sedih yang duduk di atas gundukan watu beberapa lanakah di samping kirinya.
"Tua bangka jahanam! Hentikan tangismu atau kurobek mulutmu!" hardik sang Pangeran. Yang dibentak tergagau sebentar. Sepasang mata Dewa Sedih sekilas menyorotkan sinar gila walau air mukanya tetap memperlihatkan kesedihan.
"Ada orang mampus mengenaskan! Aku dibentak! Aku sedih! Aku menangis …!" Lalu terdengar raung Dewa Sedih keras sekali. Sambil menangis beliau berdiri dan melangkah tertunduk-tunduk. Tangan kirinya dipergunakan untuk mengusut ke dua matanya.
"Hai , Kau mau ke mana?!" teriak Pangeran Matahari ketika dilihatnya kakek itu melangkah menuruni bukit ke arah timur. Dewa Sedih tidak perdulikan bentakan Pangeran Matahari. Dia melangkah terus sambil keluarkan ratapan.
"Aku dibentak dimarahi! Apakah saya anak kecil bau kencur yang telah berbuat salah! Engg … huk … huk … huk! Aku bukan budakbukan pembantu bukan pelayan! Jika orang murka padaku berarti tidak suka padaku! Kalau orang tidak suka padaku lebih baik saya pergi saja. Engg … hik … hik … hik! Masih banyak tempat lain untuk menangis. Enggg …."
Ketika Dewa Sedih hampir mencapai kaki bukit karang Si Muka Bangkai tak sanggup menahan kekhawatirannya. "Muridku , agaknya renta bangka itu hendak melintasi pedataran pasir , siap menyeberang ke pihak lawan!"
"Kalau sudah tahu lekas lakukan sesuatu!" jawab Pangeran Matahari dengan nada jengkel dan perilaku angkuh. Sang guru segera berkelebat menuruni bukit. "Dewa Sedihl Tunggu!" seru Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat. Dua kali melompat saja beliau hingga di kaki bukit dan cepat menghadang langkah Dewa Sedih. Melihat ada orang yang menghalangi tangis Dewa Sedih semakin keras. Tangan kirinya dikibaskan. Walau gerakan tangan itu hirau tak hirau saja tapi dari deru angin yang keluar Si Muka Bangkai maklum kalau kibasan tangan itu bukan lain ialah satu serangan dahsyat. Buktinya ketika beliau coba menangkis dengan membalas membelintangkan tangan kanannya di depan wajahnya , tangan itu ter-getar keras dan tubuhnya terjajar satu langkah.
Meski kini beliau menjadi mangkel melihat perilaku Dewa Sedih namun Si Muka Bangkai tak mau mengambil perilaku memaksa. Dia berusaha membujuk malah sambil ikut-ikutan menangis.
"Tua bangka bungkuk bermuka pucat! Hik …Hik … hik! Tangismu hanya pura-pura! Hik … hik … hik!
Menyingkir dari hadapanku! Jangan menyesal kalau kedua matamu saya kuras keluar!"
Saat itu Dewa Sedih sudah hingga di kaki bukit dan siap menyeberangi pedataran pasir berbatu-batu yang memisahkan bukit di sebelah barat dengan sebelah timur sejarak lima tombak. Si Muka Bangkai jadi kehabisan akal.
"Dibujuk tidak mau! Rupanya minta mati!" Si Muka Bangkai kertakkan rahang. Kakek bungkuk ini memutar tubuhnya mirip hendak berbalik ke tempatnya semula. Namun tiba-tiba tangan kanannya
dihantamkan. Sinar merah , kuning dan hitam berkiblat menghampar hawa sangat panas. Udara mirip redup beberapa saat. lnilah pukulan maut "Gerhana Matahari" yang dilancarkan dengan tenaga dalam penuh dan benar-benar merupakan serang mematikan alasannya ialah dilancarkan dari belakang!
"Jahanam pengecut! Membokong dari belakang!" Dari bukit sebelah barat terdengar orang berteriak memaki. Sebaliknya Dewa Sedih yang diserang secara pengecut itu tenang-tenang saja. Dia terus saja melangkah terbungkuk-bungkuk menyeberangi pedataran pasir sambil menangis sesenggukan.
Saat itulah dari bukit sebelah timur menggema bunyi kerontangan kaleng. Lalu menyusul deru dua gelombang angin yang sangat dahsyat. Deru pertama keluar dari kipas kertas yang dikebutkan Bujang Gila Tapak Sakti. Yang satu lagi melesat dari hantaman tangan Dewa Ketawa yang melancarkan serangan untuk menyelamatkan kakaknya.
Pasir di pedataran beterbangan hingga setinggi dua tombak. Dewa Sedih tampak terhuyung-huyung dalam jepitan tiga kekuatan tenaga dalam dahsyat.
Lalu terdengar dua letupan keras yang menggoncang daerah itu. Si Muka Bangkai jatuh terjengkang di tanah. Mukanya yang pucat bertambah putih. Dadanya mendenyut sakit. Cepat-cepat kakek bungkuk ini bangun berdiri dan menyelinap ke balik watu karang di kaki bukit.
Di bukit sebelah barat Dewa Ketawa lenyap. Orang renta bertubuh gemuk ini terhuyung-huyung kemudian tersandar ke samping watu di belakangnya. Setelah mengusap wajahnya berulang kali beliau kemudian kembali tertawa. Tak jauh di sebelahnya Bujang Gila Tapak Sakti periksa kipas kertasnya. Salah satu ujung kipas tampak robek sedikit. Si gendut ini karuan saia jadi mengomel panjang pendek.
Beberapa belas langkah sebelum Dewa Sedih mencapai kaki bukit sebelah timur , adiknya Dewa Ketawa melompat menyambuti kedatangannya. Sambil membimbing tangan si kakek Dewa Ketawa tertawa mengekeh kemudian berkata. "Dari dulu saya sudah bilang! Kau boleh saja menangis sesukamu. Tapi otak musti jalan. Dipergunakan dengan baik. Tempatmu di sini di antara para sahabat. Bukan di sana! ha … ha.. . ha!"
"Hik … hik! Aku mengaku salah! Aku memang kelirul , Sudah jangan mentertawai saya terus!" kata Dewa Sedih.
Lalu "bluk!" Satu sosok melayang di atas kepalanya. Tahu-tahu lblis Pemabuk sudah tegak di hadapan abang adik gila itu.
"Nah ini satu lagi orang sesat yang sadar diri!"
Yang berseru ialah Dewa Tuak. Dia pribadi saja melompat menyambut kedatangan lblis Pemabuk. dan orang ini saling rangkul. Tapi tangan masing-masing saling bekerja. Dewa Tuak membetot lepas dua kendi tuak yang tergantung di pinggang lblis pemabuk sedang lblis Pemabuk menarik bumbung bambu dari pundak Dewa Tuak. Kedua orang renta ini kemudian meneguk minuman keras itu sambil tertawa tawa.
Di samping kiri Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya sementara Bujang Gila tapak Sakti tegak berkipas-kipas sambil tertawa-tawa sedang Si Raja Penidur masih terus ngorok di dalam keranjang rotan besar.Setelah puas meneguk tuak mumi yang dinamakan tuak kayangan milik Dewa Tuak , lblis Pemabuk melambaikan tangan ke arah Ratu Duyung Ialu menjura seraya berkata. "Terima kasih tadi kau telah menyelamatkan diriku dengan cermin sakti dari serangan manusla-manusia sesat itu!"
Ratu Duyung membalas dengan senyuman manis. Di kaki bukit sebelah barat Pangeran Matahari murka besar. "Kurang ajar! Mengapa urusan bisa jadi kapiran mirip ini!" Dia kembali memutar kepala , memandang ke puncak bukit di atasnya. Kita kembali dulu pada apa yang terjadi beberapa dikala sebelumnya.
Setelah meledakkan lima alat peledak yang ditanam di pedataran pasir di antara dua bukit watu karang , Pendekar 212 menyelinap ke bukit sebelah barat. Dengan ilmu "Menembus Pandang" beliau berhasil mengetahui di mana letak sentra kendali alat alat peledak dan segala macam senjata rahasia yang disembunyikan. Ketika beliau sedang sibuk merusak alat pengendali yang bisa membunuh para tokoh silat golongan putih itu tiba-tiba beliau melihat bayangan sosok seseorang jatuh di atas watu karang di sampingnya , menyusul menyambamya anyir busuk yang tak asing lagi baginya. Murid Sinto Gendeng cepat berbalik.Justru dikala itu satu tendangan berdesing ke arah keplanya. Demikian cepat dan tiba-tibanya serangan itu walau beliau sempat menjatuhkan diri menyelamatkan kepala namun tendangan masih sempat menyambar dadanya!
"Bukkk!"
Pendekar 212 Wiro Sableng terlempar dua tombak. Di hadapannya Makhluk Pembawa Bala menyeringai. Selagi Wiro terkapar menahan sakit Makhluk Pembawa Bala cepat melompat ke tempat peralatan pengendali. Dia hanya membutuhkan waktu singkat untuk membetulkan kawat-kawat pengendali yang telah diputus Wiro. Namun sebelum hal itu sempat dilakukannya dari samping Wiro tiba menghan tam. Perkelahian seru segera terjadi. Bagaimanapun hebatnya Makhluk Pembawa Bala namun tanpa mempunyai sebuah tangan pun , Setelah bertahan selama dua jurus beliau tak sanggup Lagi menghadapi lawan. Mukanya yang memang sudah hancur menjadi tambah remuk dibentuk bulan bulanan tinju kiri kanan Pendekar 212. Setelah merasa cukup menciptakan babak belur insan jahat yang telah beberapa kali hampir berhasil membunuhnya , Wiro cekal kayu yang menancap di batok kepala Makhluk Pembawa Bala. Begitu kayu dipuntir kuat-kuat
"kraak!”
Tak ampun lagi tanggallah leher Makhluk Pembawa Bala dari persendiannya! Darah busuk mengucur mengerikan juga menjijikkan Seperti yang dikatakan Dewa Sedih temyata Benar makhluk Pembawa Bala ialah orang pertama yeng menjadi korban di hari sepuluh bulan sepuluh di Pangandaran itu!
Wiro yang menyadari bahwa beliau harus bergerak cepat segera tinggalkan tempat itu sambil mencekal kayu di mana tertancap kepala Makhluk Pembawa bala. Namun sebelum beliau sempat melangkah pergi tiba-tiba Elang Setan muncul.
"Manusia jahanam! Kalau hari ini saya tidak bisa membunuhmu lebih baik saya yang bunuh diri!" kertak Elang Setan.
Wiro menyeringai. Dia angkat kepala Makhluk pembawa Bala ke atas. "Kau rupanya ingin punya nasib mirip kambratmu ini!" Wiro campakkan kepala Makhluk Pembawa Bala ke tanah. Saat itu Elang setan telah menyerangnya. Sepuluh sinar hitam dan sinar merah menyambar ke arah Wiro ketika orang ini menggempumya dengan serangan sepuluh jari tangan berbentuk cakar. Pendekar 212 yang sudah semenjak usang mendendam terhadap insan yang telah mencuri dua senjata mustikanya itu kali ini tak mau memberi ampun dan bertindak cepat.
"Saat bagiku menguji kehebatan ilmu pukulan Harimau Dewa ," pikir Wiro. Dia segera tiup tangan kanannya. Saat itu juga di telapak tangan Wiro muncul gambar kepala harimau putih bermata hijau. Elang Setan menggembor murka ketika serangan pertamanya gagal. Didahului teriakan keras beliau lancarkan jurus ke dua. Cakar tangan kiri menyambar ke leher untuk merobek sedang cakar asisten menghunjam ke dada kiri guna menjebol jantung lawan!
Namun tinju kanan Pendekar 212 yang melesat di antara dua lengan lawan lebih dulu mendaratkan pukulan "Harimau Dewa" di kening Elang Setan. Orang ini meraung keras. Tubuhnya terlontar sejauh tiga tombak. Kepalanya hancur mengerikan. Lalu terjadilah satu hal mengerikan. Seolah hancumya benda yang terbuat dari beling , begitu kepalanya hancur , kehancuran ini merambat ke sekujur tubuhnya hingga ke kakil Murid Sinto Gendeng hingga merinding sendiri melihat hebat dan ganasnya pukulan "Harimau Dewa" yang dimilikinya itu. Mayat Elang Setan yang hancur itulah yang kemudian dilemparkan Wiro dari atas bukt hingga mengge-gerkan Pangeran Matahari dan pengikut-pengikutnya serta menciptakan murka besar Tiga Bayangan Setan , saudara angkat darah Elang Setan!
************
ENAM
MATAHARI bersinar terik , menyilaukan mata Pangeran Matahari. Dia terpaksa melindungi ke dua matanya dengan telapak tangan kiri. Dengan begitu gres beliau bisa melihat ke puncak bukit lebih jelas. Saat itulah dari atas buki karang terdengar seseorang berteriak."Pangeran Matahari! Apa kau mencari kaki tanganmu yang satu ini?!"Orang yang tegak di puncak Bukit itu berseru. Di tangan kirinya beliau memegang sebatang kayu yang ditancapi kepala manusia. Itu ialah kepala Makhluk Pembawa Bala
"Pendekar 212 jahanam!" rutuk Pangeran Matahari. Di atas bukit Wiro Sableng gerakkan tangan klrlnya. Kepala Makhluk Pembawa Bala dilemparkannya ke bawah. Kepala itu menggelundung beberapa dikala sebelum akhimya terbanting dua langkah di hadapan Pangeran Matahari! Hancur mengerikan!
"Tiga Bayangan Setanl Aku tugaskan padamu Untuk membunuh Pendekar 212!" Pangeran Matahari Berikan perintah pada Tiga Bayangan Setan. Lalu beliau Memberi isyarat pada gurunya sambil mencabut Kapak Maut Naga Geni 212 dari pinggangnya. Di Tangan kanan beliau memegang sebuah benda hitam Yang temyata ialah watu sakti pasangan Kapak naga Geni 212.
Pada waktu Tiga Bayangan Setan bergerak menuju puncak bukit pada dikala itu pula Pendekar 212 Wiro Sableng melesat ke udara. Tubuhnya laksana Bola melenting beberapa kali hingga akhimya beliau hingga di kaki bukit sebelah timur , bergabung dengan para tokoh silat golongan putih.
"Jahanam! Kau kira kau bisa lari ke mana?!" kertak Tiga Bayangan Setan yang kecele hingga di puncak bukit sebelah barat. Dia segera memutar tubuh dan melompat mengejar. Sementara itu di cuilan lain dari kaki bukit sebelah barat telah berlangsung satu kegegeran.
Dewi Payung Tujuh yang semenjak tadi mengintai kesempatan tiba-tiba menyergap ke arah Bidadari Angin Timur sambil membentak.
"Gadis liar Kau telah memfitnah diriku sebagai pembunuh Raja Obatl Aku akan mengampuni selembar nyawamu kalau kau mau menyerahkan kepadaku Kitab Putih Wasiat Dewa yang kau curi dari Pendekar 212 dikala ini juga!"
Kejut Bidadari Angin Timur bukan alang kepalang. "Jahanam! Makara kau ular dalam selimut rupanya Semula menyampaikan ingin membantu Pangeran Matahari. Temyata kau sengaja mencari mampusl Berani menciptakan perkara di sarang macan!"
Bidadari Angin Timur pribadi menerpa ke arah Dewi Payung Tujuh alias Puti Andini. Dua tangannya dipukulkan ke depan. Dua larik sinar biru menderu. lnilah pukulan sakti yang disebut "Pedang Kilat Biru” Puti Andini tidak tinggal diam. Tangannya kiri kanan digerakkan. Enam payung melesat dan berkembang berputardengan bunyi deras membentengi tubuhnya. Payung ke enam yang berwama hitam berputar laksana titiran dalam genggamannya. Ujungnya yang runcing ditusukkan ke perut BidadariAngin Timur.
"braakkkk. .. reetttt!"
Satu payung patah di cuilan gagangnya , satu Lagi robek besar. Dewi Payung Tujuh berteriak keras. Tubuhnya lenyap dibalik gulungan sinar hitam berputar payung yang dipegangnya. Empat buah Payung lagi tiba-tiba melesat menggempur kedepan.
"DelapanTokoh Kembar! Janqan Diam saja! Lekas bantu aku! Apa kalian tidak melihat rejeki besar didepan mata?!’
Delapan lelaki berjubah merah bermuka sama dan berkepala botak wama kuning yang semenjak tadi hanya tegak -tegak saja melihat apa yang terjadi seperti gres sadar. Delapan pasang mata menatap kearah Puti Andini seolah menelanjangi gadis dari tanah seberang ini. Tiba-tiba mereka keluarkan bunyi gila dari lisan masing-masing. Mereka mendongak ke langit sambil usap-usap kepala masing-masing. Lalu ketika serentak mereka meniup ke atas , langit laksana dilanda topan prahara. Kaki bukit bergetar dan pasir beterbangan.
Puti Andini sesaat jadi tertegun. Walau tadi beliau Berhasil mendesak Bidadari Angin Timur namun Akan membutuhkan waktu usang baginya untuk sanggup mengalahkan gadis yang mempunyai gerakan cepat Serta pukulan sakti mematikan itu. Kini lawan dibantu Pula oleh delapan insan gila berjubah merah , Berkepala botak dan mempunyai muka sama semua! Ketika empat dari Delapan Tokoh Kembar mulai Menyerbu puti Andini pribadi menyambut dengan Serangan empat payung. Namun ketika empat Tokoh kembar lainnya mulai merangsak ke depan gadis ini serta merta terdesak hebat. Senjata Delapan Tokoh Kembar berupa tiupan-tiupan gila menghantam terus menerus seolah tornado melanda. Walau Puti Andini sempat merobekdada pakaianTokoh Kembar nomor 3 dan melukai pinggul Tokoh Kembar nomor 7 namun beliau harus mengorbankan empat payungnya yang hancur dilanda angin dahsyat tiupan lawan!
Akhimya dalam keadaan tak berdaya Puti Andini terpojok di celah antara dua watu karang. Tokoh Kembar nomor 4 tertawa mengekeh. Sambil usap-usap kepala botaknya beliau menyergap Puti Andini , pribadi merangkul gadis ini. Dua kawannya segera memegangi tangan si gadis ketika Puti Andini berusaha melepaskan diri. Lalu due orang lagi memegangi kakinya. Puti Andini kemudian digotong ke balik dinding karang di kaki bukit sebelah barat.
"lngat! Aku yang tua! Makara saya yang menerima giliran pertama!" terdengar si botak nomor 1 berkata setengah berteriak. Tujuh saudaranya walaupun mengomel tapi agaknya tak bisa berbuat apa-apa.
"Manusia-manusia keji terkutuk! Lepaskan diriku!" Terdengar jeritan Puti Andini dari balik watu karang. Lalu terdengar bunyi mirip pakaian dirobek.
Di kaki bukit sebelah timur salah seorang berselu-bung kain putih berkata pada mitra di sebelahnya. "Saatku untuk bergerak. Kau tunggu di sini. Awasi Dewa Tuak. Kalau beliau pergi lekas beri tahu aku! Jangan coba merayunya!"
Sang sobat tertawa di balik selubung kain yang menutupi wajahnya. "Hik … hik! Siapa suka pemabuk sialan itu? Lekas bertindak sebelum gadis malang itu kehllangan kehormatannya!" Ketika temannya pergi orang ini cepat bergerak mendekati Dewa Tuak kemudian membisikkan sesuatu.
Dewa Tuak yang tengah asyik berpesta tukar- Tukaran tuak dengan lblis Pemabuk terkejut besar.
"Kau siapa?!" tanya Dewa Tuak dengan pandang menyelidik. Kalau saja matanya bisa menembus pakaian gila orang di hadapannya itu beliau tidak akan begitu bingungnya.
”Siapa saya tak usah kau perdulikan … !"
"baik! Katakan di mana beliau sekarang?”
Orang berselubung menunjuk ke pedataran pasir ”dia yang di sebelah depan. Lekas kau ikuti dia. Aku punya firasat beliau butuh pertolonganmu!"
Tanpa banyak bicara lagi Dewa Tuak serahkan tabung bambunya pada lblis Pemabuk kemudian beliau meng- hambur kearah pedataran pasir. sebelum berkelebat pergi orang yang berselubung menghampiri Ratu Duyung. "lzinkan saya meminjam dua anak buahmu!" Walau tidak tahu apa sebenamya yang hendak dilakukan orang itu Ratu duyung anggukkan kepala. Sesaat kemudian kelihatan tiga orang berlari melintasi pedataran pasir menuju kebukit sebelah barat. Di depan sekali ialah orang berselubung tadi. Di belakangnya menyusul dua anak buah Ratu Duyung yang mengenakan pakaian ketat.
Tak usang sesudah temannya berlalu orang berselu-bung yang satunya belakang layar merasa khawatir. Delapan tokoh Kembar tidak bisa dianggap remeh. ’selain mereka berjumlah banyak , masing-masing mempunyai tingkat kepandaian yang sangat tinggi. Senjata utama mereka ialah tiupan gila yang bisa membobol dinding karang , sanggup meng-hancurkan batu. Maka orang ini lantas mendekati Tua Gila. Dengan cepat beliau menerangkan apa yang hendak dilakukan temannya dibantu oleh dua anak buah Ratu Duyung serta Dewa Tuak.
"Kalau temanmu itu sudah dibantu oleh tiga orang yang kau sebutkan , perlu apa dikhawatirkan?" ujar Tua Gila sambil tertawa mengekeh tapi sepasang matanya jelalatan seolah mau menyelidik siapa adanyanya di balik pakaian selubung kain putih itu.
"Puluhan tahun malang melintang dalam dunia persilatan rupanya otakmu masih belum waras-waras juga!" Orang berselubung kain putih keluarkan bunyi keras. "Kau tahu Delapan Tokoh Kembar bukan lawan yang bisa dibentuk main!"
"Heh … ! Kalau kau tahu mereka tidak bisa dibentuk main mengapa kau sendiri tidak membantu?!" tukas Tua Gila yang jadi naik darah alasannya ialah didamprat kurang waras.
"Kalau kau tidak suka turun tangan dan tiba ke sini hanya untuk berleha-leha , atau mungkin kau merasa jeri terhadap Delapan Tokoh Kembar , tidak jadi spa. Tapi saya nasihatkan padamu lebih baik kau pulang saja ke Pulau Andalas , basuh kaki. Jangan lupa cebok kemudian tidur! Hik … hik … hik!"
Habis berkata dan mentertawai Tua Gila , orang berselubung kain putih kembali ke tempatnya semula. Panas hati Tua Gila bukan main. "Manusia keparat! Siapa beliau adanya! Mengapa menyembunyikan muka dan tubuh di balik kain putih! Suaranya pun disertai tenaga dalam hingga sulit dikenali!"
Sambil menggulung ke dua lengan pakaian Putihnya Tua Gila melangkah ke hadapan orang berselubung.
"enak saja kau menuduh saya jeri. Ucapanmu Kelewat menghina! Kau akan saksikan bagaimana saya menangani Delapan Tokoh Kembar itu! Tapi ingat! Selesai urusan itu saya akan menelanjangimu hingga tertangkap berair siapa kau adanya! Jangan-jangan kau seorang musuh dalam selimut!"
Sepasang mata yang terlihat dari dua buah lobang Di kepala selubung kain tampak memancarkan sinar Aneh Sesaat Tua Gila jadi tercekat. Lalu cepat-cepat Orang renta ini menyeberangi pedataran pasir , menyusul Rombongan yang telah dahulu ke sana.
TUJUH
SAMBlL berlari orang yang di sebelah depan embuka kain putih panjang yang selama ini menutupi kepala dan tubuhnya. Begitu kain terbuka kelihatanlah wajah dan bentuk tubuhnya yang asli. Astaga! Temyata beliau ialah lblis Putih Ratu Pesolekl Sambil terus berlari si nenek renta ini merapal mantera tertentu hingga sesaat kemudian dirinya bermetamorfosis seorang gadis csntik jelita , menciptakan dua orang anak buah Ratu Duyung terkesiap heran"Jangan terpukau Kalian nanti bisa celaka lkutl apa yang saya lakukan Jangan berani membantah" Dua gadis anak buah Ratu Duyung mengiyakan. Ke tiga orang itu hingga di kaki bukit sebelah barat sempurna pada dikala Delapan Tokoh Kembar hendak melaksanakan kekejian atas diri Puti Andini yang dikala itu nyaris mereka telanjangi. lblis Pulih Ratu Pesolek yang sudah berganti rupa menjadi seorang gadis manis berseru lantang.
"Lelaki-lelaki jantan Delapan Tokoh Kembar! Apa sedapnya kalian menggagahi cowok waria berbaju merah itu. Lebih baik bersenang-senang dengan kami!"
Habis berkata begitu lblis Putih Ratu Pesolek kemudian singkapkan dada pakaiannya hingga sepasang payudaranya terlihat terang oleh Delapan Tokoh Kembar. Mendengar teriakan lblis Putih Ratu Pesolek itu tentu saja DelapanTokoh Kembar yang sedang sibuk hendak melaksanakan kekejian terhadap Puti Andini menjadi terkejut. Mereka putar kepala memandang kearah lblis Putih Ratu Pesolek dan sama-sama temganga terkesiap melihat apa yang dipertunjukkan Mereka tampaknya tidak percaya kalau Puti Andini ialah cowok banci. Namun memang kalau mereka bandingkan dada Puti Andini yang agak rata biasa -biasa saia denqan dada lblis Putih Ratu Pesolek yang begitu menggairahkan maka ucapannya tadi tergoda juqa oleh delapan lelaki berkepala kuning botak ini.
Selagi Delapan Tokoh Kembar seperti terhipnotis lblis Putih Ratu Pesolek memberi isyarat pada dua orang anak buah Ratu Duyung. "Lekaslah singkap dan perlihatkan isi dada kalian yang bagus itu?”
Dua gadls manis anak buah Ratu Duyung tentu saja terkejut besar alasannya ialah tidak menyangka akan disuruh berbuat begitu.
‘Kami …" keduanya menjadi gagap dan bersemu jengah \wajah masing-masing.
"jangan pikir segala apa! Jangan tolol! kita Semua tengah menghadapi ancaman besar Lekas Lakukan apa yang saya bilang barusan!" sentak lblis Putih Ratu Pesolek. dua gadis sesaat masih bingung. Dia memandang pada lblis Putih Ratu Pesolek , pada Delapan tokoh Kembar yang kini tampak menyeringai kemudian pada Puti Andini yang dikala itu masih terbaring di tanah dalam keadaan pakaian tidak karuan.
"Lekas!Kalian tunggu apa lagi!" lblis Putih Ratu Pesolek jadi jengkel. Dua gadis anak buah Ralu Duyung akhimya melaksanakan juga apa yang dikatakan si nenek yang menyamar jadi gadis manis itu.
Delapan Tokoh Kembar yana memang punya sifat suka bersenang-senang membelalak beiar ketika kini melihal tiga pasang payudara putih dan besar-besar segar membusung menantang keluar.
Tenqqorokan mereka turun naik sedang cuping hidung mengembang mengeluarkan bunyi nafas memburu. Tujuh orang yang kepaianya berangka 2 hingga 8 memandang pada saudara renta .mereka nomor 1. Yang nomor satu in1 kedap kedipkan matanya , Lidah dijulurkan pulang balik. Namun tampak ada bayangan rasa rasa bimbang. Melibat gelagat yang tidak baik ini lblis Putih Ratu Pesolek segera keluarkan ucapan.
"Kami bertiga masih perawanl Apa kalian semua mau berlaku udik menggauli cowok waria itu? Mendapatkan wanita palsu padahal yang orisinil siap melayani kalian?”
Tokoh kembar nomor 1 maju selangkah. Enam saudaranya mengikuti. Namun tiba-tiba yang nomor 4 mendekati dan berbisik.
"Kakak , kau dan saudara-saudara yang lain silahkan mengambil tiga gadis itu , saya biar tetap dengan cowok waria itu saja …."
Si nomor satu pelototkan mata tapi kemudian menyeringai sementara saudara-saudaranya yang lain terlawa bergelak. "Saudara kita si nomor 4 ini semenjak dulu memang punya kelainan! Ha … ha … ha Didahului oleh si nomor 1 , diikuti oleh yang lain-lain kecuali si nomor 4 , tujuh bayangan merah berkelebat. Kalau tadi masih bisa diatur siapa yang fuluan kini keadaan jadi kacau alasannya ialah semua bersirebut cepat untuk sanggup menyentuh tiga gadis manis di depan mereka.
Hanya beberapa langkah lagi tujuh orang tokoh Kembar akan hingga ke tempat tiga gadis Cantik tiba-tiba gadis paling depan yakni lblis Putih Ratu Pesolek hantamkan langan kanannya. Selarik Angin keras menyambar ke kepala Tokoh Kembar Nomor 3. Dua anak buah Ralu Duyung tidak tinggal diam. Entah kapan mereka mengambii tahu-tahu masing-masing sudah memegang senjata yang sangat diandalkan yakni sebatang longkat besi yang ujungnya meman-carkan cahaya biru angker. Ketika senjata2 itu dipu-kulkan ke depan , dua iarik sinar biru menggebu!
”kita tertipu” teriak Tokoh Kembar nomor 1 kemudian cepat mendorong adiknya yang nomor 3. Sang adik Selamat dari serangan iblis putih ratu pesolek , tetapi adiknya yang lain yakni yang nomor 6 agak terlambat Menyingkir.
”wusssss"
Angin keras mengandung tenaga dalam tinggi Menghantam dada si nomor 6. Membuatnya terjungkal dan jatuh terjengkang. Pakaian merahnya di Bagi-an dada nampak berlobang hangus. Kulit tubuhnya kelihatan merah mirip terpanggang. Kedua matanya mendelik dan dari sela bibimya mengucur keluar darah segar Jelas beliau terluka parah disebelah dalam tetapi hebatnya dalam keadaan mirip itu beliau masih sanggup melompat bangkit.
Disebelah kiri tiga lelaki botak yang menghadapi pribadi serangan dua sinar biru cepat jatuhkan diri kemudian melompat ke depan susupkan masing-masing satu pukulan maut ke arah dua orang anak buah Ratu Duyung. Dua gadis yang diserang segera menghantam dengan tongkat besi masing-masing. Dua sinar biru berkiblat. Tiga lelaki botak yang berada dl barisan paling depan cepat melompat mundur. Mereka sudah mendengar kecantikan gadis-gadis dari taut selatan ini. Tetapi mereka juga pernah mendengar kalau para gadis itu tidak bisa dibentuk main.
llmunya tidak rendah dan mempunyai senjata yang memancarkan sinar biru yang bisa menjebol watu bahkan dinding besil Bisa dibayangkan bagaimana kalau sinar itu hingga menghantam diri mereka bersaudara.
"Bentuk Barisan Menggusur Bumi!" Tokoh Kembar nomor 1 berteriak keras. Tujuh lelaki botak berjubah merah segera membentuk barisan memanjang dari sisi kiri ke sisi kanan. Tangan kanan diangkat tinggi-tinggi ke atas dengan telapak terkembang Telapak tangan kiri diletakkan di atas kepala mereka yang botak dan dicat kuning.
"Menggusur Bumi. Hantam!"
Tujuh lisan meniup serentak ke arah lblis Putih Ratu Pesolek dan dua orang anak buah murid Ratu Duyung. Mula-mula terdengar bunyi menggemuruh laksana ombak bergulung disertai tornado menghantam. Dua gadis berpekikan. Tongkat besi mereka terlepas mental entah ke mana. lblis Putih Ratu Pesolek sendiri keluarkan seruan tegangl Sangyul hitam besar di atas kepalanya terlepas mental dan kini nampak rambutnya riap-riapan acak-acakan.
"Jahanam! Kalian merusak dandananku!" teriak Iblis Putih Ratu Pesolek namun dikala itu bersama dua Gadis lainnya tubuhnya telah mencelat mental akhir Tiupan angin dahsyat yang keluar dari tujuh lisan Manusia botak berjubah merah! bagaimanapun mereka kerahkan tenaga luar dan dalam untuk bertahan namun tetap saja ketiga-tiganya terseret mental sejauh dua tombak dan terkapar dipasir begitu punggung masing-masing melabrak dinding karang!
Untuk beberapa dikala lamanya ke tiga gadis itu Terhenyak nanar di atas pasir. Dari sela lisan dan Liang pendengaran dua anak buah Ratu Duyung kelihatan Ada darah mengalir. lblis Putih Ratu Pesolek sendiri Merasakan dadanya mendenyut sakit , mata perih Sekali dan pendengaran berdenging sakitl Akibat tiupan Angin dahsyat tadi pakaian yang menempel di tubuh Mereka jadi tidak karuan , robek di sana-sini.
Tokoh Kembar nomor 1 tertawa mengekeh. "ha … ha … ha …. Ayo bangun dan ikut kami ke Bali dinding karang sana!" Si botak nomor 1 melangkah mendekati lblis Putih ratu Pesolek. Ketika beliau hendak menjamah Dada wanita yang dilihatnya sebagai seorang Perempuan manis jelita ini , tiba-tiba lblis Putih Ratu PePesolek lepaskan satu satu pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi. Sinar hitam menderu Ganas!
"wuuuttt!"
”jahannam! Awas serangan!" teriak si botak noMor seraya menyingkir. Dia selamat tapi saudaranya si botak nomor 5 yang ada di belakangnya terlambat mengelak. Dengan telak sinar hitam pukulan sakti yang dilepaskan lblis Putih Ratu Pesolek menghantam mukanya. Si botak nomor 5 terpental hingga tiga tombak. Ketika tubuhnya terkapar di pasir semua saudaranya jadi berteriak kaget. Tubuh itu tidak punya kepala lagi. Sudah hancur dihantam pukulan sakti lblis Putih Ratu Pesolek dan hancurannya bertebaran mengerikan ke mana-mana.
Kemarahan pun meledak!
"Bentuk Barisan Menerjang Laut Menjaring Bumi!" teriak Tokoh Kembar paling tua.
Tujuh lelaki botak berjubah merah berkelebat memutari tiga gadis.
"Menerjang Laut Menjaring Bumi. Hantam!" Enam lisan meniup. Tiga gadis menjerit kaget ketika dapatkan mereka seolah terjebak dalam satu jaring yang tidak berwujud. Mereka menggapai-gapai kian kemari berusaha untuk keluar dari jaring yang tidak terlihat itu. Namun beberapa bayangan merah mendahului berkelebat. Tahu-tahu ketiga gadis itu mencicipi diri masing-masing tegang kaku tak bisa bersuara , tak bisa bergerak iagil Ketiganya telah ditotok! Tokoh Kembar nomor 2 , 3 , 6 dan 7 serta merta melompat. Siap untuk menghabisi ke tiga gadis itu dengan tendangan dan hantaman tangan ke arah batok kepala
"Jangan bunuhl Aku ingin mengerjai mereka habis-habisan! Gotong mereka ke balik gundukan watu karang besar sana!" Yang berteriak ialah Tokoh Kembar nomor 1 yang murka besar atas kematian adiknya nomor 5. Tiga gadis itu kemudian di bawa ke balik gundukan Batu karang. Tokoh Kembar nomor 1 mengikuti Sambil membuka ikat pinggang jubah merahnya.
********************
DELAPAN
TOKOH kembar nomor 4 memanggul tubuh Puti Andini ke balik satu gundukan watu karang besar kemudian membaringkannya di tanah. Gadis ini walaupun bisa bersuara tapi tak bisa bergerak alasannya ialah sebelumnya sudah ditotok."Jahanam! Berani kau berbuat kurang asuh saya bersumpah menanggalkan kepala mengorek jantungmu!"
Si jubah merah ganda menyeringal dan usap-usap kepala botaknya yang benyama kuning. "Sebelum kau menanggalkan kepalaku saya akan lebih dulu menanggalkan pakaianmul Ha… ha … ha”
”Sebelum kau mengorek jantungku saya akan lebih dulu … ha … ha … ha …."
"Breett …. breettt!"
Si botak merobek pakaian merah Puti Andini yang sebelumnya sudah tidak karuan rupa alasannya ialah sudah robek di sana-sini. Sumpah maki si gadis sama sekali tidak diacuhkan si botak. Dengan nafas memburu beliau menanggalkan jubah merahnya.
"Kakak-kakakku tolol semua! Termakan tipuan orang! Aku tahu kau bukan cowok banci! Kau seorang gadis sungguhan dan pasti masih perawan asli! Ha … ha … ha!"
Ketika Tokoh Kembar nomor 4 ini hampir hendak melaksanakan perbuatan bejatnya itu tiba-tiba ada satu benda halus menjirat pergelangan kaki kirinya. Sebelum beliau sempat mengusut tiba-tiba kaki itu terbetot ke belakang. Tak ampun lagi si botak terbanting keras ke tanah. Mukanya berkelukuran. Tulang hidungnya patah. Dari hidung dan bibirnya yang pecah berkucuran darah.
Satu tangan menyambar jubah merah milik lelaki Itu kemudian melemparkannya ke atas tubuh Puti Andini. Sambil menggembor murka Tokoh Kembar nomor 4 menoleh ke belakang. Dia melihat seorang Kakek berpakaian putih , mempunyai rambut den janggut serta kumis putih tegak beberapa langkah di belakannya sambil memegang sehelai benang putih yang sangat halus. Benang inilah yang telah mengikat pergelangan kaki kirinya. Dia berusaha melepaskan ikatan benang. Namun benang halus itu bukan benang sembarangan. Dalam dunia persilatan dikenal dengan nama Benang Kayangan dan sebegitu jauh hanya dua atau tiga orang tokoh sakti saja yang bisa memutusnya.
"Jahanam!" sumpah si botak nomor 4. Sekali lagi Dia mencoba bangun tetapi untuk kedua kalinya Orang renta yang memegang benang menyentak hingga si botak yang hanya mengenakan kolor ini amblas terjengkang. Tua Gila , orang renta yang memegang benang Tertawa mengekeh.
"Sungguh memalukan! Dalam dunia persilatan Masih saja ada tokoh-tokoh keji dan kotor sepertimu Dan saudara-saudaramu , Kalau tidak segera disingkirkan pasti bisa menjadikan malapetaka besar di kemudian hari! Apakah kau sudah siap mendapatkan kematian botak kuning nomor 4?!"
"Tua bangka keparat! Kau yang akan mampus duluan.!”
"Ha … ha … ha! Sayang sebelum berjalan ke neraka kau tidak punya kesemptan mengucapkan selamat tinggal pada saudara-saudaramu!"
Tokoh Kembar nomor 4 meniup ke arah Tua Gila. Satu gelombang angin menderu keras. Walaupun tiupan ini merupakan serangan maut yang tidak bisa dibentuk main namun dibanding kalau Delapan Tokoh Kembar meniup secara serentak maka ke hebat-annya tentu saja jauh berkurang.
Sambil membungkuk menghindarkan serangan tiupan angin maut itu Tua Gila sentakkan kuat-kuat benang yang dipegangnya. Tubuh si botak nomor 4 melayang ke udara. Mula-mula mirip layangan tubuh Ru dikedat-kedutnya beberapa kali hingga si botak nomor 4 merasa lutut dan pangkal pahanya mirip hendak tanggal. Dia menjerit kesakitan. Tua Gila tertawa geiak-gelak mirip bawah umur yang bermain kegirangan. Lalu tangannya menyentak lagi.
"Wuutttttttttt!"
Sosok si botak nomor 4 berputar di udara laksana titiran. Tua Gila ulur benang kayangannya. Tubuh si botak mencuat sesaat kemudian kembali berputar. Kali ini alasannya ialah benang telah diulur maka lingkaran putaran tubuhnya jadi melebar. Akibatnya ketika tubuh itu berdesing ke arah sebatang poho besar dasi botak tak sanggup menyelamatkan diri maka "praaak!"
Tak ampun lagi kepala botak itu hancur mengerikan. Wamanya yang kuning kini bermetamorfosis merah!
Tua Gila sentakkan tangan kanannya. Jiratan benang kayangan di pergelangan kaki kiri si botak nomor 4 yang kini sudah jadi mayat terlepas. Dengan cepat Tua Gila gulung dan simpan kembali benang sakti Itu ke balik pakaian putihnya. Lalu beliau melangkah mendekati Puti Andini yang masih tergeletak dalam keadaan tertotok. Sekali mengusut saja beliau sudah mengetahui di cuilan mana si gadis tertotok. Setelah melepaskan totokan itu Tua Gila berkata :.
"Cucuku , lekas kenakan pakaian ini!" Dari balik punggung pakaiannya Tua Gila mengeluarkan sehelai baju dan celana panjang putih.
"Kalau sudah , saya sarankan biar kau segera kembali ke Pulau Andalas. llmumu cukup tinggi. Tapi untuk berani Menantang tornado di tanah Jawa ini belum saatnya. Katakan pada gurumu Sabai Nan Rancak bahwa Kitab Putih Wasiat Dewa yang dicarinya tidak berJodoh dengan dirinya ataupun dirimul Masing-masing insan sudah ditakdirkan oleh Yang Kuasa untuk mempunyai dan mencapai segala apa adanya hingga di tingkat yang sudah ditentukannya. Soal dendam kesumatnya di masa kemudian terhadap diriku biar nanti saya yang akan menyelesaikan. Kau anak baik. Aku percaya kau bisa lebih baik lagi menghadapi tantangan hidup ini!"
Habis berkata begitu Tua Gila berkelebat pergi dari tempat itu. Untuk beberapa lamanya Puti Andini alias Dewi Payung Tujuh masih terbaring terdiam. sebelumnya beliau murka besar kalau dipanggil cucu oleh orang renta itu. Namun sesudah dirinya diselamatkan belakang layar beliau merasa ada keperihan yang mendalam di lubuk hatinya. Dari arah pedataran pasir terdengar bentakan-bentakan orang yang berkelahi.
Puti Andini sadar di mana beliau berada dikala itu. Segera beliau bangun dan mengenakan pakaian yang diberikan Tua Gila dengan cepat.
********************
Kembali pada apa yang terjadi atas diri lblis Putih Ratu Pesolek dan dua anak buah Ratu Duyung. Di balik gundukan watu karang di ujung bukit sebelah selatan enam orang berjubah merah turunkan tubuh tiga gadis manis yang mereka gotong ke tanah.Tokoh Kembar nomor 1 berpaling pada lima saudaranya. "Kalian harap bersabar dan tetap tinggal di tempat Aku akan memberi pelajaran dan hajaran pada tiga gadis keparat ini. Tidak ada satu insan pun boleh menipu Delapan Tokoh Kembar!"
Habis berkata begitu si botak nomor 1 ini sibakkan jubah merahnya kemudian melangkah mendekati lblis Putih Ratu Pesolek. "Biang racun penipu! Pembunuh adikku nomor lima Kau pantas menerima cuilan lebih dulu!" .
lalu dilepaskannya totokan pada urat gagu yang menutup jalan bunyi lblis Putih Ratu Pesolek. "Aku ingin dengar bagaimana bunyi teriakanmu!" "Kau hendak melaksanakan apa?!" tanya si nenek yang dikala itu bemujud sebagai gadis cantik. "Mau memperkosaku? Hik … hik! Aku memang sudah usang Apa kau sudah tahu caranya? Hik … hik … hik!"
”Bangsat pengecutl Berani pada lawan yang Tertotok! Kalau kau tidak segera membunuhku kau akan Menyesal seumur hidup!" kata lblis Putih Ratu Pesolek beitu dilihatnya Tokoh Kembar nomor 1 kembali melangkah mendekatinya.
Semula disangkanya si botak No 1 hendak mengha-arnya kembali. Temyata beliau tidak menghantamkan tendangan atau pukulan. Melainkan siap untuk melaksanakan kemesuman terhadap iblis putih Ratu Pesolek yang dikala itu bukan saja berada dalam keadaan kaku tegang akhir totokan tetapi juga telah terluka parah di sebelah dalam.
Baru saja Tokoh Kembar nomor 1 membungkuk Hendak menggagahi lblis Putih Ratu Pesolek tiba-tiba ada orang berseru. Memperkosa tanpa mabuk lebih dulu apa enaknya! Ha..ha..ha!”
Lalu ”byuurr!”
”Awas serangan Tuak Kayangan!" teriak si botak nomor 1 memberi tahu adik-adiknya.
Saat itu dari arah depan laksana hujan tornado menyembur cairan putih ke arah enam Tokoh Kembar.
Semua mereka segera mencari perlindungan. Si botak nomor 2 dan nomor 7 bertindak agak terlambat.
Walau sempat menyelamatkan diri namun jubah mereka masih terkena sambaran semburan tuak hingga berlubang-lubang. Bagian tubuh mereka yang kena cipratan minuman keras itu laksana ditusuk-tusuk dengan jarum dan menggembung bengkak!
"Keparat jahanam!" maki Tokoh Kembar nomor 1. Dia dan kawan-kawannya siap bergabung untuk melancarkan serangan balasan. Namun dikala itu datangnya serangan berupa semburan tuak seperti tidak berhenti. Selain itu mereka juga tidak sanggup melihat terang di mana beradanya Dewa Tuak , musuh yang tengah menggempur mereka dikala itu. Selagi mereka saling memberi isyarat tiba-tiba terdengar pekik si botak nomor 1. Tubuhnya mendadak roboh ke pasir , kelojotan kian kemari. Sebentar kedua kakinya melejang-lejang , di lain dikala dua tangannya berulang kali diturunkan ke bawah perut tapi diangkat lagi , begitu terus-terusan.
Di seberang sana Dewa Tuak tertawa mengekeh sambil kedutkan benang sutera yang dipegangnya. Lima saudara Tokoh Kembar nomor 1 terbelalak dan berteriak murka ketika melihat apa yang terjadi. Ternyata dengan benang saktinya Dewa Tuak telah mengikat kuat-kuat anggota rahasia milik abang tertua mereka. Dapat dibayangkan sakit yang diderita lelaki botak nomor 1 itu. Setiap beliau coba hendak merenggut dan memutus benang , Dewa Tuak tarik benangnya hingga Tokoh Kembar nomor 1 menjerit setinggi langit dan kelojotan kesakitan.
"Keparat!" teriak si botak nomor 2. Bersama adiknya nomor 3 dan nomor 6 beliau melompat dan menghantam untuk memutus benang sutra.
"DESSS! Desss!"
Benang sutera membal laksana karet! Temyata Tidak sangup diputuskan. Sebaliknya akhir tekanan Dua pukulan saudaranya tadi , benang sutera yang Mengikat anggota rahasianya menjadi semakin mengcengkram. lolongan Tokoh Kembar nomor 1 keras mengidikkan. Darah mulai mengucur dari cuilan tubuh di sebelah bawah perutnya.
"bunuh jahannam renta berpakaian biru itu!" teriak Si kembar botak nomor 2.
"bentuk Barisan Menjungkir Langit!" teriak saudaranya yang nomor 6.
‘Barisan Menjungkir Langit. Hantam!"
Maka secepat kilat lima Tokoh Kembar yang ada Di tempat itu segera membentuk barisan gila , berjejer berselang-seling. Tangan kanan diangkat tinggi-tinggi ke atas. Telapak tangan kiri diletakkan di atas Kepala botak berwama kuning. Mereka mengerahkan Seluruh tenaga dalam. Lalu meniup ke ’satu arah yakni sosok tubuh yang kuasa Tuak!
Deru angin yang lebih menyerupai air bah dilanda tornado menghantam ke arah Dewa Tuak. Kekehan orang renta ini mendadak sontak menjadi lenyap. Sebelum tubuhnya disapu beliau segera kerahkan tenaga dalam pada kedua kakinya hingga sepasang kaki orang renta ini laksana dua tiang raksasa menancap ke pasir amblas sedalam mata kaki beberapa dikala berlalu. Dewa tuak kelihatannya sanggup bertahan.
Tapi sesaat kemudian terjadilah hal yang mengejutkan. Tubuh orang renta ini tampak bergetar. Keningnya mengernyit. Lalu terdengar jeritan lblis Putih Ralu Pesolek. Kalau saja beliau tidak daiam keadaan tertotok walau dikala itu menderita luka dalam yang parah pasti beliau telah melompat untuk memeluk tubuh Dewa Tuak.
Pakaian biru yang dikenakan Dewa Tuak mengeluar-kan bunyi berderik kemudian pecah-pecah di beberapa bagian. Dari seluruh pori-pori yang ada di tubuh dan di mukanya kelihatan keluar keringat bewama merah tanda bercampur darah Darah juga membersit dari pinggiran mata , lisan , lobang hidung serta telinganya! lblis Putih Ratu Pesolek kembali menjerit. Dua anak buah Ratu Duyung yang juga berada dalam keadaan tertotok sama saja , tak bisa berbuat apa-apa.
"Kraaakkk!"
"Byuuur!"
Tabung bambu yang tergantung di punggung Dewa Tuak pecah. Tuak harum yang ada didalamnya tumpah membasahi tubuh cuilan belakang orang renta itu. Sepasang kaki Dewa Tuak yang menancap di tanah perlahan-lahan terangkat ke atas. Dewa Tuak tahu sekali dirinya dalam bahaya. Kalau beliau tetap bertahan tubuhnya di sebeiah dalam akan hancur luluh. Tapi mengalah begitu saja orang renta yang keras hati ini berpantang sekali. Dia kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Tangan kanannya tidak mau melepaskan gulungan benang sutera yang dipegangnya. Si botak nomor 1 masih menjerit- jerit kesakitan sambil berusaha melepaskan auratnya sebelah bawah dari libatan benang namun sia-sia , darah makin banyak mengucur dari luka yang melebar akhir irisan benang sutera sakti.
"Tenaga Dalam Penuh!" Tokoh Kembar nomor 2 Berteriak. Bersama empat saudaranya beliau segera Menggembor tenaga daiam. Tubuh Dewa Tuak berqoyang keras. Kedua kakinya tercabut dari tanah. Sebelum tubuh orang renta ini terlempar ke udara Sekonyong-konyorg ada empat bayangan berkelebat. Tiga pribadi mendekati Dewa Tuak dari belakang.
"Daial-dajal kembar kepala kuning tahil Pengecut main keroyok!" Yang berteriak temyata ialah lblis Pemabuk..
"Dewa Tuakl Bertahanlahl Kami membantu!" Tiga pasang telapak tangan kemudian ditempelkan ke punggung Dewa Tuak. Tiga hawa sakti mengalir ke dalam tubuh orang renta itu. Sesaat tubuh Dewa Tuak bergoncang keras kemudian perlahan-lahan turun kembali keatas pasir , menancap di tanah lebih dalam dari semula.
Di depan sana lima Tokoh Kembar berteriak kaget ketika angin maut yang mereka semburkan dari lisan mendadak sontak berbalik menghantam ke arah mereka.
"WUUSS!!!"
"Selamatkan diri!" Tokoh Kembar nomor 2 berteriak.
Lima orang berkepala botak kuning itu kemudian lari berserabutan. Dua orang melaksanakan gerakan yang salah hingga mereka saling tabrakan. Saat itu juga angin sakti mereka berbalik tiba menyambar. Keduanya mencelat hingga tiga tombak , terkapar di atas pasir. Tewas dengan pakaian dan sekujur tubuh bergelimang darah. Daging tubuh mereka hancur laksana dicacah. Yang tiga orang lagi berhasil mencari selamat dengan menjatuhkan diri bertiarap ke pasir. Begitu angin maut lewat ketiganya cepat berdiri dan melarikan diri. Saat itulah tiga sinar putih berkiblat berturut-turut .
Dua orang lagi dari tiga Tokoh Kembar yang masih hidup menjerit keras kemudian roboh ke tanah dengan jubah dan tubuh hangus! Yang ke tiga yaitu Tokoh Kembar nomor 3 walau tangan kirinya hangus dihantam sinar putih menyilaukan tapi tadi masih sempat menyelamatkan diri ke balik dinding karang dan menghilang.
Ratu Duyung turunkan cermin saktinya. Kilatan cahaya yang keluar dari senjata mustika inilah tadi yang menamatkan riwayat dua Tokoh Kembar. Di belakang Dewa Tuak tiga pasang tangan yang tadi ditempelkan ke punggung orang renta itu perlahan-lahan diturunkan. Walau tidak menoleh namun Dewa Tuak sudah tahu siapa yang barusan menolongnya.
"lblis Pemabuk , Tua Gila , Ratu Duyung dan sobat berselubungl Aku mengucapkan terima kasih. Kalau kalian tidak membantu tentu dikala ini saya sudah jadi bangkai!"
lblis Pemabuk tenggak tuak dari dalam kendi kemudian berkata. "Aku tidak merasa membantu. Aku hanya tidak suka melihat orang main keroyok!" Orang berselubung batuk-batuk beberapa kali. Dengan gerakan cepat beliau memusnahkan totokan yang menguasai lblis Putih Ratu Pesolek dan dua gadis anak buah Ratu Duyung. Lalu dari balik kain putih yang menutupi sekujur tubuhnya beliau mengeluarkan dua butir obat. Sebutir diberikannya pada Dewa Tuak , sebutir lagi pada lblis Putih Ratu Pesolek.
"Lekas telan Luka dalam kalian bukan main-main!" Dewa Tuak dan lblis Putih Ratu Pesolek segera Telan obat yang diberikan. Setelah menelan obat yang kuasa Tuak cepat menemui lblis Putih Ratu Pesolek Dan membantunya berdiri. Sementara Ratu Duyung segera pula menolong dua anak buahnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Dewa Tuak pada lblis putih Ratu Pesolek. Tendangan keparat botak nomor satu itu keras Sekali Jahanam betu!" jawab lblis Putih Ratu Pesolek yang hingga dikala ini masih tetap berwujud sebagai seorang gadis. "Eh , jahanam yang kau kerjai barangnya itu kenapa berhenti berteriak?”’
Dewa Tuak dan lblis Putih Ratu Pesolek melangkah mendekati Tokoh Kembar nomor 1. Memandang ke bawah perut orang itu dinginlah tengkuk lblis Putih Ratu Pesolek. Anggota rahasia Tokoh Kembar nomor 1 temyata sudah hancur mirip dlsayat-sayat. Nyawanya tak tertolong lagi alasannya ialah terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Sayang bumbung tuakku dihancurkan oleh bedebah yang sudah jadi mayat itu…." Lalu beliau berpaling mencari-cari. Dari samping ada yang berkata.
"Kau pasti mencari-cari aku! Ini , ambil satu kendiku. lsinya masih penuh!"
Dewa Tuak menyeringai pada lblis Pemabuk yang ada di samping kirinya. Dengan cepat disambarnya kendi berisi tuak keras yang diberikan tokoh silat bertubuh pendek gemuk itu. Lalu dibimbingnya tangan lblis Putih Ratu Pesolek dan dibawanya ke batik sebuah watu karang besar. Si gadis tampak tersipu-sipu. Dewa Tuak berkata perlahan. "Perlu apa malu-malu.Aku sudah tahu siapa dirimu. Anak setan murid Sinto Gendeng itu yang memberi tahu."
"Ah. …" lblis Putih Ratu Pesolek keluarkan bunyi tertahan." Kau Bertahun-tahun saya menyirap kabar dirimu. Tidak tahu apa kau masih hidup atau sudah digondol malaikat maut ke akhirat!" Dewa Tuak tertawa mengekeh.
"Aku senang melihat wajahmu muda dan manis mirip ini. Tapi saya lebih suka melihat wajahmu yang asli!" lblis Putih Ratu Pesolek kembali tersipu-sipu dan merah jengah wajahnya yang jelita. Dia menciptakan gerakan menggeliat. Sesaat kemudian perwujudannya sebagai gadis manis jelita itu lenyap. Kini beliau kembali ke bentuk aslinya. Seorang nenek berdandan menor mencorong.
"Suro Lesmono!" kata si nenek menyebut nama orisinil Dewa Tuak. "Aku besar hati bisa bertemu lagi denganmu. Apakah kau baik-baik saja selama ini?" Dewa Tuak batuk-batuk dan mengangguk-angguk. "Aku juga suka sekali bertemu denganmu. Aku baik-baik , kuharap kau juga begitu. Bolehkan saya menciummu dikala ini?”
"Tua bangka edan! Kau kira kita berada di mana dikala ini?”
Dewa Tuak tertawa gelak-qelak. "Aku punya urusan yang belum selesai dengan Pangeran Matahari. Dia membunuh saudaraku!" menerangkan lblis Putih Ratu Pesolek. Lalu si nenek hendak berkelebat.
Dewa Tuak cepat pegang lengannya dan berkata. "Sebelum pergi kau tidak hendak mencoba tuak Iblis Pemabuk lebih dulu? Minuman ini bisa mempercepat kesembuhanmu …."
lblis Putih Ratu Pesolek terdiam. "Baik , saya akan minum beberapa teguk …" katanya kemudian ulurkan tangan hendak mengambil kendi yang dipegang Dewa tuak. Tapi si kakek malah menjauhkan kendi itu.
"Eh , mengapa kau jauhkan?"tanya si nenek heran.
"Aku ingin kau minum mirip dulu. Masih ingat…?"
Wajah lblis Putih Ratu Pesolek menjadi sangat merah. Dewa Tuak teguk tuaknya hingga mulutnya gembung. Lalu ditariknya lengan si nenek begitu rupa hingga wajah mereka saling bertemu satu sama lain. begitu bibir mereka saling bertemu , Dewa Tuak buka mulutnya , masukkan tuak kedalam lisan lblis Putih Ratu Pesolek yang sudah menunggu dengan mesranya.
lblis Putih Ratu Pesolek tepuk asisten Dewa Tuak ketika tangan itu mulai jahil menjalar ke tubuhnya. Dia cepat-cepat telan tuak dalam mulutnya kemudian mundur dua langkah.
"Eh , kau mau ke mana?’ tanya Dewa Tuak.
"Sudah kubilang saya ada urusan besar yang perlu diselesaikan dengan Pangeran Matahari!" jawab si nenek. Lalu cepat sekali beliau berkelebat tinggalkan tempat itu.
SEMBILAN
KEHADIRAN Pendekar212 di kaki bukit sebelah timur sesudah berhasil membunuh Elang Setan dan Makhluk Pembawa Bala menjadikan beberapa reaksi di kalangan para tokoh yang ada di tempat itu. Bujang Gila Tapak Sakti sambil berkipas-kipas melambaikan tangannya kemudian berteriak."Anak sableng! Apa kau masih ingat sama Kemala?!"
Murid Sinto Gendeng palingkan kepalanya ke arah si gendut itu. Olaknya mengingat-ingat , mulutnya tampak melongo.
"Kemala siapa? Aku tidak ingat!" jawab Wiro kemudian. Bujang Gila Tapak Sakti tetiawa bergelak. "Tidak ingat atau akal-akalan tidak Ingat Masakan kau lupa pada si Kemala alias Ratih Kiranasari itu …. Ha. .. ha … ha!"
Paras Pendekar 212 berubah. "Aku ingat sekarang! Ada apa dengan dirinya??
"Anak sableng! Harusnya saya yang bertanya ada apa dengan dirinya , bagaimana beliau sesudah saya tinggalkan kalian berdua-dua Eh , apakah jadi kau tiduri gadis itu untuk memusnahkan ilmu hitam yang menguasai dirinya … ?!"
"Gajah bunting? damprat Pendekar 212. Jaga mulutmu! Ini bukan dikala dan tempatnya membica-rakan hal-hal gila seperli itu?"
Bujang Gila Tapak Sakti betulkan letak kopiah hitam kupluk di atas kepalanya. Dia tertawa gelak-gelak dan terus saja berkipas-kipas.
"Sudahlah Kalau kau tidak mau membicarakan hal Itu saya tak mau bicara lagl!" kata Bujang Gila Tapak Sakti pula. Sementara itu di dalam keranjang rotan raksasa Si Raia Penidur masih terus mendengkur.
Pipa yang terselip di sela bibimya mengebulkan asap berbau tidak sedap ke seantero tempat. (Mengenai kemala atau Ratih kiranasari harap baca serial Wiro Sablenq beriudul "Pumama Berdarah")
Wiro pencongkan mulutnya. Setelah menggaruk kepalanya beberapa kali beliau melangkah ke arah kereta kencana putih di samping mana Ratu Duyung tegak memandang ke arahnya dengan sepasang mata biru indah berkilauan. Di atap kereta Kakek segala Tahu masih duduk uncang-uncang kaki dan sesekali kerontangkan kaleng bututnya. Di tempat lain orang berselubung kain putlh yang kini tinggal satu begitu melihat Wiro Iangsung memaki dalam hati.
”dasar anak setan geblek. Dalam keadaan mirip ini masih bisa garuk-garuk kepala cengangas-cengenges! Awas kau nanti kugasak dirimu mulai dari kepala hingga ke pantat!"
Di samping kereta Ratu Duyung memandang ke arah Wiro dengan hati berdebar. Kerinduannya selama ini seolah terobati begitu melihat Wiro muncul dan kini melangkah ke arahnya.
"Dia masih mengenakan pakaian hitam yang saya berlkan dulu. Apakah ini satu membuktikan bahwa beliau tidak melupakan diriku…?" membathin Ratu Duyung dalam hati penuh harapan. Sebenamya Wiro ingin menemui semua tokoh yang ada di tempat itu , yang telah bersusah payah tiba untuk menolongnya. Namun beliau harus bergerak cepat.
Apalagi dikala itu dilihatnya Tiga Bayangan Setan telah menuruni bukit di sebelah barat. Wiro percepat langkahnya mendekati kereta. Sesaat beliau tegak di depan Ratu Duyung , memandang penuh kagum akan kecantikan si gadis. Sang Ratu sendiri mirip tersenyum padanya walau terang kedua matanya tampak berkaca-kaca. Diam-diam gadis ini ingat pada ucapan Tua Gila waktu muncul di tempat itu pertama kali. ‘Gadis manis , mudah-mudahan kau segera mendapatkan jodoh! Aku turut berdoa untukmu!"
"Ratu Duyung , saya ingin bicara banyak denganmu. Tapi …" ‘Wiro tak bisa meneruskan ucapannya. Tenggorokannya serasa tersekat. Terlebih ketika dilihatnya sepasang mata biru bagus sang Ratu berkaca-kaca memandang tak berkesip seolah melepas segala kerinduan yang dipendamnya selama ini. Dengan bunyi perlahan kemudian Wiro berkata.
"Ratu Duyung , harap maafkan. Ada sesuatu yang hendak kutanyakan pada orang yang kurang asuh duduk di atas keretamu!"
Ratu Duyung menganggukkan kepala. Bibimya yang merah bagus membentuk senyum. Senyum senang ini mirip tidak mau pupus dari wajahnya yang jelita. Wiro mendongak ke atas kereta.
"Kakek Segala Tahu!" serunya memanggil. Si kakek memandang ke bawah , tertawa lebar dan goyang-goyangkan tangannya yang memegang kaleng.
"Aku perlu petunjukmu perihal kelemahan Tiga Bayangan Setanl lblis Pemabuk pernah menyampaikan Tepat tengah hari bolong. Pilih yang di tengah. Kau bisa mengartikan petunjuk itu?!"
Si kakek menggeleng. Lalu kerontangkan kaleng rombengnya.
"Celaka" keluh Wiro dalam hati. Lalu beliau berteriak kembali. "Kek! Aku tidak percaya kau tidak tahu percuma kau dijuluki Kakek Segala Tahu!" si kakek uncang-uncang kakinya kemudian menjawab. Gelar apa pun tidak menjadi jaminan bahwa insan itu bisa mirip Tuhan mengetahui segala sesuatunya. Waktumu hanya tinggal sedikit anak muda.
“Lekas kau bertanya pada Si Raja Penidur" Wiro palingkan kepalanya ke arah Si Raja Penidur yang masih ngorok di dalam keranjang rotan Besar.
"Kau ini bergurau atau apa. Kau lihat sendiri! Dia masih mendengkur begitu , bagaimana saya bisa bertanya ! Kau tahu insan macam bagaimana beliau tidur bisa hingga berbulan-bulan!"
”anak tolol! Apakah kau sudah bertanya padanya"! Apakah kau kira si gendut sobatmu berjuluk Bujang gila Tapak Sakti itu mau bersusah payah Membawanya ke sini kalau tidak punya maksud tertentu?!"
Wiro garuk-garuk kepala.
"Maafkan saya Kek ," kata Wiro. Lalu beliau menghambur ke arah Bujang Gila Tapak Sakti yang duduk Di tanah sambil bersandar pada keranjang rotan Besar tempat si Raja Penidur melingkar tidur.
"Heh , mau apa kau tiba ke sini?“ Bujang Gila Tapak Sakti membentak tapi wajahnya mengulum senyum dan kipas di tangannya bergerak pulang balik di mukanya yang keringatan.
"Gajah bunting Jangan bersikap garang! Ini urusan mati atau hidup!" semprot Wiro.
Begitu Wiro mendekati keranjang rotan dengkur Si Raja Penidur bertambah kerasl Sesaat Pendekar 212 merasa ragu. Namun akhimya sambil menepuk paha orang renta bertubuh maha gemuk itu beliau bertanya.
"Kakek Raja Penidur , harap kau suka bangun dan memberi tahu apa artinya Tepat tengah hari bolong. Pilih yang di tengah …."
Sosok Raja Penidur tidak bergerak sedikit pun. Wiro memandang pada Bujang Gila Tapak Sakti seolah minta tolong. Tapi si gendut satu ini Cuma menyeringai sambil terus berkipas-kipas. Wiro tepuk lagi paha Si Raja Penidur. Kali ini lebih keras. Tiba-tiba kaki itu bergerak.
"Kekl Kakek Raja Penidurl Bangun Kek. Aku butuh bantuanmu. ..!" kata Wiro setengah berseru.
Si Raja penidur menggeliat dalam keranjang. Dari mulutnya terdengar bunyi meracau. Matanya terbuka sedikit kemudian tertutup lagi.
"Kek! Jangan tidur dulul Aku perlu petunjukmu!"
Mulut Si Raja Penidur kembali meracau. "Apa sih yang diucapkan si gendut ini?” pikir Wiro. Lalu tidak sabaran dicabutnya pipa yang terselip di bibir Raja Penidur. Saat itulah orang renta gemuk ini menggeliat lagi , kemudian tiba-tiba beliau bangun dan duduk di atas keranjang rotan itu. Kepalanya yang berat ditenga-dahkan ke langit. Sepasang matanya tertutup mengemyit. Lalu dari mulutnya terdengar ucapan.
"Ho …. Oooooo. Sudah sempurna tengah hari bolong rupanyal Kalau ada tiga buah kelapa saya akan memukul kelapa yang di tengahl Yang di tengah itu yang paling lezatl Huah …!” Raja Penidur menguap lebar-lebar kemudian tubuhnya terguling ke dalam keranjang rotan. Suara mengoroknya kembali membahana.
Murid Sinto Gendeng kecewa besar. Dia belum sempat mengartikan ucapan Si Raja Penidur dan kini insan raksasa gemuk itu sudah mendengkur kem bali. Dia memandang ke arah bukit di sebelah barat kemudian mendongak ke langit.
Saat itu matahari sempurna berada di titik tertingginya . "Astaga! Dia benar. Saat ini sempurna tengah hari bolong. Lalu kelapa yang di tengah? Apa maksudnya ? Kurang asuh Mengapa saya begitu tolo!" Wiro melompat bangkit. Tapi ketika ingat masih Memegangi pipa Si Raja Penidur beliau cepat-cepat Membalik dan selipkan pipa itu kembali ke lisan Raja Penidur. Baru saja beliau hendak memutar tubuh Tiba2 diatasnya ada satu bayangan berkelebat Disertai teriakan dahsyat.
"bunuh!"
Wiro cepat angkat kepalanya. Pada dikala itu dari Atas berkelebat tiga Bayangan Setan. Kedua tinjunya Di berkelahi satu sama lain. Bersamaan dengan teriakan Bunuh tadi maka dari tiga guratan di keningnya Memancar sinar aneh. Lalu dari kepalanya yang Botak sebelah itu mencuat keluar asap membentuk Tiga sosok makhluk jejadian bermuka raksasa dengan rambut riap riapan dan taring besar serta mata merah mendelik ganas. Semua orang yang ada di situ tercekat tegang. Tiga makhluk ini bergerak cepat sekali. Ketiganya menghantamkan tangan laksana palu godam ke arah kepala Pendekar 212. Murid Sinto Gendeng cepat menyingkir meloloskan diri dengan jurus ilmu silat yang didapatnya dari Tua Gila. Lalu sambil melompat ke atas beliau berteriak.
"Tepat tengah hari bolongl Pilih yang di tengah!"
"Wuuut! Wuuut! wuuutt!"
Tiga hantaman makhluk-makhluk jejadian tidak mengenai sasaran. Begitu selamat dari serangan maut Wiro berjungkir balik di udara. sesaat kemudian tubuh sang jagoan kelihatan menukik ke bawah. Sambil menukik Wiro tiup tangan kanannya. Gambar kepala Datuk Rao Bamato Hijau muncul di telapak tangannya. Di kejauhan terdengar bunyi auman harimau yang sosoknya tidak kelihatan. Bukit watu bergetar hebat. Pedataran pasir menggelombang. Semua orang menjadi tercekat.
Tiga makhluk raksasa membalik , siap menyerbu kembali. Murid Sinto Gendeng keluarkan jurus ke dua dari ilmu silat Enam Inti Kekuatan Dewa yang dipelajarinya dalam Kitab Putih Wasiat Dewa. Telapak asisten yang terbuka didorongkan perlahan saja. Yang diarah ialah kepala raksasa jejadian yang sebelah tengah!
"Praaakk!"
Kepala raksasa yang di sebelah tengah hancur berantakan. Darah bermuncratan. Di kejauhan terde-ngar bunyi lolongan aneh. Dari lisan Tiga Bayangan Setan sendiri melesat jeritan menggidikkan.
Tubuh berjubah hitam ini terkapar di tanah. Kepalanya kelihatan hancur mengarikan. Anehnya kepala makhluk jejadian yang dihantam tapi kepala Tiga Bayangan Setan ikut hancur. Dan lebih gila lagi kehancuran ini menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ke kaki Bersamaan dengan itu sosok tiga makhluk jejadian lenyap Kesunyian menegangkan menyelimuti tempat itu.
Pangeran matahari laksana disengat kalajengking ketika menyaksikan tewasnya Tiga Bayangan setan. Padahal beliau sangat mengandalkan kaki tangannya yang satu ini. Dia usap mukanya berulang kali. Otak liciknya diputar. Dia kerahkan tenaga dalam kemudian berteriak membahana.
"Para tokoh di bukit timurl Sebelum kita meneruskan urusan di Pangandaran ini saya perlu memberitahu satu hal dan meminta pertanggungan jawab kalian!"
‘Pangeran bejat! Kau mau pidato atau membaca syair?!" berseru Tua Gila kemudian tertawa mengekeh. yang kuasa Ketawa ikut-ikutan tertawa. Dewa Sedih meraungkan tangis dan Kakek Segala Tahu kerontangkan kaleng rombengnya. Tampang Pangeran Matahari menjadi merah padam. namun sambil menyeringai beliau berkata.
"ketahuilah jagoan 212 telah menghamili kekasihku bidadari angin timur ! Gadis berbaju biru itu yang itu yang bertempur dengan gadis bersenjatakan payung tadi! Pendekar 212 berseru kaget. Yang lain-lain terkesiap Dan keluarkan bunyi bergumam sambil memandang kearah Wiro.
Semua orang menjadi geger. Ratu Duyung merasa sangat terpukul. Dia tutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kurang asuh Tuduhannya dusta dan fitnah belaka!" teriak Pendekar 212.
Pangeran Matahari mendengus. "Temyata kau terlalu pengecut mengakui kebejatanmu Pendekar 212 Nanti bisa kita tanyakan sendiri pada gadis ltu , Saat ini saya akan meminta pertanggungan jawab kalian atas insiden inil Sayang nenek pikun si Sinto Gendeng guru Pendekar 212 tidak ada di sini hingga tidak bisa kumintakan pertanggungan jawabnya!"
"Pangeran sundal! Sinto Gendeng ada di sini , dan beliau belum pikun!"
oooooooo00000000ooooooo
SEPULUH
TIBA-TIBA satu bunyi menggema keras di kaki bukit timur. Orang berselubung kain putih menggerakkan tangan , menarik lepas pakaiannya. Saat itu juga terlihatlah sosoknya yang asli. Ternyata beliau bukan lain ialah nenek tinggi kurus berkulit hitam sinto weni alias Sinto Gendeng dari Gunung Gede. Si nenek mengerling ke arah Tua Gila yang sempat terbelalak ketika mengetahui kekasihnya di masa muda itu berada di tempat itu. Kalau para tokoh di kaki buki sebelah timur heran-heran maka musuh mereka yang ada di bukit sebelah barat tampak berusaha menekan rasa kecut yang menimpa diri mereka. Si Muka Bangkai cepat-cepat membisiki muridnya."Pangeran , keadaan tidak menguntungkan bagi kita. Tujuh dari Delapan Tokoh Kembar telah menemui ajal. Jumlah lawan terlalu banyak untuk kita hadapi. Dewa Ketawa , Dewa Sedih , Kakek Segala dan Bujang Gila Tapak Sakti masih belum turun Tangan. Belum lagi Sinto Gendeng yang sangat Berbahaya ini. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja Tempat ini. Aku akan mengatur siasat biar kita bisa Melarikan diri dengan selamat."
Rahang Pangeran Matahari nampak menggembung. Wajahnya membersitkan kecongkakan dan Kelicikan serta segala akal. Yakin akan kehebatan Kitab Wasiat lblis yang berada di tangannya beliau menjawab.
"Guru , kalau kau mau kabur silahkan saja , Aku Pangerang matahari raja diraja dunia persilatan tidak akan pergi dari sini! Mereka akan kuhabisi satu persatu! Hari ini juga! Hari sepuluh bulan sepuluh!"
Sang Pangeran kemudian usapdadanya di mana tersimpan Kitab Wasiat Iblis. Mendengar kata-kata muridnya itu walau hatinya jerih tapi Si Muka Bangkai terpaksa tetap berada di tempat itu.
"Pandan Arum! Kau harus berani menyampaikan siapa yang telah menghamilimu! Aku akan ikut merobek-robek insan jahanam itu!"
Tiba-tiba ada seseorang berteriak disertai satu bayangan biru dan menebamya anyir sangat wangi. Paras gadis berbaju biru yang dipanggil dengan nama Pandan Arum menjadi pucat pasi. Tubuhnya terasa lunglai dan beliau tersandar ke dinding watu karang di belakangnya seraya menatap pada seorang gadis yang berpakaian biru dan mempunyai ciri-ciri sangat sama dcngan dirinya! Baik wajah , sosok tubuh , wama kulit dan wama rambut maupun pakaian dan wewangian yang dipakainya! Hal ini menciptakan semua orang yang ada di tempat itu jadi terbelalak!
"Ooo … la-la! Apa yang terjadi?!" seru Tua Gila.
"Mengapa kini jadi dua?! Dari mana datangnya?"
"Kembarannya atau jejadiannya yang muncul ini?!" teriak Dewa Ketawa kemudian gelak mengakak. Sauda-ranya si Dewa Sedih tampak cemberut kemudian mulai sesenggukan dan menangis.
Bujang Gila Tapak Sakti sambil berkipas-kipas berkata. "Ah , saya dikasih yang mana saja akan kuterima! Ha … ha … ha!"
Bagaimana herannya semua orang yang ada disitu termasuk Pangeran Matahari sendiri , yang paling terkejut ialah Pendekar 212 Wiro Sableng. Sepasang matanya melotot tak berkesip.
"Benar-benar ada dua. Berarti gadis yang kutemui di rumah makan itu ialah yang barusan tiba ini. Bidadari Angin Timur yang asli. Tapi …!"
Wiro garuk-garuk kepala. "Bagaimana saya benar- Benar bisa memastikan yang mana yang asli!" Selagi kesunyian masih mencengkam di tempat Itu tiba-tiba gadis yang barusan tiba berkata Dengan bunyi lantang.
"Kalian semua dengar Aku dan gadis ini ialah Dua saudara kembar. Aku kakaknya beliau adikku! Perjalanan hidup telah menciptakan nasibnya tersesat Dan terhina alasannya ialah jatuh ke tangan Pangeran Matahari !” si gadis berpaling pada adik kembamya Ialu Berkata "Katakan pada orang-orang ini! Siapa yang Telah menghamilimu! Jangan berani dusta! Jangan Berusaha memfitnah!"
Perlahan-lahan gadis yang disebut dengan Nama Pandan Arum itu bergerak dari watu karang Tempatnya tegak bersandar. Kalau tadi tubuhnya terasa lemah lunglai kini beliau seolah menerima satu kekuatan hebat. Keberaniannya menggelegak. Sepasang matanya berkilat-kilat. Dia maju beberapa langkah.wajahnya yang manis jelita merah menge-lam. Air mukanya menjadi sangat menakutkan.
Pandangan matanya diarahkan tak berkesip pada Pendekar 212 Wiro Sableng.
“Dia telah menghamiliku!" teriak Pandan arum Lantang hingga semua orang yang ada di tempat itu mendengar jelas. Si gadis memandang menyorot pada Wiro menciptakan semua orang jadi geram memperhatikan murid Sinto Gendeng itu. Namun tangan kirinya yang diacungkan menunjuk tepat-tepat pada Pangeran Matahari.
"Manusia bejat! Tak cukup kau menipu dan memperbudak adikku , Kau juga merampas kehormatannya’” teriak gadis berbaju biru di samping Pandan Arum yang tentunya bagi Wiro kini terang ialah Bidadari Angin Timur yang asli.
Pangeran Matahari mendongak ke langit. Dia keluarkan bunyi tawa panjang. Sadar kalau tipu muslihatnya terhadap Pendekar 212 tidak mempan bahkan sudah terbongkar maka beliau pun menjawab. "Adikmu suka padaku Dia menyampaikan segala-galanya dengan ikhlas! Siapa yang berani menyalahkan diriku? Ha … ha… ha … !"
"Manusia setan , iblis dajal! terima kematianmu!" teriak Pandan Arum. Lalu dengan nekad gadls Ini melompat ke depan seraya menghantamkan kedua tangan , sekaligus melepas dua pukulan "Pedang kilat biru”.
“Pandan arum , jangan!” seru bidadari angin timur. Wiro pun berusaha mencegah , tapi terlambat. Dari balik dad pangeran matahari menderu sinar hitam mengidikan , itulah kesaktian yang keluar dari kitab wasiat iblis bilamana pangeran matahari diserang!.
Satu jeritan mengenaskan keluar dari lisan Pandan Arum. Tubuhnya terlempar beberapa tombak dan terkapar di pasir dalam keadaan hanya tinggal tulang belulang dan hangus!.
Bidadari Angin Timur meraung keras. Dalam kalapnya beliau segera hendak menyerbu Pangeran matahari . Wiro yang melihat ancaman segera melompat dan merangkul tubuh gadis itu. Keduanya berguling-guling di pasir.
"Lepaskan!"
"Bidadari angin Timur … ."
"Kalau kau tidak melepaskan diriku akan kubunuh!"
"bidadari Angin Timur , saya mencintaimul Aku tak ingin kau celaka. … Manusia jahat itu biar saya yang menghadapinya ," kata Wiro. Pandangan matanya menempel tajam ke mata si gadis. Dada bidadari Angin Timur mirip menggemuruh. Suara isakannya terdengar perlahan.
"Cari tempat yang Baik , nanti kita bicara …" bisik Wiro sambil membelai Rambut pirang si gadis. Walau hal mesra ini Terjadi begitu cepat namun tidak lepas dari perhatian ratu Duyung. Sang Ratu merasa hatinya Seperti disayat sembilu dan palingkan wajahnya ke Arah laut.
Sekali lompat saja Pendekar 212 sudah berdiri tiga langkah dari hadapan Pangeran Matahari disambut oleh sang Pangeran dengan seringai mengejek.
"Dosamu setinggi gunung sedalam lautan! Hari ini tamat riwayatmul Walau kau punya nyawa rangkap kau tak bakal lolos dari kematian!"
Pangeran Matahari sunggingkan seringai mengejek , "Pendekar 212! Rupanya kau dekat dengan malaikat maut hingga tahu kapan saya akan menemui ajal! Ha. .. ha. .. ha!”
"Iblis keji! Pelacur lelaki! “hardik Wiro. "Kembalikan padaku Kapak Naga Geni 212 dan watu mustika pasangannya!"
Tampang Pangeran Matahari lampak semerah saga. Seumur hidupnya gres sekali itu beliau dimaki orang dengan sebutan pelacur lelaki. "Mulutmu keji amatl Agaknya gurumu si nenek keling itu tidak pernah mengajarkan sopan santun!"
Mendengar Eyang Sinto Gendeng dihina begitu rupa Pendekar 212 hampir meledak kemarahannya. Namun ingat kehebatan Kitab Wasiat lblis yang dimiliki lawan maka beliau segera menekan amarahnya dan menjawab. "Kabamya kau punya ilmu hebat. Coba perlihatkan padaku barang sejurus dua jurus!" Pangeran Matahari kembali sunggingkan seringai mengejek. "Murid nenek sinting dari gunung Gede ini temyata hanya pintar omong , tapi tak berani menyerang!"
Walau hatinya terbakar mendengar kata-kata musuh besamya itu namun Wiro tak hingga terpancing Sadar kalau lawan tak bisa dijebak maka Pangeran Matahari lantas berkata.
"Pendekar 212 kau dengar tawaranku. Aku akan mengembalikan kapak dan watu sakti ini padamu. Sebagai imbalan serahkan padaku Kitab Putih Wasiat Dewa …."
"Pangeran bejat! Kitab itu tak ada padanya. Tapi padaku!" satu bunyi menjawabi ucapan Pangeran Matahari. Ketika sang Pangeran mengangkat kepala beliau menjadi kaget. Yang bicara ialah Sinto Gendeng.
Di tangannya beliau memegang sebuah kitab terbuat dari daun lontar yang dilambai-lambaikannya sambil tertawa terangguk-angguk. Wiro terheran-heran dan tidak habis mengerti bagaimana Kitab putih wasiat Dewa itu bisa berada di tangan gurunya.
Pangeran Matahari sendiri menggeram dalam hati. ”Kurang ajar! Makara kitab yang kucari itu ada padanya!"
Otaknya mulai bekerja untuk mencari nalar bagaimana Agar beliau segera sanggup menguasai kitab tersebut. Namun memandang berkeliling beliau menjadi kaget alasannya ialah tempat itu telah dikelilingi oleh musuh Hingga beliau dan gurunya terkurung di tengah-tengah.
SEBELAS
UNTUK menyembunyikan rasa jerihnya Pangeran Matahari keluarkan tawa panjang. "Kalian manusia-manusia hebat tapi temyata pengecut! Silahkan menyerang diriku beramai ramai … !"Tua Gila tertawa mengekeh. "Kau hadapi Pendekar 212 satu lawan satu. Kami ingin berbincang bincang dengan gurumu Si Muka Bangkai!"
lblis Pemabuk tiba-tiba tegak seolah menghadang di hadapan Tua Gila. "Kalian hendak main keroyok?” bentaknya. "Jangan melaksanakan apa yang jadi pantangan lblis Pemabuk!" "Siapa mau main keroyokl Tindakan pengecut itu bukan kau saja yang tidak menyukainya. Kami pun berpantangl Padahal dengan biang dajal mirip beliau perlu apa menggunakan segala peradatan!" jawab Tua Gila.
Lalu orang renta ini berkelebat menarik tangan Si Muka Bangkai. Tentu saja kekak bungkuk ini tidak tinggal diam. Secepat kilat beliau menghantam ke arah kepala Tua Gila.
"Bukkk!"
Satu tangan menangkis pukulan Si Muka Bangkai. Temyata yang menangkis ialah Dewa Ketawa. Di sampingnya Dewa Sedih maju pula merangsak. "Muka Bangkai..!’ kata Dewa Ketawa sambil teriawa lebar. "Kami berdua belum berbuat pahala! Kau boleh menentukan antara saya atau kakakku untuk jadi lawanmu!"
Dewa Sedih yang ada di samping Dewa Ketawa pribadi saja keluarkan ratapan tinggi. Untuk bebe-rapa lamanya Si Muka Bangkai terdiam tak bisa menjawab. Walau die mempunyai kepandaian tinggi namun siapa saja dari dua orang renta gila itu bukanlah lawan enteng.
Di samping kiri tiba-tiba terdengar bunyi cekikikan. "Si Muka Bangkai mungkin sungkan , mungkin juga jijik menghadapi orang-orang tidak waras mirip kalian. Biar saya yang menantangnya! Dia sudah cukup usang menciptakan susah orang-orang persilatan. Dia juga yang ikut-ikutan jadi biang racun menyusahkan muridku!"
Si Muka Bangkai cepat menekan rasa terkejutnya ketika melihat yang barusan bicara ialah Sinto Gendeng , nenek sakti dari gunung Gede yang ialah guru Pendekar 212. Merupakan satu tokoh rimba persilatan yang sulit dijajagi ilmu kepandaiannya
"Muka Bangkai , saya sedih …. Aku sedih tak bisa menolongmu!" kata Dewa Sedih pula kemudian meratap keras. "Di atas sana saya melihat pintu neraka sudah dibukakan untukmu! Aku melihat teman-temanmu sudah menunggu. Makhluk Pembawa Bala …. Ada Tiga Bayangan Setan dan konconya sl Elang Setan.
Ada para Tokoh Kembar Banyak lagi … Uhhh … ngerinya! Aku sedih …. Aku sedih! Hik … hik … hik!"
"Kalian jahanam semua" teriak si Muka Bangkai. Dia memukul ke arah Dewa Sedih. Sebenamya Si Muka Bangkai berlaku cerdik. Saat itu sesudah Sinto Gendeng muncul , kalau beliau boleh menentukan maka lebih baik menghadapi Dewa Sedih atau Dewa Ketawa ketimbang Sinto Gendeng. Ternyata Dewa Sedih sudah sanggup membaca apa yang ada di benak guru Pangeran Matahari itu. Dengan cepat beliau mengelak kemudian meraung keras.
"Aku sedih , bukan saya yang ingin berkelahi mengapa saya yang hendak digebuk! Hik… hik… hik! Aku lak mau berkelahi! Aku ingin menangis aja! Hikk … hik … hik! Muka Bangkai lawanmu Sinto Gendeng , bukan aku!"
Si Muka Bangkai kertakkan rahang. Ketika Sinto Gendeng menggebrak ke arahnya maka beliau tak bisa berbuat lain daripada pribadi mendahului menyergap dengan serangan ganas.
"Bukkk!"
Jotosan keras yang dilepaskan Si Muka Bangkai mendarat di perut lawan. Tapi bukan perut Sinto Gendeng melainkan perut seorang lelaki gendut berpakaian sempit terbalik den berkopiah kupluk!
"Gajah bunting!" teriak Wiro. "Apa yang kau lakukan?" Mengapa menyelak di tengah pertempuran!"
Si gendut ini yang bukan lain ialah Bujang Gila Tapak Sakti adanya tenang-tenang saja mendapatkan pukulan yang bisa menjebol tembok watu itu , seoiah beliau barusan diusap saja! Dia kedipkan mata pada Pendekar 212 kemudian tanpa perdulikan Si Muka Bangkai di hadapannya , sambil mengelus perutnya yang barusan dipukul. Bujang Gila Tapak Sakti menjura pada Sinto Gendeng.
"Nenek sakti benama Sinto Gendeng. Jauh-jauh saya tiba kalau hanya untuk menggotong Si Raja Penidur rasanya kurang afdol kalau tidak diberi kesempatan melawan musuh barang sejurus dua jurus. Karenanya saya harap kau berjiwa besar mau membenkan kesempatan padaku untuk menghadapi ikan lele bungkuk calon mayat bergelar Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat ini!"
"Jahanam! Berani kau menghina guruku!" teriak Pangeran Matahari sambil menciptakan gerakan hendak meryerang Bujang Gila Tapak Sakti. Tapi sang guru cepat menahannya. Sambil tertawa mengekeh Si Muka Mayat berkata.
"Ada kerbau infeksi mencari mampusl Apa sulitnya bagi kita memenuhi keinginannya?!" Si Muka Bangkai merasa telah berlaku cerdik sengaja menantang 8ujang Gila Tapak Sakti alasannya ialah kini beliau meng-inggap jauh lebih baik melawan si gendut ini daripada menghadapi Sinto Gendeng.
"Sinto Gendeng , Rupanya ada orang yang tahu kalau ilmumu sangat cetek untuk menghadapiku , Kau harus berterima kasih pada si gendut ini yang telah menolongmu dari kehilangan muka , Makara tidak hingga menciptakan kehilangan jiwa Ha … ha. .. ha!"
"Aku tahu , sesungguhnya kau jerih menghadapiku , sengaja menentukan musuh bayi bongsor ini! Hemm… silahkanl Silahkan Bujang Gila Tapak Sakti , ada orang hendak mengajakmu bermain-main , harap kau suka melayaninya!"
"Betul , betul! Hayo kau layani keponakanku itu!" teriak Dewa Ketawa kemudian tertawa gelak-gelak. Dewa Sedih keluarkan tangisan pendek kemudian menimpali. "Dia keponakanku juga. Hik … hik … hik!"
Kagetlah Si Muka Mayat dan juga Pangeran Matahari mendengar ucapan dua orang kakek gila itu. "Jika si gemuk ini ialah keponakan dua kakek sinting itu berarti beliau mempunyai tingkat kepandaian sukar dijajagi! Ah , saya sudah salah menentukan lawan. Tapi saya tak bisa mundurl Sialan! Jahanam betul!"
Bujang Gila Tapak Sakti rapikan kopiah hitamnya yang kupluk.
"Srett!"
Dia membuatkan kipas kertasnya di bawah dagu. Tubuhnya dibungkukkan sedikit. Pantatnya disonggengkan. Matanya dikedip-kedipkan.
Dia memasang kuda-kuda dengan gaya yang terang mengejek lawan!
Dewa Ketawa tertawa gelakgelak. Dia berpaling pada Sinto Gendeng dan bertanya. "Sinto , menurutmu apakah hebat kuda-kuda yang dipasang keponakanku itu?"
"Cukup hebat sobatku Dewa Ketawa. Mungkin ini yang dinamakan kuda-kuda kerbau bunting siap melahirkan anak!"
Ledakan tawa para tokoh silat golongan putih menggetarkan tempat itu. Tampang Si Muka Mayat dan Pangeran Matahari menggembung merah mengelam.
"lkan lele bungkuk! Majulah! Silahkan kau cari cuilan tubuhku yang empuk! Tapi awas! Jangan kau berani memukul perut atau merogo selangkanganku Nanti bayiku benar-benar berojol! Ha … ha … ha!"
Kembali tempat itu dibuncah oleh gelak tawa. Si Muka Mayat yang tidak sanggup lagi menahan marahnya membentak garang.Tubuhnya yang bung-kuk melesat ke depan. Dua jotosan susu! Menyusul dengan tendangan kaki kanan. Setiap serangan mengeluarkan sinar hitam. Jotosan atau tendangan belum mendekati sasaran namun sinar hiiam sudah menderu lebih dulu.
"Jurus Tiga Bangkai bangkil dari Kubur! Apa hebatnya!" kata Bujang Gila Tapak Sakti menyebut jurus yang dimainkan lawan. Bukan saja Si Muka Bangkai tapi Pangeran Matahari pun kaget luar biasa mendengar ucapan Bujanq Gila Tapak Sakti.
"Heran! Bagaimana jahanam gendut ini tahu jurus serangan yang saya mainkan" kertak Si Muka Rongkai dalam hati. Penasaran beliau lipat gandakan tenaga dalamnya. Tiga larik sinar hitam tampak mencuat lebih terang.
Semua orang menahan nafas. Serangan Si Muka Bangkai sudah begitu dekat siap untuk menghantam tubuhnya tapi Bujang Gila Tapak Sakti masih saja cengangas-cengenges.
Tiba-tiba si gendut itu kibaskan kipas kertasnya.
"W utt…!"
Selarik sinar putih menebar melengkung.
"Drett … dre tt… drett!"
Seperti sebilah pedang sinar putih yang menyambar keluar dari kipas di tangan Bujang Gila Tapak Sakti menabas tiga larik sinar serangan , mengeluarkan bunyi benturan keras tiga kali berturut- turut!
Si Muka Bangkai merasa seolah ada air bah menghantam tubuhnya. Kalau beliau tidak lekas membuang diri ke samping dan berjungkir balik pasti tubuhnya akan terjengkang di pasir! Kakek bungkuk ini murka sekali. Seumur hidup gres kali itu serangannya dipatahkan lawan secara mudah. Dari mulutnya keluar bunyi menggembor. Sepasang matanya laksana mau melompat dari rongga cekung di muka tengkoraknya. Tubuhnya yang bungkuk semakin menekuk ke bawah. Ketika lututnya hampir bersatu dengan betis tiba-tiba tubuh Si Muka Bangkai berputar laksana gasing. Lalu
"desss!"
Seolah membal tubuh itu melesat ke atas. Bujang GilaTapak Sakti yang mengira akan menerima serangan dari depan tertipu. Baru saja beliau mendongak untuk menjajagi di mana lawan berada , tubuh si kakek telah menukik deras laksana elang menyambar. Dua tangannya didorongkan ke depan.
Bujang Gila Tapak Sakti hanya melihat dua kilauan cahaya hitam. Tahu-tahu sepasang tinju Si Muka Bangkai sudah berada di depan hidungnya Guru Pangeran Matahari telah mengeluarkan jurus hebat bemama "Mayat Bangkit Dari Kubur"!
"Wuuttt"
Bujang Gila Tapak Sakti kibaskan kipas kertasnya.
"Buk! Buk!"
Kipas kertas beradu dengan dua lengan Si muka Bangkai. Kakek ini terpekik kesakitan. Sambil me lompat mundur beliau hantamkan tumitnya ke dada , lawan.
"Breettt!"
Bujang Gila Tapak Sakti menggeram murka ketika dapatkan kipas kertasnya robek besar. Tiga batang kayu kecil penyanggah kipas patah. Selagi beliau dilanda amarah begitu rupa kaki kanan Si Muka Bangkai mendarat di dadanya.
Tubuh gendut ratusan kati itu terhuyung sesaat kemudian roboh ke pasir! Dewa Sedih keluarkan raungan keras. Dewa Ketawa membwka lisan lebar-lebar tapi tidak ada bunyi ketawa keluar dari lisan itu! Para tokoh silat golongan putih tampak tercekat. Untuk beberapa lamanya Bujang Gila Tapak Sakti terhampar di pasir tanpa bergerak menciptakan semua orang jadi cemas.
Saat itu tiba-tiba Pangeran Matahari berkelebat , kirimkan tendangan ke kepala Bujang Gila Tapak Sakti!
"Nah … nah! Guru dan murid mulai licik!" Eyang Sinto Gendeng berteriak. Dari balik pakaian rombengnya beliau keluarkan sebatang tongkat kayu butut. Tongkat itu dilemparkannya ke depan Pangeran Matahari yang tengah menyerang. Saat itu juga dari dada sang Pangeran melesat keluar satu sinar hitam menggidikkan. Hawa panas menyungkup tempat itu.
Tongkat kayu butut hancur berkeping-keping , bermetamorfosis asap hitam dan akhimya lenyap Pedataran pasir yang kena hantam pukulan sakti yang memancar dari Kitab Wasiat Iblis , berlobang hitam selebar dua tombak dan terbongkar hingga setengah tombak. Pasir beterbangan ke udara menutupi pemandangan. Ketika pasir surut sosok gemuk Bujang Gila Tapak Sakti tak ada lagi ditempat semula.
Sekonyong-konyong terdengar bentakan-bentakan murka Si Muka Bangkal. Ketika semua orang berpaling ke arah kanan terlihat bagaimana sosok gemuk Bujang Gila Tapak Sakti melangkah mendorong si kakek bungkuk , memaksanya mundur menaiki bukit karang. Sambil mundur Si Muka Bangkai hantamkan tinjunya kiri kanan ke perut dan dada Bujang Gila Tapak Sakti. Tapi mirip tidak mencicipi cowok gemuk itu terus saja merangsak maju hingga Si Muka Bangkai dibentuk mundur terus terusan hingga ke atas bukit.
Melihat gurunya diperlakukan seolah dipermainkan begitu rupa Pangeran Matahari segera hendak berkelebat membantu.
"lblis licik! Curang cukup sekali!" Sinto Gendeng berteriak murka tapi tidak mau melaksanakan serangan. Dia berpaling pada muridnya.
"Anak setanl Musuh besarmu sudah kepingin mampus , mengapa kau masih berdiam diri?!"
Mendengar ucapan gurunya Pendekar 212 cepat berkelebat ke hadapan Pangeran Matahari. Sang Pangeran mendongak kemudian tertawa mengakak.
"Hari sepuluh bulan sepuluh Hari bersejarah bagi dunia persilatan Hari ini sudah ditakdirkan tamatnya riwayat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Wiro Sableng! Ha … ha … ha Gurumu memanggilmu Anak Setanl Aku lebih suka memanggilmu Anak Anjing! Ha … ha… ha … l Anak Anjing ayo serang dirikul Cari cuilan yang kau sukai…Dihina dengan sebutan Anak Anjing sama sekali tidak menciptakan murid Sinto Gendeng terpancing untuk menyerang. Malah sambil bertolak pinggang beliau tertawa bergelak. Puas tertawa beliau berkata dengan bunyi keras.
"Pangeran Matahari , kalau kau memanggil saya Anak Anjing tentunya kau merasa sebagai Bapak Anjing! Ha … ha … ha! Nah Bapak Anjing , mengapa kau tidak segera memberi pelajaran pada Anak Anjing?”
Gelap kelam tampang Pangeran Matahari. Rahangnya menggembung. Pelipisnya kiri kanan bergerakgerak.
"Manusia tidak tahu diril Apa kau kira ada jalan selamat bagimu dikala ini?!" Wiro menyeringai. "Dalam Kitab Putih Wasiat Dewa ada kalimat berbunyi Mana ada jalan selamat kalau bukannya jalan Tuhan?!"
"Hemmm .. Begitu?!" Pangeran Matahari sunggingkan senyum mengejek.
"Bagiku jalan selamat ialah jalanmu menuju neraka! Sebelum kutunjukkan jalan itu saya kembali usikan anjuran padamu. Kapak sakti dan watu mustikamu ada padaku! Aku mau-mau saja menyerahkan dua senjata itu dengan – satu syarat Serahkan padaku Kitab Putih Wasiat Dewa!"
Wiro kembali tertawa bergelak. "Pangeran Matahari , seumur-umur mungkin mimpimu untuk mendapatkan kitab sakti itu tak bakal kesampaian. Biar saya memberitahukan saja padamu ada bait-bait dalam Kitab Putih Wasiat Dewa berbunyi begini. Musuh insan yang ke dua ialah yang tiba dari dalam , yaitu dirinya sendiri …. Semuanya berpangkal pada lupa diri. Hanya insan yang bertakwa dan kokoh keyakinan yang sanggup lolos dari malapetaka ini. … Minta tolong dan minta ampun hanya pada Yang Satu …."
Sesaat lisan Pangeran Matahari tampak komat-kamit. "Aku tidak tahu semenjak kapan kau menjadi seorang penyairl Tapi orang yang mau mampus biasanya memang suka berbuat aneh!" Habis berkata begitu Pangeran Matahari meludah ke tanah kemudian tertawa terbahak-bahak.
Di hadapannya Pendekar 212 malah unjukkan perilaku aneh. Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap berulang kali. "Lama-lama saya mengantuk melihat sikapmu Pangeran Matahari! Katanya kau mau jadi raja diraja dunia persilatan. Tapi kulihat bisanya kau hanya tertawa melulu! Lama-lama kau bisa dijuluki Si Raja Badut! Itu lebih baik dari Pelacur Lelaki yang kubilang tadi!"
Dewa Ketawa gelak mengekeh. Dewa Sedih menggerung sedang para tokoh silat golongan putih lainnya keluarkan senyum bergumam. Panas pendengaran Pangeran Matahari mendengar ejekan itu.
"Pendekar banci! Aku yakin kau terlalu pengecut untuk memulai perkelahian Takut menyerangku! Biar saya membuka pintu alam abadi untukmu dengan jurus pertama!" Habis berkata begitu Pangeran Matahari menyergap ke depan , lancarkan satu serangan tangan kosong.
ooooooo00000000000ooooooo
DUA BELAS
KITA kembali dulu pada perkelahian antara Bujang Gila Tapak Sakti dengan Si Muka Bangkai alias Si Muka Mayat. Semakin hebat beliau didesak ke atas bukit semakin bertubi-tubi pukulan yang dilancarkan Si Muka Bangkai ke tubuh lawannya. Namun Bujang Gila Tapak Sakti tidak bergeming sedikit pun.Sekujur tubuh si kakek telah berair kuyup oleh keringat. Kekuatannya lambat laun terasa mirip terkuras. Tepat di lereng bukit watu karang orang renta Ini tertatih-tatih kehabisan nafas. Pada dikala itulah Bujang Gila Tapak Sakti pergunakan kedua tangannya mendekap kepala Si Muka Bangkai. Semula semua orang termasuk Si Muka Bangkai sendiri mengira Bujang Gila Tapak Sakti akan memuntir putus lehemya. Namun apa yang terjadi kemudian menciptakan semua orang terheran-heran kecuali Dewa Ketawa yang ialah paman Bujang Gila Tapak Sakti.
Dari kepala Si Muka Bangkai yang didekap Bujang Gila Tapak Sakti tampak keluar kepulan asap. Sekujur tubuh si kakek bergetar hebat. Kepalanya terasa hirau taacuh seolah dipendam ke dalam lobang es. Rasa hirau taacuh ini menjalar ke sekujur tubuhnya. Dia berusaha meronta melepaskan diri. Namun hawa hirau taacuh menciptakan beliau sulit menggerakkan kedua tangannya.
Tangan-tangan itu temyata telah tegang. Menyusul tubuh dan kedua kakinya menjadi kaku. Kepulan asap semakin menjadi-jadi. Udara di sekitar situ terasa hirau taacuh sekali. Rahang Si Muka Bangkai berderak-derak. Matanya yang cekung berputar liar. Setiap beliau menghembuskan nafas tampak asap hirau taacuh mengepul keluar dari lobang hidung dan mulutnya. Orang renta ini kelihatan mirip hendak berteriak. Namun lidahnya terasa kelu!
Bujang Gila Tapak Sakti telah menghantam Si Muka Bangkai dengan ilmu kesaktian yang mengeluarkan Hawa sangat dingin. Hanya selang beberapa usang sekujur tubuh kakek bungkuk itu telah putih kaku dari kepala hingga ke kaki. Dari hidung , pendengaran , lisan dan kedua matanya yang cekung mengalir darah kental Bujang Gila Tapak Sakti lepaskan ke dua tangannya dari kepala Si Muka Bangkai yang telah jadi mayat kaku. Dia rapikan kopiah kupluk di atas kepalanya kemudian dengan damai menuruni bukit karang di sebelah barat itu dan sengaja melangkah mendekati Pangeran Matahari. Dari belakang ditepuknya pundak sang Pangeran yang dikala itu siap hendak menyerang Wiro. Begitu Pangeran Matahari melangkah mundur dan berpaling beliau tertawa lebar dan menunjuk ke lereng bukit sebelah barat.
"Gurumu berpesan , kalau kau menyusulnya ke neraka jangan lupa membawa selimut tebal. Katanya di sana hirau taacuh sekali!”
Pangeran Matahari terkejut besar. "Kau apakan guruku?” teriaknya menggeledek.
Tenang saja Bulang Gila Tapak Sakti menjawab. "Aku tidak mengapa-apakannya. Hanya merubahnya menjadi mayat kaku diberi es!"
"Guru!!" teriak Pangeran Matahari. Dia hendak menghambur ke lereng bukit tapi dengan gerakan enteng si gendut Bujang Gila Tapak Sakti menggaet kaki kanannya. Kalau tidak cepat mengimbangi diri pasti sang Pangeran sudah jatuh berkelukuran Saking marahnya Pangeran Matahari melupakan gurunya dan berbalik menyerang Bujang Gila Tapak Sakti. Yang diserang jatuhkan diri kemudian hampir tak sanggup mendapatkan amanah tubuhnya yang gendut luar biasa itu sengaja digelindungkannya di bukit watu karang itu.
"Pendekar 212 harap kau mau sedikit berbaik hati pada Pangeran Matahari. Dia sedang berduka barusan kematian gurunya. Kalau kau bunuh beliau harap wajah dan tubuhnya tidak dirusak biar di alam abadi Si Muka Bangkai masih bisa mengenali muridnya itu!"
Bujang Gila Tapak Sakti tertawa gelak-gelak. Dewa Ketawa , lblis Pemabuktak ketinggalan sedang Kakek Segala Tahu sesudah begitu usang berdiam diri kini kerontangkan kaleng rombengnya Amarah Pangeran Matahari tidak terperikan. Dia melompat ke hadapan Wiro dan Bujang Gila Tapak Sakti.
"Kalian berdua saya sendiri! Apa kalian kira saya takut?!"
Maka Pangeran Matahari berkelebat memulai serangan. Sebenamya beliau ingin menghabisi Bujang Gila Tapak Sakti yang telah membunuh gurunya dikala itu juga. Namun Pendekar 212 menghadang di depannya. Segala kemarahan ditumpahkannya pada murid Sinto Gendeng. Dia membuka serangan dengan melepas pukulan Gerhana Matahari. Udara di tempat itu mendadak seolah menjadi redup. Dari tangan kanannya melesat dengan ganas sinar hitam , merah dan kuningl Selagi Wiro berkelit selamatkan diri Pangeran Matahari cabut Kapak Maut Naga Geni 212dan watu hitam pasangannya dari pinggang. Lalu dengan mengerahkan tenaga dalam penuh beliau menyerbu murid Sinto Gendeng.
Dua mata kapak mengeluarkan sinar panas berkilauan. Suaranya menggemuruh. Pasir teluk beterbangan. Salah atau terlambat sedikit Pendekar 212 menciptakan gerakan tak ampun senjata mustika miliknya sendiri akan menjadi tuan pembunuhnya! Sadar akan kehebatan Kiiab Wasiat lblis yang ada di balik pakaian Pangeran Matahari , Wiro tidak berani melaksanakan serangan balasan. Berkat aliran kekuatan gila yang memancar dari tubuh harimau putih Datuk Rao-Bamato Hijau Wiro kini bisa bergerak sangat cepat. Tubuhnya laksana bayang-bayang berkelebat kian kemari mengelakkan serangan Kapak Naga Geni 212 yang dilancarkan Pangeran Matahari. Wiro sengaja keluarkan ilmu silat orang gila yang dipelajarinya dari Tua Gila. Tua Gila sendiri terkagum-kagum melihat kehebatan ilmu silatnya yang dimainkan Wiro. Dia yakin akan sangat sulit bagi lawan untuk bisa mencelakai Wiro. Belasan jurus berlalu tanpa Pangeran Matahari berhasil menyentuh tubuhnya. Namun bagaimanapun juga Wiromenyadari bahwa beliau tidak mungkin bertahan terus menerus. Apalagi dikala beliau ingat akan petunjuk dalam Kitab Putih Wasiat Dewa yang mengatakan: Menyerang ialah awal kekuatan sedang bertahan ialah tamat kekuatan ilmu silat. Dalam menghadapi musuh jahat , lebih dulu bertindak ialah tindakan sempuma daripada bertahan menunggu datangnya bencana.
Ratu Dyung dan tokoh silat golongan putih menyadari hambatan yang dihadapi Pendekar 212 dalam menghadapi musuh besamya itu. Mereka tak mungkin menolong. Berarti Wiro harus bisa bertindak sendiri.
Maka Wiro mulai berkelahi dengan cara memutari lawan. Dia berusaha mengintai kelengahan Pangeran Matahari. Serangan berputar merupakan satu-satunya serangan yang mungkin bisa membawa hasil. Namun Pangeran Matahari yang cerdik dan tahu gelagat segera melompat memunggungi dinding bukit karang. Dengan demikian Wiro tidak sanggup lagi mengitarinya dan kini kembali Pangeran Mataharl melancarkan serangan dengan Kapak Maut Naga Geni 212. Serangan sang Pangeran tiba tidak putus-putusnya laksana curahan air terjun.
Benteng pertahanan Wiro jadi jebol juga akhimya ketika Pangeran Matahari mulai menyerangnya dengan pengecap api yang keluar dari mata Kapak Naga Geni 212 setiap diadu dengan watu mustika hitam. Murid Sinto Gendeng dibikin kalang kabut. Pakaian dan tubuhnya hangus di beberapa bagian. Sakitnya bukan alang kepalang. Dengan kertakkan geraham menahan sakit Wiro bertahan terus sambil memutar otak. Yang paling cemas menyaksikan koadaan Pendekar 212 dikala itu ialah Ratu Duyung dan Bidadari Angin Timur. Mereka mirip jadi gatal tangan ingin membantu.
Jurus demi jurus berlalu cepat. Pendekar 212 terdesak hebat. Dalam satu gebrakan gencar Wiro sempat terhalang oleh gundukan tinggi watu karang di belakangnya. Sebelum beliau mati langkah , Wiro segera melompat ke kiri. Pada dikala itu pula Kapak Maut Naga Geni 212 tiba berkelebat. Walau murid Sinto Gendeng ini berhasil mengelak namun ujung salah satu mata kapak masih sempat mengirls pundak kirinya. Asap mengepul dari luka di pundak itu. Tubuh Wiro serta merta diselimuti hawa panas. Goresan luka menghitam dan menggembung dengan cepat Tampang Wiro tak hentinya mengerenyit menahan sakit!
Di hadapannya Pangeran Matahari tertawa bergelak sambil terus putar-putar Kapak Naga Geni 212 di tangan kanan.
"Celaka!" Baru saja Wiro mengeluh serangan lawan kembali menggempur betiubi-tubi. Di tangan Pangeran Matahari Kapak Naga Geni 212 seolah lenyap. Yang kelihatan hanya kilauan sinar putih panas disertai bunyi menyeramkan mirip ribuan tawon mengamuk. Dalam satu gebrakan maut Wiro terjepit di antara dua gundukan watu karang. Kapak Maut Naga Geni 212 kembali berkiblat dad arah kirinya. Dari samping kanan watu hitam miliknya tiba menyambar , dijadikan senjata pemukul oleh lawan. Mengelak ke kiri tubuhnya terhalang oleh gundukan watu karang. Begitu juga kalau beliau selamatkan diri engan melompat ke kanan. Celah di antara dua gundukan karang terlalu sempit hingga beliau tidak bisa lolos dari kejaran dua senjata miliknya sendiri yang tiba menghantam.
Wiro menciptakan gerakan untuk mengelakkan sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 lebih dulu Temyata serangan itu hanya tipuan belaka. Ketika beliau gres saja menyelamatkan diri dengan memiringkan tubuh ke kanan , dari arah yang bersamaan tiba menyambar watu mustika hitam! Wiro hendak menangkis. Untung beliau segera ingat. Tangkisan dibatalkan untuk menghindari melesatnya sinar maut dari Kitab Wasiat lblis yang ada di balik dada pakaian Pangeran Matahari. Yang kemudian bisa dilakukannya hanyalah membuang diri ke samping. Bahu kanannya selamat dari hantaman watu hitam namun rusuknya berada dalam keadaan terbuka.
"Kraakkk!"
Ratu Duyung keluarkan pekik tertahan. Para tokoh lainnya terkesima dengan mata melotot! Ratu Duyung tahu apa yang terjadi dengan Wiro. Maka beliau pun berteriak. "Wiro bertahan terus! Putar otakmu! Kau pasti bisa menemukan kelemahan lawan!"
"Ratu Duyung! Mengapa cuma berleriak-teriak saja dari pinggir kalangan! Lebih baik kau bergabung dan membantu Anak Anjing ini!"
Ratu Duyung tidak melayani ucapan Pangeran Matahari. Diamdiam beliau berdoa biar Wiro bisa memecahkan kelemahan lawan. Akibat hantaman watu mustika hitam tadi salah satu tulang iga di sisi kanan Pendekar 212 melesak
patah. Sakitnya bukan kepalang. Seumur hidup gres sekali ini Wiro merasa sakit begitu rupa hingga keringat hirau taacuh memercik di sekujur tubuhnya!
Pangeran Matahari tertawa lebar. "Pendekar 212 , sayang sekali kau harus mati secara pengecut Sama sekali tidak berani balas menyerang!
Wiro kertakkan geraham. Dia terpaksa mengalirkan sebagian tenaga dalamnya ke cuilan yang cidera. Nafasnya terasa sesak. Gerakannya menjadi agak lamban. "Gila Aku harus bertahan mati-matian , Aku harus menemukan cara menghadapi Pangeran keparat ini! Kalau tidak cepat atau lambat beliau pasti akan membantaiku!" Wiro tidak mengkhawatirkan tulang iganya yang patah. Yang ditakutkannya ialah racun Kapak Maut Naga Geni 212 yang melukai bahunya sebelah kiri. Tubuhnya sudah terasa panas tanda racun senjata itu mulai bekerja.
Setelah hampir enam puluh jurus baku hantam murid Sinto Gendeng mulai mendapatkan nalar , menemukan cara terbaik menghadapi musuh besamya itu sekaligus menghindari sinar hitam mematikan melesat keluar dari Kitab Wasiat Iblis.
Wiro yakin sinar hitam mematikan yang keluar dari Kitab Wasiat lblis yang ada di dada Pangeran Matahari tidak akan keluar terus menerus mirip air yang mengucur. Berarti bagaimanapun singkatnya ada sedikit waktu antara semburan sinar pertama dengan semburan berikutnya.
"Pangeran Matahari , apakah kau tidak ingin cepat-cepat menemui gurumu di akhirat?!" Wiro berseru kemudian tertawa mengejek.
"Pendekar Jahanam! Apa kau kira saya bisa terpancing dengan nalar bulusmu itu!" Sang Pangeran menyahuti walau hatinya panas.
"Kau sudah terluka Ajalmu hanya tinggal menunggu waktu!" Lalu kembali Pangeran Matahari kiblatkan Kapak Maut Naga Geni 212. Serangannya lebih dipercepat disertai tipuan-tipuan mematikan! Hebatnya dalam keadaan masih memegang watu hitam di tangan kiri , dengan tangan yang sama beliau bisa melepaskan dua pukulan sakti berturut-turut yaitu pukulan "Gerhana Matahari" dan "Merapi Meletus".
Teluk Penanjung laksana dihantam gempa. Dua letusan keras menggelegar. Ditambah berkiblatnya alnar menyilaukan disertai menghampamya hawa panas luar biasa. Murid Sinto Gendeng secepat kilat melompat dan berlindung di balik satu gundukan besar watu karang. Dari sini untuk pertama kalinya beliau lancarkan serangan dengan pukulan Sinar Matahari.
Pada dikala itu juga dari dada sang Pangeran melesat keluar sinar hitam menggidikkan. Sinar putih dan sinar hitam beradu dahsyat di udara. Kembali teluk Penanjung di Pangandaran itu mirip diguncang gempa dan topan prahara. Batu karang tempat Wiro bersembunyi pecah berantakan dengan warna bermetamorfosis kehitaman dan mengepulkan asap. Secepat kilat Pendekar 212 berkelebat ke balik watu karang yang lain. Dari sini sekali lagi beliau melepas pukulan "Sinar Matahari". Ketika Kitab Wasiat lblis membalas serangan itu dengan lesatan sinar hitam , untuk kesekian kalinya teluk Penanjung bergetar hebat. Pasir beterbangan ke udara menutup pemandangan.
"Hemmm …" murid Sinto Gendeng bergumam penuh arti. Kini beliau telah menemukan satu nalar untuk menghantam musuh besamya itu. Kali ketiga beliau berkelebat , Wiro sengaja mencari watu karang yang paling dekat jaraknya dengan Pangeran Matahari.
Didahului bentakan keras Wiro munculkan kepala dari balik watu karang kemudian menghantam. Kali ini pukulan sakti itu tidak diarahkannya pada lawan tapi sengaja dihantamkan menyusur pasir teluk. Begitu sinar putih menderu , laksana disapu topan , pasir di teluk itu beterbangan ke udara. Di depan sana sinar hitam kembali melesat dari dada sang Pangeran. Wiro hanya punya waktu singkat sekali. Selagi pemandangan tertutup pasir yang beterbangan di udara Wiro kerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke arah Pangeran Matahari.
Selagi melayang di udara beliau tiup tangan kanannya. Serta merta di telapak tangan Pendekar 212 muncul gambar harimau kepala putih bermata hijau. Begitu berada di atas lawandan mengira Pangeran Matahari tidak sempat melihat gerakannya Wiro pribadi dorongkan telapak tangan kanannya dalam jurus keenam dari Enam Inti Kekuatan Dewa yang disebut Tangan Dewa Menjebol tanah. Yang diarah ialah kepala Pangeran Matahari.
Tapi temyata sang Pangeran masih sempat melihat Saat itu juga dari balik dadanya di mana tersembunyi Kitab Wasiat lblis menderu sinar hitam mematikan.
Kalau Wiro berseru kaget alasannya ialah tak mengira lawan maslh bisa melihat gerakannya , sebaliknya Pangeran Matahari juga keluarkan seruan tertahan dan terbelalak alasannya ialah tlba-tiba beliau melihat kepala lawannya bermetamorfosis kepala seekor harimau putih. Perubahan Ini terus berlangsung hingga ke kaki. Di lain kejap satu sosok harimau putih mengaum keras dan seolah keluar dari tubuh Wiro , melompat ke arah Pangeran Matahari.
"Datuk Rao Bamato Hijau!" desis Pendekar 212 dengan pengecap bergetar. Sinar hitam berkiblat menghantam harimau putih. Binatang sakti bemama Datuk Rao Bamato Hijau Ini terlempar ke belakang sejauh empat tombak.
Auman keras menggelegar keluar dari mulutnya. Terjadi satu hal yang hebat. Sinar hitam sakti Kitab Wasiat lblis melesat terus ke depan , berusaha menghancurkan Datuk Rao Bamato Hijau. Tetapi tidak berhasil. Hal ini menciptakan Pangeran Matahari terkejut besar dan kerahkan seluruh tenaga dalamnya. Sebaliknya harimau putih dengan segala kesaktian yang dimilikinya berusaha bertahan. Dia bukan saja bisa menahan serangan sinar hitam yang mematikan itu malah perlahan-lahan hewan Ini mulai menyedot sinar hitam itu hingga perlahan-lahan masuk ke dalam mulutnya.
Tersedotnya sinar hitam Kitab Wasiat lblis menciptakan tubuh Pangeran Matahari ikut terbetot ke depan. Dadanya mendenyut sakit. Kitab Wasiat lblis yang terikat ke dadanya terasa bergetar. Pangeran matahari kerahkan tenaga luar dalam untuk balas menarik . Tapi gagal. Dia memaksa bertahan walau bertahap kedua kakinya terseret ke depan.Rasa sakit di dadanya bertambah-tambah. Dengan Mata mendelik beliau melihat bagaimana harimau putih Di depannya seolah menelan sinar hitam sakti Kitab wasiat Iblis. Akibatnya tubuhnya semakin terbetot ke depan. Dia coba memukul , namun tangannya seolah kaku. Kedua kakinya kembali terseret. Tubuhnya semakin dekat dengan harimau putih.
Ketika Pangeran Matahari berusaha bertahan habis-habisan dari sedotan harimau putih , isi dadanya seolah terbetot keluar. Dari mulutnya menyembur darah. Semakin beliau bertahan semakin keras sedotan harimau putih dan semakin banyak darah yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya dikala demi dikala menjadi lemas. Mukanya yang congkak memutih pucat. Dia berteriak keras ketika sinar hitam terakhir lenyap ke dalam lisan harimau putih.
Datuk Rao Bamato Hijau mengaum keras. Mulutnya yang bertaring besar mengerikan menyambar ke dada Pangeran Matahari.
"Breettt!"
Baju hitam sang Pangeran robek besar di cuilan dada. Dia keluarkan seruan keras ketika dilihatnya Kiab Wasiat lblis miliknya kini berada dalam gigitan harimau putih bermata hijau itu. Dia berusaha merebut sambil hantamkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke kepala Datuk Rao Bamato Hijau. Namun kapak hanya menyambar setengah jengkal di depan hidung harimau bermata hijau itu. Sebelum Pangeran Matahari menyerang den berusaha merebut kitab itu kembali , Datuk Rao Bamato Hijau mirip menyantap daging segar memasukkan Kitab Wasiat lblis ke dalam mulutnya , mengunyahnya kemudian ditelan habis.
Pangeran Matahari berteriak mirip menggerung. Lemaslah Pangeran Matahari melihat apa yang terjadi. Walau sosok harimau putih itu lenyap seolah masuk kembali ke dalam tubuh Pendekar 212 namun insan segala cerdik segala licik dan segala congkak itu sudah leleh nyalinya. Setelah kirimkan serangan beruntun dengan Kapak Naga Geni 212 beliau memutar tubuh dan menghambur ke atas bukit karang.
Ini ialah satu hal yang tidak pernah diduga oleh Wiro dan semua orang yang ada di situ. Pangeran Matahari yang berkepandaian tinggi itu ketakutan dan melarikan diri!
*
* *
* *
TlGA BELAS
PENDEKAR 212 tentu saja tidak mau melepas-kan musuh besamya ini. Apalagi sang Pangeran masih memegang Kapak Maut Naga Geni 212 dan watu hitam miliknya. Sekali beliau berkelebat Wiro berhasil menyusul Pangeran Matahari di ujung paling atas bukit karang yang menjorok ke laut.”Buntu! ”
Pangeran Matahari tak bisa meneruskan larinya. Di bawah sana menghadang jurang watu karang yang dalam dan taut biru gelap.
"Pendekar jahanam! Aku mengadu jiwa dengan-mu Paling tidak kita sama-sama mati" teriak Pangeran Matahari kemudian babatkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke arah Wiro. Murid Sinto Gendeng cepat menghindar. Saat Itu gambar kepala harimau putih bermata hijau masih menempel di tangan Wiro. Namun sesudah lawan tidak lagi memilikl Kitab Wasiat lblis yang mengeluarkan sinar hitam mematikan , Wiro merasa tidak perlu mengandalkan llmu Pukulan Harimau Dewa itu. Dia lngin menghadapi musuh besamya itu secara jantan dengan llmu yang dimiliki sebelumnya.
Maka tanpa pikir panjang lagi Wiro menghantam kan tangan kanannya ke puncak bukit tempat lawannya berpijak , melepas pukulan "Dewa Topan Menggusur Gunung".
Pangeran matahari tidak tinggal diam. Dengan tangan kiri beliau balas melepas pukulan "Merapi meletus“. Dua pukulan saktl bertemu. Satu letusan keras menggelegar di puncak bukit karang. Batu karang tempat berpijak Pangeran Matahari hancur berantakan.
Untung beliau cepat melompat selamatkan diri ke cuilan yang lebih rendah. Namun di dikala yang sama Pendekar 212 telah melesat ke cuilan bukit yang lebih tinggi. Dari sini murid Sinto Gendeng berkelebat ke bawah sambil keluarkan jurus "Kepala Naga Menyusup Awan" disusul "Kilat Menyambar Puncak Gunung".
Dalam keadaan melayang turun murid Sinto Gendeng hantamkan dua tangannya secara beruntun.
"Bukkk! Bukkkk!"
Darah muncrat dari hidung dan lisan Pangeran Matahari yang hancur dilanda jotosan tangan kiri Wiro. Pukulan asisten Pendekar 212 menyusul melabrak pipinya sebelah kiri hingga tulang pipi dan rahangnya remuk , mata kiri luka parah , melesak ke dalam! Tubuhnya yang tidak punya daya kekuatan itu mencelat mental ke arah jurang watu karang yang terbentang di balik bukit! Kapak Maut Naga Geni 212 dan watu hitam sakti terlepas dari tangannya. ikut jatuh ke dalam jurang watu karang.
"Celaka!" seru Wiro. Dia berusaha mengejar namun terjatuh. Dia terkapar menelungkup dengan sekujur tubuh bergetar. Dengan susah payah beliau berusaha bangun. Racun Kapak Naga Geni 212 yang masuk ke dalam tubuhnya bekerja tambah keras!
Pada dikala dua senjata mustika warisan Eyang SInto Gendeng dari gunung Gede itu melayang jatuh Ke jurang , sehelai benang putih berkilat melayang di udara. Dengan kecepatan luar biasa benang ini melibat kapak Maut Naga Geni 212 dan watu hitam sebelum kedua senjata ini jatuh masuk ke dalam jurang watu karang.
"Benang sutera sakti!" seru Wiro gembira. Dia sudah tahu siapa yang menolongnya , bukan lain Dewa Tuak. Begitu kapak dan watu tersentak ke arahnya dengan cepat Pendekar 212 menyam bamya. Dia berhasil memegang Kapak Naga Geni 212 dan watu hitam sakti. Lalu berpaling ke bawah.
Di lereng bukit dilihatnya Dewa Tuak menyeringai adanya.
"Dewa Tuak , saya sangat berterima kasih. …" Wiro
”Anak setan! Lekas kau telan obat pemunah racun ini!" kata Sinto Gendeng kemudian tanpa menunggu lebih usang sebutir benda hitam disumpalkannya ke dalam lisan Wiro.
"Pendekar hebat Kau terluka ya? Ha … ha … ha…?" Bujang Gila Tapak Sakii telah berada pula di sana sambil berkipas-kipas dengan kopiah hitamnya.
Lalu dengan tangan kirinya ditepuk-tepuknya sekujur tubuh Wiro. Ketika tangan yang besar dan berat itu menepuk keras di bekas luka dan patahan tulang iganya , Wiro yang tak sanggup menahan sakit menjerit keras. Bujang Gila Tapak Sakti tertawa bergelak. Apa yang dilakukannya tadi bukanlah satu tindakan usil belaka. Tapi sebenamya beliau lelah melaksanakan pengobatan.
Sinto Gendeng mengerenyit ketika melihat luka di pundak kiri Wiro lenyap tidak berbekas. Wiro sendiri merasa dadanya lega , kekuatannya timbul kembali dan tulang iganya yang patah tidak lagi terasa sakit inilah kehebatan Bujang Gila Tapak Sakti. Memiliki kesaktian untuk mengobali orang dengan cara aneh.
Pendekar 212 menarik nafas dalam. Setelah selipkan kapak dan simpan watu hitamnya beliau berlutut dan menengadahkan tangannya ke atas.
"Terima kasih Tuhan. Kau telah menolongku! Datuk Rao Bamato Hijau sahabatku , saya juga berterima kasih padamu!"
"Kita memang patut bersyukur! Pangeran Matahari sudah mati! Dunia persilatan selamat dari malapetaka besar!" Terdengar bunyi seseorang dari kaki bukit. Semua kepala menoleh ke bawah. Yang bicara temyata ialah Si Raja Penidur. Dedengkot gila dunia persilatan ini kelihatan duduk dalam keranjang rotannya. Mengepulkan asap pipanya dua kali , menggeliat kemudian berguling kembali ke dalam keranjang. Tidur lagi!
Mengetahui para tokoh silat temyata sudah berada di sekelilingnya. Wiro segera pula menghaturkan terima kasih atas semua pertolongan mereka. Lalu sang Pendekar jatuhkan diri di depan Sinto Gendeng.
"Eyang , harap maafkan kalau muridmu ini telah membuatmu susah. Aku mengaku terus terang telah banyak berbuat salah! Terima maaf dan penghormatanku!"
"Anak setan Sekian usang kau tidak pernah muncul. Diberi kiprah malah bertingkah seenaknya!"
Eyang Sinto Gendeng menjawab dengan muka cemberut.
"Sinto , kau ini tidak berubah. Terhadap muridmu mirip anjing dan kucing saja. Kalau tidak bertemu kau bilang kangen. Kalau sudah bertemu kau selalu memarahinya! Sudah , serahkan saja Kitab Putih Wasiat Dewa itu padanya. Lalu kita tinggalkan tempat ini!"
Sinto Gendeng berpaling. Kalau saja bukan Tua Gila yang berkata pasti sudah didampratnya. Dari balik pakaiannya Sinto Gendeng keluarkan Kitab Putih Wasiat Dewa yang orisinil kemudian diletakkannya di atas kepala sang murid. "Ambil dan lekas kau simpan Jangan hingga dicuri orang lagi!"
"Guru , bagaimana kitab itu bisa berada di tanganmu?" bertanya Pendekar212 seraya menyimpan kitab sakti itu di balik pakaian hitamnya.
"Tidak lain alasannya ialah ketololanmu Cinta membuta kan mata dan hati serta perasaanmu Bukankah kau hendak menyerahkan kitab ini dulu pada gadis yang berpura-pura menjadi Bidadari Angin Timur padahal beliau ialah kaki tangan dan kekasih Pangeran Matahari?" Sebelum kau melaksanakan perbuatan gila itu saya dan Iblis Putih Ratu Pesolek menyiasati. Kaml muncul dengan pakaian gila berupa selubung kain putih. Kau kami robohkan dengan asap beracun. Selagi kau pingsan Kitab Putih Wasiat Dewa yang orisinil kami ambil dari balik pakaianmu , kami ganti dengan yang palsu. Kitab palsu itulah yang kemudian kau serahkan pada bidadarimu itu!"
Wiro manggut-manggut berulang kali. "Guru , saya berterima kasih atas semua pertolonganmu …. Juga padamu …" kata Wiro seraya berpaling pada lblis Putih Ratu Pesolek yang tegak di samping Dewa Tuak.
"Aku juga berterima kasih padamu ," kata Wiro pada si nenek. Perempuan renta berdandan menor ini tersenyum dan kedipkan matanya.
Sunyi Sesaat kemudian terdengar bunyi sesenggukan Dewa Sedih. yang kuasa Ketawa mulai mesem-mesem kemudian tertawa perlahan makin usang makin keras.
"Guru , saya mencium anyir wangi sekali. Biasanya kau … !"
"Anak setan Jaga mulutmu" hardik Sinto Gendeng pada muridnya sambil pelototkan mata.
lblis Putih Ratu pesolek tertawa cekikikan. "Pendekar 212 , saya yang menyampaikan minyak wangi pengharum tubuhnya ,. Katanya beliau takut. Kalau tidak pakai minyak wangi kau akan gampang mengenali tubuhnya yang selalu anyir pesing!"
Dewa Ketawa , Bujang gila Tapak Sakti dan Dewa tuak tertawa gelak-gelak. Kakek Segala Tahu ke rontangkan kaleng bututnya , iblis pemabuk sesudah Ikut tertawa mengekeh kemudian teguk tuak kerasnya dari Dalam kendi tanah.
"Kalian edan semua!" teriak Eyang Sinto gendeng.
Dia menarik lengan Tua Gila. "Ayo kita tinggalkan"
”Anak setan , jaga dirimu baik-baik!"
"Eyang , tunggu dulu Ada satu hal yang ingin Aku kutanyakan. Hal sangat penting!" Berteriak Wiro ketika Sinto Gendeng hendak berkelebat pergi bersama Tua Gila.
"Anak setan! Kau benar-benar ingin kutampar Apa lagi keperluanmu?!" hardik Sinto Gendeng murka Tapi beliau hentikan juga langkahnya.
Wiro membawa gurunya ke tempat yang agak jauh , hanya Tua Gila yang mendatangi mendekati mereka. Wiro kemudian menceritakan dengan cepat hal ihwalnya dengan Ratu Duyung.
"Eyang , menurutmu apakah saya harus memenuhi permintaannya. Tidur dengan beliau biar beliau bisa bebas dari kutukan itu? "
"Hemmmm …." Sepasang mata Sinto Gendeng berputar-putar. Dia melirik pada Tua Gila di sampingnya. Sambil menyikut rusuk si kakek beliau berkata.
"Kalau kau tanyakan hal itu pada renta bangka ini , pasti beliau akan menjawab lakukan saja! Sekarang menurutmu sendiri bagaimana anak setan?!"
Wiro jadi galau dan garuk-garuk kepala.
"Aku berhutang budi dan nyawa padanya. Tapi saya juga takut berdosa … !"
Eyang Sinto Gendeng tertawa mengekeh. "Urusan dosa ialah urusan insan dengan Tuhannya. Urusanmu ialah antara insan dengan manusia. Aku tidak akan menyampaikan ya atau tidak. Semua terserah padamu!" Sinto Gendeng kemudian puntir pendengaran muridnya hingga Wiro meringis kesakitan.
Sesaat kemudian bersama Tua Gila beliau sudah berkelebat lenyap dari tempat itu! Hanya bunyi cekikikannya yang masih terdengar di kejauhan.
Wiro ingat pada Bidadari AnginTimur , sempurna pada dikala gadis itu hendak meninggalkan tempat itu sambil mendukung mayat adik kembarnya. "Bidadari Angin Timur , saya turut sedih atas kematian adikmu. Bisakah kite bicara dulu sebelum kau pergi?"
Bidadari Angin Timur menatap paras Wiro. Dalam hati beliau membatin. "Dia tadi menyampaikan terus terang bahwa beliau menyayangi diriku. Apakah saya mencintainya …?"
"Wiro , saya sedang berduka. Jika umur sama panjang dan kita bisa berjumpa lagi pasti kita bisa bicara panjang lebar. Saat ini saya harus pergi dulu… . Aku harus mengurus mayat adikku ini."
"Aku mendengar kau menyebut nama adikmu. Pandan Arum. Kalau saya boleh tahu namamu sendiri siapa sebenamya?"
Bidadari Angin Timur hanya menarik nafas panjang.
"Namaku biarlah tersimpan dulu untuk menjadi kenangan bagimu. Suatu ketika saya akan memberi tahu …. Maafkan aku. Aku harus pergi kini …."
Wiro perhatikan kepergian Bidadari Angin Timur dengan banyak sekali perasaan. Dia merasa sudah saatnya pula untuk meninggalkan tempat itu. Ketika beliau berpaling dilihatnya Dewa Tuak dan lblis Putih Ratu Pesolek sudah tak ada lagi di tempat itu.
Ratu Duyung dilihatnya melangkah tertunduk menuju kereta kencana putihnya yang telah disiapkan oleh dua orang anak buahnya. Sesaat beliau memandang pada Kakek Segala Tahu. Lalu cepat- cepat menemui orang renta itu.
"Aku tahu kau hendak menanyakan sesuatu ," kata si kakek sambil tertawa lebar dan goyangkan tangan kanannya yang memegang kaleng.
"Kau tak usah bertanya. Aku siap menyampaikan jawaban. Terkadang seseorang harus mengorbankan sesuatu untuk sesuatu yang sudah didapatnya!" Wiro jadi terdiam mendengar ucapan Kakek Segala Tahu itu. Di sebelah sana pintu kerela kencana sudah terbuka. Ratu Duyung siap naik. Saat itu Bujang Gila Tapak sakti tiba menepuk pundak Pendekar 212.
"Kalau kau tidak suka dengan gadis itu , saya tidak keberatan menggantikanmul Bagaimana?" Si gendut ini bertanya sambil kedip-kedipkan matanya dan berkipas-kipas. Wiro purukkan kopiah hitam di atas kepala si gendut hingga menutupi kedua matanya kemudian berlari ke arah kereta pada dikala pintu kereta tertutup dan roda-rodanya mulai bergerak.
"Ratu Duyung!" panggil Wiro.
Kereta berhenti , kepala Ratu Duyung muncul di jendela.
"Ada apa Wiro…?
"Aku … apakah saya boleh ikut bersamamu?"
Ratu Duyung mengetuk dinding kereta. Kendaraan itu berhenti.
"Ah , ini merupkan satu kejutan bagiku Setahuku setiap tamu yang tiba ke tempat kediamanku ialah atas undangan atau kehendakku. Apakah kau mendapatkan undangan Wiro…?"
Paras Pendekar 212 menjadi kemerahan.
"Aku juga tidak ingin mengecewakan orang lain …."
"Maksudmu Ratu?" tanya Wiro.
"Bidadari Angin Timur. ..!’
"Dia … !’ Lama Wiro terdiam. "Aku terlalu banyak mengharap padanya. Ternyata … !’ Wiro tidak meneruskan ucapannya.
"Begitu? Tapi kurasa masih ada seorang gadis menunggu kepastian darimu …."
"Eh , siapa?"
"Lihat ke sana. Dekat watu karang besar itu tegak seorang gadis berpakaian putih … !’
Wiro berpaling ke arah yang dikatakan Ratu Duyung. Di sana dilihatnya Dewi Payung Tujuh tegak memandang ke arahnya.
Dia gadis baik. Hanya sayang tergoda perintah gurunya tanpa beliau sanggup menimbang … !’
"ltulah hidup. Setiap kita akan menghadapi satu atau beberapa duduk perkara yang kita tidak bisa memecahkannya sendiri. Sementara orang lain tak ada yang mau menolong …."
Wiro terdiam. Ucapan Ratu Duyung merupakan suatu sindiran baginya. Ratu Duyung mengetuk dinding kereta. Kendaraan itu bergerak. Murid Sinto gendeng tertegak membisu dan hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Agaknya Ratu Duyung tidak senang lagi terhadapku. Mungkin beliau murka , mungkin juga cemburu… !’
Wiro membatin seolah meratapi diri sendiri. tapi tiba-tiba dilihatnya pintu kereta terbuka kemudian ada tangan halus melambai memanggilnya. Melihat hal ini tanpa menunggu lagi Pendekar 212 segera lari mengejar kereta dan melompat masuk melalui pintu yang dibukakan oleh Ratu Duyung!
Di pedataran pasir terdengar bunyi riuh orang tertawa , menangis dan bertepuk tangan. Ternyata mereka ialah para tokoh silat golongan putih yang masih ada di tempat itu. Wiro keluarkan kepala kemudian melambaikan tangan pada semua mereka hingga akhimya mereka lenyap di kejauhan.
Di kaki bukit kereta putih itu berputar. Ketika Wiro mencicipi kereta itu bergerak menuruni pantai Dan beliau melihat air maritim maka terkejutlah Wiro. "Ratu …. Kita ini mau ke mana?"
Ratu Duyung menatap ke depan dan menjawab.
” bukankah katamu kau mau ikut ketempatku?” ”betul…. tapi ini …..mengapa kereta menuruni pantai masuk kedalam laut?”
Ratu duyung tertawa panjang. "Apa kau lupa bahwa jalan ketempat kediamanku ialah melewati maritim selatan ini?"
"Kau dan anak buahmu orang sakti. Aku bisa mati karam dalam air maritim ….“
"Akan kita lihat nanti apa kau benar-benar mati….”
kata Ratu Duyung pula sementara air maritim telah mencapai pinggiran jendela. Dalam takutnya berusaha membuka pintu kereta. Ratu Duyung menarik baju hitamnya. Ketika beliau berpaling pandangan mata Pendekar 212 bertemu dengan sepasang mata biru bagus sang Ratu.
"Aku… saya tak ingin mati tenggelam” kata wiro
"Aku juga tidak ," jawab ratu duyung dengan damai dan sambil tersenyum Wiro jadi ternganga kemudian garuk-garuk kepala dan akhimya ikut-ikutan tersenyum. Lalu dengan bunyi perlahan beliau berkata.
"Matipun tak jadi apa alasannya ialah saya tidak akan mati sendirian. Ada seorang ratu yang bakal menemani diriku di dasar laut!"
Ratu Duyung tertawa panjang. Suara tertawa yang mirip bulu perindu itu menciptakan Wiro tidak sadar kalau air maritim sudah mencapai lehemya.
TAMAT
SEGERA MENYUSUL :
TUA GILA DARI ANDALAS
SEGERA MENYUSUL :
TUA GILA DARI ANDALAS
No comments for "Simpulan Zaman Di Pangandaran WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"
Post a Comment