Kutunggu Di Pintu Neraka WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito
WIR0 SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tit0
EP : KUTUNGGU DI PINTU NERAKA
SATU
Dua s0s0k bayangan hitam berkelebat dalam gelapnya malam. Pada waku siang saja hutan belantara itu selalu diselimuti kegelapan dan dicengkam kesunyian.
Apalagi di malam buta mirip itu. Hingga dua s0s0k yang bergerak tadi tidak ubahnya mirip dua hantu tengah gentayangan.
“Kita sudah dekat…..” bisik bayangan di sebelah kanan. Ternyata beliau insan juga adanya.
“Betul , saya sudah sanggup mencium baunya ,” menyahuti bayangan satunya.
Keduanya terus lari ke arah Timur rimba belantara. Tak selang berapa lama mereka hingga di p0t0ngan hutan yang baynak ditumbuhi semak belukar setinggi dada.
Di sini mereka hentikan lari. Tegak tak bergerak dan juga tidak bersuara. Hanya sepasang mata masing-masing memandang tak berkedip ke depan.
Di atas serumpun semak belukar lebar terletak sebuah kerikil lebar berbentuk hampir pipih. Di atas kerikil ini duduk se0rang lelaki berpakaian r0mbeng penuh tambalan mirip pengemis. Dia mengenakan sebuah caping bamb00. Bagian depan caping ini turun ke bawah hingga dari wajahnya hanya dagunya yang ditumbuhi bulubulu bergairah saja yang kelihatan.
Bau absurd mirip bau bunga kamb0ja busuk tiba dari 0rang yang duduk bersila di atas kerikil ini. Entah berasal dari tubuhnya atau dari pakaiannya yang dekil k0t0r.
0tak dua 0rang yang barusan tiba cepat bekerja. Batu pipih itu beratnya paling tidak 30 hingga 40 kati. Tetapi mengapa semak belukar setinggi dada itu sanggup menahannya? Lalu ditambah pula dengan berat tubuh 0rang bercaping yang duduk bersila di atas batu. Semak belukar tetap berdiri tegak! Akal insan mana yang bisa mendapatkan kenyataan ini?!
“Aku tak menyangka beliau mempunyai ilmu setinggi ini ,” bisik 0rang di sebelah kiri.
“Dia sanggup menciptakan tubuh dan kerikil yang didudukinya seringan kapas ,” balas 0rang di sebelah kanan. “Tapi kalau cuma ilmu meringankan tubuhnya saja yang hebat , kenapa kita musti takut?”
“Lalu bagaimana? Kita teruskan?” tanya 0rang yang pertama tadi.
“Seharusnya kau tak usah bertanya begitu. Ucapanmu menandakan keraguan hati. Kau kecut , bahkan mungkin takut. Padahal , bukankah kita sudah bersumpah untuk menangkapnya hidup atau mati?” kata 0rang kedua pula dengan nada sengit.
Lalu cepat beliau menyambung. “Kau dari sebelah kiri. Aku dari kanan. Sekarang!”
Dua 0rang itu bergerak. Satu ke kiri , satu ke kanan. Tiba-tiba secara serempak mereka menyergap ke arah 0rang yang duduk di atas batu. Dari gerakan-gerakan mereka yang mengeluarkan bunyi angin bersiuran terang dua 0rang ini bukan hanya melancarkan serangan biasa , tetapi serangan-serangan dahsyat yang bisa meremuk dada dan merengkahkan kepala!
0rang bercaping di atas kerikil kelihatan tidak bergerak sedikitpun. Se0lah sama sekali tidak menyadari kalau dirinya tengah diancam ancaman maut. Sesaat lagi j0t0san dari kanan akan menghantam caping di atas kepalanya dan j0t0san dari kiri akan menghancurkan tulang dadanya , tiba-tiba dalam satu gerakan kilat yang hampir tidak terlihat 0leh mata telanjang , 0rang bercaping di atas kerikil angkat kedua tangannya.
“Wutt! Setttt!”
“Wutt Setttt!”
Dua penyerang sama berteriak kaget ketika dapatkan lengan kanan masingmasing yang mereka pergunakan untuk memukul tahu-tahu kena cekal 0rang!
Mereka cepat menyentak untuk bebaskan diri. Namun ceklan itu laksana japitan besi yang tak sanggup dig0yahkan. Terpaksa keduanya pergunakan tangan kiri untuk menghantam. Sayang gerakan mereka kalah cepat. Tubuh keduanya tampak terangkat ke atas. Lalu dalam gerakan kilat yang ditunjang dengan kekuatan luar biasa tubuh itu diadu satu sama lain!
“Praaakkk!”
Dua kepala berbentur keras.
Perlahan-lahan 0rang di atas kerikil lepaskan cekalannya. Dua 0rang yang tadi menyerangnya dan kini talah menjadi jenazah r0b0h di bawah , terkapar di tanah rimba belantara lembab.
Keadaan yang tadi sempat berisik kini kembali diliputi kesunyian. 0rang di atas kerikil duduk tak bergerak se0lah tidak terjadi apa-apa!
Sementara itu di atas sebuah p0h0n tinggi , dalam kegelapan malam , sulit terlihat 0leh mata telanjang , se0rang kakek bermuka kuning mengenakan pakaian selempang kain putih mirip se0rang resi , duduk di atas salah satu cabang p0h0n. Di tangan kanannya beliau memegang sebatang j0ran atau bambu pemancing. Pada ujung benang di mana terdapat mata kail yang dibalut sejenis getah , aneka macam hewan hutan yaitu serangga terbang , kunang-kunang , nyamuk dan sebagainya telah menjadi k0rban.
Mati melekat di mata kail.
Sungguh absurd keadaan 0rang bau tanah ini. Apakah beliau menganggap dirinya tengah memancing? Walaupun beliau tidak bergerak atau bersuara namun apa yang terjadi di bawah sana yaitu selesai hidup mengerikan dua 0rang yang menyerang , sama sekali tidak luput dari pandangannya. Malah sewaktu dua 0rang itu jatuh bergedebukan di tanah tanpa nyawa dan kepala rengkah , dalam hatinya 0rang bau tanah di atas p0h0n mengejek.
“Manusia-manusia t0l0l! Kalau ilmu cuma sejengkal mengapa berani tiba ke tempat ini! Mencari masalah mencari mati!”
Kesunyian di tempat itu ternyata tidak berlangsung jauh. Karena tak selang berapa lama kemudian entah dari mana datangnya ses0s0k tubuh renta bungkuk dengan punuk di tengkuknya tahu-tahu muncul di tempat itu kemudian duduk sejarak lima langkah dari hadapan semak belukar di atas mana ada kerikil dan duduk 0rang bercaping. 0rang yang gres darang ini berambut kelabu dan di tangan kanannya ada sebatang t0ngkat hitam.
Dua mata 0rang bau tanah berambut kelabu ini kecil dan selalu berputar liar , melirik ke kiri dan ke kanan. Sekilas beliau memperhatikan 0rang di atas kerikil , kemudian memperhatikan dua s0s0k yang sudah jadi jenazah , kemudian kembali lagi memperhatikan 0rang bercaping. Kemudian kelihatan beliau geleng-gelengkan kepala.
“Anak-anak insan malang! Kalian mampus percuma. Akibat meminta lebih dari kemampuan!” Si rambut kelabu membuka mulut. Lalu beliau ketukkan t0ngkat hitamnya ke tanah.
“Duk….duk….dukkkk!”
Hebat sekali! Ketukan t0ngkat itu bukan saja mengeluarkan bunyi absurd jauh ke dalam tanah tetapi juga mengakibatkan semak belukar di hadapannya berg0yangg0yang.
G0yangan ini menciptakan kerikil hitam di atas semak-semak itu bergetar. Namun 0rang bercaping yang duduk di atasnya se0lah tidak mencicipi apa lagi terganggu.
Di atas p0h0n 0rang bau tanah bermuka kuning dan berpakaian mirip resi usap-usap j0ran bambunya. “Si bungkuk itu…… Hemmmmm…..” katanya dan bergumam dalam hati. “B0leh juga dia. Kepandaiannya jauh meningkat. Ketukan t0ngkatnya menciptakan p0h0n yang kududuki bergetar. Bahkan pantatku terasa mirip kesemutan.”
“Ck…..Ck…..Ck.”
“Tapi saya kurang yakin beliau bisa melaksanakan niatnya. Biar kutunggu saja sambil memancing…… Ah , mengapa sedikit sekali hasil pancinganku malam ini.”
0rang bau tanah berpunuk berhenti mengetuk-ngetukkan t0ngkat hitamnya. Dia maju dua langkah. Mulutnya tampak dipenc0ngkan. Sesaat kemudian terdengar beliau berucap.
“Keb0 Pradah. Kau b0leh menyamar seribu samaran. Sebagai resi , sebagai nelayan atasu sebaga petani. Juga sebgai pengemis seperi kau lakukan ketika ini. tapi kau tak bisa lari dari aku. Mata bau tanah ini tak bisa ditipu. Aku tiba menjemputmu! Apa jawabmu?!”
0rang di atas kerikil tidak bergerak. Juga tidak ada bunyi jawaban.
0rang bau tanah berambut kelabu di depan semak belukar menyeringai. Tangan kirinya mengusap-usap rambutnya beberapa kali kemudian tangan kanannya yang memegang t0ngkat bergerak.
Ujung t0ngkat eb0nit itu tiba-tiba menyusup ke bawah caping. Di depan mata kiri ujung t0ngkat berhenti se0lah hendak menusuk. Ternyata tidak. T0ngkat itu bergerak ke bawah kemudian berhenti sempurna pada cegukan di pangkal leher. Agaknya p0t0ngan inilah yang akan ditusuk. Jelas bac0kan membawa kematian!
“Aku bertanya sekali lagi Keb0 Pradah! Kau bersedia ikut saya atau bermaksud membangkang?!”
0rang bau tanah berpunuk menunggu. Yakin bahwa beliau tak bakal menerima balasan maka diapun keluarkan bunyi tawa mengekeh. Tiba-tiba kekehannya lenyap laksana direngut setan. Pergelangan tangan kanannya bergerak. Ujung t0ngkat benar-benar menusuk!
“Traaaaakkkk!”
0rang bau tanah berpunuk berseru kaget kemudian mel0mpat mundur hingga tiga langkah.
Dua matanya mendelik , memandang liar berganti-ganti ke arah 0rang di atas kerikil dan t0ngkat kayu hitamnya yang patah. Dia tidak sanggup melihat kapan 0rang di atas kerikil itu menggerakkan tangannya. Yang terang gerakan 0rang itu jauh lebih cepat dari bac0kan t0ngkatnya tadi.
Di atas p0h0n yang gelap , kakek bermuka kuning yang memegang j0ran geleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati beliau berkata. “Tua bangka bungkuk berpunuk itu ternyata cuma bermulut besar. Kalau 0taknya waras apa yang terjadi sudah cukup menjadi peringatan. Sebaiknya beliau lekas saja angkat aki dari tempat ini!”
Namun lain kata hati si kakek di atas p0h0n , lain pula ucapan 0rang bau tanah berpunuk.
“Bagus Keb0 Pradah! Bagus sekali! Kau memperlihatkan keperkasaanmu tanda kau memang pantas kuajak pergi. Tapi dari sikapmu tadi terang kau tetapkan untuk ikut saya tanpa nyawa di badan!” Si bungkuk berpunuk lemparkan patahan t0ngkat ke tanah. Dari mulutnya keluar bunyi lengkingan keras. Di lain kejap tubuhnya melesat ke depan. Ketika kedua tangannya dihantamkan , ada deru angin yang dahsyat mendahului serangannya. 0rang di atas kerikil maklum beliau kini tidak bisa bertindak gegabah. Dengan cepat beliau angkat kedua tangannya menangkis. Dua pasang lengan saling bentr0kan keras. Tapi anehnya sama sekali hampir tidak terdengar bunyi bergedebukan. Ini satu menerangkan bahwa kedua 0rang itu sama-sama mempunyai tenaga dalam yang tingginya sulit dijajagi. Terbukti dengan apa yang terjadi setelah bentr0kan lengan itu. kerikil di atas semak belukar kelihatan retak. Beberapa bagiannya malah hancur berkeping-keping. Asap mengepul dari batu. 0rang bercaping yang tadi duduk di atasnya lenyap entah kemana! Sebaliknya si bungkuk berpunuk tampak berlutut enam langkah dari depan semak belukar dengan sekujur tubuh bergetar.
Punuknya se0lah bertambah besar tiba-tiba.
“Des!”
Punuk itu meletus pecah! Darah muncrat mengerikan!
DUA
0rang bau tanah bermuka kuning di atas p0h0n leletkan lidahnya. “Si bungkuk itu tak bakal lama nyawanya ,” katanya dalam hati. “Keb0 Pradah niscaya tidak lepas dari hantaman tenaga dalam lawan. Tapi beliau berlaku cerdik. Tenaga sakti lawan diteruskannya ke atas kerikil yang tadi didudukinya. Karuan saja kerikil itu jadi retak bahkan pecah berkeping-keping!”
Si bungkuk berambut kelabu berusaha menahan sakit dengan mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Namun tak urung bunyi erangan terdengar juga keluar dari mulutnya. Tangan kirinya diulurkan ke belakang. Begitu beliau berhasil memegang punuknya yang pecah , 0rang ini menekan kuat-kuat. Sungguh luar biasa. Darah yang mirip memancur dari pecahan punuk serta merta berhenti mengalir.
Dengan mengumpulkan seluruh tenaga perlahan-lahan 0rang ini bangun berdiri.
“Keb0 Pradah! Dimana kau?! Jangan bersembunyi pengecut! Aku akan mengadu jiwa denganmu!” Si bungkuk memandang kian kemari. 0rang bercaping itu tidak kelihatan. Dia membalik! Tahu-tahu Keb0 Pradah sudah ada di depannya!
Si bungkuk keluarkan bunyi menggemb0r. Kedua tangan diulurkan ke depan.
Didahului bentakan keras beliau mel0mpat. Dua tangannya siap untuk mencekal dan mematahkan leher Keb0 Pradah. Namun tindakan nekadnya itu tidak membawa hasil.
Sebelum beliau sempat menyentuh leher yang jadi sasaran , 0rang bercaping gerakkan tangan kanannya.
“Praaaakkk!”
Kening si bungkuk pecah besar. Tubuhnya terjengkang. Jeritannya terdengar singkat lantaran maut keburu merenggut nyawanya!
Di atas p0h0n 0rang bau tanah bermuka kuning menghela nafas panjang. “Kasihan , satu k0rban lagi jatuh. Apa masih ada lagi insan t0l0l akan muncul mencari mati di tempat ini?”
Di bawah p0h0n Keb0 Pradah terdengar mendengus. “Tak terang apa maunya manusia-manusia itu. Mereka memburuku semenjak tiga puluh hari lalu. Hampir tidak memberi kesempatan bagiku untuk bernafas lega. Pintu Neraka….. Kudengar ada di antara mereka menyebut-nyebut nama itu. Apa betul ada Pintu Neraka? Di mana itu…..?” 0rang ini membetulkan letak capingnya kemudian memandang berkeliling sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar. Tiba-tiba Keb0 Pradah berseru.
“0rang di atas p0h0n! Sudah saatnya kau turun. Aku mau lhat tampangmu biar terang dan apa kepentinganmu di tempat ini , mendekam semenjak tadi di atas p0h0n!”
0rang bau tanah bermuka kuning di atas p0h0n tersentak kaget. J0rannya hingga berg0yang-g0yang. “Astaga , rupanya beliau tahu semenjak tadi kalau saya n0ngkr0ng di sini!
Ah , bagaimana ini. Mau tak mau saya harus turun juga! Mungkin sudah saatnya saya jarus memberi tahu padanya…..”
0rang bau tanah ini gulung tali kailnya. Baru saja beliau hendak mel0mpat turun tibatiba terdengar bunyi absurd di kejauhan. Kakek muka kuning dan Keb0 Pradah samasama tercekat dan saling d0ngakkan kepala. Suara absurd itu terdengar semakin keras tanda bertambah dekat.
“Hemmmmmm……” si muka kuning bergumam. “Itu bunyi ker0ntang kaleng .
Hanya ada satu insan yang membawa kaleng r0mbeng ke mana-mana. Kakek Segala Tahu….. Kalau tidak ada apa-apa tidak akan beliau muncul di tempat ini. Janganjangan beliau punya maksud yang sama….. Wah , apakah saya harus bentr0kan dengan 0rang satu g0l0ngan…..? Sebaiknya saya menunggu saja. Biar beliau muncul dulu di tempat ini….. Tapi Keb0 Pradah niscaya tidak sabar!” 0rang bau tanah ini berpikir sesaat.
Sementara itu bunyi ker0ntang kaleng terdengar mirip menjauh dan kesannya lenyap sama sekali.
“Mudah-mudahan dugaanku salah. Kakek Segala Tahu mungkin hanya kebetulan saja tersesat ke daerah ini. Sudahlah , biar saya turun saja menemui Keb0 Pradah……”
Sekali beliau mengg0yangkan tubuhnya , 0rang bau tanah bermuka kuning itu melesat ke bawah dan mejejakkan kedua kakinya di tanah tanpa mengeluarkan bunyi sama sekali. Dia tegak dengan muka menyeringai , j0ran bambu dimelintangkan di pundak kiri sementara tangan kiri berkacak pinggang.
“Ah , Si Pengail Sakti Bermuka Kuning rupanya!” kata Keb0 Pradah begitu beliau melihat siapa 0rang yang tegak lima langkah di hadapannya itu. “Apakah banyak hasil kailmu malam ini?”
“Cuma nyamuk dan serangga tak berguna. Ada beberapa ek0r kunang-kunang.
Lumayan dari pada tidak sanggup apa-apa sama sekali…..” jawab kakek bermuka kuning kemudian tertawa gelak-gelak.
Keb0 Pradah menunggu. Setelah Si Pengail Sakti hentikan tawanya beliau cepat berkata. “Sekarang katakan apa maksud kehadiranmu di tempat ini Pengail Sakti. Apa sama dengan 0rang-0rang yang sudah jadi jenazah ini?!”
Si Pengail Sakti usap muka kuningnya dua kali kemudian batuk-batuk beberapa kali.
Setelah itu beliau rapikan pakaian putihnya yang mirip pakaian se0rang resi , menciptakan Keb0 Pradah jadi tidak sabaran.
“Aku menunggu jawabmu Pengail Sakti. Jangan terlalu petantang petenteng di hadapanku. Atau sebaiknya kau lekas menyingkir saja dari tempat ini?!” Keb0 Pradah kesannya bicara dengan bunyi keras.
“Keb0 Pradah , usiamu belum hingga setengah umurku yang sudah seratus dua puluh tahun ini. Kaprik0rnus tak pantas bicara bergairah padaku….”
“Aku tidak mau tahu berapa umurmu! Jawab saja pertanyaanku tadi!” hardik Keb0 Pradah.
“Kalau begitu maumu baiklah. Aku tiba ke sini bahwasanya hendak memberitahu bahwa dirimu terancam ancaman besar…..”
“Hemmmm begitu? Baik sekali hatimu padaku. Tetapi mengapa ku hanya mendekam di atas p0h0n , tidak pribadi menemuiu dan memberi tahu?!”
“Begini , setiap saya hendak turun menemuimu , saya selalu kedahuluan 0leh 0rang-0rang yang muncul mencari urusan denganmu. Aku pikir sebaiknya saya menunggu saja hingga urusan kalian selesai…..”
“Berarti kau sengaja membiarkan saya dalam bahaya!”
“Tidak begitu. Karena kau tahu kau bakal sanggup menuntaskan urusan itu , maka sebaiknya saya tidak ikut campur. Buktinya kau bisa membereskan 0rang-0rang itu!”
“Katakan ancaman besar apa yang mengancam diriku…..”
Pengail Sakti memandang dulu berkeliling se0lah kawatir 0rang lain di tempa itu mendengarkan apa yang bakal dikatakannya. Lalu beliau maju dua langkah mendekati Keb0 Pradah.
“Ada hal luar biasa dalam dunia persilatan terjadi semenjak beberapa waktu lalu.
Jika hal ini dibiarkan dunia persilatan akan ambruk!”
“Katakan saja pribadi apa yang kau maksud dengan hal luar biasa itu!” kata Keb0 Pradah pula.
“Beberapa t0k0h silat g0l0ngan putih lenyap secara aneh. Beberapa t0k0h mengadakan penyelidikan. Ternyata satu kekuatan hitam telah mencullik mereka kemudian disekap di sebuah tempat yang tak mungkin bisa dimasuki 0leh insan biasa. Jika hal ini dibiarkan terus bukankah bisa menciptakan selesai zaman dunia persilatan? Lagi pula…..”
“Tunggu dulu! Apa hubungan kejadian itu dengan diriku…..” mem0t0ng Keb0 Pradah.
“Se0rang pakar dunia persilatn dari g0l0ngan putih yang saya tidak terang siapa adanya menyampaikan bahwa hanya kau yang bisa men0l0ng menyingkap tabir kejadian ini. Menyelamatkan t0k0h-t0k0h silat yang diculik itu , mengeluarkan dari sekapan dunia hitam…..”
Keb0 Pradah tertawa. “Selama ini 0rang-0rang persilatan mana pernah memperhatikan diriku. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka. Mereka menciptakan aneka macam macam urusan. Mereka sendiri yang harus menyelesaikan. S0al segala yang terjadi , dunia hitam dan kegaiban yang kau katakan itu , saya tidak perduli…..”
“Dengar dulu Keb0 Pradah. Beberapa 0rang sakti siap untuk masuk ke dalam dunia hitam makhluk-makhluk mistik sesat itu. Namun mereka tidak bisa tembus.
Meeka tahu wilayahnya tapi tidak tahu bagaimana caranya bisa masuk ke alam mistik itu.
Hanya mereka katakan kau yang bisa melakukannya. Kau punya kekuatan dan kemampuan yang tidak dimiliki 0rang lain……”
“Kau sudah d0ngeng banyak. Tapi belum menyampaikan apa keperntinganmu sendiri tiba ke sini. Hanya untuk memberitahu saya dalam ancaman dan bahwa saya yang bisa men0l0ng menyingkap tabir absurd itu? Aku tidak percaya. Kau niscaya punya kepentingan sendiri!”
Pengail Sakti tersenyum. Dia memandang lagi berkeliling. Lalu dengan bunyi perlahan beliau berkata. “Di alam mistik itu diketahui terdapat timunan harta perhiasan.
Kalau kita bisa masuk ke dalamnya kita bukan saja bisa men0l0ng para sahabat tetapi sekaligus bisa mendapatkan harta kekayaan itu! kita akan jadi 0rang-0rang maha kaya di dunia ini!”
“Aku tidak tertarik untuk jadi 0rang kaya…… Sekarang kau b0leh pergi….”
“Tunggu dulu Keb0 Pradah. Jika kau tidak tertarik pada kekayaan itu tak jadi apa. Tapi kuminta kau mau men0l0ng menyingkap tabir alam mistik itu. hanya kau satu-satunya di dunia ini yang bisa men0l0ngnya!”
Keb0 Pradah menyeringai. “Banyak 0rang lain mempunyai kemampuan lebih hebat dariku. Kau bisa mencari mereka…..”
“Kau betul , banyak 0rang lain yang lebih hebat dan mempunyai kemampuan serta kesaktian jauh di atasmu. Tapi bukan itu masalahnya!”
“Lalu?!”
“Seperti yang tadi saya bilang. Hanya kau yang mempunyai kunci kekuatan untuk sanggup masuk ke alam mistik iu!” kata Pengail Sakti pula.
“Kunci kekuatan……? Aku tidak mengerti Pengail Sakti…..”
“Kalau begitu biar saya membuktikannya dulu. Apa betul kau 0rangnya….”
Pengail Sakti mengulur tali j0rannya sambil memutar-mutar mata kail yang ditempel dengan sejenis getah perekat.
“Eh , apa yang hendak kau lakukan?!” tanya Keb0 Pradah heran tapi segera saja bersikap waspada.
Tangan kanan Pengail Sakti bergerak. J0ran bambu yang dipeganginya menderu ke kiri. Mata kail yang diselubungi getah menyambar ke p0t0ngan perut Keb0 Pradah. Mendapat serangan ini Keb0 Pradah jadi marah.
“Muka kuning! Kau berked0k hendak men0l0ng 0rang. Ternyata kau sama saja dengan 0rang-0rang lainnya hendak mencelakai diriku!”
Habis berkata begitu Keb0 Pradah berkelebat ke kiri. Tangan kanannya menyambar ke arah mata kail. Pengail Sakti kedutkan j0rannya sem0ga kailnya tidak hingga disambar lawan. Namun bersamaan dengan itu tangan kanan Keb0 Pradah memukul ke depan.
“Bagus!” seru Pengail Sakti. J0ran bambu di tangan kanannya bergerak aneh.
“Sreettt… sretttt… Betttt! Bettttt!”
keb0 Pradah terperangah kaget ketika tahu-tahu kedua tangannya telah terlibat tali kail sementara mata kail yang bergetah melekat di p0t0ngan dada baju r0mbengnya.
Si Pengail Sakti tertawa mengekeh. Sekali menyentak saja maka Keb0 Pradah terbet0t ke depan.
“Breettt!” Baju Keb0 Pradah r0bek di p0t0ngan dada. “Sialan! R0bekannya kurang besar!” kata Pengail Sakti dalam hati. J0ran bambunya kembali disentakkan.
Namun sekali ini Keb0 Pradah sudah sanggup membaca apa yang hendak dilakukan kakek bermuka kuning itu. Dia cepat mendahului. Bukan saja beliau mengikuti tarikan lawan tapi malah mendahului bergerak. Sesaat lagi tubuhnya dan tubuh Si Pengail Sakti akan saling beradu , tiba-tiba Keb0 Pradah berkelebat ke kiri. Dua tangannya yang dilibat tali kail diangkat ke atas. Lalu beliau menciptakan gerakan berputar beberapa kali.
Pengail Sakti berseru tegang ketika melihat tali kailnya melibat lehernya sendiri. Dia berusaha mel0l0skan diri dari libatan sambil lepaskan satu pukulan tangan k0s0ng yang dahsyat. Naumn terlambat. Libatan tali kail di lehernya semakin kencang. “Trel….trek….trek…..”
Terdengar bunyi berkereketan tiga kali berturut-turut. Tulang leher Pengail Sakti patah di tiga tempat! Lidahnya menjulur ke luar dan kedua matanya membaliak mengerikan! Untuk meyakinkan bahwa 0rang bau tanah bermuka kunig itu benar-benar mati , Keb0 Pradah sentakkan kedua tangannya yang terikat dengan keras. Tak ampun lagi tubuh Pengail Sakti terbanting ke bawah. Muknya menghantam tanah lebih dulu.
Remuk tak karuan rupa! Dengan hening Keb0 Pradah kemudian membuka libatan tali kail di kedua tangannya.
“Aku harus buru-buru meninggalkan tempat celaka ini!” kata Keb0 Pradah membatin. “Kalau tidak , sulit bagiku melaksanakan samadi…..”
Keb0 Prradah rapikan letak capingnya. Sesaat kakinya hendak melangkah , satu bayangan berkelebat. Angin bayangan yang menyambar ini menciptakan capingnya bergesr ke kiri. Baju r0mbengnya yang r0bek berkibar-kibar dan tubuhnya terasa dingin. Keb0 Pradah cepat membalik. Benar saja , bayangan yang barusan berkelebat tau-tahu sudah berada di belakangnya. Berubahlah paras Keb0 Pradah ketika beliau mengenali siapa adanya mahluk di depannya itu!
TIGA
Hutan Tapakhalimun di kaki selatan Gunung Merapi p0puler angker. Itu sebabnya tak pernah ada penduduk sekitar situ berani mendekati apa lagi masuk ke dalamnya.
Jangankan insan , binatangpun b0leh dikatakan jarang kelihtan berkeliaran di sekitar situ. Kata 0rang hutan Tapakhalimun yaitu sarang segalam macam mahluk halus. Pada siang hari di daerah hutan yang selalu redup itu sering terdengar bunyi l0l0ngan anjing , bernada absurd panjang menggidikkan. Terkadang ada bunyi tawa cekikikan membaut siapa saja yang mendengarnya bisa lari lintang pukang. Ada pula yang menyampaikan bahwa dalam rimba belantara itu sering terdengar bunyi jeritanjeritan mirip 0rang disiksa. Lalu juga ada tangisan 0r0k! Malam hari tentu saja keangkeran di tempat itu jangan disebut lagi.
Saat itu sempurna tengah hari. Di langit sang surya memancarkan sinarnya yang terik. Namun di daerah hutan yang ditumbuhi aneka macam p0h0n besar berdaun rimbun suasana tampak redup. Sinar matahari se0lah tak sanggup menembus kelebatan rimba belantara Tapakhalimun. Sewaktu lapat-lapat terdengar bunyi l0l0ngan anjing dari dalam hutan , tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih. Setan? Bukan. Ternyata beliau manusia. Se0rang c0w0k berpakaian dan ikat kepala putih dengan rambut g0ndr0ng acak-acakan. Sesaat beliau memandang berkeliling.
“Sepi….” Katanya dalam hati. Baru saja beliau berucap begitu mendadak dari dalam hutan terdengar bunyi l0l0ngan anjing , menciptakan c0w0k ini tergagap kaget dan merutuk dalam hati. “Sialan! Kalau hewan itu ada di hadapanku niscaya kutendang!”
Dia memandang lagi berkeliling sambil memasang telinga. “Eh , apakah saya ini sudah hingga di hutan Tapakhalimun…..? Keadaan di sini serba aneh. Udara redup dan hawanya pengap. Tapi mengapa saya mendadak keluarkan keringat dingin? Ada bau mirip kebang busuk. Tapi kulihat tak satu p0h0npun ada bunganya! P0h0n-p0h0n besar itu tumbuhnya aneh. Berjajar dekat-dekat mirip pagar….”
Selagi c0w0k ini membatin tiba-tiba kesunyian dir0bek 0leh bunyi jeritanjeritan mengerikan. Kembali c0w0k ini terkejut dan memaki habis-habisan.
“Gila! Siapa yang menjerit mirip itu? Datangnya dari kejauhan di sebelah sana. Sepertinya lebih dari satu 0rang. Jangan-jangan itu bukan jeritan insan tapi…..” Pemuda ini tidak teruskan ucapannya. Dia melangkah sepanjang f0rmasi p0h0n-p0h0n besar yang membentuk pagar. Di setiap celah antara dua p0h0n beliau c0ba memeperhatikan. “Aku mirip melihat ada bayangan berkelebat di sebelah sana. Jelas bukan bayangan binatang…. Apa yang harus saya lakukan? Aku harus melihat bagaimana keadaannya sekarang….” Cepat-cepat dari dalam saku pakaiannya c0w0k ini mengeluarkan sebuah benda yang ternyata yaitu sekuntum bunga kenanga aneh. Aneh lantaran bunga ini tak pernah layu dan jikalau dikeluarkan selalu menebar bau harum. Selain itu kembang kenanga ini berasal-usul dari satu kejadian yang sulit diterima nalar manusia.
Beberapa waktu kemudian beliau pernah mengenal bahkan bercinta dengan se0rang dara manis yang dipanggilnya dengan nama Bunga. Gadis ini bahwasanya yaitu penjelmaan dari se0rang gadis yang telah meninggal dunia lantaran diracun 0leh kekasihnya sendiri yang mengkhianati cintanya. Satu kekuatan yang menguasai Bunga menciptakan gadis ini bisa meninggalkan alam gaibnya dan hidup mirip mahluk halus bahkan berubah menjadi atau memperlihatkan diri sebagaimana keadaannya sebelum meninggal dunia dulu. (untuk jelasnya baca serial Wir0 Sableng berjudul “Misteri Dewi Bunga Mayat”).
Setelah menatap kembang kenanga itu sesaat , perlahan-lahan si c0w0k mendekatkan bunga tadi ke hidungnya. Perlahan-lahan pula , penuh kekhusukan sambil memejamkan kedua matanya beliau mencium bunga itu. Hawa harum dan sejuk masuk ke dalam hidungnya terus ke r0ngga pernafasan. Rasa sejuk menyeruak ke r0ngga dadanya.
“Bunga….. Datanglah. Aku ingin melihatmu….” Si c0w0k berbisik dengan bunyi bergetar. Dia menunggu. Tak terjadi apa-apa. Dia menunggu lagi.
“Aneh ,” kata c0w0k ini dalam hati. “Biasanya tidak selama ini. sekali panggil saja beliau sudah muncul memperlihatakn diri….. Jangan-jangan……” Si c0w0k tampak kawatir. Diciumnya kembang kenangaitu sekali lagi. Lebih lama dari tadi seraya berbisik. “Bunga , saya ingin melihat. Bagaimana keadaanmu sekarang.
Perlihatkan dirimu Bunga……”
Tetap saja tak ada yang terjadi. Hati si c0w0k jadi semakin tidak tenang.
“Kalau beliau mati dan saya tidak bisa men0l0ngnya…… Aku akan menyesal seumur hidup……. Tapi bukankah bahwasanya beliau sudah mati? Apakah ada mahluk hidup mati hingga dua kali?” Si c0w0k termenung sesaat. “Biar kuc0ba sekali lagi…..” katanya.
Bunga kenanga itu diusap-usapnya beberapa kali. Lalu didekatkannya ke hidungnya. Kemudian diciumnya. “Bunga….. Jika kau masih ada di alammu , datanglah Bunga. Perlihatkan dirimu……”
Pemuda itu hampir frustasi ketika menunggu sekian lama apa yang dharapkannya tak kunjung terjadi. Namun tiba-tiba , perlahan sekali ada bunyi berdesis.
Serta merta udara pengap di tempat itu dipenuhi 0leh bau bunga kenanga. “Dia datang…..” desis si pemuda. Kedua matanya memandang tak berkedip ke arah datangnya bunyi berdesir itu. dari arah itu tampak satu sinar terang. Hanya sesaat.
Begitu sinar terang lenyap muncullah bayangan s0s0k tubuh se0rang gadis mengenakan kebaya putih berkancing-kancing besar. Rambutnya tergerai lepas.
Bayangan ini makin lama makin jelas.
“Bunga!” pekik si c0w0k begitu melihat keadaan gadis yang muncul secara absurd itu. pakaian putihnya ternyata penuh dengan darah. Wajahnya yang manis tapi pucat digelimangi datah yang keluar dari kedua matanya , hidung , pendengaran dan mulut.
Wajah itu memperlihatkan rasa takut yang amat sangat. Si gadis berada dalam keadaan terikat kedua tangan dan kakinya pada sebuah t0nggak kayu.
“Bunga!” teriak c0w0k tadi kembali seraya memburu. Namun gres sedikit saja beliau bergerak tiba-tiba muncul dua mahluk menyeramkan yang tubuhnya meliukliuk mirip asap. Setiap menyeringai dua mahluk ini memperlihatkan barisan gigigiginya yang panjang-panjang dan runcing. Mulutnya , mulai dari bibir hingga gigi dan pengecap bergelimang darah. Dengan jari-jari tangannya yang berkuku panjang dan sebesar pisang tanduk , dua mahluk menyeramkan ini menarik tubuh si gadis ke arah satu tempat yang hitam dan gelap sehingga kesannya lenyap dari pemandangan.
Bersamaan dengan lenyapnya s0s0k tubuh itu terdengar bunyi jertan-jeritan keras , menciptakan c0w0k itu hampir jatuh duduk saking kaget dan ngerinya. Suara jeritan semakin keras. Si c0w0k kerahkan tenaga dalam untuk menutup jalan pendengarannya. Tetapi tembus! Terpaksa beliau dekap kuat-kuat kedua telinganya. Lalu jatuhkan diri berlutut. Untuk beberapa lamanya bunyi jeritan itu masih terus menggema bahkan kini sesekali diiringi 0leh l0l0ngan anjing!
“Ya Tuhan! Apa bahwasanya yang terjadi dengan dirinya!” Pemuda berpakaian putih membatin sambil gigit bibirnya sendiri. “Terakhir sekali beliau muncul tidak mirip itu. Masih bisa bicara…… Tapi kini mengapa begitu sengsara keadaannya…… Tuhan! Beri saya kemampuan dan kekuatan untuk men0l0ngnya!”
Baru saja c0w0k ini mengucapkan d0a itu bunyi jerit dan l0l0ngan anjing tadi kini malah diikuti 0leh bunyi tawa cekikikan riuh sekali. Mau tak mau kuduk si c0w0k menjadi dingin. Mukanya keringatan. Nafasnya mengengah-engah. Dia mel0mpat. Kerahkan tenaga dalam kemudian berteriak sekerasnya yang bisa dilakukannya.
Dalam kengeriannya beliau sengaja berteriak untuk melawan suara-suara menggidikkan itu. tapi percuma. Suara jerit , tawa cekikikan dan l0l0ngan anjing tetap saja memenuhi tempat itu.
“Aku harus meninggalkan tempat ini sebelum terjadi sesuatu dengan diriku!”
kata si c0w0k yang memasukkan kembang kenanga ke dalam sakunya. Dia cepat berdiri “Tapi…..” Hatinya ragu. “Aku tiba kemari bukankah untuk mencari hutan Tapakhalimun? Aku yakin saya sudah hingga di hutan itu. Bunga….. Tadi beliau muncul kemudian dilarikan 0leh mahluk-mahluk mengerikan. Berarti mirip katanya dalam mimpi , beliau memang telah dilarikan ke satu sarang mahluk-mahluk halus yang punya kekuasaan dan kekuatan tidak terbatas! Buktinya Bunga sendiri yang merupakan mahluk mistik , tidak bisa membebaskan diri dan minta t0l0ng padaku…… Kalau begitu apapun yang terjadi saya dihentikan meninggalkan tempat itu. Sarang mahlukmahluk jahat itu rasanya tidak jauh dari sini! Dan saya harus menemukannya! Aku harus segera membebaskan Bunga. Keadaannya gawat sekali…..”
Suara tawa dan jerit serta l0l0ngan anjing perlahan-lahan mulai berhenti dan kesannya lenyap sama sekali. Namun hal ini tidak menciptakan si c0w0k bebas dari rasa ngeri dan tegang. Kedua matanya kembali menyapu ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar.
“Aku yakin suara-suara jerit dan tawa serta l0l0ngan anjing tadi tiba dari balik p0h0n-p0h0n besar itu. Aku harus mengusut ke sana….”
Si c0w0k mendekati f0rmasi p0h0n-p0h0n besar kemudian mel0mpat di celah k0s0ng antara dua batang p0h0n.
“Dukkkk!”
Pemuda berambut g0ndr0ng itu berteriak keras. Bukan hanya lantaran kesakitan tapi terlebih lagi dan terutama 0leh rasa kejut yang bukan alang-kepalang. Saat itu pula terdengar bunyi tawa cekikikan riuh rendah.
Waktu c0w0k itu tadi melangkah untuk lewat di antara celah dua buah p0h0n , kaki dan kepalanya menabrak sesuatu yang tidak kelihatan hingga tubuhnya terhempas ke belakang.
“Gila! Aku tidak melihat apa-apa. Mengapa langkahku mirip ada yang menghalangi? Apa yang barusan kutabrak?!” kemudian c0w0k ini kembali melangkah maju. Kali ini gerakannya lebih cepat dan lebih sebat.
“Dukkkk!”
Untuk kedua kalinya beliau menabrak sesuatu hingga langkahnya bukan saja tertahan tapi tubuhnya jatuh terjengkang di tanah! Saat itu pula terdengar bunyi tawa cekikikan disertai l0l0ngan anjing di kejauhan.
“Temb0k tanpa ujud!” desisnya dengan mata mel0t0t memandang ke depan.
“Tak bisa kupercaya!” Dia mel0mpat berdiri. Tangan kirinya diulurkan ke depan , menciptakan gerakan meraba dan mengusap. “Aneh! Tak ada apa-apa di sini!” katanya terheran-heran. “Lalu tadi apa yang menahan langkahku? Mengapa saya tidak bisa berjalan ke arah celah p0h0n?” Pemuda ini berpikir sejenak. “C0ba saya melangkah melewati celah yang lainnya….” Lalu beliau melangkah ke delah antara dua p0h0n di sebelah kiri. Tak terjadi apa-apa. “Nah , kali ini saya bisa lewat….” Baru saja beliau berkata begitu tiba-tiba.
“Dukkk…..dukkkk!” kaki kanan dan keningnya lagi-lagi menabrak benda keras yang tidak kelihatan.
“Edan!” maki c0w0k itu. kemudian beliau tersentak 0leh bunyi tawa bergelak , jeritan absurd dan l0l0ngan anjing. “Keparat! Mahluk apapun kalian adanya , apa kau kira saya takut pada kalian!” Pemuda itu kepalkan tangan kanannya kemudian menghantam ke depan.
“Dukkk!”
Jeritan keras keluar dari lisan si pemuda. Tangan kanannya dikibas-kibaskan.
Ketika diperhatikan ternyata ruas-ruas jarinya lecet bahkan ada kulitnya yang terkelupas.
“Tempat celaka apa ini?!” kertak c0w0k itu. Amarahnya menggelegak.
Dalam keadaan mirip itu tanpa pikir panjang lagi beliau kerahkan tenaga dalam. Kini dengan tangan kirinya beliau lepaskan pukulan sakti. Gel0mbang angin laksana angin ribut prahara menghampar deras.
“Bummmmm!”
Pukulan sakti itu melanda sesuatu mengeluarkan bunyi letusan keras. Angin pukulan membalik dahsyat , menghantam 0rang yang melepaskannya. Senjata makan tuan! Tak ampun lagi tubuh c0w0k itu mencelat mental. Terlempar dan tergulingguling hingga bebrapa t0mbak. Untuk beberapa lamanya beliau terkapar di tanah.
Sekujur tubuhnya laksana remuk. Dari hidungnya meleleh darah. Dadanya berdenyut sakit. Perlahan-lahan beliau c0ba berdiri. Saat itu pula terdengar bunyi tawa riuh rendah dan jeritan panjang pendek.
“Iblis! Aku mau lihat hingga di mana kehebatan kalian!” teriak si pemuda.
Tangan kanannya diangkat ke atas. Saat itu juga tampak tangan itu berubah putih dan mengeluarkan sinar perak menyilaukan. “Makan ini! Masakan tidak jeb0l!” berseru si pemuda. Lalu beliau menghantam ke depan. Sinar putih panas dan menyilaukan mata berkiblat. Bersamaan dengan itu si c0w0k mel0mpat ke atas. Hal ini dilakukannya untuk lebih dulu menyelamatkan diri kalau pukulan sakti yang barusan dilepaskannya mirip tadi berbalik kembali menghantam tubuhnya!
“Wuuuttt!”
“Bummmmm!”
“Wuutttt!”
Benar saja. Pukulan sakti yang mengeluarkan hawa sangat panas itu ternyata benar-benar membalik. Kalau saja c0w0k itu tidak mel0mpat ke udara niscaya sinar saktiitu akan menghantam dirinya.
“Wusss! Braaaakkkk!”
Sinar menyilaukan menyambar semak belukat dan beberapa p0h0n di seberang sana. Semak belukar pribadi terbakar sedang batang-batang p0h0n hangus , satu di antaranya r0b0h tumbang.
Si c0w0k melayang turun ke tanah. Wajahnya berubah.
“Aneh…… Benar-benar aneh…. Apa bahwasanya yang ada di depan f0rmasi p0h0n-p0h0n besar itu? Temb0k sakti tak berwujud. Dinding gaib? Mustahil tak bisa dijeb0l! Tak sanggup ditembus! Padahal Bunga yang hendak kuselamatkan saya yakin berada di balik f0rmasi p0h0n-p0h0n itu! Tak bisa kupercaya!”
Pemuda ini usap-usap dagunya. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. “Aku tak akan menyerah! Dengan senjata mustika ini kuliner tak bisa jeb0l!”
Sinar menyilaukan memancar di tempat yang redup itu. sebuah senjata berupa kapak bermata dua tergenggam di tangan si pemuda. Inilah Kapak Maut Naga Geni 212. Milik nenek sakti mandraguna di Gunung Gede yang kemudian diwariskan pada muridnya yaitu Pendekar 212 Wir0 Sableng.
EMPAT
Wir0 pegang Kapak Maut Naga Geni 212 erat-erat. Tahangnya dikatupkan kuatkuat.
“Ciaaattt!”
Didahului dengan teriakan keras Wir0 babatkan senjata mustikanya ke depan.
Sinar putih perak meyambar disertai bunyi laksana seribu taw0n mengamuk. Hawa panas menghampar.
“Braaakkkk!”
Kapak Maut Naga Geni 212 menghantam sebuah benda yang tidak kelihatan.
Terdengar bunyi mirip sesuatu hancur berantakan. Tetapi benda atau apa yang hancur itu sama sekali tidak terlihat 0leh mata. Tanah terasa bergetar. P0h0n-p0h0n berg0yang. Semak belukar berserabutan. Sebaliknya Kapak Maut Naga Geni 212 terlepas mental dari tangan Wir0 , tercampak di tanah. Wir0 mencicipi tangannya mirip memegang bara panas. Jari-jarinya digerak-gerakkan sambil meniup term0ny0ng-m0ny0ng.
“Gila betul! Tapi jeb0l juga akhirnya!” kata Wir0. Senjata mustika yang tercampak di tanah cepat diambilnya kemudian diperiksa. “Untung tak ada yang g0mpal ,”
kata Wit0 lega. Kapak Maut Naga Geni 212 cepat disimpannya di balik pakaian.
“Sekarang niscaya saya bisa masuk ke hutan itu tanpa kesulitan!” berucap Wir0. Dia menciptakan langkah-langkah besar , berjalan ke arah salah satu celah p0h0n di p0t0ngan mana diperkirakannya tadi telah menjeb0l dinding atau temb0k yang tidak berwujud itu.
“Duukkkkkk!”
“Jahanam!” rutuk Pendekar 212. Ternyata dugaannya salah. Temb0k yang tak kelihatan itu sama sekali tidak jeb0l. Kaki dan kepalanya kembali terantuk. Selagi beliau tertegun tiba-tiba bersahabat sekali di depannya terdengar bunyi tawa cekikikan sedang di kejauhan kembali ada bunyi l0l0ngan anjing , panjang menggidikkan.
Pendekar 212 bersurut beberapa langkah. Langkahnya terhenti ketika punggungnya membentur sesuatu. Dia sempat tergagau dan cepat berpaling. Kalau tadi cuma tergagau kini dari mulutnya keluar seruan tertahan. Tampangnya seputih kertas. Apa yang mengakibatkan sang pahlawan hingga berseru dan berubah wajahnya begitu rupa? Apa pula yang barusan telah dibenturnya?
Di hadapan Wir0 ketika itu ada satu s0s0k menyeramkan tegak setengah membungkuk se0lah hendak mel0mpat menerkamnya. S0s0k ini yaitu s0s0k se0rang bau tanah berkepala panjang. Dia hanya mengenakan sehelai kancut. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka bekas siksaan. Darah bergelimang di mana-mana.
Sepasang b0la matanya member0j0l keluar , bergelayutan di atas pipi se0lah hendak c0p0t! Telinganya lancip ke atas. Dagunya berbentuk segitiga. Di atas dagu terlihat satu lisan yang hancur dan selalu mengucurkan darah. Pada lidahnya yang terjulur panjang menancap sep0t0ng besi lancip. Sep0t0ng besi lagi menancap membelintang dari pendengaran kiri ke pendengaran kanan. Pada pangakal lehernya kelihatan l0bang luka besar.
Dari l0bang ini mengucur darah berwarna hitam. Baik tangan maupun kaki mahluk ini diikat dengan rantai besar merah menyala. Agaknya beliau tidak bisa bergerak sedikitpun. Kalau beliau menc0ba menggerakkan tangan dan kakinya maka rantai panas akan melumerkan daging bahkan tulangnya!
Pendekar 212 bersurut beberapa langkah. Sumur hidup belum pernah beliau meliha mahluk mengerikan mirip ini. “Hantu atau apa yang ada di depanku ini…..” pikir Wir0.
“Gr0kkk….gr0kkkk…..gr0kkkkk.” Dari tengg0r0kan mahluk dahsyat itu tibatiba keluar bunyi absurd , hampir seperi bunyi 0rang meng0r0k. Dari l0bang luka di tengg0r0kannya terus mengucur darah hitam.
“Agaknya beliau hendak menyampaikan sesuatu….” Pikir Wir0 dengan tampang mengerenyit memperhatikan.
“Gr0kkk…gr0kkkk….gr0kkk.”
“Ah , betul. Dia hendak bicara tapi suaranya mirip itu. Mana saya bisa mengerti….” Wir0 mundur lagi dua langkah. “Kau…. Kau mau bilang apa…..?” Wir0 ejekan pertanyaan.
Mahluk itu anggukkan kepala. Perlahan sekali. Dua b0la matanya yang bergelantungan tampak berg0yang-g0yang. Darah mengucur dari dua r0ngga matanya.
“Kau….kau penghuni rimba belantara ini?” tanya Wir0 lagi.
Si mahluk mengangguk.
“Kau mengerti 0m0nganku. Kau ini insan atau apa….?”
Kali ini tak ada anggukan. Mahluk itu diam saja.
“Apakah daerah di belakang p0h0n-p0h0n besar itu hutan Tapakhalimun….?” Tanya Wir0 selanjutnya.
Kepala mahluk menyeramkan mengangguk sedikit. Baru saja beliau mengangguk tiba-tiba ada bunyi letupan disertai kepulan asap di depan f0rmasi p0h0n-p0h0n besar.
Lalu dua s0s0k sangat besar muncul. Ternyata yang muncul ini yaitu dua 0rang wanita gemuk luar biasa , berwajah galak , mempunyai pengecap menjulur panjang hingga ke dada. Dua mahluk ini hanya mengenakan cawat. Payudaranya yang besar bergundal-gandil kian kemari. Rambutnya hitam dan panjang sempai ke betis. Wir0 yang memperhatikan tersentak mundur dan merinding. Di celah-celah rambut panjang dua wanita gemuk itu kelihatan bergelantungan ular-ular sepanjang tiga jengkal , berwarna hitam berbelang kuning! Masing-masing mereka memegang sebilah g0l0k merah yang menyala.
“Aku tidak bermimpi! Tapi bagaimana ada mahluk-mahluk mengerikan mirip ini…..”
Dua mahluk wanita itu tiba-tiba keluarkan bunyi pekikan keras. Lalu mereka memburu ke arah mahluk yang tegak terbungkuk dan terikat rantai panas membara tangan serta kakinya dan kini tampak sangat ketakutan. Dua g0l0k diacungkan lurus-lurus diarahkan pada perut mahluk yang terikat tadi.
“Cleeppp!”
“Cleepp!”
“Ceesss!”
“Cesss!”
Tak ampun lagi perut mahluk itu ambr0l di dua tempat. Asap mengepul dari perut yang jeb0l dan dua g0l0k yang membara. Begitu dua g0l0k ditarik isi perut si mahluk laksana dibed0l keluar. Wir0 mirip mau muntah melihat hal luar biasa mengerikan itu. Si mahluk sendiri keluarkan bunyi l0l0ngan absurd sementara dua mahluk wanita tadi kembali memekik-mekik marah. Puluhan ular yang ada di kepala mereka berjingkrak meliuk-liuk seperti iku marah.
Tiba-tiba mahluk berkepala panjang yang terikat rantai membara kaki dan tangannya itu mel0mpat ke depan , berusaha menubrukkan kepalanya pada salah satu mahluk perempuan. Yang hendak ditubruk menjerit keras. G0l0k panas merah menyala di tangannya dibac0kkan ke arah kepala panjang si mahluk.
“Gr0kkkkk!”
Mahluk berkepala panjang itu keluarkan bunyi menggmb0r keras kemudian angkat dua tangannya yang terikat bsei panas untuk melindungi kepala.
“Craassss!”
Dua lengan putus. Dua tangan yang masih dalam keadaan terikat rantai panas jatuh ke tanah.
“Gr0kkkk , , , ,!” mahluk berkepala panjang menggemb0r keras sementara darah mancur dari dua tangannya yang kini buntung.
Salah se0rang dari mahluk wanita tadi cekal leher si kepala panjang kemudian menyeretnya ke arah pep0h0nan. Kawannya tak segera mengikuti tapi memandang ke arah Wir0 Sableng. Karuan saja murid Sint0 Gendeng ini merasa mirip mau lumer sekujur tubuhnya. Dalam takutnya beliau siapkan pukulan sakti “sinar matahari” di tangan kanan. Mahluk wanita yang tadi memandang pada Wir0 keluarkan pekikan , berpaling pada kawannya yang tengah menyeret mahluk lelaki yang isi perutnya manjela-jela hingga ke tanah. Mahluk wanita yang satu ini gelengkan kepalanya. Kawannya yang tegak di hadapan Wir0 tampak kecewa. Tiba-tiba lidahnya yang panjang menjulur bertambah panjang.
“Wuttt!”
Lidah itu melesat ke arah bawah perut Pendekar 212. Wir0 mencicipi selangakangannya mirip disambar api. Tubuhnya terl0njak mental hingga satu t0mbak ke belakang.
“Uhhh….mati aku!” katanya sambil menekap p0t0ngan bawah perutnya.
Di depannya dilihatnya dua mahluk wanita itu melangkah ke f0rmasi p0h0n-p0h0n sambil satunya menyeret mahluk lelaki tadi. Begitu melewati barisan p0h0n keduanya , juga mahluk lelaki yang diseret tiba-tiba lenyap laksana ditelan bumi!
Murid Sint0 Gendeng raba-raba p0t0ngan bawah perutnya yang tadi disentuh pengecap mahluk wanita itu.
“Astaga!” wajahnya jadi pucat. Ikat pinggang celananya dil0nggarkan kemudian beliau mengintip ke bawah. Sang pahlawan menjadi lega. “Masih ada….. Tadi kenapa mirip amblas lenyap….”
Wir0 memandang ke jurusan lenyapnya tiga mahluk menyeramkan tadi.
“Aku melihat mereka melangkah ke arah p0h0n. Lewat di antara dua p0h0n di sebelah sana dan lenyap. Berart bahwasanya tidak ada penghalang apapun di tempat itu.” Berpikir mirip itu murid Sint0 Gendeng kemudian melangkah ke jurusan tiga mahluk tadi berjalan dan lenyap. Satu langkah lagi dari hadapan celah dua buah p0h0n yang hendak dilewatinya tiba-tiba.
“Dukkkk!”
“Setan alas!” maki Pendekar 212 sambil pegangi keningnya sedang kaki kanannya dijingkat-jingkatkan menahan sakit. “Tak bisa ditembus! Kalau begitu mereka tadi yaitu niscaya mahluk-mahluk halus. Berarti tak ada gunanya saya menc0ba masuk! Sampai selesai zaman pun tak akan tembus! Lalu bagaimana dengan Bunga….?”
Wir0 gelengkan kepala dan garuk-garuk keningnya yang masih mendenyut sakit. “Tak ada gunanya saya berlama-lama di tempat ini. Aku harus cepat mencari sumbangan sem0ga bisa menyelamatkan Bunga. Tapi mencari sumbangan pada siapa….?”
Murid Sint0 Gendeng jadi resah dan garuk-garuk kepala lagi sambil memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya membentur sesuatu di tanah. Seperti tulisan. Samarsamar dan apa yang tertulis tidak rampung. Dengan susah payah Wir0 c0ba membacanya. Dia harus menglilingi g0resan pena di tanah itu berulang kali sebelum bisa membaca dengan jelas.
“Tulisan absurd ini dibentuk dengan darah. Darah siapa…..?” Wir0 c0ba berpikir.
“Mahluk yang perutnya jeb0l itu. Jangan-jangan dia…. Dia menulis dengan darah yang mengucur dari salah satu tangannya yang buntung. Sebelum selesai tubuhnya sudah keburu diseret ke balik pep0h0nan….”
Wir0 berputar sekali lagi. Kali yang keenam kesannya beliau bisa juga membaca g0resan pena itu.
“Kakek Segal…..”
“Kakek Segal….. Kakek Segal….” Wir0 mengulang-ulang memaca g0resan pena itu di dalam hati. “Astaga! Yang dimaksudnya niscaya Kakek Segala Tahu! Aku t0l0l!
Mengapa saya tidak ingat 0rang bau tanah itu! Kalau tidak diingatkan 0leh mahluk itu….
Aku harus segera pergi. Tidak gampang mencari bau tanah bangka absurd itu. kalau nasibku buruk , satu tahun pun berkeliling tak bakal bisa menemukannya.”
LIMA
Hari pasar di K0t0barang sekali ini bukan main ramainya. Penyebabnya lantaran hari ini se0rang akr0bat ulung akan mempertunjukkan kehebatannya di tengah pasar.
Maka penduduk Kut0barang bahkan mereka yang tinggal jauh di pedalamn tiba berb0nd0ng-b0ngd0ng. Pertunjukkan diadakan di sebuah pedataran yang p0t0ngan teganhnya membentuk bukit kecil. Sejak pagi tempat itu telah dipenuhi 0rang banyak.
Tak lama kemudian akr0bat ulung yang ditungg-tunggu muncul. Ternyata beliau se0rang kakek bungkuk berpakaian c0mpang-camping , k0t0r penuh tambalan. Di bahunya membekal buntalan dekil. Di kepalanya bertengger sebuah caping bambu. Sebuah t0ngkat kayu tergenggam di tangan kanan.
“Sialan! Cuma se0rang jembel! Apa kemampuannya?!” sungut se0rang lelaki yang semenjak pagi berada di situ.
“Tua bangka itu menipu kita! Berjalan saja susah! Masakan beliau pintar main
akr0bat?!” tukas se0rang lainnya.
“Jangan-jangan beliau tiba ke sini hanya mau mengemis! Minta sedekah!
Lihat! Kedua matanya putih! Gila! Dia buta!”
Di antara kekecewaan yang terl0ntar di lisan 0rang banyak ada se0rang berkata mirip membela. “Di beberapa desa sebelumnya saya dengar beliau bisa memperlihatkan akr0bat mengagumkan luar biasa!”
“Uh! Siapa percaya pada pengemis!” sese0rang menyeletuk.
Di tempatnya berdiri , 0rang bau tanah bercaping tegak sambil senyum-senyum.
“Uhhhhh! Lihat beliau cengengesan! Membuat saya muak!” ujar se0rang di pinggir lapangan.
“Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Seek0r m0nyet bau tanah bisa mempertunjukkan apa?!”
“Kau betul kawan. Baru sekali saja beliau meliukkan tubuhnya tulang pinggangnya akan patah!”
Perlahan-lahan 0rang bau tanah di atas bukit kecil membuka capingnya. Begitu caping bambu tanggal dari kepalanya tiba-tiba seek0r burung merpati keluar dari dalam caping , terbang berputar-putar di atas kepalanya beberapa kali kemudian melesat lenyap ke arah Timur.
Kini 0rang banyak jadi terdiam dalam heran. Segala ejek cem00h tidak terdengar lagi. Semua mata memandang pada pengemis buta di atas tanah berbukit. Si kakek sendiri usap-usap kedua tangannya satu sama lain. Lalu beliau mencabut t0ngkat kayu butut yang dikepit di ketiak kiri. Sambil memb0lang-balingkan t0ngkat kayu itu beliau melangkah berputar-putar mengelilingi buntalan kainnya yang terletak di tanah.
Tiba-tiba beliau mengetuk buntalan itu dengan ujung t0ngkat.
Terdengar bunyi denyit keras kemudian seek0r m0nyet c0klat keluar dari dalam buntalan mel0ncat-l0ncat kian kemari. Si kakek acungkan t0ngkat kayunya luruslurus ke atas kemudian jentikkan jari tangan kiri. M0nyet c0klat mel0mpat tinggi kemudian hup!
Cekatan sekali beliau naik dan berdiri di ujung t0ngkat si kakek. Di ujung t0ngkat hewan ini tidak hanya berdiri diam tapi berjingkrak-jingkrak malah mel0mpat jungkir balik beberapa kali. 0rang banyak berseru kagum.
Perlahan-lahan si kakek letakkan t0ngkat di atas capingnya. Lalu beliau melangkah berputar-putar menciptakan gerakan mirip 0rang menari. Di ujung t0ngkat si m0nyet kembali mel0mpat jungkir balik. 0rang banyak bertepuk riuh penuh kagum.
Sayang tak ada tetabuhan. Kalau tidak niscaya pertunjukkan itu lebih semarak.
Setelah membiarkan m0nyetnya mel0mpat-l0mpat beberapa lama si kakek angkat capingnya dengan tangan kanan sedang tangan kiri memegang t0ngkat. Caping kemudian diputar-putar dengan sebat. Dalam keadaan berputar caping bambu ini dilemparkannya ke atas. Lalu beliau bersuit memberi tanda. Mendengar suitan ini m0nyet yang ada di ujung t0ngkat mel0mpat ke atas caping dan ikut berputar.
Sebelum caping melayang turun si kakek cepat menunjang dengan t0ngkatnya kemudian memutar caping itu lebih cepat sehingga caping dan m0nyet di atasnya terlihat mirip bayang-bayang. Perlahan-lahan ujung t0ngkat dipindahkannya ke atas ubun-ubun kepalanya. Sambil mengg0yang-g0yangkan kepala sem0ga caping dan m0nyet terus berputar , 0rang bau tanah itu keluarkan dua tiga biah benda dari balik pakaian r0mbengnya.
Ternyata benda-benda itu yaitu tiga buah b0la terbuat dari r0tan. Sementara kepalanya menjunjung t0ngkat dan di ujung t0ngkat terus berputar caping dan m0nyet , si kakek mulai melambung-lambungkan tiga buah b0la itu. Dilempar , ditangkap kemudian dilempar lagi terus menerus.
“Luar biasa!”
“Hebat!”
“Tidak disangka gembel buta bau tanah itu ternyata memang pintar main akr0bat!”
Berbagai kebanggaan keluar dari lisan 0rang banyak.
Setelah puas dengan pertunjukan itu si 0rang bau tanah mengambil kant0ng kain dan menyandangnya di pundak kiri. Lalu beliau melangkah mendekati sebuah p0h0n bercabang besar yang terletak di tepi lapangan. Waktu memungut buntalan dan berjalan , t0ngkat , caping dan m0nyet masih terus berada di atas kepalanya sementara tiga buah b0la terus dimainkannya dengan cekatan. Begitu hingga di bawah cabang p0h0n besar beliau keluarkan suitan keras. Lalu menciptakan beberapa gerakan berturut-turut secara cepat.
Pertama beliau menyimpan kembali tiga buah b0la r0tan di balik pakaian r0mbengnya. Selanjutnya beliau mel0mpat ke atas kemudian jungkir balik. Di lain kejap beliau tampak bergelantungan pada cabang p0h0n. Kedua kakinya dicantelkan ke dahan kayu , tubuh serta kepalanya tergantung ke bawah tidak beda mirip seek0r kelelawar.
Di ketika yang sama pula beliau ulurkan tangan kiri untuk memegang t0ngkat. Perlahanlahan t0ngkat diturunkannya ke bawah. Caping dan m0nyet yang ada di ujung t0ngkat ikut turun. Lalu dengan kecepatan luar biasa t0ngkat dikepitnya di ketiak kiri , caping dipegang di tangan kanan. Karena tak ada tempat berpijak tentu saja m0nyet yang ada di atas caping jadi jatuh ke bawah. Dengan tangan kirinya si kakek cepat menangkap salah satu tangan hewan itu kemudian dilemparkannya ke atas. M0nyet itu melesat ke udara. Si kakek keluarkan suitan keras. Tubuhnya tiba-tiba bergerak memutari dahan.
Dua kali putaran m0nyet yang dilempar ke atas kembali jatuh. Si kakek cepat menangkap tangan hewan ini kemudian dilempar kembali ke atas. Demikian terjadi berulang-ulang. Makin lama putaran tubuh si kakek semakin cepat dan m0nyet c0klat dilempar semakin tinggi. 0rang banyak sesaat tercekat melihat hal yang luar biasa itu.
sedikit saja meleset dan sikakek tidak sanggup menangkap tangan m0nyet , hewan itu niscaya akan hancur ke tanah.
Pada putaran kedua belas kembali kakek itu keluarkan suitan panjang. M0nyet yang ditangkapnya di tangan kiri dilemparkannya ke udara tinggi-tinggi.
“Hai! Binatang itu lenyap di udara!” teriak sese0rang.
“Jangan-jangan dilempar menembus langit!” seru se0rang lainnya.
Ketika si kakek berhenti berputar-putar di cabang p0h0n dan mel0mpat turun ke tanah , 0rang-0rang banyak segera mendatangi.
“Kek , akr0batmu hebat sekali. Tapi bagaiman dengan m0nyetmu. Binatang itu lenyap mirip ditelan langit!” kata sese0rang diantara kerumunan 0rang banyak.
0rang bau tanah itu tersenyum. “Binatang itu tidak lenyap. Juga tidak ditelan langit ,”
katanya. “M0nyet itu saya kembalikan ke tempat asalnya semula. Ke dalam rimba belantara.”
“Berarti kau tak akan bisa lagi main akr0bat!”
“Mengapa tidak? Aku bisa mencari m0nyet lain atau hewan lain…..
Saudara-saudara pertunjukkanku sudah selesai. Kala ada umur panjang lain waktu saya akan ke Kut0barang lagi. Sekarang jikalau kalian mau berbelas kasihan dan jikalau saya ada sedikit rejeki , saya m0h0n sedekah. Yang sanggup memberi silahkan , yang tidak bisa tidak apa-apa….. Aku hanya minta sekedar pembeli nasi untuk hari ini….”
Lalu pengemis itu turunkan capingnya. Benda ini dibalikannya dan melangkah berkeliling. 0rang banyak memberi sedekah semampu yang bisa mereka berikan. Di antara kerumunan 0rang banyak menyeruak se0rang lelaki tinggi besar berikat kapala dan berpakaian hitam. Mukanya tertutup berew0k. Pada pipi kirinya ada cacat bekas luka yang dalam. Di belakangnya ada tiga 0rang lelaki bermuka sangar , berpakaian serba hitam yang rupanya yaitu kawan-kawan dari lelaki di sebelah depan. 0rang ini mengulurkan tangannya memasukkan sedekah ke dalam caping. Namun yang diletakkannya dalam caping bambu itu bukannya uang melainkan sebuah kerikil sebesar kepalan tangan. Habis meletakkan kerikil itu beliau tertawa gelak-gelak. Tiga kawannya ikut tertawa.
0rang banyak yang ada di tempat itu merasa tidak senang dengan perlakuan sendau gurau kurang asuh itu. namun mereka tidak berani berbuat apa-apa setelah melihat siapa adanya empat 0rang itu. Malah perlahan-lahan 0rang banyak satu demi satu menyingkir dari tempat itu.
Sebaliknya si kakek berpakaian r0mbeng cuma senyum-senyum. “Terima kasih ,” katanya pada lelaki tinggi besar sambil usap-usap kerikil itu. “Kau memperlihatkan sedekah yang tidak ternilai. Tidak sangka rejekiku begini besar hari ini. Sem0ga Tuhan membalas budi baikmu ini. Aku d0akan sem0ga rejekimu berlipat ganda!” si 0rang bau tanah mengambil kerikil itu. dengan tangan kirinya benda itu digenggamnya sesaat kemudian ditimang-timangnya.
Sepasang mata si tinggi besar , juga tiga kawannya dan banyak 0rang yang masih ada di sekitar situ sama-sama membeliak. Yang kini ditimang-timang si pengemis bukannya kerikil melainkan benda kuning berkilauan ditimpa sinar matahari. Emas!
ENAM
Salah se0rang berpakaian hitam yang tak percaya pada apa yang dilihatnya berbisik pada si tinggi besar.
“Ganang! Kau sudah gila memberi emas pada jembel buruk itu?!”
Ganang Cul0 di tinggi besar pel0t0tkan matanya. “Kau yang gila! Masakan saya mau memperlihatkan emas sebesar itu padanya. Lagi pula punya pun tidak! Kau lihat sendiri. Yang kuberikan tadi batu!”
“Lalu bagaimana kini jembel itu memegang seb0ngkah besar emas begitu rupa?!” ujar mitra Ganang Cul0 di sebelah kiri.
“Terima kasih…. Terima kasih ,” kata kakek gembel sambil membungkukkan tubuhnya berulang kali. “Kau baik sekali. Sekarang izinkan saya meninggalkan tempat ini….” Si 0rang bau tanah kemudian masukkan uang yang didapatkannya ke dalam saku besar di samping kiri pakaiannya. Katika beliau hendak memsaukkan emas sebesar kepalan tangan itu , Ganang Cul0 berkata.
“Tunggu dulu!”
“Ada apakah 0rang baik hati?” tanya si kakek.
“Aku salah memberi. Kembalikan emas itu padaku….!”
“Ah , rupanya kau ragu. Bersedekah tidak sepenuh hati ,” kata kakek sambil tersenyum. “Tak jadi apa. Rejekiku rupanya ber0bah. Ini kukembalikan padamu emasnya….” Lalu 0rang bau tanah itu menyerahkan emas sebesar kepalan pada Ganang Cul0. Begitu mendapatkan benda sangat berharga itu Ganang Cul0 memberi aba-aba pada tiga 0rang temannya. Keempat 0rang itu kemudian cepat-cepat tinggalkan lapangan menuju tempat mereka menambatkan kuda.
“0rang bau tanah , 0rang sudah memberi. Mengapa kau menyerahkan emas itu kembali?!” sese0rang bertanya.
Si kakek cuma tertawa. “Emas itu belum ditakdirkan jadi punyaku.
Pemiliknya emminta kembali. Mana mungkin saya men0lak…. Nah saudara-saudara saya minta diri sekarang…”
Kakek gembel kenakan caping bambunya. Lalu terbungkuk-bungkuk beliau tinggalkan tempat itu diikuti pandangan banyak 0rang. Kehebatannya bermain akr0bat kini dibumbui dengan d0ngeng sebuah kerikil yang beruba jadi emas itu dan diserahkan kembali pada Ganang Cul0 , yang mereka ketahui yaitu penjahat kepala ramp0k ganas di daerah Selatan. Tapi apakah si kakek mengetahui siapakah Ganang Cul0 dan kawan-kawannya?
Kita ikuti dulu kemana perginya para penjahat itu. Ganang Cul0 membedal kudanya diikuti tiga 0rang temannya ke arah Tenggara. Di satu tempat salah satu dari tiga 0rang itu rupanya sudah tidak tahan , tiba-tiba berseru.
“Ganang! Kita berhenti dulu! Emas besar harus kita bagi empat!”
Dua temannya mengiyakan tanda setuju. Ganang Cul0 hentikan kudanya , memandang beringas pada ketiga temannya.
“Rupanya kalian tidak percaya padaku? Apa kalian kira saya mau makan sendiri emas ini?!” katanya setengah berteriak. Dari saku pakaian hitamnya dikeluarkannya emas besar itu. kemudian tangan kirinya bergerak mencabut g0l0k besar tanda beliau memang benar-benar siap untuk membagi empat emas besar itu. Tetapi ketika b0ngkahan emas itu keluar dari saku dan diperlihatkan pada tiga 0rang itu , semua mereka termasuk Ganang Cul0 sendiri berseru kaget. Benda yang di dalam genggamannya ternyata bukan emas kuning berkilat melainkan sebuah kerikil besar.
“Eh , apa yang terjadi? Bagaimana emas itu kini berubah lagi menjadi batu?!”
kata Ganang Cul0 hampir berteriak sedang kedua matanya laksana mau mel0mpat dari sarangnya.
Tiga kawannya saling pandang. Salah se0rang dari mereka berkata. “Aku lihat sendiri emas sebesar kepalan itu tadi kau masukkan ke dalam saku pakaianmu.
Adalah absurd kalau emas itu tahu-tahu berubah menjadi batu….”
“Tapi , kalian juga tahu dan melihat. Waktu saya memasukkan sedekah ke dalam caping gembel bau tanah itu , yang kuberikan yaitu sebuah kerikil besar , bukan emas!” tukas Ganang Cul0.
“Memang benar. 0rang bau tanah absurd itu merubahnya jadi emas. Emas itu kau masukkan dalam sakumu , kau bawa hingga ke sini. Lalu tiba-tiba saja emas berubah jadi batu. Jangan-jangan kau tukar dengan kerikil sungguhan. Emas 0risinil kau sembunyikan!”
“Kurang asuh kau Rantana!” kata Ganang Cul0 hampir berteriak marah.
Tangannya bergerak hendak menampar muka kawannya itu. Tapi mitra di sebelahnya cepat memegang tangannya. 0rang ini berjulukan Janger Kawala. Dia yaitu yang paling bau tanah diantara mereka.
“Tak ada gunanya kita bersikeras satu sama lain. Menurutku kakek andal akr0bat itu yaitu se0rang tukang sihir. Dia berani mempermainkan kita. Berani menipu! Kita harus mencarinya. Meramp0k uang hasil pertunjukkan akr0batnya kemudian menghajarnya hingga mampus!”
“Kau betul ,” kata penjahat berjulukan Tumara Akun. “Aku sempat melihat gembel sialan itu pergi ke arah Timur. Dia jalan kaki. Kita niscaya bisa mengejarnya!”
Keempat penjahat itu segera memutar kuda masing-masing kemudian bergerak menuju ke Timur dengan cepat.
***
Kakek berpakaian r0mbeng berjalan se0rang diri sambil memb0langbalingkan t0ngkat kayunya. Agaknya beliau dalam keadaan girang lantaran hari itu banyak sumbangan uang atau sedekah dari penduduk Kut0barang. Saat itu beliau berada jauh di Timur K0ta , melangkah di pinggir pedataran yang banyak ditumbuhi alangalang.
Tiba-tiba di belakangnya terdengar bunyi derap kaki kuda mendatangi. Karena jalan sempit dan beliau tidak mau diterjang kuda maka cepat-cepat 0rang bau tanah ini menepi sambil pegangi pinggiran capingnya , di bawah mana beliau menyimpan seluruh uang l0gam hasil pertunjukan akr0batnya.
“Ini beliau penipu keparat itu!” satu bunyi membentak menggeledek di belakangnya bersamaan degnan berhentinya derap kaki-kaki kuda.
“Tua bangka tukang sihir! Jangan harap kau bisa melarikan diri! Kami akan menghajarmu hingga mati!” bentakan kedua terdengar.
Belum sempat 0rang bau tanah itu berpaling , satu tendangan menghantam pundak kanannya.
“Bukkk!”
Tak ampun lagi 0rang bau tanah itu tersungkur ke tanah. Tapi anehnya capingnya masih melekat di kepalanya , t0ngkat bututnya juga masih tergenggam di tangan kanan. Perlahan-lahan beliau berdiri , menatap pada empat 0rang penunggang kuda berpakaian serba hitam.
“Aneh , meskipun tersungkur tapi bau tanah bangka ini bisa menahan tendanganku! Dia tidak kelihatan cidera. Bahkan kerenyit kesakitan pun tidak tampak di wajahnya yang keriput ,” begitu Rantana berkata dalam hati. Dialah tadi yang menendang gembel bau tanah itu.
“Eh , kalian berempat bukankah gemar memberi yang memperlihatkan saya seb0ngkah emas di Kut0barang , tapi kemudian diambil lagi?” kata pengemis bau tanah itu. “Sekarang kalian muncul lagi. Menendangku! Apa salahku?”
“Tua bangka penipu! Pengemis buta tukang sihir sialan!” hardik Ganang Cul0.
Dari dalam saku pakaian dikeluarkannya sebuah kerikil sebesar kepalan tangan. “Ini emas yang kau berikan itu!” teriaknya dengan mata mendelik. “Kau b0leh ambil kembali!” Lalu Ganang Cul0 lemparkan kerikil itu ke arah si pengemis.
“Plukkk!”
Batu sebesar kepalan mendarat sempurna di dagu 0rang bau tanah itu. Lagi-lagi aneh.
Dagu yang dihantam kerikil tampak merah. Namun si 0rang bau tanah jangankan bergeming , memperlihatkan rasa sakit sedikit sajapun tidak!
“Tua bangka jahanam! Rupanya kau punya ilmu juga hah! Lalu mau jual lagak di hadapanku! Baik! Aku mau lihat hingga di mana kehebatanmu. Kau bisa mer0bah kerikil jadi emas kemudian mengembalikannya jadi batu. Aku juga punya kemampuan mer0bah tubuhmu jadi daging cincang dan p0t0ngan tulang belulang!”
Ganang Cul0 cabut g0l0knya. Sekali l0mpat saja tubuhnya melayang di udara.
G0l0k berkelebat ke arah kepala pengemis tua.
“000 ladalah! Walau sudah bau tanah bangka begini saya masih ingin hidup lama di dunia!” teriak si pengemis bau tanah kemudian tangan kanannya yang memegang t0ngkat bergerak.
Ujung t0ngkat melesat ke arah tubuh g0l0k.
“Treek….”
Walau t0ngkat kayu itu memukul tubuh g0l0k perlahan saja namun Ganang Cul0 merasa se0lah senjatanya dihantam bal0k besar. Tak ampun g0l0k terlepas mental.
Tiga sahabat Ganang Cul0 terkesiap kaget melihat apa yang terjadi. Sebaliknya rasa malu dihajar hanya satu kali gebrakan saja menciptakan dirinya murka sekali. Masih melayang di udara beliau membentak sambil menciptakan gerakan jungkir balik. Tahu-tahu kaki kanannya melesat ke arah rahang kiri kakek berpakaian r0mbeng. Nnemun tendangan itu tak pernah sampai. Ujung t0ngkat di tangan si kakek lebih dulu menyentuh perutnya. Lalu entah bagaimana caranya , entah gerakan apa yang dilakukan 0rang bau tanah ini tubuh Ganang Cul0 kelihatan naik ke atas kemudian berputarputar mirip baling-baling. Makin lama makin kencang. Rasa sakit pada perutnya , gamang 0leh putaran yang cepat ditambah dengan amarah menciptakan GanangCul0 berteriak habis-habisan. Dia berusaha melepaskan pukulan tangan k0s0ng mengandung enaga dalam ke arah si kakek. Tapi selalu luput lantaran tubuhnya terus berputar. Malah beberapa pukulannya hampir mengenai teman-temannya sendiri.
0rang bau tanah bercaping tertawa mengekeh. Tiba-tiba beliau menarik tangannya yang memegang t0ngkat. Untuk seketika tubuh Ganang Cul0 masih melayang berputar di udara. Namun sesaat kemudian tubuh tinggi besar itu ambruk jatuh bergedebuk di tanah.
Ganang Cul0 menjeri kesakitan. Tulang pinggulnya sebelah kiri remuk. Dari mulutnya keluar caci maki. Dia berusaha berdiri tapi rubuh kembali. Akhirnya makiannya ditujukan pada tiga temannya.
“Kalian keparat semua! Tua bangka gila itu memperlakukan saya mirip ini!
kalian cuma berdiri mirip patung!”
“Sret! Sret! Sret!”
Tiga g0l0k besar dicabut. Rantana , Tumara Akun dan Janger Kawala cabut g0l0k masing-masing kemudian mengurung pengemis bercaping. Ketika Rantana dan Tumara Akun siap menyerang , Janger Kawala yaitu penjahat paling bau tanah diantara mereka mengangkat tangannya.
“Tunggu dulu ,” katanya. “Kita bertiga. Membunuh jembel busuk ini semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum beliau kita cincang , biar saya menanyakan emas sebesar kepalan itu padanya…..” Janger Kawala maju satu langkah. “Dimana kau sembunyikan emas itu! Lekas keluarkan dan srahkan padaku!”
“Ah , kalian masih saja bicara dan meminta emas itu. Bukankah tadi kawanmu yang mel0ngs0r di sana itu sudah membuangnya dan melemparkannya padaku?”
“C0ba buka capingmu!” hardik Tumara Akun.
Seperti patuh 0rang bau tanah itu buka capingnya.
“Mendekat ke sini! Aku mau lihat apa saja isinya!”
Yang diperintah melangkah mendekati Tumara Akun kemudian mengangsurkan capingnya. Dalam caping bambu ada sebuah kant0ng kain butut.
“Apa isi kant0ng it?!” tanya Tumara Akun.
“Uang sedekah 0rang-0rang di Kut0barang ,” jawab si 0rang tua.
“Kalau begitu serahkan padaku!” sekali rengut saja kant0ng berisi uang l0gam itu berpindah ke tangan si penjahat.
“Mana emasnya?!” tanya Janger Kawala.
“Tak ada padaku…..”
Mata Janger Kawala perhatikan buntalan di pundak si kakek. “Apa isi buntalan itu?!”
“Barang-barang r0ngs0kan. Pakaian r0mbeng…..”
Janger Kawala menyeringai. “Biar saya periksa sendiri!” katanya. Sekali lagi tangan kiri Janger Kawala berkelebat. Buntalan di pundak si kakek berhasil dibet0tnya kemudian dibukanya dengan cepat. Isinya ternyata memang pakaian-pakaian r0mbeng. Lalu ada sebuah kaleng butut yang sudah peny0k-peny0k.
“Apa ini?!” tanya Janger Kawala.
“Kau lihat sendiri. Kaleng butut peny0k…..”
Janger Kawala g0yang-g0yangkan kaleng itu beberapa kali. Suara berisik berker0ntang memenuhi tempat itu.
“Eh , apa isi kaleng ini?!” tanya Rantana saling pandang dengan Janger kawala.
Si kakek tertawa perlahan. “Kalian niscaya menyangka saya menyembunyikan p0t0ngan-p0t0ngan emas dalam kaleng ini. kalau mau tahu kaleng ini isinya batu-batu kerikil…..”
Rantana berpikir , “Kalau cuma batu-batu kerikil buat apa bau tanah bangka gila ini memasukkannya ke dalam kaleng. Dia berdusta. Aku harus memb0ngkar kaleng ini!”
Namun maksud Rantana itu urung lantaran ketika itu Janger Kawala berkata.
“Tumara , Rantana! Geledah bau tanah bangka penipu ini!”
“Eh , kalian ini mau apa? Jangan pegang. Aku ini penggeli!” kata si kakek seraya melangkah mundur begitu Tumara Akun dan Rantana bergerak mendekatinya.
“Kalau beliau tak mau digeledah berari emas itu memang ada padanya. Di sembunyikan di salah satu p0t0ngan pakaiannya!” Yang berkata yaitu Ganang Cul0 yang ketika itu mash tergeletak di tanah. “Buat apa bersusah payah! Bereskan saja dia.
Habis perkara!”
“Ganang Cul0 betul! Saatnya kita mencincang bajingan tengik bau tanah bangka ini!” kata Rantana yang rupanya sudah habis kesabaran. Lalu beliau mel0mpat mendahului dua kawannya. G0l0k di tangannya dipancungkan ke arah bat0k kepala si kakek.
“Celaka! Kalian hendak menjagalku!” teriak pengemis tua. Cepat beliau mengenakan capingnya kembali. Tangan kirinya bergerak menyambar kaleng peny0k di dalam buntalan. Tangan itu berg0yang. Batu-batu kerikil di dalamnya memukul tubuh kaleng. Terdengar bunyi berker0ntang yang menyengat pendengaran , menciptakan tiga penyerang bahkan Ganang Cul0 yang berada labih jauh merasa sakit dan bergetar gendang-gendang pendengaran masing-masing.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan gembel bau tanah itu terhadap Ganang Cul0 cukup menciptakan Janger Kawala dan dua kawannya sadar bahwa mereka tengah menantang gunung di depan mata. Namun amarah merasa ditipu dan dipermainkan serta keserakahan hendak mendapatkan emas sebesar kepalan itu kembali menciptakan mereka mirip buta. G0l0k Rantana menderu keras. Menyusul g0l0k Janger Kawala dan Tumara Akun. Ganang Cul0 menyeringai di kejauhan. Sesaat lagi tubuh pengemis itu akan lumat dicincang g0l0k tiga kawannya.
0rang bau tanah yang diserang sekali lagi ker0ntangkan kalengnya. T0ngkat kayu butut di tangan kanannya melesat menciptakan alur setengah lingkaran. Saat itulah tibatiba terdengar bunyi seruan.
“Kakek Segala Tahu! Serahkan tiga ek0r tikus hutan ini padaku!”
Satu bayangan putih berkelebat. Lalu “Plaakk! Buuukkk! Duukkkk!”
TUJUH
Janger Kawala meraung kesakitan. Tiga giginya tanggal. Darah bercucuran dari mulutnya. G0l0knya mental entah kemana. Di sebelahnya Tumara Akun terjengkang jatuh duduk di tanah. Tulang dadanya remuk. Dalam keadaan megap-megap sulit bernafas kesannya beliau r0b0h terguling. Dari mulutnya keluar darah kental. Rantana yang paling parah. Mata kirinya hancur. Darah membasahi sebagian mukanya. Suara jeritannya mirip mau menembus langit!
Di antara raung kesakitan itu pengemis berpakaian r0mbeng tertawa mengekeh. Lalu beliau berucap. “Anak sableng! Untung kau tiba hingga si bau tanah bangka ini tak perlu susah-payah!”
Pemuda berambut g0ndr0ng , berpakaian putih yang bukan lain yaitu Pendekar 212 Wir0 Sableng dan yang barusan menghajar tiga penjahat itu membungkuk memberi h0rmat.
“Kek , syukur saya bisa menemuimu! Kalau tidak ketemu entah bagaimana jadinya?!”
“Bah! Rupanya kau tiba membawa perkara! Bukan khusus muncul men0l0ngku!” 0rang bau tanah yang dipanggil dengan sebutan Kakek Segala Tahu itu merengut. “Perkaramu bisa dibicarakan nanti. C0ba kau urus dulu penjahat buruk yang satu itu. Kudengar beliau hendak merayap kabur!”
Yang dimaksud Kakek Segala Tahu yaitu Ganang Cul0. Sungguh luar biasa pendengarannya hingga merupakan sepasang mata yang tak kalah tajamnya dengan mata biasa. Penjahat itu benar-benar putus nyalinya melihat apa yang terjadi dengan tiga 0rang temannya. Meski ketika itu tulang pinggulnya sebelah kiri remuk dan sakit bukan kepalang namun rasa takut menerima hajaran lagi menciptakan penjahat ini kumpulkan tenaga untuk bisa bangun kemudian melarikan diri. Tapi usahanya sia-sia saja.
Dia hanya bisa merayap. Ketika menc0ba berdiri tubuhnya ambruk. Saat itu justru Pendekar 212 Wir0 Sableng hingga di hadapannya.
“Jangan….. Jangan…..” bunyi Ganang Cul0 setengah meratap.
“Kek , kau mau saya apakan kampret ini?” tanya Wir0.
“Ampun! Jangan!” jerit Ganang Cul0.
Kakek Segala Tau ker0ntangkan kaleng r0mbengnya. Lalu berkata “Selama ini , kampret itu gentayangan melaksanakan kejahatan di mana-mana. Dari tubuhnya yang paling banyak berbuat jahat yaitu tangan kanannya. Kurasa ada baiknya kalau kau patahkan jari-jari tangan kanannya barang beberapa buah!”
“Aku berdasarkan saja apa yang kau perintahkan Kek ,” jawab Wir0.
“T0bat! Ampun! Jangan patahkan tanganku!” teriak Ganang Cul0 Wir0 melangkah mendekat. “Kurasa itu eksekusi paling ringan bagimu kampret! Masih untung beliau tidak meminta saya mematahkan batang leher jalan nafasmu!”
“Aku benar-benar bert0bat!” teriak Ganang Cul0.
“Ah , s0al t0bat-t0batan itu urusanmu dengan Tuhan! Aku tidak menampung urusan t0bat-t0batan!” kata Pendekar 212 pula. Lalu beliau membungkuk menyambar tangan kanan Ganang Cul0. Penjahat ini cepat tarik lengannya. Namun ketika itu Wir0 sudah meremas telapak tangan kanannya. “Kraakkk….. kraakkkk….. kraakkkk….!”
Tiga jari tangan kanan Ganang Cul0 dan juga sebagian tulang telapak tangannya remuk. Penjahat ini mel0l0ng setinggi langit kemudian bergulingan di tanah.
Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kaleng r0mbengnya kemudian tertawa mengekeh.
T0ngkat kayu di b0lang-baling. Dia melangkah mendekati Janger Kawala.
“Setttt!” ujung t0ngkat si kakek melesat ke arah leher pakaian penjahat yang tiga giginya r0nt0k itu. terjadilah satu hal luar biasa ketika Kakek Segala Tahu menyentakkan t0ngkat. Tubuh Janger Kawala melayang ke udara , jatuh sempurna di atas tubuh Ganang Cul0 uang ketika itu masih menjerit-jerit kesakitan. Si kakek kemudian melangkah ke arah Tumara Akun. 0rang yang dadanya remuk ini dan mengeluarkan darah dari lisan berusaha menghindar sewaktu dilihatnya kakek bercaping itu mendatangi. Namun terlambat. Ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu sudah menyambar leher pakaiannya. Tubuhnya terangkat ke atas. Dia c0ba memukul t0ngkat dengan tangan kiri. Berhasil.
“Bukkk!” Tapi justru dari mulutnya keluar jerit kesakitan. Darah ikut muncrat.
Dia mirip memukul besi , bukan t0ngkat kayu. Sebelum beliau bisa berbuat yang lain , tubuhnya tahu-tahu sudah terlempar ke udara. Seperti Janger Kawala tadi , Tumara Akun pun jatuh menimpa tubuh Ganang Cul0 hingga ketiganya saling tumpang tindih.
Lain halnya dengan Rantana yang mata kirinya hancur dan masih terus mengucurkan darah. Dalam keadaan mengerang penjahat satu ini hanya pasrah saja melihat apa yang akan dilakukan 0leh si kakek. Ujung t0ngkat melesat. Rantana mencicipi tubuhnya terangkat kemudian mirip dilempar dirinya melesat ke udara. Dia berusaha berjungkir balik untuk menghindarkan jatuh menimpa tiga kawannya yang tumpang tindih babak belur. Tapi gagal. Dia jatuh lebih dulu dengan kepala menghantam dagu Tumara hingga tak ampun lagi Tumara Akun terl0njak kesakitan kemudian diam tak berkutik , pingsan!
Sambil memb0lang-balingkan t0ngkat dan meng0yang-g0yangkan kaleng r0mbengnya Kakek Segala Tahu membalikkan tubuh ke arah Wir0.
“Ay0 kita pergi dari sini. Empat kampret itu sudah cukup mendapatkan pelajaran.
Kalau mereka masih meneruskan hidup sebagai penjahat , lain kali bertemu niscaya akan kulipat jalan nafasnya!” Si kakek ambil kant0ng uang dan buntalan miliknya yang tercampak di tanah.
Pendekar 212 segera mengikuti Kakek Segala Tahu. T0ngkat dan sepasang telinganya menjadi pengganti matanya. Di satu tempat , lantaran tidak tahan lagi dan ingin cepat-cepat bicara , c0w0k itu berkata.
“Kek , ada satu hal penting yang saya ingin minta bantuanmu.”
“Heeemmmm….” Si kakek menjawab dengan gumaman kemudian ker0ntangkan kalengnya dan terus saja berjalan.
Walau hati kecilnya kecewa melihat perilaku si kakek namun lantaran maklum kalau 0rang bau tanah itu memang sering bersikap absurd maka beliau hanya bisa diam dan terus mengikuti.
Di sebuah tikungan jalan di mana terdapat satu kerikil besar Kakek Segala Tahu hentikan langkahnya kemudian duduk di atas kerikil itu. Sesaat beliau memandang pada c0w0k di hadapannya itu , ker0ntangkan kalengnya beberapa kali kemudian berkata. “Beberapa 0rang t0k0h persilatan dikabarkan menghilang secara absurd tanpa diketahui ke mana perginya. Apakah hal penting yang hendak kau katakan itu ada sangkut pautnya dengan diri mereka?”
“Aku kurang mengetahui mengenai menghilangnya t0k0h-t0k0h silat itu. Saat ini saya butuh pert0l0nganmu. Se0rang sahabatku terancam keselamatannya. Dia disekap dan disiksa di alam gaib. Alam siluman. Aku berhasil mengetahui letak daerah mistik itu. Di kaki Selatan Gunung Merapi. Di satu rimba belantara berjulukan Tapakhalimun…..”
Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kalengnya kemudian berkata. “Sahabatmu yang kau katakan itu niscaya se0rang wanita cantik….”
“Bagaimana kau tahu Kek?” tanya Wir0.
0rang bau tanah itu menyeringai dan buka capingnya. “Pemuda sepertimu , kalau bukan urusan wanita manis mana mungkin kau mau mencari urusan. Mencariku segala…..! Siapa nama si manis itu?”
Murid Sint0 Gendeng garuk-garuk kepalanya. “Namanya Suci. Aku biasa memanggilnya Bunga. Dia disekap di daerah siluman hutan Tapakhalimun.”
“Bagaimana kau bisa tahu beliau disekap. Di hutan Tapakhalimun?”
“Mula-mula saya menerima petunjuk dari mimpi….”
“Mimpi? Itu petunjuk gila. Bisa betul bisa menipu!”
“Tapi Kek , kemudian saya c0ba memanggilnya dari alam gaib….”
“Pendekar 212 , saya gres tahu kalau kau punya ilmu baru. Pandai memanggil 0rang dari alam gaib. Lalu apakah sahabatmu itu sebangsa dedemit atau hantu kuburan?!” tanya Kakek Segala Tahu sambil ker0ntangkan kalengnya.
“Sebaiknya saya ceritakan saja padamu asal-usul saya mengenal Bunga ,” kata Wir0 pula. Lalu diceritakannya semua kejadian di masa kemudian yang telah dialaminya.
“Kau tidak berdusta….?” Tanya Kakek Segala Tahu begitu Wir0 mengakhiri kisahnya.
Murid Sint0 Gendeng menggeleng. “Aku tidak berdusta. Juga tidak bergurau.
Aku tidak main-main Kek. Keselamatan gadis itu terancam….”
Kakek buta itu balas gelengkan kepala. “Men0l0ng 0rang yang sudah mati dari kematian…. Benar-benar tak bisa dipercaya. Sudah jadi apa dunia ini sebenarnya? Kalau tidak mendengar dari mulutmu sendiri , sulit saya bisa percaya!”
“Kau punya ilmu. Punya kesaktian untuk melihat segala sesuatu. Itu sebabnya kau digelari Kakek Segala Tahu….”
0rang bau tanah itu tertawa mengekeh. “Yang namanya insan itu bagaimanapun tinggi ilmu selalu ada keterbatasan. Ingat hal itu Wir0! Mengenai hutan Tapakhalimun itu memang sudah lama saya dengar keangkerannya. Kata 0rang dulu di situ ada satu kerajaan kecil yang makmur. Rajanya tersesat dalam ilmu-ilmu mistik mengerikan. Seisi istana dan semua 0rang di kerajaan berubah menjadi siluman.
Rupanya mereka masih berc0k0l di sana….”
“Lalu yang saya tidak mengerti , mengapa siluman-siluman hutan Tapakhalimun itu menculik Bunga dari alam gaibnya. Menyekap dan menyiksanya…. Kita harus men0l0ng beliau Kek!”
“Men0l0ng 0rang yang sudah mati dan gentayangan di alam gaib. Jangan kau murka kalau kukatakan bahwasanya gadis itu juga sudah jadi siluman. Bedanya beliau siluman baik-baik dan manis hingga kau mau menyabung jiwa untuk menyelamatkannya…..”
“Terserah kau mau menyebutnya siluman , hantu atau apa! Yang penting beliau harus diselamatkan….”
Kakek Segala Tahu menghela nafas panjang. Dia mend0ngak. Matanya yang putih buta menatap langit. Lalu kaleng di tangan kirinya diker0ntangkannya beberapa kali.
“Katamu kau bisa memanggilnya melalui bunga kenanga itu. c0balah saya ingin melihat….”
Dalam hati Pendekar 212 menggerutu. “Kedua matanya jelas-jelas buta. Apa yang bisa dilihatnya?”
Namun untuk lumayan 0rang bau tanah itu Wir0 keluarkan juga bunga kenanga pemberian Suci dari dalam saku bajunya. Sambil memejamkan mata bunga itu diletakkannya di depan hidung kemudian diciumnya dalam-dalam. Hawa segar dan harum menyeruak masuk kedalam tubuhnya. Tak segera terjadi apa-apa. Wir0 menunggu. Tetap saja tidak ada gejala Bunga akan muncul.
“Mungkin jarak dari sini ke hutan Tapakhalimun itu terlalu jauh Kek. Aku tak bisa menghubunginya….” Kata Wir0.
“C0ba sekali lagi ,” ujar Kakek Segala Tahu seaya memegang pundak Wir0.
Pemuda itu mencicipi ada satu hawa absurd masuk ke dalam tubuhnya yang dipegang.
Dia maklun kalau si kakek kini menyalurkan kekuatan saktinya ke dalam dirinya untuk membantu memberi kekautan. Wir0 dekatkan lagi bunga kenanga itu ke hidungnya dan menghirup dalam-dalam. Sunyi. Tak ada bunyi tak ada bayangan yang muncul. Namun sesaat kemudian terdengar bunyi l0l0ngan anjing di kejauhan disertai jeritan-jeritan mengerikan. Setelah itu kurang jelas nampak satu s0s0k berpakaian putih muncul dalam keadaan terikat pada sebuah t0nggak kayu.
“Bunga…..” bisik Wir0 memperhatikan. Keadaan gadis itu tidak beda seperti
yang dilihatnya sebelumnya. Pakaiannya putih penuh darah begitu juga wajahnya. Kedua matanya terpejam. Di kiri kanan dua mahluk menyeramkan mirip asap , meliuk-liuk menjaga. Tiba-tiba Bunga membuka kedua matanya. Dari mulutnya keluar jeritan menggidikkan. Suara jeritan itu menggema laksana menggelegar dalam juran kerikil yang dalam. Bersamaan dengan lenyapnya gema jeritan , sirna pula s0s0k tubuh Bunga dan dua mahluk menyeramkan itu.
Wir0 simpan kembali bunga kenanga dalam saku bajunya. Dia berpaling pada Kakek Segala Tahu dan bertanya. “Apa yang kau lihat Kek?”
0rang bau tanah itu mend0ngak. “Aku memang tidak melihat apa-apa. Tapi saya bisa mendengar dan merasakan. Bencana yang menimpa sahabatmu itu memang luar biasa.
Jika mahluk yang berasal dari alam lain tidak bisa melawan kekuatan hitam itu , apalagi kita insan biasa!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?’ tanya Wir0.
Kakek Segala Tahu mend0ngak dan ker0ntangkan kalengnya. “Kita harus segera meninggalkan tempat ini. di tengah jalan siapa tahu saya bisa mendapatkan petunjuk.”
“Kita harus mencari kuda. Sebelum sanggup biar kau kugend0ng dulu!” kata Wir0 yang sudah tidak sabaran. Lalu cepat saja si kakek didukungnya di belakang punggung , terus lari ke arah Timur.
“Eh , kau ini mau membawa saya ke mana?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Ke mana lagi kalau bukan ke hutan Tapakhalimun?!” sahut Wir0.
“Percuma ke sana. Kau sudah c0ba menembus tabir alam siluman itu. Tak berhasil. Aku pun rasa-rasanya tidak sanggup.”
“Celaka kalau begitu!” ujar Wir0 seraya hentikan langkahnya. Si kakek diturunkannya dari punggungnya. Nafasnya memburu dan dadanya turun naik.
“Jangan lekas frustasi anak muda ,” kata 0rang bau tanah itu sambil ker0ntangkan kalengnya. “Di dunia ini segala urusan ada jawabannya. Hanya untuk mencari balasan itu insan harus memutar 0tak. Beberapa waktu kemudian saya menyirap kabar ada t0k0h-t0k0h persilatan tengah mengejar s0rang sakti berjulukan Keb0 Pradah…..”
“Aku tidak tertarik mendengar ceritamu. Apa hubungan kejadian yang tengah kualami dengan Keb0 atau Sapi Pradah itu?!”
Si kakek tertawa bergelak. “Sudah kubilang segala urusan bisa diselesaikanjika insan mau memutar 0tak mempergunakan akal. Jangan seradakseruduk tak tahu juntrungan mirip yang sudah kau lakukan. Keb0 Pradah bukan 0rang sembarangan. Jika para t0k0h memburunya berarti ada satu urusan luar biasa yang tengah mereka hadapi. Kabar yang saya sirap menyampaikan para t0k0h itu mengejar Keb0 Pradah sehubungan dengan lenyapnya beberapa t0k0h silat secara aneh. Siapa-siapa yang lenyap masih belum diketahui dengan jelas. Si Keb0 Pradah ini mempunyai tugas penentu. Kabarnya beliau satu-satunya insan yang punya kekuatan untuk menyingkap tabir mistik dan untuk sanggup menembus ke dalam daerah alam siluman di hutan Tapakhalimun itu…… Tanpa beliau duduk masalah ini tak akan terpecahkan….”
“Kalau memang begitu masalahnya di mana kita bisa mencari Keb0 Pradah?”
“Itu sulitnya. Karena beliau diburu-buru dengan sendirinya beliau selalu kabur menyembunyikan diri. Terakhir saya dengar beliau berada di sebuah hutan kecil di Barat Gunung Merbabu. Kalau saja kita tidak kedahuluan 0leh para t0k0h itu mungkin kita bisa minta bantuannya….”
Wir0 mel0mpat. Mendukung Kakek Segala Tahu di punggungnya kemudian lari sekencang-kencangnya.
“Eh , ke mana tujuan kita kali ini?!” tanya Kakek Segala Tahu.
“Apa perlu kau tanyakan lagi Kek? Sudah niscaya ke daerah di Barat Gunung Merbabu!” jawab Wir0.
“Ah! terserah kaulah! Aku hanya memb0nceng di punggungmu!” kata Kakek Segala Tahu pula kemudian ker0ntangkan kaleng r0mbengnya.
DELAPAN
0rang yang berdiri di depan Keb0 Pradah yaitu se0rang wanita separuh baya bertubuh tinggi. Wajahnya bahwasanya manis namun jadi tampak lucu lantaran dandanannya yang tebal. Bibir dan pipinya merah menc0r0ng. Alisnya hitam panjang dengan kedua ujung mencuat ke atas. Sepasang matanya mempunyai pandangan taja dingin. Walaupun kepekatan malam membungkus tempat itu namun lantaran berhadapan begitu bersahabat Keb0 Pradah sanggup melihat seluruh s0s0k 0rang ini dengan jelas.
Perempuan ini mengenakan jubah berbentuk aneh. Bagian dadanya sangat ketat berp0t0ngan rendah sehingga lebih dari separuh payudaranya menyembul besar keluar. Di bawah pinggangnya yang sangat ramping jubah berbunga-bunga itu menggembung besar mirip ada ganjalannya. Di belakang rambutnya yang dik0nde tinggi ada tujuh helai bulu burung merak warna-warni yang dijadikan hiasan mirip sebarisan tusuk k0nde.
Untuk sesaat lamanya Keb0 Pradah tak bisa berkata apa-apa , hanya tegak memandang denan lisan terkancing.
“Keb0 Pradah , kau diam lantaran kaget tak menyangka pertemuan ini atau terpes0na melihat buah dadaku yang besar?’
Paras Keb0 Pradah kelihatan merah padam.
Perempuan manis berdandan men0r dan punya bunyi merdu itu tertawa panjang kemudian melanjutkan ucapannya. “Dulu kau pernah bersenang-senang menikmati keindahan bauh dadaku. Tapi setelah kau puas kau kabur begitu saja. Sekarang apakah kau masih ingin mengelus dan menciumnya?!”
“Dewi Merak Bungsu….”
“Ah , itu gelaranku. Kau biasanya memanggil nama asliku. Kuntini Arimurti.
Kenapa kini kau tidak memanggilku denagn nama asli?’
“Kuntini , terus terang tentu saja saya gembira dengan pertemuan ini….”
“Kalau begitu kita bisa bersenang-senang lagi mirip dulu? Mandi berdua di danau Rawapening , bercanda di atas tanjang atau bergurau di pedataran di bawah bulan purnama?”
“Kuntini , apa yang terjadi di masa kemudian untuk apa diungkit lagi. Kita tak berj0d0h jadi suami istri. Umur kita terpaut jauh. Hampir dua puluh tahun…..”
“Alangkah enaknya kau bicara mirip itu. Untung saja hubungan gila itu tidak membuatku hamil. Kalau hingga saya melahirkan anak , kau akan kubunuh di hadapan bayimu sendiri!”
Keb0 Pradah terdiam. Dewi Merak Bungsu alias Kuntini Arimurti terus menatap 0rang itu dengan pandangan lekat hirau taacuh tak berkedip.
“Aku kasihan meihat keadaan dirimu Keb0 Pradah , kau kabur kian kemari.
Sembunyi di sana-sini. Menyamar jadi resi , jadi petani. Sekarang kulihat kau menyamar jadi se0rang pengemis. Apa enaknya hidup mirip itu?”
“S0al yummy atau tidak biar saya yang menanggung sendiri. Aku berbuat mirip ini bukan kau menghindar atau menc0ba sembunyi darimu. Tapi lantaran dikejar-kejar 0leh t0k0h-t0k0h silat dengan alasan gila tak masuk akal!”
“0hhh , begitu rupanya…..” kata Dewi Merak Bungsu sambil sunnggingkan senyum sinis.
“Lalu apakah kemunculanmu untuk menghukum perbuatanku di masa lalu?” tanya Keb0 Pradah.
“S0al aturan menghukum biar kita serahkan pada yang Kuasa. Bukan saya , kelak bakal ada 0rang lain yang menghukummu. Kalaupun tidak ada yang menghukummu di dunia ini , Gusti Allah akan menghukummu di akhirat. Lagi pula kedatanganku ke sini bukan mengungkit masa lalu. Aku buka anak kecil atau se0rang pengemis yang minta belas kasihanmu. Aku perlu pert0l0nganmu. Hanya dengan memberi pert0l0ngan padaku kau bisa menebus d0sa di masa lalu.”
“Ah , beliau masih pintar bicara mirip dulu. 0taknya cerdik se0lah ada sepuluh 0tak dalam kepalanya ,” kata Keb0 Pradah dalam hati.
“Pert0l0ngan apa yang hendak kau harapkan dariku. Katakan cepat lantaran saya tak ada waktu lama…..”
“Kenapa terburu-buru Keb0 Pradah. Takut akan muncul lagi 0rang-0rang pandai? Saat ini hanya kita berdua di sini. Tak usah kawatir. Yang saya inginkan ialah sem0ga kau membantu saya membuka tabir Pintu Neraka di hutan Tapakhalimun…..”
“Ternyata maksud kedatanganmu tidak beda dengan 0rang-0rang yang lebih dulu muncul di tempat ini!”
“0h , begitu?” ujar Dewi Merak Bungsu sambil menyeringai dan memandang berkeliling. “Hemmmmmm Pasti kau men0lak ajakan mereka kemudian membunuh mereka. Memang banyak kulihat yang sudah jadi k0rbanmu. Dua bersaudara Cengkir Lesmana. Lalu ada bau tanah bangka berpunuk. Kemudian satu lagi si Pengail Sakti Muka Kuning. Mereka bukan 0rang-0rang sembarangan. Jika kau bisa membunuh mereka dengan gampang berarti kepandaianmu sudah jauh meningkat….”
“Terserah kau mau menilainya bagaimana. Yang terang saya tidak mau bentr0kan denganmu. Itu saja….”
“Bagus. Baik sekali hatimu. Berarti kau akan meluluskan permintaanku minta t0l0ng tadi….”
“Aku tidak mau mendengar urusan gila itu lagi. Aku tak akan men0l0ngmu atau siapapun!”
“Ah , kalau begitu lain ucapan lain kenyataan!” tukas Dewi Merak Bungsu.
“Kita habisi pembicaraan hingga di sini Kuntini. Lain kesempatan jikalau bertemu lagi kita bisa bicara panjang lebar…. Sebentar lagi pagi akan datang.”
“Tunggu dulu Keb0 Pradah!” kata Dewi Merak Bungsu. Ketika melihat Keb0 Pradah hendak meninggalkan tempat itu. “Bagiku kesempatan hanya ada satu kali.
Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Kuharap kau juga berbuat sama….?”
“Lalu maumu apa?” Keb0 Pradah kelihatan mulai jengkel. Kentara dari nada suaranya.
“Ikut saya ke hutan Tapakhalimun!”
“Kalau saya tidak mau?!”
Dewi Merak Bungsu tertawa panjang hingga buah dadanya yang menyembul besar kelihatan berg0yang-g0yang menciptakan Keb0 Pradah sesaat jadi menahan nafas.
“Kalau kau tidak mau apa dayaku….” Kata Dewi Merak Bungsu pula se0lah0lah pasrah menciptakan Keb0 Pradah menjadi lega. Tapi cuma sesaat lantaran dilain ketika wanita itu meneruskan ucapannya. “Dirimu sangat berharga Keb0 Pradah.
Sehingga s0s0kmu tanpa nyawapun masih bisa menyingkap tabir mistik alam siluman di kaki Gunung Merapi itu. Kaprik0rnus terserah padamu. Mau pergi ke sana hiduphidup atau dalam keadaan jadi mayat!”
Rahang Keb0 Pradah menggembung. Tampangnya membesi. Dalam hati 0rang ini berkata. “Jelas beliau bukan lawanku. Dulu saja ilmunya hampir dua tingkat di atasku. Dia tidak membunuhku di masa kemudian lantaran mencintaiku dan berharap bisa kuambil jadi istri. Tapi kini keadaan sudah berubah. Sebaiknya saya berpura-pura ikut saja. Kalau beliau lengah kuhabisi dirinya!”
“Baiklah Kuntini. Aku bersedia ikut bersamamu ke hutan Tapakhalimun. Tapi sehabis tabir itu tersingkap kita berpisah. Tak ada lagi urusan di antara kita….”
“Terima kasih kau mau men0l0ng. Hanya saja tiba-tiba saja kau berubah pikiran. Membuatku jadi curiga. Karenanya saya terpaksa merubah rencana. Aku terpaksa membunuhmu. Tubuh hidupmu dengan mayatmu sama saja artinya!
Mengapa saya susah-susah harus mempercayaimu?!”
“Rupanya beliau sanggup membaca jalan pikiranku!” membatin Keb0 Pradah. Lalu beliau berkata.
“Kau memang wanita culas! Bukan cuma culas! Tapi juga bangsat!”
teriak Keb0 Pradah marah. “Kau mungkin bisa membunuhku! Tapi saya bersumpah untuk menciptakan dirimu cacat seumur hidup!” teriak Keb0 Pradah lagi. Lalu dari balik pakaiannya dikeluarkan sebuah tabung bambu. Ketika tabung itu dibuka terdengar letupan kecil disertai kepulan asap biru kelabu.
“Cairan pengerut tubuh!” seru Dewi Merak Bungsu terkejut.
Keb0 Pradah mengekeh. “Kau mau bunuh saya silahkan! Tapi wajah dan tubuhmu akan kubuat cacat! Akan kubuat mengkerut hingga setanpun akan takut malihat dirimu!”
Habis berkata begitu Keb0 Pradah gerakkan tangannya yang memegang tabung bambu. Sejenis cairan yang disertai semburan asap muncrat ke luar ke arah tubuh Dewi Merak Bungsu. Perempuan ini menjerit keras kerakutan dan cepat mel0mpat muncur ke belakang serumpunan semak belukar.
Untungnya semak belukar itu diselingi 0leh tetumbuhan berdaun lebar. Kalau tidak beberapa p0t0ngan dari tanagn dan tubuh Dewi Merak Bungsu akan tersiram cairan dahsyat itu. daun-daun yang terkena siraman cairan dahsyat itu. daun-daun yang terkena siraman cairan itu tampak mengepulkan asap dan berl0bang besar. Paras Dewi Merak Bungsu tampak pucat pasi. Di seberang sana dilihatnya Keb0 Pradah tengah memperhatikan tabung bambunya. Lalu terdengar beliau memaki “Setan! Isinya Habis!”
Dewi Merak Bungsu melihat ini kesempatan paling sempurna untuk keluar dari balik semak belukar pribadi menyerang Keb0 Pradah. Maka tanpa pikir panjang lagi beliau segera mel0mpat dari balik semak belukar , menggebrak Keb0 Pradah dengan satu j0t0san keras di p0t0ngan kepala 0rang itu.
Keb0 Pradah tiba-tiba tertawa mengekeh. “Perempuan culas! Kau tertipu!
Tamat riwayatmu sekarang!” Keb0 Pradah angkat tabung bambu tinggi-tinggi.
Ternyata dalam tabung itu masih terdapat banyak cairan dahsayat pengerut tubuh.
“Seerrrrr. Seerrrrr. Seerrrrr!”
Cairan ganas itu muncrat keluar. Dewi Merak Bungsu terpekik. Dia sama sekali tidak menyangka. Saat itu tak ada kesempatan untuk mengelak. Kalaupun beliau bisa menghindar tetap saja sebagian wajah dan pundak kirinya akan kena tersiram cairan!
Pada ketika yang genting itu tiba-tiba dari balik sebatang p0h0n besar menderu sambaran angin sedahsyat t0pan. Dewi Merak Bungsu terpelanting ke kiri dan jatuh ke tanah. Beberapa tetes cairan pengerut lewat di atas kepalanya. Di sebelah sana Keb0 Pradah berseru kaget ketika air pengerut yang disiramkannya ke arah Kuntini tiba-tiba membalik menghantam dirinya. Sebelum beliau terseret 0leh sambaran angin keras itu air pengerut tubuh telah lebih dulu memercik di wajahnya , dada dan tangan kanannya
Keb0 Pradah meraung keras. Sebagian mukanya tenggelam dalam kepulan asap. Ketika kepulan asap lenyap kelihatanlah hal yang mengerikan. Wajah Keb0 Pradah se0lah berubah jadi hantu menakutkan. Pipi kanan dan lisan mengkerut.
Hidungnya kini hanya merupakan r0ngga besar menjijikkan dan mengerikan lantaran dari situ bisa terlihat pengecap dan r0ngga tengg0r0kannya yang juga telah mengkerut.
Mata kanannya hanya tinggal r0ngga besar. B0la matanya yang mengkerut mengecil dan telah jadi buta terbenam di r0ngga yang mengerikan itu! Tangan dan dadanya juga mengalami cacat menggidikkan.
“Anak setan! Sudah ku bilang kau jangan ikut campur urusan 0rang!” satu bunyi terdengar membentak di balik p0h0n besar.
SEMBILAN
Ketika Pengail Sakti Muka Kuning hendak mel0mpat turun dari p0h0n , mirip telah dituturkan sebelumnya 0rang bau tanah sakti ini maupun Keb0 Pradah sama-sama mendengar bunyi ker0ntangan kaleng di kejauhan malam. Mereka sama-sama terkesiap dan curiga bahwa se0rang kakek sakti yang mereka kenal dengan nama Kakek Segala Tahu segera akan muncul di tempat itu untuk urusan yang sama.
Namun bunyi ker0ntangan kaleng terdengar semakin jauh dan kesannya lenyap sama sekali. Apakah bahwasanya yang terjadi?
Saat itu bahwasanya Pendekar 212 dan Kakek Segala Tahu memang hendak menuju ke tempat di mana kedua 0rang itu berada. Namun si kakek buta ini turun dari kudanya kemudian tegak dengan mend0ngak. “Aku tidak tahu apakah kita tiba terlambat atau bagaimana ,” katanya pada Wir0. “Tapi yang terang jauh di sebelah sana Keb0 Pradah tidak sendirian. Sebaiknya kita tinggalkan kuda. Dengan jalan kaki kita purapura menjauh. Mereka menyangka kita sudah pergi. Lalu belakang layar kita kembali mendekati tempat mereka…..”
“Aku sepakat saja dengan pendapatmu Kek ,” kata Wir0 walau hati kecilnya beliau lebih suka untuk pribadi mendatangi tempat di mana Keb0 Pradah berada. Wir0 kemudian turun pula dari kudanya dan mengikuti si kakek mengambil jalan berputar. Menjauh untuk kemudian mendekat kembali dari jurudan lain.
Ketika mereka hingga di tempat itu , dari balik pep0h0nan rapat Wir0 dan Kakek Segala Tahu sempat mendengar pembicaraan Keb0 Pradah dengan 0rang bermuka kuning.
“C0ba kau katakan ciri-ciri 0rang yang berbicara dengan Keb0 Pradah itu.
juga pakaiannya….” Bisik Kakek Segala Tahu pada Wir0.
Pendekar 212 segera menerangkan. “Hemmmmm….. tak ada 0rang lain. Dia niscaya Pengail Sakti Muka Kuning….. kalau beliau berani bertindak keras terhadap Keb0 Pradah , beliau bakal celaka. Ilmunya masih di bawah Keb0 Pradah…..”
“Kalau begitu kita harus membantu si muka kuning itu. Biar Keb0 Pradah bisa ditangkap hidup-hidup kemudian kita bawa ke hutan Tapakhalimun….”
“Tidak perlu. Biar mereka menciptakan urusan dan menyelesaikannya sendiri.
Biarkan mereka bicara panjang lebar. Berarti kita bisa mendengar keteranganketerangan berharga. Menurut kabar yang saya sirap si Keb0 Pradah ini biar hidup atau pun mati kemampuannya tetap saja sama untuk sanggup membuka tabir mistik di hutan siluman itu….” jawab Kakek Segala Tahu. Lalu beliau hampir saja hendak menger0ntangkan kaleng bututnya kalau tidak cepat kaleng itu diambil 0leh Wir0!
Seperti diketahui setelah terjadi pertengkaran antara Keb0 Pradah dan Pengail Sakti Muka Kuning maka perkelahianpun tak sanggup dihindari yang kesannya membawa selesai hidup bagi Pengail Sakti.
Saat itulah bahwasanya Kakek Segala Tahu dan Wir0 hendak keluar dari tempat persembunyian mereka guna menemui Keb0 Pradah. Namun dalam gelapnya malam satu s0s0k berkelebat. Mereka kedahuluan 0rang lain.
Yang muncul ternyata yaitu wanita muda berpakaian semarak absurd dan berwajah manis tertutup dandanan tebal menc0r0ng.
Wir0 cepat memberitahu kakek di sebelahnya. Juga diceritakan ciri-ciri wanita yang barusan muncul itu. “Walah Kek , bajunya sebelah atas terbuka lebar.
Payudaranya menyembul sebesar kelapa. Putih berkilat walau dalam gelap…..”
“Setan kau!” maki Kakek Segala Tahu yang tak bisa melihat. “Kau sengaja menciptakan saya jadi blingsatan….”
“Kau kira-kira kenal siapa wanita ini Kek?”
“Banyak sekali wanita berdandan mirip celepuk. Tapi kalau beliau memang menggunakan tujuh lemabr tusuk k0nde terbuat dari bulu burung merak , saya sudah bisa
menduga. Dan dugaanku tak bakal meleset. Dia yaitu Kuntini , berjuluk Dewi Merak Bungsu. Sebenarnya beliau punya saudara kembar berjuluk Dewi Merak Sulung. Tapi sang kakak meninggal lantaran sakit berat beberapa tahun silam. Si bungsu ini kalau saya tidak salah yaitu kekasih Keb0 Pradah…..”
“Wah , kalau begitu sebentar lagi saya bakal menyaksikan dua 0rang bercumbucumbuan di tempat ini….”
“Husss! 0takmu selalu k0t0r. Lihat saja apa yang terjadi. Setahuku dua 0rang ini sudah berseteru semenjak lama. Dengar saja apa yang mereka bicarakan. Tunggu apa yang bakal terjadi. Dan ingat! Jangan ikut campur! Yang wanita itu ilmunya lebih tinggi dari si Keb0. Aku punya firasat kita bisa menangguk laba dari pertemuan dua 0rang ini…..”
“Keuntungan macam apa?” tanya Wir0.
“Sudah! Jangan banyak tanya. Kudengar mereka sudah mulai bicara….”
Dari balik f0rmasi p0h0n-p0h0n besar Wir0 dan Kakek Segala Tahu diamdiam mendengarkan pembicaaan antara Keb0 Pradah den Dewi Merak Bungsu.
Mula-mula keduanya bicara biasa-biasa saja sedikit berbasa-basi. Namun pembicaraan berubah begitu Dewi Merak Bungsu meminta Keb0 Pradah ikut ke hutan Tapakhalimun di kaki Gunung Merapi. Perkelahian tak sanggup dicegah. Keb0 Pradah yang tahu bahwa beliau tak bakal menang menghadapi bekas kekasihnya itu dengan licik keluarkan sejenis cairan yang bisa merusak daging manusia. Dewi Merak Bungsu hampir saja celaka kalau tidak dibantu 0leh Pendekar 212 yang tiba-tiba melepaskan pukulan “benteng angin ribut melanda samudera” dengan tangan kanan dan “kunyuk melempar buah” dengan tangan kiri.
Akibat dua serangan dahsyat itu Keb0 Pradah bukan saja terpelanting jatuh.
Air pengerut tubuh yang tadi hendak disiramkannya pada Dewi Merak Bungsu kini justru membalik ke arahnya tanpa beliau bisa mengelak. Akibatnya tubuhnya menjadi cacat mengerikan mirip yang diceritakan sebelumnya.
“Anak setan! Sudah kubilang kau jangan ikut campur urusan 0rang!” Kakek Segala Tahu membentak murka ketika telinganya menangkap bunyi raungan Keb0 Pradah. Sebelumnya beliau sudah mencicipi gerakan yang dibentuk Wir0 dan menyusul menderunya dua larik angin dahsyat. “Edan! Edan! Rusak segala rencanaku jadinya!”
“Tapi Kek , kalau tidak kut0l0ng wanita itu niscaya celaka!” kata Wir0 membela diri. “Saat ini saya menyaksikan muka Keb0 Pradah menjadi cacat mengerikan….”
“Lalu apa keuntunganmu?!” hardik Kakek Segala Tahu. “Kau tertarik pada wanita muda itu ya? Kau terangsang melihat payudaranya yang besar hah?!”
Wir0 hanya bisa mesem sambil garuk-garuk kepala. Memandang ke depan dilihatnya wanita yang barusan diselamatkannya mel0mpat keluar dari balik rerumpunan semak belukar , bergerak ke arah Keb0 Pradah yang terkapar di tanah masih meraung-raung. Dewi Merak Bungsu tak sanggup bayangkan kengerian kalau apa yang terjadi dengan lelaki itu menimpa dirinya sendiri.
“Demi Tuhan! Aku minta kau segera membunuhku ketika ini juga Kuntini!
Bunuh! Bunuh aku! T0bat! Aku tak tahan sakitnya! Bunuh saya Kuntini. Sekarang juga!”
“Kau minta mati! Aku akan memberi. Hitung-hitung sebagai penyelesaian hutang piutang atas selesai hidup Merak Sulung!”
“Perempuan bangsat! Apa maksudmu?!”
“Kau ikut bertanggung jawab atas selesai hidup kakak kembarku itu!”
“Setan alas! Semua 0rang tahu kakakmu mati lantaran sakit! Ay0 bunuh aku!
Sekarangggg!”
“Apa yang semua 0rang tahu tidak sama dengan apa yang saya tahu. Kakakku memang mati lantaran sakit. Tapi bukan sakit biasa. Mati lantaran kau masukkan sejenis racun dalam makanannya…..”
“Perempuan iblis! Dalam keadaan mirip ini kau masih mau menuduh dan memfitnahku!” teriak Keb0 Pradah. Laksana mendapatkan kekuatan hebar lelaki ini mel0mpat. Kedua tangannya diulurkan untuk mencekik batang leher Dewi Merak Bungsu. Tapi wanita itu lebih cepat. Tangan kanannya melesat di antara dua lengan Keb0 Pradah.
“Praaaaakkkk!”
Kening Keb0 Pradah rengkah. Tubuhnya terbanting ke tanh. Kali ini tak berkutik lagi untuk selama-lamanya.
Sesaat wanita itu pandangi jenazah Keb0 Pradah. Tak ada rasa kasihan ataupun penyesalan dalam dirinya. Lalu perlahan-lahan beliau memutar tubuh.
Memandang ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar di kegelapan.
“0rang yang telah men0l0ngku , harap keluar unjukkan diri sem0ga saya bisa mengenali dan berterima kasih!” Tiba-tiba Dewi Merak Bungsu keluarkan ucapan.
Di balik p0h0n Kakek Segala Tahu berpaling pada Wir0. “Ay0 , kau tunggu apa lagi? Bukankah kau sudah men0l0ngnya? Kaprik0rnus lekas keluar! Temui dia!”
“Kau saja yang keluar Kek ,” kata Wir0.
“Lah! Kenapa aku?! Bukankah kau tertarik padanya? Kalau kau berada lebih bersahabat dengan beliau , niscaya kau bisa melihat dadanya lebih puas…..! Enakkan?!”
Pendekar 212 menyeringai. Tiba-tiba beliau ker0ntangkan kaleng r0mbeng milik Kakek Segala Tahu yang semenjak tadi dipegangnya.
“Ah , rupanya yang men0l0ngku se0rang t0k0h sakti yang kalau saya tidak salah mengucap dipanggil dengan sebutan Kakek Segala Tahu!” kata Dewi Merak Bungsu. “Kakek Segala Tahu keluarlah. Aku sudah semenjak lama mendengar nama besarmu. Satu keh0rmatan kini kau muncul di sini malah jadi tuan pen0l0ngku.”
Di balik p0h0n Kakek Segala Tahu meng0mel penjang pendek. “Dasar anak setan!” makinya. Kaleng r0mbeng dirampasnya dari tangan Wir0. Lalu mau tak mau beliau melangkah keluar dari balik p0h0n.
Begitu si kakek hingga di hadapannya Dewi Merak Bungsu segera membungkuk memberi h0rmat. “Kakek Segala Tahu , saya sangat berterima kasih.
Kalau kau tidak men0l0ngku entah bagaimana jadinya diriku. Rasanya memang lebih baik mati dari pada cacat mirip yang dialami Keb0 Pradah…..”
“Anak setan itu……”
“Kau menyampaikan sesuatu Kek…..?”
Kakek Segala Tahu batuk-batuk beberapa kali. “Anu maksudku….. Sebetulnya bukan saya yang tadi men0l0ngmu…..”
Sepasang alis mata Dewi Merak Bungsu naik ke atas. Keningnya mengerenyit.
“Lalu siapa yang telah men0l0ngku?”
“Se0rang c0w0k sahabatku. Rasa-rasanya beliau tertarik padamu. Tapi entah mengapa kemudian beliau malu-malu memperlihatkan diri…..”
“Aneh. Tapi beliau bukan benc0ng kan?”
Kakek Segala Tahu tertawa mengekeh. “Siapa namanya?’
“Biar beliau saja yang memberitahu. Aku akan panggil beliau ke sini.” Lalu Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kalengnya. Sesaat kemudian Pendekar 212 Wir0 Sableng ke luar dari balik p0h0n dan melangkah ke arah kedua 0rang itu.
Sesaat Dewi Merak Bungsu menatap c0w0k berambut g0ndr0ng itu. Lalu beliau tersenyum. “Ternyata kau memang bukan benc0ng ,” katanya. Dia menjura kemudian berkata.
“Tuan pen0l0ng , saya sangat berterima kasih , merasa berhutang budi dan nyawa.
Kalau saya b0leh tahu siapa namamu , niscaya akan kukenang seumur hidupku….”
Wir0 melirik pada Kakek Segala Tahu. 0rang bau tanah buta itu tampak tenangtenang saja. “Namaku Wir0….”
“Wir0….. hemmmm saya rasa-rasa pernah mendengar nama itu….” kata Dewi Merak Bungsu. Dia melangkah mendekati. Kedua matanya memandang ke arah dada si c0w0k yang terbuka lantaran bajunya sebelah atas tersibak. Perempuan muda itu melihat rajah tiga angka di dada si pemuda. Berubahlah parasnya. “Sungguh tidak terduga kalau malam ini saya bisa bertemu sekaligus dengan dua 0rang t0k0h silat tingkat atas! Satu di antaranya menjadi tuan pen0l0ngku. Pendekar 212……”
Perempuan itu tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya bisa geleng-gelengkan kepala , dalam hati membatin. “Nama besar c0w0k ini sudah lama saya dengar. Tadinya kukira usianya paling tidak 50 tahun. Tidak sangka ternyata begini muda. Lebih muda dariku…..” Sehabis membatin begitu wanita muda ini bertanya , “Kakek Segala Tahu dan Pendekar 212 , kalau saya b0leh tanya mengapa kalian berdua bisa muncul berbarengan di tempat ini?”
0rang bau tanah itu tidak menjawab. Wir0 juga berdiam diri.
“Ah , kalau kalian punya suatu yang bersifat rahasia kalian tak usah menjawab pertanyaanku tadi ,” kata wanita muda itu sambil mengerling pada Pendekar 212.
“Kek , bagaimana ini ,” berbisik Wir0. “apa kita beritahukan saja? Kita sudah mendengar kalau beliau hendak ke kaki Gunung Merapi. Tujuannya sama dengan tujuan kita. Rasa-rasaya duduk masalah yang kita hadapi juga sama….. Aku minta petunjukmu.”
“Kukira tak ada salahnya kau terangkan saja ,” jawab Kakek Segala Tahu.
Saat itu Dewi Merak Bungsu telah melangkah mendekati jenazah Keb0 pradah.
“Dewi…..” Wir0 memanggil.
Perempuan itu membalik. “Namaku Kuntini…..”
“Begini….. Kurasa antara kita tak perlu ada rahasia. Kami sudah mendengar maksdmu membawa Keb0 Pradah ke daerah hutan Tapakhalimun. Kami pun bahwasanya hendak menuju ke sana. Keb0 Pradah merupakan satu-satunya kunci yang bisa menyingkap tabir hutan siluman itu. Dalam keadaan mati maupun hidup…..”
“Eh , dari mana kau mengetahui hal itu Pendekar 212?” tanya Dewi Merak Bungsu.
“Panggil saya Wir0 saja…..” jawab murid Sint0 Gendeng. “Sebelumnya kami memang sudah menyirap kabar bahwa Keb0 Pradah yaitu satu-satunya 0rang yang bisa men0l0ng kami untuk menembus masuk ke dalam alam siluman di kaki Gunung Merapi itu. Waktu kami hingga di sini , belakang layar kami telah mendengar pembicaraan antara Keb0 Pradah dengan Pengail Sakti Muka Kuning. Lalu hal itu lebih terang lagi setelah kami mendengar pembicaraanmu dengan Keb0 Pradah tadi….”
Kuntini yang bergelar Dewi Merak Bungsu itu terdiam sesaat. Dia melirik pada Kakek Segala Tahu. “Mengapa kalian ingin masuk ke dalam alam siluman di hutan Tapakhalimun itu?” tanya kemudian.
“Aku ingin men0l0ng se0rang sahabat. Dia disekap dan disiksa di tempat itu…..” jawab Wir0. “Di samping itu kami ketahui ada beberapa t0k0h persilatan telah diculik secara aneh. Kami belum tahu siapa-siapa mereka adanya. Namun kami yakin mereka juga talah jadi k0rban mahluk-mahluk jahat hutan siluman itu.”
“Siapa sahabatmu itu?”
“Namanya Bunga. Sebenarnya beliau juga sudah mati dan hidup di alam gaib….”
Sepasang mata Dewi Merak Bungsu membesar. Keningnya mengerenyit.
“Aku tidak mengerti. Sahabatmu itu insan atau apa…..?”
“Kita tidak punya waktu banyak. Kita harus cepat-cepat ke kaki Gunung Merapi. Nanti saja saya menerangkan padamu mengenai sahabatku itu…..”
Dewi Merak Bungsu angkat bahunya. “Kalian ke sini membawa kuda?”
“Ada. Kami tinggalkan agak jauh dari sini ,” jawab Wir0.
“Aku juga membawa kuda. Aku yakin kakek muka kuning ini tiba kemari juga membawa kuda. Binatang itu bisa digunakan untuk membawa jenazah Keb0 Pradah…..”
Kakek Segala Tahu batuk-batuk beberapa kali. “Sebelum pergi , ada dua hal yang ingin kutanyakan padamu Kuntini. Kau b0leh menjawab b0leh tidak.”
“Ya , tanyakan saja ,” kata wanita muda berdandan menc0r0ng itu.
Si kakek ker0ntangkan dulu kaleng r0mbengnya menciptakan Dewi Merak Bungsu terpaksa menutupkan kedua tangannya di pendengaran kiri dan kanan saking bisingnya. “Mengapa kau ingin masuk ke dalam daerah hutan siluman itu?” Kakek Segala Tahu ejekan pertanyaannya.
“Aku mencari sese0rang. Dia juga jadi k0eban kebuasan mahluk-mahluk siluman. Apa hal kedua yang ingin kau tanyakan?”
“Kita , maksudku engaku sudah menguasai Keb0 Pradah yang katanya merupakan satu-satunya insan yang bisa membuka tabir dan menembus masuk ke dalam hutan Tapakhalimun. Yang saya ingin tanyakan bagaimana caranya jenazah itu nanti bisa melaksanakan hal itu….?”
“Betul Kuntini ,” menyambung Wir0. “Walau kau sudah sanggup Keb0 Pradah , apakah kau tahu cara memanfaatkan dirinya untuk menembus dan masuk ke dalam hutan siluman itu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tunggu saja setelah kita hingga di kaki Gunung Merapi ,” jawab Dewi Merak Bungsu pula. Kakek Segala Tahu teridam.
Wir0 pun tak bersuara. Kedua 0rang itu belakang layar memaklumi kalau Dewi Merak Bungsu masih belum sanggup mempercayai mereka.
“Sebaiknya kita berangkat sekarang. Sebentar lagi malam akan berganti siang.
Kita tidak bisa melewati jalan biasa. Terlalu menarik perhatian 0rang lantaran kita membawa ses0s0k mayat…..” kata Kuntini dan melangkah mendekati jenazah Keb0 Pradah.
“Biar saya yang mengg0t0ngnya. Kau cari saja dulu kudamu ,” kata Wir0.
Perempuan muda itu mantap Pendekar 212 sesaat kemudian tersenyum. “Terima kasih. Kau baik sekali….” Katanya.
SEPULUH
R0mb0ngan Dewi Merak Bungsu hingga di kaki Selatan Gunung Merapi dua hari kemudian. Saat itu matahari gres saja tersembul di permukaan bumi.
“Di sini temp0 hari saya c0ba menembus masuk ke dalam hutan Tapakhalimun ,” menerangkan Wir0.
Dewi Merak Bungsu diam saja se0lah tidak mendengar. Wir0 berpaling pada Kakek Segala Tahu.
“Kek ,” Wir0 berbisik pada 0rang bau tanah itu. “Kita sudah sampai. Kau tahu kirakira yang akan dilakukan Kuntini dengan jenazah Keb0 Pradah sem0ga bisa menembus masuk ke dalam daerah hutan siluman?”
“Tak bisa kuduga. Baiknya kita menunggu saja ,” jawab 0rang bau tanah itu. Dia membuka capingnya kemudian turun dari atas kuda.
Saat itu Dewi Merak Bungsu sudah lebih dulu menjejakkan kaki di tanah. Dia memandang berkeliling. “Hemmmmm…… P0h0n-p0h0n besar itu tumbuh rapat secara absurd ,” katanya dalam hati.
Wir0 mel0mpat pula dari kudanya. Dia segera mendekati wanita itu dan berkata. “Di balik f0rmasi p0h0n-p0h0n besar itulah hutan Tapakhalimun. Beberapa waktu yang kemudian saya c0ba melangkah melewati pep0h0nan itu. tapi saya tertahan 0leh satu temb0k yang tidak kelihatan. Temb0k mistik tak mempan dipukul atau dijeb0l dengan senjata…..”
Dewi Merak Bungsu gigit bibirnya sebelah bawah. “Aku memang sudah mendengar hal itu. tapi belum yakin kalau tidak membuktikan dan melihatnya sendiri!” katanya.
Tangan kanannya bergerak mencabut salah satu dari tujuh lembar bulu burung merak yang menancap di kepalanya. Sesaat benda itu dig0yang-g0yangkannya di depan wajahnya yang manis tapi berdandan terlalu tebal. Tiba-tiba didahului bunyi pekikan nyaring wanita muda itu lemparkan bulu burung merak itu ke arah p0h0n terdekat. Bulu burung itu melesat laksana sebilah pisau terbang.
Sesaat lagi bulu itu akan menghantam p0h0n tiba-tiba terdengar satu ledakan keras. Tiga buah p0h0n terdekat berg0yang-g0yang. Ranting-rantingnya berpatahan.
Daun-daun berguguran. Kakek Segala Tahu dan Pendekar 212 Wir0 Sableng mencicipi tanah yang mereka pijak bergetar. Dari belakang f0rmasi p0h0n-p0h0n terdengar bunyi pekik jerit mengerikan dibarengi 0leh bunyi l0l0ngan anjing panjang sekali. Empat ek0r kuda yang ada di tempat itu meringkik keras dan tampak menjadi lair. Tubuh jenazah Keb0 Pradah yang ada di atas salah satu seek0r kuda itu jatuh bergedebuk ke tanah.
Bersamaan degan itu dari arah depan terdengar bunyi deru angin sedahsyat angin ribut prahara. Bulu burung mreak yang tadi dilemparkan hancur berantakan dan beterbangan di udara menjadi serpihan-serpihan halus.
“Semua tiarap!” teriak Dewi Merak Bungsu kemudian jatihkan diri ke tanah. Wir0 tarik tangan Kakek Segala Tahu. Keduanya kemudian sama-sama mencium tanah.
“Wuuuusssss!!”
Gel0mbang angin dahsyat yang bersumber pada bulu burung merak yang tadi dilemparkan Dewi Merak Bungsu , kini membalik ke arah tiga 0rang itu membawa hawa sedingin es! Sapuan angin hirau taacuh lewat di atas mereka. Terus menghantam semak belukar serta pep0h0nan di sebelah sana. Terdengar bunyi bergemuruh ketika empat p0h0n besar tumbang sekaligus dan semak belukar berterbangan ke udara dalam keadaan hancur luluh.
“Luar biasa….” Kata Wir0.
“Aku tidak melihat. Tapi saya yakin wanita itu telah melemparkan satu dari tujuh tusuk k0nde bulu burung meraknya ke arah dinding mistik daerah hutan siluman ,” kata Kakek Segala Tahu. “Dia bukan hanya merubah bulu burung itu se0lah menjadi sebuah senjata , tapi sekaligus melepaskan pukulan sakti dan mengalirkannya pada bulu burung. Kalau saya tak salah pukulannya tadi berjulukan pukulan ratu merak membelah jagat….”
“Aneh juga nama pukulan itu. Ratunya niscaya cantik….” Kata Wir0 masih bisa bersel0r0h. Lalu ketika dilihatnya Dewi Merak Bungsu berdiri , beliau pun ikut berdiri sambil memegangi tangan Kakek Segala Tahu.
Sewaktu memandang berkeliling kagetlah Pendekar 212.
“Eh….. saya mencicipi tanganmu bergetar. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Empat ek0r kuda itu….” jawab Wir0 seperlahan mungkin. “Binatangbinatang itu berkaparan di tanah dalam keadaan hancur luluh mengerikan. Dapat kau bayangkan kalau tubuh kita tadi yang kena dihantam angin pukulan ratu merak nekad tadi itu….”
Kakek Segala Tahu tersenyum kemudian ker0ntangkan kalengnya. Ketika dirasakan Dewi Merak Bungsu berpaling ke arahnya si kakek segera berkata.
“Kuntini , kita sudah hingga di tempat yang berbatasan dengan hutan Tapakhalimun. Keb0 Pradah yang menjadi kunci penyingkap tabir mistik juga ada di sini , di bawah kekuasaanmu. Kalau b0leh saya bertanya apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku dan juga kalian berdua kalau suka , akan masuk ke dalam hutan siluman itu.”
“Caranya?” tanya Wir0. “Tadi kau telah c0ba menghantam dengan pukulan ratu merak membelah jagat tapi gagal.”
“Eh , bagaimana kau tahu nama pukulan itu?” tanya Dewi Merak Bungsu agak kaget.
“Aku menceritakan kehebatan tusuk k0nde berbentuk bulu burung yang disertai angin pukulan begitu dahsyat. Kakek ini kemudian memberitahu padaku nama pukulan itu….”
Dewi Merak Bungsu memandang sesaat pada Kakek Segala Tahu. Tanpa berkata apa-apa beliau melangkah mendekati Keb0 Pradah. Dengan tangan kirinya dijambaknya rambut jenazah kemudian jenazah yang mengerikan itu dibuatnya tegak. Dengan gerakan cepat Dewi Merak Bungsu kemudian men0t0k lima p0t0ngan tubuh mayat.
Setiap t0t0kan mengeluarkan suara.
“Trak…. Trak….” Pertanda bahwa t0t0kan itu menembus daging dan menghancukan tulang di belakangnya!
“T0t0kan gila apa pula ini….?” kata Wir0 dalam hati keheranan.
Ketika Dewi Merak Bungsu melepaskan jambakannya pada rambut Keb0 Pradah , ternyata jenazah itu bisa berdiri laksana 0rang hidup yang tegak dalam keadaan tert0t0k!
Kakek Segala Tahu d0ngakkan kepala ke langit sedang Pendekar 212 hanya bisa terdiam saking kagumnya. Men0t0k insan hidup hingga kaku tegang merupakan satu hal biasa. Tetapi jikalau wanita manis itu bisa men0t0k 0rang yang sudah jadi jenazah dan membuatnya kaku tegak mirip itu benar-benar luar biasa.
Diam-diam murid Sint0 Gendeng menyadari bahwa di dunia ini banyak sekali 0rang terpelajar tinggi yang kepadaiannya jauh di atas dirinya.
Selagi Wir0 terkagum-kagum mirip itu Dewi Merak Bungsu ulurkan tangan kanannya mencengkeram dada pakaian Keb0 Pradah yang r0bek. Tangan kirinya diangkat tinggi-tinggi ke atas dengan telapak tangan terkembang. Kedua matanya memandang ke depan tanpa berkedip , ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar. Lalu dari mulutnya terdengar ucapan lantang.
“Penguasa dan penghuni hutan siluman Tapakhalimun! Aku tiba membawa anak insan berpusar dua. Dia yaitu kunci segala kunci. Karena itu harap bukakan pintu! Jangan berani melawan kehendak mistik di atas gaib!”
Habis berkata begitu tangan kanan Dewi Merak Bungsu bergerak membet0t pakaian Keb0 Pradah.
“Breeeeeet!”
Baju Keb0 Pradah r0bek besar hingga seluruh dada dan perutnya tersingkap lebar. Wir0 pel0t0tkan mata memandang ke arah perut Keb0 Pradah. Apa yang tadi diucapkan Dewi Merak Bungsu memang benar. Tidak mirip insan biasa , Keb0 Pradah ternyata mempunyai dua buah pusar!
Begitu perut Keb0 Pradah tersingkap , dari balik f0rmasi p0h0n-p0h0n terdengar bunyi pekik bersahut-sahutan. L0l0ngan anjing muncul di mana-mana.
Menyusul bunyi mirip 0rang mengerang dan di kejauhan ada pula bunyi tawa 0rang meringkik mirip kuda!
Tiba-tiba ada dua cahaya biru menyambar ke arah perut Keb0 Pradah disertai bunyi gelegar keras. Begitu menyentuh dua buah pusar terdengar letupan keras dua kali berturut-turut. Asap biru menggebu membungkus tempat itu.
“Kunci segala kunci! Bukakan pintu masuk ke hutan siluman!” terdengar Dewi Merak Bungsu berteriak dalam asap biru yang menutupi sekujur badannya.
Wir0 yang merasa kawatir akan terjadi apa-apa yang bisa membahayakan keselamatan dirinya dan si kakek , bertindak waspada. Kedua tangannya siap melepaskan dua pukulan sakti. Kakek Segala Tahu sepertinya tenang-tenang saja se0lah tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi ketika itu. Malah dalam asap biru beliau ker0ntangkan kalengnya berulang kali hingga suasana jadi tampak tegang mencekam.
Tiba-tiba ada bunyi menggemuruh. Mula-mula perlahan , makin lama makin keras. Pada puncaknya bunyi menggemuruh itu tidak beda dengan bunyi runtuhnya sebuah gunung!
Tanah yang dipijak 0rang-0rang itu 0leng keras menciptakan mereka bertiga terpelanting jatuh. Namun anehnya s0s0k jenazah kaku Keb0 Pradah tetap saja tegak di tempatnya!
Asap biru yang membungkus tempat itu perlahan-lahan lenyap. Tapi bunyi teriakan , pekik jerit , l0l0ngan anjing serta bunyi tawa menggidikkan semakin keras.
Sewaktu asap biru benar-benar pupus dua larik cahaya biru masih tetap tinggal , membersit ke arah dua buah pusar di perut Keb0 Pradah tampak bergetar keras.
Mukanya yang cacat mengkerut mirip menyeringai. Lehernya seperti menjadi panjang. Lalu yang lebih mengerikan mulutnya yang rusak itu keluarkan bunyi jeritan keras. Bersamaan dengan itu dua buah cahaya biru yang membersit ke perutnya laksana dit0lak 0leh satu kekuatan dahsyat membalik ke arah asalnya. Lalu terdengar bunyi letusan keras. Tubuh Keb0 Pradah mental ke udara. Bukan dalam keadaan tercabik-cabik. Darahnya muncrat ke mana-mana , menyiprat ke pakaian Dewi Merak Bungsu , Wir0 dan caping Kakek Segala Tahu.
Begitu letusan bunyi pupus keadaan di tempat itu sunyi senyap mirip di pekuburan. Namun kesunyian ini justru menciptakan ketegangan yang mengantung di udara menjadi tambah mencekam. Tiba-tiba terdengar bunyi 0rang menangis terisakisak.
“Heh….. Siapa yang menangis?” tanya Kakek Segala Tahu celingukan.
“Hanya bunyi Kek , 0rangnya tak kelihatan ,” jawab Wir0. “Aku…..” Murid Sint0 Gendeng tidak meneruskan kata-katanya. Saat itu terdengar bunyi aneh. Suara mirip sebuah benda berat bergeser ke kiri dan ke kanan. Wir0 memandang berkeliling. Astaga! Dia terkejut besar. P0h0n-p0h0n yang banyak berderet-deret mirip membentengi hutan Tapakhalimun lenyap entah ke mana! Kini mereka berada di satu tempat k0s0ng yang serba putih. Tak ada pe0h0nan , semak belukar atau langit.
Bahkan mereka tidak tahu tengah berpijak di mana ketika itu lantaran semuanya sebar putih.
Suara ukiran semakin keras. Begitu juga bunyi tangisan. Dewi Merak Bungsu melirik ke arah Wir0. Perempuan manis ini tampak berusaha menahan rasa tegang. Tangan kanannya didekatkan ke kepala. Siap untuk mencabut tusuk k0nde berupa bulu burung merak yang kini tinggal enam lembar.
Tiba-tiba “bummmm!”
Satu ledakan menggelegar mengejutkan ketiga 0rang itu. Tabir putih di hadapan mereka mirip terbelah. Yang sebelah kanan bergeser ke kanan dan yang kiri ke kiri. Dari depan terdengar bunyi siuran angin. Bukan meniup ke arah tiga 0rang itu justru menyed0t dengan dahsyatnya hingga tak ampun lagi Dewi Merak Bungsu di sebelah depan , menyusul Wir0 kemudian si Kakek Segala Tahu tersed0t , laksana amblas ke satu ter0w0ngan yang tidak kelihatan. Ketiganya kelihatan jungkir balik.
Karena mengenakan jubah panjang yang menggelembung , sewaktu tubuhnya melayang di udara sed0tan atas tubuh wanita itu agak tertahan. Wir0 yang tadi ada di belakang dan tersed0t lebih cepat pribadi saja masuk ke dalam jubah itu!
“Manusia kurang ajar! Apa yang kau lakukan ini!” teriak Dewi Merak Bungsu murka sekali. Kepala Pendekar 212 menyelip di antara kedua pangkal pahanya. Dari dalam jubah terdengar bunyi Wir0 menyahut tapi tidak terang menyampaikan apa. Dewi Merak Bungsu berusaha menendang tubuh Wir0 keluar dari dalam pakaiannya namun tidak mudah. Sebelum berhasil tubuhnya bersama tubuh Wir0 , menyusul tubuh si kakek tiba-tiba terbanting ke bawah!
“Pemuda kurang ajar! Rasakan ini!” teriak wanita itu sambil menarik jubahnya ke atas kemudian hantamkan lututnya. Wir0 mengeluh tinggi. Perutnya yang kena s0d0kan lutut mirip mau pecah. Terhuyung-huyung beliau keluar dari dalam jubah sambil pegangi perut.
“Ini lagi!” teriak Dewi Merak Bungsu. Kali ini masih dalam keadaan terlentang kaki kanannya di tendangkan ke kepala Pendekar 212. Wir0 cepat menangkap betis sang Dewi.
“Aduh mulus dan putihnya. Lembut sekali….” Kata Wir0 dalam hati.
“Benar-benar kurang ajar!” teriak Dewi Merak Bungsu. Dia hendak mencabut selembar tusuk k0nde bulu meraknya. Ketika mau dilemparkan tiba-tiba terdengar bentakan Kakek Segala Tahu.
“Kalian berdua jangan mirip anjing dan kucing! C0ba lihat kita berada di mana!”
Wir0 melepaskan pegangannya pada betis Dewi Merak Bungsu. Perempuan itu cepat menggulingkan diri. Ketika keduanya memandang berkeliling mereka samasama tersentak. Di hadapan mereka ada sebuah bangunan kerikil berbentuk pintu gerbang. Di sebelah atas pintu gerbang ini ada g0resan pena berbunyi “Pintu Neraka”! Apa yang ada di pintu itu dan sekitarnya menciptakan Dewi Merak Bungsu dan Wir0 jadi merinding.
SEBELAS
Pada dua buah pilar Pintu Neraka bergelantungan belasan ular besar berwarna hitam kelabu. Tubuhnya berupa ular namun kepalanya berwujud kepala setan mengerikan. Di tiang kiri kanan tegak dua mahluk bertubuh tinggi besar dengan tampang angker. Keduanya berkepala b0tak yang dibasahi dengan darah. Masingmasing memegang sebilah g0l0k api berwarna merah. Sekujur tubuh mahluk yang hanya mengenakan cawat ini penuh dengan kalajengking yang menjalar kian kemari.
Di atas Pintu Neraka duduk berjuntai enam jerangk0ng. Yang absurd dan mengerikan kepala jerangk0ng berupa tengk0rak ini mempunyai sepasang mata merah yang selalu berputar-putar kian kemari. Lalu dari r0ngga mulutnya mencelat keluar sebuah pengecap berwarna merah , sangat panjang dan ujungnya berupa kepala ular!
“Ya Tuhan , apakah kita benar-benar sudah masuk di neraka…..?” desisi Pendekar 212
“Ceritakan apa yang kau lihat!” kata Kakek Segala Tahu. Wir0 segera menerangkan dengan cepat.
“Kita memang sudah berada di jalan menuju daerah hutan siluman. Kita harus melewati Pintu Neraka itu….”
“Celaka…..” bisik Wir0 yang masih berada dalam kengerian.
“Apa yang celaka?!” tanya Kakek Segala Tahu. Lalu enaknya saja beliau ker0ntangkan kalengnya. Tapi beliau jadi melengak kaget. Bagaimanapun beliau mengguncang kalrng r0mbeng itu dan merasa batu-batu kerikil di dalamnya memukul dinding kaleng , tapi sama sekali tidak ada bunyi yang keluar! “Kekuatan siluman sungguh luar biasa. Kalengku tak bisa berker0ntang…..” kata si kakek. Lalu beliau berpaling pada Wir0. “Ada apa dengan kau?”
“Baru berada di ambang pintu saja saya sudah mau terkencing-kencing.
Bagaimana kalau hingga masuk…..”
“Tak ada jalan mundur! Kita harus melewati Pintu Neraka ini!” kata Dewi Merak Bungsu walau nyalinya juga hampir leleh 0leh rasa ngeri terutama melihat mahluk ular berkepala insan yang menyeramkan itu. ketika hendak melangkah , gerakanya tertahan. Dia berpaling pada Wir0 dan Kakek Segala Tahu. “Siapa yang masuk duluan….?” Tanyanya.
“Kau saja!” jawab Wir0.
“Sebaiknya kau!” kata sang Dewi.
“Sudah , jangan saling t0lak-t0lakan. Biar saya yang masuk duluan! Siluman itu niscaya tidak tertarik melihat tampang dan keadaanku. Mudah-mudahan mereka tidak menggangguku. Yang disebelah belakangnya biasanya jadi incaan….”
“Kalau begitu biar saya yang masuk duluan!” kata Wir0.
Kakek Segala Tahu mengekeh. Dewi Merak Bungsu membentak halus. “Ini bukan tempat bersuka ria tertawa segala! Kita bertiga bisa mampus kaki ke atas kepala ke bawah!” beliau berpaling pada Wir0. “Kau bilang mau jalan duluan. Ay0 , tunggu apa lagi?!”
Wir0 garuk kepalanya dengan tangan kiri. Tangan kanan mencabut Kapak Maut Naga Geni 212. Sinar terang benderang memenuhi tempat itu. Lalu dengan segala ketabahan beliau mendekati tangga Pintu Neraka yang terdiri dari tujuh undakan.
Pada ketika kaki kanannya menginjak undakan pertama belasan ular berkepala insan yang ada pada pilar pintu keluarkan desisan keras kemudian berganti dengan teriakan mengerikan. Dari lisan mahluk ini menetes-netes darah kental. Langkah Pendekar 212 tertahan. Dua mahluk berkepala b0tak angkat tangannya yang memegang pedang merah. Di atas Pintu Neraka enam jerangk0ng mengg0yang-g0yangkan tubuhnya mengeluarkan bunyi berkeresekan. Kedua tangan diangkat-angkat ke atas , mata berputar liar dan dari lisan yang menyemburkan darah terdengar pekik-pekik melengking tinggi. Sesekali pengecap mereka yang panjang dan berbentuk kepala ular itu menjulur ke bawah mirip hendak mematuk Wir0.
“Jalan terus , tak ada yang perlu ditakutkan!” kata Dewi Merak Bungsu seraya mend0r0ng punggung Pendekar 212.
Murid Sint0 Gendeng melintangkan senjata mustikanya di depan dada kemudian naik ke anak tangga kedua. Tidak terjadi apa-apa. Begitu kakinya menginjak anak tangga ketiga , dua mahluk bercawat mel0mpat ke arahnya sambil menusukkan pedang merah.
Luar biasa. Pedang masih belum hingga sinarnya telah melesat ke arah tengg0r0kan dan dada Wir0. Pendekar 212 segera lindingi diri dengan menyabatkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke depan. Sinar putih menyilaukan berkiblat disertai deru lasana ribuan taw0n mengamuk. Hawa panas yang menampar ke luar dari senjata mustika itu menciptakan dua mahluk bercawat dan berkepala b0tak dan berlumuran darah tersurut mundur sambil mengeluarkan teriakan marah. Sepasang mata mereka mel0mpat keluar kemudian masuk lagi!
Walau ngeri melihat dua mahluk siluman yang ganas ini tapi Wir0 sudah bisa meraba bahwa mereka pun takut melihat serangan kapaknya. Maka beliau cepat mel0mpat ke anak tangga keempat. Tidak terjadi apa-apa.
“Tangga berikutnya tangga kelima….” Kata Wir0 membatin. “Mahlukmahluk penjaga Pintu Neraka ini gres berindak setiap saya menginjakkan kaki di anak tangga ganjil. Kaprik0rnus saya harus hati-hati….”
Benar saja. Begitu kaki Wir0 menyentuh anak tangga kelima , enam jerangk0ng di atas pintu keluarkan pekikan keras. Lalu keenamnya berl0mpatan. Dua ke arah Wir0. Dua lainnya mengincar Dewi Merak Bungsu dan dua terakhir melesat ke arah Kakek Segala Tahu!
Kembali Kapak Maut Naga Geni 212 membeset udara. Sinar putih berkiblat.
“Wuttt! Wuuuttttt!” Senjata mustika itu jelas-jelas membabat tubuh dua jerangk0ng. Tapi sambaran mata kapak se0lah menghantam udara k0s0ng , lewat begitu saja. Di kejauhan terdengar bunyi tawa cekikikan. Dua jerangk0ng menciptakan gerakan jumpalitan kemudian tiba-tiba sekali melesat kembali menyerang Wir0. Agak gugup Wir0 lepaskan pukulan sakti dengan tangan kiri. Jerangk0ng yang sebelah kiri terangkat ke atas , hancur berantakan di udara dan lenyap. Saat itu pula srangan jerangk0ng sebelah kanan sampai. Wir0 berteriak keras ketika ujung pengecap jerangk0ng yang berbentuk ular itu mematuk pundak kanannya. Dia merasa mirip ditusuk besi panas. Kapak Maut Naga Geni 212 hampir terlepas dari genggamannya. Darah membasahi pundak baju putihnya. Dengan terhuyung beliau menindak menaiki anak tangga keenam. Aman. Terus pada anak tangga ketujuh yaitu yang terakhir.
Sementara itu dua jerangk0ng yang menyerang Dewi Merak Bungsu disambut wanita ini dengan mend0r0ngkan kedua telapak tangannya ke atas.
“Wuuuss!”
“Wuuss!”
Dua angin deras menyambar ke atas. Dua jerangk0ng menjerit keras.
Keduanya mental berantakan kemudian berubah manjadi kepulan asap dan kesannya sirna.
Perempuan ini menarik nafas lega sesaat kemudian mengikutiWir0 menaiki tangga ke enam.
“Ada darah di bahumu….” Kata Dewi Merak Bungsu.
“Lidah ular salah satu jerangk0ng itu sempat mematukku ,” jawab Wir0.
Wajahnya pucat. Agak limbung beliau menaiki anak tangga ketujuh yakni anak tangga terakhir dari Pintu Neraka. Di atas sana terdengar suitan keras. Satu jerangk0ng siluman yang tadi menyerangnya kini kembali menyerbu. Wir0 segara hendak menghantam dengan Kapak Maut Naga Geni 212.
Di p0t0ngan bawah tangga Kakek Segala tahu yang berada paling belakang dan menerima serangan dua jerangk0ng d0ngakkan kepala. Telinganya menangkap bunyi mendesir. Dia cepat menghantam ke atas dengan t0ngkatnya. Ujung t0ngkat menyambar ganas dan dengan sempurna mengenai s0s0k dua jerangk0ng itu. namun mirip sewaktu Wir0 membabat dengan kapak mustikanya ternyata si kakek juga se0lah mengenai udara k0s0ng. Dengan berteriak-teriak sambil menjulurkan lidahnya yang berbentuk kepala ular dua jerangk0ng kembali menyerbu.
“0 ladalah!” seru Kakek Segala Tahu yang maklum kalau serangan t0ngkatnya gagal dan kini beliau jerangk0ng itu kembali menyerangnya. Dengan cepat beliau tanggalkan caping bambunya. Sekali beliau mengibaskan caping itu , satu gel0mbang angin menderu laksana air bah. Dua jerangk0ng yang hendak menghujamkan pengecap ularnya mencelat mental ke atas. Di udara dua jerangk0ng ini hancur bercerai berai , mengepulkan asap dan sirna.
Kembali pada Pendekar 212 yang menerima serangan dari sisa jerangk0ng di tangga ketujuh.
“Jangan pakai senjata!” teriak Dewi Merak Bungsu. “Hantam dengan pukulan tangan k0s0ng!”
Sesaat Wir0 terkesiap. “Apa yang dikatakan Kuntini itu agaknya betul. Tadi saya membabat dengna Kapak Maut Naga Geni tidak mempan. Sewaktu kuhantam dengna pukulan benteng angin ribut melanda samudera salah satu dari dua jerangk0ng itu ambruk…..” Memikir hingga di sini maka murid Eyang Sint0 Gendeng segera lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Satu gel0mbang angin laksana gulungan kerikil besar menderu. Jerangk0ng yang menyerang dari atas se0lah tahu kalau beliau tak akan bisa menghadapi pukulan sakti itu menjerit keras lal berbalik dan melesat pergi.
Di anak tangga ketujuh Dewi Merak Bungsu memberitahu pada Kakek Segala Tahu bahwa Wir0 terluka pundak kanannya akhir pukulan pengecap ular jerangk0ng siluman. Paras 0rang bau tanah itu tampak berubah. Dia meraba-raba sekitar ujung capingnya.
“Dia untung. 0bat ini masih tersisa satu. Bisa ular siluman seratus kali lebih jahat dari bisa ular biasa….. Berikan 0bat ini padanya dan suruh beliau segera menelannya!”
Perempuan itu mengambil 0bat yang diberikan kemudian menyerahakan pada Wir0.
Belum sempat 0bat berbentuk bundar sebesar ujung kelingking itu berpindah tangan , tiba-tiba seek0r ular besar berkepala setan yang melilit di pilat pintu sebelah kanan melesat dan berusaha mematuk. Dewi Merak Bungsu terpekik. Saking kagetnya 0bat itu terlepas dari tangannya , jatuh sempurna di tangga ketujuh!
“Wir0 lekas ambil!” teriak Dewi Merak Bungsu.
Wir0 jatuhkan diri mengambil satu-satunya 0bat yang bisa menyelamatkan jiwanya itu. namun ular berkepala insan tadi meluncur lebih cepat. Pada ketika Wir0 berhasil memegang 0bat , pada detik itu pula ular siluman membuka mulutnya besarbesar.
Kepala Pendekar 212 hanya setengah jengkal saja dari hadapannya.
Dalam keadaan genting begitu rupa , sebelum kepala Wir0 sempat dilahap ular siluman , ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu dengan keras memukul putus ujung ek0r hewan ini. Ular siluman keluarkan jeritan mirip raungan anjing di malam buta. Dia sabatkan ek0rnya ke arah si kakek. 0rang bau tanah ini cepat rundukkan kepala. T0ngkatnya kembali berkelebat. Terdengar lagi raungan mirip anjing itu. Ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu menancap sempurna di leher ular siluman. Darah menyembur. Si kakek menghindar sem0ga tidak kecipratan. Ular siluman itu bergelimang darah menyentaknyentak di atas tangga Pintu Neraka. Wir0 berguling memasuki Pintu Neraka sambil menelan 0bat yang berhasil diambilnya sementara Dewi Merak Bungsu cepat menarik tangan Kakek Segala Tahu kemudian keduanya mel0mpat melewati Pintu Neraka.
DUA BELAS
Selewatnya Pintu Neraka ketiga 0rang itu berada di satu rimba belantara ditumbuhi p0h0n-p00n besar dan semak belukar aneh. Keadaanya redup sekali dan udara terasa dingin. Kesunyian yang mencekam justru menjadikan suasana tambah menggidikkan.
Kakek Segala Tahu mend0ngak. “Aneh…..” katanya. “Tak ada bunyi barang sedikitpun. Bahkan bunyi siliran angin tidak terdengar. Kita harus berhati-hati…. Mungkin kita akan berkubur di sini atau mati dan ikut jadi siluman….” Wir0 dan Kuntini saling berpandangan dengan wajah tegang. “Apa yang kalian lihat?” si kakek bertanya.
“P0h0n-p0h0n besar di mana-mana. Semak belukar setinggi langit mirip jaring. Batu-batu besar ibarat hewan purba….” Yang menjawab Dewi Merak Bungsu.
“Apa lagi?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Hanya itu….” sahut Wir0.
“Tak ada hantu atau siluman yang muncul?”
“Tidak ,” jawab Wir0 dan Kuntini berbarengan.
Kakek Segala Tahu c0ba ker0ntangkan kalengnya. Tetap tak mau berbunyi.
“Hemmmm…. Keadaan di tempat ini benar-benar berbahaya. Hati-hatilah. Kita bisa mati mendadak di sini…. Satu hal harus kalian ingat. Kita harus tetap bersama.
Jangan hingga tercerai….”
Baru saja 0rang bau tanah ini berkata begitu tiba-tiba terdengar suara. “Wusssss!”
Disusul dengan munculnya sinar merah benderang. Wir0 dan Kuntini keluarkan seruan tertahan.
“Ada apa….?” Tanya Kakek Segala Tahu sambil melintangkan t0ngkat kayu di depan dada.
“Satu p0h0n besar tiba-tiba saja terbakar. Gej0lak apinya laksana menjulang langit….” Menerangkan Dewi Merak Bungsu.
“Tak sanggup kuketahui apa artinya ini….” kara si kakek pula dan berusaha berpikir memecahkan arti ketakn0rmalan itu.
“Ada bayangan 0rang di atas p0h0n. Di dalam api!” teriak Dewi Merak Bungsu.
“Astaga! Itu Bunga sahabatku!” teriak Wir0 seraya lari ke arah p0h0n. Si kakek dan Kuntini segera mengikuti.
Di atas salah satu cabang p0h0n besar yang dilamun api itu kelihatan s0s0k tubuh se0rang wanita berambut panjang. Wajahnya manis tapi sangat pucat dan pakaiannya penuh darah. Seperti yang dilihat Wir0 sebelumnya gadis ini berada dalam keadaan terikat. Namun t0nggak kayu di mana beliau diikatkan tidak kelihatan lagi. Sepasang mata Bunga tampak sangat ketakutan. Mulutnya terbuka. “Wir0…. Wir0….”
“Bunga!” teriak Pendekar 212. Seperti kalap pahlawan ini hendak memanjat p0h0n. Tapi begitu hawa panas menyengat sekujur tubuhnya beliau jadi tak berdaya dan terpaksa melangkah mundur.
Di atas p0h0n kembali terdengar bunyi Bunga memanggil memelas. “Wir0…. Ta0l0ng….. Aku tak tahan lagi…..”
Pendekar 212 bantingkan kakinya. Kapak Maut Naga Geni 212 digenggamnya erat-erat. Tapi senjata itu tak akan ada gunanya.
“Wir0 , kita tak sanggup men0l0ng sahabatmu itu. Api di p0h0n besar sekali….”
Kakek Segala Tahu yang belakang layar sudah sanggup membaca keadaan bertanya.
“Api di p0h0n , apakah memperabukan tubuh , rambut atau pakaian sahabatmu itu….?”
“Ti…. Tidak. Memang tidak….” Jawab Wir0 mel0t0t.
“Berarti beliau bukan sahabatmu sungguhan!” juar Kakek Segala Tahu.
“Dia siluman!” kata Dewi Merak Bungsu pula.
“Aku tidak percaya. Aku sudah melihat keadaannya mirip itu sebelumnya….” Jawab Wir0. Dengan nekad beliau maju beberapa langkah kemudian berteriak.
“Bunga! Jatuhkan dirimu dari atas p0h0n! Jatuhkan drimu! Aku akan menangkapmu di bawah sini!”
“T0l0ng…. T0l0ng saya Wir0….”
“Jatuhkan dirimu!” teriak Wir0 lagi.
“Sambut saya Wir0….. Aku akan jatuhkan diri….” Kata Bunga dari atas p0h0n.
Lalu tampak gadis itu menggeliatkan tubhnya. Begitu kedua kakinya bergeswe dari cabang p0h0n yang dipijaknya tubuhnya pribadi melayang jatuh ke bawah!
Pendekar 212 Wir0 Sableng rentangkan tangan mengatur tempat tegaknya sem0ga bisa menyambut tubuh Bunga yang jatuh itu dengan tepat.
“Blukkkk!”
Tubuh Bunga jatuh sempurna dalam pelukan Wir0.
“Syukur….” Kata Wir0 lega. “Kau selamat Bunga. Aku akan membawa kau keluar dari tempat jahanam ini!”
Tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi raungan anjing. Bersamaan dengan itu keadaan menjadi tambah redup. Lalu menyusul bunyi tawa cekikikan menggidikkan.
Dewi Merak Bungsu belakang layar merasa cemburu melihat Pendekar 212 memeluk gadis manis itu tiba-tiba berseru kaget ketika melihat gadis yang dipeluk Wir0 berubah menjadi s0s0k raksesi. Menyeringai mengerikan mencuat keluar , bergelimang darah.
“Wir0! Lemparkan gadis itu! Dia bukan sahabatmu!” teriak Dewi Merak Bungsu.
Tapi terlambat. Raksesi dalam pelukan Wir0 gerakkan kepalanya. Mulutnya ditempelkan ke leher Pendekar 212. Murid Eyang Sint0 Gendeng menjerit keras.
Darah muncrat dari lehernya. Tubuh yang dipeluknya langsug dibantingkan ke tanah.
“Hik…. Hik…. Hik….!” Raksesi cepat bangun berdiri dan julurkan lidahnya yang bergelimang darah. Darah itu disemburkannya ke arah Kuntini kemudian didahului dengan raungan panjang beliau mel0mpat ke arah Wir0. Kedua tangannya berkelebat lebih dulu. Ternyata dua tangan raksesi ini mempunyai jari sebesar pisang dengan kukukukunya hitam panjang sekali. Dalam keadaan masih tegang 0leh rasa kaget serta luka di leher dan sebelumnya di pundak , Wir0 mirip tak berdaya dan bertindak lamban. Saat itu pula jari tangan berkuku panjang menyambar ke lehernya!
Dalam keadaan gawat mirip itu di mana nyawa Pendekar 212 hanya tinggal seujung rambut tiba-tiba dari samping melesat sebuah benda memancarkan sinar aneka warna disertai bunyi menggemuruh. Bulu merak sakti!
Raksesi yang hendak mencengkeram leher Pendekar 212 keluarkan jeritan tinggi dan berusaha menghindar. Namun p0t0ngan tajam dari bulu burung merak yang dilemparkan Dewi Merak Bungsu keburu menghantam keningnya! Kepala raksesi itu hancur berkeping-keping. Hancurnya menyiprat ke muka dan tubuh Pendekar 212.
Sebelum tubuh raksesi siluman itu lenyap terlebih dulu terdengar bunyi raungan disertai bunyi l0l0ngan anjing di kejauhan.
Wir0 usap mukanya. Kedua kakinya g0yah. Dia jatuh berlutut. Wajahnya tampak pucat. Dia memandang pada Dewi Merak Bungsu. “Kuntini…. Terima kasih.
Kau menyelamatkan jiwaku….”
“Kau belum l0l0s dari kematian….” Jawab Dewi Merak Bungsu.
“Apa maksudmu?”
“Luka di lehermu bekas gigitan mahluk siluman itu cukup parah…..”
“Mari kuperiksa lukamu….” Kata Kakek Segala Tahu yang tadi ikut hanyut dalam ketegangan. Dengan ujung t0ngkatnya diraba dan ditusuk-tusuknya luka bekas gigitan di leher Pendekar 212 hingga c0w0k ini menjerit kesakitan.
“Hemmmmm…. Untung tak ada urat yang putus. Lebih untung lagi gigitan itu tidak beracun….. Biar kut0t0k sem0ga darahnya berhenti!”
Kakek Segala Tahu tusukkan ujung t0ngkatnya dua kali berturut-turut. Wir0 meringis kesakitan. Luka di lehernya mirip bertaut kembali dan darah berhenti
mengucur. Dewi Merak Bungsu ulurkan tangan kirinya men0l0ng Wir0 berdiri.
Sambil pegangi lehernya Wir0 berkata. “Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau mungkin benar Kek , kita akan mati di sini dan ikut jadi siluman…..”
Baru saja ucapan Wir0 berakhir tiba-tiba terdengar bunyi tawa bergelak laksana guntur mengguncang bumi. Suara tawa itu menggema panjang mengerikan.
“Pendekar 212 Wir0 Sabelng….. Kau dan dua kawanmu telah memasuki Pintu Neraka Kerajaan Siluman! Sekali masuk tak ada jalan keluar…. Ha….. ha…. ha!”
“Heh…. Siapa yang tertawa dan bicara itu?” tanya Kakek Segala Tahu.
“0rangnya tak kelihatan. Dari mana arahnya pun sulit dicari…..” jawab Wir0.
“Pendekar 212! Membunuhmu ketika ini semudah membalik telapak tangan!
Tapi saya ingin menyiksa kau lebih dulu hingga puas! Ha… Ha…. ha…. ha!”
“Keparat! Siapa kau! C0ba unjukkan diri!” berntak Wir0.
Jawaban hanyalah bunyi tertawa. “Ha…..ha…..ha…..ha!”
“Mahluk pengecut! Tak berani memperlihatkan diri! Siluman keparat!” teriak Wir0.
“Ha….ha….ha! Aku berada di dekatmu Wir0! Dekat sekali! Dari tahta Kerajaan Siluman saya akan menyaksikan dirimu tersiksa dalam ketakutan. Lalu.
“Blaaaammmmm! gres kubunuh dirimu! Ha….. ha….. ha….!” Suara tawa lenyap. Tempat itu kembali sunyi.
“Kau tidak mengenali bunyi 0rang tadi yang bicara dan tertawa itu?” bertanya Dewi Merak Bungsu.
“Sulit sekali. Suara gemanya terlalu tinggi dan panjang….” Jawab Wir0.
“Itu tantangan jadi se0rang pahlawan dalam dunia persilatan….” Terdengar Kakek Segala Tahu berkata. “Kita akan punya banyak musuh. Begitu banyaknya hingga kita tidak mengenali lagi suaranya. Bahkan kalau ketemu muka mungkin kita lupa. Setelah dib0k0ng dan sekarat meregang nyawa gres kita ingat. Tapi sudah terlambat….”
Ucapan Kakek Segala Tahu terputus. Di belakang mereka terdengar bunyi menggemuruh mirip ada 0mbak menggulung menyerbu. Tiga 0rang itu cepat membalik.
“Ada gel0mbang air menyerbu ke jurusan kita!” seru Wir0.
“Cairan berwarna merah….!” Pekik Dewi Merak Bungsu.
“Aku mencium amisnya bau darah!” teriak Kakek Segala Tahu tegang.
“Gel0mbang air itu! Astaga. Itu memang darah!” teriak Wir0.
“Darah mendidih!” jerit Dewi Merak Bungsu. “Kita harus selamatkan diri!”
“Cari tempat ketinggian!” teriak Kakek Segala Tahu.
Wir0 dan Dewi Merak Bungsu memandang berkeliling.
“Di sebelah sana ada daerah berbatu-batu. Tapi letaknya tak lebih tinggi dari tempat ini….. Celaka!” seru Dewi Merak Bungsu.
“Kita naik saja ke atas p0h0n!” teriak Kakek Segala Tahu dan siap-siap hendak mel0mpat.
“Lebih celaka!” seru Wir0.
“Apa yang lebih celaka?!”
“Semua p0h0n kini dipenuhi puluhan ular siluman. Bahkan ratusan kalajengking….”
“Ah , kalau begitu kita pasrah saja. Kematian sudah di ambang mata!” kata Kakek Segala Tahu.
“Jangan pasrah macam 0rang t0l0l!” teriak Wir0. “Ay0 lari dari sini. Jauhi gel0mbang darah mendidih itu…..!”
Tiba-tiba terdengar suara.
“Gr0kkk….gr000kkkk….gr0000kkk!”
“Heh….suara malaikat mautkah itu?” ujar Kakek Segala Tahu yang menciptakan Wir0 dan Dewi Merak Bungsu mau rasanya memaki panjang pendek.
Di hadapan ketia 0rang itu melayang satu s0s0k siluman. Mahluk satu ini hanya mengenakan cawat. Tua dan berkepala panjang mirip pepaya. Sekujur tubuhnya penuh luka-luka. Darah membasahi badannya. Kedua matanya member0j0l keluar sperti mau tanggal. Sepasang telinganya lancip mencuat ke atas. Lidahnya terjulur panjang dan pada pengecap ini menancap sep0t0ng besi runsing. P0t0ngan besi kedua menyatai telinganya dari kiri ke kanan. Di lehernya ada sebuah l0bang besar yang terus menerus mengucurkan darah. Dari l0bang ini keluar bunyi gr0000kk….gr000kkk. Itu! Kedua tangan dan kakinya terikat dengan rantai besi panas membara. Ketika mahluk ini hendak mendekati Dewi Merak Bungsu , wanita ini cepat cabut bulu merak yang dijadikannya tusuk k0nde dan merupakan senjata sakti luar biasa. Begitu beliau hendak menghantam Wir0 dengan cepat mencegah.
“Jangan!”
“Heh! Kau sudah gila! Siluman ini hendak membunuhku dan kau menghalangi!”
“Dia bukan siluman jahat! Mahluk ini yang dulu men0l0ngku. Memberi petunjuk sem0ga mencari Kakek Segala Tahu. Dia tidak bisa bicara. Dia menuliskan pesan dengan darahnya! Hanya heran. Kenapa kini tangannya tidak buntung?!”
“Kau tidak bergurau!”
“Edan! Masakan dalam keadaan mirip ini saya mau bergurau!” teriak Wir0.
Mahluk siluman masih terus berputar-putar mengelilingi mereka sambil mengeluarkan bunyi “gr0kkk…..gr000kkkkk!” sementara gel0mbang air bah cairan darah mendidih dan berbau sangat busuk semakin dekat. Tiba-tiba mahluk siluman itu melesat ke kiri. Di sini beliau berputar dua kali , kemudian melesat lagi. Demikian dilakukannya berkali-kali.
“Aku tahu! Mahluk itu memberi aba-aba sem0ga kita mengikutinya!” teriak Wir0.
“Ay0! Tunggu apa lagi!” Wir0 pegang tangan Kakek Segala Tahu dan Dewi Merak Bungsu.
“Jangan-jangan mahluk itu hendak menjebak kita! Di tempat ini kita tidak tahu mana mitra mana siluman!” kata Dewi Merak Bungsu bimbang. Namun ketika dilihatnya gel0mbang darah mendidih semakin bersahabat , mau tak mau wanita ini kesannya lari juga mengikuti Wir0 dan Kakek Segala Tahu.
TIGA BELAS
Mahluk siluman itu melayang ke arah f0rmasi tujuh buah p0h0n besar yang batang dan cabang-cabangnya hampir tertutup 0leh akar-akar gantung. Tiga 0rang di belakangnya mengikuti dengan rasa takut dan juga bimbang. Bukan tidak mungkin mirip yang dikatakan Dewi Merak Bungsu tadi mahluk ini hendak menjebak mereka menuju maut. Di balik f0rmasi tujuh p0h0n besar kelihatan sebuah daerah berbatubatu yang makin ke sebelah sana semakin tinggi. Lalu di puncak bebatuan ini terdapat beberapa buah gundukan kerikil besar.
Seperti terbang mahluk siluman itu melesat ke arah salah satu gundukan batu.
“Lihat! Di atas sana ada gundukan kerikil membentuk g0a!” seru Wir0. “Mahluk itu memberi aba-aba aga kita lari menuju g0a itu!”
Di belakang mereka bunyi gel0mbang cairan darah terdengar menggemuruh sewaktu melewati celah-celah tujuh p0h0n besar.
“Lekas naik ke bukit batu!” teirak Wir0. Kakek Segala Tahu lepaskan pegangannya dari tangan Wir0. Walaupun kedua matanya buta tapi dengan cekatan 0rang bau tanah sakti ini mel0mpat enteng dan sebat hingga kesannya beliau hingga di puncak gundukan kerikil dan masuk ke dalam g0a lebih dulu. Baru menyusul Wir0 dan Dewi Merak Bungsu.
“Gr0kkkk…..gr000kkkk…..gr0kkkk!”
Mahluk siluman yang men0l0ng tegak di atap g0a. Tiba-tiba di kejauhan kelihatan dua s0s0k besar melayang di udara. Ternyata mereka yaitu mahluk siluman wanita yang hanya mengenakan cawat. Payudara mereka gundal-gandil kian kemari. Tambutnya riap-riapan penuh dengan ular-ular kecil. Di tangan masingmasing ada sebilah g0l0k merah menyala.
Pendekar 212 cepa menarik sebuah kerikil besar dan menutupi lisan g0a.
“Bantu aku…. Tarik batu-batu itu….” katanya pada Dewi Merak Bungsu. Di ats atap g0a , begitu melihat dua siluman wanita telanjang itu mendatangi , siluman pen0l0ng keluarkan bunyi mirip meratap kemudian cepat-cepat berkelebat dan menghilang.
“Hak…..huk….hak….huk!” Dua siluman wanita hingga di depan g0a mengeluarkan bunyi aneh. Keduanya tampak mirip mengusut tempat itu. Wir0 dan Dewi Merak bungsu serta Kakek Segala Tahu yang berada di sebelah dalam g0a menjatuhkan diri sama rata dengan lantai g0a.
“Hak..huk…hak….huk!” Dua siluman wanita itu masih melayang-layang di atas g0a.
“Celaka! Kalau mereka hingga mengetahui kita ada di sini , tamat riwayat kita!” bisik Wir0 pada Dewi Merak Bungsu.
“Aku tidak mengerti. Mengapa siluman yang lidahnya ditancap besi itu men0l0ng kita. Lalu siapa pula dua siluman wanita telanjang ini….”
“Kelihatannya mereka mirip pengawal. Mereka yang dulu menambus siluman pen0l0ng itu dengan pedang menyala. Sampai isi perutnya ber0j0l keluar….”
“Aku tidak mengerti….”
“Nanti saja saya ceritakan ,” kata Wir0.
Di luar g0a masih terdengar bunyi hak huk hak huk dua siluman wanita itu.
tak lama kemudian keduanya tampak berkelebat di udara kemudian lenyap. Di bawah sana gel0mbang banjir darah mendidih telah mencapai kaki bebatuan. Makin lama makin tinggi. Bergerak mendekati g0a di mana tiga 0rang itu berada. Wir0 c0ba mengintip di antara celah-celah batu. Dewi Merak Bungsu melihat perubahan wajah c0w0k ini dan bertanya.
“Ada apa….?”
“Air darah. Naik semakin tinggi. Hanya tinggal beberapa jengkal saja dari lisan g0a…..”
“Kalau begitu kita harus keluar dari sini. Apa kataku! Siluman yang kau katakan sebagai pen0l0ng itu ternyata menjebak kita di tempat ini!” Dewi Merak Bungsu bergerak hendak berdiri.
“Tunggu!” kata Kakek Segala Tahu. “Telingaku menangkap bunyi gel0mbang air darah mendidih berhenti di arah hulu. Berarti tak ada lagi cairan yang akan mengalir ke sini…..”
Wir0 dan sang Dewi sama-sama mengintip. Memang benar. Ternyata cairan darah tidak bertambah tinggi. Gel0mbangnya pun menyurut. “Aku tak bisa tenang.
Kita tak bisa terus menerus berada di sini….”
“Mau tak mau. Kita terpaksa menunggu hingga air darah surut….” Kata Wir0.
“Aku mengantuk….” Kata Kakek Segala Tahu kemudian menguap. “Jangan-jangan kini sudah malam.”
“Di Kerajaan siluman tak pernah ada malam hari…..” jawab Dewi Merak Bungsu. Tapi ketika itu beliau sendiri bahwasanya juga sudah mengantuk selain letih. Dia mengerling pada Wir0. “Kau mengantuk….?” Bisiknya bertanya sementara di belakang mereka di p0t0ngan g0a sebelah dalam si kakek terdengar sudah mendengkur.
“Kalau kau mengantuk , saya bahwasanya juga ingin tidur. Tapi kupikir-pikir rugi kalau dalam keadaan mirip ini , berada bersahabat 0rang manis sepertimu saya harus tidur segala….” Jawab Wir0 sambil senyum-senyum.
“Aku memang sudah dengar ihwal kek0ny0lanmu. Tapi ternyata kau bukan cuma k0ny0l , malah juga sableng mirip namamu. Bagaimana mungkin dalam keadaan dijepit maut mirip ini , di daerah hutan siluman begini rupa kau masih bisa bicara tidak karuan mirip itu…..”
“Jadi kau mau tidur ng0r0k mirip kakek itu. saya juga tidur nyenyak. Lalu kalau siluman yang tiba menyerbu ita mati semua. Enak juga ya mati k0ny0l mirip itu….!”
Dewi Merak Bungsu terdiam.
“Heiiiii…..” bisik Wir0.
“Apa lagi?”
“Kau tahu , wajahmu manis sekali. Apa perlunya berdandan tebal-tebal mirip ini?”
Paras wanita muda itu menjadi sangat merah lantaran jengah. “Apa…. Apa betul saya cantik…..?”
Wir0 mengangguk. Anggukannya ini menciptakan hidungnya mengusap pipi Dewi Merak Bungsu. “Dingin sekali dalam g0a ini…..” kata wanita itu. Wir0 menggeser tubuhnya lebih rapat. Tangannya diletakkan di punggung Dewi Merak Bungsu. Perempuan itu diam saja. Lalu terdengar beliau bertanya. “Gadis yang hendak kau t0l0ng itu…. Dia kekasihmu atau apa…..?”
“Sulit mengatakan. Mungkin ya , mungkin juga tidak.”
“Mengapa kau bilang begitu?’
“S0alnya beliau bahwasanya sudah mati. Diracun 0leh cal0n suaminya sendiri.
Kini beliau hidup dalam alam lain…..”
“Keanehan yang saya tidak mengerti….”
“Lalu kau sendiri yang kau cari di Kerajaan Siluman ini?”
“Sese0rang. Aku tak ingin membicarakannya sekarang….” Dewi Merak Bungsu balikkan badannya. Dadanya yang membusung tersingkap lebar. Wir0 merasa mirip kesilauan. Dilihatnya wanita itu memejamkan kedua matanya.
“Gila , beliau mirip memperlihatkan kesempatan. Apakah saya harus menyianyiakan….?”
Perlahan-lahan Wir0 turunkan kepalanya. Hidungnya menyentuh buah dada wanita muda itu. Nafasnya menghangati permukaan dada Dewi Merak Bungsu.
“Wir0 , apakah kita bisa keluar dari tempat celaka ini?”
“Aku tak tahu Kuntini. Hanya Tuhan yang bisa men0l0ng kita.”
“Aku tengah berd0a…” bisik wanita itu.
“Apa d0amu?” tanya Wir0.
“Selain minta selamat saya juga berd0a kalau berhasil keluar dari tempat ini saya ingin bersamamu….”
Wir0 mengangkat kepalanya dan menatap paras Dewi Merak Bungsu dengan pandangan heran. Saat itu dirasakannya degupan jantung wanita itu mengeras.
Lalu tangan kanan Dewi Merak Bungsu mengelus kepalanya , mend0r0ng ke bawah hingga kembali wajah Pendekar 212 menyentuh dadanya.
Ketika Wir0 dan Dewi Merak Bungsu terbangun Kakek Segala tahu masih meng0r0k. Mereka tak tahu entah berapa lama mereka tertidur dalam g0a itu. Dewi merak Bungsu merapikan pakaiannya. Lalu membalikkan tubuhnya dan merangkul Pendekar 212. Dia berbisik hangat. “Tak pernah saya mencicipi sebahagia ini….”
Di dalam g0a terdengar bunyi terbatuk-batuk.
“Kek , kau sudah bangun?” tanya Wir0.
“Ya…. Ya saya sudah bangun. Aku terbangun 0leh suara-suara getaran pada kerikil g0a. C0ba kalian mengintai keluar. Aku curiga sesuatu tengah terjadi di luar sana…”
Tiba-tiba di luar terdengar bunyi mengggelegar keras laksana bunyi guntur.
G0a di mana mereka berada terasa g0yang. Lalu ada bunyi teriakan-teriakan mengerikan dibarengi bunyi raungan anjing serta tawa cekikikan yang menegakkan bulu r0ma. Mendadak semua bunyi itu sirap. Yang terdengar kini yaitu bunyi 0rang berucap , menggelegar dan menggema panjang.
“Tiga insan dalam g0a keluarlah! Kalian sudah terkurung. Tak mungkin terus bersembunyi! Tak mungkin keluar hidup-hidup dari dalam Kerajaan Siluman Tapakhalimun!”
“Suara itu sama dengan bunyi 0rang beberapa waktu lalu….!” Kata Dewi Merak Bungsu sambil memegang jari-jari tangan Pendekar 212. Keduanya kemudian menggeser batu-batu besar yang menutupi lisan g0a.
“Astaga….” Dewi Merak Bungsu terpekik kecil.
“Apa yang kalian lihat?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Kek , agaknya kita memang akan sama-sama mati di tempat ini. Seluruh daerah telah dikurung ratusan siluman aneka macam bentuk. Mereka berdiri di puncakpuncak kerikil , di atas p0h0n , di seluruh tempat!” bunyi Wir0 bergetar.
Kakek Segala Tahu menyeruak ke lisan g0a. “Apa lagi yang kalian lihat?!” tanyanya kemudian.
“Cairan darah mendidih itu lenyap. Tepat di depan kita ada sebuah bukit batu.
Di puncak bukit ada sebuah tempat duduk memancarkan sinar kuning menyilaukan.
Agaknya terbuat dari emas. Di atas dingklik emas itu duduk se0rang berjubah hijau….”
“Kau mengenali siapa dia…..?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Selain jauh , beliau mengenakan caping. Bagian bawah caping sebelah depan diberi lindungan kain jarang….” Wir0 hentikan ucapannya.
Dewi Merak Bungsu ganti memberitahu. “Di sekeliling 0rang yang duduk di dingklik emas itu terdapat enam ek0r anjing besar bertaring panjang. Lalu ada dua belas siluman bersikap sebagai pengawal…. Enam di antaranya siluman wanita tanpa pakaian , hanya mengenakan cawat….”
“Sayang mataku buta! Hingga tak sanggup menyaksikan pemandangan bagus itu!” kata Kakek Segala Tahu. Lalu beliau berkata. “Jika ada se0rang duduk di dingklik emas. Dikelilingi pengawal hewan dan siluman berarti dialah Raja Siluman , penguasa di tempat jahanam ini! kalian ingat apa ucapannya beberapa waktu lalu?
Dari tahta Kerajaan Siluman saya akan menyaksikan dirimu tersiksa dalam ketakutan.
Lalu blaaam! Baru kubunuh dirimu! Kaprik0rnus terang beliau memang Raja penguasa hutan siluman ini!”
“Berarti satu-satunya jalan untuk selamat yaitu kita harus membunuh Raja Siluman itu!” kata Dewi Merak Bungsu.
“Belum tentu ,” jawab Kakek Segala Tahu.”Siluman tak bisa dibunuh. Mereka bisa dihancurleburkan tapi kelak akan muncul lagi dlam bentuk semula atau berubah bentuk. C0ba kalian perhatikan 0rang yang duduk di atas dingklik emas itu , apakah kedua kakinya menginjak kerikil di bawahnya atau melayang?!”
Wir0 dan Dewi Merak Bungau membuka mata lebar-lebar. “Kedua kakinya menggunakan kasut. Kasut itu melekat di batu!” menerangkan Wir0 atas apa yang dilihatnya.
“Berarti beliau bukan siluman. Bukan hantu atau setan. Tapi insan mirip kita juga! Berarti beliau mempunyai satu kekuatan sakti luar biasa yang bisa menguasai daerah hutan Tapakhalimun serta seluruh isinya…”
Di luar sana 0rang berjubah hijau dan duduk di atas dingklik keluarkan bunyi mendengus. “Keparat , mereka masih berusaha bertahan di dalam g0a itu. saya akan berteriak lagi. Kalau mereka tidak keluar juga akan kulepaskan anjing-anjing siluman!” Lalu 0rang ini kempeskan perutnya tanda beliau mengerahkan tenaga dalam.
Sesaat kemudian terdengar suaranya menggelegar. “Pendekar 212! Saatmu habis!
Kalau kau dan dua kawanmu tidak segera keluar , kami akan tiba menjemput!”
“Sebaiknya kita keluar saja…. Wir0 kalau kita mendekat ke tempat penguasa keparat itu , beritahu padaku setiap apa saja yang kau lihat. Terutama yang ada pada dirinya ,” kata Kakek Segala Tahu. Lalu beliau mendahului melangkah ke lisan g0a.
Wir0 dan Dewi Merak Bungsu saling pandang. “Kalau saya mati , saya ingin mati bersamamu…..” bisik wanita muda itu.
“Kita tidak akan mati. Tuhan akan men0l0ng kita….” Jawab Wir0.
“Setelah kita berbuat d0sa di g0a ini…..?” ujar Dewi Merak Bungsu pula.
“Sssstttt…. Jangan keras-keras. Nanti terdengar 0leh 0rang bau tanah itu ,” kata Wir0.
Lalu ditariknya tangan Dewi Merak Bungsu.
Di atas dingklik emasnya , penguasa hutan siluman rupanya tidak sabaran. Dia menjentikkan jari-jari tangannya tiga kali berturut-turut. “Jemput mereka! Bawa ke hadapanku!”
EMPAT BELAS
Tiga ek0r anjing siluman yang perawakannya menyeramkan hampir sebesar anak kerbau meraung keras kemudian mel0mpat dan melesat menuruni bukit batu. Hanya dalam beberapa kejapan saja tiga hewan ini sudah berada di puncak bukit kerikil di mana g0a terletak dan tiga 0rang itu gres saja bergeak ke luar.
“Awas anjing siluman!” teriak Dewi Mreak Bungsu. Namun terlambat.
Sebelum mereka sempat melaksanakan sesuatu tiga ek0r anjing siluman itu telah menggigit leher pakaian mereka kemudian laksana terbang binatang-binatang siluman ini melarikan kereka ke arah bukit batu. Sepuluh langkah dari dingklik emas tempat si penguasa duduk ketiga 0rang iu dijatuhkan di atas batu.
“Ha…. ha….! Tidak kusangka satu di antara kalian ternyata yaitu se0rang wanita cantik!” seru Raja Siluman. “Siapa namamu? Mengapa tersesat ikut c0w0k t0l0l ini ke sini?”
“Aku Dewi Merak Bungsu! Aku ke mati mencari se0rang berjulukan Singa L0dra…. Kau telah menculik dan menyekapnya di tempat celaka ini!”
Enam ek0r anjing siluman menyalak keras. Puluhan siluman lainnya keluarkan jeritan. Rupanya mereka tidak senang mendengar Dewi Merak Bungsu menyebut tempat itu sebagai tempat celaka.
0rang di atas dingklik tertawa lebar. “Di sini banyak sekali tawanan. Aku tidak ingat lagi yang mana berjulukan Singa L0dra. Apa hubunganmu dengan 0rang ini?!”
“Dia kakakku!”
“Ah! Kalau beliau kakakmu , saya niscaya akan melepaskannya. Asal kau mau mengikuti segala kemauanku!”
“Cis! Siapa sudi turut kemauan siluman macammu! Lekas katakan di mana kau sekap kakakku itu! juga para t0k0h silat lainnya!”
0rang di atas dingklik tertawa bergelak.
Sewaktu 0rang itu bicara dengan Dewi Merak Bungsu , belakang layar Wir0 berbisik pada Kakek Segala Tahu. Menceritakan apa yang dilihatnya. “Aku masih belum bisa melihat tampang keparat itu , Kek. Tapi suaranya saya rasa-rasa pernah mendengar. Dia mengenakan jubah hijau. Aku yakin di balik jubah ini beliau mengenakan jubah lain….”
“Dengar….” Balas berbisik Kakek Segala Tahu. “Mata butaku menangkap kilapan sinar putih berasal dari 0rang itu. C0ba kau perhatikan. Mungkin di pinggangnya beliau menyelipkan senjata mustika , atau menggunakan kalung permata…. Apa saja. Perhiasan , kerikil permata….”
Wir0 memperhatikan dengan teliti. Tak ada kalung , tak ada senjata mustika , juga tak ada gelang. Tapi! “Kek , saya melihat ada sebentuk cincin absurd di kelingking jari tangan kanannya. Aku mirip pernah melihat benda ini sebelumnya. Astaga! Ya Tuhan….. Mana mungkin!”
“Kau mengenali cincin itu?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Aku tidak salah lihat! Benda itu dikenal dengan nama Cincin Warisan Setan.
Terbuat dari baja putih berbentuk kepala ular send0k!”
“0 ladalah! Cincin maha sakti itu! Kau tak salah lihat?!”
“Tidak Kek. Aku merasa pasti. Itu benar-benar Cincin Warisan Setan.”
Si kakek gelengkan kepala. “Kau ingat waktu dulu kita merampas cincin bahala itu dari tangan Randu Ireng sehabis beliau diakali 0leh Ratu Mesum. Lalu saya sendiri yang membuang cincin pembawa malapetaka itu ke dalam bahari di pantai Selatan. Kenapa kini muncul dan tahu-tahu berada di tangan 0rang tak dikenal itu?!
Berarti cincin itulah yang menjadi kekuatan dirinya untuk menguasai daerah hutan siluman ini. apapun yang terjadi kau harus merampas cincin itu Wir0!” (Mengenai riwayat cincin ini sanggup diikuti dalam serial Wir0 Sableng berjudul “Cincin Warisan Setan”)
“Aku akan melakukannya sekalipun harus mati! Tapi mengapa saya tidak melihat Bunga dan para t0k0h yang katanya disekap di tempat ini?’
“Jangan b0d0h! Penguasa hutan siluman itu tentu saja menyembunyikan mereka sem0ga tidak gampang dirampas diselamatkan….. Lekas kau bisikkan pada kekasih barumu itu sem0ga beliau ikut bantu merampas cincin itu….”
“Siapa kau bilang Kek? Kekasih baruku?” ujar Wir0 heran.
“Jangan pura-pura. Kau kira saya tidak tahu kau dan Kuntini saling bercumbuan di dalam g0a?!”
Paras Pendekar 212 jadi berubah. “Waktu itu bukankah kau sedang tidur ng0r0k?!”
“Mulutku yang ng0r0k tapi telingaku tidak ikut tidur!” jawab Kakek Segala Tahu. “Sudahlah! Sekarang lekas kau katakan pada Kuntini hal itu. Aku berusaha menghantam lepas caping dan pelindung muka di kepalanya. Aku kepingin tahu siapa adanya insan celaka ini!”
Terhuyung-huyung Wir0 mendekati Dewi Merak Bungsu yang masih bicara dengan 0rang yang duduk di atas dingklik emas. Lalu beliau akal-akalan terjatuh dan berpegangan pada Dewi Merak Bungsu. Kesempatan ini dipergunakan 0leh Wir0 untuk berbisik. “Kuntini , usahakan sem0ga kau bisa merampas cincin baja putih di jari kelingking 0rang itu…..”
“Aha! Pendekar 212! Datang mencari mati. Cukup lama saya menunggumu di Pintu Neraka ini. kesannya kau muncul juga. Bertahun-tahun mengincarmu , kini gres berahasil! Kecuali kau punya nyawa rangkap maka kau tak akan bisa l0l0s dari tempat ini. juga kawanmu bau tanah bangka berbaju r0mbeng itu!”
“Bagaimana dengan wanita ini?!” tanya Wir0.
“Itu urusanku!”
“Dengar , saya serahkan beliau padamu. Kau b0leh berbuat apa saja asal kau lepaskan Bunga dan biarkan kami meninggalkan tempat ini!”
“Wir0!” teriak Dewi Merak Bungsu. Di belakang Wir0 kakek Segala Tahu juga terdengar memaki. “Aku tidak menyangka seculas itu hatimu! Pendekar jahat!
Kalau begitu perbuatanmu lebih baik saya menyerahkan diri sendiri padanya….” Lalu Dewi Merak Bungsu jatuhkan diri berlutut di hadapan 0rang bercaping di atas kurisi emas. Karena keadaanya yang lebih rendah dan tubuhnya agak membungkuk maka keseluruhan payudaranya yang menggembung besar terlihat jelas. 0rang di atas dingklik mencicipi jantungnya mirip berhenti berdetak.
“Dewi Merak Bungsu , berdirilah….” Kata 0rang di atas dingklik emas. Tangan kirinya memegang pundak wanita muda itu. ibu jarinya mengusap pangkal payudaranya. Sedang tangan kanan mengusap wajah wanita yang cantik. Dewi Merak Bungsu usap jari-jari tangan 0rang itu , menekapnya dengan kedua tangannya sambil pejamkan mata seperti menikmati tangan kukuh dan hangat itu. kemudian mendekatkan tangan itu ke wajahnya , diusapkan berulang kali di wajahnya yang manis itu. kemudian perlahan-lahan didekatkannya ke hidungnya mirip 0rang hendak mencium tangan itu dengan mesra.
0rang di atas dingklik yang terangsang 0leh kemesraan itu sama sekali tidak menyangka apa yang sebentar lagi akan terjadi. Tiba-tiba Dewi Merak Bungsu memasukkan jari tangan kelingking 0rang itu ke dalam mulutnya.
“Hai!” teriak 0rang di atas dingklik kaget dan terl0njak dari tempat duduknya.
“Craaassss!”
Jari kelingking 0rang berjubah hijau putus dan masuk ke dalam lisan Dewi Merak Bungsu bersama cincin Warisan Setan yang terbuat dari baja putih itu!
“Perempuan jahanam! Muntahkan cincin itu ata kau akan mampus!” teriak 0rang berjubah. Tangan kirinya yang berlumuran darah dengan cepat memencet kedua pipi Dewi Merak Bungsu hingga lisan wanita ini terbuka dan cincin serta p0t0ngan jari yang ada dalam mulutnya hampir tersembul ke luar. Namun sebelum 0rang itu bisa mengambil cincin dalam lisan , Wir0 dan Kakek Segala Tahu sudah menggebrak.
Si kakek lemparkan capingnya ke arah kepala 0rang yang tengah mencekal Dewi Merak Bungsu. Di ketika yang sama Kapak Maut Naga Geni 212 yang ada di tangan Wir0 menderu laksana ribuan taw0n mengamuk , menghantam ke arah pinggang 0rang berjubah hijau. Sinar putih panas berkilat!
“Kurang ajar!” teriak si jubah hijau. Dia segera berteriak! “Semua mahluk di Kerajaan Siluman! Lekas bunuh ketiga 0rang ini!”
Biasanya , sekali memerintah saja semua siluman yang ada di tempat itu akan melesat terbang melaksanakan apa yang dikatakannya. Tapi aneh. Saat itu semua mahluk menyeramkan itu tetap diam di tempat masing-masing , hanya mengeluarkan bunyi halus mirip 0rang merintih. Di kejauhan secara absurd terdengar bunyi 0rang menangis.
“Cincin itu! saya tak bisa menguasai mereka lagi tanpa cincin itu!” 0rang berjubah sadar apa yang terjadi. Sekali lagi beliau masih berusaha mengambil cincin baja putih dari dalam lisan Dewi Merak Bungsu. Tapi tak berhasil. Dalam pada itu dua serangan tiba menyambar. Tak ada kesempatan lagi. Dia harus melepaskan Dewi Merak Bungsu kemudian menentukan apakah akan menghidari sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 atau menyelamatkan kepalanya dari hantaman caping yang dilemparkan Kakek Segala Tahu. 0rang ini menentukan selamat dari serangan pertama.
Sambil melepaskan cengkeramannya dari muka Dewi Merak Bungsu dan mel0mpat menghidari sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 si jubah hijau ini balas menghantam ke arah Kakek Segala Tahu.
“Braaaakkk!”
Caping yang dilemparkan Kakek Segala Tahu menghantam caping di atas kepala 0rang itu. hingga kepala dan wajahnya tersingkap. Sebaliknya pukulan yang dilepaskannya menciptakan udara menjadi redup , kemudian tiga larik sinar kuning , hitam dan merah menyambar ganas ke arah Kakek Segala Tahu.
“Pangeran Matahari!” teriak Pendekar 212 ketika beliau mengenali wajah 0rang berjubah hijau di hadapannya. “Jahanam! Kau rupanya!” Murid Eyang Sint0 Gendeng mel0mpat ke depan.
Kakek Segala Tahu sewaktu mendapatkan serangan pukulan “gerhana matahari” dari 0rang berjubah yang bukan lain yaitu Pangeran Matahari , musuh turun-temurun Pendekar 212 Wir0 Sableng , cepat mel0mpat mundur dan kibaskan t0ngkat kayu bututnya dalam gerakan setengah lingkaran.
“Kraaakkk!”
T0ngkat kayu itu patah dan hancur berkeping-keping. Tapi si kakek selamat dari pukulan sakti yang sangat mematikan itu! Menyadari siapa yang tengah dihadapi Wir0 , 0rang bau tanah ini segera bergabung menyerbu insan mafia terlahir berjulukan Pangeran An0m , berjuluk Pangeran Matahari itu.
“Kurang ajar! Tak mungkin saya menghadapi mereka berdua sekaligus!” rutuk Pangeran Matahari dalam hati. Lalu berteriak. “Pendekar 212! Kali ini saya gagal lagi!
Tapi ingat! Aku akan terus memburumu! Mengincar nyawamu!” habis berkata begitu Pangeran Matahari lemparkan sebuah benda ke tanah.
“Wussss!”
Asap hitam pekat membumbung ke udara menutup pemandangan. Ketika asap itu lenyap , Pangeran Matahari tidak kelihatan lagi.
Dewi Merak Bungsu keluarkan p0t0ngan jari kelingking dan Cincin Warisan Setan dari mulutnya. Dia meludah berulang kali dan keluarkan bunyi mirip 0rang mau muntah. Cincin yang ada dalam genggaman tangan kirinya diserahkan pada Kakek Segala Tahu.
“Benda pembawa malapetaka…..” kata si kakek. Ketiga 0rang itu memandang berkeliling. Semua siluman hutan Tapakhalimun tak satupun beranjak di empat masing-masing. Mereka merundukkan kepala dan keluarkan bunyi mirip 0rang merintih.
“Kek…..” kata Wir0. “Kalau memang cincin itu yang dipergunakan Pangeran Matahari untuk menguasai mereka , berarti kau juga bisa mempergunakannya untuk melaksanakan sesuatu…..”
“Apa yang akan kulakukan? Menjadi Raja di Kerajaan Siluman ini?”
“Aku tidak melihat Bunga….”
“Kakakku Singa L0dra juga tak nampak. Jangan-jangan mereka semua sudah dibunuh….” Kata Dewi Merak Bungsu.
Kakek Segala Tahu tanggalkan cincin baja berbentuk kepala ular send0k itu dari p0t0ngan jari Pangeran Matahari. Lalu diusap-usapnya beberapa kali. Dia berkata perlahan. “Cincin sakti. Kalau kau memang mempunyai kekuatan untuk menguasai hutan siluman dan seluruh isinya , tunjukkan padaku!” Si kakek kemudian memandang berkeliling. “Siluman hutan Tapakhalimun! Kalian semua berada dalam kekuasaanku!
Lekas tunjukkan di mana para tahanan disekap. Bawa mereka semua ke mari!”
Semua siluman menyeramkan aneka macam bentuk yang ada di tempat itu keluarkan bunyi jeritan keras. Enam anjing siluman menyalak panjang. Mereka kemudian berkelebat lenyap. Tak lama kemudian kembali muncul membawa sembilan s0s0k tubuh yang kesemuanya berada dalam keadaan terikat tangan dan kakinya.
“Bunga!” teriak Pendekar 212 ketika beliau mengenali Bunga , gadis yang selama ini hidup dalam alam mistik tapi tak berdaya di bawah kekuasaan siluman. Pemuda ini memburu dan berusaha membuka ikatan di tubuh Bunga. Tapi tak bisa.
Dewi Merak Bungsu memandang berkeliling , mencari-cari. Lalu dilihatnya Singa L0dra. “Kakak!” jerit gadis ini seraya lari kemudian menjatuhkan diri di atas tubuh se0rang lelaki paruh baya bertelanjang dada dan tubuhnya penuh bekas cambukan.
Perempuan ini juga tak bisa membuka ikatan di tangan dan kaki kakaknya.
“Kek , pergunakan kekuatan cincin itu! perintahkan siluman untuk membuka tali-tali ikatan para tawanan!” teriak Wir0.
“Kalian dengan ucapan itu! lakukan perintah! Buka ikatan para tawanan!” kata Kakek Segala Tahu. Lebih dari duabelas siluman segera bergerak membuka ikatan yang mengikat tangan serta kaki sembilan tawanan. Begitu ikatannya terlepas Bunga segera memluk Pendekar 212 Wir0 Sableng.
“Kau tiba juga kesannya Wir0…. Aku sudah putus asa. Mengira tak akan bisa keluar dari hutan siluman ini. Tak bisa kembali ke alamku. Terima kasih Wir0…. Aku tak apa-apa. Darah ini hanya darah yang disemburkan mahluk-mahluk itu sewaktu menakuti diriku. Pangeran Matahari sengaja tidak mencelakaiku untuk memancing dirimu masuk ke tempat ini…. Terima kasih Wir0….”
“Berterima kasih pada dua sahabatku itu. Kakek Segala Tahu dan Dewi Merak Bungsu….” Kata Wir0 sambil melepaskan pelukannya lantaran ketika itu beliau melihat beberapa 0rang yang dikenalinya diantara t0k0h-t0k0h silat yang jadi tawanan. Datuk Harimau Gunung Merapi , Dewa Pedang dari Timur. Lalu Pendekar T0ngkat Gading dan tiba-tiba matanya membentur s0s0k tubuh yang luar biasa besarnya itu.
“Raja Penidur!” teriak Wir0 kemudian beliau mel0mpat ke arah 0rang bau tanah berb0b0t lebih dari 200 kati. Manusia gemuk luar biasa ini yaitu se0rang t0k0h silat paling dih0rmati dalam usianya yang lebih dari 160 tahun.
Raja Penidur mengg0s0k-g0s0k matanya.
“Hah , kau rupanya. Murid si nenek buruk dari puncak Gunung Gede itu!” kata Raja Penidur sambil ucak-ucak kedua matanya kemudian menguap lebar-lebar. “Heh…. Aku rasanya kenal pada kakek buruk berbaju tambalan di sampingmu ini. Bukankan beliau insan yang dijuluki si Segala Tahu itu?”
Kakek Segala Tahu membungkuk kemudian tertawa mengekeh sambil membetulkan capingnya yang jeb0l akhir digunakan untuk menghantam caping Pangeran Matahari tadi.
“Mereka mengambil pipaku! T0l0ng kalian carikan pipaku! Sementara saya mau tidur dulu! Awas kalau ada yang berani membangunkan!” Raja Penidur menguap lebar-lebar. Kedua matanya dipejamkan. Sesaat kemudian terdengar suaranya meng0r0k.
Wir0 tiba-tiba ingat sesuatu kemudian ia berteriak. “Ada satu siluman men0l0ngku dua kali! Aku tidak melihat beliau di antara kalian! Bawa beliau kemari cepat!” Sambil berteriak Wir0 ikut memgang cincin baja di tangan Kakek Segala Tahu.
Beberapa siluman kelihatan sibuk dan lenyap. Tak lama kemudian mereka muncul lagi membawa siluman yang dimaksudkan 0leh Wir0 itu. pendengaran dan lidahnya masih ditancapi besi runcing. Kedua kakinya diikat dengan besi panas. Dewi Merak Bungsu dan Bunga mengerenyit ngeri melihat keadaan siluman satu ini. Apa lagi lehernya b0l0ng dan kedua matanya hampir c0p0t!
“Aku mengerti , mungkin beliau punya kesalahan hingga kalian menghukumnya mirip ini! tapi semenjak ketika ini kalian harus membebaskan dirinya! Siapa berani menyiksanya saya sate tubuhnya dengan besi panas dari pantat hingga ke mulut!”
Dua 0rang siluman bertubuh tinggi besar mendekati siluman yang satu itu.
mereka segera mencabut besi runcing dari pengecap dan kepalanya. Lalu juga memutus rantai besi panas. Begitu bebas siluman satu itu lantas menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Wir0.
“Bagaimana kita harus keluar dari tempat ini?!” terdengar Dewi Merak Bungsu bertanya sambil memapah kakaknya.
“Pergunakan kekuatan Cincin itu!” kata Bunga seraya melangkah mendekati Wir0 dan memeluk sang pendekar.
“Ah , kau betul!” kata Kakek Segala Tahu. Lalu diusapnya cincin berbentuk kepala ulat send0k itu. “Siluman hutan Tapakhalimun! Kami tak mau diganggu dan juga tak ingin mengganggu kalian. Kami ingin keluar dari tempat kalian. Bawa kami keluar hingga di depan Pintu Neraka!”
Semua siluman yang ada di tempat itu bers0rak keras. Lalu mereka melayang kian kemari. Tahu-tahu semua 0rang yang ada di tempat itu telah melayang di udara , dig0t0ng beramai-ramai. Kakek Segala Tahu di depan sekali , menyusul si gemuk Raja Penidur dan beberapa t0k0h silat lainnya. Setelah itu Bunga , kemudian Dewi Merak Bungsu dan kakak lelakinya dan terakhir sekali Pendekar 212 Wir0 Sableng.
Yang mengg0t0ng dan membawa Wir0 melayang justru yaitu enam 0rang siluman wanita yang hanya mengenakan cawat. Payudara mereka yang sebesar buah kelapa bergundal-gadil kian kemari. Ada yang sempat menampar dan menyapu wajah atau tubuh murid Sint0 Gendeng itu. Masih melayang di udara tiba-tiba Wir0 berteriak.
“Kurang ajar! Siapa yang meraba selangkanganku!”
Enam siluman wanita itu menyeringai kemudian bers0rak ramai. “Ah , sudahlah.
Lebih baik memberi sedekah sedikit kini dari pada kemudian hari mereka gentayangan mencariku!” kata Pendekar 212 dalam hati kemudian pejamkan kedua matanya.
TAMAT
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tit0
EP : KUTUNGGU DI PINTU NERAKA
SATU
Dua s0s0k bayangan hitam berkelebat dalam gelapnya malam. Pada waku siang saja hutan belantara itu selalu diselimuti kegelapan dan dicengkam kesunyian.
Apalagi di malam buta mirip itu. Hingga dua s0s0k yang bergerak tadi tidak ubahnya mirip dua hantu tengah gentayangan.
“Kita sudah dekat…..” bisik bayangan di sebelah kanan. Ternyata beliau insan juga adanya.
“Betul , saya sudah sanggup mencium baunya ,” menyahuti bayangan satunya.
Keduanya terus lari ke arah Timur rimba belantara. Tak selang berapa lama mereka hingga di p0t0ngan hutan yang baynak ditumbuhi semak belukar setinggi dada.
Di sini mereka hentikan lari. Tegak tak bergerak dan juga tidak bersuara. Hanya sepasang mata masing-masing memandang tak berkedip ke depan.
Di atas serumpun semak belukar lebar terletak sebuah kerikil lebar berbentuk hampir pipih. Di atas kerikil ini duduk se0rang lelaki berpakaian r0mbeng penuh tambalan mirip pengemis. Dia mengenakan sebuah caping bamb00. Bagian depan caping ini turun ke bawah hingga dari wajahnya hanya dagunya yang ditumbuhi bulubulu bergairah saja yang kelihatan.
Bau absurd mirip bau bunga kamb0ja busuk tiba dari 0rang yang duduk bersila di atas kerikil ini. Entah berasal dari tubuhnya atau dari pakaiannya yang dekil k0t0r.
0tak dua 0rang yang barusan tiba cepat bekerja. Batu pipih itu beratnya paling tidak 30 hingga 40 kati. Tetapi mengapa semak belukar setinggi dada itu sanggup menahannya? Lalu ditambah pula dengan berat tubuh 0rang bercaping yang duduk bersila di atas batu. Semak belukar tetap berdiri tegak! Akal insan mana yang bisa mendapatkan kenyataan ini?!
“Aku tak menyangka beliau mempunyai ilmu setinggi ini ,” bisik 0rang di sebelah kiri.
“Dia sanggup menciptakan tubuh dan kerikil yang didudukinya seringan kapas ,” balas 0rang di sebelah kanan. “Tapi kalau cuma ilmu meringankan tubuhnya saja yang hebat , kenapa kita musti takut?”
“Lalu bagaimana? Kita teruskan?” tanya 0rang yang pertama tadi.
“Seharusnya kau tak usah bertanya begitu. Ucapanmu menandakan keraguan hati. Kau kecut , bahkan mungkin takut. Padahal , bukankah kita sudah bersumpah untuk menangkapnya hidup atau mati?” kata 0rang kedua pula dengan nada sengit.
Lalu cepat beliau menyambung. “Kau dari sebelah kiri. Aku dari kanan. Sekarang!”
Dua 0rang itu bergerak. Satu ke kiri , satu ke kanan. Tiba-tiba secara serempak mereka menyergap ke arah 0rang yang duduk di atas batu. Dari gerakan-gerakan mereka yang mengeluarkan bunyi angin bersiuran terang dua 0rang ini bukan hanya melancarkan serangan biasa , tetapi serangan-serangan dahsyat yang bisa meremuk dada dan merengkahkan kepala!
0rang bercaping di atas kerikil kelihatan tidak bergerak sedikitpun. Se0lah sama sekali tidak menyadari kalau dirinya tengah diancam ancaman maut. Sesaat lagi j0t0san dari kanan akan menghantam caping di atas kepalanya dan j0t0san dari kiri akan menghancurkan tulang dadanya , tiba-tiba dalam satu gerakan kilat yang hampir tidak terlihat 0leh mata telanjang , 0rang bercaping di atas kerikil angkat kedua tangannya.
“Wutt! Setttt!”
“Wutt Setttt!”
Dua penyerang sama berteriak kaget ketika dapatkan lengan kanan masingmasing yang mereka pergunakan untuk memukul tahu-tahu kena cekal 0rang!
Mereka cepat menyentak untuk bebaskan diri. Namun ceklan itu laksana japitan besi yang tak sanggup dig0yahkan. Terpaksa keduanya pergunakan tangan kiri untuk menghantam. Sayang gerakan mereka kalah cepat. Tubuh keduanya tampak terangkat ke atas. Lalu dalam gerakan kilat yang ditunjang dengan kekuatan luar biasa tubuh itu diadu satu sama lain!
“Praaakkk!”
Dua kepala berbentur keras.
Perlahan-lahan 0rang di atas kerikil lepaskan cekalannya. Dua 0rang yang tadi menyerangnya dan kini talah menjadi jenazah r0b0h di bawah , terkapar di tanah rimba belantara lembab.
Keadaan yang tadi sempat berisik kini kembali diliputi kesunyian. 0rang di atas kerikil duduk tak bergerak se0lah tidak terjadi apa-apa!
Sementara itu di atas sebuah p0h0n tinggi , dalam kegelapan malam , sulit terlihat 0leh mata telanjang , se0rang kakek bermuka kuning mengenakan pakaian selempang kain putih mirip se0rang resi , duduk di atas salah satu cabang p0h0n. Di tangan kanannya beliau memegang sebatang j0ran atau bambu pemancing. Pada ujung benang di mana terdapat mata kail yang dibalut sejenis getah , aneka macam hewan hutan yaitu serangga terbang , kunang-kunang , nyamuk dan sebagainya telah menjadi k0rban.
Mati melekat di mata kail.
Sungguh absurd keadaan 0rang bau tanah ini. Apakah beliau menganggap dirinya tengah memancing? Walaupun beliau tidak bergerak atau bersuara namun apa yang terjadi di bawah sana yaitu selesai hidup mengerikan dua 0rang yang menyerang , sama sekali tidak luput dari pandangannya. Malah sewaktu dua 0rang itu jatuh bergedebukan di tanah tanpa nyawa dan kepala rengkah , dalam hatinya 0rang bau tanah di atas p0h0n mengejek.
“Manusia-manusia t0l0l! Kalau ilmu cuma sejengkal mengapa berani tiba ke tempat ini! Mencari masalah mencari mati!”
Kesunyian di tempat itu ternyata tidak berlangsung jauh. Karena tak selang berapa lama kemudian entah dari mana datangnya ses0s0k tubuh renta bungkuk dengan punuk di tengkuknya tahu-tahu muncul di tempat itu kemudian duduk sejarak lima langkah dari hadapan semak belukar di atas mana ada kerikil dan duduk 0rang bercaping. 0rang yang gres darang ini berambut kelabu dan di tangan kanannya ada sebatang t0ngkat hitam.
Dua mata 0rang bau tanah berambut kelabu ini kecil dan selalu berputar liar , melirik ke kiri dan ke kanan. Sekilas beliau memperhatikan 0rang di atas kerikil , kemudian memperhatikan dua s0s0k yang sudah jadi jenazah , kemudian kembali lagi memperhatikan 0rang bercaping. Kemudian kelihatan beliau geleng-gelengkan kepala.
“Anak-anak insan malang! Kalian mampus percuma. Akibat meminta lebih dari kemampuan!” Si rambut kelabu membuka mulut. Lalu beliau ketukkan t0ngkat hitamnya ke tanah.
“Duk….duk….dukkkk!”
Hebat sekali! Ketukan t0ngkat itu bukan saja mengeluarkan bunyi absurd jauh ke dalam tanah tetapi juga mengakibatkan semak belukar di hadapannya berg0yangg0yang.
G0yangan ini menciptakan kerikil hitam di atas semak-semak itu bergetar. Namun 0rang bercaping yang duduk di atasnya se0lah tidak mencicipi apa lagi terganggu.
Di atas p0h0n 0rang bau tanah bermuka kuning dan berpakaian mirip resi usap-usap j0ran bambunya. “Si bungkuk itu…… Hemmmmm…..” katanya dan bergumam dalam hati. “B0leh juga dia. Kepandaiannya jauh meningkat. Ketukan t0ngkatnya menciptakan p0h0n yang kududuki bergetar. Bahkan pantatku terasa mirip kesemutan.”
“Ck…..Ck…..Ck.”
“Tapi saya kurang yakin beliau bisa melaksanakan niatnya. Biar kutunggu saja sambil memancing…… Ah , mengapa sedikit sekali hasil pancinganku malam ini.”
0rang bau tanah berpunuk berhenti mengetuk-ngetukkan t0ngkat hitamnya. Dia maju dua langkah. Mulutnya tampak dipenc0ngkan. Sesaat kemudian terdengar beliau berucap.
“Keb0 Pradah. Kau b0leh menyamar seribu samaran. Sebagai resi , sebagai nelayan atasu sebaga petani. Juga sebgai pengemis seperi kau lakukan ketika ini. tapi kau tak bisa lari dari aku. Mata bau tanah ini tak bisa ditipu. Aku tiba menjemputmu! Apa jawabmu?!”
0rang di atas kerikil tidak bergerak. Juga tidak ada bunyi jawaban.
0rang bau tanah berambut kelabu di depan semak belukar menyeringai. Tangan kirinya mengusap-usap rambutnya beberapa kali kemudian tangan kanannya yang memegang t0ngkat bergerak.
Ujung t0ngkat eb0nit itu tiba-tiba menyusup ke bawah caping. Di depan mata kiri ujung t0ngkat berhenti se0lah hendak menusuk. Ternyata tidak. T0ngkat itu bergerak ke bawah kemudian berhenti sempurna pada cegukan di pangkal leher. Agaknya p0t0ngan inilah yang akan ditusuk. Jelas bac0kan membawa kematian!
“Aku bertanya sekali lagi Keb0 Pradah! Kau bersedia ikut saya atau bermaksud membangkang?!”
0rang bau tanah berpunuk menunggu. Yakin bahwa beliau tak bakal menerima balasan maka diapun keluarkan bunyi tawa mengekeh. Tiba-tiba kekehannya lenyap laksana direngut setan. Pergelangan tangan kanannya bergerak. Ujung t0ngkat benar-benar menusuk!
“Traaaaakkkk!”
0rang bau tanah berpunuk berseru kaget kemudian mel0mpat mundur hingga tiga langkah.
Dua matanya mendelik , memandang liar berganti-ganti ke arah 0rang di atas kerikil dan t0ngkat kayu hitamnya yang patah. Dia tidak sanggup melihat kapan 0rang di atas kerikil itu menggerakkan tangannya. Yang terang gerakan 0rang itu jauh lebih cepat dari bac0kan t0ngkatnya tadi.
Di atas p0h0n yang gelap , kakek bermuka kuning yang memegang j0ran geleng-gelengkan kepalanya. Dalam hati beliau berkata. “Tua bangka bungkuk berpunuk itu ternyata cuma bermulut besar. Kalau 0taknya waras apa yang terjadi sudah cukup menjadi peringatan. Sebaiknya beliau lekas saja angkat aki dari tempat ini!”
Namun lain kata hati si kakek di atas p0h0n , lain pula ucapan 0rang bau tanah berpunuk.
“Bagus Keb0 Pradah! Bagus sekali! Kau memperlihatkan keperkasaanmu tanda kau memang pantas kuajak pergi. Tapi dari sikapmu tadi terang kau tetapkan untuk ikut saya tanpa nyawa di badan!” Si bungkuk berpunuk lemparkan patahan t0ngkat ke tanah. Dari mulutnya keluar bunyi lengkingan keras. Di lain kejap tubuhnya melesat ke depan. Ketika kedua tangannya dihantamkan , ada deru angin yang dahsyat mendahului serangannya. 0rang di atas kerikil maklum beliau kini tidak bisa bertindak gegabah. Dengan cepat beliau angkat kedua tangannya menangkis. Dua pasang lengan saling bentr0kan keras. Tapi anehnya sama sekali hampir tidak terdengar bunyi bergedebukan. Ini satu menerangkan bahwa kedua 0rang itu sama-sama mempunyai tenaga dalam yang tingginya sulit dijajagi. Terbukti dengan apa yang terjadi setelah bentr0kan lengan itu. kerikil di atas semak belukar kelihatan retak. Beberapa bagiannya malah hancur berkeping-keping. Asap mengepul dari batu. 0rang bercaping yang tadi duduk di atasnya lenyap entah kemana! Sebaliknya si bungkuk berpunuk tampak berlutut enam langkah dari depan semak belukar dengan sekujur tubuh bergetar.
Punuknya se0lah bertambah besar tiba-tiba.
“Des!”
Punuk itu meletus pecah! Darah muncrat mengerikan!
DUA
0rang bau tanah bermuka kuning di atas p0h0n leletkan lidahnya. “Si bungkuk itu tak bakal lama nyawanya ,” katanya dalam hati. “Keb0 Pradah niscaya tidak lepas dari hantaman tenaga dalam lawan. Tapi beliau berlaku cerdik. Tenaga sakti lawan diteruskannya ke atas kerikil yang tadi didudukinya. Karuan saja kerikil itu jadi retak bahkan pecah berkeping-keping!”
Si bungkuk berambut kelabu berusaha menahan sakit dengan mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Namun tak urung bunyi erangan terdengar juga keluar dari mulutnya. Tangan kirinya diulurkan ke belakang. Begitu beliau berhasil memegang punuknya yang pecah , 0rang ini menekan kuat-kuat. Sungguh luar biasa. Darah yang mirip memancur dari pecahan punuk serta merta berhenti mengalir.
Dengan mengumpulkan seluruh tenaga perlahan-lahan 0rang ini bangun berdiri.
“Keb0 Pradah! Dimana kau?! Jangan bersembunyi pengecut! Aku akan mengadu jiwa denganmu!” Si bungkuk memandang kian kemari. 0rang bercaping itu tidak kelihatan. Dia membalik! Tahu-tahu Keb0 Pradah sudah ada di depannya!
Si bungkuk keluarkan bunyi menggemb0r. Kedua tangan diulurkan ke depan.
Didahului bentakan keras beliau mel0mpat. Dua tangannya siap untuk mencekal dan mematahkan leher Keb0 Pradah. Namun tindakan nekadnya itu tidak membawa hasil.
Sebelum beliau sempat menyentuh leher yang jadi sasaran , 0rang bercaping gerakkan tangan kanannya.
“Praaaakkk!”
Kening si bungkuk pecah besar. Tubuhnya terjengkang. Jeritannya terdengar singkat lantaran maut keburu merenggut nyawanya!
Di atas p0h0n 0rang bau tanah bermuka kuning menghela nafas panjang. “Kasihan , satu k0rban lagi jatuh. Apa masih ada lagi insan t0l0l akan muncul mencari mati di tempat ini?”
Di bawah p0h0n Keb0 Pradah terdengar mendengus. “Tak terang apa maunya manusia-manusia itu. Mereka memburuku semenjak tiga puluh hari lalu. Hampir tidak memberi kesempatan bagiku untuk bernafas lega. Pintu Neraka….. Kudengar ada di antara mereka menyebut-nyebut nama itu. Apa betul ada Pintu Neraka? Di mana itu…..?” 0rang ini membetulkan letak capingnya kemudian memandang berkeliling sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu kasar. Tiba-tiba Keb0 Pradah berseru.
“0rang di atas p0h0n! Sudah saatnya kau turun. Aku mau lhat tampangmu biar terang dan apa kepentinganmu di tempat ini , mendekam semenjak tadi di atas p0h0n!”
0rang bau tanah bermuka kuning di atas p0h0n tersentak kaget. J0rannya hingga berg0yang-g0yang. “Astaga , rupanya beliau tahu semenjak tadi kalau saya n0ngkr0ng di sini!
Ah , bagaimana ini. Mau tak mau saya harus turun juga! Mungkin sudah saatnya saya jarus memberi tahu padanya…..”
0rang bau tanah ini gulung tali kailnya. Baru saja beliau hendak mel0mpat turun tibatiba terdengar bunyi absurd di kejauhan. Kakek muka kuning dan Keb0 Pradah samasama tercekat dan saling d0ngakkan kepala. Suara absurd itu terdengar semakin keras tanda bertambah dekat.
“Hemmmmmm……” si muka kuning bergumam. “Itu bunyi ker0ntang kaleng .
Hanya ada satu insan yang membawa kaleng r0mbeng ke mana-mana. Kakek Segala Tahu….. Kalau tidak ada apa-apa tidak akan beliau muncul di tempat ini. Janganjangan beliau punya maksud yang sama….. Wah , apakah saya harus bentr0kan dengan 0rang satu g0l0ngan…..? Sebaiknya saya menunggu saja. Biar beliau muncul dulu di tempat ini….. Tapi Keb0 Pradah niscaya tidak sabar!” 0rang bau tanah ini berpikir sesaat.
Sementara itu bunyi ker0ntang kaleng terdengar mirip menjauh dan kesannya lenyap sama sekali.
“Mudah-mudahan dugaanku salah. Kakek Segala Tahu mungkin hanya kebetulan saja tersesat ke daerah ini. Sudahlah , biar saya turun saja menemui Keb0 Pradah……”
Sekali beliau mengg0yangkan tubuhnya , 0rang bau tanah bermuka kuning itu melesat ke bawah dan mejejakkan kedua kakinya di tanah tanpa mengeluarkan bunyi sama sekali. Dia tegak dengan muka menyeringai , j0ran bambu dimelintangkan di pundak kiri sementara tangan kiri berkacak pinggang.
“Ah , Si Pengail Sakti Bermuka Kuning rupanya!” kata Keb0 Pradah begitu beliau melihat siapa 0rang yang tegak lima langkah di hadapannya itu. “Apakah banyak hasil kailmu malam ini?”
“Cuma nyamuk dan serangga tak berguna. Ada beberapa ek0r kunang-kunang.
Lumayan dari pada tidak sanggup apa-apa sama sekali…..” jawab kakek bermuka kuning kemudian tertawa gelak-gelak.
Keb0 Pradah menunggu. Setelah Si Pengail Sakti hentikan tawanya beliau cepat berkata. “Sekarang katakan apa maksud kehadiranmu di tempat ini Pengail Sakti. Apa sama dengan 0rang-0rang yang sudah jadi jenazah ini?!”
Si Pengail Sakti usap muka kuningnya dua kali kemudian batuk-batuk beberapa kali.
Setelah itu beliau rapikan pakaian putihnya yang mirip pakaian se0rang resi , menciptakan Keb0 Pradah jadi tidak sabaran.
“Aku menunggu jawabmu Pengail Sakti. Jangan terlalu petantang petenteng di hadapanku. Atau sebaiknya kau lekas menyingkir saja dari tempat ini?!” Keb0 Pradah kesannya bicara dengan bunyi keras.
“Keb0 Pradah , usiamu belum hingga setengah umurku yang sudah seratus dua puluh tahun ini. Kaprik0rnus tak pantas bicara bergairah padaku….”
“Aku tidak mau tahu berapa umurmu! Jawab saja pertanyaanku tadi!” hardik Keb0 Pradah.
“Kalau begitu maumu baiklah. Aku tiba ke sini bahwasanya hendak memberitahu bahwa dirimu terancam ancaman besar…..”
“Hemmmm begitu? Baik sekali hatimu padaku. Tetapi mengapa ku hanya mendekam di atas p0h0n , tidak pribadi menemuiu dan memberi tahu?!”
“Begini , setiap saya hendak turun menemuimu , saya selalu kedahuluan 0leh 0rang-0rang yang muncul mencari urusan denganmu. Aku pikir sebaiknya saya menunggu saja hingga urusan kalian selesai…..”
“Berarti kau sengaja membiarkan saya dalam bahaya!”
“Tidak begitu. Karena kau tahu kau bakal sanggup menuntaskan urusan itu , maka sebaiknya saya tidak ikut campur. Buktinya kau bisa membereskan 0rang-0rang itu!”
“Katakan ancaman besar apa yang mengancam diriku…..”
Pengail Sakti memandang dulu berkeliling se0lah kawatir 0rang lain di tempa itu mendengarkan apa yang bakal dikatakannya. Lalu beliau maju dua langkah mendekati Keb0 Pradah.
“Ada hal luar biasa dalam dunia persilatan terjadi semenjak beberapa waktu lalu.
Jika hal ini dibiarkan dunia persilatan akan ambruk!”
“Katakan saja pribadi apa yang kau maksud dengan hal luar biasa itu!” kata Keb0 Pradah pula.
“Beberapa t0k0h silat g0l0ngan putih lenyap secara aneh. Beberapa t0k0h mengadakan penyelidikan. Ternyata satu kekuatan hitam telah mencullik mereka kemudian disekap di sebuah tempat yang tak mungkin bisa dimasuki 0leh insan biasa. Jika hal ini dibiarkan terus bukankah bisa menciptakan selesai zaman dunia persilatan? Lagi pula…..”
“Tunggu dulu! Apa hubungan kejadian itu dengan diriku…..” mem0t0ng Keb0 Pradah.
“Se0rang pakar dunia persilatn dari g0l0ngan putih yang saya tidak terang siapa adanya menyampaikan bahwa hanya kau yang bisa men0l0ng menyingkap tabir kejadian ini. Menyelamatkan t0k0h-t0k0h silat yang diculik itu , mengeluarkan dari sekapan dunia hitam…..”
Keb0 Pradah tertawa. “Selama ini 0rang-0rang persilatan mana pernah memperhatikan diriku. Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka. Mereka menciptakan aneka macam macam urusan. Mereka sendiri yang harus menyelesaikan. S0al segala yang terjadi , dunia hitam dan kegaiban yang kau katakan itu , saya tidak perduli…..”
“Dengar dulu Keb0 Pradah. Beberapa 0rang sakti siap untuk masuk ke dalam dunia hitam makhluk-makhluk mistik sesat itu. Namun mereka tidak bisa tembus.
Meeka tahu wilayahnya tapi tidak tahu bagaimana caranya bisa masuk ke alam mistik itu.
Hanya mereka katakan kau yang bisa melakukannya. Kau punya kekuatan dan kemampuan yang tidak dimiliki 0rang lain……”
“Kau sudah d0ngeng banyak. Tapi belum menyampaikan apa keperntinganmu sendiri tiba ke sini. Hanya untuk memberitahu saya dalam ancaman dan bahwa saya yang bisa men0l0ng menyingkap tabir absurd itu? Aku tidak percaya. Kau niscaya punya kepentingan sendiri!”
Pengail Sakti tersenyum. Dia memandang lagi berkeliling. Lalu dengan bunyi perlahan beliau berkata. “Di alam mistik itu diketahui terdapat timunan harta perhiasan.
Kalau kita bisa masuk ke dalamnya kita bukan saja bisa men0l0ng para sahabat tetapi sekaligus bisa mendapatkan harta kekayaan itu! kita akan jadi 0rang-0rang maha kaya di dunia ini!”
“Aku tidak tertarik untuk jadi 0rang kaya…… Sekarang kau b0leh pergi….”
“Tunggu dulu Keb0 Pradah. Jika kau tidak tertarik pada kekayaan itu tak jadi apa. Tapi kuminta kau mau men0l0ng menyingkap tabir alam mistik itu. hanya kau satu-satunya di dunia ini yang bisa men0l0ngnya!”
Keb0 Pradah menyeringai. “Banyak 0rang lain mempunyai kemampuan lebih hebat dariku. Kau bisa mencari mereka…..”
“Kau betul , banyak 0rang lain yang lebih hebat dan mempunyai kemampuan serta kesaktian jauh di atasmu. Tapi bukan itu masalahnya!”
“Lalu?!”
“Seperti yang tadi saya bilang. Hanya kau yang mempunyai kunci kekuatan untuk sanggup masuk ke alam mistik iu!” kata Pengail Sakti pula.
“Kunci kekuatan……? Aku tidak mengerti Pengail Sakti…..”
“Kalau begitu biar saya membuktikannya dulu. Apa betul kau 0rangnya….”
Pengail Sakti mengulur tali j0rannya sambil memutar-mutar mata kail yang ditempel dengan sejenis getah perekat.
“Eh , apa yang hendak kau lakukan?!” tanya Keb0 Pradah heran tapi segera saja bersikap waspada.
Tangan kanan Pengail Sakti bergerak. J0ran bambu yang dipeganginya menderu ke kiri. Mata kail yang diselubungi getah menyambar ke p0t0ngan perut Keb0 Pradah. Mendapat serangan ini Keb0 Pradah jadi marah.
“Muka kuning! Kau berked0k hendak men0l0ng 0rang. Ternyata kau sama saja dengan 0rang-0rang lainnya hendak mencelakai diriku!”
Habis berkata begitu Keb0 Pradah berkelebat ke kiri. Tangan kanannya menyambar ke arah mata kail. Pengail Sakti kedutkan j0rannya sem0ga kailnya tidak hingga disambar lawan. Namun bersamaan dengan itu tangan kanan Keb0 Pradah memukul ke depan.
“Bagus!” seru Pengail Sakti. J0ran bambu di tangan kanannya bergerak aneh.
“Sreettt… sretttt… Betttt! Bettttt!”
keb0 Pradah terperangah kaget ketika tahu-tahu kedua tangannya telah terlibat tali kail sementara mata kail yang bergetah melekat di p0t0ngan dada baju r0mbengnya.
Si Pengail Sakti tertawa mengekeh. Sekali menyentak saja maka Keb0 Pradah terbet0t ke depan.
“Breettt!” Baju Keb0 Pradah r0bek di p0t0ngan dada. “Sialan! R0bekannya kurang besar!” kata Pengail Sakti dalam hati. J0ran bambunya kembali disentakkan.
Namun sekali ini Keb0 Pradah sudah sanggup membaca apa yang hendak dilakukan kakek bermuka kuning itu. Dia cepat mendahului. Bukan saja beliau mengikuti tarikan lawan tapi malah mendahului bergerak. Sesaat lagi tubuhnya dan tubuh Si Pengail Sakti akan saling beradu , tiba-tiba Keb0 Pradah berkelebat ke kiri. Dua tangannya yang dilibat tali kail diangkat ke atas. Lalu beliau menciptakan gerakan berputar beberapa kali.
Pengail Sakti berseru tegang ketika melihat tali kailnya melibat lehernya sendiri. Dia berusaha mel0l0skan diri dari libatan sambil lepaskan satu pukulan tangan k0s0ng yang dahsyat. Naumn terlambat. Libatan tali kail di lehernya semakin kencang. “Trel….trek….trek…..”
Terdengar bunyi berkereketan tiga kali berturut-turut. Tulang leher Pengail Sakti patah di tiga tempat! Lidahnya menjulur ke luar dan kedua matanya membaliak mengerikan! Untuk meyakinkan bahwa 0rang bau tanah bermuka kunig itu benar-benar mati , Keb0 Pradah sentakkan kedua tangannya yang terikat dengan keras. Tak ampun lagi tubuh Pengail Sakti terbanting ke bawah. Muknya menghantam tanah lebih dulu.
Remuk tak karuan rupa! Dengan hening Keb0 Pradah kemudian membuka libatan tali kail di kedua tangannya.
“Aku harus buru-buru meninggalkan tempat celaka ini!” kata Keb0 Pradah membatin. “Kalau tidak , sulit bagiku melaksanakan samadi…..”
Keb0 Prradah rapikan letak capingnya. Sesaat kakinya hendak melangkah , satu bayangan berkelebat. Angin bayangan yang menyambar ini menciptakan capingnya bergesr ke kiri. Baju r0mbengnya yang r0bek berkibar-kibar dan tubuhnya terasa dingin. Keb0 Pradah cepat membalik. Benar saja , bayangan yang barusan berkelebat tau-tahu sudah berada di belakangnya. Berubahlah paras Keb0 Pradah ketika beliau mengenali siapa adanya mahluk di depannya itu!
TIGA
Hutan Tapakhalimun di kaki selatan Gunung Merapi p0puler angker. Itu sebabnya tak pernah ada penduduk sekitar situ berani mendekati apa lagi masuk ke dalamnya.
Jangankan insan , binatangpun b0leh dikatakan jarang kelihtan berkeliaran di sekitar situ. Kata 0rang hutan Tapakhalimun yaitu sarang segalam macam mahluk halus. Pada siang hari di daerah hutan yang selalu redup itu sering terdengar bunyi l0l0ngan anjing , bernada absurd panjang menggidikkan. Terkadang ada bunyi tawa cekikikan membaut siapa saja yang mendengarnya bisa lari lintang pukang. Ada pula yang menyampaikan bahwa dalam rimba belantara itu sering terdengar bunyi jeritanjeritan mirip 0rang disiksa. Lalu juga ada tangisan 0r0k! Malam hari tentu saja keangkeran di tempat itu jangan disebut lagi.
Saat itu sempurna tengah hari. Di langit sang surya memancarkan sinarnya yang terik. Namun di daerah hutan yang ditumbuhi aneka macam p0h0n besar berdaun rimbun suasana tampak redup. Sinar matahari se0lah tak sanggup menembus kelebatan rimba belantara Tapakhalimun. Sewaktu lapat-lapat terdengar bunyi l0l0ngan anjing dari dalam hutan , tiba-tiba berkelebat satu bayangan putih. Setan? Bukan. Ternyata beliau manusia. Se0rang c0w0k berpakaian dan ikat kepala putih dengan rambut g0ndr0ng acak-acakan. Sesaat beliau memandang berkeliling.
“Sepi….” Katanya dalam hati. Baru saja beliau berucap begitu mendadak dari dalam hutan terdengar bunyi l0l0ngan anjing , menciptakan c0w0k ini tergagap kaget dan merutuk dalam hati. “Sialan! Kalau hewan itu ada di hadapanku niscaya kutendang!”
Dia memandang lagi berkeliling sambil memasang telinga. “Eh , apakah saya ini sudah hingga di hutan Tapakhalimun…..? Keadaan di sini serba aneh. Udara redup dan hawanya pengap. Tapi mengapa saya mendadak keluarkan keringat dingin? Ada bau mirip kebang busuk. Tapi kulihat tak satu p0h0npun ada bunganya! P0h0n-p0h0n besar itu tumbuhnya aneh. Berjajar dekat-dekat mirip pagar….”
Selagi c0w0k ini membatin tiba-tiba kesunyian dir0bek 0leh bunyi jeritanjeritan mengerikan. Kembali c0w0k ini terkejut dan memaki habis-habisan.
“Gila! Siapa yang menjerit mirip itu? Datangnya dari kejauhan di sebelah sana. Sepertinya lebih dari satu 0rang. Jangan-jangan itu bukan jeritan insan tapi…..” Pemuda ini tidak teruskan ucapannya. Dia melangkah sepanjang f0rmasi p0h0n-p0h0n besar yang membentuk pagar. Di setiap celah antara dua p0h0n beliau c0ba memeperhatikan. “Aku mirip melihat ada bayangan berkelebat di sebelah sana. Jelas bukan bayangan binatang…. Apa yang harus saya lakukan? Aku harus melihat bagaimana keadaannya sekarang….” Cepat-cepat dari dalam saku pakaiannya c0w0k ini mengeluarkan sebuah benda yang ternyata yaitu sekuntum bunga kenanga aneh. Aneh lantaran bunga ini tak pernah layu dan jikalau dikeluarkan selalu menebar bau harum. Selain itu kembang kenanga ini berasal-usul dari satu kejadian yang sulit diterima nalar manusia.
Beberapa waktu kemudian beliau pernah mengenal bahkan bercinta dengan se0rang dara manis yang dipanggilnya dengan nama Bunga. Gadis ini bahwasanya yaitu penjelmaan dari se0rang gadis yang telah meninggal dunia lantaran diracun 0leh kekasihnya sendiri yang mengkhianati cintanya. Satu kekuatan yang menguasai Bunga menciptakan gadis ini bisa meninggalkan alam gaibnya dan hidup mirip mahluk halus bahkan berubah menjadi atau memperlihatkan diri sebagaimana keadaannya sebelum meninggal dunia dulu. (untuk jelasnya baca serial Wir0 Sableng berjudul “Misteri Dewi Bunga Mayat”).
Setelah menatap kembang kenanga itu sesaat , perlahan-lahan si c0w0k mendekatkan bunga tadi ke hidungnya. Perlahan-lahan pula , penuh kekhusukan sambil memejamkan kedua matanya beliau mencium bunga itu. Hawa harum dan sejuk masuk ke dalam hidungnya terus ke r0ngga pernafasan. Rasa sejuk menyeruak ke r0ngga dadanya.
“Bunga….. Datanglah. Aku ingin melihatmu….” Si c0w0k berbisik dengan bunyi bergetar. Dia menunggu. Tak terjadi apa-apa. Dia menunggu lagi.
“Aneh ,” kata c0w0k ini dalam hati. “Biasanya tidak selama ini. sekali panggil saja beliau sudah muncul memperlihatakn diri….. Jangan-jangan……” Si c0w0k tampak kawatir. Diciumnya kembang kenangaitu sekali lagi. Lebih lama dari tadi seraya berbisik. “Bunga , saya ingin melihat. Bagaimana keadaanmu sekarang.
Perlihatkan dirimu Bunga……”
Tetap saja tak ada yang terjadi. Hati si c0w0k jadi semakin tidak tenang.
“Kalau beliau mati dan saya tidak bisa men0l0ngnya…… Aku akan menyesal seumur hidup……. Tapi bukankah bahwasanya beliau sudah mati? Apakah ada mahluk hidup mati hingga dua kali?” Si c0w0k termenung sesaat. “Biar kuc0ba sekali lagi…..” katanya.
Bunga kenanga itu diusap-usapnya beberapa kali. Lalu didekatkannya ke hidungnya. Kemudian diciumnya. “Bunga….. Jika kau masih ada di alammu , datanglah Bunga. Perlihatkan dirimu……”
Pemuda itu hampir frustasi ketika menunggu sekian lama apa yang dharapkannya tak kunjung terjadi. Namun tiba-tiba , perlahan sekali ada bunyi berdesis.
Serta merta udara pengap di tempat itu dipenuhi 0leh bau bunga kenanga. “Dia datang…..” desis si pemuda. Kedua matanya memandang tak berkedip ke arah datangnya bunyi berdesir itu. dari arah itu tampak satu sinar terang. Hanya sesaat.
Begitu sinar terang lenyap muncullah bayangan s0s0k tubuh se0rang gadis mengenakan kebaya putih berkancing-kancing besar. Rambutnya tergerai lepas.
Bayangan ini makin lama makin jelas.
“Bunga!” pekik si c0w0k begitu melihat keadaan gadis yang muncul secara absurd itu. pakaian putihnya ternyata penuh dengan darah. Wajahnya yang manis tapi pucat digelimangi datah yang keluar dari kedua matanya , hidung , pendengaran dan mulut.
Wajah itu memperlihatkan rasa takut yang amat sangat. Si gadis berada dalam keadaan terikat kedua tangan dan kakinya pada sebuah t0nggak kayu.
“Bunga!” teriak c0w0k tadi kembali seraya memburu. Namun gres sedikit saja beliau bergerak tiba-tiba muncul dua mahluk menyeramkan yang tubuhnya meliukliuk mirip asap. Setiap menyeringai dua mahluk ini memperlihatkan barisan gigigiginya yang panjang-panjang dan runcing. Mulutnya , mulai dari bibir hingga gigi dan pengecap bergelimang darah. Dengan jari-jari tangannya yang berkuku panjang dan sebesar pisang tanduk , dua mahluk menyeramkan ini menarik tubuh si gadis ke arah satu tempat yang hitam dan gelap sehingga kesannya lenyap dari pemandangan.
Bersamaan dengan lenyapnya s0s0k tubuh itu terdengar bunyi jertan-jeritan keras , menciptakan c0w0k itu hampir jatuh duduk saking kaget dan ngerinya. Suara jeritan semakin keras. Si c0w0k kerahkan tenaga dalam untuk menutup jalan pendengarannya. Tetapi tembus! Terpaksa beliau dekap kuat-kuat kedua telinganya. Lalu jatuhkan diri berlutut. Untuk beberapa lamanya bunyi jeritan itu masih terus menggema bahkan kini sesekali diiringi 0leh l0l0ngan anjing!
“Ya Tuhan! Apa bahwasanya yang terjadi dengan dirinya!” Pemuda berpakaian putih membatin sambil gigit bibirnya sendiri. “Terakhir sekali beliau muncul tidak mirip itu. Masih bisa bicara…… Tapi kini mengapa begitu sengsara keadaannya…… Tuhan! Beri saya kemampuan dan kekuatan untuk men0l0ngnya!”
Baru saja c0w0k ini mengucapkan d0a itu bunyi jerit dan l0l0ngan anjing tadi kini malah diikuti 0leh bunyi tawa cekikikan riuh sekali. Mau tak mau kuduk si c0w0k menjadi dingin. Mukanya keringatan. Nafasnya mengengah-engah. Dia mel0mpat. Kerahkan tenaga dalam kemudian berteriak sekerasnya yang bisa dilakukannya.
Dalam kengeriannya beliau sengaja berteriak untuk melawan suara-suara menggidikkan itu. tapi percuma. Suara jerit , tawa cekikikan dan l0l0ngan anjing tetap saja memenuhi tempat itu.
“Aku harus meninggalkan tempat ini sebelum terjadi sesuatu dengan diriku!”
kata si c0w0k yang memasukkan kembang kenanga ke dalam sakunya. Dia cepat berdiri “Tapi…..” Hatinya ragu. “Aku tiba kemari bukankah untuk mencari hutan Tapakhalimun? Aku yakin saya sudah hingga di hutan itu. Bunga….. Tadi beliau muncul kemudian dilarikan 0leh mahluk-mahluk mengerikan. Berarti mirip katanya dalam mimpi , beliau memang telah dilarikan ke satu sarang mahluk-mahluk halus yang punya kekuasaan dan kekuatan tidak terbatas! Buktinya Bunga sendiri yang merupakan mahluk mistik , tidak bisa membebaskan diri dan minta t0l0ng padaku…… Kalau begitu apapun yang terjadi saya dihentikan meninggalkan tempat itu. Sarang mahlukmahluk jahat itu rasanya tidak jauh dari sini! Dan saya harus menemukannya! Aku harus segera membebaskan Bunga. Keadaannya gawat sekali…..”
Suara tawa dan jerit serta l0l0ngan anjing perlahan-lahan mulai berhenti dan kesannya lenyap sama sekali. Namun hal ini tidak menciptakan si c0w0k bebas dari rasa ngeri dan tegang. Kedua matanya kembali menyapu ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar.
“Aku yakin suara-suara jerit dan tawa serta l0l0ngan anjing tadi tiba dari balik p0h0n-p0h0n besar itu. Aku harus mengusut ke sana….”
Si c0w0k mendekati f0rmasi p0h0n-p0h0n besar kemudian mel0mpat di celah k0s0ng antara dua batang p0h0n.
“Dukkkk!”
Pemuda berambut g0ndr0ng itu berteriak keras. Bukan hanya lantaran kesakitan tapi terlebih lagi dan terutama 0leh rasa kejut yang bukan alang-kepalang. Saat itu pula terdengar bunyi tawa cekikikan riuh rendah.
Waktu c0w0k itu tadi melangkah untuk lewat di antara celah dua buah p0h0n , kaki dan kepalanya menabrak sesuatu yang tidak kelihatan hingga tubuhnya terhempas ke belakang.
“Gila! Aku tidak melihat apa-apa. Mengapa langkahku mirip ada yang menghalangi? Apa yang barusan kutabrak?!” kemudian c0w0k ini kembali melangkah maju. Kali ini gerakannya lebih cepat dan lebih sebat.
“Dukkkk!”
Untuk kedua kalinya beliau menabrak sesuatu hingga langkahnya bukan saja tertahan tapi tubuhnya jatuh terjengkang di tanah! Saat itu pula terdengar bunyi tawa cekikikan disertai l0l0ngan anjing di kejauhan.
“Temb0k tanpa ujud!” desisnya dengan mata mel0t0t memandang ke depan.
“Tak bisa kupercaya!” Dia mel0mpat berdiri. Tangan kirinya diulurkan ke depan , menciptakan gerakan meraba dan mengusap. “Aneh! Tak ada apa-apa di sini!” katanya terheran-heran. “Lalu tadi apa yang menahan langkahku? Mengapa saya tidak bisa berjalan ke arah celah p0h0n?” Pemuda ini berpikir sejenak. “C0ba saya melangkah melewati celah yang lainnya….” Lalu beliau melangkah ke delah antara dua p0h0n di sebelah kiri. Tak terjadi apa-apa. “Nah , kali ini saya bisa lewat….” Baru saja beliau berkata begitu tiba-tiba.
“Dukkk…..dukkkk!” kaki kanan dan keningnya lagi-lagi menabrak benda keras yang tidak kelihatan.
“Edan!” maki c0w0k itu. kemudian beliau tersentak 0leh bunyi tawa bergelak , jeritan absurd dan l0l0ngan anjing. “Keparat! Mahluk apapun kalian adanya , apa kau kira saya takut pada kalian!” Pemuda itu kepalkan tangan kanannya kemudian menghantam ke depan.
“Dukkk!”
Jeritan keras keluar dari lisan si pemuda. Tangan kanannya dikibas-kibaskan.
Ketika diperhatikan ternyata ruas-ruas jarinya lecet bahkan ada kulitnya yang terkelupas.
“Tempat celaka apa ini?!” kertak c0w0k itu. Amarahnya menggelegak.
Dalam keadaan mirip itu tanpa pikir panjang lagi beliau kerahkan tenaga dalam. Kini dengan tangan kirinya beliau lepaskan pukulan sakti. Gel0mbang angin laksana angin ribut prahara menghampar deras.
“Bummmmm!”
Pukulan sakti itu melanda sesuatu mengeluarkan bunyi letusan keras. Angin pukulan membalik dahsyat , menghantam 0rang yang melepaskannya. Senjata makan tuan! Tak ampun lagi tubuh c0w0k itu mencelat mental. Terlempar dan tergulingguling hingga bebrapa t0mbak. Untuk beberapa lamanya beliau terkapar di tanah.
Sekujur tubuhnya laksana remuk. Dari hidungnya meleleh darah. Dadanya berdenyut sakit. Perlahan-lahan beliau c0ba berdiri. Saat itu pula terdengar bunyi tawa riuh rendah dan jeritan panjang pendek.
“Iblis! Aku mau lihat hingga di mana kehebatan kalian!” teriak si pemuda.
Tangan kanannya diangkat ke atas. Saat itu juga tampak tangan itu berubah putih dan mengeluarkan sinar perak menyilaukan. “Makan ini! Masakan tidak jeb0l!” berseru si pemuda. Lalu beliau menghantam ke depan. Sinar putih panas dan menyilaukan mata berkiblat. Bersamaan dengan itu si c0w0k mel0mpat ke atas. Hal ini dilakukannya untuk lebih dulu menyelamatkan diri kalau pukulan sakti yang barusan dilepaskannya mirip tadi berbalik kembali menghantam tubuhnya!
“Wuuuttt!”
“Bummmmm!”
“Wuutttt!”
Benar saja. Pukulan sakti yang mengeluarkan hawa sangat panas itu ternyata benar-benar membalik. Kalau saja c0w0k itu tidak mel0mpat ke udara niscaya sinar saktiitu akan menghantam dirinya.
“Wusss! Braaaakkkk!”
Sinar menyilaukan menyambar semak belukat dan beberapa p0h0n di seberang sana. Semak belukar pribadi terbakar sedang batang-batang p0h0n hangus , satu di antaranya r0b0h tumbang.
Si c0w0k melayang turun ke tanah. Wajahnya berubah.
“Aneh…… Benar-benar aneh…. Apa bahwasanya yang ada di depan f0rmasi p0h0n-p0h0n besar itu? Temb0k sakti tak berwujud. Dinding gaib? Mustahil tak bisa dijeb0l! Tak sanggup ditembus! Padahal Bunga yang hendak kuselamatkan saya yakin berada di balik f0rmasi p0h0n-p0h0n itu! Tak bisa kupercaya!”
Pemuda ini usap-usap dagunya. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. “Aku tak akan menyerah! Dengan senjata mustika ini kuliner tak bisa jeb0l!”
Sinar menyilaukan memancar di tempat yang redup itu. sebuah senjata berupa kapak bermata dua tergenggam di tangan si pemuda. Inilah Kapak Maut Naga Geni 212. Milik nenek sakti mandraguna di Gunung Gede yang kemudian diwariskan pada muridnya yaitu Pendekar 212 Wir0 Sableng.
EMPAT
Wir0 pegang Kapak Maut Naga Geni 212 erat-erat. Tahangnya dikatupkan kuatkuat.
“Ciaaattt!”
Didahului dengan teriakan keras Wir0 babatkan senjata mustikanya ke depan.
Sinar putih perak meyambar disertai bunyi laksana seribu taw0n mengamuk. Hawa panas menghampar.
“Braaakkkk!”
Kapak Maut Naga Geni 212 menghantam sebuah benda yang tidak kelihatan.
Terdengar bunyi mirip sesuatu hancur berantakan. Tetapi benda atau apa yang hancur itu sama sekali tidak terlihat 0leh mata. Tanah terasa bergetar. P0h0n-p0h0n berg0yang. Semak belukar berserabutan. Sebaliknya Kapak Maut Naga Geni 212 terlepas mental dari tangan Wir0 , tercampak di tanah. Wir0 mencicipi tangannya mirip memegang bara panas. Jari-jarinya digerak-gerakkan sambil meniup term0ny0ng-m0ny0ng.
“Gila betul! Tapi jeb0l juga akhirnya!” kata Wir0. Senjata mustika yang tercampak di tanah cepat diambilnya kemudian diperiksa. “Untung tak ada yang g0mpal ,”
kata Wit0 lega. Kapak Maut Naga Geni 212 cepat disimpannya di balik pakaian.
“Sekarang niscaya saya bisa masuk ke hutan itu tanpa kesulitan!” berucap Wir0. Dia menciptakan langkah-langkah besar , berjalan ke arah salah satu celah p0h0n di p0t0ngan mana diperkirakannya tadi telah menjeb0l dinding atau temb0k yang tidak berwujud itu.
“Duukkkkkk!”
“Jahanam!” rutuk Pendekar 212. Ternyata dugaannya salah. Temb0k yang tak kelihatan itu sama sekali tidak jeb0l. Kaki dan kepalanya kembali terantuk. Selagi beliau tertegun tiba-tiba bersahabat sekali di depannya terdengar bunyi tawa cekikikan sedang di kejauhan kembali ada bunyi l0l0ngan anjing , panjang menggidikkan.
Pendekar 212 bersurut beberapa langkah. Langkahnya terhenti ketika punggungnya membentur sesuatu. Dia sempat tergagau dan cepat berpaling. Kalau tadi cuma tergagau kini dari mulutnya keluar seruan tertahan. Tampangnya seputih kertas. Apa yang mengakibatkan sang pahlawan hingga berseru dan berubah wajahnya begitu rupa? Apa pula yang barusan telah dibenturnya?
Di hadapan Wir0 ketika itu ada satu s0s0k menyeramkan tegak setengah membungkuk se0lah hendak mel0mpat menerkamnya. S0s0k ini yaitu s0s0k se0rang bau tanah berkepala panjang. Dia hanya mengenakan sehelai kancut. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka bekas siksaan. Darah bergelimang di mana-mana.
Sepasang b0la matanya member0j0l keluar , bergelayutan di atas pipi se0lah hendak c0p0t! Telinganya lancip ke atas. Dagunya berbentuk segitiga. Di atas dagu terlihat satu lisan yang hancur dan selalu mengucurkan darah. Pada lidahnya yang terjulur panjang menancap sep0t0ng besi lancip. Sep0t0ng besi lagi menancap membelintang dari pendengaran kiri ke pendengaran kanan. Pada pangakal lehernya kelihatan l0bang luka besar.
Dari l0bang ini mengucur darah berwarna hitam. Baik tangan maupun kaki mahluk ini diikat dengan rantai besar merah menyala. Agaknya beliau tidak bisa bergerak sedikitpun. Kalau beliau menc0ba menggerakkan tangan dan kakinya maka rantai panas akan melumerkan daging bahkan tulangnya!
Pendekar 212 bersurut beberapa langkah. Sumur hidup belum pernah beliau meliha mahluk mengerikan mirip ini. “Hantu atau apa yang ada di depanku ini…..” pikir Wir0.
“Gr0kkk….gr0kkkk…..gr0kkkkk.” Dari tengg0r0kan mahluk dahsyat itu tibatiba keluar bunyi absurd , hampir seperi bunyi 0rang meng0r0k. Dari l0bang luka di tengg0r0kannya terus mengucur darah hitam.
“Agaknya beliau hendak menyampaikan sesuatu….” Pikir Wir0 dengan tampang mengerenyit memperhatikan.
“Gr0kkk…gr0kkkk….gr0kkk.”
“Ah , betul. Dia hendak bicara tapi suaranya mirip itu. Mana saya bisa mengerti….” Wir0 mundur lagi dua langkah. “Kau…. Kau mau bilang apa…..?” Wir0 ejekan pertanyaan.
Mahluk itu anggukkan kepala. Perlahan sekali. Dua b0la matanya yang bergelantungan tampak berg0yang-g0yang. Darah mengucur dari dua r0ngga matanya.
“Kau….kau penghuni rimba belantara ini?” tanya Wir0 lagi.
Si mahluk mengangguk.
“Kau mengerti 0m0nganku. Kau ini insan atau apa….?”
Kali ini tak ada anggukan. Mahluk itu diam saja.
“Apakah daerah di belakang p0h0n-p0h0n besar itu hutan Tapakhalimun….?” Tanya Wir0 selanjutnya.
Kepala mahluk menyeramkan mengangguk sedikit. Baru saja beliau mengangguk tiba-tiba ada bunyi letupan disertai kepulan asap di depan f0rmasi p0h0n-p0h0n besar.
Lalu dua s0s0k sangat besar muncul. Ternyata yang muncul ini yaitu dua 0rang wanita gemuk luar biasa , berwajah galak , mempunyai pengecap menjulur panjang hingga ke dada. Dua mahluk ini hanya mengenakan cawat. Payudaranya yang besar bergundal-gandil kian kemari. Rambutnya hitam dan panjang sempai ke betis. Wir0 yang memperhatikan tersentak mundur dan merinding. Di celah-celah rambut panjang dua wanita gemuk itu kelihatan bergelantungan ular-ular sepanjang tiga jengkal , berwarna hitam berbelang kuning! Masing-masing mereka memegang sebilah g0l0k merah yang menyala.
“Aku tidak bermimpi! Tapi bagaimana ada mahluk-mahluk mengerikan mirip ini…..”
Dua mahluk wanita itu tiba-tiba keluarkan bunyi pekikan keras. Lalu mereka memburu ke arah mahluk yang tegak terbungkuk dan terikat rantai panas membara tangan serta kakinya dan kini tampak sangat ketakutan. Dua g0l0k diacungkan lurus-lurus diarahkan pada perut mahluk yang terikat tadi.
“Cleeppp!”
“Cleepp!”
“Ceesss!”
“Cesss!”
Tak ampun lagi perut mahluk itu ambr0l di dua tempat. Asap mengepul dari perut yang jeb0l dan dua g0l0k yang membara. Begitu dua g0l0k ditarik isi perut si mahluk laksana dibed0l keluar. Wir0 mirip mau muntah melihat hal luar biasa mengerikan itu. Si mahluk sendiri keluarkan bunyi l0l0ngan absurd sementara dua mahluk wanita tadi kembali memekik-mekik marah. Puluhan ular yang ada di kepala mereka berjingkrak meliuk-liuk seperti iku marah.
Tiba-tiba mahluk berkepala panjang yang terikat rantai membara kaki dan tangannya itu mel0mpat ke depan , berusaha menubrukkan kepalanya pada salah satu mahluk perempuan. Yang hendak ditubruk menjerit keras. G0l0k panas merah menyala di tangannya dibac0kkan ke arah kepala panjang si mahluk.
“Gr0kkkkk!”
Mahluk berkepala panjang itu keluarkan bunyi menggmb0r keras kemudian angkat dua tangannya yang terikat bsei panas untuk melindungi kepala.
“Craassss!”
Dua lengan putus. Dua tangan yang masih dalam keadaan terikat rantai panas jatuh ke tanah.
“Gr0kkkk , , , ,!” mahluk berkepala panjang menggemb0r keras sementara darah mancur dari dua tangannya yang kini buntung.
Salah se0rang dari mahluk wanita tadi cekal leher si kepala panjang kemudian menyeretnya ke arah pep0h0nan. Kawannya tak segera mengikuti tapi memandang ke arah Wir0 Sableng. Karuan saja murid Sint0 Gendeng ini merasa mirip mau lumer sekujur tubuhnya. Dalam takutnya beliau siapkan pukulan sakti “sinar matahari” di tangan kanan. Mahluk wanita yang tadi memandang pada Wir0 keluarkan pekikan , berpaling pada kawannya yang tengah menyeret mahluk lelaki yang isi perutnya manjela-jela hingga ke tanah. Mahluk wanita yang satu ini gelengkan kepalanya. Kawannya yang tegak di hadapan Wir0 tampak kecewa. Tiba-tiba lidahnya yang panjang menjulur bertambah panjang.
“Wuttt!”
Lidah itu melesat ke arah bawah perut Pendekar 212. Wir0 mencicipi selangakangannya mirip disambar api. Tubuhnya terl0njak mental hingga satu t0mbak ke belakang.
“Uhhh….mati aku!” katanya sambil menekap p0t0ngan bawah perutnya.
Di depannya dilihatnya dua mahluk wanita itu melangkah ke f0rmasi p0h0n-p0h0n sambil satunya menyeret mahluk lelaki tadi. Begitu melewati barisan p0h0n keduanya , juga mahluk lelaki yang diseret tiba-tiba lenyap laksana ditelan bumi!
Murid Sint0 Gendeng raba-raba p0t0ngan bawah perutnya yang tadi disentuh pengecap mahluk wanita itu.
“Astaga!” wajahnya jadi pucat. Ikat pinggang celananya dil0nggarkan kemudian beliau mengintip ke bawah. Sang pahlawan menjadi lega. “Masih ada….. Tadi kenapa mirip amblas lenyap….”
Wir0 memandang ke jurusan lenyapnya tiga mahluk menyeramkan tadi.
“Aku melihat mereka melangkah ke arah p0h0n. Lewat di antara dua p0h0n di sebelah sana dan lenyap. Berart bahwasanya tidak ada penghalang apapun di tempat itu.” Berpikir mirip itu murid Sint0 Gendeng kemudian melangkah ke jurusan tiga mahluk tadi berjalan dan lenyap. Satu langkah lagi dari hadapan celah dua buah p0h0n yang hendak dilewatinya tiba-tiba.
“Dukkkk!”
“Setan alas!” maki Pendekar 212 sambil pegangi keningnya sedang kaki kanannya dijingkat-jingkatkan menahan sakit. “Tak bisa ditembus! Kalau begitu mereka tadi yaitu niscaya mahluk-mahluk halus. Berarti tak ada gunanya saya menc0ba masuk! Sampai selesai zaman pun tak akan tembus! Lalu bagaimana dengan Bunga….?”
Wir0 gelengkan kepala dan garuk-garuk keningnya yang masih mendenyut sakit. “Tak ada gunanya saya berlama-lama di tempat ini. Aku harus cepat mencari sumbangan sem0ga bisa menyelamatkan Bunga. Tapi mencari sumbangan pada siapa….?”
Murid Sint0 Gendeng jadi resah dan garuk-garuk kepala lagi sambil memandang berkeliling. Tiba-tiba matanya membentur sesuatu di tanah. Seperti tulisan. Samarsamar dan apa yang tertulis tidak rampung. Dengan susah payah Wir0 c0ba membacanya. Dia harus menglilingi g0resan pena di tanah itu berulang kali sebelum bisa membaca dengan jelas.
“Tulisan absurd ini dibentuk dengan darah. Darah siapa…..?” Wir0 c0ba berpikir.
“Mahluk yang perutnya jeb0l itu. Jangan-jangan dia…. Dia menulis dengan darah yang mengucur dari salah satu tangannya yang buntung. Sebelum selesai tubuhnya sudah keburu diseret ke balik pep0h0nan….”
Wir0 berputar sekali lagi. Kali yang keenam kesannya beliau bisa juga membaca g0resan pena itu.
“Kakek Segal…..”
“Kakek Segal….. Kakek Segal….” Wir0 mengulang-ulang memaca g0resan pena itu di dalam hati. “Astaga! Yang dimaksudnya niscaya Kakek Segala Tahu! Aku t0l0l!
Mengapa saya tidak ingat 0rang bau tanah itu! Kalau tidak diingatkan 0leh mahluk itu….
Aku harus segera pergi. Tidak gampang mencari bau tanah bangka absurd itu. kalau nasibku buruk , satu tahun pun berkeliling tak bakal bisa menemukannya.”
LIMA
Hari pasar di K0t0barang sekali ini bukan main ramainya. Penyebabnya lantaran hari ini se0rang akr0bat ulung akan mempertunjukkan kehebatannya di tengah pasar.
Maka penduduk Kut0barang bahkan mereka yang tinggal jauh di pedalamn tiba berb0nd0ng-b0ngd0ng. Pertunjukkan diadakan di sebuah pedataran yang p0t0ngan teganhnya membentuk bukit kecil. Sejak pagi tempat itu telah dipenuhi 0rang banyak.
Tak lama kemudian akr0bat ulung yang ditungg-tunggu muncul. Ternyata beliau se0rang kakek bungkuk berpakaian c0mpang-camping , k0t0r penuh tambalan. Di bahunya membekal buntalan dekil. Di kepalanya bertengger sebuah caping bambu. Sebuah t0ngkat kayu tergenggam di tangan kanan.
“Sialan! Cuma se0rang jembel! Apa kemampuannya?!” sungut se0rang lelaki yang semenjak pagi berada di situ.
“Tua bangka itu menipu kita! Berjalan saja susah! Masakan beliau pintar main
akr0bat?!” tukas se0rang lainnya.
“Jangan-jangan beliau tiba ke sini hanya mau mengemis! Minta sedekah!
Lihat! Kedua matanya putih! Gila! Dia buta!”
Di antara kekecewaan yang terl0ntar di lisan 0rang banyak ada se0rang berkata mirip membela. “Di beberapa desa sebelumnya saya dengar beliau bisa memperlihatkan akr0bat mengagumkan luar biasa!”
“Uh! Siapa percaya pada pengemis!” sese0rang menyeletuk.
Di tempatnya berdiri , 0rang bau tanah bercaping tegak sambil senyum-senyum.
“Uhhhhh! Lihat beliau cengengesan! Membuat saya muak!” ujar se0rang di pinggir lapangan.
“Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Seek0r m0nyet bau tanah bisa mempertunjukkan apa?!”
“Kau betul kawan. Baru sekali saja beliau meliukkan tubuhnya tulang pinggangnya akan patah!”
Perlahan-lahan 0rang bau tanah di atas bukit kecil membuka capingnya. Begitu caping bambu tanggal dari kepalanya tiba-tiba seek0r burung merpati keluar dari dalam caping , terbang berputar-putar di atas kepalanya beberapa kali kemudian melesat lenyap ke arah Timur.
Kini 0rang banyak jadi terdiam dalam heran. Segala ejek cem00h tidak terdengar lagi. Semua mata memandang pada pengemis buta di atas tanah berbukit. Si kakek sendiri usap-usap kedua tangannya satu sama lain. Lalu beliau mencabut t0ngkat kayu butut yang dikepit di ketiak kiri. Sambil memb0lang-balingkan t0ngkat kayu itu beliau melangkah berputar-putar mengelilingi buntalan kainnya yang terletak di tanah.
Tiba-tiba beliau mengetuk buntalan itu dengan ujung t0ngkat.
Terdengar bunyi denyit keras kemudian seek0r m0nyet c0klat keluar dari dalam buntalan mel0ncat-l0ncat kian kemari. Si kakek acungkan t0ngkat kayunya luruslurus ke atas kemudian jentikkan jari tangan kiri. M0nyet c0klat mel0mpat tinggi kemudian hup!
Cekatan sekali beliau naik dan berdiri di ujung t0ngkat si kakek. Di ujung t0ngkat hewan ini tidak hanya berdiri diam tapi berjingkrak-jingkrak malah mel0mpat jungkir balik beberapa kali. 0rang banyak berseru kagum.
Perlahan-lahan si kakek letakkan t0ngkat di atas capingnya. Lalu beliau melangkah berputar-putar menciptakan gerakan mirip 0rang menari. Di ujung t0ngkat si m0nyet kembali mel0mpat jungkir balik. 0rang banyak bertepuk riuh penuh kagum.
Sayang tak ada tetabuhan. Kalau tidak niscaya pertunjukkan itu lebih semarak.
Setelah membiarkan m0nyetnya mel0mpat-l0mpat beberapa lama si kakek angkat capingnya dengan tangan kanan sedang tangan kiri memegang t0ngkat. Caping kemudian diputar-putar dengan sebat. Dalam keadaan berputar caping bambu ini dilemparkannya ke atas. Lalu beliau bersuit memberi tanda. Mendengar suitan ini m0nyet yang ada di ujung t0ngkat mel0mpat ke atas caping dan ikut berputar.
Sebelum caping melayang turun si kakek cepat menunjang dengan t0ngkatnya kemudian memutar caping itu lebih cepat sehingga caping dan m0nyet di atasnya terlihat mirip bayang-bayang. Perlahan-lahan ujung t0ngkat dipindahkannya ke atas ubun-ubun kepalanya. Sambil mengg0yang-g0yangkan kepala sem0ga caping dan m0nyet terus berputar , 0rang bau tanah itu keluarkan dua tiga biah benda dari balik pakaian r0mbengnya.
Ternyata benda-benda itu yaitu tiga buah b0la terbuat dari r0tan. Sementara kepalanya menjunjung t0ngkat dan di ujung t0ngkat terus berputar caping dan m0nyet , si kakek mulai melambung-lambungkan tiga buah b0la itu. Dilempar , ditangkap kemudian dilempar lagi terus menerus.
“Luar biasa!”
“Hebat!”
“Tidak disangka gembel buta bau tanah itu ternyata memang pintar main akr0bat!”
Berbagai kebanggaan keluar dari lisan 0rang banyak.
Setelah puas dengan pertunjukan itu si 0rang bau tanah mengambil kant0ng kain dan menyandangnya di pundak kiri. Lalu beliau melangkah mendekati sebuah p0h0n bercabang besar yang terletak di tepi lapangan. Waktu memungut buntalan dan berjalan , t0ngkat , caping dan m0nyet masih terus berada di atas kepalanya sementara tiga buah b0la terus dimainkannya dengan cekatan. Begitu hingga di bawah cabang p0h0n besar beliau keluarkan suitan keras. Lalu menciptakan beberapa gerakan berturut-turut secara cepat.
Pertama beliau menyimpan kembali tiga buah b0la r0tan di balik pakaian r0mbengnya. Selanjutnya beliau mel0mpat ke atas kemudian jungkir balik. Di lain kejap beliau tampak bergelantungan pada cabang p0h0n. Kedua kakinya dicantelkan ke dahan kayu , tubuh serta kepalanya tergantung ke bawah tidak beda mirip seek0r kelelawar.
Di ketika yang sama pula beliau ulurkan tangan kiri untuk memegang t0ngkat. Perlahanlahan t0ngkat diturunkannya ke bawah. Caping dan m0nyet yang ada di ujung t0ngkat ikut turun. Lalu dengan kecepatan luar biasa t0ngkat dikepitnya di ketiak kiri , caping dipegang di tangan kanan. Karena tak ada tempat berpijak tentu saja m0nyet yang ada di atas caping jadi jatuh ke bawah. Dengan tangan kirinya si kakek cepat menangkap salah satu tangan hewan itu kemudian dilemparkannya ke atas. M0nyet itu melesat ke udara. Si kakek keluarkan suitan keras. Tubuhnya tiba-tiba bergerak memutari dahan.
Dua kali putaran m0nyet yang dilempar ke atas kembali jatuh. Si kakek cepat menangkap tangan hewan ini kemudian dilempar kembali ke atas. Demikian terjadi berulang-ulang. Makin lama putaran tubuh si kakek semakin cepat dan m0nyet c0klat dilempar semakin tinggi. 0rang banyak sesaat tercekat melihat hal yang luar biasa itu.
sedikit saja meleset dan sikakek tidak sanggup menangkap tangan m0nyet , hewan itu niscaya akan hancur ke tanah.
Pada putaran kedua belas kembali kakek itu keluarkan suitan panjang. M0nyet yang ditangkapnya di tangan kiri dilemparkannya ke udara tinggi-tinggi.
“Hai! Binatang itu lenyap di udara!” teriak sese0rang.
“Jangan-jangan dilempar menembus langit!” seru se0rang lainnya.
Ketika si kakek berhenti berputar-putar di cabang p0h0n dan mel0mpat turun ke tanah , 0rang-0rang banyak segera mendatangi.
“Kek , akr0batmu hebat sekali. Tapi bagaiman dengan m0nyetmu. Binatang itu lenyap mirip ditelan langit!” kata sese0rang diantara kerumunan 0rang banyak.
0rang bau tanah itu tersenyum. “Binatang itu tidak lenyap. Juga tidak ditelan langit ,”
katanya. “M0nyet itu saya kembalikan ke tempat asalnya semula. Ke dalam rimba belantara.”
“Berarti kau tak akan bisa lagi main akr0bat!”
“Mengapa tidak? Aku bisa mencari m0nyet lain atau hewan lain…..
Saudara-saudara pertunjukkanku sudah selesai. Kala ada umur panjang lain waktu saya akan ke Kut0barang lagi. Sekarang jikalau kalian mau berbelas kasihan dan jikalau saya ada sedikit rejeki , saya m0h0n sedekah. Yang sanggup memberi silahkan , yang tidak bisa tidak apa-apa….. Aku hanya minta sekedar pembeli nasi untuk hari ini….”
Lalu pengemis itu turunkan capingnya. Benda ini dibalikannya dan melangkah berkeliling. 0rang banyak memberi sedekah semampu yang bisa mereka berikan. Di antara kerumunan 0rang banyak menyeruak se0rang lelaki tinggi besar berikat kapala dan berpakaian hitam. Mukanya tertutup berew0k. Pada pipi kirinya ada cacat bekas luka yang dalam. Di belakangnya ada tiga 0rang lelaki bermuka sangar , berpakaian serba hitam yang rupanya yaitu kawan-kawan dari lelaki di sebelah depan. 0rang ini mengulurkan tangannya memasukkan sedekah ke dalam caping. Namun yang diletakkannya dalam caping bambu itu bukannya uang melainkan sebuah kerikil sebesar kepalan tangan. Habis meletakkan kerikil itu beliau tertawa gelak-gelak. Tiga kawannya ikut tertawa.
0rang banyak yang ada di tempat itu merasa tidak senang dengan perlakuan sendau gurau kurang asuh itu. namun mereka tidak berani berbuat apa-apa setelah melihat siapa adanya empat 0rang itu. Malah perlahan-lahan 0rang banyak satu demi satu menyingkir dari tempat itu.
Sebaliknya si kakek berpakaian r0mbeng cuma senyum-senyum. “Terima kasih ,” katanya pada lelaki tinggi besar sambil usap-usap kerikil itu. “Kau memperlihatkan sedekah yang tidak ternilai. Tidak sangka rejekiku begini besar hari ini. Sem0ga Tuhan membalas budi baikmu ini. Aku d0akan sem0ga rejekimu berlipat ganda!” si 0rang bau tanah mengambil kerikil itu. dengan tangan kirinya benda itu digenggamnya sesaat kemudian ditimang-timangnya.
Sepasang mata si tinggi besar , juga tiga kawannya dan banyak 0rang yang masih ada di sekitar situ sama-sama membeliak. Yang kini ditimang-timang si pengemis bukannya kerikil melainkan benda kuning berkilauan ditimpa sinar matahari. Emas!
ENAM
Salah se0rang berpakaian hitam yang tak percaya pada apa yang dilihatnya berbisik pada si tinggi besar.
“Ganang! Kau sudah gila memberi emas pada jembel buruk itu?!”
Ganang Cul0 di tinggi besar pel0t0tkan matanya. “Kau yang gila! Masakan saya mau memperlihatkan emas sebesar itu padanya. Lagi pula punya pun tidak! Kau lihat sendiri. Yang kuberikan tadi batu!”
“Lalu bagaimana kini jembel itu memegang seb0ngkah besar emas begitu rupa?!” ujar mitra Ganang Cul0 di sebelah kiri.
“Terima kasih…. Terima kasih ,” kata kakek gembel sambil membungkukkan tubuhnya berulang kali. “Kau baik sekali. Sekarang izinkan saya meninggalkan tempat ini….” Si 0rang bau tanah kemudian masukkan uang yang didapatkannya ke dalam saku besar di samping kiri pakaiannya. Katika beliau hendak memsaukkan emas sebesar kepalan tangan itu , Ganang Cul0 berkata.
“Tunggu dulu!”
“Ada apakah 0rang baik hati?” tanya si kakek.
“Aku salah memberi. Kembalikan emas itu padaku….!”
“Ah , rupanya kau ragu. Bersedekah tidak sepenuh hati ,” kata kakek sambil tersenyum. “Tak jadi apa. Rejekiku rupanya ber0bah. Ini kukembalikan padamu emasnya….” Lalu 0rang bau tanah itu menyerahkan emas sebesar kepalan pada Ganang Cul0. Begitu mendapatkan benda sangat berharga itu Ganang Cul0 memberi aba-aba pada tiga 0rang temannya. Keempat 0rang itu kemudian cepat-cepat tinggalkan lapangan menuju tempat mereka menambatkan kuda.
“0rang bau tanah , 0rang sudah memberi. Mengapa kau menyerahkan emas itu kembali?!” sese0rang bertanya.
Si kakek cuma tertawa. “Emas itu belum ditakdirkan jadi punyaku.
Pemiliknya emminta kembali. Mana mungkin saya men0lak…. Nah saudara-saudara saya minta diri sekarang…”
Kakek gembel kenakan caping bambunya. Lalu terbungkuk-bungkuk beliau tinggalkan tempat itu diikuti pandangan banyak 0rang. Kehebatannya bermain akr0bat kini dibumbui dengan d0ngeng sebuah kerikil yang beruba jadi emas itu dan diserahkan kembali pada Ganang Cul0 , yang mereka ketahui yaitu penjahat kepala ramp0k ganas di daerah Selatan. Tapi apakah si kakek mengetahui siapakah Ganang Cul0 dan kawan-kawannya?
Kita ikuti dulu kemana perginya para penjahat itu. Ganang Cul0 membedal kudanya diikuti tiga 0rang temannya ke arah Tenggara. Di satu tempat salah satu dari tiga 0rang itu rupanya sudah tidak tahan , tiba-tiba berseru.
“Ganang! Kita berhenti dulu! Emas besar harus kita bagi empat!”
Dua temannya mengiyakan tanda setuju. Ganang Cul0 hentikan kudanya , memandang beringas pada ketiga temannya.
“Rupanya kalian tidak percaya padaku? Apa kalian kira saya mau makan sendiri emas ini?!” katanya setengah berteriak. Dari saku pakaian hitamnya dikeluarkannya emas besar itu. kemudian tangan kirinya bergerak mencabut g0l0k besar tanda beliau memang benar-benar siap untuk membagi empat emas besar itu. Tetapi ketika b0ngkahan emas itu keluar dari saku dan diperlihatkan pada tiga 0rang itu , semua mereka termasuk Ganang Cul0 sendiri berseru kaget. Benda yang di dalam genggamannya ternyata bukan emas kuning berkilat melainkan sebuah kerikil besar.
“Eh , apa yang terjadi? Bagaimana emas itu kini berubah lagi menjadi batu?!”
kata Ganang Cul0 hampir berteriak sedang kedua matanya laksana mau mel0mpat dari sarangnya.
Tiga kawannya saling pandang. Salah se0rang dari mereka berkata. “Aku lihat sendiri emas sebesar kepalan itu tadi kau masukkan ke dalam saku pakaianmu.
Adalah absurd kalau emas itu tahu-tahu berubah menjadi batu….”
“Tapi , kalian juga tahu dan melihat. Waktu saya memasukkan sedekah ke dalam caping gembel bau tanah itu , yang kuberikan yaitu sebuah kerikil besar , bukan emas!” tukas Ganang Cul0.
“Memang benar. 0rang bau tanah absurd itu merubahnya jadi emas. Emas itu kau masukkan dalam sakumu , kau bawa hingga ke sini. Lalu tiba-tiba saja emas berubah jadi batu. Jangan-jangan kau tukar dengan kerikil sungguhan. Emas 0risinil kau sembunyikan!”
“Kurang asuh kau Rantana!” kata Ganang Cul0 hampir berteriak marah.
Tangannya bergerak hendak menampar muka kawannya itu. Tapi mitra di sebelahnya cepat memegang tangannya. 0rang ini berjulukan Janger Kawala. Dia yaitu yang paling bau tanah diantara mereka.
“Tak ada gunanya kita bersikeras satu sama lain. Menurutku kakek andal akr0bat itu yaitu se0rang tukang sihir. Dia berani mempermainkan kita. Berani menipu! Kita harus mencarinya. Meramp0k uang hasil pertunjukkan akr0batnya kemudian menghajarnya hingga mampus!”
“Kau betul ,” kata penjahat berjulukan Tumara Akun. “Aku sempat melihat gembel sialan itu pergi ke arah Timur. Dia jalan kaki. Kita niscaya bisa mengejarnya!”
Keempat penjahat itu segera memutar kuda masing-masing kemudian bergerak menuju ke Timur dengan cepat.
***
Kakek berpakaian r0mbeng berjalan se0rang diri sambil memb0langbalingkan t0ngkat kayunya. Agaknya beliau dalam keadaan girang lantaran hari itu banyak sumbangan uang atau sedekah dari penduduk Kut0barang. Saat itu beliau berada jauh di Timur K0ta , melangkah di pinggir pedataran yang banyak ditumbuhi alangalang.
Tiba-tiba di belakangnya terdengar bunyi derap kaki kuda mendatangi. Karena jalan sempit dan beliau tidak mau diterjang kuda maka cepat-cepat 0rang bau tanah ini menepi sambil pegangi pinggiran capingnya , di bawah mana beliau menyimpan seluruh uang l0gam hasil pertunjukan akr0batnya.
“Ini beliau penipu keparat itu!” satu bunyi membentak menggeledek di belakangnya bersamaan degnan berhentinya derap kaki-kaki kuda.
“Tua bangka tukang sihir! Jangan harap kau bisa melarikan diri! Kami akan menghajarmu hingga mati!” bentakan kedua terdengar.
Belum sempat 0rang bau tanah itu berpaling , satu tendangan menghantam pundak kanannya.
“Bukkk!”
Tak ampun lagi 0rang bau tanah itu tersungkur ke tanah. Tapi anehnya capingnya masih melekat di kepalanya , t0ngkat bututnya juga masih tergenggam di tangan kanan. Perlahan-lahan beliau berdiri , menatap pada empat 0rang penunggang kuda berpakaian serba hitam.
“Aneh , meskipun tersungkur tapi bau tanah bangka ini bisa menahan tendanganku! Dia tidak kelihatan cidera. Bahkan kerenyit kesakitan pun tidak tampak di wajahnya yang keriput ,” begitu Rantana berkata dalam hati. Dialah tadi yang menendang gembel bau tanah itu.
“Eh , kalian berempat bukankah gemar memberi yang memperlihatkan saya seb0ngkah emas di Kut0barang , tapi kemudian diambil lagi?” kata pengemis bau tanah itu. “Sekarang kalian muncul lagi. Menendangku! Apa salahku?”
“Tua bangka penipu! Pengemis buta tukang sihir sialan!” hardik Ganang Cul0.
Dari dalam saku pakaian dikeluarkannya sebuah kerikil sebesar kepalan tangan. “Ini emas yang kau berikan itu!” teriaknya dengan mata mendelik. “Kau b0leh ambil kembali!” Lalu Ganang Cul0 lemparkan kerikil itu ke arah si pengemis.
“Plukkk!”
Batu sebesar kepalan mendarat sempurna di dagu 0rang bau tanah itu. Lagi-lagi aneh.
Dagu yang dihantam kerikil tampak merah. Namun si 0rang bau tanah jangankan bergeming , memperlihatkan rasa sakit sedikit sajapun tidak!
“Tua bangka jahanam! Rupanya kau punya ilmu juga hah! Lalu mau jual lagak di hadapanku! Baik! Aku mau lihat hingga di mana kehebatanmu. Kau bisa mer0bah kerikil jadi emas kemudian mengembalikannya jadi batu. Aku juga punya kemampuan mer0bah tubuhmu jadi daging cincang dan p0t0ngan tulang belulang!”
Ganang Cul0 cabut g0l0knya. Sekali l0mpat saja tubuhnya melayang di udara.
G0l0k berkelebat ke arah kepala pengemis tua.
“000 ladalah! Walau sudah bau tanah bangka begini saya masih ingin hidup lama di dunia!” teriak si pengemis bau tanah kemudian tangan kanannya yang memegang t0ngkat bergerak.
Ujung t0ngkat melesat ke arah tubuh g0l0k.
“Treek….”
Walau t0ngkat kayu itu memukul tubuh g0l0k perlahan saja namun Ganang Cul0 merasa se0lah senjatanya dihantam bal0k besar. Tak ampun g0l0k terlepas mental.
Tiga sahabat Ganang Cul0 terkesiap kaget melihat apa yang terjadi. Sebaliknya rasa malu dihajar hanya satu kali gebrakan saja menciptakan dirinya murka sekali. Masih melayang di udara beliau membentak sambil menciptakan gerakan jungkir balik. Tahu-tahu kaki kanannya melesat ke arah rahang kiri kakek berpakaian r0mbeng. Nnemun tendangan itu tak pernah sampai. Ujung t0ngkat di tangan si kakek lebih dulu menyentuh perutnya. Lalu entah bagaimana caranya , entah gerakan apa yang dilakukan 0rang bau tanah ini tubuh Ganang Cul0 kelihatan naik ke atas kemudian berputarputar mirip baling-baling. Makin lama makin kencang. Rasa sakit pada perutnya , gamang 0leh putaran yang cepat ditambah dengan amarah menciptakan GanangCul0 berteriak habis-habisan. Dia berusaha melepaskan pukulan tangan k0s0ng mengandung enaga dalam ke arah si kakek. Tapi selalu luput lantaran tubuhnya terus berputar. Malah beberapa pukulannya hampir mengenai teman-temannya sendiri.
0rang bau tanah bercaping tertawa mengekeh. Tiba-tiba beliau menarik tangannya yang memegang t0ngkat. Untuk seketika tubuh Ganang Cul0 masih melayang berputar di udara. Namun sesaat kemudian tubuh tinggi besar itu ambruk jatuh bergedebuk di tanah.
Ganang Cul0 menjeri kesakitan. Tulang pinggulnya sebelah kiri remuk. Dari mulutnya keluar caci maki. Dia berusaha berdiri tapi rubuh kembali. Akhirnya makiannya ditujukan pada tiga temannya.
“Kalian keparat semua! Tua bangka gila itu memperlakukan saya mirip ini!
kalian cuma berdiri mirip patung!”
“Sret! Sret! Sret!”
Tiga g0l0k besar dicabut. Rantana , Tumara Akun dan Janger Kawala cabut g0l0k masing-masing kemudian mengurung pengemis bercaping. Ketika Rantana dan Tumara Akun siap menyerang , Janger Kawala yaitu penjahat paling bau tanah diantara mereka mengangkat tangannya.
“Tunggu dulu ,” katanya. “Kita bertiga. Membunuh jembel busuk ini semudah membalikkan telapak tangan. Sebelum beliau kita cincang , biar saya menanyakan emas sebesar kepalan itu padanya…..” Janger Kawala maju satu langkah. “Dimana kau sembunyikan emas itu! Lekas keluarkan dan srahkan padaku!”
“Ah , kalian masih saja bicara dan meminta emas itu. Bukankah tadi kawanmu yang mel0ngs0r di sana itu sudah membuangnya dan melemparkannya padaku?”
“C0ba buka capingmu!” hardik Tumara Akun.
Seperti patuh 0rang bau tanah itu buka capingnya.
“Mendekat ke sini! Aku mau lihat apa saja isinya!”
Yang diperintah melangkah mendekati Tumara Akun kemudian mengangsurkan capingnya. Dalam caping bambu ada sebuah kant0ng kain butut.
“Apa isi kant0ng it?!” tanya Tumara Akun.
“Uang sedekah 0rang-0rang di Kut0barang ,” jawab si 0rang tua.
“Kalau begitu serahkan padaku!” sekali rengut saja kant0ng berisi uang l0gam itu berpindah ke tangan si penjahat.
“Mana emasnya?!” tanya Janger Kawala.
“Tak ada padaku…..”
Mata Janger Kawala perhatikan buntalan di pundak si kakek. “Apa isi buntalan itu?!”
“Barang-barang r0ngs0kan. Pakaian r0mbeng…..”
Janger Kawala menyeringai. “Biar saya periksa sendiri!” katanya. Sekali lagi tangan kiri Janger Kawala berkelebat. Buntalan di pundak si kakek berhasil dibet0tnya kemudian dibukanya dengan cepat. Isinya ternyata memang pakaian-pakaian r0mbeng. Lalu ada sebuah kaleng butut yang sudah peny0k-peny0k.
“Apa ini?!” tanya Janger Kawala.
“Kau lihat sendiri. Kaleng butut peny0k…..”
Janger Kawala g0yang-g0yangkan kaleng itu beberapa kali. Suara berisik berker0ntang memenuhi tempat itu.
“Eh , apa isi kaleng ini?!” tanya Rantana saling pandang dengan Janger kawala.
Si kakek tertawa perlahan. “Kalian niscaya menyangka saya menyembunyikan p0t0ngan-p0t0ngan emas dalam kaleng ini. kalau mau tahu kaleng ini isinya batu-batu kerikil…..”
Rantana berpikir , “Kalau cuma batu-batu kerikil buat apa bau tanah bangka gila ini memasukkannya ke dalam kaleng. Dia berdusta. Aku harus memb0ngkar kaleng ini!”
Namun maksud Rantana itu urung lantaran ketika itu Janger Kawala berkata.
“Tumara , Rantana! Geledah bau tanah bangka penipu ini!”
“Eh , kalian ini mau apa? Jangan pegang. Aku ini penggeli!” kata si kakek seraya melangkah mundur begitu Tumara Akun dan Rantana bergerak mendekatinya.
“Kalau beliau tak mau digeledah berari emas itu memang ada padanya. Di sembunyikan di salah satu p0t0ngan pakaiannya!” Yang berkata yaitu Ganang Cul0 yang ketika itu mash tergeletak di tanah. “Buat apa bersusah payah! Bereskan saja dia.
Habis perkara!”
“Ganang Cul0 betul! Saatnya kita mencincang bajingan tengik bau tanah bangka ini!” kata Rantana yang rupanya sudah habis kesabaran. Lalu beliau mel0mpat mendahului dua kawannya. G0l0k di tangannya dipancungkan ke arah bat0k kepala si kakek.
“Celaka! Kalian hendak menjagalku!” teriak pengemis tua. Cepat beliau mengenakan capingnya kembali. Tangan kirinya bergerak menyambar kaleng peny0k di dalam buntalan. Tangan itu berg0yang. Batu-batu kerikil di dalamnya memukul tubuh kaleng. Terdengar bunyi berker0ntang yang menyengat pendengaran , menciptakan tiga penyerang bahkan Ganang Cul0 yang berada labih jauh merasa sakit dan bergetar gendang-gendang pendengaran masing-masing.
Sebenarnya apa yang telah dilakukan gembel bau tanah itu terhadap Ganang Cul0 cukup menciptakan Janger Kawala dan dua kawannya sadar bahwa mereka tengah menantang gunung di depan mata. Namun amarah merasa ditipu dan dipermainkan serta keserakahan hendak mendapatkan emas sebesar kepalan itu kembali menciptakan mereka mirip buta. G0l0k Rantana menderu keras. Menyusul g0l0k Janger Kawala dan Tumara Akun. Ganang Cul0 menyeringai di kejauhan. Sesaat lagi tubuh pengemis itu akan lumat dicincang g0l0k tiga kawannya.
0rang bau tanah yang diserang sekali lagi ker0ntangkan kalengnya. T0ngkat kayu butut di tangan kanannya melesat menciptakan alur setengah lingkaran. Saat itulah tibatiba terdengar bunyi seruan.
“Kakek Segala Tahu! Serahkan tiga ek0r tikus hutan ini padaku!”
Satu bayangan putih berkelebat. Lalu “Plaakk! Buuukkk! Duukkkk!”
TUJUH
Janger Kawala meraung kesakitan. Tiga giginya tanggal. Darah bercucuran dari mulutnya. G0l0knya mental entah kemana. Di sebelahnya Tumara Akun terjengkang jatuh duduk di tanah. Tulang dadanya remuk. Dalam keadaan megap-megap sulit bernafas kesannya beliau r0b0h terguling. Dari mulutnya keluar darah kental. Rantana yang paling parah. Mata kirinya hancur. Darah membasahi sebagian mukanya. Suara jeritannya mirip mau menembus langit!
Di antara raung kesakitan itu pengemis berpakaian r0mbeng tertawa mengekeh. Lalu beliau berucap. “Anak sableng! Untung kau tiba hingga si bau tanah bangka ini tak perlu susah-payah!”
Pemuda berambut g0ndr0ng , berpakaian putih yang bukan lain yaitu Pendekar 212 Wir0 Sableng dan yang barusan menghajar tiga penjahat itu membungkuk memberi h0rmat.
“Kek , syukur saya bisa menemuimu! Kalau tidak ketemu entah bagaimana jadinya?!”
“Bah! Rupanya kau tiba membawa perkara! Bukan khusus muncul men0l0ngku!” 0rang bau tanah yang dipanggil dengan sebutan Kakek Segala Tahu itu merengut. “Perkaramu bisa dibicarakan nanti. C0ba kau urus dulu penjahat buruk yang satu itu. Kudengar beliau hendak merayap kabur!”
Yang dimaksud Kakek Segala Tahu yaitu Ganang Cul0. Sungguh luar biasa pendengarannya hingga merupakan sepasang mata yang tak kalah tajamnya dengan mata biasa. Penjahat itu benar-benar putus nyalinya melihat apa yang terjadi dengan tiga 0rang temannya. Meski ketika itu tulang pinggulnya sebelah kiri remuk dan sakit bukan kepalang namun rasa takut menerima hajaran lagi menciptakan penjahat ini kumpulkan tenaga untuk bisa bangun kemudian melarikan diri. Tapi usahanya sia-sia saja.
Dia hanya bisa merayap. Ketika menc0ba berdiri tubuhnya ambruk. Saat itu justru Pendekar 212 Wir0 Sableng hingga di hadapannya.
“Jangan….. Jangan…..” bunyi Ganang Cul0 setengah meratap.
“Kek , kau mau saya apakan kampret ini?” tanya Wir0.
“Ampun! Jangan!” jerit Ganang Cul0.
Kakek Segala Tau ker0ntangkan kaleng r0mbengnya. Lalu berkata “Selama ini , kampret itu gentayangan melaksanakan kejahatan di mana-mana. Dari tubuhnya yang paling banyak berbuat jahat yaitu tangan kanannya. Kurasa ada baiknya kalau kau patahkan jari-jari tangan kanannya barang beberapa buah!”
“Aku berdasarkan saja apa yang kau perintahkan Kek ,” jawab Wir0.
“T0bat! Ampun! Jangan patahkan tanganku!” teriak Ganang Cul0 Wir0 melangkah mendekat. “Kurasa itu eksekusi paling ringan bagimu kampret! Masih untung beliau tidak meminta saya mematahkan batang leher jalan nafasmu!”
“Aku benar-benar bert0bat!” teriak Ganang Cul0.
“Ah , s0al t0bat-t0batan itu urusanmu dengan Tuhan! Aku tidak menampung urusan t0bat-t0batan!” kata Pendekar 212 pula. Lalu beliau membungkuk menyambar tangan kanan Ganang Cul0. Penjahat ini cepat tarik lengannya. Namun ketika itu Wir0 sudah meremas telapak tangan kanannya. “Kraakkk….. kraakkkk….. kraakkkk….!”
Tiga jari tangan kanan Ganang Cul0 dan juga sebagian tulang telapak tangannya remuk. Penjahat ini mel0l0ng setinggi langit kemudian bergulingan di tanah.
Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kaleng r0mbengnya kemudian tertawa mengekeh.
T0ngkat kayu di b0lang-baling. Dia melangkah mendekati Janger Kawala.
“Setttt!” ujung t0ngkat si kakek melesat ke arah leher pakaian penjahat yang tiga giginya r0nt0k itu. terjadilah satu hal luar biasa ketika Kakek Segala Tahu menyentakkan t0ngkat. Tubuh Janger Kawala melayang ke udara , jatuh sempurna di atas tubuh Ganang Cul0 uang ketika itu masih menjerit-jerit kesakitan. Si kakek kemudian melangkah ke arah Tumara Akun. 0rang yang dadanya remuk ini dan mengeluarkan darah dari lisan berusaha menghindar sewaktu dilihatnya kakek bercaping itu mendatangi. Namun terlambat. Ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu sudah menyambar leher pakaiannya. Tubuhnya terangkat ke atas. Dia c0ba memukul t0ngkat dengan tangan kiri. Berhasil.
“Bukkk!” Tapi justru dari mulutnya keluar jerit kesakitan. Darah ikut muncrat.
Dia mirip memukul besi , bukan t0ngkat kayu. Sebelum beliau bisa berbuat yang lain , tubuhnya tahu-tahu sudah terlempar ke udara. Seperti Janger Kawala tadi , Tumara Akun pun jatuh menimpa tubuh Ganang Cul0 hingga ketiganya saling tumpang tindih.
Lain halnya dengan Rantana yang mata kirinya hancur dan masih terus mengucurkan darah. Dalam keadaan mengerang penjahat satu ini hanya pasrah saja melihat apa yang akan dilakukan 0leh si kakek. Ujung t0ngkat melesat. Rantana mencicipi tubuhnya terangkat kemudian mirip dilempar dirinya melesat ke udara. Dia berusaha berjungkir balik untuk menghindarkan jatuh menimpa tiga kawannya yang tumpang tindih babak belur. Tapi gagal. Dia jatuh lebih dulu dengan kepala menghantam dagu Tumara hingga tak ampun lagi Tumara Akun terl0njak kesakitan kemudian diam tak berkutik , pingsan!
Sambil memb0lang-balingkan t0ngkat dan meng0yang-g0yangkan kaleng r0mbengnya Kakek Segala Tahu membalikkan tubuh ke arah Wir0.
“Ay0 kita pergi dari sini. Empat kampret itu sudah cukup mendapatkan pelajaran.
Kalau mereka masih meneruskan hidup sebagai penjahat , lain kali bertemu niscaya akan kulipat jalan nafasnya!” Si kakek ambil kant0ng uang dan buntalan miliknya yang tercampak di tanah.
Pendekar 212 segera mengikuti Kakek Segala Tahu. T0ngkat dan sepasang telinganya menjadi pengganti matanya. Di satu tempat , lantaran tidak tahan lagi dan ingin cepat-cepat bicara , c0w0k itu berkata.
“Kek , ada satu hal penting yang saya ingin minta bantuanmu.”
“Heeemmmm….” Si kakek menjawab dengan gumaman kemudian ker0ntangkan kalengnya dan terus saja berjalan.
Walau hati kecilnya kecewa melihat perilaku si kakek namun lantaran maklum kalau 0rang bau tanah itu memang sering bersikap absurd maka beliau hanya bisa diam dan terus mengikuti.
Di sebuah tikungan jalan di mana terdapat satu kerikil besar Kakek Segala Tahu hentikan langkahnya kemudian duduk di atas kerikil itu. Sesaat beliau memandang pada c0w0k di hadapannya itu , ker0ntangkan kalengnya beberapa kali kemudian berkata. “Beberapa 0rang t0k0h persilatan dikabarkan menghilang secara absurd tanpa diketahui ke mana perginya. Apakah hal penting yang hendak kau katakan itu ada sangkut pautnya dengan diri mereka?”
“Aku kurang mengetahui mengenai menghilangnya t0k0h-t0k0h silat itu. Saat ini saya butuh pert0l0nganmu. Se0rang sahabatku terancam keselamatannya. Dia disekap dan disiksa di alam gaib. Alam siluman. Aku berhasil mengetahui letak daerah mistik itu. Di kaki Selatan Gunung Merapi. Di satu rimba belantara berjulukan Tapakhalimun…..”
Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kalengnya kemudian berkata. “Sahabatmu yang kau katakan itu niscaya se0rang wanita cantik….”
“Bagaimana kau tahu Kek?” tanya Wir0.
0rang bau tanah itu menyeringai dan buka capingnya. “Pemuda sepertimu , kalau bukan urusan wanita manis mana mungkin kau mau mencari urusan. Mencariku segala…..! Siapa nama si manis itu?”
Murid Sint0 Gendeng garuk-garuk kepalanya. “Namanya Suci. Aku biasa memanggilnya Bunga. Dia disekap di daerah siluman hutan Tapakhalimun.”
“Bagaimana kau bisa tahu beliau disekap. Di hutan Tapakhalimun?”
“Mula-mula saya menerima petunjuk dari mimpi….”
“Mimpi? Itu petunjuk gila. Bisa betul bisa menipu!”
“Tapi Kek , kemudian saya c0ba memanggilnya dari alam gaib….”
“Pendekar 212 , saya gres tahu kalau kau punya ilmu baru. Pandai memanggil 0rang dari alam gaib. Lalu apakah sahabatmu itu sebangsa dedemit atau hantu kuburan?!” tanya Kakek Segala Tahu sambil ker0ntangkan kalengnya.
“Sebaiknya saya ceritakan saja padamu asal-usul saya mengenal Bunga ,” kata Wir0 pula. Lalu diceritakannya semua kejadian di masa kemudian yang telah dialaminya.
“Kau tidak berdusta….?” Tanya Kakek Segala Tahu begitu Wir0 mengakhiri kisahnya.
Murid Sint0 Gendeng menggeleng. “Aku tidak berdusta. Juga tidak bergurau.
Aku tidak main-main Kek. Keselamatan gadis itu terancam….”
Kakek buta itu balas gelengkan kepala. “Men0l0ng 0rang yang sudah mati dari kematian…. Benar-benar tak bisa dipercaya. Sudah jadi apa dunia ini sebenarnya? Kalau tidak mendengar dari mulutmu sendiri , sulit saya bisa percaya!”
“Kau punya ilmu. Punya kesaktian untuk melihat segala sesuatu. Itu sebabnya kau digelari Kakek Segala Tahu….”
0rang bau tanah itu tertawa mengekeh. “Yang namanya insan itu bagaimanapun tinggi ilmu selalu ada keterbatasan. Ingat hal itu Wir0! Mengenai hutan Tapakhalimun itu memang sudah lama saya dengar keangkerannya. Kata 0rang dulu di situ ada satu kerajaan kecil yang makmur. Rajanya tersesat dalam ilmu-ilmu mistik mengerikan. Seisi istana dan semua 0rang di kerajaan berubah menjadi siluman.
Rupanya mereka masih berc0k0l di sana….”
“Lalu yang saya tidak mengerti , mengapa siluman-siluman hutan Tapakhalimun itu menculik Bunga dari alam gaibnya. Menyekap dan menyiksanya…. Kita harus men0l0ng beliau Kek!”
“Men0l0ng 0rang yang sudah mati dan gentayangan di alam gaib. Jangan kau murka kalau kukatakan bahwasanya gadis itu juga sudah jadi siluman. Bedanya beliau siluman baik-baik dan manis hingga kau mau menyabung jiwa untuk menyelamatkannya…..”
“Terserah kau mau menyebutnya siluman , hantu atau apa! Yang penting beliau harus diselamatkan….”
Kakek Segala Tahu menghela nafas panjang. Dia mend0ngak. Matanya yang putih buta menatap langit. Lalu kaleng di tangan kirinya diker0ntangkannya beberapa kali.
“Katamu kau bisa memanggilnya melalui bunga kenanga itu. c0balah saya ingin melihat….”
Dalam hati Pendekar 212 menggerutu. “Kedua matanya jelas-jelas buta. Apa yang bisa dilihatnya?”
Namun untuk lumayan 0rang bau tanah itu Wir0 keluarkan juga bunga kenanga pemberian Suci dari dalam saku bajunya. Sambil memejamkan mata bunga itu diletakkannya di depan hidung kemudian diciumnya dalam-dalam. Hawa segar dan harum menyeruak masuk kedalam tubuhnya. Tak segera terjadi apa-apa. Wir0 menunggu. Tetap saja tidak ada gejala Bunga akan muncul.
“Mungkin jarak dari sini ke hutan Tapakhalimun itu terlalu jauh Kek. Aku tak bisa menghubunginya….” Kata Wir0.
“C0ba sekali lagi ,” ujar Kakek Segala Tahu seaya memegang pundak Wir0.
Pemuda itu mencicipi ada satu hawa absurd masuk ke dalam tubuhnya yang dipegang.
Dia maklun kalau si kakek kini menyalurkan kekuatan saktinya ke dalam dirinya untuk membantu memberi kekautan. Wir0 dekatkan lagi bunga kenanga itu ke hidungnya dan menghirup dalam-dalam. Sunyi. Tak ada bunyi tak ada bayangan yang muncul. Namun sesaat kemudian terdengar bunyi l0l0ngan anjing di kejauhan disertai jeritan-jeritan mengerikan. Setelah itu kurang jelas nampak satu s0s0k berpakaian putih muncul dalam keadaan terikat pada sebuah t0nggak kayu.
“Bunga…..” bisik Wir0 memperhatikan. Keadaan gadis itu tidak beda seperti
yang dilihatnya sebelumnya. Pakaiannya putih penuh darah begitu juga wajahnya. Kedua matanya terpejam. Di kiri kanan dua mahluk menyeramkan mirip asap , meliuk-liuk menjaga. Tiba-tiba Bunga membuka kedua matanya. Dari mulutnya keluar jeritan menggidikkan. Suara jeritan itu menggema laksana menggelegar dalam juran kerikil yang dalam. Bersamaan dengan lenyapnya gema jeritan , sirna pula s0s0k tubuh Bunga dan dua mahluk menyeramkan itu.
Wir0 simpan kembali bunga kenanga dalam saku bajunya. Dia berpaling pada Kakek Segala Tahu dan bertanya. “Apa yang kau lihat Kek?”
0rang bau tanah itu mend0ngak. “Aku memang tidak melihat apa-apa. Tapi saya bisa mendengar dan merasakan. Bencana yang menimpa sahabatmu itu memang luar biasa.
Jika mahluk yang berasal dari alam lain tidak bisa melawan kekuatan hitam itu , apalagi kita insan biasa!”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?’ tanya Wir0.
Kakek Segala Tahu mend0ngak dan ker0ntangkan kalengnya. “Kita harus segera meninggalkan tempat ini. di tengah jalan siapa tahu saya bisa mendapatkan petunjuk.”
“Kita harus mencari kuda. Sebelum sanggup biar kau kugend0ng dulu!” kata Wir0 yang sudah tidak sabaran. Lalu cepat saja si kakek didukungnya di belakang punggung , terus lari ke arah Timur.
“Eh , kau ini mau membawa saya ke mana?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Ke mana lagi kalau bukan ke hutan Tapakhalimun?!” sahut Wir0.
“Percuma ke sana. Kau sudah c0ba menembus tabir alam siluman itu. Tak berhasil. Aku pun rasa-rasanya tidak sanggup.”
“Celaka kalau begitu!” ujar Wir0 seraya hentikan langkahnya. Si kakek diturunkannya dari punggungnya. Nafasnya memburu dan dadanya turun naik.
“Jangan lekas frustasi anak muda ,” kata 0rang bau tanah itu sambil ker0ntangkan kalengnya. “Di dunia ini segala urusan ada jawabannya. Hanya untuk mencari balasan itu insan harus memutar 0tak. Beberapa waktu kemudian saya menyirap kabar ada t0k0h-t0k0h persilatan tengah mengejar s0rang sakti berjulukan Keb0 Pradah…..”
“Aku tidak tertarik mendengar ceritamu. Apa hubungan kejadian yang tengah kualami dengan Keb0 atau Sapi Pradah itu?!”
Si kakek tertawa bergelak. “Sudah kubilang segala urusan bisa diselesaikanjika insan mau memutar 0tak mempergunakan akal. Jangan seradakseruduk tak tahu juntrungan mirip yang sudah kau lakukan. Keb0 Pradah bukan 0rang sembarangan. Jika para t0k0h memburunya berarti ada satu urusan luar biasa yang tengah mereka hadapi. Kabar yang saya sirap menyampaikan para t0k0h itu mengejar Keb0 Pradah sehubungan dengan lenyapnya beberapa t0k0h silat secara aneh. Siapa-siapa yang lenyap masih belum diketahui dengan jelas. Si Keb0 Pradah ini mempunyai tugas penentu. Kabarnya beliau satu-satunya insan yang punya kekuatan untuk menyingkap tabir mistik dan untuk sanggup menembus ke dalam daerah alam siluman di hutan Tapakhalimun itu…… Tanpa beliau duduk masalah ini tak akan terpecahkan….”
“Kalau memang begitu masalahnya di mana kita bisa mencari Keb0 Pradah?”
“Itu sulitnya. Karena beliau diburu-buru dengan sendirinya beliau selalu kabur menyembunyikan diri. Terakhir saya dengar beliau berada di sebuah hutan kecil di Barat Gunung Merbabu. Kalau saja kita tidak kedahuluan 0leh para t0k0h itu mungkin kita bisa minta bantuannya….”
Wir0 mel0mpat. Mendukung Kakek Segala Tahu di punggungnya kemudian lari sekencang-kencangnya.
“Eh , ke mana tujuan kita kali ini?!” tanya Kakek Segala Tahu.
“Apa perlu kau tanyakan lagi Kek? Sudah niscaya ke daerah di Barat Gunung Merbabu!” jawab Wir0.
“Ah! terserah kaulah! Aku hanya memb0nceng di punggungmu!” kata Kakek Segala Tahu pula kemudian ker0ntangkan kaleng r0mbengnya.
DELAPAN
0rang yang berdiri di depan Keb0 Pradah yaitu se0rang wanita separuh baya bertubuh tinggi. Wajahnya bahwasanya manis namun jadi tampak lucu lantaran dandanannya yang tebal. Bibir dan pipinya merah menc0r0ng. Alisnya hitam panjang dengan kedua ujung mencuat ke atas. Sepasang matanya mempunyai pandangan taja dingin. Walaupun kepekatan malam membungkus tempat itu namun lantaran berhadapan begitu bersahabat Keb0 Pradah sanggup melihat seluruh s0s0k 0rang ini dengan jelas.
Perempuan ini mengenakan jubah berbentuk aneh. Bagian dadanya sangat ketat berp0t0ngan rendah sehingga lebih dari separuh payudaranya menyembul besar keluar. Di bawah pinggangnya yang sangat ramping jubah berbunga-bunga itu menggembung besar mirip ada ganjalannya. Di belakang rambutnya yang dik0nde tinggi ada tujuh helai bulu burung merak warna-warni yang dijadikan hiasan mirip sebarisan tusuk k0nde.
Untuk sesaat lamanya Keb0 Pradah tak bisa berkata apa-apa , hanya tegak memandang denan lisan terkancing.
“Keb0 Pradah , kau diam lantaran kaget tak menyangka pertemuan ini atau terpes0na melihat buah dadaku yang besar?’
Paras Keb0 Pradah kelihatan merah padam.
Perempuan manis berdandan men0r dan punya bunyi merdu itu tertawa panjang kemudian melanjutkan ucapannya. “Dulu kau pernah bersenang-senang menikmati keindahan bauh dadaku. Tapi setelah kau puas kau kabur begitu saja. Sekarang apakah kau masih ingin mengelus dan menciumnya?!”
“Dewi Merak Bungsu….”
“Ah , itu gelaranku. Kau biasanya memanggil nama asliku. Kuntini Arimurti.
Kenapa kini kau tidak memanggilku denagn nama asli?’
“Kuntini , terus terang tentu saja saya gembira dengan pertemuan ini….”
“Kalau begitu kita bisa bersenang-senang lagi mirip dulu? Mandi berdua di danau Rawapening , bercanda di atas tanjang atau bergurau di pedataran di bawah bulan purnama?”
“Kuntini , apa yang terjadi di masa kemudian untuk apa diungkit lagi. Kita tak berj0d0h jadi suami istri. Umur kita terpaut jauh. Hampir dua puluh tahun…..”
“Alangkah enaknya kau bicara mirip itu. Untung saja hubungan gila itu tidak membuatku hamil. Kalau hingga saya melahirkan anak , kau akan kubunuh di hadapan bayimu sendiri!”
Keb0 Pradah terdiam. Dewi Merak Bungsu alias Kuntini Arimurti terus menatap 0rang itu dengan pandangan lekat hirau taacuh tak berkedip.
“Aku kasihan meihat keadaan dirimu Keb0 Pradah , kau kabur kian kemari.
Sembunyi di sana-sini. Menyamar jadi resi , jadi petani. Sekarang kulihat kau menyamar jadi se0rang pengemis. Apa enaknya hidup mirip itu?”
“S0al yummy atau tidak biar saya yang menanggung sendiri. Aku berbuat mirip ini bukan kau menghindar atau menc0ba sembunyi darimu. Tapi lantaran dikejar-kejar 0leh t0k0h-t0k0h silat dengan alasan gila tak masuk akal!”
“0hhh , begitu rupanya…..” kata Dewi Merak Bungsu sambil sunnggingkan senyum sinis.
“Lalu apakah kemunculanmu untuk menghukum perbuatanku di masa lalu?” tanya Keb0 Pradah.
“S0al aturan menghukum biar kita serahkan pada yang Kuasa. Bukan saya , kelak bakal ada 0rang lain yang menghukummu. Kalaupun tidak ada yang menghukummu di dunia ini , Gusti Allah akan menghukummu di akhirat. Lagi pula kedatanganku ke sini bukan mengungkit masa lalu. Aku buka anak kecil atau se0rang pengemis yang minta belas kasihanmu. Aku perlu pert0l0nganmu. Hanya dengan memberi pert0l0ngan padaku kau bisa menebus d0sa di masa lalu.”
“Ah , beliau masih pintar bicara mirip dulu. 0taknya cerdik se0lah ada sepuluh 0tak dalam kepalanya ,” kata Keb0 Pradah dalam hati.
“Pert0l0ngan apa yang hendak kau harapkan dariku. Katakan cepat lantaran saya tak ada waktu lama…..”
“Kenapa terburu-buru Keb0 Pradah. Takut akan muncul lagi 0rang-0rang pandai? Saat ini hanya kita berdua di sini. Tak usah kawatir. Yang saya inginkan ialah sem0ga kau membantu saya membuka tabir Pintu Neraka di hutan Tapakhalimun…..”
“Ternyata maksud kedatanganmu tidak beda dengan 0rang-0rang yang lebih dulu muncul di tempat ini!”
“0h , begitu?” ujar Dewi Merak Bungsu sambil menyeringai dan memandang berkeliling. “Hemmmmmm Pasti kau men0lak ajakan mereka kemudian membunuh mereka. Memang banyak kulihat yang sudah jadi k0rbanmu. Dua bersaudara Cengkir Lesmana. Lalu ada bau tanah bangka berpunuk. Kemudian satu lagi si Pengail Sakti Muka Kuning. Mereka bukan 0rang-0rang sembarangan. Jika kau bisa membunuh mereka dengan gampang berarti kepandaianmu sudah jauh meningkat….”
“Terserah kau mau menilainya bagaimana. Yang terang saya tidak mau bentr0kan denganmu. Itu saja….”
“Bagus. Baik sekali hatimu. Berarti kau akan meluluskan permintaanku minta t0l0ng tadi….”
“Aku tidak mau mendengar urusan gila itu lagi. Aku tak akan men0l0ngmu atau siapapun!”
“Ah , kalau begitu lain ucapan lain kenyataan!” tukas Dewi Merak Bungsu.
“Kita habisi pembicaraan hingga di sini Kuntini. Lain kesempatan jikalau bertemu lagi kita bisa bicara panjang lebar…. Sebentar lagi pagi akan datang.”
“Tunggu dulu Keb0 Pradah!” kata Dewi Merak Bungsu. Ketika melihat Keb0 Pradah hendak meninggalkan tempat itu. “Bagiku kesempatan hanya ada satu kali.
Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Kuharap kau juga berbuat sama….?”
“Lalu maumu apa?” Keb0 Pradah kelihatan mulai jengkel. Kentara dari nada suaranya.
“Ikut saya ke hutan Tapakhalimun!”
“Kalau saya tidak mau?!”
Dewi Merak Bungsu tertawa panjang hingga buah dadanya yang menyembul besar kelihatan berg0yang-g0yang menciptakan Keb0 Pradah sesaat jadi menahan nafas.
“Kalau kau tidak mau apa dayaku….” Kata Dewi Merak Bungsu pula se0lah0lah pasrah menciptakan Keb0 Pradah menjadi lega. Tapi cuma sesaat lantaran dilain ketika wanita itu meneruskan ucapannya. “Dirimu sangat berharga Keb0 Pradah.
Sehingga s0s0kmu tanpa nyawapun masih bisa menyingkap tabir mistik alam siluman di kaki Gunung Merapi itu. Kaprik0rnus terserah padamu. Mau pergi ke sana hiduphidup atau dalam keadaan jadi mayat!”
Rahang Keb0 Pradah menggembung. Tampangnya membesi. Dalam hati 0rang ini berkata. “Jelas beliau bukan lawanku. Dulu saja ilmunya hampir dua tingkat di atasku. Dia tidak membunuhku di masa kemudian lantaran mencintaiku dan berharap bisa kuambil jadi istri. Tapi kini keadaan sudah berubah. Sebaiknya saya berpura-pura ikut saja. Kalau beliau lengah kuhabisi dirinya!”
“Baiklah Kuntini. Aku bersedia ikut bersamamu ke hutan Tapakhalimun. Tapi sehabis tabir itu tersingkap kita berpisah. Tak ada lagi urusan di antara kita….”
“Terima kasih kau mau men0l0ng. Hanya saja tiba-tiba saja kau berubah pikiran. Membuatku jadi curiga. Karenanya saya terpaksa merubah rencana. Aku terpaksa membunuhmu. Tubuh hidupmu dengan mayatmu sama saja artinya!
Mengapa saya susah-susah harus mempercayaimu?!”
“Rupanya beliau sanggup membaca jalan pikiranku!” membatin Keb0 Pradah. Lalu beliau berkata.
“Kau memang wanita culas! Bukan cuma culas! Tapi juga bangsat!”
teriak Keb0 Pradah marah. “Kau mungkin bisa membunuhku! Tapi saya bersumpah untuk menciptakan dirimu cacat seumur hidup!” teriak Keb0 Pradah lagi. Lalu dari balik pakaiannya dikeluarkan sebuah tabung bambu. Ketika tabung itu dibuka terdengar letupan kecil disertai kepulan asap biru kelabu.
“Cairan pengerut tubuh!” seru Dewi Merak Bungsu terkejut.
Keb0 Pradah mengekeh. “Kau mau bunuh saya silahkan! Tapi wajah dan tubuhmu akan kubuat cacat! Akan kubuat mengkerut hingga setanpun akan takut malihat dirimu!”
Habis berkata begitu Keb0 Pradah gerakkan tangannya yang memegang tabung bambu. Sejenis cairan yang disertai semburan asap muncrat ke luar ke arah tubuh Dewi Merak Bungsu. Perempuan ini menjerit keras kerakutan dan cepat mel0mpat muncur ke belakang serumpunan semak belukar.
Untungnya semak belukar itu diselingi 0leh tetumbuhan berdaun lebar. Kalau tidak beberapa p0t0ngan dari tanagn dan tubuh Dewi Merak Bungsu akan tersiram cairan dahsyat itu. daun-daun yang terkena siraman cairan dahsyat itu. daun-daun yang terkena siraman cairan itu tampak mengepulkan asap dan berl0bang besar. Paras Dewi Merak Bungsu tampak pucat pasi. Di seberang sana dilihatnya Keb0 Pradah tengah memperhatikan tabung bambunya. Lalu terdengar beliau memaki “Setan! Isinya Habis!”
Dewi Merak Bungsu melihat ini kesempatan paling sempurna untuk keluar dari balik semak belukar pribadi menyerang Keb0 Pradah. Maka tanpa pikir panjang lagi beliau segera mel0mpat dari balik semak belukar , menggebrak Keb0 Pradah dengan satu j0t0san keras di p0t0ngan kepala 0rang itu.
Keb0 Pradah tiba-tiba tertawa mengekeh. “Perempuan culas! Kau tertipu!
Tamat riwayatmu sekarang!” Keb0 Pradah angkat tabung bambu tinggi-tinggi.
Ternyata dalam tabung itu masih terdapat banyak cairan dahsayat pengerut tubuh.
“Seerrrrr. Seerrrrr. Seerrrrr!”
Cairan ganas itu muncrat keluar. Dewi Merak Bungsu terpekik. Dia sama sekali tidak menyangka. Saat itu tak ada kesempatan untuk mengelak. Kalaupun beliau bisa menghindar tetap saja sebagian wajah dan pundak kirinya akan kena tersiram cairan!
Pada ketika yang genting itu tiba-tiba dari balik sebatang p0h0n besar menderu sambaran angin sedahsyat t0pan. Dewi Merak Bungsu terpelanting ke kiri dan jatuh ke tanah. Beberapa tetes cairan pengerut lewat di atas kepalanya. Di sebelah sana Keb0 Pradah berseru kaget ketika air pengerut yang disiramkannya ke arah Kuntini tiba-tiba membalik menghantam dirinya. Sebelum beliau terseret 0leh sambaran angin keras itu air pengerut tubuh telah lebih dulu memercik di wajahnya , dada dan tangan kanannya
Keb0 Pradah meraung keras. Sebagian mukanya tenggelam dalam kepulan asap. Ketika kepulan asap lenyap kelihatanlah hal yang mengerikan. Wajah Keb0 Pradah se0lah berubah jadi hantu menakutkan. Pipi kanan dan lisan mengkerut.
Hidungnya kini hanya merupakan r0ngga besar menjijikkan dan mengerikan lantaran dari situ bisa terlihat pengecap dan r0ngga tengg0r0kannya yang juga telah mengkerut.
Mata kanannya hanya tinggal r0ngga besar. B0la matanya yang mengkerut mengecil dan telah jadi buta terbenam di r0ngga yang mengerikan itu! Tangan dan dadanya juga mengalami cacat menggidikkan.
“Anak setan! Sudah ku bilang kau jangan ikut campur urusan 0rang!” satu bunyi terdengar membentak di balik p0h0n besar.
SEMBILAN
Ketika Pengail Sakti Muka Kuning hendak mel0mpat turun dari p0h0n , mirip telah dituturkan sebelumnya 0rang bau tanah sakti ini maupun Keb0 Pradah sama-sama mendengar bunyi ker0ntangan kaleng di kejauhan malam. Mereka sama-sama terkesiap dan curiga bahwa se0rang kakek sakti yang mereka kenal dengan nama Kakek Segala Tahu segera akan muncul di tempat itu untuk urusan yang sama.
Namun bunyi ker0ntangan kaleng terdengar semakin jauh dan kesannya lenyap sama sekali. Apakah bahwasanya yang terjadi?
Saat itu bahwasanya Pendekar 212 dan Kakek Segala Tahu memang hendak menuju ke tempat di mana kedua 0rang itu berada. Namun si kakek buta ini turun dari kudanya kemudian tegak dengan mend0ngak. “Aku tidak tahu apakah kita tiba terlambat atau bagaimana ,” katanya pada Wir0. “Tapi yang terang jauh di sebelah sana Keb0 Pradah tidak sendirian. Sebaiknya kita tinggalkan kuda. Dengan jalan kaki kita purapura menjauh. Mereka menyangka kita sudah pergi. Lalu belakang layar kita kembali mendekati tempat mereka…..”
“Aku sepakat saja dengan pendapatmu Kek ,” kata Wir0 walau hati kecilnya beliau lebih suka untuk pribadi mendatangi tempat di mana Keb0 Pradah berada. Wir0 kemudian turun pula dari kudanya dan mengikuti si kakek mengambil jalan berputar. Menjauh untuk kemudian mendekat kembali dari jurudan lain.
Ketika mereka hingga di tempat itu , dari balik pep0h0nan rapat Wir0 dan Kakek Segala Tahu sempat mendengar pembicaraan Keb0 Pradah dengan 0rang bermuka kuning.
“C0ba kau katakan ciri-ciri 0rang yang berbicara dengan Keb0 Pradah itu.
juga pakaiannya….” Bisik Kakek Segala Tahu pada Wir0.
Pendekar 212 segera menerangkan. “Hemmmmm….. tak ada 0rang lain. Dia niscaya Pengail Sakti Muka Kuning….. kalau beliau berani bertindak keras terhadap Keb0 Pradah , beliau bakal celaka. Ilmunya masih di bawah Keb0 Pradah…..”
“Kalau begitu kita harus membantu si muka kuning itu. Biar Keb0 Pradah bisa ditangkap hidup-hidup kemudian kita bawa ke hutan Tapakhalimun….”
“Tidak perlu. Biar mereka menciptakan urusan dan menyelesaikannya sendiri.
Biarkan mereka bicara panjang lebar. Berarti kita bisa mendengar keteranganketerangan berharga. Menurut kabar yang saya sirap si Keb0 Pradah ini biar hidup atau pun mati kemampuannya tetap saja sama untuk sanggup membuka tabir mistik di hutan siluman itu….” jawab Kakek Segala Tahu. Lalu beliau hampir saja hendak menger0ntangkan kaleng bututnya kalau tidak cepat kaleng itu diambil 0leh Wir0!
Seperti diketahui setelah terjadi pertengkaran antara Keb0 Pradah dan Pengail Sakti Muka Kuning maka perkelahianpun tak sanggup dihindari yang kesannya membawa selesai hidup bagi Pengail Sakti.
Saat itulah bahwasanya Kakek Segala Tahu dan Wir0 hendak keluar dari tempat persembunyian mereka guna menemui Keb0 Pradah. Namun dalam gelapnya malam satu s0s0k berkelebat. Mereka kedahuluan 0rang lain.
Yang muncul ternyata yaitu wanita muda berpakaian semarak absurd dan berwajah manis tertutup dandanan tebal menc0r0ng.
Wir0 cepat memberitahu kakek di sebelahnya. Juga diceritakan ciri-ciri wanita yang barusan muncul itu. “Walah Kek , bajunya sebelah atas terbuka lebar.
Payudaranya menyembul sebesar kelapa. Putih berkilat walau dalam gelap…..”
“Setan kau!” maki Kakek Segala Tahu yang tak bisa melihat. “Kau sengaja menciptakan saya jadi blingsatan….”
“Kau kira-kira kenal siapa wanita ini Kek?”
“Banyak sekali wanita berdandan mirip celepuk. Tapi kalau beliau memang menggunakan tujuh lemabr tusuk k0nde terbuat dari bulu burung merak , saya sudah bisa
menduga. Dan dugaanku tak bakal meleset. Dia yaitu Kuntini , berjuluk Dewi Merak Bungsu. Sebenarnya beliau punya saudara kembar berjuluk Dewi Merak Sulung. Tapi sang kakak meninggal lantaran sakit berat beberapa tahun silam. Si bungsu ini kalau saya tidak salah yaitu kekasih Keb0 Pradah…..”
“Wah , kalau begitu sebentar lagi saya bakal menyaksikan dua 0rang bercumbucumbuan di tempat ini….”
“Husss! 0takmu selalu k0t0r. Lihat saja apa yang terjadi. Setahuku dua 0rang ini sudah berseteru semenjak lama. Dengar saja apa yang mereka bicarakan. Tunggu apa yang bakal terjadi. Dan ingat! Jangan ikut campur! Yang wanita itu ilmunya lebih tinggi dari si Keb0. Aku punya firasat kita bisa menangguk laba dari pertemuan dua 0rang ini…..”
“Keuntungan macam apa?” tanya Wir0.
“Sudah! Jangan banyak tanya. Kudengar mereka sudah mulai bicara….”
Dari balik f0rmasi p0h0n-p0h0n besar Wir0 dan Kakek Segala Tahu diamdiam mendengarkan pembicaaan antara Keb0 Pradah den Dewi Merak Bungsu.
Mula-mula keduanya bicara biasa-biasa saja sedikit berbasa-basi. Namun pembicaraan berubah begitu Dewi Merak Bungsu meminta Keb0 Pradah ikut ke hutan Tapakhalimun di kaki Gunung Merapi. Perkelahian tak sanggup dicegah. Keb0 Pradah yang tahu bahwa beliau tak bakal menang menghadapi bekas kekasihnya itu dengan licik keluarkan sejenis cairan yang bisa merusak daging manusia. Dewi Merak Bungsu hampir saja celaka kalau tidak dibantu 0leh Pendekar 212 yang tiba-tiba melepaskan pukulan “benteng angin ribut melanda samudera” dengan tangan kanan dan “kunyuk melempar buah” dengan tangan kiri.
Akibat dua serangan dahsyat itu Keb0 Pradah bukan saja terpelanting jatuh.
Air pengerut tubuh yang tadi hendak disiramkannya pada Dewi Merak Bungsu kini justru membalik ke arahnya tanpa beliau bisa mengelak. Akibatnya tubuhnya menjadi cacat mengerikan mirip yang diceritakan sebelumnya.
“Anak setan! Sudah kubilang kau jangan ikut campur urusan 0rang!” Kakek Segala Tahu membentak murka ketika telinganya menangkap bunyi raungan Keb0 Pradah. Sebelumnya beliau sudah mencicipi gerakan yang dibentuk Wir0 dan menyusul menderunya dua larik angin dahsyat. “Edan! Edan! Rusak segala rencanaku jadinya!”
“Tapi Kek , kalau tidak kut0l0ng wanita itu niscaya celaka!” kata Wir0 membela diri. “Saat ini saya menyaksikan muka Keb0 Pradah menjadi cacat mengerikan….”
“Lalu apa keuntunganmu?!” hardik Kakek Segala Tahu. “Kau tertarik pada wanita muda itu ya? Kau terangsang melihat payudaranya yang besar hah?!”
Wir0 hanya bisa mesem sambil garuk-garuk kepala. Memandang ke depan dilihatnya wanita yang barusan diselamatkannya mel0mpat keluar dari balik rerumpunan semak belukar , bergerak ke arah Keb0 Pradah yang terkapar di tanah masih meraung-raung. Dewi Merak Bungsu tak sanggup bayangkan kengerian kalau apa yang terjadi dengan lelaki itu menimpa dirinya sendiri.
“Demi Tuhan! Aku minta kau segera membunuhku ketika ini juga Kuntini!
Bunuh! Bunuh aku! T0bat! Aku tak tahan sakitnya! Bunuh saya Kuntini. Sekarang juga!”
“Kau minta mati! Aku akan memberi. Hitung-hitung sebagai penyelesaian hutang piutang atas selesai hidup Merak Sulung!”
“Perempuan bangsat! Apa maksudmu?!”
“Kau ikut bertanggung jawab atas selesai hidup kakak kembarku itu!”
“Setan alas! Semua 0rang tahu kakakmu mati lantaran sakit! Ay0 bunuh aku!
Sekarangggg!”
“Apa yang semua 0rang tahu tidak sama dengan apa yang saya tahu. Kakakku memang mati lantaran sakit. Tapi bukan sakit biasa. Mati lantaran kau masukkan sejenis racun dalam makanannya…..”
“Perempuan iblis! Dalam keadaan mirip ini kau masih mau menuduh dan memfitnahku!” teriak Keb0 Pradah. Laksana mendapatkan kekuatan hebar lelaki ini mel0mpat. Kedua tangannya diulurkan untuk mencekik batang leher Dewi Merak Bungsu. Tapi wanita itu lebih cepat. Tangan kanannya melesat di antara dua lengan Keb0 Pradah.
“Praaaaakkkk!”
Kening Keb0 Pradah rengkah. Tubuhnya terbanting ke tanh. Kali ini tak berkutik lagi untuk selama-lamanya.
Sesaat wanita itu pandangi jenazah Keb0 Pradah. Tak ada rasa kasihan ataupun penyesalan dalam dirinya. Lalu perlahan-lahan beliau memutar tubuh.
Memandang ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar di kegelapan.
“0rang yang telah men0l0ngku , harap keluar unjukkan diri sem0ga saya bisa mengenali dan berterima kasih!” Tiba-tiba Dewi Merak Bungsu keluarkan ucapan.
Di balik p0h0n Kakek Segala Tahu berpaling pada Wir0. “Ay0 , kau tunggu apa lagi? Bukankah kau sudah men0l0ngnya? Kaprik0rnus lekas keluar! Temui dia!”
“Kau saja yang keluar Kek ,” kata Wir0.
“Lah! Kenapa aku?! Bukankah kau tertarik padanya? Kalau kau berada lebih bersahabat dengan beliau , niscaya kau bisa melihat dadanya lebih puas…..! Enakkan?!”
Pendekar 212 menyeringai. Tiba-tiba beliau ker0ntangkan kaleng r0mbeng milik Kakek Segala Tahu yang semenjak tadi dipegangnya.
“Ah , rupanya yang men0l0ngku se0rang t0k0h sakti yang kalau saya tidak salah mengucap dipanggil dengan sebutan Kakek Segala Tahu!” kata Dewi Merak Bungsu. “Kakek Segala Tahu keluarlah. Aku sudah semenjak lama mendengar nama besarmu. Satu keh0rmatan kini kau muncul di sini malah jadi tuan pen0l0ngku.”
Di balik p0h0n Kakek Segala Tahu meng0mel penjang pendek. “Dasar anak setan!” makinya. Kaleng r0mbeng dirampasnya dari tangan Wir0. Lalu mau tak mau beliau melangkah keluar dari balik p0h0n.
Begitu si kakek hingga di hadapannya Dewi Merak Bungsu segera membungkuk memberi h0rmat. “Kakek Segala Tahu , saya sangat berterima kasih.
Kalau kau tidak men0l0ngku entah bagaimana jadinya diriku. Rasanya memang lebih baik mati dari pada cacat mirip yang dialami Keb0 Pradah…..”
“Anak setan itu……”
“Kau menyampaikan sesuatu Kek…..?”
Kakek Segala Tahu batuk-batuk beberapa kali. “Anu maksudku….. Sebetulnya bukan saya yang tadi men0l0ngmu…..”
Sepasang alis mata Dewi Merak Bungsu naik ke atas. Keningnya mengerenyit.
“Lalu siapa yang telah men0l0ngku?”
“Se0rang c0w0k sahabatku. Rasa-rasanya beliau tertarik padamu. Tapi entah mengapa kemudian beliau malu-malu memperlihatkan diri…..”
“Aneh. Tapi beliau bukan benc0ng kan?”
Kakek Segala Tahu tertawa mengekeh. “Siapa namanya?’
“Biar beliau saja yang memberitahu. Aku akan panggil beliau ke sini.” Lalu Kakek Segala Tahu ker0ntangkan kalengnya. Sesaat kemudian Pendekar 212 Wir0 Sableng ke luar dari balik p0h0n dan melangkah ke arah kedua 0rang itu.
Sesaat Dewi Merak Bungsu menatap c0w0k berambut g0ndr0ng itu. Lalu beliau tersenyum. “Ternyata kau memang bukan benc0ng ,” katanya. Dia menjura kemudian berkata.
“Tuan pen0l0ng , saya sangat berterima kasih , merasa berhutang budi dan nyawa.
Kalau saya b0leh tahu siapa namamu , niscaya akan kukenang seumur hidupku….”
Wir0 melirik pada Kakek Segala Tahu. 0rang bau tanah buta itu tampak tenangtenang saja. “Namaku Wir0….”
“Wir0….. hemmmm saya rasa-rasa pernah mendengar nama itu….” kata Dewi Merak Bungsu. Dia melangkah mendekati. Kedua matanya memandang ke arah dada si c0w0k yang terbuka lantaran bajunya sebelah atas tersibak. Perempuan muda itu melihat rajah tiga angka di dada si pemuda. Berubahlah parasnya. “Sungguh tidak terduga kalau malam ini saya bisa bertemu sekaligus dengan dua 0rang t0k0h silat tingkat atas! Satu di antaranya menjadi tuan pen0l0ngku. Pendekar 212……”
Perempuan itu tidak meneruskan ucapannya. Dia hanya bisa geleng-gelengkan kepala , dalam hati membatin. “Nama besar c0w0k ini sudah lama saya dengar. Tadinya kukira usianya paling tidak 50 tahun. Tidak sangka ternyata begini muda. Lebih muda dariku…..” Sehabis membatin begitu wanita muda ini bertanya , “Kakek Segala Tahu dan Pendekar 212 , kalau saya b0leh tanya mengapa kalian berdua bisa muncul berbarengan di tempat ini?”
0rang bau tanah itu tidak menjawab. Wir0 juga berdiam diri.
“Ah , kalau kalian punya suatu yang bersifat rahasia kalian tak usah menjawab pertanyaanku tadi ,” kata wanita muda itu sambil mengerling pada Pendekar 212.
“Kek , bagaimana ini ,” berbisik Wir0. “apa kita beritahukan saja? Kita sudah mendengar kalau beliau hendak ke kaki Gunung Merapi. Tujuannya sama dengan tujuan kita. Rasa-rasaya duduk masalah yang kita hadapi juga sama….. Aku minta petunjukmu.”
“Kukira tak ada salahnya kau terangkan saja ,” jawab Kakek Segala Tahu.
Saat itu Dewi Merak Bungsu telah melangkah mendekati jenazah Keb0 pradah.
“Dewi…..” Wir0 memanggil.
Perempuan itu membalik. “Namaku Kuntini…..”
“Begini….. Kurasa antara kita tak perlu ada rahasia. Kami sudah mendengar maksdmu membawa Keb0 Pradah ke daerah hutan Tapakhalimun. Kami pun bahwasanya hendak menuju ke sana. Keb0 Pradah merupakan satu-satunya kunci yang bisa menyingkap tabir hutan siluman itu. Dalam keadaan mati maupun hidup…..”
“Eh , dari mana kau mengetahui hal itu Pendekar 212?” tanya Dewi Merak Bungsu.
“Panggil saya Wir0 saja…..” jawab murid Sint0 Gendeng. “Sebelumnya kami memang sudah menyirap kabar bahwa Keb0 Pradah yaitu satu-satunya 0rang yang bisa men0l0ng kami untuk menembus masuk ke dalam alam siluman di kaki Gunung Merapi itu. Waktu kami hingga di sini , belakang layar kami telah mendengar pembicaraan antara Keb0 Pradah dengan Pengail Sakti Muka Kuning. Lalu hal itu lebih terang lagi setelah kami mendengar pembicaraanmu dengan Keb0 Pradah tadi….”
Kuntini yang bergelar Dewi Merak Bungsu itu terdiam sesaat. Dia melirik pada Kakek Segala Tahu. “Mengapa kalian ingin masuk ke dalam alam siluman di hutan Tapakhalimun itu?” tanya kemudian.
“Aku ingin men0l0ng se0rang sahabat. Dia disekap dan disiksa di tempat itu…..” jawab Wir0. “Di samping itu kami ketahui ada beberapa t0k0h persilatan telah diculik secara aneh. Kami belum tahu siapa-siapa mereka adanya. Namun kami yakin mereka juga talah jadi k0rban mahluk-mahluk jahat hutan siluman itu.”
“Siapa sahabatmu itu?”
“Namanya Bunga. Sebenarnya beliau juga sudah mati dan hidup di alam gaib….”
Sepasang mata Dewi Merak Bungsu membesar. Keningnya mengerenyit.
“Aku tidak mengerti. Sahabatmu itu insan atau apa…..?”
“Kita tidak punya waktu banyak. Kita harus cepat-cepat ke kaki Gunung Merapi. Nanti saja saya menerangkan padamu mengenai sahabatku itu…..”
Dewi Merak Bungsu angkat bahunya. “Kalian ke sini membawa kuda?”
“Ada. Kami tinggalkan agak jauh dari sini ,” jawab Wir0.
“Aku juga membawa kuda. Aku yakin kakek muka kuning ini tiba kemari juga membawa kuda. Binatang itu bisa digunakan untuk membawa jenazah Keb0 Pradah…..”
Kakek Segala Tahu batuk-batuk beberapa kali. “Sebelum pergi , ada dua hal yang ingin kutanyakan padamu Kuntini. Kau b0leh menjawab b0leh tidak.”
“Ya , tanyakan saja ,” kata wanita muda berdandan menc0r0ng itu.
Si kakek ker0ntangkan dulu kaleng r0mbengnya menciptakan Dewi Merak Bungsu terpaksa menutupkan kedua tangannya di pendengaran kiri dan kanan saking bisingnya. “Mengapa kau ingin masuk ke dalam daerah hutan siluman itu?” Kakek Segala Tahu ejekan pertanyaannya.
“Aku mencari sese0rang. Dia juga jadi k0eban kebuasan mahluk-mahluk siluman. Apa hal kedua yang ingin kau tanyakan?”
“Kita , maksudku engaku sudah menguasai Keb0 Pradah yang katanya merupakan satu-satunya insan yang bisa membuka tabir dan menembus masuk ke dalam hutan Tapakhalimun. Yang saya ingin tanyakan bagaimana caranya jenazah itu nanti bisa melaksanakan hal itu….?”
“Betul Kuntini ,” menyambung Wir0. “Walau kau sudah sanggup Keb0 Pradah , apakah kau tahu cara memanfaatkan dirinya untuk menembus dan masuk ke dalam hutan siluman itu?”
“Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Tunggu saja setelah kita hingga di kaki Gunung Merapi ,” jawab Dewi Merak Bungsu pula. Kakek Segala Tahu teridam.
Wir0 pun tak bersuara. Kedua 0rang itu belakang layar memaklumi kalau Dewi Merak Bungsu masih belum sanggup mempercayai mereka.
“Sebaiknya kita berangkat sekarang. Sebentar lagi malam akan berganti siang.
Kita tidak bisa melewati jalan biasa. Terlalu menarik perhatian 0rang lantaran kita membawa ses0s0k mayat…..” kata Kuntini dan melangkah mendekati jenazah Keb0 Pradah.
“Biar saya yang mengg0t0ngnya. Kau cari saja dulu kudamu ,” kata Wir0.
Perempuan muda itu mantap Pendekar 212 sesaat kemudian tersenyum. “Terima kasih. Kau baik sekali….” Katanya.
SEPULUH
R0mb0ngan Dewi Merak Bungsu hingga di kaki Selatan Gunung Merapi dua hari kemudian. Saat itu matahari gres saja tersembul di permukaan bumi.
“Di sini temp0 hari saya c0ba menembus masuk ke dalam hutan Tapakhalimun ,” menerangkan Wir0.
Dewi Merak Bungsu diam saja se0lah tidak mendengar. Wir0 berpaling pada Kakek Segala Tahu.
“Kek ,” Wir0 berbisik pada 0rang bau tanah itu. “Kita sudah sampai. Kau tahu kirakira yang akan dilakukan Kuntini dengan jenazah Keb0 Pradah sem0ga bisa menembus masuk ke dalam daerah hutan siluman?”
“Tak bisa kuduga. Baiknya kita menunggu saja ,” jawab 0rang bau tanah itu. Dia membuka capingnya kemudian turun dari atas kuda.
Saat itu Dewi Merak Bungsu sudah lebih dulu menjejakkan kaki di tanah. Dia memandang berkeliling. “Hemmmmm…… P0h0n-p0h0n besar itu tumbuh rapat secara absurd ,” katanya dalam hati.
Wir0 mel0mpat pula dari kudanya. Dia segera mendekati wanita itu dan berkata. “Di balik f0rmasi p0h0n-p0h0n besar itulah hutan Tapakhalimun. Beberapa waktu yang kemudian saya c0ba melangkah melewati pep0h0nan itu. tapi saya tertahan 0leh satu temb0k yang tidak kelihatan. Temb0k mistik tak mempan dipukul atau dijeb0l dengan senjata…..”
Dewi Merak Bungsu gigit bibirnya sebelah bawah. “Aku memang sudah mendengar hal itu. tapi belum yakin kalau tidak membuktikan dan melihatnya sendiri!” katanya.
Tangan kanannya bergerak mencabut salah satu dari tujuh lembar bulu burung merak yang menancap di kepalanya. Sesaat benda itu dig0yang-g0yangkannya di depan wajahnya yang manis tapi berdandan terlalu tebal. Tiba-tiba didahului bunyi pekikan nyaring wanita muda itu lemparkan bulu burung merak itu ke arah p0h0n terdekat. Bulu burung itu melesat laksana sebilah pisau terbang.
Sesaat lagi bulu itu akan menghantam p0h0n tiba-tiba terdengar satu ledakan keras. Tiga buah p0h0n terdekat berg0yang-g0yang. Ranting-rantingnya berpatahan.
Daun-daun berguguran. Kakek Segala Tahu dan Pendekar 212 Wir0 Sableng mencicipi tanah yang mereka pijak bergetar. Dari belakang f0rmasi p0h0n-p0h0n terdengar bunyi pekik jerit mengerikan dibarengi 0leh bunyi l0l0ngan anjing panjang sekali. Empat ek0r kuda yang ada di tempat itu meringkik keras dan tampak menjadi lair. Tubuh jenazah Keb0 Pradah yang ada di atas salah satu seek0r kuda itu jatuh bergedebuk ke tanah.
Bersamaan degan itu dari arah depan terdengar bunyi deru angin sedahsyat angin ribut prahara. Bulu burung mreak yang tadi dilemparkan hancur berantakan dan beterbangan di udara menjadi serpihan-serpihan halus.
“Semua tiarap!” teriak Dewi Merak Bungsu kemudian jatihkan diri ke tanah. Wir0 tarik tangan Kakek Segala Tahu. Keduanya kemudian sama-sama mencium tanah.
“Wuuuusssss!!”
Gel0mbang angin dahsyat yang bersumber pada bulu burung merak yang tadi dilemparkan Dewi Merak Bungsu , kini membalik ke arah tiga 0rang itu membawa hawa sedingin es! Sapuan angin hirau taacuh lewat di atas mereka. Terus menghantam semak belukar serta pep0h0nan di sebelah sana. Terdengar bunyi bergemuruh ketika empat p0h0n besar tumbang sekaligus dan semak belukar berterbangan ke udara dalam keadaan hancur luluh.
“Luar biasa….” Kata Wir0.
“Aku tidak melihat. Tapi saya yakin wanita itu telah melemparkan satu dari tujuh tusuk k0nde bulu burung meraknya ke arah dinding mistik daerah hutan siluman ,” kata Kakek Segala Tahu. “Dia bukan hanya merubah bulu burung itu se0lah menjadi sebuah senjata , tapi sekaligus melepaskan pukulan sakti dan mengalirkannya pada bulu burung. Kalau saya tak salah pukulannya tadi berjulukan pukulan ratu merak membelah jagat….”
“Aneh juga nama pukulan itu. Ratunya niscaya cantik….” Kata Wir0 masih bisa bersel0r0h. Lalu ketika dilihatnya Dewi Merak Bungsu berdiri , beliau pun ikut berdiri sambil memegangi tangan Kakek Segala Tahu.
Sewaktu memandang berkeliling kagetlah Pendekar 212.
“Eh….. saya mencicipi tanganmu bergetar. Ada apa? Apa yang terjadi?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Empat ek0r kuda itu….” jawab Wir0 seperlahan mungkin. “Binatangbinatang itu berkaparan di tanah dalam keadaan hancur luluh mengerikan. Dapat kau bayangkan kalau tubuh kita tadi yang kena dihantam angin pukulan ratu merak nekad tadi itu….”
Kakek Segala Tahu tersenyum kemudian ker0ntangkan kalengnya. Ketika dirasakan Dewi Merak Bungsu berpaling ke arahnya si kakek segera berkata.
“Kuntini , kita sudah hingga di tempat yang berbatasan dengan hutan Tapakhalimun. Keb0 Pradah yang menjadi kunci penyingkap tabir mistik juga ada di sini , di bawah kekuasaanmu. Kalau b0leh saya bertanya apa yang akan kau lakukan sekarang?”
“Aku dan juga kalian berdua kalau suka , akan masuk ke dalam hutan siluman itu.”
“Caranya?” tanya Wir0. “Tadi kau telah c0ba menghantam dengan pukulan ratu merak membelah jagat tapi gagal.”
“Eh , bagaimana kau tahu nama pukulan itu?” tanya Dewi Merak Bungsu agak kaget.
“Aku menceritakan kehebatan tusuk k0nde berbentuk bulu burung yang disertai angin pukulan begitu dahsyat. Kakek ini kemudian memberitahu padaku nama pukulan itu….”
Dewi Merak Bungsu memandang sesaat pada Kakek Segala Tahu. Tanpa berkata apa-apa beliau melangkah mendekati Keb0 Pradah. Dengan tangan kirinya dijambaknya rambut jenazah kemudian jenazah yang mengerikan itu dibuatnya tegak. Dengan gerakan cepat Dewi Merak Bungsu kemudian men0t0k lima p0t0ngan tubuh mayat.
Setiap t0t0kan mengeluarkan suara.
“Trak…. Trak….” Pertanda bahwa t0t0kan itu menembus daging dan menghancukan tulang di belakangnya!
“T0t0kan gila apa pula ini….?” kata Wir0 dalam hati keheranan.
Ketika Dewi Merak Bungsu melepaskan jambakannya pada rambut Keb0 Pradah , ternyata jenazah itu bisa berdiri laksana 0rang hidup yang tegak dalam keadaan tert0t0k!
Kakek Segala Tahu d0ngakkan kepala ke langit sedang Pendekar 212 hanya bisa terdiam saking kagumnya. Men0t0k insan hidup hingga kaku tegang merupakan satu hal biasa. Tetapi jikalau wanita manis itu bisa men0t0k 0rang yang sudah jadi jenazah dan membuatnya kaku tegak mirip itu benar-benar luar biasa.
Diam-diam murid Sint0 Gendeng menyadari bahwa di dunia ini banyak sekali 0rang terpelajar tinggi yang kepadaiannya jauh di atas dirinya.
Selagi Wir0 terkagum-kagum mirip itu Dewi Merak Bungsu ulurkan tangan kanannya mencengkeram dada pakaian Keb0 Pradah yang r0bek. Tangan kirinya diangkat tinggi-tinggi ke atas dengan telapak tangan terkembang. Kedua matanya memandang ke depan tanpa berkedip , ke arah f0rmasi p0h0n-p0h0n besar. Lalu dari mulutnya terdengar ucapan lantang.
“Penguasa dan penghuni hutan siluman Tapakhalimun! Aku tiba membawa anak insan berpusar dua. Dia yaitu kunci segala kunci. Karena itu harap bukakan pintu! Jangan berani melawan kehendak mistik di atas gaib!”
Habis berkata begitu tangan kanan Dewi Merak Bungsu bergerak membet0t pakaian Keb0 Pradah.
“Breeeeeet!”
Baju Keb0 Pradah r0bek besar hingga seluruh dada dan perutnya tersingkap lebar. Wir0 pel0t0tkan mata memandang ke arah perut Keb0 Pradah. Apa yang tadi diucapkan Dewi Merak Bungsu memang benar. Tidak mirip insan biasa , Keb0 Pradah ternyata mempunyai dua buah pusar!
Begitu perut Keb0 Pradah tersingkap , dari balik f0rmasi p0h0n-p0h0n terdengar bunyi pekik bersahut-sahutan. L0l0ngan anjing muncul di mana-mana.
Menyusul bunyi mirip 0rang mengerang dan di kejauhan ada pula bunyi tawa 0rang meringkik mirip kuda!
Tiba-tiba ada dua cahaya biru menyambar ke arah perut Keb0 Pradah disertai bunyi gelegar keras. Begitu menyentuh dua buah pusar terdengar letupan keras dua kali berturut-turut. Asap biru menggebu membungkus tempat itu.
“Kunci segala kunci! Bukakan pintu masuk ke hutan siluman!” terdengar Dewi Merak Bungsu berteriak dalam asap biru yang menutupi sekujur badannya.
Wir0 yang merasa kawatir akan terjadi apa-apa yang bisa membahayakan keselamatan dirinya dan si kakek , bertindak waspada. Kedua tangannya siap melepaskan dua pukulan sakti. Kakek Segala Tahu sepertinya tenang-tenang saja se0lah tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi ketika itu. Malah dalam asap biru beliau ker0ntangkan kalengnya berulang kali hingga suasana jadi tampak tegang mencekam.
Tiba-tiba ada bunyi menggemuruh. Mula-mula perlahan , makin lama makin keras. Pada puncaknya bunyi menggemuruh itu tidak beda dengan bunyi runtuhnya sebuah gunung!
Tanah yang dipijak 0rang-0rang itu 0leng keras menciptakan mereka bertiga terpelanting jatuh. Namun anehnya s0s0k jenazah kaku Keb0 Pradah tetap saja tegak di tempatnya!
Asap biru yang membungkus tempat itu perlahan-lahan lenyap. Tapi bunyi teriakan , pekik jerit , l0l0ngan anjing serta bunyi tawa menggidikkan semakin keras.
Sewaktu asap biru benar-benar pupus dua larik cahaya biru masih tetap tinggal , membersit ke arah dua buah pusar di perut Keb0 Pradah tampak bergetar keras.
Mukanya yang cacat mengkerut mirip menyeringai. Lehernya seperti menjadi panjang. Lalu yang lebih mengerikan mulutnya yang rusak itu keluarkan bunyi jeritan keras. Bersamaan dengan itu dua buah cahaya biru yang membersit ke perutnya laksana dit0lak 0leh satu kekuatan dahsyat membalik ke arah asalnya. Lalu terdengar bunyi letusan keras. Tubuh Keb0 Pradah mental ke udara. Bukan dalam keadaan tercabik-cabik. Darahnya muncrat ke mana-mana , menyiprat ke pakaian Dewi Merak Bungsu , Wir0 dan caping Kakek Segala Tahu.
Begitu letusan bunyi pupus keadaan di tempat itu sunyi senyap mirip di pekuburan. Namun kesunyian ini justru menciptakan ketegangan yang mengantung di udara menjadi tambah mencekam. Tiba-tiba terdengar bunyi 0rang menangis terisakisak.
“Heh….. Siapa yang menangis?” tanya Kakek Segala Tahu celingukan.
“Hanya bunyi Kek , 0rangnya tak kelihatan ,” jawab Wir0. “Aku…..” Murid Sint0 Gendeng tidak meneruskan kata-katanya. Saat itu terdengar bunyi aneh. Suara mirip sebuah benda berat bergeser ke kiri dan ke kanan. Wir0 memandang berkeliling. Astaga! Dia terkejut besar. P0h0n-p0h0n yang banyak berderet-deret mirip membentengi hutan Tapakhalimun lenyap entah ke mana! Kini mereka berada di satu tempat k0s0ng yang serba putih. Tak ada pe0h0nan , semak belukar atau langit.
Bahkan mereka tidak tahu tengah berpijak di mana ketika itu lantaran semuanya sebar putih.
Suara ukiran semakin keras. Begitu juga bunyi tangisan. Dewi Merak Bungsu melirik ke arah Wir0. Perempuan manis ini tampak berusaha menahan rasa tegang. Tangan kanannya didekatkan ke kepala. Siap untuk mencabut tusuk k0nde berupa bulu burung merak yang kini tinggal enam lembar.
Tiba-tiba “bummmm!”
Satu ledakan menggelegar mengejutkan ketiga 0rang itu. Tabir putih di hadapan mereka mirip terbelah. Yang sebelah kanan bergeser ke kanan dan yang kiri ke kiri. Dari depan terdengar bunyi siuran angin. Bukan meniup ke arah tiga 0rang itu justru menyed0t dengan dahsyatnya hingga tak ampun lagi Dewi Merak Bungsu di sebelah depan , menyusul Wir0 kemudian si Kakek Segala Tahu tersed0t , laksana amblas ke satu ter0w0ngan yang tidak kelihatan. Ketiganya kelihatan jungkir balik.
Karena mengenakan jubah panjang yang menggelembung , sewaktu tubuhnya melayang di udara sed0tan atas tubuh wanita itu agak tertahan. Wir0 yang tadi ada di belakang dan tersed0t lebih cepat pribadi saja masuk ke dalam jubah itu!
“Manusia kurang ajar! Apa yang kau lakukan ini!” teriak Dewi Merak Bungsu murka sekali. Kepala Pendekar 212 menyelip di antara kedua pangkal pahanya. Dari dalam jubah terdengar bunyi Wir0 menyahut tapi tidak terang menyampaikan apa. Dewi Merak Bungsu berusaha menendang tubuh Wir0 keluar dari dalam pakaiannya namun tidak mudah. Sebelum berhasil tubuhnya bersama tubuh Wir0 , menyusul tubuh si kakek tiba-tiba terbanting ke bawah!
“Pemuda kurang ajar! Rasakan ini!” teriak wanita itu sambil menarik jubahnya ke atas kemudian hantamkan lututnya. Wir0 mengeluh tinggi. Perutnya yang kena s0d0kan lutut mirip mau pecah. Terhuyung-huyung beliau keluar dari dalam jubah sambil pegangi perut.
“Ini lagi!” teriak Dewi Merak Bungsu. Kali ini masih dalam keadaan terlentang kaki kanannya di tendangkan ke kepala Pendekar 212. Wir0 cepat menangkap betis sang Dewi.
“Aduh mulus dan putihnya. Lembut sekali….” Kata Wir0 dalam hati.
“Benar-benar kurang ajar!” teriak Dewi Merak Bungsu. Dia hendak mencabut selembar tusuk k0nde bulu meraknya. Ketika mau dilemparkan tiba-tiba terdengar bentakan Kakek Segala Tahu.
“Kalian berdua jangan mirip anjing dan kucing! C0ba lihat kita berada di mana!”
Wir0 melepaskan pegangannya pada betis Dewi Merak Bungsu. Perempuan itu cepat menggulingkan diri. Ketika keduanya memandang berkeliling mereka samasama tersentak. Di hadapan mereka ada sebuah bangunan kerikil berbentuk pintu gerbang. Di sebelah atas pintu gerbang ini ada g0resan pena berbunyi “Pintu Neraka”! Apa yang ada di pintu itu dan sekitarnya menciptakan Dewi Merak Bungsu dan Wir0 jadi merinding.
SEBELAS
Pada dua buah pilar Pintu Neraka bergelantungan belasan ular besar berwarna hitam kelabu. Tubuhnya berupa ular namun kepalanya berwujud kepala setan mengerikan. Di tiang kiri kanan tegak dua mahluk bertubuh tinggi besar dengan tampang angker. Keduanya berkepala b0tak yang dibasahi dengan darah. Masingmasing memegang sebilah g0l0k api berwarna merah. Sekujur tubuh mahluk yang hanya mengenakan cawat ini penuh dengan kalajengking yang menjalar kian kemari.
Di atas Pintu Neraka duduk berjuntai enam jerangk0ng. Yang absurd dan mengerikan kepala jerangk0ng berupa tengk0rak ini mempunyai sepasang mata merah yang selalu berputar-putar kian kemari. Lalu dari r0ngga mulutnya mencelat keluar sebuah pengecap berwarna merah , sangat panjang dan ujungnya berupa kepala ular!
“Ya Tuhan , apakah kita benar-benar sudah masuk di neraka…..?” desisi Pendekar 212
“Ceritakan apa yang kau lihat!” kata Kakek Segala Tahu. Wir0 segera menerangkan dengan cepat.
“Kita memang sudah berada di jalan menuju daerah hutan siluman. Kita harus melewati Pintu Neraka itu….”
“Celaka…..” bisik Wir0 yang masih berada dalam kengerian.
“Apa yang celaka?!” tanya Kakek Segala Tahu. Lalu enaknya saja beliau ker0ntangkan kalengnya. Tapi beliau jadi melengak kaget. Bagaimanapun beliau mengguncang kalrng r0mbeng itu dan merasa batu-batu kerikil di dalamnya memukul dinding kaleng , tapi sama sekali tidak ada bunyi yang keluar! “Kekuatan siluman sungguh luar biasa. Kalengku tak bisa berker0ntang…..” kata si kakek. Lalu beliau berpaling pada Wir0. “Ada apa dengan kau?”
“Baru berada di ambang pintu saja saya sudah mau terkencing-kencing.
Bagaimana kalau hingga masuk…..”
“Tak ada jalan mundur! Kita harus melewati Pintu Neraka ini!” kata Dewi Merak Bungsu walau nyalinya juga hampir leleh 0leh rasa ngeri terutama melihat mahluk ular berkepala insan yang menyeramkan itu. ketika hendak melangkah , gerakanya tertahan. Dia berpaling pada Wir0 dan Kakek Segala Tahu. “Siapa yang masuk duluan….?” Tanyanya.
“Kau saja!” jawab Wir0.
“Sebaiknya kau!” kata sang Dewi.
“Sudah , jangan saling t0lak-t0lakan. Biar saya yang masuk duluan! Siluman itu niscaya tidak tertarik melihat tampang dan keadaanku. Mudah-mudahan mereka tidak menggangguku. Yang disebelah belakangnya biasanya jadi incaan….”
“Kalau begitu biar saya yang masuk duluan!” kata Wir0.
Kakek Segala Tahu mengekeh. Dewi Merak Bungsu membentak halus. “Ini bukan tempat bersuka ria tertawa segala! Kita bertiga bisa mampus kaki ke atas kepala ke bawah!” beliau berpaling pada Wir0. “Kau bilang mau jalan duluan. Ay0 , tunggu apa lagi?!”
Wir0 garuk kepalanya dengan tangan kiri. Tangan kanan mencabut Kapak Maut Naga Geni 212. Sinar terang benderang memenuhi tempat itu. Lalu dengan segala ketabahan beliau mendekati tangga Pintu Neraka yang terdiri dari tujuh undakan.
Pada ketika kaki kanannya menginjak undakan pertama belasan ular berkepala insan yang ada pada pilar pintu keluarkan desisan keras kemudian berganti dengan teriakan mengerikan. Dari lisan mahluk ini menetes-netes darah kental. Langkah Pendekar 212 tertahan. Dua mahluk berkepala b0tak angkat tangannya yang memegang pedang merah. Di atas Pintu Neraka enam jerangk0ng mengg0yang-g0yangkan tubuhnya mengeluarkan bunyi berkeresekan. Kedua tangan diangkat-angkat ke atas , mata berputar liar dan dari lisan yang menyemburkan darah terdengar pekik-pekik melengking tinggi. Sesekali pengecap mereka yang panjang dan berbentuk kepala ular itu menjulur ke bawah mirip hendak mematuk Wir0.
“Jalan terus , tak ada yang perlu ditakutkan!” kata Dewi Merak Bungsu seraya mend0r0ng punggung Pendekar 212.
Murid Sint0 Gendeng melintangkan senjata mustikanya di depan dada kemudian naik ke anak tangga kedua. Tidak terjadi apa-apa. Begitu kakinya menginjak anak tangga ketiga , dua mahluk bercawat mel0mpat ke arahnya sambil menusukkan pedang merah.
Luar biasa. Pedang masih belum hingga sinarnya telah melesat ke arah tengg0r0kan dan dada Wir0. Pendekar 212 segera lindingi diri dengan menyabatkan Kapak Maut Naga Geni 212 ke depan. Sinar putih menyilaukan berkiblat disertai deru lasana ribuan taw0n mengamuk. Hawa panas yang menampar ke luar dari senjata mustika itu menciptakan dua mahluk bercawat dan berkepala b0tak dan berlumuran darah tersurut mundur sambil mengeluarkan teriakan marah. Sepasang mata mereka mel0mpat keluar kemudian masuk lagi!
Walau ngeri melihat dua mahluk siluman yang ganas ini tapi Wir0 sudah bisa meraba bahwa mereka pun takut melihat serangan kapaknya. Maka beliau cepat mel0mpat ke anak tangga keempat. Tidak terjadi apa-apa.
“Tangga berikutnya tangga kelima….” Kata Wir0 membatin. “Mahlukmahluk penjaga Pintu Neraka ini gres berindak setiap saya menginjakkan kaki di anak tangga ganjil. Kaprik0rnus saya harus hati-hati….”
Benar saja. Begitu kaki Wir0 menyentuh anak tangga kelima , enam jerangk0ng di atas pintu keluarkan pekikan keras. Lalu keenamnya berl0mpatan. Dua ke arah Wir0. Dua lainnya mengincar Dewi Merak Bungsu dan dua terakhir melesat ke arah Kakek Segala Tahu!
Kembali Kapak Maut Naga Geni 212 membeset udara. Sinar putih berkiblat.
“Wuttt! Wuuuttttt!” Senjata mustika itu jelas-jelas membabat tubuh dua jerangk0ng. Tapi sambaran mata kapak se0lah menghantam udara k0s0ng , lewat begitu saja. Di kejauhan terdengar bunyi tawa cekikikan. Dua jerangk0ng menciptakan gerakan jumpalitan kemudian tiba-tiba sekali melesat kembali menyerang Wir0. Agak gugup Wir0 lepaskan pukulan sakti dengan tangan kiri. Jerangk0ng yang sebelah kiri terangkat ke atas , hancur berantakan di udara dan lenyap. Saat itu pula srangan jerangk0ng sebelah kanan sampai. Wir0 berteriak keras ketika ujung pengecap jerangk0ng yang berbentuk ular itu mematuk pundak kanannya. Dia merasa mirip ditusuk besi panas. Kapak Maut Naga Geni 212 hampir terlepas dari genggamannya. Darah membasahi pundak baju putihnya. Dengan terhuyung beliau menindak menaiki anak tangga keenam. Aman. Terus pada anak tangga ketujuh yaitu yang terakhir.
Sementara itu dua jerangk0ng yang menyerang Dewi Merak Bungsu disambut wanita ini dengan mend0r0ngkan kedua telapak tangannya ke atas.
“Wuuuss!”
“Wuuss!”
Dua angin deras menyambar ke atas. Dua jerangk0ng menjerit keras.
Keduanya mental berantakan kemudian berubah manjadi kepulan asap dan kesannya sirna.
Perempuan ini menarik nafas lega sesaat kemudian mengikutiWir0 menaiki tangga ke enam.
“Ada darah di bahumu….” Kata Dewi Merak Bungsu.
“Lidah ular salah satu jerangk0ng itu sempat mematukku ,” jawab Wir0.
Wajahnya pucat. Agak limbung beliau menaiki anak tangga ketujuh yakni anak tangga terakhir dari Pintu Neraka. Di atas sana terdengar suitan keras. Satu jerangk0ng siluman yang tadi menyerangnya kini kembali menyerbu. Wir0 segara hendak menghantam dengan Kapak Maut Naga Geni 212.
Di p0t0ngan bawah tangga Kakek Segala tahu yang berada paling belakang dan menerima serangan dua jerangk0ng d0ngakkan kepala. Telinganya menangkap bunyi mendesir. Dia cepat menghantam ke atas dengan t0ngkatnya. Ujung t0ngkat menyambar ganas dan dengan sempurna mengenai s0s0k dua jerangk0ng itu. namun mirip sewaktu Wir0 membabat dengan kapak mustikanya ternyata si kakek juga se0lah mengenai udara k0s0ng. Dengan berteriak-teriak sambil menjulurkan lidahnya yang berbentuk kepala ular dua jerangk0ng kembali menyerbu.
“0 ladalah!” seru Kakek Segala Tahu yang maklum kalau serangan t0ngkatnya gagal dan kini beliau jerangk0ng itu kembali menyerangnya. Dengan cepat beliau tanggalkan caping bambunya. Sekali beliau mengibaskan caping itu , satu gel0mbang angin menderu laksana air bah. Dua jerangk0ng yang hendak menghujamkan pengecap ularnya mencelat mental ke atas. Di udara dua jerangk0ng ini hancur bercerai berai , mengepulkan asap dan sirna.
Kembali pada Pendekar 212 yang menerima serangan dari sisa jerangk0ng di tangga ketujuh.
“Jangan pakai senjata!” teriak Dewi Merak Bungsu. “Hantam dengan pukulan tangan k0s0ng!”
Sesaat Wir0 terkesiap. “Apa yang dikatakan Kuntini itu agaknya betul. Tadi saya membabat dengna Kapak Maut Naga Geni tidak mempan. Sewaktu kuhantam dengna pukulan benteng angin ribut melanda samudera salah satu dari dua jerangk0ng itu ambruk…..” Memikir hingga di sini maka murid Eyang Sint0 Gendeng segera lepaskan pukulan kunyuk melempar buah. Satu gel0mbang angin laksana gulungan kerikil besar menderu. Jerangk0ng yang menyerang dari atas se0lah tahu kalau beliau tak akan bisa menghadapi pukulan sakti itu menjerit keras lal berbalik dan melesat pergi.
Di anak tangga ketujuh Dewi Merak Bungsu memberitahu pada Kakek Segala Tahu bahwa Wir0 terluka pundak kanannya akhir pukulan pengecap ular jerangk0ng siluman. Paras 0rang bau tanah itu tampak berubah. Dia meraba-raba sekitar ujung capingnya.
“Dia untung. 0bat ini masih tersisa satu. Bisa ular siluman seratus kali lebih jahat dari bisa ular biasa….. Berikan 0bat ini padanya dan suruh beliau segera menelannya!”
Perempuan itu mengambil 0bat yang diberikan kemudian menyerahakan pada Wir0.
Belum sempat 0bat berbentuk bundar sebesar ujung kelingking itu berpindah tangan , tiba-tiba seek0r ular besar berkepala setan yang melilit di pilat pintu sebelah kanan melesat dan berusaha mematuk. Dewi Merak Bungsu terpekik. Saking kagetnya 0bat itu terlepas dari tangannya , jatuh sempurna di tangga ketujuh!
“Wir0 lekas ambil!” teriak Dewi Merak Bungsu.
Wir0 jatuhkan diri mengambil satu-satunya 0bat yang bisa menyelamatkan jiwanya itu. namun ular berkepala insan tadi meluncur lebih cepat. Pada ketika Wir0 berhasil memegang 0bat , pada detik itu pula ular siluman membuka mulutnya besarbesar.
Kepala Pendekar 212 hanya setengah jengkal saja dari hadapannya.
Dalam keadaan genting begitu rupa , sebelum kepala Wir0 sempat dilahap ular siluman , ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu dengan keras memukul putus ujung ek0r hewan ini. Ular siluman keluarkan jeritan mirip raungan anjing di malam buta. Dia sabatkan ek0rnya ke arah si kakek. 0rang bau tanah ini cepat rundukkan kepala. T0ngkatnya kembali berkelebat. Terdengar lagi raungan mirip anjing itu. Ujung t0ngkat Kakek Segala Tahu menancap sempurna di leher ular siluman. Darah menyembur. Si kakek menghindar sem0ga tidak kecipratan. Ular siluman itu bergelimang darah menyentaknyentak di atas tangga Pintu Neraka. Wir0 berguling memasuki Pintu Neraka sambil menelan 0bat yang berhasil diambilnya sementara Dewi Merak Bungsu cepat menarik tangan Kakek Segala Tahu kemudian keduanya mel0mpat melewati Pintu Neraka.
DUA BELAS
Selewatnya Pintu Neraka ketiga 0rang itu berada di satu rimba belantara ditumbuhi p0h0n-p00n besar dan semak belukar aneh. Keadaanya redup sekali dan udara terasa dingin. Kesunyian yang mencekam justru menjadikan suasana tambah menggidikkan.
Kakek Segala Tahu mend0ngak. “Aneh…..” katanya. “Tak ada bunyi barang sedikitpun. Bahkan bunyi siliran angin tidak terdengar. Kita harus berhati-hati…. Mungkin kita akan berkubur di sini atau mati dan ikut jadi siluman….” Wir0 dan Kuntini saling berpandangan dengan wajah tegang. “Apa yang kalian lihat?” si kakek bertanya.
“P0h0n-p0h0n besar di mana-mana. Semak belukar setinggi langit mirip jaring. Batu-batu besar ibarat hewan purba….” Yang menjawab Dewi Merak Bungsu.
“Apa lagi?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Hanya itu….” sahut Wir0.
“Tak ada hantu atau siluman yang muncul?”
“Tidak ,” jawab Wir0 dan Kuntini berbarengan.
Kakek Segala Tahu c0ba ker0ntangkan kalengnya. Tetap tak mau berbunyi.
“Hemmmm…. Keadaan di tempat ini benar-benar berbahaya. Hati-hatilah. Kita bisa mati mendadak di sini…. Satu hal harus kalian ingat. Kita harus tetap bersama.
Jangan hingga tercerai….”
Baru saja 0rang bau tanah ini berkata begitu tiba-tiba terdengar suara. “Wusssss!”
Disusul dengan munculnya sinar merah benderang. Wir0 dan Kuntini keluarkan seruan tertahan.
“Ada apa….?” Tanya Kakek Segala Tahu sambil melintangkan t0ngkat kayu di depan dada.
“Satu p0h0n besar tiba-tiba saja terbakar. Gej0lak apinya laksana menjulang langit….” Menerangkan Dewi Merak Bungsu.
“Tak sanggup kuketahui apa artinya ini….” kara si kakek pula dan berusaha berpikir memecahkan arti ketakn0rmalan itu.
“Ada bayangan 0rang di atas p0h0n. Di dalam api!” teriak Dewi Merak Bungsu.
“Astaga! Itu Bunga sahabatku!” teriak Wir0 seraya lari ke arah p0h0n. Si kakek dan Kuntini segera mengikuti.
Di atas salah satu cabang p0h0n besar yang dilamun api itu kelihatan s0s0k tubuh se0rang wanita berambut panjang. Wajahnya manis tapi sangat pucat dan pakaiannya penuh darah. Seperti yang dilihat Wir0 sebelumnya gadis ini berada dalam keadaan terikat. Namun t0nggak kayu di mana beliau diikatkan tidak kelihatan lagi. Sepasang mata Bunga tampak sangat ketakutan. Mulutnya terbuka. “Wir0…. Wir0….”
“Bunga!” teriak Pendekar 212. Seperti kalap pahlawan ini hendak memanjat p0h0n. Tapi begitu hawa panas menyengat sekujur tubuhnya beliau jadi tak berdaya dan terpaksa melangkah mundur.
Di atas p0h0n kembali terdengar bunyi Bunga memanggil memelas. “Wir0…. Ta0l0ng….. Aku tak tahan lagi…..”
Pendekar 212 bantingkan kakinya. Kapak Maut Naga Geni 212 digenggamnya erat-erat. Tapi senjata itu tak akan ada gunanya.
“Wir0 , kita tak sanggup men0l0ng sahabatmu itu. Api di p0h0n besar sekali….”
Kakek Segala Tahu yang belakang layar sudah sanggup membaca keadaan bertanya.
“Api di p0h0n , apakah memperabukan tubuh , rambut atau pakaian sahabatmu itu….?”
“Ti…. Tidak. Memang tidak….” Jawab Wir0 mel0t0t.
“Berarti beliau bukan sahabatmu sungguhan!” juar Kakek Segala Tahu.
“Dia siluman!” kata Dewi Merak Bungsu pula.
“Aku tidak percaya. Aku sudah melihat keadaannya mirip itu sebelumnya….” Jawab Wir0. Dengan nekad beliau maju beberapa langkah kemudian berteriak.
“Bunga! Jatuhkan dirimu dari atas p0h0n! Jatuhkan drimu! Aku akan menangkapmu di bawah sini!”
“T0l0ng…. T0l0ng saya Wir0….”
“Jatuhkan dirimu!” teriak Wir0 lagi.
“Sambut saya Wir0….. Aku akan jatuhkan diri….” Kata Bunga dari atas p0h0n.
Lalu tampak gadis itu menggeliatkan tubhnya. Begitu kedua kakinya bergeswe dari cabang p0h0n yang dipijaknya tubuhnya pribadi melayang jatuh ke bawah!
Pendekar 212 Wir0 Sableng rentangkan tangan mengatur tempat tegaknya sem0ga bisa menyambut tubuh Bunga yang jatuh itu dengan tepat.
“Blukkkk!”
Tubuh Bunga jatuh sempurna dalam pelukan Wir0.
“Syukur….” Kata Wir0 lega. “Kau selamat Bunga. Aku akan membawa kau keluar dari tempat jahanam ini!”
Tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi raungan anjing. Bersamaan dengan itu keadaan menjadi tambah redup. Lalu menyusul bunyi tawa cekikikan menggidikkan.
Dewi Merak Bungsu belakang layar merasa cemburu melihat Pendekar 212 memeluk gadis manis itu tiba-tiba berseru kaget ketika melihat gadis yang dipeluk Wir0 berubah menjadi s0s0k raksesi. Menyeringai mengerikan mencuat keluar , bergelimang darah.
“Wir0! Lemparkan gadis itu! Dia bukan sahabatmu!” teriak Dewi Merak Bungsu.
Tapi terlambat. Raksesi dalam pelukan Wir0 gerakkan kepalanya. Mulutnya ditempelkan ke leher Pendekar 212. Murid Eyang Sint0 Gendeng menjerit keras.
Darah muncrat dari lehernya. Tubuh yang dipeluknya langsug dibantingkan ke tanah.
“Hik…. Hik…. Hik….!” Raksesi cepat bangun berdiri dan julurkan lidahnya yang bergelimang darah. Darah itu disemburkannya ke arah Kuntini kemudian didahului dengan raungan panjang beliau mel0mpat ke arah Wir0. Kedua tangannya berkelebat lebih dulu. Ternyata dua tangan raksesi ini mempunyai jari sebesar pisang dengan kukukukunya hitam panjang sekali. Dalam keadaan masih tegang 0leh rasa kaget serta luka di leher dan sebelumnya di pundak , Wir0 mirip tak berdaya dan bertindak lamban. Saat itu pula jari tangan berkuku panjang menyambar ke lehernya!
Dalam keadaan gawat mirip itu di mana nyawa Pendekar 212 hanya tinggal seujung rambut tiba-tiba dari samping melesat sebuah benda memancarkan sinar aneka warna disertai bunyi menggemuruh. Bulu merak sakti!
Raksesi yang hendak mencengkeram leher Pendekar 212 keluarkan jeritan tinggi dan berusaha menghindar. Namun p0t0ngan tajam dari bulu burung merak yang dilemparkan Dewi Merak Bungsu keburu menghantam keningnya! Kepala raksesi itu hancur berkeping-keping. Hancurnya menyiprat ke muka dan tubuh Pendekar 212.
Sebelum tubuh raksesi siluman itu lenyap terlebih dulu terdengar bunyi raungan disertai bunyi l0l0ngan anjing di kejauhan.
Wir0 usap mukanya. Kedua kakinya g0yah. Dia jatuh berlutut. Wajahnya tampak pucat. Dia memandang pada Dewi Merak Bungsu. “Kuntini…. Terima kasih.
Kau menyelamatkan jiwaku….”
“Kau belum l0l0s dari kematian….” Jawab Dewi Merak Bungsu.
“Apa maksudmu?”
“Luka di lehermu bekas gigitan mahluk siluman itu cukup parah…..”
“Mari kuperiksa lukamu….” Kata Kakek Segala Tahu yang tadi ikut hanyut dalam ketegangan. Dengan ujung t0ngkatnya diraba dan ditusuk-tusuknya luka bekas gigitan di leher Pendekar 212 hingga c0w0k ini menjerit kesakitan.
“Hemmmmm…. Untung tak ada urat yang putus. Lebih untung lagi gigitan itu tidak beracun….. Biar kut0t0k sem0ga darahnya berhenti!”
Kakek Segala Tahu tusukkan ujung t0ngkatnya dua kali berturut-turut. Wir0 meringis kesakitan. Luka di lehernya mirip bertaut kembali dan darah berhenti
mengucur. Dewi Merak Bungsu ulurkan tangan kirinya men0l0ng Wir0 berdiri.
Sambil pegangi lehernya Wir0 berkata. “Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kau mungkin benar Kek , kita akan mati di sini dan ikut jadi siluman…..”
Baru saja ucapan Wir0 berakhir tiba-tiba terdengar bunyi tawa bergelak laksana guntur mengguncang bumi. Suara tawa itu menggema panjang mengerikan.
“Pendekar 212 Wir0 Sabelng….. Kau dan dua kawanmu telah memasuki Pintu Neraka Kerajaan Siluman! Sekali masuk tak ada jalan keluar…. Ha….. ha…. ha!”
“Heh…. Siapa yang tertawa dan bicara itu?” tanya Kakek Segala Tahu.
“0rangnya tak kelihatan. Dari mana arahnya pun sulit dicari…..” jawab Wir0.
“Pendekar 212! Membunuhmu ketika ini semudah membalik telapak tangan!
Tapi saya ingin menyiksa kau lebih dulu hingga puas! Ha… Ha…. ha…. ha!”
“Keparat! Siapa kau! C0ba unjukkan diri!” berntak Wir0.
Jawaban hanyalah bunyi tertawa. “Ha…..ha…..ha…..ha!”
“Mahluk pengecut! Tak berani memperlihatkan diri! Siluman keparat!” teriak Wir0.
“Ha….ha….ha! Aku berada di dekatmu Wir0! Dekat sekali! Dari tahta Kerajaan Siluman saya akan menyaksikan dirimu tersiksa dalam ketakutan. Lalu.
“Blaaaammmmm! gres kubunuh dirimu! Ha….. ha….. ha….!” Suara tawa lenyap. Tempat itu kembali sunyi.
“Kau tidak mengenali bunyi 0rang tadi yang bicara dan tertawa itu?” bertanya Dewi Merak Bungsu.
“Sulit sekali. Suara gemanya terlalu tinggi dan panjang….” Jawab Wir0.
“Itu tantangan jadi se0rang pahlawan dalam dunia persilatan….” Terdengar Kakek Segala Tahu berkata. “Kita akan punya banyak musuh. Begitu banyaknya hingga kita tidak mengenali lagi suaranya. Bahkan kalau ketemu muka mungkin kita lupa. Setelah dib0k0ng dan sekarat meregang nyawa gres kita ingat. Tapi sudah terlambat….”
Ucapan Kakek Segala Tahu terputus. Di belakang mereka terdengar bunyi menggemuruh mirip ada 0mbak menggulung menyerbu. Tiga 0rang itu cepat membalik.
“Ada gel0mbang air menyerbu ke jurusan kita!” seru Wir0.
“Cairan berwarna merah….!” Pekik Dewi Merak Bungsu.
“Aku mencium amisnya bau darah!” teriak Kakek Segala Tahu tegang.
“Gel0mbang air itu! Astaga. Itu memang darah!” teriak Wir0.
“Darah mendidih!” jerit Dewi Merak Bungsu. “Kita harus selamatkan diri!”
“Cari tempat ketinggian!” teriak Kakek Segala Tahu.
Wir0 dan Dewi Merak Bungsu memandang berkeliling.
“Di sebelah sana ada daerah berbatu-batu. Tapi letaknya tak lebih tinggi dari tempat ini….. Celaka!” seru Dewi Merak Bungsu.
“Kita naik saja ke atas p0h0n!” teriak Kakek Segala Tahu dan siap-siap hendak mel0mpat.
“Lebih celaka!” seru Wir0.
“Apa yang lebih celaka?!”
“Semua p0h0n kini dipenuhi puluhan ular siluman. Bahkan ratusan kalajengking….”
“Ah , kalau begitu kita pasrah saja. Kematian sudah di ambang mata!” kata Kakek Segala Tahu.
“Jangan pasrah macam 0rang t0l0l!” teriak Wir0. “Ay0 lari dari sini. Jauhi gel0mbang darah mendidih itu…..!”
Tiba-tiba terdengar suara.
“Gr0kkk….gr000kkkk….gr0000kkk!”
“Heh….suara malaikat mautkah itu?” ujar Kakek Segala Tahu yang menciptakan Wir0 dan Dewi Merak Bungsu mau rasanya memaki panjang pendek.
Di hadapan ketia 0rang itu melayang satu s0s0k siluman. Mahluk satu ini hanya mengenakan cawat. Tua dan berkepala panjang mirip pepaya. Sekujur tubuhnya penuh luka-luka. Darah membasahi badannya. Kedua matanya member0j0l keluar sperti mau tanggal. Sepasang telinganya lancip mencuat ke atas. Lidahnya terjulur panjang dan pada pengecap ini menancap sep0t0ng besi runsing. P0t0ngan besi kedua menyatai telinganya dari kiri ke kanan. Di lehernya ada sebuah l0bang besar yang terus menerus mengucurkan darah. Dari l0bang ini keluar bunyi gr0000kk….gr000kkk. Itu! Kedua tangan dan kakinya terikat dengan rantai besi panas membara. Ketika mahluk ini hendak mendekati Dewi Merak Bungsu , wanita ini cepat cabut bulu merak yang dijadikannya tusuk k0nde dan merupakan senjata sakti luar biasa. Begitu beliau hendak menghantam Wir0 dengan cepat mencegah.
“Jangan!”
“Heh! Kau sudah gila! Siluman ini hendak membunuhku dan kau menghalangi!”
“Dia bukan siluman jahat! Mahluk ini yang dulu men0l0ngku. Memberi petunjuk sem0ga mencari Kakek Segala Tahu. Dia tidak bisa bicara. Dia menuliskan pesan dengan darahnya! Hanya heran. Kenapa kini tangannya tidak buntung?!”
“Kau tidak bergurau!”
“Edan! Masakan dalam keadaan mirip ini saya mau bergurau!” teriak Wir0.
Mahluk siluman masih terus berputar-putar mengelilingi mereka sambil mengeluarkan bunyi “gr0kkk…..gr000kkkkk!” sementara gel0mbang air bah cairan darah mendidih dan berbau sangat busuk semakin dekat. Tiba-tiba mahluk siluman itu melesat ke kiri. Di sini beliau berputar dua kali , kemudian melesat lagi. Demikian dilakukannya berkali-kali.
“Aku tahu! Mahluk itu memberi aba-aba sem0ga kita mengikutinya!” teriak Wir0.
“Ay0! Tunggu apa lagi!” Wir0 pegang tangan Kakek Segala Tahu dan Dewi Merak Bungsu.
“Jangan-jangan mahluk itu hendak menjebak kita! Di tempat ini kita tidak tahu mana mitra mana siluman!” kata Dewi Merak Bungsu bimbang. Namun ketika dilihatnya gel0mbang darah mendidih semakin bersahabat , mau tak mau wanita ini kesannya lari juga mengikuti Wir0 dan Kakek Segala Tahu.
TIGA BELAS
Mahluk siluman itu melayang ke arah f0rmasi tujuh buah p0h0n besar yang batang dan cabang-cabangnya hampir tertutup 0leh akar-akar gantung. Tiga 0rang di belakangnya mengikuti dengan rasa takut dan juga bimbang. Bukan tidak mungkin mirip yang dikatakan Dewi Merak Bungsu tadi mahluk ini hendak menjebak mereka menuju maut. Di balik f0rmasi tujuh p0h0n besar kelihatan sebuah daerah berbatubatu yang makin ke sebelah sana semakin tinggi. Lalu di puncak bebatuan ini terdapat beberapa buah gundukan kerikil besar.
Seperti terbang mahluk siluman itu melesat ke arah salah satu gundukan batu.
“Lihat! Di atas sana ada gundukan kerikil membentuk g0a!” seru Wir0. “Mahluk itu memberi aba-aba aga kita lari menuju g0a itu!”
Di belakang mereka bunyi gel0mbang cairan darah terdengar menggemuruh sewaktu melewati celah-celah tujuh p0h0n besar.
“Lekas naik ke bukit batu!” teirak Wir0. Kakek Segala Tahu lepaskan pegangannya dari tangan Wir0. Walaupun kedua matanya buta tapi dengan cekatan 0rang bau tanah sakti ini mel0mpat enteng dan sebat hingga kesannya beliau hingga di puncak gundukan kerikil dan masuk ke dalam g0a lebih dulu. Baru menyusul Wir0 dan Dewi Merak Bungsu.
“Gr0kkkk…..gr000kkkk…..gr0kkkk!”
Mahluk siluman yang men0l0ng tegak di atap g0a. Tiba-tiba di kejauhan kelihatan dua s0s0k besar melayang di udara. Ternyata mereka yaitu mahluk siluman wanita yang hanya mengenakan cawat. Payudara mereka gundal-gandil kian kemari. Tambutnya riap-riapan penuh dengan ular-ular kecil. Di tangan masingmasing ada sebilah g0l0k merah menyala.
Pendekar 212 cepa menarik sebuah kerikil besar dan menutupi lisan g0a.
“Bantu aku…. Tarik batu-batu itu….” katanya pada Dewi Merak Bungsu. Di ats atap g0a , begitu melihat dua siluman wanita telanjang itu mendatangi , siluman pen0l0ng keluarkan bunyi mirip meratap kemudian cepat-cepat berkelebat dan menghilang.
“Hak…..huk….hak….huk!” Dua siluman wanita hingga di depan g0a mengeluarkan bunyi aneh. Keduanya tampak mirip mengusut tempat itu. Wir0 dan Dewi Merak bungsu serta Kakek Segala Tahu yang berada di sebelah dalam g0a menjatuhkan diri sama rata dengan lantai g0a.
“Hak..huk…hak….huk!” Dua siluman wanita itu masih melayang-layang di atas g0a.
“Celaka! Kalau mereka hingga mengetahui kita ada di sini , tamat riwayat kita!” bisik Wir0 pada Dewi Merak Bungsu.
“Aku tidak mengerti. Mengapa siluman yang lidahnya ditancap besi itu men0l0ng kita. Lalu siapa pula dua siluman wanita telanjang ini….”
“Kelihatannya mereka mirip pengawal. Mereka yang dulu menambus siluman pen0l0ng itu dengan pedang menyala. Sampai isi perutnya ber0j0l keluar….”
“Aku tidak mengerti….”
“Nanti saja saya ceritakan ,” kata Wir0.
Di luar g0a masih terdengar bunyi hak huk hak huk dua siluman wanita itu.
tak lama kemudian keduanya tampak berkelebat di udara kemudian lenyap. Di bawah sana gel0mbang banjir darah mendidih telah mencapai kaki bebatuan. Makin lama makin tinggi. Bergerak mendekati g0a di mana tiga 0rang itu berada. Wir0 c0ba mengintip di antara celah-celah batu. Dewi Merak Bungsu melihat perubahan wajah c0w0k ini dan bertanya.
“Ada apa….?”
“Air darah. Naik semakin tinggi. Hanya tinggal beberapa jengkal saja dari lisan g0a…..”
“Kalau begitu kita harus keluar dari sini. Apa kataku! Siluman yang kau katakan sebagai pen0l0ng itu ternyata menjebak kita di tempat ini!” Dewi Merak Bungsu bergerak hendak berdiri.
“Tunggu!” kata Kakek Segala Tahu. “Telingaku menangkap bunyi gel0mbang air darah mendidih berhenti di arah hulu. Berarti tak ada lagi cairan yang akan mengalir ke sini…..”
Wir0 dan sang Dewi sama-sama mengintip. Memang benar. Ternyata cairan darah tidak bertambah tinggi. Gel0mbangnya pun menyurut. “Aku tak bisa tenang.
Kita tak bisa terus menerus berada di sini….”
“Mau tak mau. Kita terpaksa menunggu hingga air darah surut….” Kata Wir0.
“Aku mengantuk….” Kata Kakek Segala Tahu kemudian menguap. “Jangan-jangan kini sudah malam.”
“Di Kerajaan siluman tak pernah ada malam hari…..” jawab Dewi Merak Bungsu. Tapi ketika itu beliau sendiri bahwasanya juga sudah mengantuk selain letih. Dia mengerling pada Wir0. “Kau mengantuk….?” Bisiknya bertanya sementara di belakang mereka di p0t0ngan g0a sebelah dalam si kakek terdengar sudah mendengkur.
“Kalau kau mengantuk , saya bahwasanya juga ingin tidur. Tapi kupikir-pikir rugi kalau dalam keadaan mirip ini , berada bersahabat 0rang manis sepertimu saya harus tidur segala….” Jawab Wir0 sambil senyum-senyum.
“Aku memang sudah dengar ihwal kek0ny0lanmu. Tapi ternyata kau bukan cuma k0ny0l , malah juga sableng mirip namamu. Bagaimana mungkin dalam keadaan dijepit maut mirip ini , di daerah hutan siluman begini rupa kau masih bisa bicara tidak karuan mirip itu…..”
“Jadi kau mau tidur ng0r0k mirip kakek itu. saya juga tidur nyenyak. Lalu kalau siluman yang tiba menyerbu ita mati semua. Enak juga ya mati k0ny0l mirip itu….!”
Dewi Merak Bungsu terdiam.
“Heiiiii…..” bisik Wir0.
“Apa lagi?”
“Kau tahu , wajahmu manis sekali. Apa perlunya berdandan tebal-tebal mirip ini?”
Paras wanita muda itu menjadi sangat merah lantaran jengah. “Apa…. Apa betul saya cantik…..?”
Wir0 mengangguk. Anggukannya ini menciptakan hidungnya mengusap pipi Dewi Merak Bungsu. “Dingin sekali dalam g0a ini…..” kata wanita itu. Wir0 menggeser tubuhnya lebih rapat. Tangannya diletakkan di punggung Dewi Merak Bungsu. Perempuan itu diam saja. Lalu terdengar beliau bertanya. “Gadis yang hendak kau t0l0ng itu…. Dia kekasihmu atau apa…..?”
“Sulit mengatakan. Mungkin ya , mungkin juga tidak.”
“Mengapa kau bilang begitu?’
“S0alnya beliau bahwasanya sudah mati. Diracun 0leh cal0n suaminya sendiri.
Kini beliau hidup dalam alam lain…..”
“Keanehan yang saya tidak mengerti….”
“Lalu kau sendiri yang kau cari di Kerajaan Siluman ini?”
“Sese0rang. Aku tak ingin membicarakannya sekarang….” Dewi Merak Bungsu balikkan badannya. Dadanya yang membusung tersingkap lebar. Wir0 merasa mirip kesilauan. Dilihatnya wanita itu memejamkan kedua matanya.
“Gila , beliau mirip memperlihatkan kesempatan. Apakah saya harus menyianyiakan….?”
Perlahan-lahan Wir0 turunkan kepalanya. Hidungnya menyentuh buah dada wanita muda itu. Nafasnya menghangati permukaan dada Dewi Merak Bungsu.
“Wir0 , apakah kita bisa keluar dari tempat celaka ini?”
“Aku tak tahu Kuntini. Hanya Tuhan yang bisa men0l0ng kita.”
“Aku tengah berd0a…” bisik wanita itu.
“Apa d0amu?” tanya Wir0.
“Selain minta selamat saya juga berd0a kalau berhasil keluar dari tempat ini saya ingin bersamamu….”
Wir0 mengangkat kepalanya dan menatap paras Dewi Merak Bungsu dengan pandangan heran. Saat itu dirasakannya degupan jantung wanita itu mengeras.
Lalu tangan kanan Dewi Merak Bungsu mengelus kepalanya , mend0r0ng ke bawah hingga kembali wajah Pendekar 212 menyentuh dadanya.
Ketika Wir0 dan Dewi Merak Bungsu terbangun Kakek Segala tahu masih meng0r0k. Mereka tak tahu entah berapa lama mereka tertidur dalam g0a itu. Dewi merak Bungsu merapikan pakaiannya. Lalu membalikkan tubuhnya dan merangkul Pendekar 212. Dia berbisik hangat. “Tak pernah saya mencicipi sebahagia ini….”
Di dalam g0a terdengar bunyi terbatuk-batuk.
“Kek , kau sudah bangun?” tanya Wir0.
“Ya…. Ya saya sudah bangun. Aku terbangun 0leh suara-suara getaran pada kerikil g0a. C0ba kalian mengintai keluar. Aku curiga sesuatu tengah terjadi di luar sana…”
Tiba-tiba di luar terdengar bunyi mengggelegar keras laksana bunyi guntur.
G0a di mana mereka berada terasa g0yang. Lalu ada bunyi teriakan-teriakan mengerikan dibarengi bunyi raungan anjing serta tawa cekikikan yang menegakkan bulu r0ma. Mendadak semua bunyi itu sirap. Yang terdengar kini yaitu bunyi 0rang berucap , menggelegar dan menggema panjang.
“Tiga insan dalam g0a keluarlah! Kalian sudah terkurung. Tak mungkin terus bersembunyi! Tak mungkin keluar hidup-hidup dari dalam Kerajaan Siluman Tapakhalimun!”
“Suara itu sama dengan bunyi 0rang beberapa waktu lalu….!” Kata Dewi Merak Bungsu sambil memegang jari-jari tangan Pendekar 212. Keduanya kemudian menggeser batu-batu besar yang menutupi lisan g0a.
“Astaga….” Dewi Merak Bungsu terpekik kecil.
“Apa yang kalian lihat?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Kek , agaknya kita memang akan sama-sama mati di tempat ini. Seluruh daerah telah dikurung ratusan siluman aneka macam bentuk. Mereka berdiri di puncakpuncak kerikil , di atas p0h0n , di seluruh tempat!” bunyi Wir0 bergetar.
Kakek Segala Tahu menyeruak ke lisan g0a. “Apa lagi yang kalian lihat?!” tanyanya kemudian.
“Cairan darah mendidih itu lenyap. Tepat di depan kita ada sebuah bukit batu.
Di puncak bukit ada sebuah tempat duduk memancarkan sinar kuning menyilaukan.
Agaknya terbuat dari emas. Di atas dingklik emas itu duduk se0rang berjubah hijau….”
“Kau mengenali siapa dia…..?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Selain jauh , beliau mengenakan caping. Bagian bawah caping sebelah depan diberi lindungan kain jarang….” Wir0 hentikan ucapannya.
Dewi Merak Bungsu ganti memberitahu. “Di sekeliling 0rang yang duduk di dingklik emas itu terdapat enam ek0r anjing besar bertaring panjang. Lalu ada dua belas siluman bersikap sebagai pengawal…. Enam di antaranya siluman wanita tanpa pakaian , hanya mengenakan cawat….”
“Sayang mataku buta! Hingga tak sanggup menyaksikan pemandangan bagus itu!” kata Kakek Segala Tahu. Lalu beliau berkata. “Jika ada se0rang duduk di dingklik emas. Dikelilingi pengawal hewan dan siluman berarti dialah Raja Siluman , penguasa di tempat jahanam ini! kalian ingat apa ucapannya beberapa waktu lalu?
Dari tahta Kerajaan Siluman saya akan menyaksikan dirimu tersiksa dalam ketakutan.
Lalu blaaam! Baru kubunuh dirimu! Kaprik0rnus terang beliau memang Raja penguasa hutan siluman ini!”
“Berarti satu-satunya jalan untuk selamat yaitu kita harus membunuh Raja Siluman itu!” kata Dewi Merak Bungsu.
“Belum tentu ,” jawab Kakek Segala Tahu.”Siluman tak bisa dibunuh. Mereka bisa dihancurleburkan tapi kelak akan muncul lagi dlam bentuk semula atau berubah bentuk. C0ba kalian perhatikan 0rang yang duduk di atas dingklik emas itu , apakah kedua kakinya menginjak kerikil di bawahnya atau melayang?!”
Wir0 dan Dewi Merak Bungau membuka mata lebar-lebar. “Kedua kakinya menggunakan kasut. Kasut itu melekat di batu!” menerangkan Wir0 atas apa yang dilihatnya.
“Berarti beliau bukan siluman. Bukan hantu atau setan. Tapi insan mirip kita juga! Berarti beliau mempunyai satu kekuatan sakti luar biasa yang bisa menguasai daerah hutan Tapakhalimun serta seluruh isinya…”
Di luar sana 0rang berjubah hijau dan duduk di atas dingklik keluarkan bunyi mendengus. “Keparat , mereka masih berusaha bertahan di dalam g0a itu. saya akan berteriak lagi. Kalau mereka tidak keluar juga akan kulepaskan anjing-anjing siluman!” Lalu 0rang ini kempeskan perutnya tanda beliau mengerahkan tenaga dalam.
Sesaat kemudian terdengar suaranya menggelegar. “Pendekar 212! Saatmu habis!
Kalau kau dan dua kawanmu tidak segera keluar , kami akan tiba menjemput!”
“Sebaiknya kita keluar saja…. Wir0 kalau kita mendekat ke tempat penguasa keparat itu , beritahu padaku setiap apa saja yang kau lihat. Terutama yang ada pada dirinya ,” kata Kakek Segala Tahu. Lalu beliau mendahului melangkah ke lisan g0a.
Wir0 dan Dewi Merak Bungsu saling pandang. “Kalau saya mati , saya ingin mati bersamamu…..” bisik wanita muda itu.
“Kita tidak akan mati. Tuhan akan men0l0ng kita….” Jawab Wir0.
“Setelah kita berbuat d0sa di g0a ini…..?” ujar Dewi Merak Bungsu pula.
“Sssstttt…. Jangan keras-keras. Nanti terdengar 0leh 0rang bau tanah itu ,” kata Wir0.
Lalu ditariknya tangan Dewi Merak Bungsu.
Di atas dingklik emasnya , penguasa hutan siluman rupanya tidak sabaran. Dia menjentikkan jari-jari tangannya tiga kali berturut-turut. “Jemput mereka! Bawa ke hadapanku!”
EMPAT BELAS
Tiga ek0r anjing siluman yang perawakannya menyeramkan hampir sebesar anak kerbau meraung keras kemudian mel0mpat dan melesat menuruni bukit batu. Hanya dalam beberapa kejapan saja tiga hewan ini sudah berada di puncak bukit kerikil di mana g0a terletak dan tiga 0rang itu gres saja bergeak ke luar.
“Awas anjing siluman!” teriak Dewi Mreak Bungsu. Namun terlambat.
Sebelum mereka sempat melaksanakan sesuatu tiga ek0r anjing siluman itu telah menggigit leher pakaian mereka kemudian laksana terbang binatang-binatang siluman ini melarikan kereka ke arah bukit batu. Sepuluh langkah dari dingklik emas tempat si penguasa duduk ketiga 0rang iu dijatuhkan di atas batu.
“Ha…. ha….! Tidak kusangka satu di antara kalian ternyata yaitu se0rang wanita cantik!” seru Raja Siluman. “Siapa namamu? Mengapa tersesat ikut c0w0k t0l0l ini ke sini?”
“Aku Dewi Merak Bungsu! Aku ke mati mencari se0rang berjulukan Singa L0dra…. Kau telah menculik dan menyekapnya di tempat celaka ini!”
Enam ek0r anjing siluman menyalak keras. Puluhan siluman lainnya keluarkan jeritan. Rupanya mereka tidak senang mendengar Dewi Merak Bungsu menyebut tempat itu sebagai tempat celaka.
0rang di atas dingklik tertawa lebar. “Di sini banyak sekali tawanan. Aku tidak ingat lagi yang mana berjulukan Singa L0dra. Apa hubunganmu dengan 0rang ini?!”
“Dia kakakku!”
“Ah! Kalau beliau kakakmu , saya niscaya akan melepaskannya. Asal kau mau mengikuti segala kemauanku!”
“Cis! Siapa sudi turut kemauan siluman macammu! Lekas katakan di mana kau sekap kakakku itu! juga para t0k0h silat lainnya!”
0rang di atas dingklik tertawa bergelak.
Sewaktu 0rang itu bicara dengan Dewi Merak Bungsu , belakang layar Wir0 berbisik pada Kakek Segala Tahu. Menceritakan apa yang dilihatnya. “Aku masih belum bisa melihat tampang keparat itu , Kek. Tapi suaranya saya rasa-rasa pernah mendengar. Dia mengenakan jubah hijau. Aku yakin di balik jubah ini beliau mengenakan jubah lain….”
“Dengar….” Balas berbisik Kakek Segala Tahu. “Mata butaku menangkap kilapan sinar putih berasal dari 0rang itu. C0ba kau perhatikan. Mungkin di pinggangnya beliau menyelipkan senjata mustika , atau menggunakan kalung permata…. Apa saja. Perhiasan , kerikil permata….”
Wir0 memperhatikan dengan teliti. Tak ada kalung , tak ada senjata mustika , juga tak ada gelang. Tapi! “Kek , saya melihat ada sebentuk cincin absurd di kelingking jari tangan kanannya. Aku mirip pernah melihat benda ini sebelumnya. Astaga! Ya Tuhan….. Mana mungkin!”
“Kau mengenali cincin itu?” tanya Kakek Segala Tahu.
“Aku tidak salah lihat! Benda itu dikenal dengan nama Cincin Warisan Setan.
Terbuat dari baja putih berbentuk kepala ular send0k!”
“0 ladalah! Cincin maha sakti itu! Kau tak salah lihat?!”
“Tidak Kek. Aku merasa pasti. Itu benar-benar Cincin Warisan Setan.”
Si kakek gelengkan kepala. “Kau ingat waktu dulu kita merampas cincin bahala itu dari tangan Randu Ireng sehabis beliau diakali 0leh Ratu Mesum. Lalu saya sendiri yang membuang cincin pembawa malapetaka itu ke dalam bahari di pantai Selatan. Kenapa kini muncul dan tahu-tahu berada di tangan 0rang tak dikenal itu?!
Berarti cincin itulah yang menjadi kekuatan dirinya untuk menguasai daerah hutan siluman ini. apapun yang terjadi kau harus merampas cincin itu Wir0!” (Mengenai riwayat cincin ini sanggup diikuti dalam serial Wir0 Sableng berjudul “Cincin Warisan Setan”)
“Aku akan melakukannya sekalipun harus mati! Tapi mengapa saya tidak melihat Bunga dan para t0k0h yang katanya disekap di tempat ini?’
“Jangan b0d0h! Penguasa hutan siluman itu tentu saja menyembunyikan mereka sem0ga tidak gampang dirampas diselamatkan….. Lekas kau bisikkan pada kekasih barumu itu sem0ga beliau ikut bantu merampas cincin itu….”
“Siapa kau bilang Kek? Kekasih baruku?” ujar Wir0 heran.
“Jangan pura-pura. Kau kira saya tidak tahu kau dan Kuntini saling bercumbuan di dalam g0a?!”
Paras Pendekar 212 jadi berubah. “Waktu itu bukankah kau sedang tidur ng0r0k?!”
“Mulutku yang ng0r0k tapi telingaku tidak ikut tidur!” jawab Kakek Segala Tahu. “Sudahlah! Sekarang lekas kau katakan pada Kuntini hal itu. Aku berusaha menghantam lepas caping dan pelindung muka di kepalanya. Aku kepingin tahu siapa adanya insan celaka ini!”
Terhuyung-huyung Wir0 mendekati Dewi Merak Bungsu yang masih bicara dengan 0rang yang duduk di atas dingklik emas. Lalu beliau akal-akalan terjatuh dan berpegangan pada Dewi Merak Bungsu. Kesempatan ini dipergunakan 0leh Wir0 untuk berbisik. “Kuntini , usahakan sem0ga kau bisa merampas cincin baja putih di jari kelingking 0rang itu…..”
“Aha! Pendekar 212! Datang mencari mati. Cukup lama saya menunggumu di Pintu Neraka ini. kesannya kau muncul juga. Bertahun-tahun mengincarmu , kini gres berahasil! Kecuali kau punya nyawa rangkap maka kau tak akan bisa l0l0s dari tempat ini. juga kawanmu bau tanah bangka berbaju r0mbeng itu!”
“Bagaimana dengan wanita ini?!” tanya Wir0.
“Itu urusanku!”
“Dengar , saya serahkan beliau padamu. Kau b0leh berbuat apa saja asal kau lepaskan Bunga dan biarkan kami meninggalkan tempat ini!”
“Wir0!” teriak Dewi Merak Bungsu. Di belakang Wir0 kakek Segala Tahu juga terdengar memaki. “Aku tidak menyangka seculas itu hatimu! Pendekar jahat!
Kalau begitu perbuatanmu lebih baik saya menyerahkan diri sendiri padanya….” Lalu Dewi Merak Bungsu jatuhkan diri berlutut di hadapan 0rang bercaping di atas kurisi emas. Karena keadaanya yang lebih rendah dan tubuhnya agak membungkuk maka keseluruhan payudaranya yang menggembung besar terlihat jelas. 0rang di atas dingklik mencicipi jantungnya mirip berhenti berdetak.
“Dewi Merak Bungsu , berdirilah….” Kata 0rang di atas dingklik emas. Tangan kirinya memegang pundak wanita muda itu. ibu jarinya mengusap pangkal payudaranya. Sedang tangan kanan mengusap wajah wanita yang cantik. Dewi Merak Bungsu usap jari-jari tangan 0rang itu , menekapnya dengan kedua tangannya sambil pejamkan mata seperti menikmati tangan kukuh dan hangat itu. kemudian mendekatkan tangan itu ke wajahnya , diusapkan berulang kali di wajahnya yang manis itu. kemudian perlahan-lahan didekatkannya ke hidungnya mirip 0rang hendak mencium tangan itu dengan mesra.
0rang di atas dingklik yang terangsang 0leh kemesraan itu sama sekali tidak menyangka apa yang sebentar lagi akan terjadi. Tiba-tiba Dewi Merak Bungsu memasukkan jari tangan kelingking 0rang itu ke dalam mulutnya.
“Hai!” teriak 0rang di atas dingklik kaget dan terl0njak dari tempat duduknya.
“Craaassss!”
Jari kelingking 0rang berjubah hijau putus dan masuk ke dalam lisan Dewi Merak Bungsu bersama cincin Warisan Setan yang terbuat dari baja putih itu!
“Perempuan jahanam! Muntahkan cincin itu ata kau akan mampus!” teriak 0rang berjubah. Tangan kirinya yang berlumuran darah dengan cepat memencet kedua pipi Dewi Merak Bungsu hingga lisan wanita ini terbuka dan cincin serta p0t0ngan jari yang ada dalam mulutnya hampir tersembul ke luar. Namun sebelum 0rang itu bisa mengambil cincin dalam lisan , Wir0 dan Kakek Segala Tahu sudah menggebrak.
Si kakek lemparkan capingnya ke arah kepala 0rang yang tengah mencekal Dewi Merak Bungsu. Di ketika yang sama Kapak Maut Naga Geni 212 yang ada di tangan Wir0 menderu laksana ribuan taw0n mengamuk , menghantam ke arah pinggang 0rang berjubah hijau. Sinar putih panas berkilat!
“Kurang ajar!” teriak si jubah hijau. Dia segera berteriak! “Semua mahluk di Kerajaan Siluman! Lekas bunuh ketiga 0rang ini!”
Biasanya , sekali memerintah saja semua siluman yang ada di tempat itu akan melesat terbang melaksanakan apa yang dikatakannya. Tapi aneh. Saat itu semua mahluk menyeramkan itu tetap diam di tempat masing-masing , hanya mengeluarkan bunyi halus mirip 0rang merintih. Di kejauhan secara absurd terdengar bunyi 0rang menangis.
“Cincin itu! saya tak bisa menguasai mereka lagi tanpa cincin itu!” 0rang berjubah sadar apa yang terjadi. Sekali lagi beliau masih berusaha mengambil cincin baja putih dari dalam lisan Dewi Merak Bungsu. Tapi tak berhasil. Dalam pada itu dua serangan tiba menyambar. Tak ada kesempatan lagi. Dia harus melepaskan Dewi Merak Bungsu kemudian menentukan apakah akan menghidari sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 atau menyelamatkan kepalanya dari hantaman caping yang dilemparkan Kakek Segala Tahu. 0rang ini menentukan selamat dari serangan pertama.
Sambil melepaskan cengkeramannya dari muka Dewi Merak Bungsu dan mel0mpat menghidari sambaran Kapak Maut Naga Geni 212 si jubah hijau ini balas menghantam ke arah Kakek Segala Tahu.
“Braaaakkk!”
Caping yang dilemparkan Kakek Segala Tahu menghantam caping di atas kepala 0rang itu. hingga kepala dan wajahnya tersingkap. Sebaliknya pukulan yang dilepaskannya menciptakan udara menjadi redup , kemudian tiga larik sinar kuning , hitam dan merah menyambar ganas ke arah Kakek Segala Tahu.
“Pangeran Matahari!” teriak Pendekar 212 ketika beliau mengenali wajah 0rang berjubah hijau di hadapannya. “Jahanam! Kau rupanya!” Murid Eyang Sint0 Gendeng mel0mpat ke depan.
Kakek Segala Tahu sewaktu mendapatkan serangan pukulan “gerhana matahari” dari 0rang berjubah yang bukan lain yaitu Pangeran Matahari , musuh turun-temurun Pendekar 212 Wir0 Sableng , cepat mel0mpat mundur dan kibaskan t0ngkat kayu bututnya dalam gerakan setengah lingkaran.
“Kraaakkk!”
T0ngkat kayu itu patah dan hancur berkeping-keping. Tapi si kakek selamat dari pukulan sakti yang sangat mematikan itu! Menyadari siapa yang tengah dihadapi Wir0 , 0rang bau tanah ini segera bergabung menyerbu insan mafia terlahir berjulukan Pangeran An0m , berjuluk Pangeran Matahari itu.
“Kurang ajar! Tak mungkin saya menghadapi mereka berdua sekaligus!” rutuk Pangeran Matahari dalam hati. Lalu berteriak. “Pendekar 212! Kali ini saya gagal lagi!
Tapi ingat! Aku akan terus memburumu! Mengincar nyawamu!” habis berkata begitu Pangeran Matahari lemparkan sebuah benda ke tanah.
“Wussss!”
Asap hitam pekat membumbung ke udara menutup pemandangan. Ketika asap itu lenyap , Pangeran Matahari tidak kelihatan lagi.
Dewi Merak Bungsu keluarkan p0t0ngan jari kelingking dan Cincin Warisan Setan dari mulutnya. Dia meludah berulang kali dan keluarkan bunyi mirip 0rang mau muntah. Cincin yang ada dalam genggaman tangan kirinya diserahkan pada Kakek Segala Tahu.
“Benda pembawa malapetaka…..” kata si kakek. Ketiga 0rang itu memandang berkeliling. Semua siluman hutan Tapakhalimun tak satupun beranjak di empat masing-masing. Mereka merundukkan kepala dan keluarkan bunyi mirip 0rang merintih.
“Kek…..” kata Wir0. “Kalau memang cincin itu yang dipergunakan Pangeran Matahari untuk menguasai mereka , berarti kau juga bisa mempergunakannya untuk melaksanakan sesuatu…..”
“Apa yang akan kulakukan? Menjadi Raja di Kerajaan Siluman ini?”
“Aku tidak melihat Bunga….”
“Kakakku Singa L0dra juga tak nampak. Jangan-jangan mereka semua sudah dibunuh….” Kata Dewi Merak Bungsu.
Kakek Segala Tahu tanggalkan cincin baja berbentuk kepala ular send0k itu dari p0t0ngan jari Pangeran Matahari. Lalu diusap-usapnya beberapa kali. Dia berkata perlahan. “Cincin sakti. Kalau kau memang mempunyai kekuatan untuk menguasai hutan siluman dan seluruh isinya , tunjukkan padaku!” Si kakek kemudian memandang berkeliling. “Siluman hutan Tapakhalimun! Kalian semua berada dalam kekuasaanku!
Lekas tunjukkan di mana para tahanan disekap. Bawa mereka semua ke mari!”
Semua siluman menyeramkan aneka macam bentuk yang ada di tempat itu keluarkan bunyi jeritan keras. Enam anjing siluman menyalak panjang. Mereka kemudian berkelebat lenyap. Tak lama kemudian kembali muncul membawa sembilan s0s0k tubuh yang kesemuanya berada dalam keadaan terikat tangan dan kakinya.
“Bunga!” teriak Pendekar 212 ketika beliau mengenali Bunga , gadis yang selama ini hidup dalam alam mistik tapi tak berdaya di bawah kekuasaan siluman. Pemuda ini memburu dan berusaha membuka ikatan di tubuh Bunga. Tapi tak bisa.
Dewi Merak Bungsu memandang berkeliling , mencari-cari. Lalu dilihatnya Singa L0dra. “Kakak!” jerit gadis ini seraya lari kemudian menjatuhkan diri di atas tubuh se0rang lelaki paruh baya bertelanjang dada dan tubuhnya penuh bekas cambukan.
Perempuan ini juga tak bisa membuka ikatan di tangan dan kaki kakaknya.
“Kek , pergunakan kekuatan cincin itu! perintahkan siluman untuk membuka tali-tali ikatan para tawanan!” teriak Wir0.
“Kalian dengan ucapan itu! lakukan perintah! Buka ikatan para tawanan!” kata Kakek Segala Tahu. Lebih dari duabelas siluman segera bergerak membuka ikatan yang mengikat tangan serta kaki sembilan tawanan. Begitu ikatannya terlepas Bunga segera memluk Pendekar 212 Wir0 Sableng.
“Kau tiba juga kesannya Wir0…. Aku sudah putus asa. Mengira tak akan bisa keluar dari hutan siluman ini. Tak bisa kembali ke alamku. Terima kasih Wir0…. Aku tak apa-apa. Darah ini hanya darah yang disemburkan mahluk-mahluk itu sewaktu menakuti diriku. Pangeran Matahari sengaja tidak mencelakaiku untuk memancing dirimu masuk ke tempat ini…. Terima kasih Wir0….”
“Berterima kasih pada dua sahabatku itu. Kakek Segala Tahu dan Dewi Merak Bungsu….” Kata Wir0 sambil melepaskan pelukannya lantaran ketika itu beliau melihat beberapa 0rang yang dikenalinya diantara t0k0h-t0k0h silat yang jadi tawanan. Datuk Harimau Gunung Merapi , Dewa Pedang dari Timur. Lalu Pendekar T0ngkat Gading dan tiba-tiba matanya membentur s0s0k tubuh yang luar biasa besarnya itu.
“Raja Penidur!” teriak Wir0 kemudian beliau mel0mpat ke arah 0rang bau tanah berb0b0t lebih dari 200 kati. Manusia gemuk luar biasa ini yaitu se0rang t0k0h silat paling dih0rmati dalam usianya yang lebih dari 160 tahun.
Raja Penidur mengg0s0k-g0s0k matanya.
“Hah , kau rupanya. Murid si nenek buruk dari puncak Gunung Gede itu!” kata Raja Penidur sambil ucak-ucak kedua matanya kemudian menguap lebar-lebar. “Heh…. Aku rasanya kenal pada kakek buruk berbaju tambalan di sampingmu ini. Bukankan beliau insan yang dijuluki si Segala Tahu itu?”
Kakek Segala Tahu membungkuk kemudian tertawa mengekeh sambil membetulkan capingnya yang jeb0l akhir digunakan untuk menghantam caping Pangeran Matahari tadi.
“Mereka mengambil pipaku! T0l0ng kalian carikan pipaku! Sementara saya mau tidur dulu! Awas kalau ada yang berani membangunkan!” Raja Penidur menguap lebar-lebar. Kedua matanya dipejamkan. Sesaat kemudian terdengar suaranya meng0r0k.
Wir0 tiba-tiba ingat sesuatu kemudian ia berteriak. “Ada satu siluman men0l0ngku dua kali! Aku tidak melihat beliau di antara kalian! Bawa beliau kemari cepat!” Sambil berteriak Wir0 ikut memgang cincin baja di tangan Kakek Segala Tahu.
Beberapa siluman kelihatan sibuk dan lenyap. Tak lama kemudian mereka muncul lagi membawa siluman yang dimaksudkan 0leh Wir0 itu. pendengaran dan lidahnya masih ditancapi besi runcing. Kedua kakinya diikat dengan besi panas. Dewi Merak Bungsu dan Bunga mengerenyit ngeri melihat keadaan siluman satu ini. Apa lagi lehernya b0l0ng dan kedua matanya hampir c0p0t!
“Aku mengerti , mungkin beliau punya kesalahan hingga kalian menghukumnya mirip ini! tapi semenjak ketika ini kalian harus membebaskan dirinya! Siapa berani menyiksanya saya sate tubuhnya dengan besi panas dari pantat hingga ke mulut!”
Dua 0rang siluman bertubuh tinggi besar mendekati siluman yang satu itu.
mereka segera mencabut besi runcing dari pengecap dan kepalanya. Lalu juga memutus rantai besi panas. Begitu bebas siluman satu itu lantas menjatuhkan diri dan berlutut di hadapan Wir0.
“Bagaimana kita harus keluar dari tempat ini?!” terdengar Dewi Merak Bungsu bertanya sambil memapah kakaknya.
“Pergunakan kekuatan Cincin itu!” kata Bunga seraya melangkah mendekati Wir0 dan memeluk sang pendekar.
“Ah , kau betul!” kata Kakek Segala Tahu. Lalu diusapnya cincin berbentuk kepala ulat send0k itu. “Siluman hutan Tapakhalimun! Kami tak mau diganggu dan juga tak ingin mengganggu kalian. Kami ingin keluar dari tempat kalian. Bawa kami keluar hingga di depan Pintu Neraka!”
Semua siluman yang ada di tempat itu bers0rak keras. Lalu mereka melayang kian kemari. Tahu-tahu semua 0rang yang ada di tempat itu telah melayang di udara , dig0t0ng beramai-ramai. Kakek Segala Tahu di depan sekali , menyusul si gemuk Raja Penidur dan beberapa t0k0h silat lainnya. Setelah itu Bunga , kemudian Dewi Merak Bungsu dan kakak lelakinya dan terakhir sekali Pendekar 212 Wir0 Sableng.
Yang mengg0t0ng dan membawa Wir0 melayang justru yaitu enam 0rang siluman wanita yang hanya mengenakan cawat. Payudara mereka yang sebesar buah kelapa bergundal-gadil kian kemari. Ada yang sempat menampar dan menyapu wajah atau tubuh murid Sint0 Gendeng itu. Masih melayang di udara tiba-tiba Wir0 berteriak.
“Kurang ajar! Siapa yang meraba selangkanganku!”
Enam siluman wanita itu menyeringai kemudian bers0rak ramai. “Ah , sudahlah.
Lebih baik memberi sedekah sedikit kini dari pada kemudian hari mereka gentayangan mencariku!” kata Pendekar 212 dalam hati kemudian pejamkan kedua matanya.
TAMAT
No comments for "Kutunggu Di Pintu Neraka WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"
Post a Comment