Delapan Sabda Dewa WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito
WIRO SABLENG
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tit0
EP : DELAPAN SABDA DEWA
SATU
WALAU matahari tertutup awan kelabu tebal namun udara dipermukaan maritim terasa panas bukan main. Wir0 pandangi baju dancelana putih k0t0r yang terletak di lantai perahu. Dia berpikir-pikir apakah akan menanggalkan pakaian hitam pemberian Ratu Duyung yang dikala itu dikenakannya kemudian menggantikannya dengan pakaian putih dekil itu. Dia tak biasa berpakaian serba hitam menyerupai itu. Mungkin itu sebabnya ia merasa sangat panas. Memandang berkeliling Wir0 tidak melihat lagi bahtera yang ditumpangi Dewa Ketawa. Di kejauhan kelihatan beberapa pulau bertebaran di permukaan laut.
Sesaat wajah anggun jelita serta sepasang mata biru mempes0na Ratu Duyung terbayang di pelupuk mata Pendekar 212. “Gadis aneh.. ,” kata Wir0 dalam hati. “aku tidak mau munafik kalau merasa tidak suka kepadanya dan ingin bertemu ia lagi. Tapi mengingat permintaannya…”
Wir0 geleng-geleng kepala sambil usap tengkuknya , “Menurut penglihatan Ratu Duyung lewat cermin saktinya ada sebuah pulau aneh yang terdiri dari gunung , bukit dan kerikil merah melulu. Dia tak bisa melihat lebih terang lantaran ada satu daya t0lak luar biasa. Mungkin sekali itu tempat kediaman Raja 0bat? Letaknya jauh di tenggara. Berarti di jurusan sebelah sana…” Wir0 berpikir-pikir. “Mungkin terletak jauh di balik deretan pulau itu.” Setelah memandang ke langit , Wir0 kesannya tetapkan untuk menuju ke pulau itu. Di membel0kkan perahunya kearah tenggara. Menjelang s0re sinar sang surya meredup dan udara yang tadinya sangat panas perlahan-lahan terasa sejuk. Lalu tiba-tiba saja ia teringat pada insan bercaping yang tubuhnya penuh k0reng itu.
“Aku tak sanggup memastikan siapa adanya itu insan sialan yang dijuluki Makhluk Pembawa Bala itu! Mengapa ia berusaha membunuhku secara licik! Lalu kemana ia kaburnya? Kukira sarangnya di sekitar lautan sini. Kalau bertemu jangan harap saya mau memberi ampun…”
Selagi jag0an 212 berpikir-pikir menyerupai itu , mendadak sepasang telinganya mendengar bunyi sesuatu diantara desau angin laut. Suara itu tiba dari sisi kiri kanan bahtera yang tengah dikayuhnya. Murid Sint0 Gendeng palingkan kepalanya ke kanan. Dia tak sanggup melihat apa-apa tapi ia yakin sekali di bawah permukaan air maritim ada sesuatu yang bergerak mendekati perahunya. Wir0 palingkan kepala ke kiri. Hal yang sama dirasakannya. Ada benda bergerak meluncur cepat mendekat bahtera dari arah kiri. Hatinya berdetak tidak enak.
“Ikan buas tidak akan secerdik itu menghadang bahtera dari dua arah berlawanan ,” pikir Pendekar 212. “Heemm… saatnya saya menc0ba ilmu menembus pandang yang diberikan Ratu Duyung!” Cepat Wir0 atur jalan darah dan kerahkan tenaga dalamnya pada kedua matanya. Dia memandang lekat-lekat ke arah permukaan air maritim di sebelah kiri bahtera dan kedipkan sepasang matanya dua kali.
“Huh!” Murid Sint0 Gendeng jadi melengak sendiri. Dengan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung dikala itu kurang jelas ia melihat ses0s0k tubuh insan berkulit sangat hitam. Di tangan kanannya ia memegang sebuah benda berbentuk t0mbak pendek bermata dua. Ketika Wir0 palingkan pandangannya ke kanan hal yang sama terlihat. Se0rang berkulit sangat hitam menyelam dalam maritim , meluncur cepat ke arah perahunya , membawa senjata t0mbak bermata dua!
Dua makhluk dalam air mencapai tepi bahtera dalam waktu yang bersamaan.
“Byarr! Byarr!”
Dua makhluk yang menyelam mencuat ke permukaan air. Saat itu juga Wir0 melihat dua s0s0k insan berkulit sangat hitam , berambut pendek mempunyai mata tanpa alis berwarna merah. Bibir mereka yang tebal juga berwarna sangat merah.
Wir0 perhatikan penggalan tubuh dua makhluk yang menyembul dari permukaan air maritim itu. Pada pundak kiri kanan dan penggalan tengkuk ada sebentuk daging berbentuk daging berbentuk sirip. Selain itu tubuh keduanya penuh 0t0t tanda mempunyai kekuatan luar biasa. Salah satu kehebatan mereka ialah kemampuan untuk berenang jarak jauh dan menyelam di bawah permukaan air laut.
“Siapa kalian?” hardik Pendekar 212 Wir0 Sableng.
Dua makhluk hitam menyeringai. Ternyata bukan Cuma mata dan lisan mereka saja yang berwarna merah , tapi pengecap dan gigi mereka pun berwarna merah. Anehnya barisan gigi-gigi mereka berbentuk kecil-kecil runcing menyerupai gigi ikan. Dan pengecap serta barisan gigi-gigi itu bergelimang cairan merah menyerupai darah! Dari lisan kedua mahkluk hitam ini kelular bunyi jeritan keras. Lalu s0s0k tubuh mereka melesat ke udara. T0mbak hitam bermata dua yang mereka pegang menderu ke arah rusuk kiri dan kepala penggalan kanan Wir0.
“Kurang ajar!” maki Wir0. Secepat kilat ia jatuhkan tubuh ke lantai perahu. Bersamaan dengan itu Wir0 hantamkan pendayung di tangan kanannya ke tubuh makhluk di sebelah kanan.
“Bukkk!” “Traakk!”
Kayu pendayung menghantam dada makhluk hitam sebelah kanan dengan telak. Kayu pendayung patah dua sebaliknya makhluk yang kena digebuk cuma menyeringai. Masih memegangi patahan kayu pendayung , Wir0 gulingkan diri ke penggalan kepala perahu. Ketika ia gres saja sempat berdiri dua mahkluk yang masih berada dalam air maritim bergerak mendekatinya dan pribadi menyerbu lagi.
Kali ini mereka pergunakan t0mbak masing-masing untuk menusuk penggalan bawah perut Pendekar 212!
Sambil mel0mpat cepat ke udara Wir0 keluarkan jurus “kincir padi berputar”. Kaki kanannya membabat deras ke arah kepala makhluk berkulit hitam di sebelah kiri bahtera sedang untuk yang di sebelah kanan ia lepaskan pukulan “kunyuk melempar buah”.
“Praakk!”
Tendangan kaki kanan Wir0 menghantam kepala makhluk sebelah kiri.
“Pecah kepalamu!” ujar Wir0 begitu dilihatnya lawan mencelat mental kemudian amblas ke dalam laut.
Makhluk di sebelah kanan keluarkan pekik keras melihat kawannya kena tendangan Wir0. Tubuhnya melesat ke atas dan c0ba menusukkan t0mbaknya ke arah tengg0r0kan Pendekar 212. tapi gumpalan angin sakti yang keluar dari tangan kanan Wir0 menghantam dadanya lebih dulu. Seperti temannya , makhluk yang satu ini terpental dan masuk ke dalam maritim diiringi jerit menggidikkan.
Wir0 menarik nafas lega. Dalam hati ia meng0mel. “Belum usang merasa tenteram tahu-tahu ada saja 0rang-0rang yang ingin membunuhku. Siapa mereka…? Kaki tangan 0rang renta berpenyakit kulit berjuluk Makhluk Pembawa Bala itu? Atau… ,” belum sempat Wir0 mengakhiri kata hatinya tiba-tiba di kiri kanannya terdengar teriakan keras.
“Huaahhh!” “Huaahhh!”
Dua makhluk berkulit hitam yang tadi disangkanya sudah menemui kematian dan karam tiba-tiba mencelat muncul dari dalam laut. Tubuh mereka melesat ke udara demikian tingginya hingga di lain kejap keduanya telah berada di atas Wir0.
Meskipun terkejut besar melihat insiden itu lantaran menyangka dua makhluk tadi telah menemui ajalnya namun Wir0 tak punya kesempatan untuk berpikir lebih lama. Begitu ia mend0ngak untuk melihat kedudukan lawan , dari udara makhluk-makhluk aneh ini telah menukik , lancarkan serangan berupa tusukan t0mbak ke punggung dan penggalan belakang kepala!
“Mereka tidak main-main. Mereka memang ingin membunuhku!” ujar Wir0.
Secapt kilat ia mel0mpat kemudian jatuhkan diri ke lantai perahu. Dua serangan terus memburu. Wir0 balikkan tubuhnya. Dua tangan yang dialiri tenaga dalam tinggi menggeprak ke samping. Kaki kanan menghantam ke udara. Inilah jurus yang disebut “membuka jendela memanah matahari”.
Hantaman tangan Wir0 memukul mental dua t0mbak di tangan dua lawannya. Sementara tendangan kaki kanan meny0d0k masuk ke perut salah satu dari dua makhluk berkulit hitam itu.
“Buukk!”
Makhluk yang kena hantaman tendangan menjerit keras. Tapi tubuhnya tidka mental lantaran dengan cepat kedua tangannya mencekal pergelangan kaki Wir0. Selagi Wir0 berkutat berusaha melepaskan cekalan itu , makhluk kedua berkelebat dan hantamkan satu j0t0san ke dada Pendekar 212!
Wir0 merasa dadanya menyerupai amblas! Tangan kanannya dihantamkan ke belakang melepaskan pukulan “benteng t0pan melanda samudra” , menciptakan makhluk hitam di belakangnya menjerit keras dan mental masuk ke dalam laut. Sambil menahan sakit Wir0 berusaha lepaskan kakinya yang dicekal. Perahu kecil berg0yang keras. Tiba-tiba si makhluk berteriak keras dan gerakkan kedua tangannya yang mencekal kaki Wir0. Saat itu juga tubuh murid Sint0 Gendengn itu mencelat ke udara kemudian melayang jatuh ke dalam laut!
Di dalam air , Wir0 cepat berenang berusaha mencapai perahu. Dia tahu dua lawan yang dihadapinya mempunyai kepandaian luar biasa dalam hal berenang dan menyelam. Menghadapi mereka di dalam maritim besar sekali bahayanya , apalagi dikala itu ia telah cidera akhir pukulan salah satu lawan. Namun sebelum Wir0 berhasil mencapai bahtera , salah satu kakinya tiba-tiba kena dicekal lawan yang tahutahu sudah berada di belakangnya. Dia kerahkan tenaga dalam kemudian sambil menendang menciptakan gerakan jungkir balik di dalam air. Kakinya memang bisa l0l0s namun begitu ia berbalik dua lawan sudah menggempurnya kembali.
“Makhluk-makhluk hitam ini rupanya tahan pukulan dan tendangan. Biar kuhantam dengan pukulan sinar matahari. Tapi…” Wir0 jadi meragu. Seumur hidup ia belum pernah melepaskan pukulan sakti itu di dalam air. Apakah ia sanggup melakukannya dan apakah pukulan sakti itu bisa ampuh menyerupai bila dilepaskan di daratan?
Makhluk pertama hanya tinggal satu t0mbak di depan Wir0. Murid Sint0 Gendeng segera salurkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Semula ia agak meragu namun ketika melihat tangan itu sebatas siku ke bawah menjelma putih menyilaukan maka legalah Wir0. Dia segera lipat gandakan tenaga dalamnya.
Di depan sana makhluk yang berada paling depan terkesiap dan hentikan gerakannya berenang sewaktu dilihatnya tangan kanan Wir0 memancarkan sinar putih menyilaukan dan air maritim di sekitar tempat itu mendadak s0ntak menjadi panas. Dua makhluk perlahanlahan berenang mundur , tak tahan 0leh hawa panas yang menyerupai hendak merebus mereka. Wir0 tidak tunggu lebih usang lagi. Dia hantamkan tangan kanannya ke arah makhluk paling depan.
Sinar putih menyilaukan berkiblat dalam laut. Satu gel0mbang air yang mendadak s0ntak menjadi panas laksana mendidih membuntal deras kemudian menyapu dahsyat ke arah makhluk hitam paling dekat. Makhluk ini berusaha menghindar dengan melesat ke kiri tapi gel0mbang air maritim yang panas menyapu lebih cepat. Tubuhnya kelihatan menggeliat merah dan mengepul kemudian terlempat jauh kemudian menyerupai sehelai daun kering melayang jatuh ke dasar laut.
“Heemm… mana kawannya… ,” ujar Wir0 dalam hati sambil memandang berkeliling. Dadanya yang terkena pukulan lawan tadi mendenyut sakit. Napasnya terasa sesak. Dia tak mungkin berada lebih usang dalma air. Napasnya sesak. Air maritim mulai tersed0t di hidung dan mulutnya. Selagi ia berusaha mengetahui dimana lawan yang kedua tiba-tiba ada satu lengna mencekal lehernya. Ketika ia c0ba melepaskan diri , tangan yang lain menjambak rambutnya. Dua tangan kemudian bergerak. Gerakannya terang hendak mematahkan batang leher Pendekar 212!
Wir0 hantamkan dua sikutnya sekaligus ke belakang.
“Bukkk!” “Bukkk!”
Hantamannya tepat mendarat di tubuh 0rang yang mencekalnya dari belakang tapi se0lah tidak dirasakan malah cekalan semakin ketat. Kepala Wir0 mulai tertekuk ke belakang. Matanya pedas tak bisa dibukakan lagi , apalagi untuk melihat. Air maritim mengucur masuk ke dalam tengg0r0kannya lewat lisan dan hidung!
“Celaka! Tamat riwayatku!” ujar Wir0. Dia kumpulkan seluruh tenaga yang ada , kerahkan tenaga dalam. Namun cekalan makhluk yang mencekalnya dari belakang tidak sanggup dilepaskan! Sementara itu napasnya sudah menyengal dan kekuatannya laksana punah. Sekujur tubuhnya menjadi lemas walau 0taknya masih bisa bekerja. Lawan yang menciptakan Wir0 tidak berdaya ternyata berlaku cerdik. Sambil terus mencekal berusaha mematahkan batang leher Pendekar 212 ia menciptakan gerakan yang membawa Wir0 bergerak semakin jauh menuju dasar maritim dimana tekanan air lebih kencang. Tekanan ini menciptakan Wir0 semakin lemas tak berdaya.
– == 000 == –
DUA
PADA saat yang sangat menetukan itu dimana kematian Pendekar 212 Wir0 Sableng b0leh dikatakan hanya tinggal sekejapan mata saja lagi , satu persatu muncul wajah-wajah 0rang yang paling bersahabat dengan dirinya. Mula-mula wajah Eyang Sint0 Gendeng sang guru si nenek sakti , kemudian wajah kakek Segala Tahu , sesaat terbayang tampang Dewa Ketawa. Lalu muncul wajah Bidadari Angin Timur. Terakhir sekali muncul wajah Ratu Duyung.
“Ra… tu…” Wir0 membuka mulut. “T0l0ng diriku…” tapi ucapan itu tak pernah keluar. Malah air maritim masuk semakin banyak ke dalam mulutnya ,. Kepalanya semakin tertekuk ke belakang. Mendadak entah bagaimana muncul satu wajah nenek berwarna putih. Hidungnya kecil dan penggalan sekitar mulutnya ditumbuhi bulubulu halus panjang. Nenek ini menyeringai memperlihatkan gigigiginya yang kecil serta lidahnya yang merah. Lalu sepasang matanya yang kehijauan membersitkan sinar menyilaukan yang sesaat menciptakan Wir0 jadi tersentak.
“Nenek Nek0… Nenek Muka Kucing…” ujar Wir0. Lalu terjadilah satu hal yang luar biasa. Mendadak s0ntak Wir0 ingat sesuatu.
“K0pp0… Ilmu Mematahkan Tulang!” desisnya. Satu kekuatan menyerupai muncul dalam diri Pendekar 212. Kedua tangannya bergerak memegang dua jari-jari kedua tangan makhluk hitam yang mencekalnya. Lalu , “Trak… trak.. trak… trak… trakk!”
Makhluk hitam menggeliat. Wajahnya memperlihatkan kesakitan setengah mati. Mulutnya terbuka lebar. Kedua matanya membeliak. Jari-jari tangannya hancur berpatahan. Tulangnya mencuat keluar. Karena tak sanggup menahan sakit makhluk ini lepaskan cekalan kemudian berenang menjauhi Wir0. (Mengenai Nenek Nek0 dan ilmu mematahkan tulang yang disebut k0pp0 silahkan baca serial Wir0 Sableng berjudul Sepasang Manusia B0nsai)
Wir0 sendiri yang tak ada niat mengejar cepat naik ke permukaan laut. Dia muncul di atas air dengan megap-megap. Ada cairan merah keluar dari mulutnya. Dia memandang berkeliling. Di kejauhan kelihatan perahunya terapung-apung dipermainkan 0mbak. Dengan susah payah Wir0 berenang mencapai bahtera itu. Perlahanlahan ia naik ke atas perahu. Rasa sakit pada dadanya belum lenyap. Malah kini napasnya bertambah sesak. Sekujur tubuhnya terasa letih dan tulang-tulangnya laksana tanggal dari persendian. Ketika ia hendak membaringkan tubuhnya di lantai bahtera tiba-tiba terdengar bunyi tawa mengekeh di belakangnya. Wir0 putar kepalanya. Sepasang matanya terpentang lebar ketika melihat siapa adanya 0rang yang duduk berjuntai di atas sebua bahtera putih yang tiba-tiba saja muncul di tempat itu tanpa diketahuinya.
“Makhluk Pembawa Bala. Manusia celaka…!” Wir0 berusaha bangun tapi tubuhnya yang lemah itu terhenyak kembali ke lantai perahu. Dari balik kain epil0g wajahnya kembali terdengar bunyi tawa mengekeh 0rang bercaping yang sekujur tubuhnya penuh k0reng membusuk.
Tiba-tiba s0s0k Makhluk Pembawa Bala yang mengenakan pakaian sebentuk jubah melesat ke udara. Dia mendarat di atas bahtera , sengaja tepat di atas tubuh Wir0. Wir0 sendiri dikala itu sudah tidak berdaya dan setengah pingsan. 0rang yang bercaping tegak dengan satu kaki menginjak perut sedang kaki satunya menginjak dada Wir0. Dia mend0ngak kemudian dari mulutnya kembali terdengar bunyi tawa bergelak.
“Mujur tak sanggup diraih , celaka tak bisa dit0lak! Kalau dulu kau masih bias l0l0s dari tangnaku , dikala ini jangan harap bisa lepas! Nyawamu memang sudah ditakdirkan harus amblas di tanganku! Ha… ha… ha… ha…!” bunyi tawa 0rang bercaping itu lenyap. Kaki kanannya diangkat kemudian dihantamkan ke arah tengg0r0kan Pendekar 212 yang terkapar di lantai dalam keadaan pingsan!
Hanya setengah jengkal lagi kaki kanan Makhluk Pembawa Bala akan menghancurkan leher dan membunuh Pendekar 212 tibatiba dari maritim sekitar bahtera melesat enam s0s0k tubuh. Bagian atas merupakan tubuh gadis anggun berambut panjang menutupi dada yang putih p0l0s sedang penggalan bawah merupakan ek0r ikan besar. Keenam gadis ini bukan lain ialah anak buah Ratu Duyung penguasa lautan di daerah itu.
“Tahan!”
Enam gadis berteriak berbarengan. Gerakan Makhluk Pembawa Bala serta merta terhenti. Memandang berkeliling dan melihat siapa yang ada di sekitar bahtera tampangnya yang tertutup kain cadar jadi berubah. Hatinya menjadi tidak lezat kalau tidak mau dikatakan gelisah.
“Jangan berani mencampuri urusanku!” Makhluk Pembawa Bala membentak.
Enam gadis membisu saja namun belakang layar mereka luruskan jari telunjuk tangan kanan masing-masing.
Melihat tidak ada yang bergerak Makhluk Pembawa Bala cepat teruskan hantaman kakinya ke leher Wir0. Pada dikala itu juga enam jari si gadis memancarkan sinar biru. Ketika mereka mengangkat jari masing-masing dan mengacungkan ke arah bahtera , enam sinar biru berkiblat , memapas ke arah tempat k0s0ng antara kaki Makhluk Pembawa Bala dengan leher Pendekar 212 yang menjadi sasaran. Makhluk Pembawa Bala berseru keras. Cepat ia tarik serangannya. Kaki kanannya diangkat. Lalu terdengar jeritan 0rang ini. Tiga ujung jari kakinya putus. Bagian sekitarnya laksana dipanggang. Ujung jubahnya mengepulkan asap pada penggalan yang kelihatan hangus.
“Kalau kau bermaksud meneruskan niat jahat membunuh lawan yang tak berdaya , kematian akan menjadi bagianmu lebih dulu! ,” salah se0rang dari enam gadis bertubuh setengah insan setengah ikan membentak.
Mulut 0rang bercaping yang terlindung di balik kain epil0g k0mat-kamit tapi tak ada bunyi yang keluar. Dia maklum jangankan enam 0rang , satu 0rang saja sulit baginya menghadapi gadis anak buah Ratu Duyung.
“Katakan pada Ratumu , lain kali sebaiknya ia sendiri yang dating untuk bertemu muka denganku!”
“Ratu kami tidak layak hadir di depan insan tak berkhasiat sepertimu!” jawab salah se0rang gadis. Makhluk Pembawa Bala menggeram dalam hati. Dia mel0mpat dari atas bahtera Wir0 , masuk ke dalam bahtera putihnya.
“Sebelum kau pergi dari sini kami perlu mengajukanbeberapa pertanyaan!” Makhluk Pembawa Bala walaupun merasa jeri terhadap enam gadis namun lantaran merasa ditekan lantas menukas.
“Jangan menciptakan saya jadi marah! Katakan apa mau kalian!?”
“Kami perlu tahu siapa kau bekerjsama dan apa perlunya semenjak sekian usang gentayangan di daerah ini!”
“Hemm… Itu rupanya pertanyaan kalian?” Makhluk Pembawa Bala mend0ngak kemudian tertawa bergelak.
“Katakan pada Ratumu , bila ia mau tiba menemuiku gres saya akan menjawab pertanyaan kalian!”
“Kau minta mampus! Terima kematianmu!” Enam larik sinar biru menyambar ke arah Makhluk Pembawa Bala.
0rang ini cepat menyambar caping di atas kepalanya. Lalu dengan sigap caping yang terbuat dari bambu itu dikibaskannya menangkis serangan enam larik sinar biru.
“Wussss!”
Makhluk Pembawa Bala menjerit keras. Caping bambu di tangannya hancur berantakam. Kepingan-kepingan caping itu bertebaran di udara dalam keadaan terbakar kemudian jatuh ke dalam laut. Si Makhluk Pembawa Bala sendiri mencelat mental dari atas bahtera hingga beberapa t0mbak kemudian tercebur masuk ke dalam laut. Enam gadis anggun anak buah Ratu Duyung menunggu hingga beberapa lamanya.
“Tubuhnya tidak muncul lagi… ,” berkata gadis di ujung kanan.
“Pasti ia sudah jadi mayit dan karam ke dasar laut. Beberapa hari di muka gres mayatnya akan mengambang di permukaan laut… ,” berkata gadis lainnya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” salah satu dari mereka bertanya. “Sesuai perintah Ratu kita harus men0l0ng perjaka ini. Ada darah di sekitar mulutnya. Jelas ia mengalamai luka dalam cukup parah… lekas berikan 0bat padanya. Aku akan men0t0k leher dan dadanya.” Lalu gadis itu membuka baju hitam Wir0 di penggalan dada. Sesaat ia pandangi penggalan tubuh yang k0k0h penuh 0t0t itu. Pada penggalan tengah dada terdapat rajah tiga angka yang tak asing lagi. Angka 212. Entah sadar entah tidak , gadis ini kemudian mengusap dada Pendekar 212 dengan lembut. Melihat hal ini mitra di sampingnya berbisik , “Apa yang kau lakukan!? Jangan berani berbuat macam-macam. Kalau hingga Ratu memantau lewat cermin saktinya dan melihat apa yang kau lakukan , kita semua di sini habis dihukumnya! Lekas t0t0k perjaka itu!”
Wajah gadis yang barusan mengusap dada Pendekar 212 tampak bersemu merah. Dia berpaling dan menjawab , “Tak perlu bicara keras. Jangan munafik. Aku tahu kau pun bekerjsama sangat tertarik pada perjaka gagah ini…”
“Sudah! Lekas t0t0k saja tubuhnya. Aku segera akan memasukkan 0bat ke dalam mulutnya!”
Gadis pertama segera mengusapkan dua ujung jarinya di penggalan leher dada Pendekar 212. Setelah itu gadis kawannya memasukkan sebutir 0bat berwarna biru ke dalam lisan Wir0. Sekali lagi gadis pertama mengusap penggalan leher Wir0. 0bat yang ada di dalam lisan murid Sint0 Gendeng meluncur ke dalam tengg0r0kannya terus ke perut.
“Sebelum matahari karam ia akan siuman dan luka dalamnya akan sembuh. Sekarang , sesuai perintah Ratu kita harus mend0r0ng bahtera ini ke arah tenggara dan meninggalkannya di satu tempat…”
Enam 0rang gadis itu lantas berenang smbil mend0r0ng bahtera kecil di atas mana Pendekar 212 Wir0 Sableng masih terbujur dalam keadaan pingsan.
– == 000 == –
TIGA
PANGERAN Matahari merangkul gadis yang duduk di pangkuannya itu kemudian dengan penuh nafsu menciumnya berulang kali. “Kekasihku , sebelum kita bersenang-senang di ruangan dalam katakana apa hasil peneyelidikanmu…”
Si gadis tersenyum. Sepasang lesung pipit muncul di pipinya kiri kanan. “Salah…” katanya seraya membelai rambut di belakang kepala Pangeran Matahari.
“Eh , apa yang salah?” tanya sang Pangeran. “Kita bersenang-senang dahulu gres nanti saya memberitahu hasil penyelidikanku!”
Pangeran Matahari tertawa lebar. Ditekapnya kedua pipi si gadis kemudian dikecupnya bibirnya lumat-lumat. Sambil menggeliat gadis dalam pelukan menurunkan tangannya ke bawah. Pangeran Matahari cepat memegang tangan itu seraya berkata. “Ingat kekasihku , urusan besar harus dikerjakan lebih dulu. S0al bersenang-senang bila semua sudah rampung seribu hari pun kau suka saya akan melayani…”
Si gadis tampak cemberut tapi serta merta pejamkan matanya dan mengeluarkan bunyi lirih ketika Pangeran Matahari menyelinapkan wajahnya ke balik pakaiannya di penggalan dada.
“Aku tidak tahan. Benar-benar tidak tahan Pangeran…” bisik si gadis setengah memelas.
Pangeran Matahari tarik kepalanya kemudian berkata. “Ceritakan padaku hasil penyelidikanmu…”
Si gadis melihat sepasang mata Pangeran Matahari memandang tak berkesip. Ada s0r0tan sinar aneh yang membuatnya jadi tak berani menatap. Dengan perilaku manja ia menggelungkan tangan kanannya di leher sang Pangeran kemudian bertanya , “Apa saja yang kau ingin ketahui , Pangeran?”
“Pertama sudah niscaya menyangkut musuh besarku Pendekar 212 Wir0 Sableng. Menurut dua bersaudara Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan , mereka berhasil membunuh Pendekar 212 di bukit di luar Kart0sur0. Aku telah meminta mereka menerangkan dengan membawa kepala Wir0 Sableng ke hadapanku. Kau sendiri apa yang kau ketahui?”
“Kemungkinan mereka memang telah membunuh Pendekar 212. Hanya saja berlaku ayal tidak membawa bukti. Tapi setahuku temp0 hari mereka telah menyerahkan Kapak Maut Naga Geni 212 dan kerikil sakti hitam milik Pendekar 212. Apakah itu belum cukup dijadikan tanda atau bukti bahwa musuh besarmu itu benar-benar sudah tewas? Atau mungkin dua senjata itu palsu belaka?”
Pangeran Matahari mengusap pinggul si gadis kemudian gelengkan kepala. “Kapak dan kerikil sakti itu asli. Tidak palsu. Tapi menyaksikan kepala Pendekar 212 jauh lebih meyakinkan daripada hanya mendengar sekedar lap0ran dari dua kaki tanganku itu…“
“Turut penyelidikanku , juga menurut beberapa keterangan 0rang-0rang kita , Pendekar 212 tidak diketahui lagi berada di mana. Ada yang mengira mayatnya dilarikan 0rang ke satu tempat di tengah maritim di selatan muara Kali 0pak….”
“Hemmm…. Kalau keteranganmu benar mengapa kaki tanganku di daerah itu belum tiba memberitahu?!” ujar Pangeran Matahari pula seraya mend0ngak dan usap dagunya yang ditumbuhi janggut pendek kasar.
“Kawasan maritim selatan berada di bawah pengawasan penguasa tertentu yang mempunyai beberapa pembantu. Salah se0rang dari mereka ialah Ratu Duyung. Ada gejala sesuatu telah terjadi di daerah itu. Beberapa aliran hawa sakti mengalami benturanbenturan aneh….”
“Ratu Duyung dari dulu memang tidak pernah mau tunduk terhadap kita…” kata Pangeran Matahari pula. “Sudah saatnya kita memikirkan untuk melaksanakan sesuatu terhadap makhluk setengah insan setengah ikan itu….”
“Pangeran ,” kata gadis yang duduk di pangkuan Pangeran Matahari. “Kalau saya b0leh mengusulkan , pada dikala kini ini sebaiknya kita jangan mencari musuh gres dulu. Salah-salah urusan besar yang tengah kau laksanakan bisa jadi tak karuan… “
“Hemmm…. Kau betul. Usulmu saya terima!” kata Pangeran Matahari kemudian menghadiahkan satu kecupan di bibir gadis itu.
“Kau lihat sendiri Pangeran. Aku tidak menyerupai gadis-gadis lain yang jadi kekasihmu. Mereka hanya menyediakan badan. Aku bukan cuma badan. Tapi juga pikiran dan sumbang saran….”
Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak. Sambil menepuk-nepuk pundak si gadis ia berkata. “Itulah kelebihanmu , kekasihku. Itu sebabnya kau menerima tempat utama di sisiku.”
“Kalau begitu apakah kini kita bisa bersenang-senang?” tanya si gadis. Lalu kaki kirinya digelungkan ke pinggul sang Pangeran. Pakaiannya yang tipis tersingkap. Ketihatan pahanya yang bagus mulus dan putih.
Pangeran Matahari mengusap paha itu berulang kali kemudian berkata. “Masih belum saatnya kekasihku. Harap kau suka bersabar. Kau harus kembali melaksanakan penyelidikan. Aku harus tahu apa yang sebetulnya telah terjadi dengan Pendekar 212. Apa benar ia sudah menemui ajal?”
“Nada suaramu masih saja membayangkan rasa was-was Pangeran ,” kata si gadis pula. kemudian tangannya meraba ke penggalan dada Pangeran Matahari. Di balik jubah hitam dan pakaian yang dikenakannya ia menyentuh sebuah benda yang terikat kencang ke dada sang Pangeran. “Kau telah mempunyai Kitab Wasiat Iblis. Mengapa harus merasa gelisah dan selalu memikirkan Pendekar 212?”
“Ada ujar-ujar menyampaikan bahwa punya satu musuh sudah terlalu banyak sedang punya seribu sahabat masih kurang banyak!” Si gadis tersenyum. “Jadi kau ingin saya menyelidik lagi , pergi dari sini dan melupakan semua kesenangan yang bisa kita dapatkan dikala ini?”
“Kataku harap kau bersabar. Masanya akan tiba saya akan jadi Raja Di Raja dunia persilatan dan kau kekasih tunggalku….” Si gadis menarik napas dalam kemudian perlahan-lahan ia berdiri ,
”Kalau begitu ada baiknya saya minta diri kini juga ,” katanya. Dia membungkuk sedikit untuk memeluk dan mencium Pangeran Matahari.
Namun dengan gerakan bandel ia mengg0yangkan pundak dan pinggulnya. Pakaian tipis yang menempel di tubuhnya serta merta mer0s0t jatuh ke lantai. Ketika Pangeran Matahari balas memeluk maka ia merangkul tubuh si gadis. Kalau tadi sang Pangeran selalu men0lak undangan si gadis maka kini dalam keadaan menyerupai itu ia tidak sanggup menahan gelegak darahnya. Dia berdiri dan siap hendak mendukung tubuh si gadis. Tapi tiba-tiba , “Braaakkk!"
Pintu ruangan terpentang. Ses0s0k tubuh masuk dan jatuhkan diri di lantai. Gadis anggun tanpa pakaian terpekik , cepat-cepat menyambar pakaiannya yang tercampak di lantai laiu mel0mpat tinggalkan tempat itu.
Pangeran Matahari tak kurang terkejutnya. Tampangnya merah mengelam , rahangnya menggembung hingga wajahnya berubah menyerupai jadi empat persegi!
0rang yang terkapar di lantai hanya mengenakan sehelai cawat hitam. Sekujur tubuhnya mulai dari muka hingga ke kaki berwarna sangat hitam dan liat. Pada dua pundak dan tengkuknya hingga ke punggung ada daging aneh berbentuk sirip ikan. Mata dan bibirnya merah.
Pangeran Matahari kerenyitkan kening. Kedua matanya mendelik tak berkesip menyaksikan bagaimana sepasang tangan insan hitam itu , mulai dari pergelangan hingga ke ujung-ujung jari tampak hancur berpatahan. Tulang-tulangnya mencuat putih menggidikkan.
“Jahanam! Apa yang terjadi dengan dirimu! Mana kawanmu?!”
Pangeran Matahari membentak seraya melangkah ke hadapan 0rang hitam yang terkapar di lantai.
“Ka… kawanku mati!” jawab 0rang hitam.
“Mati?! Apa yang terjadi?!”
“Dia… ia mati dibunuh Pendekar 212….”
Tampang Pangeran Matahari berubah. Alisnya berjingkrak dan daun telinganya menyerupai mencuat mendengar ucapan 0rang hitam itu. Kaki kanannya ditendangkan ke dada 0rang itu hingga si hitam ini mencelat dan terbanting ke dinding ruangan.
“Lekas katakan apa yang terjadi!” hardik Pangeran Matahari.
“M0h0n maafmu Pangeran… Kami tidak berhasil menjalankan kiprah yang kau berikan. Kawanku terbunuh. Aku sendiri kau bisa saksikan. Kedua tanganku dibikin hancur 0leh Pendekar 212!”
Kembali sepasang mata Pangeran Matahari memperhatikan kedua tangan 0rang hitam itu se0lah tak percaya. Tulang-tulangnya mencuat berpatahan…. “Ilmu apa yang telah digunakan mencelakai 0rang ini? Kalau memang Pendekar 212 yang melaksanakan setahuku ia tidak mempunyai ilmu kepandaian begini rupa….”
Pangeran Matahari mend0ngak. 0taknya berpikir keras. Tetap saja ia tidak bisa mendapatkan keterangan si hitam.
“Kau berdusta! Ini bukan pekerjaannya Pendekar 212!” hardik sang Pangeran. “Dia tidak punya ilmu kepandaian mematahkan tulang menyerupai ini! Aku tahu betul!”
“Saya bersumpah memang ia yang melakukan. Kami mencegatnya di pantai selatan…”
Pangeran Matahari melamun sesaat. “Jika kau memang telah berhadapan dengan Pendekar 212 , saya ingin menc0c0kkan ciri-ciri jahanam itu dengan apa yang kau saksikan. Bagaimana keadaan rambutnya?”
“Hitam lebat dan… dan g0ndr0ng.. ,” jawab si hitam. “Apa ia mengenakan ikat kepala kain putih di keningnya?” Si hitam menggeleng. “Hemmmmm….” Pangeran Matahari bergumam. Kecurigaan bahwa si hitam itu berdusta semakin besar. “Apa ia mengenakan pakaian serba putih?”
“Ti… tidak Pangeran. Dia mengenakan baju dan celana hitam….”
“Jahanam! Jelas 0rang itu bukan Pendekar 212! Seumur hidupnya ia tidak pernah mengenakan pakaian hitam! Kau berani mendustaiku!”
”Saya bersumpah saya tidak berdusta Pangeran…”
“Manusia keparat! Aku tanya padamu , apa benar kawanmu sudah mampus?!” bertanya Pangeran Matahari seraya bungkukkan tubuhnya sedikit.
“Dia memang telah menemui kematian Pangeran. Saya menyaksikan sendiri…” jawab si hitam yang masih terkapar di lantai sambil menduga-duga apa maksud pertanyaan Pangeran itu lantaran sebelumnya ia telah menjelaskan mengenai kematian kawannya.
Di hadapan si hitam Pangeran Matahari menyeringai.
Tiba-tiba seringai itu lenyap kemudian , terdengar suaranya berucap. “Kalau begitu kau susullah temanmu! Aku tidak butuh insan buruk dan t0l0l macammu!” Habis berkata begitu Pangeran Matahari ayunkan tangan kanannya.
Bersamaan dengan itu ia alirkan tenaga dalam dari penggalan dada di mana menempel Kitab Wasiat Iblis.
Pangeran Matahari tahu betul bahwa si hitam mempunyai ilmu kebal tertentu. Dia tak mau susah. Karenanya ia sengaja meminjam kekuatan ganas yang ada pada kitab iblis itu.
“Praakkk!”
Kepala insan hitam rengkah mengerikan. Tubuhnya terbanting ke lantai tanpa nyawa lagi!
Masuk ke ruangan dalam Pangeran Matahari dapatkan gadis kekasihnya duduk di atas sebuah alas tebal dan empuk. Keadaannya masih p0l0s menyerupai tadi. Pakaian tipisriya dipergunakan menutupi auratnya yang penting tapi itu pun tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya.
“Aku hampir yakin kalau Pendekar 212 memang sudah menemui ajal. Tapi saya merasa perlu menunggu hingga Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan muncul membawa kepala musuh besarku itu….”
“Apakah hingga dikala ini kau masih merahasiakan ihwal diriku terhadap mereka?” Pangeran Matahari mengangguk.
“Sebaliknya bagaimana dengan saudaramu. Aku tidak ingin….”
“Kau tak usah khawatir Pangeran. Sudah usang sekali saya tidak mendengar mengenai dirinya. Entah berada di mana…” jawab si gadis yang duduk di atas alas empuk sambil menjulurkan kakinya dan balik pakaian tipis.
Memandangi tubuh si gadis pikiran sang Pangeran jadi berubah. Kalau sebelumnya ia tidak berniat untuk bersenangsenang kini sehabis membunuh lelaki hitam tadi rangsangan dalam dirinya tiba-tiba saja menggelegak. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Perlahan-lahan pakaian tipis yang menutupi tubuh si gadis itu ditariknya.
– == 000 == –
EMPAT
SINAR sang surya yang siap karam menciptakan air maritim kemerahan. Enam gadis anak buah Ratu Duyung yang mend0r0ng bahtera berhenti berenang. Gadis yang bertindak sebagai pimpinan berkata.
“Kita mengantar hingga di sini. Di kejauhan ada sebuah pulau. 0mbak akan mend0r0ng bahtera dan membawa perjaka ini ke sana. Kita harus segera kembali. Ingat pesan Ratu. Kita dihentikan berada terlalu bersahabat dengan pulau-pulau yang banyak bertebaran di sekitar daerah ini.”
Lima gadis lainnya tidak menjawab. Dalam hati bekerjsama mereka ingin mengantar bahtera berisi Pendekar 212 itu hingga ke daratan , menunggu hingga ia siuman dari pingsan. Namun kelimanya tak berani membantah.
“Mudah-mudahan ia cepat sadar dan selamat. Mari kita kembali…”
“Tunggu dulu ,” salah se0rang dari lima gadis tiba-tiba berkata.
“Ada apa?!” “Aku mendengar menyerupai ada 0rang menyanyi. Di kejauhan…”
Empat gadis lainnya picingkan mata dan pasang telinga. Lalu hampir berbarengan mereka mengiyakan. Gadis yang bertindak sebagai pemimpin bekerjsama juga sudah mendengar apa yang didengar lima temannya. Namun ia cepat berkata. “Suara desau angin maritim dan alunan gel0mbang bisa saja menipu pendengaran kita.
Kalaupun memang yang kalian dengar ialah bunyi 0rang menyanyi maka itu ialah satu keanehan. Siapa pula yang menyanyi di tengah lautan begini rupa? Dan ingat pelajaran dari Ratu. Dibalik setiap keganjilan mungkin tersembunyi satu bahaya. Kaprik0rnus , kalian tak perlu banyak bicara lagi. Ikuti saya meninggalkan tempat ini!”
Enam gadis anggun yang tubuh atas p0l0s sedang sebatas pinggang ke bawah berbentuk ek0r ikan besar itu melepaskan tangan masing-masing dari bahtera kemudian berbalik. Sesaat kemudian keenamnya lenyap masuk ke dalam laut.
Perahu tanpa kemudi tanpa dikayuh itu meluncur perlahan dibawa alunan 0mbak menuju ke tenggara dimana di kejauhan kelihatan sebuah pulau berbentuk aneh. Di sini sama sekali tidak kelihatan pep0h0nan. Yang tampak hanya daerah bebatuan. Di bawah sinar matahari yang karam dan udara yang mulai menggelap pulau itu kelihatan angker. Keangkeran itu bisa menciptakan siapa saja jadi merinding lantaran dari pertengahan pulau yang gelap dimana terdapat gunung dan bebukitan kerikil merah tiba-tiba sayupsayup hingga terdengar bunyi 0rang menyanyi.
Laut selatan tak pernah damai
Gel0mbang selalu tiba menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu renta renta malang
Yang dinantikan budak malang
Apakah dikala ini petunjuk
Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini final penantian dan permulaan dari satu impian
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh impian
Agar tubuh renta ini bisa bebas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta
0rang yang menyanyi itu duduk bersila di atas salah satu puncak kerikil berwarna merah. Tubuhnya tampak bungkuk dimakan usia. Rambut , kumis dan janggutnya yang putih panjang melambailambai tertiup angin laut. Meskipun tempat itu cukup gelap namun masih bisa terlihat keganjilan pada muka 0rang renta ini. Wajahnya sebelah kanan yaitu mulai dari pertengahan kening , hidung , lisan dan dagu berwarna biru. Di dalam mulutnya senantiasa ada segumpal sirih campur tembakau yang selalu dikunyahnya tiada henti. Bahkan ketika menyanyi tadi sirih itu masih tetap berada dalam mulutnya namun anehnya suaranya bebas lepas seakan-akan mulutnya k0s0ng tak berisi apa-apa!
Di hadapan 0rang renta berjubah putih ini , di atas kerikil , terletak benda aneh , entah kerikil entah l0gam. Benda ini mengeluarkan sinar menyeramkan merah kebiruan menyerupai nyala sumber api yang sangat panas. Namun anehnya yang terpancar dari benda itu bukan hawa panas melainkan satu kesejukan. Makin usang kesegaran itu semakin menjadi-jadi malah kini hawa di tempat itu terasa sangat dingin. Si 0rang renta bermuka biru sebelah sampai-sampai kertakkan rahang menahan gigil kedinginan.
“Saatnya sudah tiba…” kata 0rang renta bermuka belang dalam hati. Seluruh kekuatan luar dalam dikumpulkannya supaya tubuhnya tidak ambruk 0leh hawa hambar yang menggempur dari benda bercahaya di hadapannya. Dalam keadaan sekujur tubuh menggigil 0rang renta ini angkat tangan kanannya. Lengan hingga ke ujung-ujung jarinya yang kurus keriput kelihatan bergetar kaku.
“Batu sakti kerikil pembawa petunjuk…” si 0rang renta berucap dengan bunyi bergetar. “Terbanglah tinggi , membubung ke angkasa.Melayanglah turun menukik ke bumi. Cari dan dapatkan anak insan aksept0r Delapan Sabda Dewa. Di dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti kerikil pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik bumi. Cari dan dapatkan anak insan aksept0r Delapan Sabda Dewa!”
Getaran tangan kanan si 0rang renta semakin keras. Benda di atas kerikil di hadapannya bersinar hebat menyilaukan. Didahului dengan teriakan dahsyat 0rang renta itu pukulkan tangannya ke udara.
“Byaaarrr!”
“Wussssss!”
Benda di atas kerikil bersinar. Tempat itu laksana diterangi sinar kilat. Lalu terjadi satu hal yang ajaib. Benda terang di atas kerikil melesat ke udara , mengeluarkan ek0r panjang cahaya terang. Di udara benda ini berputar tujuh kali berturut-turut. Lalu dengan kecepatan yang sulit diawasi mata , menyerupai bintang jatuh benda bercahaya itu melayang turun ke bumi. Tapi tidak kembali ke tempat asalnya semula di atas kerikil di hadapan si 0rang renta melainkan ke satu tempat di mana terdapat sebuah kerikil miring , diapit 0leh deretan batu-batu karang runcing.
KITA kembali dulu pada dikala tak usang sehabis enam gadis anggun anak buah Ratu Duyung melepas bahtera kecil di dalam mana Pendekar 212 terbaring dalam keadaan pingsan….
Perahu kecil dipermainkan 0mbak , meluncur perlahan ke arah pantai. pulau yang tertutup batu-batu besar berwarna merah sedang di sebelah depan pulau itu dikurung 0leh deretan batu-batu karang runcing laksana memagari.
Satu gel0mbang besar tiba-tiba muncul di tengah maritim , menghantam ke arah pulau dalam bentuk 0mbak yang bukan 0lah0lah dahsyatnya. Perahu kecil dimana murid Sint0 Gendeng berada dalam keadaan pingsan mencelat ke udara hingga setinggi lima t0mbak , hancur berkeping-keping. Tubuh Wir0 tampak berputar menyerupai kitiran kemudian melayang jatuh melewati dua puncak runcing kerikil karang kemudian terhempas di atas sebuah kerikil miring. Keningnya membentur penggalan kerikil yang men0nj0l. Terjadi satu hal yang aneh. Pada dikala tubuhnya mencelat di atas maritim dan jatuh ke atas kerikil Wir0 masih berada dalam keadaan pingsan. Tapi begitu keningnya membentur t0nj0lan kerikil yang menimbulkan luka serta kucuran darah , Pendekar 212 mendadak siuman dan sempat bangun sambil dua tangannya bersitekan ke batu.
“Apa yang terjadi dengan diriku. Di mana saya dikala ini…. “ Dia memandang berkeliling sementara telinganya mendengar bunyi deburan 0mbak tidak henti-hentinya memukul batu-batu karang yang memagari pulau kerikil merah itu.
“Aku mendengar suata deburan 0mbak. Berarti…. Eh , saya menyerupai mendengar bunyi 0rang menyanyi….” Murid Sint0 Gendeng memutar kepalanya , berusaha memandang ke arah datangnya bunyi nyanyian itu. Dia c0ba mendengar bunyi nyanyian yang diulang-ulang itu. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya. Di kejauhan ia hanya melihat puncak-puncak bukit kerikil yang menghitam dalam kegelapan.
“Aku akan pergunakan ilmu pemberian Ratu Duyung. Ilmu Menembus Pandang….” Wir0 segera kerahkan tenaga dalam dan atur jalan darah yang menuju ke matanya. Namun ia tidak sanggup memusatkan pikiran. Keningnya terasa sakit. Tangannya bergerak meraba.
Ada cairan mengalir di keningnya , turun ke pipi kiri. Saat itu keadaan belum gelap benar. Pantulan terakhir cahaya matahari masih bisa menciptakan Wir0 mengenali bahwa cairan merah yang ada di tangannya ialah darah. Darahnya sendiri.
“Apa yang terjadi dengan diriku…. Aku terluka ,” pikir Wir0. Dia mendadak saja merasa ngeri melihat darahnya sendiri.
Pendengarannya dipasang baik baik. “Suara nyanyian itu lenyap. Aneh kalau ada 0rang menyanyi di tempat ini. Manusia atau jinkah yang menyanyi. Tak terang apa kata-kata dalam nyanyiannya tadi….”` Wir0 siap untuk melihat dengan ilmu Menembus Pandangnya. Tiba-tiba ia jadi tercekat. Di langit dilihatnya satu benda aneh memancarkan sinar sangat terang melayang turun ke bumi.
“Bintang jatuh…”pikir Wir0. Kemudian disadarinya kalau benda bercahaya itu melayang jatuh ke arahnya.
“Astaga!” Wir0 berseru kaget.Dia berusaha menggulingkan diri. Tapi benda bercahaya datangnya laksana kilat. Jatuh menghantam kepalanya tepat pada penggalan luka di kening sebelah kiri kemudian amblas masuk ke dalam kepalanya!
“Wusss!” Kepala dan sekujur tubuh Pendekar 212 mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki bersinar terang benderang. Dia menyerupai melihat ada ratusan bintang menyilaukan di depan matanya. Saat itu juga sekujur tubuhnya terasa sedingin salju di puncak gunung hingga ia menggigil keras. Rahang menggembung geraham bergemeletakan. Wir0 berusaha bertahan. Tapi sia-sia. Sedikit demi sedikit tangannya yang menahan tubuhnya terkulai lemah ke samping. Badannya jatuh terbujur di atas kerikil miring. Kesadarannya perlahanlahan sirna.
Di atas kerikil miring tubuhnya yang sedingin es itu tidak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpentang lebar. Namun ia tidak melihat apa yang ada di sekitar ataupun di atasnya. Dia menyerupai 0rang tidur nyalang. Satu insiden aneh menyelubungi Pendekar 212. Dia karam ke dalam pusaran waktu dan laksana dised0t masuk ke dalam alam pada masa sekitar tujuh puluh tahun yang silam. Anehnya dirinya sendiri seakan-akan berada dalam pusaran waktu itu!
– == 000 == –
LIMA
LAUT utara tampak tenang. Angin bertiup sep0i-sep0i basah. Di langit tak berawan kawanan burung maritim terbang melintas di atas kapal besar terbuat dari kayu. Di buritan kapal Ageng Musalamat memeluk kakek berjubah dan bers0rban putih erat-erat , mencium kedua pipinya berulang kali dan berusaha menahan titiknya air mata.
“Muridku Ageng Musalamat , negeri Cina sangat jauh dari sini. Perjalanan menempuh maritim bukan satu hal yang mudah. Kau telah tetapkan untuk mendapatkan undangan Raja di sana. Ini satu keh0rmatan sangat besar bagi kita semua muridku. Terutama bagi dirimu. Berarti kau punya tanggung jawab sendiri terhadap dirimu. Lebih dari itu kau membawa serta empat puluh 0rang yang sebagian besar ialah murid-muridmu yang merupakan juga murid-muridku. Keselamatan mereka menjadi tanggung jawabmu…. “
“Wali Astanapura yang saya sebut dengan h0rmat sebagai Eyang Ism0y0 Jelantik , guru saya tercinta. Perjalanan besar ini memang bukan tanpa bahaya. Namun dengan bekal ilmu pengetahuan serta kesaktian yang Eyang berikan serta lindungan dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa , saya dan semua saudara-saudara yang empat puluh akan selamat hingga di tujuan. Lalu selamat pula kembali pulang ke tanah Jawa ini.” Kakek berjubah dan bers0rban putih anggukkan kepala.
“Bagaimanapun baiknya keadaan dan sambutan 0rang di sana , satu hal harus kau ingat bahwa negeri itu ialah tanah asing. Kaprik0rnus kau dan bawah umur harus pandai-pandai membawa diri. Jangan berlaku s0mb0ng , jangan hingga menyinggung perasaan 0rang lain. Jangan pamerkan sedikit ilmu silat dan kesaktian yang kau kuasai. Mungkin di negeri sana semua yang kau miliki itu tidak ada artinya sama sekali. Ingat peribahasa yang menyampaikan lisan kau harimau kamu. Di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung. Pesankan pada bawah umur supaya jangan lupa sembahyang lima waktu. Itu tiang agama yang harus ditegakkan dimana pun kita berada.”
“Terima kasih Eyang. Saya akan selalu ingat baik-baik semua pesan Eyang…. “
“Selamat jalan muridku. D0aku bersamamu….”
“Selamat tinggal Eyang. D0akan supaya kami kembali cepat ke tanah Jawa ini….” Wali Astanapura yang dipanggil 0leh muridnya itu dengan sebutan Eyang Ism0y0 Jelantik anggukkan kepala.
“Kau harus kembali ke sini tetap sebagai 0rang yang disebut secara lengkap Kanjeng Sri Ageng Musalamat….”
“Saya mendengar dan saya berjanji Eyang…” jawab Ageng Musalamat.
Eyang Ism0y0 berpaling pada se0rang perjaka yang tegak di belakangnya sambil memegang sebuah k0tak kayu jati berhias tabrakan Jepara. Pemuda ini segera menyerahkan peti yang dipegangnya kepada Eyang ism0y0.
“Ageng Musalamat ,” kata Eyang Ism0y0 seraya membuka epil0g k0tak kayu ,
“K0tak ini berisi sebuah senjata sakti mandraguna berupa keris. Baik mata keris , hulu maupun sarungnya terbuat dari emas yang ditempa demikian rupa hingga kekuatannya lebih at0s daripada baja. Keris ini dibentuk 0leh se0rang empu sakti di Bali yang masih merupakan kakekku. Ketika dibentuk senjata ini tidak bernama. Ayahku kemudian memberinya nama yaitu Kiyai Sabrang Tujuh Langit. Aku menitipkan keris sakti ini padamu untuk diserahkan pada Raja , negeri Cina sebagai tanda persahabatan yang tulus.” Eyang Ism0y0 membuka epil0g peti.
Satu cahaya kuning membersit keluar dari k0tak , mengenai wajah Ageng Musalarnat hingga lelaki berusia empat putuh tahun ini mengerenyit kesilauan. Meskipun silau namun Musalamat masih sanggup melihat s0s0k keris emas Kiyai Sabrang Tujuh langit yang ada dalam k0tak kayu. Si 0rang renta menutup k0tak kayu kembati kemudian menyerahkannya pada muridnya seraya berkata.
“Simpan senjata mustika ini di tempat yang baik. Kau tidak perlu terlalu mengawasinya. Tak ada se0rang pun yang akan sanggup mencurinya….”
“Maksud Eyang ada satu kekuatan yang melindunginya?” tanya Musalamat. Eyang Ism0y0 menunjuk ke atas.
“Tuhan Yang Maha Kuasa yang melindunginya. Siapa saja yang berniat jahat , misal berusaha mencuri atau meramp0k senjata ini dari pemiliknya yang sah atau selama berada dalam titipan yang sah maka 0rang jahat itu tak akan sanggup melakukan. Keris ini akan menjadi sangat berat se0lah seberat gunung batu!” Ageng Musalarnat mendapatkan k0tak kayu itu dengan hatihati. Lalu sang guru berkata.
“Sebelum layar terkembang , sebelum kapal besar berlayar , saya ingin melihat kamarmu. Seumur hidup belum pernah saya melihat kamar dalam kapal. Apakah menyerupai kamar ketiduran tuan puteri…?” Eyang Ism0y0 memegang pundak muridnya.
Walau sentuhan itu biasa-biasa saja namun Musalamat merasa ada satu hawa aneh yang menciptakan tubuhnya mengikut kemana telapak tangan sang guru mend0r0ng. Maklumlah Musalamat kalau gurunya bukan hanya sekedar ingin melihat kamar di dalam kapal. Apa yang diduga Musalamat ternyata benar. Begitu masuk ke dalam kamar di bawah buritan Eyang Ism0y0 pribadi mengunci pintu. Selagi Musalamat meletakkan k0tak kayu jati di dalam sebuah lemari , 0rang renta itu membuka ikatan kain putih lebar yang menggelung pinggangnya. Dari balik ikatan kain putih dikeluarkannya sebuah benda berupa lembaran-lembaran daun l0ntar yang sudah sangat renta membentuk sebuah kitab. Sepasang mata Sri Ageng Musalamat cepat melihat apa yang ada di tangan gurunya dan sekilas sempat membaca deretan karakter Jawa kun0 yang tergurat di sampul kitab.
“Kitab Putih Wasiat Dewa…” kata Ageng Musalamat dalam hati dengan dada berdebar.
“Muridku , saya yakin kau pernah mendengar ihwal kitab sakti ini…” Ageng Musalamat mengangguk.
“Saya sudah usang tahu kalau Eyang memang memilikinya , namun gres sekali melihatnya ,” jawab Musalamat sambil matanya tidak lepas dari kitab renta yang berada di tangan sang guru.
“Kitab ini dibentuk dan ditulis isinya 0leh nenek m0yang kita ratusan tahun yang silam. Siapa mereka adanya tidak diketahui. Yang terang pada masa kitab ini diciptakan nenek m0yang kita masih belum tersentuh hidup beragama. Mereka menganggap semua kekuatan , semua kesaktian tiba dari langit , daripada apa yang mereka sebut para Dewa. Walau demikian apa yang mereka pelajari dan apa yang kemudian mereka ajarkan bukanlah satu perbuatan sesat. Mereka mempunyai tata krama peradaban 0risinil yang tidak tercampur dengan kehidupan asing. Banyak dari semua tata krama dan peradaban itu yang kini tetap kita pergunakan sebagai panutan. Muridku , Kitab Wasiat Dewa ini bukan kitab sembarangan. Kitab sakti ini diwariskan padaku sekitar lima belas tahun yang lalu. Aku telah membaca dan mempelajari seluruh isinya. Namun saya merasa kepandaian apa yang saya sanggup dari kitab ini masih belum sempurna. Harus banyak waktu yang dibutuhkan untuk mendalami pelajaran dan kesaktian yang ada di sini. 0tak tuaku sudah tumpul. Usiaku sudah lanjut dan tubuhku sudah sangat rapuh. Mungkin saya sudah keburu menemui kematian sebelum saya sanggup mengerti seluruh isi kitab ini. Kau masih muda , 0takmu masih tajam dan tubuhmu masih kuat. Kurasa kau akan bisa menguasai isi kitab ini jauh lebih cepat dariku. Aku tidak punya 0rang lain yang sanggup kupercaya. Kitab Wasiat Dewa ini kuserahkan padamu. Jagalah baik-baik , selami isinya yang hanya beberapa lembar ini. Kelak kepandaian yang kau miliki dan berasal dari kitab ini akan bisa menegakkan kebenaran dan keadilan , menumpas segala kejahatan. 0rang yang memberikan kitab ini padaku pernah menyampaikan siapa yang mempunyai kitab ini dan mempergunakannya di jalan Allah maka ia akan menjadi penguasa dunia persilatan , pengubur kesesatan dan penumpas kejahatan…“ Eyang Ism0y0 menyerahkan kitab di tangannya pada Ageng Musalamat.
Sang murid yang tidak mengira hal itu akan terjadi tersurut mundur dengan muka pucat.
“Eyang… Sa… saya tidak berani mendapatkan kitab sakti ini…” kata Ageng Musalamat dengan bunyi bergetar.
“Kau tidak berani. Apakah kau mau menyampaikan apa sebabnya?” tanya Eyang Ism0y0 seraya menatap tajam sepasang mata muridnya.
“Saya… saya merasa tidak layak memilikinya. Saya insan kecil yang tak mungkin mampu…” “Muridku…” mem0t0ng Eyang Ism0y0.
“Di mata Tuhan semua insan itu sama adanya. Yang membedakan kita satu sama lain ialah ketakwaan terhadapNya. Yang membedakan kita satu sama lain ialah dari patuh pada larangan dan kukuh pada ajaranNya. Aku mempercayakan kitab ini untuk diserahkan padamu. Jangan siasiakan kepercayaan itu…”
“Eyang…”
“Aku pernah menerima petunjuk dalam mimpi. Kau akan bisa menguasai isi kitab ini dalam enam kali bulan purnama. Selama perjalanan ke negeri Cina yang akan menghabiskan waktu cukup usang , selama berada di atas kapal mulailah membaca dan menyelami serta mempelajari isinya… Terimalah!” Dua tangan Ageng Musalamat tampak gemetaran ketika mendapatkan Kitab Wasiat Dewa yang terbuat dari daun l0ntar itu.
“Terima kasih atas kepercayaan guru. Amanat Eyang tidak akan saya sia-siakan ,” Musalamat membungkuk dalam-dalam. Eyang Ism0y0 tersenyum.
Tiba-tiba ia melangkah ke pintu. Siap hendak membukanya tapi membatalkan niatnya. “Ada apa Eyang?” tanya Ageng Musalamat.
“Ada sese0rang mencuri dengar pembicaraan kita tadi ,” jawab si 0rang tua. Mendengar ini Ageng Musalamat segera membuka pintu dan menilik keluar.
“Tak ada siapa-siapa…” katanya. Tapi ia yakin pendengaran sang guru tidak salah. “0rangnya tentu telah menyelinap pergi. Muridku , ada se0rang culas di antara empat puluh anak buahmu.”
“Saya menyesalkan keb0d0han saya. Padahal saya telah menentukan mereka dari 0rang-0rang yang paling saya percayai. Agaknya saya harus melaksanakan penyelidikan. Kalau perlu keberangkatan hari ini saya batalkan.” Si 0rang renta gelengkan kepala seraya memegang pundak muridnya.
“Jangan habiskan waktu untuk melaksanakan hal itu. Jika kau sudah tahu ada se0rang yang bersifat lancung yang harus kau lakukan ialah berhati-hati , selalu bersikap waspada. Bila dalam perjalanan kau berhasil menangkap 0rang yang culas itu , kuperintahkan padamu untuk melemparkannya ke dalam lautan! Aku pergi sekarang.” Sri Ageng Musalamat cepat menyalami tangan gurunya dan menciumnya dengan khidmat.
Lalu 0rang renta itu diantarkannya hingga ke daratan. Ketika kapal besar itu mulai meluncur meninggalkan pantai utara pulau Jawa , Eyang Ism0y0 Jelantik didampingi beberapa 0rang sahabat dan anak buahnya masih tegak di tepi pantai. Dia gres bergerak sewaktu kapal kayu itu lenyap di batas pemandangan. Dari saku jubahnya dikeluarkannya sebuah tasbih. Lalu sambil melangkah 0rang renta ini mulai berzikir. Jauh di lubuk hatinya ada bunyi yang menyampaikan bahwa ia tak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya dengan muridnya itu.
“Entah saya yang akan meninggalkan dunia fana ini lebih dulu , entah ia yang akan menerima c0baan berat…” membatin si 0rang tua. “Tuhan , lindungi dia. Jauhkan ia dari segala malapetaka. Selamatkan ia dan seluruh anak buahnya kembali ke tanah Jawa.”
– == 000 == –
ENAM
LAUT malam mengalun tenang. Itu ialah malam pertama kapal kayu yang ditumpangi r0mb0ngan Kanjeng Sri Ageng Musalamat dalam pelayaran menuju utara. Setelah beberapa usang berada di anjungan menikmati udara malam di tengah lautan murid Eyang Ism0y0 itu turun ke bawah , masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di atas sebuah dingklik kayu kemudian menggeser papan kecil di langit-langit ruangan. Dari atas langit-langit kamar dikeluarkannya Kitab Wasiat Dewa. Dengan hati-hati kitab itu diturunkannya kemudian duduk di atas ranjang.
Ageng Musalamat sengaja menyembunyikan kitab sakti itu di atas l0teng kamar tidur lantaran khawatir ada yang berniat jahat. Apalagi ia sudah menerima pemberitahuan dari sang guru kalau ada sese0rang yang telah mencuri dengar percakapan mereka di dalam kamar.
Sejak siang tadi bekerjsama Ageng Musalamat ingin membuka dan membaca isi kitab itu namun hatinya merasa tidak tenang. Hal ini sanggup dimaklumi. Beban yang diberikan Eyang Ism0y0 dengan menyerahkan kitab sakti itu padanya bukan beban kecil. Kalau hingga ia tidak sanggup memegang amanat bukan dirinya saja yang akan celaka tapi rimba persilatan di tanah Jawa akan mengalami bencana.
Ageng Musalamat memperbesar lampu minyak di atas kepala tempat tidur. Dengan tangan gemetar ia membalik sampul Kitab Wasiat Dewa.
Pada halaman pertama tertera serangkaian g0resan pena dalam karakter Jawa kun0 berbunyi:
Bilamana tiba kebenaran maka meraunglah para iblis pembawa kejahatan.
Kejahatan mungkin bisa berjaya.
Tapi pada dikala kebenaran dan keadilan muncul tak ada satu kekuatan lain bisa membendungnya.
Kejahatan aben dan merusak laksana api.
Tetapi api itu sendiri bekerjsama ialah kekuatan dahsyat Yang diarahkan para Dewa untuk aben mereka.
Bilamana api memusnahkan mereka maka penyesalan tiada berguna.
Ageng Musalamat membaca rangkaian kalimat itu hingga tiga kali kemudian pejamkan mata merenungi dan meresapi. Sesaat kemudian gres ia membuka halaman kedua Kitab Wasiat Dewa yang terbuat dari daun l0ntar itu.
Di halaman ini terdapat gambar kepala seek0r harimau putih yang dikurung 0leh lingkaran putih. Pada penggalan bawah tertera g0resan pena berbunyi:
Putih lambang kesucian dan kebenaran.
Harimau lambang keberanian dan kejantanan.
Barang siapa berj0d0h dengan kitab ini maka kemana pun ia pergi harimau putih akan menjadi kekuatan , menjaganya dari segala musuh , ilmu hitam dan iblis jahat.
Setelah mengerti betul apa yang tertulis di halaman kedua itu maka barulah Ageng Musalamat membalik memasuki halaman ketiga. Di halaman ini terdapat g0resan pena panjang dalam karakter Jawa kun0 berukuran kecil. Ageng Musalamat terpaksa membaca dengan perlahan dan hati-hati supaya tidak ada g0resan pena yang terlewat.
DELAPAN SABDA DEWA
Barang siapa berj0d0h dengan Kitab Wasiat Sakti dan bisa mempelajari yang tersurat maupun yang tersirat , menguasai yang lahir dan yang batin maka hendaklah ia mencamkan apa-apa yang telah disabdakan.
Delapan Sabda Dewa ialah delapan jalur keselamatan.
Tanah – Sabda Dewa Pertama Manusia berasal dan dijadikan dari tanah
Kepada tanahlah insan akan kembali
Karenanya insan dihentikan c0ngkak dan takabur dan harus ingat bahwa dirinya berasal dari gumpalan debu yang hina.
Yang kuasa kemudian memberikan keh0rmatan , menjadikannya makhluk pilihan lantaran mempunyai pikiran yang membedakannya dengan binatang.
Tanah penggalan dari bumi ciptaan Yang Kuasa diberikan kepada insan untuk tempatnya berlindung diri , berkaum-kaum dan mencari rezeki.
Karenanya tidaklah layak kalau insan merusak tanah dan bumi untuk maksud-maksud keji serta berbuat kejahatan di atasnya.
Tanah dan bumi diberikan Yang Kuasa untuk kebahagiaan ummat manusia.
Karenanya insan wajib berterima kasih dengan jalan memeliharanya.
Tanah tempat kaki berpijak.
Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung
Ketika tanah dijadikan ajang pertumpahan para Dewa pun gelisah dalam sedih dan kecewa
Mengapa insan tidak berpikir dan berterima kasih?
Air – Sabda Dewa Ke-dua
Lebih dari separuh bumi diciptakan Yang Kuasa dalam bentuk air Air mengalir di bumi dan mengalir di tubuh manusia.
Air sumber kehidupan Air membawa berkah Mengapa insan tidak berpikir?
Mengapa insan berlaku keji mencemari air , membunuh makhluk yang hidup di dalam air dan di atas air
Air selalu mengalir dari atas ke bawah
Bukankah itu satu petunjuk bahwa mereka yang di atas harus men0l0ng mereka yang di bawah?
Pada dikala insan lupa dan tidak berterima kasih atas segala berkah
Maka para Dewa berseteru dengan mereka
Azab Yang Kuasa pun turunlah
Dan air menjelma bencana.
Api – Sabda Dewa ke-tiga
Ketika kecil menjadi mitra
Sewaktu besar menjadi lawan
Mengapa insan tidak mau berpikir dalam mencari manfaat daripada kualat?
Api aben seganas iblis
Di dalam tubuh insan ada api yang bisa merubah insan menjadi iblis
Barang siapa tidak bisa melawan api , bumi dan tanah akan meratap , air akan menangis insan akan menjadi api puntung neraka.
Para Dewa terhempas dalam perkabungan.
Udara – Sabda Dewa Ke-empat
Udara sumber kehidupan
Dihembuskan Yang Kuasa ke dalam jalan pernapasan jantung sanubari insan
Udara tidak terlihat 0leh mata , tidak teraba 0leh tangan
Di dalam yang tidak terlihat dan tidak tersentuh itu ada berkah yang maha besar
Mengapa insan masih mau berlaku culas
Mencemari udara dengan aneka macam kebusukan
Ketika jalan napas tak sanggup lagi mendapatkan hawa k0t0r ,
Para Dewa siap melihat kematian mengenaskan Mengapa insan tidak berpikir?
Bulan – Sabda Dewa Ke-lima
Sumber kesegaran dunia ini muncul dikala malam
Tiada keindahan melebihi malam dengan rembulan penuh memancarkan cahayanya yang lembut
Mengapa insan tidak bisa selembut sinar rembulan?
Padahal insan mempunyai pikiran , bulan tidak
Padahal insan mempunyai hati , rembulan tidak
Bukankah kelembutan sinar rembulan mencerminkan perasaan kasih?
Kasih dari 0rang renta terhadap anaknya
Kasih se0rang perjaka pada gadis curahan hatinya
Kasih sesama insan
Bahkan hewan pun mempunyai rasa kasih
Lalu mengapa insan terkadang melupakannya?
Mengapa kasih sanggup menjelma kebencian yang mendatangkan azab dan sengsara?
Dari siapa para Dewa akan menerima jawaban?
Matahari – Sabda Dewa Ke-enam
Ketika bumi berputar dan matahari menerangi jagat
Cahaya terang menjadi berkah bagi seisi alam
Yang kuasa tidak ingin para makhluk dalam kegelapan
Tetapi mengapa banyak diantara mereka yang sengaja mencari memeluk kegelapan?
Tidakkah insan berpikir Bahwa cahaya hati tak kalah pentingnya dari cahaya matahari?
Ketika bumi menjadi gelap lantaran sinar matahari terhalang rembulan ,
Apakah insan merenungi arti semua ini?
Mengapa ummat mengeluh teriknya matahari
Padahal diakhir dunia kelak mereka akan didera 0leh seribu teriknya matahari
Padahal bukankah para Dewa telah memberi ingat akan azab setiap d0sa?
Kayu – Sabda Dewa Ke-tujuh
Siapa yang menanam akan menuai
Itu k0mitmen Maha Pencipta Kebaikan yang ditanam walaupun sebesar zarah
Sang Pencipta tiada akan melupakannya
Karena Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui
Lalu mengapa kemudian insan merusak benih , merusak yang tumbuh di atas tanah
Padahal mereka perlu tetumbuhan untuk dimakan
Padahal mereka butuh pep0h0nan untuk berlindung
Adakah insan merasa bisa hidup tanpa p0h0n dan kayu?
Ketika angin ribut mengamuk dan pep0h0nan tumbang sama rata dengan tanah
Ketika para Dewa merenung mengingat d0sa
Ummat insan masih saja berbuat kerusakan
Padahal mereka punya 0tak untuk berpikir dan punya hati untuk merasa.
Batu – Sabda Dewa Ke-delapan
Ketika gunung kerikil meletus
Para Dewa bersujud minta ampun
Manusia menjerit , terhenyak dalam ketakutan
Tapi hanya seketika
Sesaat mereka terlepas dari tragedi kembali mereka lupa dan tegakkan kepala dengan c0ngkak
Batu dijadikan Maha Pencipta supaya insan mempergunakannya untuk melindungi diri dari keganasan alam
Agar insan ingat bahwa keteguhan keyakinan harus dipegang sekukuh kerikil
Ketika keyakinan runtuh menyerupai runtuhnya gunung kerikil
Para Dewa menangis meminta ampun
Apakah mata dan hati insan telah menjelma kerikil , buta dan bisu tiada rasa?
Kanjeng Sri Ageng Musalamat terpekur usang meresapi apa yang barusan dibacanya. “Delapan Sabda Dewa…” katanya dalam hati sambil memejamkan mata.
“Sungguh luar biasa. Tak pernah kubaca g0resan pena sebagus ini. Pengertiannya bila ditelusuri sangat mendalam. Menurut Eyang Ism0y0 buku ini ditulis pada masa 0rang belum mengenal agama. Tapi aneh sekali , apa yang tertulis di sini , dasar pemikiran sang penulis terang menyerupai berasal dari Kitab Suci. Siapa yang dimaksud penulis dengan para Dewa dalam kitab ini? Para t0k0h silat , para pemuka agama atau Dewa sungguhan…?” Sri Ageng Musalamat mengusap-usap dagunya
“Isi kitab ini mengandung makna bahwa insan harus ingat siapa dirinya , harus ingat pada aliran Sang Pencipta , harus hidup perduli diri sendiri dan perduli lingkungan. Delapan Sabda Dewa ditutup dengan rangkuman kalimat supaya insan mempunyai keyakinan sek0k0h batu…. Lalu dimanakah letak kehebatan buku ini? Mana ajaran-ajaran silat atau ilmu kesaktian yang katanya bisa menciptakan sese0rang menjadi penguasa dunia persilatan? Ah! Aku bersikap b0d0h. Yang kubaca gres beberapa halaman. Masih ada halaman lain yang harus kubaca dan kuteliti…”
Perlahan-lahan Sri Ageng Musalamat pergunakan jari-jari tangan kanannya untuk membuka halaman berikutnya yakni halaman kelima. Mendadak Ageng Musalamat mencicipi satu keanehan. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya bergetar keras. Lalu dua jari itu laksana menjelma kayu tak bisa lagi digerakkan.
“Astagfirullah , dua jari tanganku menjadi kaku. Tak bisa digerakkan. Aku tak bisa membalikkan halaman keempat untuk membuka halaman ke lima….” Ageng Musalamat kerahkan tenaga luarnya
“Celaka! Kini lima jariku semua jadi kaku!” Lelaki itu terkejut dan berubah air mukanya. Selain heran dan terkejut ada sekelumit rasa ingin tau dalam dirinya
“Membalikkan halaman kitab daun l0ntar ini api sulitnya. Tapi mengapa jari-jariku mendadak menjadi kaku tak bisa digerakkan?! Kalau saya salurkan tenaga dalam mungkin jari-jariku bisa pulih dan saya bisa membuka halaman kelima….“ Berpikir hingga disitu Ageng Musalamat kerahkan tenaga dalam murninya dari pusar ke pergelangan tangan kanan terus ke ujungujung lima jarinya.
Tapi apa yang terjadi kemudian menciptakan lelaki ini keluarkan seruan tertahan dan wajahnya mengerenyit tanda menahan sakit yang amat sangat. Tangan kanannya menyerupai disambar petir terbanting ke samping dan ada. asap putih mengepul dari tangan itu. Ketika ia memperhatikan ternyata tangan kanannya sebatas siku ke bawah telah menjelma sangat merah laksana tersiram air panas. Selagi Ageng Musalamat karam dalam keterkejutan dan kesakitan yang amat sangat tiba-tiba kamar di mana ia berada itu laksana runtuh 0leh bunyi auman dahsyat. Suara auman harimau. Bersamaan dengan itu hidungnya mencium harum busuk kemenyan hingga dalam kesakitan Ageng Musalamat kini juga dilanda rasa ngeri yang menciptakan bulu tengkuknya merinding!
“Ya Tuhan , lindungi diriku. Apa yang sesungguhnya terjadi. Jangan berikan c0baan padaku yang saya tidak sanggup menghadapinya…” Sekali lagi terdengar bunyi auman dalam kamar kayu yang sempit itu. Seperti disapu angin dahsyat Ageng Musalamat terbanting ke dinding kamar. Tangan kirinya masih memegang Kitab Wasiat Dewa. Kedua matanya membelalak ketika tiba-tiba di hadapannya muncul dua bayang-bayang aneh yang kurang jelas membentuk s0s0k tubuh insan dan s0s0k hewan besar!
– == 000 == –
TUJUH
WALAU dua s0s0k di hadapannya tidak beda menyerupai asap tipis namun Sri Ageng Musalamat sanggup melihat bahwa s0s0k pertama ialah se0rang renta bertampang gagah yang tubuhnya sangat tinggi hingga kepalanya yang berambut putih hampir menyentuh langitlangit kamar. 0rang ini mengenakan selempang kain putih dan memegang sebuah t0ngkat kayu berwarna putih. Sepasang matanya berwarna kebiruan dan menatap tajam pada Ageng Musalamat yang dikala itu masih terhenyak di atas ranjang kayu dan tersandar ke dinding kamar. Di sebelah kiri si 0rang renta , ini yang menciptakan Ageng Musalamat menjadi menahan napas dan keluarkan keringat hambar tegak seek0r harimau putih yang bukan main besarnya , mempunyai tinggi tubuh hingga sepinggang 0rang renta berselempang kain putih itu.
Sepasang mata harimau besar ini berwarna kehijau-hijauan , memandang tak berkesip pada Ageng Musalamat. Setelah menenangkan hati dan berusaha tabah , walau suaranya masih gemetar Ageng Musalamat bertanya.
“0r… 0rang tua…. Siapa kau adanya?” Dalam hati ia yakin dikala itu bukan berhadapan dengan insan dan harimau sungguhan. Mungkin jin maritim naik ke atas kapal bersama hewan peliharaannya? Atau mungkin kapal yang ditumpanginya itu berpenghuni makhluk halus? Untuk tambah menguatkan hatinya Ageng Musalamat diamdiam membaca aneka macam ayat suci dan memah0n pr0teksi pada Yang Maha Kuasa.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat…” 0rang renta berbentuk bayangan dan menyebut nama lengkap murid Eyang Ism0y0 itu.
“Seratus tahun kemudian saya dikenal dengan nama Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Jazadku sudah usang ditelan bumi. Kalau saya bisa muncui dan berdiri di hadapanmu dikala ini , itu tidak lain semata-mata ialah lantaran Kuasanya Tuhan Seru Sekalian Alam. Harimau putih di sampingku ialah Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Seperti diriku ia pun sudah usang bersatu dengan bumi yang dengan Kuasa Allah masih bisa muncul dan ikut bersamaku pada saat-saat diperlukan. Kami tiba untuk memberitahu padamu bahwa Kitab Wasiat Dewa tidak berj0d0h dengan dirimu…”
“Da… Datuk Ra0…. Aku tak mengerti maksudmu ,” kata Ageng Musalamat. “Kitab Wasiat Dewa yang ada di tangan kirimu itu tidak berj0d0h dengan dirimu. Dengan kata lain apa-apa yang ada di dalamnya dihentikan kau pelajari. Cukup kau hanya berkesempatan membaca hingga halaman ke empat. Dalam empat halaman itu sesungguhnya kau telah mempelajari hal-hal besar yang 0rang lain tidak pernah mengetahui atau rnenyadarinya sebelumnya….”
“0rang renta , harap maafkan kalau kukatakan saya masih tidak mengerti. Izinkan saya bertanya , apa hubunganmu dengan kitab ini?”
“Kami ialah sesepuh terakhir yang diserahi kiprah untuk menjaga Kitab Wasiat Dewa. Kitab itu dihentikan jatuh ke tangan 0rang yang tidak menerima izin dan ridh0. Apalagi kalau hingga mempelajarinya….”
“Kitab ini saya terima dari guruku Eyang ism0v0 Jeiantik yang dikenal dengan panggilan Wali Astanapura…”
“Kami tahu hal itu…” kata si 0rang renta pula.
“Beliau menyerahkan disertai pesan bahwa saya harus mempelajari serta menyelami isi kitab ini. Kelak saya akan mempunyai ilmu sangat berkhasiat untuk membela keadilan dan kebenaran , menguasai dunia persilatan di jalan Allah , pengubur kesesatan dan penumpas kejahatan…. Dia telah membaca isi buku ini walau katanya tidak tuntas. Karena sudah terlalu renta untuk mempelajari maka diserahkan padaku…. “
“Kami tahu , tapi ada yang kau tidak tahu. Ism0y0 Jelantik tidak pernah membaca apalagi mempelajari isi Kitab Wasiat Dewa itu…. “ Tentu saja Ageng Musalamat jadi terkejut mendengar ucapan 0rang renta berupa bayangan dan asap itu.
“Kami menitipkan Kitab Wasiat Dewa padanya melalui sese0rang. Dia menjaga kitab sakti itu selama lima belas tahun tanpa sekali pun berani membuka dan membaca isinya. Itu sesuai dengan pesan kami. Kami juga menyampaikan padanya bahwa kitab itu kelak harus diserahkannya pada 0rang yang sangat dipercayanya. Dan 0rang itu ternyata ialah dirimu…. “
“Kalau kau sudah tahu hal itu berarti tidak ada halangan bagiku untuk mempelajari segala ilmu kesaktian yang ada di dalamnya.”
“Tidak Ageng Musalamat. Kau dihentikan mempelajari isinya. Karena kau hanyalah se0rang mediat0r yang dititipkan untuk menjaga kitab itu baik-baik menyerupai kau menjaga keselamatan diri dan nyawamu sendiri. Kelak menyerupai Ism0y0 Jelantik , kau pun harus menyerahkan Kitab Wasiat Dewa itu pada sese0rang yang paling kau percayai…. “ Ageng Musalamat jadi melamun mendengar ucapan si 0rang tua.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , apakah kau mendengar dan mengerti apa-apa yang saya ucapkan tadi?” bertanya Datuk Ra0 Basaluang Ameh.
“Aku mendengar , tapi terus terang harap dimaafkan sulit saya bisa mengerti semua ini. Kau menyebut dirimu sudah ditelan bumi seratus tahun yang silam. Bagaimana saya bisa mempercayai hal-hal yang tidak bisa dicerna nalar dan pikiran ini…?”
“Ada hal-hal yang memang tak bisa dicerna 0leh 0tak insan , lantaran semua itu terjadi dengan k0drat dan kuasanya Tuhan. Bila insan memaksa untuk memecahkannya sedang ia tidak bisa melakukannya maka berarti insan mendera dan menyiksa dirinya sendiri. Namun apa yang saya katakan padamu tidak termasuk dalam hal-hal yang tak bisa dicerna nalar dan pikiran itu. Kami hanya meminta supaya kau menjaga Kitab Wasiat Dewa baik-baik , jangan membaca dan mempelajari isi kitab mulai dari halaman lima. Dan bahwa kau harus menyerahkan kitab itu kelak pada sese0rang yang sangat kau percayai….”
“Siapa 0rangnya…?” tanya Ageng Musalamat.
“Kau akan tahu sendiri pada dua puluh tahun mendatang…” jawab Datuk Ra0 Basaluang Ameh.
“Datuk….”
“Kau berjanji akan mematuhi apa yang kami minta?”
“Aku tak mungkin berjanji…. “
“Kalau begitu bersumpahlah!” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Ageng Musalamat menangkap nada bunyi yang mengandung ancaman. Lalu ia ingat apa yang terjadi atas dirinya sebelum kemunculan si 0rang renta dan harimau putihnya. Mula-mula dua jari tangannya kaku , kemudian seluruh jari tangannya. Ketika ia memaksa dengan mengerahkan tenaga dalam untuk membuka halaman ke lima dari Kitab Wasiat Dewa , sekujur lengannya bukan saja menjadi kaku tapi juga melepuh merah laksana tersiram air panas! Sesaat Ageng Musalamat memperhatikan tangan kanannya.
“Jangan-jangan 0rang renta ini yang telah melakukannya…” kata Ageng Musalamat dalam hati.
“Kalau saya men0lak permintaannya niscaya ia akan melaksanakan sesuatu yang lebih hebat dari ini….”
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , saya tahu apa yang ada dalam benakmu.” Tiba-tiba Datuk Ra0 Basaluang Ameh berucap , menciptakan Ageng Musalamat terkesiap.
“Jika kau merasa tidak sanggup menjaga Kitab Putih Wasiat Dewa , lebih dari itu tidak akan berlaku culas membaca seluruh isinya , maka dikala ini juga lebih baik kau serahkan kitab itu padaku!" Si 0rang renta angkat tangannya yang memegang t0ngkat. T0ngkat kayu putih itu di arahkannya pada Ageng Musalamat.
Saat itu juga tubuh Ageng Musalamat tersed0t ke depan. Keningnya menempel di ujung t0ngkat. Sementara sekujur tubuhnya terasa kaku dan sedingin es! Putuslah nyali murid Eyang Ism0y0 ini.
“Datuk Ra0… Aku , saya berjanji akan menjaga Kitab Wasiat Dewa dan nanti akan menyerahkannya pada 0rang yang paling kupercaya….“
“Kau tidak akan mengingkari janji?”
“Tidak Datuk….“
“Bagus. Tapi harap kau ingat. Jika kau berlaku curang dan mengingkari k0mitmen maka kau akan menerima malapetaka besar…“
“Aku tidak akan mengingkari k0mitmen Datuk ,” kata Ageng Musalamat pula.
Datuk Ra0 Basaluang Ameh tarik t0ngkatnya sedikit. Ujung t0ngkat terlepas perlahan dari kening Ageng Musaiamat. Tapi sebaliknya murid Eyang Ism0y0 ini terpental dan terbanting ke dinding kamar.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , kami tahu beban berat bagimu dalam menjaga Kitab Wasiat Dewa. Apalagi kau akan berada di negeri asing. Kau lebih beruntung dari 0rang-0rang yang pernah ketitipan kitab sakti bertuah itu sebelumnya…”
“Apa maksud Datuk Ra0?” tanya Ageng Musalamat.
“Kau akan kami berikan satu jurus ilmu silat Harimau Dewa. Mudah-mudahan bisa kau pergunakan untuk menjaga diri….”
“Datuk hendak mengajarkan tlmu silat Harimau Dewa. Di dalam kamar sesempit ini? Bagaimana mungkin…”
"Ilmu ini tidak perlu dilatih secara lahir. Pada dikala kau memerlukan , ilmu itu akan menuntunmu menghadapi musuh…”
“Ilmu aneh luar biasa. Jika Datuk tidak bergurau maka saya menghaturkan terima kasih…”
“Mendekatlah ke sini Ageng Musalamat. Duduk di lantai di hadapanku ,” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Ageng Musalamat turun dari atas ranjang kayu.
“Letakkan Kitab Putih Wasiat Dewa di atas pangkuanmu.” Kembali murid Eyang Ism0y0 melaksanakan apa yang dikatakan si 0rang renta berbentuk samar.
Setelah Ageng Musalamat duduk di hadapannya , dari balik selempang kain putihnya Datuk Ra0 keluarkan sebuah benda yang memancarkan sinar kekuningan. Benda ini ternyata ialah sebuah saluang terbuat dari emas. (Saluang = sebentuk seruling khas Minangkabau yang biasanya terbuat dari bambu). Datuk Ra0 dekatkan ujung saluang ke mulutnya.
Sesaat kemudian menggemalah bunyi alunan seruling , lembut berhibahiba. Harimau putih besar di samping sang Datuk tiba-tiba melangkah ke hadapan Ageng Musalamat. 0rang ini serasa terbang nyawanya ketika hewan itu tiba-tiba mengaum dahsyat kemudian membuka mulutnya lebar-lebar. Sekali lahap saja seluruh kepala Ageng Musalamat hingga ke pangkal leher masuk ke dalam mulutnya. Murid Eyang Ism0y0 ini tidak sempat mencicipi adanya hawa hambar yang keluar dari lisan harimau putih lantaran dirinya pribadi pingsan. Hawa aneh ini menjalar memasuki kepalanya terus mengalir ke tangannya kiri kanan.
– == 000 == –
DELAPAN
PEMUDA berpakaian biru berikat kepala merah dan bertubuh tegap itu sesaat tegak tak bergerak di depan pintu kamar. Dari balik tumpukan peti-peti besar melangkah keluar se0rang lelaki separuh baya. Mereka ialah angg0ta r0mb0ngan dan murid-murid Ageng Musalamat.
Lelaki yang melangkah dari balik peti menegur perjaka yang berdiri di depan pintu kamar Ageng Musalamat.
“Cagak Gunt0r0 , sedang apa kau di situ? Air mukamu kulihat aneh.” Pemuda berjulukan Cagak Gunt0r0 tersentak kaget 0leh teguran yang tiba-tiba itu.
“Kakak Munding Sura , syukur kau datang. Aku mendengar bunyi suara aneh dari dalam kamar pimpinan kita Kanjeng Sri Ageng Musalamat.” Munding Sura tersenyum.
“Kau gres sekali ini mengarungi maritim naik kapal. Berbagai bunyi dalam kapal serta bunyi angin maritim tentu telah mempengaruhi pendengaranmu.”
“Aku tidak tertipu pendengaran sendiri abang Munding. Aku barusan dari geladak. Kanjeng Sri Ageng tidak ada di sana. Aku yakin ia berada dalam kamar…”
“Malam belum larut , mustahil Kanjeng Sri Ageng masuk kamar untuk tidur…” kata Munding Sura pula.
“Suara-suara aneh apa yang tadi kau dengar?”
“Suara menyerupai 0rang jatuh. Mungkin juga bunyi 0rang dibanting ke dinding. Lalu saya dengar Kanjeng Ageng bicara. Tapi lawan bicaranya tak kedengaran suaranya…”
“Kau ngac0 Cagak! Apa kau kira pimpinan kita tidak waras bicara sendirian dalam kamar? Hemm… mungkin ia memang sudah tertidur kemudian mengigau…. Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Naik ke geladak melihat-lihat maritim waktu malam…“
Munding Sura hendak berlalu tapi Cagak Gunt0r0 cepat memegang bahunya dan berkata. “Kalau kita pergi begitu saja tanpa menyelidik , bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dirinya?”
“Lalu apa yang ada di benakmu?” tanya Munding Sura.
Cagak Gunt0r0 tidak menjawab. Dia melangkah mendekati pintu kemudian mengetuk. Tak ada jawaban.
Pemuda ini mengetuk sekali lagi. Kini sambil bertanya. “Kanjeng Sri Ageng , kau ada di dalam?” Tetap tak ada jawaban.
Cagak Gunt0r0 memandang pada Munding Sura. Lelaki satu ini kini mulai merasa tidak enak.
“Buka pintunya. Kalau terkunci buka paksa!” kata Munding Sura.
Cagak Gunt0r0 c0ba membuka pintu.
“Dikunci dari dalam…” bisiknya. Lalu perjaka bertubuh kekar dan besar lengan berkuasa ini pergunakan bahunya untuk mend0r0ng.
Sekali mend0r0ng pintu kamar terbuka. Dia melangkah masuk ke dalam. Munding Sura mengikuti. Namun belum sempat mereka melewati ambang pintu , kedua 0rang ini mel0mpat mundur sambil berbarengan keluarkan seruan tertahan.
Di dalam kamar yang tak seberapa besar itu , Kanjeng Sri Ageng Musalamat tampak terbujur di atas ranjang kayu. Punggungnya tersandar ke dinding. Di tangan kirinya ada sebuah kitab daun l0ntar dalam keadaan terkembang. Sekujur tubuh Ageng Musalamat tampak tak kurang suatu apa. Namun mukanya inilah yang menciptakan dua angg0ta r0mb0ngan itu terkejut bukan kepalang bahkan ngeri. Muka itu telah menjelma kepala seek0r harimau putih. Kejadian ini hanya terlihat sebentar lantaran sesaat kemudian perlahan-lahan wajah Sri Ageng Musalamat kembali pulih ke bentuknya semula. Cuma hanya sepasang matanya saja yang kelihatan terkatup.
“Apa yang terjadi dengan pimpinan kita? Barusan mukanya menyerupai harimau…” kata Cagak Gunt0r0 dengan bunyi bergetar lantaran masih diselimuti rasa ngeri.
“Aku mencium busuk kemenyan ,” balas berbisik Munding Sura.
“Yang begini merupakan gejala ilmu hitam…”
“Tidak mungkin Kanjeng Sri Ageng mempunyai ilmu hitam. Kita semua tahu betul hal itu!” kata Cagak Gunt0r0 pula.
“Jangan-jangan ada sese0rang telah berbuat jahat terhadapnya. Kita harus segera menciptakan ia sadar…” Munding Sura masuk ke dalam kamar.
Namun dikala itu perlahan-lahan Sri Ageng Musalamat membuka kedua matanya. Dalam keadaan sadar ia segera ingat akan apa yang barusan dialaminya. Namun tidak bisa memikir panjang lantaran dilihatnya ada dua 0rang anak buahnya berada dalam kamar.
“Cagak Gunt0r0 , Munding Sura! Ada apa kalian berada dalam kamarku?!” tanya Ageng Musalamat.
“Maafkan kami berdua Kanjeng Sri Ageng. Kami tidak bermaksud lancang. Namun tadi Cagak Gunt0r0 mendengar bunyi gaduh dalam kamar….”
“Betul Kanjeng. Saya mendengar bunyi menyerupai s0s0k tubuh terbanting ke dinding…. Kami mengetuk pintu kamar. Juga memanggil-manggil. Tapi tak ada jawaban. Karena khawatir terjadi apa-apa dengan Kanjeng kami kemudian memaksa masuk… ,” Begitu Cagak Gunt0r0 menerangkan.
“Waktu masuk kamar ini terselubung busuk kemenyan…” menambahkan Munding Sura.
“Begitu masuk kami lihat Kanjeng tersandar ke dinding. Mata terpejam entah tidur entah pingsan. Syukur kini Kanjeng sudah bangun. M0h0n maafmu kanjeng. Kami minta diri….”
“Tunggu…” kata Ageng Musalamat.
“Selain bunyi 0rang terbanting ke dinding , apa kalian juga mendengar suara-suara lain…?”
“Kami mendengar Kanjeng bicara dengan sese0rang. Tapi waktu kami masuk tidak ada siapa-siapa di kamar ini selain Kanjeng…. “ Menjawab Cagak Gunt0r0.
“Hemmm…. Berarti mereka tidak mendengar bunyi auman harimau putih itu. Juga tidak mendengar bunyi seruling dan bunyi Datuk Ra0 Basaluang Ameh ,” membatin Ageng Musalamat. Munding Sura melirik pada kitab yang ada di tangan kiri Ageng Musalamat dan masih dalam keadaan terbuka.
Melihat 0rang melirik gres Ageng Musalamat sadar. Kitab Wasiat Dewa cepat ditutupnya.
Lalu ia bertanya. “Apa kalian masih mencium busuk kemenyan di kamar ini?” Dua anak murid menggeleng.
“Kalian b0leh pergi. Tak usah khawatir. Tak ada apa-apa di sini. Aku berterima kasih kalian punya perhatian atas keselamatanku…. Sebelum pergi mungkin ada hal lain yang hendak kalian katakan padaku?” Cagak Gunt0r0 sesaat memandang pada Munding Sura.
Pemuda itu memandang maksudnya untuk memberi isyarat pada lelaki itu apakah akan diceritakan saja bagaimana tadi mereka menyaksikan wajah sang Kanjeng berubah menyerupai muka seek0r harimau putih. Namun Munding Sura dikala itu cepat-cepat membungkuk hingga Cagak Gunt0r0 terpaksa mengikuti meninggalkan kamar itu.
Sampai di geladak Munding Sura memegang lengan Cagak Gunt0r0 kemudian bertanya berbisik.
“Waktu di dalam kamar tadi kau berada lebih bersahabat ke tempat tidur Kanjeng Sri Ageng. Apa kau sempat memperhatikan kitab daun l0ntar yang dipegang Kanjeng?”
“Sempat , tapi saya tak tahu buku apa. Tulisannya kecil-kecil. Lagi pula ditulis menggunakan huruf Jawa kun0. Aku tidak begitu pandai membaca g0resan pena Jawa kun0… Kenapa kau menanyakan kitab itu?” “Aku khawatir kitab itu ada hubungannya dengan keadaan Kanjeng tadi…”
“Hem , bagaimana kau bisa mengira begitu abang Munding Sura?” tanya Cagak Gunt0r0.
Munding Sura melamun kemudian mengangkat bahu.
“Kurasa Kanjeng tidak suka kita membicarakan apa yang tadi kita saksikan. Sebaiknya kita lupakan saja insiden itu….”
“Kurasa begitu…” kata Cagak Gunt0r0. Lalu ia menepuk pundak Munding Sura dan berbisik.
“Lihat , Kanjeng Sri Ageng ada di ujung buritan sana…. Memang ada baiknya ia berada di maritim terbuka begini beranginangin. Dalam kamar terus-terusan udaranya kurang sehat. Panas dan pengap.”
*
* *
Sambil berpegangan pada pagar kayu k0k0h di buritan kapal sebelah kiri Ageng Musalamat meraba dadanya.
Di balik pakaiannya tersimpan Kitab Putih Wasiat Dewa. Setelah apa yang tadi terjadi di dalam kamar , kitab itu tak akan ditinggalkannya ke mana pun ia pergi.
Memandang ke arah lautan luas yang menghitam dalam kegelapan malam Ageng Musalamat merenungi apa yang telah ,dialaminya.
“Dua puluh tahun…. Menurut 0rang renta yang muncul secara aneh itu saya harus menyerahkan Kitab Wasiat Dewa pada se0rang yang paling saya percayai. Padahal Eyang Ism0y0 jelas-jelas menyampaikan bila saya mempelajari keseluruhan isi kitab ini saya akan menjadi penguasa dunia persilatan. Hemmm… mengapa 0rang renta itu berdusta? Kalau saja sebelumnya ia menceritakan terus terang padaku bahwa kitab ini tidak berj0d0h rasanya bebanku tidak akan seberat ini. Atau mungkin ia sendiri tidak mengetahui kalau dirinya , dan juga diriku hanya ketitipan saja sebelum Kitab Wasiat Dewa hingga di tangan 0rang yang benar-benar berj0d0h? Lalu siapa pula gerangan 0rang yang beruntung itu?” Ageng Musalamat menarik napas dalam berulang kali.
“Waktu kutanya apakah ada hal lain yang hendak disampaikan , Cagak Gunt0r0 kulihat menyerupai hendak menyampaikan sesuatu. Tapi Munding Sura cepat-cepat keluar hingga perjaka itu tak sempat bicara. Atau mungkin Munding Sura tidak mau Cagak Gunt0r0 mengatakan. Mengatakan apa? Aku harus menyelidik.” Lama Sri Ageng Musalamat merenung dan berpikir-pikir di buritan kapal.
Dia gres beranjak dari situ ketika angin maritim terasa semakin kencang dan lembab. Ketika ia mend0r0ng pintu kamar dan masuk ke dalam , langkah Ageng Musalamat serta merta terhenti. Peti kayu berukir tempat disimpannya keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit dilihatnya tercampak di lantai. Ageng Musalamat cepat mengambil dan membuka tutupnya untuk memeriksa. Tujuh cahaya emas membersit menyilaukannya. Hatinya lega mendapatkan senjata mustika itu masih berada dalam peti.
“Peti ini sebelumnya berada di atas meja kecil sana. Bagaimana mungkin tahu-tahu berada di lantai? Pasti ada sese0rang yang c0ba mencurinya…“ Lalu Ageng Musalamat ingat akan keterangan Eyang Ism0y0.
Barang siapa bermaksud jahat dan mencuri keris sakti itu maka senjata itu akan berubah beratnya laksana segunung batu! Ageng Musalamat c0ba mereka-reka.
“Ada sese0rang menyelinap masuk. Mengambil peti berisi keris. Ketika c0ba membawanya keluar kamar tiba-tiba keris menjadi sangat berat hingga ia tidak bisa mengangkat dan lepas dari pegangannya. Pengkhianat terkutuk. Pencuri laknat. Ada pengkhianat dan pencuri di atas kapal ini. Celakanya ia ialah salah se0rang dari murid-muridku!” Dengan mengepalkan tangan Ageng Musalamat tinggalkan buritan.
Cagak Gunt0r0 ditemuinya lebih dulu. Pemuda ini terduduk di salah satu sudut kapal. Kaki kanannya tampak infeksi dan luka. Se0rang kawannya sibuk menguruti kaki yang cidera itu.
“Hemm…. Dia rupanya ,” kata Ageng Musalamat dalam hati.
Dia melangkah mendekati 0rang yang mengurut dan menepuk bahunya.
“Pergilah… Biar saya yang meneruskan mengurut kakinya.” “Kanjeng…. Tak usah. Biarkan saja dia…” kata Cagak Gunt0r0.
Namun pandangan mata pimpinan mereka menciptakan perjaka yang tadi mengurut segera berdiri dan tinggalkan tempat itu. Setelah mereka berada berdua saja Ageng Musalamat berj0ngk0k di depan Cagak Gunt0r0. Sambii memegang kaki kanan perjaka itu ia berkata.
“Hemmm… Cidera kakimu cukup parah. Apa yang terjadi Cagak Gunt0r0?”
“Kakiku kejatuhan salah satu besi penahan tiang layar kapal…“
“Pasti kau tidak berhati-hati. Malu rasanya perjaka sehebatmu bisa dihajar lawan tidak bernapas menyerupai besi itu!” Ageng Musalamat menyeringai.
Lalu tangan kirinya bergerak memegang kaki kanan muridnya itu. Pegangan sang Kanjeng bukan pegangan sembarangan lantaran disertai tenaga yang besar lengan berkuasa hingga Cagak Gunt0r0 teraduh-aduh kesakitan.
“Dengar , saya bisa meremukkan tulang kakimu mulai dari ujung jari hingga ke mata kaki…” kata Ageng Musalamat dengan bunyi tajam dan pandangan mata tak berkesip.
“Kanjeng…. Apa maksudmu?” tanya Cagak Gunt0r0 sambil menahan sakit.
“Katakan apa yang bekerjsama terjadi! Kakimu itu cidera bukan lantaran kejatuhan besi kapal!”
“Aku tidak berdusta Kanjeng. Perlu apa….”
“Waktu saya berada di buritan kau menyelinap masuk ke dalam kamarku. Berusaha mencuri peti kayu berisi keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit! Benda sakti itu tiba-tiba menjadi berat dan kau tidak bisa memegangnya. Peti kayu terlepas dari tanganmu , jatuh menimpa kaki kananmu hingga hampir remuk!” Cagak Gunt0r0 tampak berubah mukanya.
“Kanjeng… saya tak pernah berdusta padamu…. Mengingat budimu saya mengh0rmati lebih dari mengh0rmati 0rang renta sendiri…“
“Kedua 0rang tuamu sudah mati! Tak perlu disebut-sebut. Aku tidak percaya pada keteranganmu. Ingat , kau dulu kupungut dari pasar sewaktu jadi pengemis kecil , kurus kering dan k0rengan. Hebat kalau kau menyebut segala budi. Kau memang telah membuktikan. Dengan mencuri keris itu tapi gagal lantaran kau tidak tahu bagaimana saktinya senjata itu!" Wajah Cagak Gunt0r0 tampak pucat sekali. Dia menggelenggelengkan kepalanya berulang kali.
“Menurut pesan Eyang Ism0y0 insan culas sepertimu layak dibentuk mampus. Tapi saya masih mau memberi pengampunan. Kedudukanmu sebagai murid saya cabut. Derajatmu kini sama dengan pembantu yang harus melayani semua angg0ta r0mb0ngan! Kalau kelak nanti tidak terbukti bahwa memang bukan kau yang hendak mencuri senjata mustika itu maka saya akan memikirkan untuk memulihkan kedudukanmu kembali!” Kanjeng Sri Ageng Musalamat bantingkan kaki kanan Cagak Gunt0r0 ke lantai kemudian berdiri dan tinggalkan tempat itu.
“Kanjeng!” panggil Cagak Gunt0r0.
“Kau keliru Kanjeng. Aku bersumpah bahwa saya tidak….” Ageng Musalamat tidak perduli.
Dia melangkah terus dan kesannya lenyap di.balik tumpukan peti-peti besar. Di tangga yang menghubungkan penggalan bawah dengan geladak kapal kayu besar itu Ageng Musalamat berpapasan dengan Munding Sura. Anak muridnya ini segera ditariknya ke salah satu sudut di bawah tangga.
“Aku perlu klarifikasi darimu Munding Surya. Kuharap kau menjawab dengan jujur. Jangan berani berdusta!” Walaupun heran dengan tindakan pemimpinnya itu namun Munding Sura menjawab juga. “Kanjeng Sri Ageng , apa yang hendak kau tanyakan?”
“Sewaktu kau dan Cagak Gunt0r0 berada di kamar , saya menanyakan pada perjaka itu apa ada hal lain yang hendak dikatakannya. Dia menyerupai hendak menyampaikan sesuatu padaku. Namun kau se0lah memberi isyarat supaya ia tidak bicara. Lalu kalian berdua cepat-cepat meninggalkan kamarku. Aku yakin ada sesuatu yang kalian tidak mau mengatakan!”
“Kanjeng….”
“Aku menunggu Munding Sura. Katakan cepat!”
“Waktu kami masuk ke dalam kamar , kami lihat Kanjeng Sri Ageng duduk di atas ranjang kayu , tersandar ke dinding kamar. Kami tidak tahu apakah dikala itu Kanjeng tengah tidur atau pingsan. Cuma kami melihat wajah Kanjeng tidak menyerupai biasanya….”
“Maksudmu?” tanya Ageng Musalamat.
“Muka Kanjeng tidak menyerupai muka manusia….”
“Munding Sura!” hardik Ageng Musalamat.
“Jangan kau bicara ngelantur…“
“Saya tidak ngelantur. Juga tidak dusta Kanjeng. Saat itu kami lihat muka Kanjeng telah menjelma muka seek0r harimau putih…“ Kalau ada petir menyambar di depannya mungkin tidak demikian terkejutnya Ageng Musalamat.
“Mukaku menjelma muka seek0r harimau putih katamu?!” Dalam keadaan tercekat Munding Sura anggukkan kepala.
Ageng Musalamat tegak tak bergerak. Ingatannya kembali pada apa yang terjadi di kamarnya. Muncul s0s0k Datuk Ra0 dan seek0r harimau putih. Lalu harimau putih itu mendekatinya dan membuka lisan lebar-lebar. Sewaktu hewan ini memasukkan kepalanya ke dalam mulutnya , ia jatuh pingsan.
“0rang ini tidak berdusta ,” membatin Ageng Musalamat. Lalu ia ingat pada ucapan Datuk Ra0.
“Kau lebih beruntung dari 0rang-0rang yang pernah ketitipan kitab sakti bertuah itu sebelumnya… Kau akan kami berikan satu jurus ilmu silat Harimau Dewa. Mudah-mudahan bisa kau pergunakan untuk menjaga diri…“
“Berarti….” Ageng Musalamat usap-usap dagunya ,
“Datuk Ra0 memang telah memberikan satu ilmu padaku. Ilmu silat Harimau Dewa…”
– == 000 == –
SEMBILAN
KEDATANGAN r0mb0ngan Kanjeng Sri Ageng Musalamat disambut utusan khusus Raja Ti0ngk0k di pelabuhan Se0ch0w. Bersama utusan tersebut ikut pula beberapa 0rang pejabat penting di K0taraja. Raja Ti0ngk0k ternyata bersikap pandai bijaksana. Karena tahu r0mb0ngan tamu yang tiba ialah 0rang-0rang Muslim maka ia sengaja mengirimkan 0rang-0rang seagama untuk menyambut kedatangan Ageng Musalamat dan r0mb0ngan.
Se0rang penterjemah yang juga disediakan 0leh Raja ikut hadir di tempat itu dan kelak akan mendampingi Ageng Musalamat kemana ia pergi. Di antara r0mb0ngan penjemput terdapat se0rang anak lelaki kurus berusia sembilan tahun. Setelah upacara penyambutan resmi selesai sesuai yang telah diatur , anak ini maju ke muka membawa sebuah pipa panjang khas Ti0ngk0k yang sudah diisi tembakau. Sese0rang aben tembakau itu hingga menebar asap yang harum. Si anak kemudian menyerahkan pipa pada Ageng Musalamat.
“Ah , rupanya para sahabat di sini tahu kalau saya dulunya ialah per0k0k berat. Sejak beberapa tahun belakangan ini saya berusaha mengurangi mer0k0k lantaran kurang baik untuk kesehatan. Sekarang melihat pipa sebagus ini serta tembakau seharum ini saya berpikir-pikir apakah bisa menahan selera mer0k0k?” Kanjeng Sri Ageng Musalamat tertawa lebar.
Diusapnya kepala anak lelaki itu berulang kali kemudian diambilnya pipa panjang yang diserahkan. Langsung saja ia menyed0t pipa dalam-dalam dan mengepulkan asapnya tinggitinggi ke udara.
“Terima kasih… terima kasih…” kata Ageng Musalamat berulang kali seraya membungkuk.
Dia berpaling pada anak lelaki yang barusan menyerahkan pipa padanya dan melihat sesuatu yang sudah usang diharapkannya.
“Anak ini walau kurus tapi mempunyai bentuk tubuh dan raut tulang yang jarang dimiliki anak lain. Sepasang b0la matanya jernih dan pandangannya mencerminkan satu kekuatan yang tidak gampang g0yah. Dalam sejuta belum tentu bisa ditemukan yang menyerupai dia….” Ageng Musalamat melangkah mendekati si anak kemudian bertanya.
“Anak gagah , siapa namamu?” Setelah diberi tahu 0leh Bu Tjeng si penterjemah apa yang ditanyakan 0rang si anak dengan perilaku tegak dan bunyi lantang menjawab.
“Nama saya Ki H0k Kui. Saya anak petani miskin di desa Chungwei!”
“Anak hebat!” memuji Ageng Musalamat.
“0rang tuamu niscaya gembira punya anak sepertimu…”
Setelah Bu Tjeng memberitahu si anak tampak tersenyum kemudian membungkuk.
“0rang tuaku telah tiada. Mereka meninggal enam tahun kemudian waktu terjadi air bah besar di pantai timur!”
“Ah…”
Ageng Musalamat manggut-manggut terharu. Namun dibalik keharuannya ia melihat sesuatu pada diri Ki H0k Kui. Anak ini tersenyum ketika menjawab pertanyaannya padahal ia menyampaikan sesuatu yang sangat menyedihkan dalam kehidupannya.
“Anak ini bisa menekan perasaannya. Menjawab kesedihan dengan senyum menghias bibir….”
Ageng Musalamat kembali mengusap kepala Ki H0k Kui.
“Aku menyesal mendengar kau se0rang anak yatim piatu. Nasib kita sama. Aku juga se0rang yatim piatu. Tapi kau tak usah takut. Kesusahan hidup menciptakan sese0rang menjadi tabah dan besar lengan berkuasa sekuat kerikil karang yang saya lihat banyak bertebaran di pantai menjelang pelabuhan Se0ch0w!”
Ki H0k Kui kembali tersenyum.
“Saya memang sudah pernah mendengar Kan-jieng mengucapkan kata-kata itu….” Anak ini menyebut kata Kanjeng dengan Kan-jieng.
Tentu saja Ageng Musalamat jadi terkejut. 0rang-0rang yang ada di sekitar situ juga terheran-heran mendengar ucapan anak itu.
“Ki H0k Kui , kau bilang barusan pernah mendengar saya mengucapkan kata-kata itu. Kapan… di mana? Padahal kita gres saja saling bertemu dikala ini.”
“Dalam mimpi ,” jawab Ki H0k Kui pula.
“Satu tahun kemudian saya pernah bermimpi bertemu dengan sese0rang dan bicara menyerupai itu. Begitu melihat Kan-jieng dikala ini saya segera ingat bahwa Kan-jienglah 0rang yang saya lihat dalam mimpi itu dan bicara pada saya….”
Sesaat Ageng Musalamat jadi terkesiap mendengar keterangan si anak. Begitu juga angg0ta r0mb0ngan yang lain.
“Ternyata anak ini punya daya ingat yang kuat….” kata Ageng Musalamat dalam hati.
“Aku yang gres berusia empat puluh tahunan terkadang sering-sering lupa pada hal-hal yang belum usang terjadi. Hemm…. “ Ageng Musalamat tertawa lebar.
“Apakah kau punya saudara Ki H0k Kui? Kau tinggal di k0ta ini?”
Ki H0k Kui menggeleng.
“Saya tidak punya saudara tidak punya sanak. Saya tinggal di panti asuhan bawah umur terlantar dipimpin se0rang guru besar She P0uw berjulukan G0an Keng. Dia sudah tiga kali naik haji ke tanah suci. Apakah Kan-jieng sudah pernah ke Mekkah?”
Ageng Musalamat tertawa gelak-gelak.
“Gurumu itu niscaya ulama hebat! Aku sendiri belum pernah ke tanah suci. Mungkin saya akan pergi nanti pribadi dari daratan Ti0ngk0k ini….” Ageng Musalamat tepuk-tepuk pundak Ki H0k Kui.
“Anak gagah , apakah kau akan menyertai r0mb0ngan kami ke K0taraja?” Si anak mengangguk. “Kalau begitu kita berangkat sekarang….” “Kan-jieng dan r0mb0ngan silahkan berangkat duluan. Nanti saya menyusul….” “Eh , memangnya kau hendak kemana H0k Kui?” tanya Ageng Musalamat pula.
Si anak menunjuk ke langit.
“Matahari sudah tinggi Kan-jieng…. Saya belum sembahyang Zuhur.” Ageng Musalamat terkejut.
“Astagfirullah , sem0ga Tuhan mengampuni saya dan semua 0rang yang ada di sini. Kami pun belum sempat sembahyang walau di kapal sudah melaksanakan s0lat qasar…. H0k Kui , apakah ada mesjid di sekitar sini?”
“Tidak ada Kan-jieng. Tapi tak jauh dari sini ada satu bangunan besar yang ditinggalkan pemiliknya. Keadaannya bersih. Airnya banyak untuk wudhu….”
“Kalau begitu antarkan kami ke sana. Kita sembahyang berjamaah di tempat yang kau katakan itu.” Ki H0k Kui membungkuk. Lalu tanpa sungkan-sungkan dipegangnya lengan Ageng Musalamat , membawanya ke sebuah bangunan besar yang terletak tak jauh dari sana.
*
* *
Walaupun r0mb0ngan mengendarai beberapa kereta dan ger0bak serta ada pula yang menunggangi kuda , namuh cuaca yang buruk menciptakan mereka tidak bisa bergerak cepat. Satu hari menjelang hingga di K0taraja , menjelang tengah malam r0mb0ngan berkemah di bersahabat sebuah telaga kecil. Ageng Musalamat dan anak buahnya bekerjsama ingin terus berjalan namun kuda-kuda penarik kereta dan ger0bak serta kuda-kuda tunggangan perlu beristirahat sehabis satu hari suntuk berjalan terus menerus.
Di dalam kamarnya sehabis selesai metakukan sembahyang sunat dan berkemas-kemas untuk merebahkan diri di atas sehelai tikar permadani mendadak pendengaran Ageng Musalamat mendengar bunyi derap kaki kuda banyak sekali mengitari tempat perkemahan.
Tak usang kemudian terdengar bunyi bentakan-bentakan keras. Ageng Musalamat yang satu kemah dengan penterjemah Bu Tjeng segera keluar dari dalam kemah. Ketika hingga di luar dilihatnya puluhan anak muridnya serta r0mb0ngan 0rang-0rang yang menjemput dari K0taraja tegak mengurung tujuh 0rang penunggang kuda. Selain mengenakan pakaian serba hitam , tujuh penunggang kuda ini juga menggunakan kain hitam epil0g wajah masing-masing. Di belakang punggung mereka kelihatan tersembul ujung gagang pedang.
Mereka mempunyai rambut hitam lebat. yang dikuncir di atas kepala. Anehnya rambut di sebelah atas ikatan kuncir berwarna kuning keemasan.
“Kami tiba mencari kepala r0mb0ngan tamu yang tiba dari seberang!”
Penunggang kuda di sebelah kiri depan berseru. Tidak menyerupai enam temannya , ia satu-satunya yang mengenakan mantel merah. Agaknya dialah yang jadi pimpinan r0mb0ngan tak dikenal itu. Bu Tjeng segera memberitahu Ageng Musalamat apa yang diucapkan 0rang itu.
“Ini aneh , bagaimana ia tahu diriku dan apa perlunya mencariku?” bisik Ageng Musalamat.
“Sebentar lagi pers0alannya akan jelas. Lu Li0ng 0ng , pimpinan utusan Raja tengah melangkah ke hadapan penunggang kuda bermantel merah itu ,” kata Bu Tjeng berikan jawaban.
Lu Li0ng 0ng , se0rang lelaki bertubuh kurus tinggi , berpakaian merah dan mempunyai kedudukan cukup tinggi di K0taraja serta mempunyai kepandaian silat melangkah ke depan kuda tunggangan si mantel merah.
“Aku Lu Li0ng 0ng pimpinan r0mb0ngan penjemput tamu dari tanah Jawa. Tamu Raja dihentikan diganggu. Jika kau ada keperluan harap beritahu padaku. Tapi lebih dulu harap beritahu siapa kalian adanya! Satu hal lagi sebagai tamu tidak diundang harap kau menggunakan s0pan santun peradatan. Turun dari kudamu bila kau bicara denganku!” 0rang bermantel terdengar mendengus.
“Lu Li0ng 0ng!” 0rang ini keluarkan bunyi lantang.
“Kami tahu kau pejabat tinggi salah satu 0rang kepercayaan Raja! Karena kami mengh0rmatimu maka kami tidak berniat untuk cari urusan dengan kalian 0rang-0rang Kerajaan!”
“Aku minta kau turun dari kuda kalau bicara denganku! Enam 0rang anak buahmu lekas kau perintahkan untuk melaksanakan hal yang sama!” Kembali 0rang bermantel mendengus di balik kain hitam epil0g mukanya.
Dia memandang berkeliling pada enam 0rang anak buahnya. Lalu masih duduk di atas kuda 0rang ini kibaskan mantel merahnya ke kiri. Angin deras menderu ke arah Lu Li0ng 0ng membuatnya agak semp0y0ngan. Cepat 0rang ini kerahkan tenaga dan atur kuda-kuda kedua kakinya hingga ia tidak hingga jatuh 0leh sambaran angin mantel yang hebat itu! Sambil tertawa pendek lelaki bermantel merah mel0mpat dari punggung kudanya. Dia tidak pribadi mel0mpat turun tapi melayang dulu ke atas kemudian ketika kedua kakinya yang berkasut menginjak tanah tidak sedikit suarapun terdengar.
Rupanya 0rang ini sengaja memperlihatkan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya kepada semua 0rang yang ada di situ , terutama kepada Lu Li0ng 0ng yang diketahuinya mempunyai kepandaian tinggi.
“Hemm…. 0rang ini sengaja memamerkan ginkangnya ,” membatin Lu Li0ng 0ng. (ginkang = ilmu meringankan tubuh)
Enam penunggang kuda lainnya segera pula mel0mpat turun dari tunggangan masing-masing. Begitu berdiri berhadap-hadapan Lu Li0ng 0ng segera berkata.
“Sekarang katakan siapa kalian ini dan apa maksud kedatangan kalian ke sini! Muncul dengan menutupi wajah dengan kain bukan tindakan 0rang-0rang bermaksud baik!”
“Menurut aturan kami tidak layak memberitahu siapa kami adanya. Tapi mengingat kau ialah pejabat Kerajaan , kami sedikit berlaku murah. Kalau kami sudah memberitahu harap kau jangan banyak cingc0ng lagi!”
“Katakan saja pribadi siapa kalian!” kata Lu Li0ng 0.ng menahan jengkel.
“Kami utusan L0 Sam T0jin , Ketua Perkumpulan Kuncir Emas. Kami tiba untuk menjemput pimpinan 0rang-0rang yang tiba dari Jawa…” (T0jin = Paderi Kun Lun Pay , satu dari beberapa partai besar di daratan Ti0ngk0k)
Terkejutlah semua 0rang-0rang Kerajaan yang ada di tempat itu. Ageng Musalamat sendiri walau tetap berlaku damai namun wajahnya terang berubah. Dia segera minta keterangan pada penterjemah Bu Tjeng.
“0rang-0rang itu bermaksud menjemputmu… Itu istilah halusnya. Sebenarnya mereka hendak mengambilmu secara paksa….”
“Mau menculikku?!”
– == 000 == –
SEPULUH
SI PENERJEMAH , Bu Tjeng , mengangguk membenarkan.
“Tapi mengapa? Siapa mereka sebenarnya?” tanya Ageng Musalamat.
“Selama beberapa tahun L0 Sam T0jin dikenal sebagai salah satu pengurus tinggi Partai Kun Lun. Diantara ia dan para pengurus partai terjadi satu perselisihan besar. Paderi itu tetapkan meninggalkan Kun Lun. Beberapa 0rang yang bersahabat dengan ia ikut serta. Mereka membangun satu perkampungan di lembah Pek-hun dan mendirikan satu perkumpulan yang mereka beri nama Perkumpulan Kuncir Emas. Dari satu perkampungan kecil , lembah Pek-hun menjadi satu daerah pemukiman besar. Jumlah para pengikut L0 Sam T0jin semakin banyak. Ada selentingan bahwa mereka akan membentuk sebuah partai sebagai sempalan dari Kun Lun Pay. Setahu kami Perkumpulan Kuncir Emas bukan perkumpulan baik-baik. Mereka sering melaksanakan peramp0kan dan pembunuhan walau yang mereka ramp0k dan bunuh ialah 0rang-0rang kaya pelit atau pejabat-pejabat yang diketahui melaksanakan k0rupsi.”
Lu Li0ng 0ng rangkapkan dua tangan di depan dada. Lalu bertanya.
“Apakah L0 Sam T0jin memberitahu padamu apa maksudnya menjemput tamu kami yang tiba dari Jawa itu?”
Lelaki bermantel merah kembali tertawa pendek.
“Kami bukan anak buah yang tidak tahu diri! Berani bertanya pada pimpinan hal yang tidak layak kami ketahui! Kau sebagai 0rang luar apalagi! Kami tiba untuk menjemput 0rang itu. Mana dia! Lekas suruh ia keluar!”
“Selama 0rang itu berada bersama kami , sebagai tamu Raja maka tidak ada satu 0rang lainpun b0leh memintanya! Aku sudah tahu apa kata-kata menjemput yang kau sebutkan! Kalian bekerjsama hendak merampas 0rang itu dari tangan kami! Mau menculik tamu Raja!”
“Kalau kau sudah tahu mengapa tidak segera menyerahkan 0rang itu pada kami?!”
“Aku perintahkan kau dan anak buahmu segera meninggalkan tempat ini!” hardik Lu Li0ng 0ng.
“Lu Li0ng 0ng , tadi kami sudah bilang kami mengambil perilaku h0rmat terhadap kalian 0rang-0rang Kerajaan dan tidak ingin mencari urusan. Tapi bila kau berani menampik permintaan L0 Sam T0jin maka itu ialah satu penghinaan besar yang harus kau bayar dengan mahal!” Lu Li0ng 0ng turunkan kedua tangannya yang semenjak tadi dirangkapkan di depan dada.
“Kami memang sudah usang mendengar dan mengawasi tindak tanduk kalian 0rang-0rang Perkumpulan Kuncir Emas! Kalian tidak bisa dikatakan sebagai 0rang baik-baik. Tinggalkan tempat ini. Kembali pada pimpinan kalian. Katakan pada L0 Sam T0jin. Jika ia tidak segera membubarkan perkumpulannya maka pasukan Kerajaan akan tiba menyerbu. L0 Sam T0jin akan ditangkap dan diadili. Aku yakin hanya ada satu putusan pengadilan baginya. Yaitu aturan pancung batang leher!”
0rang bermantel merah tertawa gelak-gelak. Enam temannya ikut-ikutan tertawa.
“Lu Li0ng 0ng! Kami tahu kau se0rang pembesar Kerajaan. Tapi mulutmu lebih besar dari kedudukanmu! Kalau kau menuduh kami ini 0rang-0rang jahat mengapa tidak segera turun tangan menangkap kami?!”
Ditantang menyerupai itu walau ia jadi murka tapi Lu Li0ng 0ng tetap tenang.
“Saatnya akan tiba! Pasukan Kerajaan akan menyerbu lembah Pek-hun menumpas habis kalian semual Kalian masih untung dikala ini kami tengah membawa r0mb0ngan tamu dari seberang laut. Kaprik0rnus sebaiknya pergunakan kesempatan bagus ini untuk cepat-cepat angkat kaki!”
0rang bermantel tertawa gelak-gelak. Lalu ia berpaling pada enam anak buahnya dan berkata.
“Kawan-kawan , percuma bicara dengan insan satu ini! Bereskan dia!” Mendengar kata-kata pimpinan mereka enam 0rang berseragam hitam mel0mpat ke depan.
Mereka menebar demikian rupa hingga Lu Li0ng 0ng terkurung di tengah-tengah. Melihat insiden ini Ageng Musalamat cepat tinggalkan kemah. Namun langkahnya tertahan 0leh pegangan Ki H0k Kui. Anak ini menyampaikan sesuatu cepat sekali. Ageng Musalamat berpaling pada Bu Tjeng. 0rang ini segera memberitahu.
“H0k Kui mengkhawatirkan keselamatanmu. Dia ingin kau masuk kembali ke dalam kemah lantaran 0rang itu tiba hendak menculikmu.”
Ageng Musalamat tersenyum.
“Anak baik! Kau tak usah mengkhawatirkan keselamatanku… Kalau ada 0rang hendak berbuat jahat terhadap r0mb0ngan , walau saya dan teman-teman ialah r0mb0ngan tamu tapi kami tak bisa lepas tangan begitu saja.”
“Kalau Kan-jieng berkata begitu mana saya berani melarang. Berarti kita akan men0nt0n satu perkelahian seru!” kata Ki H0k Kui pula kemudian cepat cepat mengikuti Ageng Musalamat.
Sementara itu di depan sana , dalam gelapnya malam enam 0rang angg0ta Perkumpulan Kuncir Emas telah menyerang Lu Li0ng 0ng. Mereka mempunyai kepandaian tidak rendah. Namun yang diserang ialah se0rang pejabat yang semenjak masa mudanya telah membekal diri dengan ilmu silat tangan k0s0ng. Enam penyerang terkejut ketika gebrakan pertama yang mereka buat tidak sanggup menyentuh tubuh lawan. Keenamnya cepat menyerbu kembali. Perkelahian berlangsung hebat. Saat itulah Ageng Musalamat berteriak pada beberapa 0rang anak buahnya. Lima anak murid Ageng Musalamat , yang mempunyai kepandaian tinggi segera mel0mpat masuk ke dalam kalangan perkelahian.
Melihat ini Lu Li0ng 0ng berteriak. Bu Tjeng cepat mendekati Ageng Musalamat dan berkata.
“Pimpinan kami meminta supaya kau menyuruh mundur lima 0rang itu!”
“Tapi ia diker0y0k secara curang!” jawab Ageng Musalamat.
“Tak usah khawatir , Lu Li0ng 0ng akan bisa menghadapi mereka. Lagipula beberapa 0rang angg0ta prajurit Kerajaan yang ada di antara kami akan membantu!”
Mendengar ucapan Bu Tjeng itu Ageng Musalamat terpaksa menyuruh murid-muridnya mundur. Bersamaan dengan mundurnya mereka , maka melesatlah selusin prajurit Kerajaan ke tengah kalangan. Kalau tadi 0rang-0rang Kuncir Emas yang menger0y0k maka kini keadaan jadi terbalik. Mereka yang jadi sasaran ker0y0kan. Perkelahian tangan k0s0ng berjalan seru. Walau diker0y0k begitu rupa 0rang-0rang Kuncir Emas bisa bertahan bahkan dengan membentuk satu barisan aneh mereka menciptakan temb0k pertahanan yang k0k0h dan sekaligus bisa melancarkan seranganserangan balasan. Prajurit-prajurit Kerajaan mulai terdesak. Dua 0rang tergelimpang muntah darah akhir dimakan tendangan lawan. Lu Li0ng 0ng kertakan rahang.
0taknya yang cerdik serta matanya yang tajam cepat melihat dimana letak kelemahan barisan pertahanan enam 0rang angg0ta Kuncir Emas itu. Dia melesat ke salah satu ujung barisan kemudian menggempur habis-habisan. Lawan pertama terkapar di tanah dengan leher patah akhir hantaman pinggiran tangannya yang sekeras besi. Sesaat kemudian k0rban kedua menyusul. 0rang ini mencelat mental dan jatuh tepat di depan lelaki bermantel. Dia menggeliat-geliat beberapa kali kemudian terhenyak tak berkutik lagi. Bagian tubuh di bawah perutnya pecah akhir tendangan kaki kanan Lu Li0ng 0ng. Prajurit-prajurit Kerajaan. pengawal r0mb0ngan yang menerima semangat berhasil pula mer0b0hkan dua 0rang angg0ta Perkumpulan Kuncir Emas.
Dua 0rang yang masih tinggal walau kini menghadapi lawan yang jauh lebih banyak namun mereka tidak menjadi takut. Malah sambil keluarkan bentakan-bentakan menyerupai kalap keduanya meny0ngs0ng serangan lawan. 0rang bermantel merah yang tak mau melihat k0rban jatuh lebih banyak dipihaknya berteriak keras dan mel0mpat ke tengah kalanggn perkelahian. Dia sempat mer0b0hkan dua prajurit yang menyerang anak buahnya hingga mencelat mental dan menemui kematian dengan kepala pecah!
“Tahan! Lu Li0ng 0ng saya lawanmu!” Lu Li0ng 0ng mel0mpat mundur kemudian menyeringai.
“K0rban sudah jatuh dipihakmu dan pihakku! Memang pantas kau harus bertanggung jawab! Atas nama Kerajaan lekas mengalah dan berlutut!”
“Pejabat jahanam! Makan dulu tanganku ini!” hardik si mantel merah. Tapi ia tidak mengirimkan j0t0san atau pukulan.
Tangan kanannya berkelebat mengibaskan mantel merahnya.
“Wussss!”
Mantel itu bertabur di udara. Sinar merah memancar dalam kegelapan malam. Angin deras menghantam ke arah Lu Li0ng 0ng.
“0rang itu mempunyai tenaga dalam tinggi ,” membatin Ageng Musalamat yang menyaksikan jalannya perkelahian dan melihat bagaimana tubuh Lu Li0ng 0ng terhuyung-huyung hampir jatuh.
Selagi ia berusaha mengimbangi diri , lawan tiba menyergap dan lancarkan satu j0t0san ke pelipis kirinya! Lu Li0ng 0ng pergunakan lengan kiri untuk menangkis.
“Bukkkk!”
Dua lengan saling beradu. Entah lantaran kedudukan kedua kaki Lu Li0ng 0ng yang belum k0k0h , entah lantaran keadaan tubuhnya yang miring atau entah lantaran lawan mempunyai tenaga yang lebih besar lengan berkuasa , beradunya dua lengan itu menciptakan pejabat Kerajaan itu terjatuh keras ke tanah. Sebelum ia sempat bangun lawan bermantel mendatangi dengan satu tendangan ke arah tulang rusuknya. Lu Li0ng 0ng berteriak keras. Hanya setengah jengkal lagi tendangan lawan akan menghancurkan tulang-tulang rusuknya Lu Li0ng 0ng , gulingkan tubuhnya.
Si mantel merah tersaruk ke depan namun cepat menguasai diri. Di tanah dilihatnya Lu Li0ng 0ng menciptakan gerakan aneh. Setelah beberapa kali berguling tubuh itu melesat ke atas. Di udara menyerupai melenting tubuh Lu Li0ng 0ng berkelebat ke arah si mantel merah. Inilah jurus silat berjulukan s0an h0ng liap in yang berarti “angin berpusing mengejar awan.”
0rang bermantel keluarkan seruan kaget ketika tahu-tahu kaki kanan lawan menderu ke arah lehernya. Ini benar-benar merupakan serangan mematikan. Dia cepat mel0mpat hindarkan diri. Meski serangan mematikan. Meski lehernya selamat tapi ia masih kurang cepat. Kaki Lu Li0ng 0ng mendarat di pundak kirinya. Tubuhnya mencelat hingga dua t0mbak kemudian tergelimpang di tanah. Ageng Musalamat mengira paling tidak tulang pundak si mantel merah itu telah remuk dan tak sanggup lagi berdiri. Namun apa yang terjadi mem buatnya belakang layar merasa kagum akan kekuatan si kuncir emas itu. Setelah keluarkan bunyi menggemb0r pendek 0rang ini mel0mpat bangkit. Lu Li0ng 0ng tampak agak tercekat ketika melihat lawannya tidak cidera malah masih sanggup berdiri dan melangkah ke arahnya.
“Lu Li0ng 0ng , kesempatanmu untuk berd0a pada Thian hanya sedikit. Nyawamu hanya tinggal beberapa kejapan saja!”
“Manusia s0mb0ng tapi t0l0l! L0 Sam T0jin sengaja mengutusmu kemari untuk mencari mati!” Si mantel merah kembaii keluarkan bunyi menggemb0r.
Lalu didahului bentakan keras tubuhnya berkelebat. Sinar merah mantelnya bertabur. Lu Li0ng 0ng merasa kedua matanya perih. Ada hawa aneh keluar dari bawah mantel. Sesaat ia tidak sanggup melihat apa-apa. Tapi telinganya masih bisa mendengar datangnya serangan. Dengan cepat ia mel0mpat ke kiri.
“Bukkkkk!”
Lu Li0ng 0ng mengeluh tinggi. Mantel merah menghantam punggungnya hingga tak ampun lagi pejabat Kerajaan ini terpental ke depan. Untung ia masih sempat menggapai r0da sebuah ger0bak hingga tak hingga jatuh ke tanah.
Namun gres saja ia membalikkan tubuh , satu tendangan menghajar dadanya. Lu Li0ng 0ng tersandar ke tubuh ger0bak. Dadanya se0lah remuk. Napasnya sesak. Sewaktu ia c0ba menarik napas dalam-dalam darah mengucur dari mulutnya. Beberapa 0rang anak buahnya berseru kaget melihat insiden ini. Saat itu si mantel merah sudah berkelebat lag!. Tangan kanannya bergerak menjambak rambut Lu Li0ng 0ng. Tangan kirinya menelikung leher si pejabat. Sekali dua tangan itu bergerak niscaya patahlah tulang leher si pejabat dan nyawanya tidak ket0l0ngan lagi!.
Ketika si mantel merah siap mematahkan leher Lu Li0ng 0ng , di udara malam , melewati kepala beberapa 0rang yang ada di tempat itu , melesat satu bayangan putih. Tahu-tahu si mantel merah mencicipi ada satu tangan memegang pundak kirinya. Mendadak s0ntak tangan kirinya menjadi sangat berat dan kaku tak bisa digerakkan iagi. Bersamaan dengan itu di belakangnya ada satu bunyi menegur dalam bahasa yang tidak dimengertinya.
“0rang gagah bermantel merah. Kau telah memenangkan perkelahian. Lawan dalam keadaan tidak berdaya. Tak ada untungnya bagimu membunuh tuan Lu Li0ng 0ng….” Si mantel merah berpaling. Pandangannya membentur wajah Ageng Musalamat yang memandang tersenyum padanya.
“Kau niscaya 0rang asing yang tiba dari negeri seberang itu…” Ageng Musalamat masih tersenyum.
Tidak menjawab lantaran memang ia tidak tahu apa yang dikatakan si mantel merah. Sebaliknya si mantel merah juga tidak mengerti apa yang tadi diucapkan Ageng Musalamat. Ki H0k Kui segera mengguncang lengan Bu Tjeng. Anak ini cepat berkata.
“Paman Bu Tjeng , kau harus lekas ke sana. Dua 0rang itu saling bicara dalam bahasa yang mereka tidak mengerti satu sama lain!”
“Kau benar!” kata Bu Tjeng kemudian mel0mpat dan berdiri di antara Lu Li0ng 0ng dan si mantel merah yang masih mencekal si pejabat tapi tak sanggup meneruskan maksudnya membunuh 0rang itu.
Ageng Musalamat kembali menyampaikan sesuatu pada si mantel merah. Bu Tjeng cepat menterjemahkan.
“0rang ini memintamu supaya melepaskan pejabat Lu Li0ng 0ng. Katanya tak ada gunanya membunuh. Dia juga menanyakan ada tujuan apa dari L0 Sam T0jin hingga kau diutus untuk menjemputnya?” Si mantel merah yang sedang beringas perlahan-lahan mengendur amarahnya.
Sepasang pandangan mata lembut Ageng Musalamat menciptakan ia merasa kecut. Cekalan dan jambakannya pada Lu Li0ng 0ng dilepaskan hingga pejabat ini jatuh ke tanah setengah sadar setengah pingsan. Beberapa 0rang prajurit segera mengg0t0ngnya ke tempat aman.
“0rang asing. Ketua Perkumpulan Kuncir Emas L0 Sam T0jin ingin bertemu denganmu. Itu sebabnya ia mengutusku untuk menjemputmu dan membawamu ke lembah Pek-hun tempat kediamannya.”
“Ah , Ketuamu tentu se0rang yang sangat baik hati. Belum pernah bertemu tapi telah sudi mengundangku tiba ke tempatnya. Kau kembalilah ke danau Pek-hun. Sampaikan salam h0rmatku pada Ketuamu L0 Sam T0jin. Katakan padanya bahwa dikala ini saya sedang menjadi tamu Kerajaan. Jika ada kesempatan dan Kerajaan memberi izin saya akan tiba sendiri menyambanginya di lembah itu…” Habis berkata begitu Ageng Musalamat membungkuk memberi h0rmat.
Ketika ia hendak membalikkan tubuh si mantel merah berseru.
“0rang asing! Tunggu!” Si mantel merah cepat melangkah ke hadapan Ageng Musalamat.
“Peraturan di Perkumpulan Kuncir Emas sangat keras. Jika se0rang ditugaskan untuk menjalankan sesuatu dan tidak berhasil maka hukumannya sangat berat. L0 Sam T0jin akan memisahkan kepalaku dari tubuhku!” Sepasang alis mata Ageng Musalamat berjingkat ketika ia mendengar terjemahan ucapan si mantel merah dari Bu Tjeng.
“Jika kau tidak sanggup mengikuti aturan Perkumpulan , mengapa tidak keluar saja?”
“Itu lebih celaka lagi! L0 Sam T0jin akan membunuhku dan seluruh keluargaku!”
“Ah… Rupanya susah juga hidup ini bagimu…” kata Ageng Musalamat sambil usap-usap dagunya.
“Sebelum pergi L0 Sam T0jin menyampaikan sesuatu padaku…”
“Hemmm , saya ingin mendengarkan….”
“Katanya , bila saya tidak bisa membawamu ke lembah Pek-hun maka sebagai gantinya saya harus mendapatkan keris emas yang hendak kau persembahkan pada Raja….” Ageng Musalamat terkejut. Bagaimana 0rang ini bisa tahu saya membawa keris itu , pikirnya.
“Rupanya kabar menebar secepat kilat dan tak ada rahasia yang bisa dipendam di negeri ini. Aku memang membawa sebilah keris emas. Jika Ketuamu berpesan begitu , saya tidak keberatan menyerahkannya padamu. Silahkan kau mengambilnya sendiri.”
Beberapa 0rang anak murid Ageng Musalamat maju ke hadapan pimpinan mereka , serentak menegur keras menyatakan ketidak senangan mereka. Lu Li0ng 0ng sendiri yang setengah sadar setengah pingsan mel0mpat bangun begitu diberitahu Bu Tjeng apa yang hendak dilakukan Ageng Musalamat.
“Tamu terh0rmat Kanjeng…! Jika kau serahkan keris itu padanya maka itu ialah satu penghinaan besar bagi Raja dan rakyat Ti0ngk0k!” kata Lu Li0ng 0ng setengah berteriak kemudian perlahan-lahan jatuh terduduk di tanah.
“Sahabatku pejabat Lu Li0ng 0ng , kau tak usah khawatir… Lihat saja apa yang akan terjadi ,” kata Ageng Musalamat sambil tersenyum dan kedipkan matanya.
Ageng Musalamat memberi isyarat supaya si mantel merah mengikutinya. Lalu ia melangkah menuju kemah. Hampir semua 0rang yang ada di tempat itu mengikuti. Sampai di dalam kemah yang diterangi lampu minyak Ageng Musalamat menunjuk pada sebuah peti kecil terbuat dari kayu yang terletak di atas tumpukan barang.
“Buka epil0g peti dan lihat isinya…” Ageng Musalamat berkata pada si mantel merah.
Bu Tjeng cepat menterjemahkan ucapan Ageng Musalamat. Si mantel merah tampak ragu. Agaknya ia khawatir 0rang akan menjebaknya. Namun sehabis melihat Ageng Musalamat memandang tersenyum dan anggukkan kepala padanya , 0rang ini segera dekati peti kayu jati berukir itu. Dia ulurkan tangan membuka epil0g peti. Begitu tutup terbuka tujuh larik sinar kuning membersit keluar. Si mantel merah lindungi matanya yang kesilauan dengan telapak tangan kiri.
“Apakah benda itu yang diminta 0leh Ketuamu paderi L0 Sam?” tanya Ageng Musalamat.
Si mantel merah mengangguk sehabis mendengar kata-kata Bu Tjeng. Ageng Musalamat kembali bicara. Bu Tjeng kembali menterjemah.
“Kau b0leh mengambil senjata itu , membawanya pergi dan menyerahkan pada L0 Sam T0jin.”
”Ah…. Terima kasih… terima kasih…” kata si mantel merah sambil membungkuk berulang kali.
Dia tidak menyangka kalau 0rang akan menyerahkan keris emas itu semudah itu padanya. Peti kayu cepat ditutupnya kemudian dengan pergunakan dua tangan ia mengangkat peti dari tumpukan barang. Baru satu langkah berjalan mendadak tampang si mantel merah yang tersembunyi di balik kain hitam mengerenyit. Tubuhnya terhuyung ke depan. Peti kecil berisi keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit itu menyerupai menjelma sebuah kerikil besar yang amat berat. Bagaimanapun ia mengerahkan tenaga tetap saja ia tak sanggup bertahan. Kedua bahunya membuyut ke bawah. Dan tangannya menjadi panjang. Tak sanggup bertahan dengan tenaga berangasan ia kerahkan tenaga dalam.
“Krakk! Kraaak!”
Si mantel merah menjerit keras. Sambungan tulang bahunya kiri kanan tanggal dari persendian. Peti kayu lepas dari pegangannya dan bukkk! Peti jatuh menimpa kakinya. Kasut yang melindungi kakinya berlubang besar. Tulang kakinya remuk dan kasut itu tampak merah tanda kakinya cidera berat dan berdarah. Si mantel merah menjerit berulang kali sambil berjingkat-jingkat kesakitan.
Ageng Musalamat membungkuk mengambii peti kayu berisi keris sakti. Lalu dengan tangan kirinya dipegangnya pundak si mantel merah.
“Katakan pada Ketuamu , kau telah berusaha tapi tak sanggup membawa keris daiam peti ini. Mungkin senjata ini tidak berj0d0h dengan dirinya. Kau b0leh pergi sekarang…“ Si mantel merah hendak berteriak marah.
Tapi ketika dilihatnya 0rang bicara dengan tersenyum padanya dan lagi-lagi menyerupai ada sinar aneh memancar dari sepasang mata Ageng Musalamat maka tanpa banyak bicara lagi ia segera keluar dari dalam kemah.
– == 000 == –
SEBELAS
MALAM pertama hingga ke K0taraja r0mb0ngan Ageng Musalamat dibawa ke istana Raja. Sebelum jamuan makan malam yang dihadiri 0leh para pejabat tinggi Kerajaan serta undangan khusus dimana di antaranya terdapat beberapa t0k0h Muslim , Ageng Musalamat menyerahkan keris sakti Kiyai Sabrang Tujuh Langit pada Raja. Sebagai jawaban , Raja memberikan seuntai tasbih yang terbuat dari kerikil gi0k berwarna hijau pekat. Tasbih itu bukan tasbih biasa lantaran bisa men0lak racun serta mempunyai kekuatan besar.
Perjamuan itu menjadi semarak lantaran dipertunjukkan aneka macam tarian dari beberapa pr0pinsi. Menjelang tengah malam , perjamuan gres selesai dan r0mb0ngan diantar ke tempat bermalam yakni sebuah bangunan besar di luar temb0k selatan istana. Selama dua hari r0mb0ngan diajak melihat-lihat beberapa tempat berpemandangan indah.
Pada malam ketiga sesuai yang telah diatur kedua belah pihak mengadakan pertmuan lagi di sebuah gedung yang biasanya digunakan untuk pertunjukan termasuk perunjukan kepandaian silat. Acara kali ini tidak dihadiri 0leh Raja , tapi beberapa pejabat penting termasuk Kepala Barisan Pengawal Raja dan Kepala Balatentara Ti0ngk0k Daerah Timur ikut hadir. Lu Li0ng 0ng sendiri tidak kelihatan lantaran kabarnya masih dalam perawatan akhir perkelahian dengan anak buah L0 Sam T0jin temp0 hari. Tuan rumah menyuguhkan beberapa pertunjukan silat tangan k0s0ng dan mempergunakan senjata diseling dengan pertunjukan akr0bat. Setelah itu giliran murid-murid Ageng Musalamat ganti memperlihatkan keb0lehan mereka. Bagian ketiga yang merupakan penggalan epil0g ialah pertandingan persahabatan antara pihak tuan rumah dan tamu dari tanah Jawa.
Agaknya dalam rangka persahabatan dan saling mengh0rmat , kedua belah pihak tidak berani menurunkan tangan keras. Walau begitu pertandingan itu berjalan cukup seru dan tidak henti-hentinya mendapatkan sambutan tepuk tangan dari semua yang hadir. Ketika pemandu pr0gram berkemas-kemas untuk menutup pr0gram malam itu tiba-tiba sebuah benda kuning melesat di udara kemudian menancap di atas panggung. Ketika semua 0rang memperhatikan benda itu ternyata ialah sebatang besi sepanjang stu t0mbak yang pada ujungnya terikat sebuah bendera besar berwarna kuning. Pada penggalan tengah bendera , dalam lingkaran merah terlihat gambar berupa kunciran rambut. “Bendera Perkumpulan Kuncir Emas!” seru semua 0rang yang mengenali. Tempat itupun menjadi gempar. Belum berhenti getaran besi bendera yang menancap di lantai panggungm belum reda bunyi gaduh 0rang-0rang yang gempar tiba-tiba terdengar bunyi tawa mengekeh panjang. Lampu-lampu besar di ruangan itu berkelapkelip.
“Braakk!”
L0teng di atas panggung ambruk. Saat itu juga ses0s0k bayangan melayang turun dan tegak tepat di samping kanan bendera kuning.
“L0 Sam T0jin!” beberapa 0rang yang duduk di barisan depan hingga terl0njak dari dingklik masing-masing saking kagetnya.
Ageng Musalamat sendiri yang ada di barisan dingklik terdepan mendadak saja merasa berdebar. Kedua matanya memandang tak berkesip pada 0rang yang di atas panggung. 0rang di atas panggung ternyata ialah se0rang kakek mengenakan jubah paderi berwarna serba hitam. Mukanya berwarna kuning muda. Sepasang alis , bibir , dan rambut yang dikuncir , dicat dengan warna kuning tua! S0s0k tubuhnya yang kurus tinggi menciptakan keseluruhan diri 0rang ini menjadi menyeramkan untuk dipandang. Apalagi sepasang matanya tak bisa membisu , selalu jelalatan. Di tangan kirinya ia memegang sebatang t0ngkat besi berwarna kuning.
“Apakah kalian sudah selesai mempertunjukkan keb0d0han masing-masing?!” Tiba-tiba L0 Sam T0jin , Ketua Perkumpulan Kuncir Emas keluarkan ucapan lantang kemudian tertawa mengekeh.
“Tak ada yang menjawab! Bagus! Itu berarti kalian menyadari keb0d0han masing-masing!” seru L0 Sam T0jin kemudian kembali tertawa bergelak-gelak.
Sese0rang berpakaian kebesaran militer yang duduk di barisan depan tegak dari kursinya kemudian membentak. 0rang ini ialah Suma Tiang Bun , Kepala Barisan Pengawal Istana.
“L0 Sam T0jin! Tindakanmu sungguh kurang asuh sekali! Lekas turun dari panggung dan tinggalkan tempat ini!”
“Ah…! Ternyata pejabat-pejabat di K0taraja ini tidak besar kepala semua!” L0 Sam T0jin menjawab.
“Apa maksudmu?!” sentak Suma Tiang Bun dengan mata mendelik.
“Beberapa hari kemudian , se0rang pejabat berjulukan Lu Li0ng 0ng sesumbar jual 0m0ngan besar mau menyerbu kediamanku di lembah Pek-Hun dan mau menangkap diriku! Mana ia 0rang she Lu itu? Aku tidak melihatnya di tempat ini! Aku sengaja tiba jauh-jauh kemari. Tapi ternyata tidak ditangkap. Malah se0rang jenderal berjulukan Suma Tiang Bun dengan perilaku h0rmat memintaku untuk berlalu. Ha… ha… ha…!”
Merah padam muka Kepala Barisan Pengawal Istana itu. Dia cepat memandang berkelliling dan siap berteriak pada para pengawal untuk memberi perintah agas segera menangkap L0 Sam T0jin tapi alangkah terkejutnya Jenderal ini ketika melihat tidak satupun angg0ta pengawal ada di ruangan itu. Malah seputar dinding ruangan kelihatan sekitar dua puluh 0rang berpakaian hitam , dengan wajah tertutup kain hitam , rembut kuning dikucir di atas kepala! Di atas panggung L0 Sam T0jin kembali tertawa mengekeh.
“Jenderal Suma! ,” teriak L0 Sam T0jin , “kau tak usah khawatir. Semua anak buahmu berada di gudang belakang. Semua tertidur pulas. Tapi tanpa napas alias mati semua! Ha… ha… ha…!”
Terkejutlah Suma Tiang Bun mendengar ucapan L0 Sam T0jin itu. Dia cepat berpaling pada se0rang lelaki gemuk pendek yang tegak di sampingnya. 0rang ini ialah Jenderal Tjia , Kepala Balatentara Daerah Timur.
“Jenderal , saya minta bantuanmu. Lekas himpun kekuatan. Lucuti semua angg0ta Kuncir Emas yang ada di tempat ini. Aku akan menangkap paderi sesat itu hidup-hidup!” Jenderal Tjia mengangguk.
“Hati-hati Jenderal Suma. L0 Sam T0jin p0puler sangat lihay! Aku akan naik ke panggung membantumu begitu selesai menyusun kekuatan!” Begitu Jenderal Tjia bergerak.
Suma Tiang Bun berkelebat ke atas panggung. L0 Sam T0jin segera menyambutnya dengan ejekan.
“Ha… ha…! Aku jadi sungkan berhadapan denganmu Jenderal Suma! Kau mengenakan pakain bagus dan mewah. Aku Cuma menggunakan pakaian butut terbuat dari kain blacu hitam! Heh , pakaianmu itu tentu mahala harganya! Gajimu tentu besar! Ha… ha… ha..!”
“T0jin sesat! Tutup mulutmu! Aku masih memberi kesempatan terakhir kepadamu. Tinggalkan tempat ini!”
“H0… h0! Terus terang saya kemari bukan mencarimu. Tapi mencari 0rang lain! Sebelum saya menemukan 0rang itu jangan harapa saya akan minggat dari sini!”
“Kau akan menyesal. Sebentar lagi pasukan besar akan mengurung tempat ini. Kau dan anak buahmu tak bakal bisa keluar hidup-hidup dari sini!”
“Heemm… begitu?!” dua mata L0 Sam T0jin berputar-putar dan jelalatan kian kemari.
“mari kita main-main sebentar. Sudah usang saya tidak mengukur hingga dimana tingkat kepandaian se0rang Jenderal sepertimu!”
“Kalau kau memang minta digebuk , saya tuan besarmu tidak akan sungkan-sungkan lagi!” kata Suma Tiang Bun kemudian mel0mpat ke depan melancarkan serangan.
“Ha… ha! Hanya jurus 0uw li0ng cut t0ng! Siapa takut?!” ejek L0 Sam T0jin. Lalu sapukan t0ngkat besinya ke depan. (0uw li0ng cut t0ng = Naga hitam keluar g0a).
Jenderal Suma Tiang Bun tentu saja terkejut ketika mendengar L0 Sam T0jin menyebut nama jurus serangan yang dilancarkannya. Sebenarnya ini bukan satu hal yang mengherankan. Jenderal Suma dulunya pernah berguru pada se0rang t0k0h silat gemblengan Kun Lun Pay. Sedang L0 Sam T0jin sendiri ialah salah se0rang sesepuh itu. Kaprik0rnus ia sudah tahu semua jurus-jurus ilmu silat Partai.
“Jenderal Suma! Kalau kepandaianmu cuma sebegitu sungguh mengherankan , Raja mau mengangkatmu jadi Kepala Barisan Pengawal Istana! Lihat baik-baik. Aku akan hadapi seranganmu dengan jurus yang sama!” Lalu Ketua Perkumpulan Kuncir Emas itu sisipkan t0ngkat besi kuningnya.
Ketika serangan lawan berupa j0t0san keras siap melabrak dadanya L0 Sam T0jin berteriak keras.
“Jurus 0uw li0ng cut t0ng sejati!” Baik Jenderal Suma yang di atas panggung maupun semua 0rang yang berada di bawah panggung tidak sempat melihat kapan paderi melancarkan serangan tahu-tahu…
“Buukkk!”
Jenderal Suma terpental satu t0mbak ke belakang. Dari mulutnya terdengar erang kesakitan. Ketika ia memperhatikan tangan kanannya ternyata tangan itu telah membengkak merah. Rasa sakit masih sanggup ditahan 0leh sang Jenderal , tetapi amarah tak bisa dibendungnya. Didahului bentakan dahsyat ia mel0mpat ke depan. Kini terjadi perkelahian seru. Lima jurus Jenderal Suma Tiang Bun merangsek lawannya dengan seranganserangan ganas.
Tapi L0 Sam T0jin berubah laksana bayang-bayang. Memasuki jurus ke tujuh Jenderal Suma keluarkan seluruh kepandaiannya. Tenaga dalam dikerahkan penuh. Tubuhnya yang besar berkelebat mengeluarkan deru angin kencang. L0 Sam T0jin berseru keras ketika dapatkan dirinya karam dalam tekanan serangan lawan. Kini ia tidak menyerang dengan sepasang tangannya melainkan pergunakan lengan jubah untuk mengebut gempuran lawan.
“Wuuss…! Wuuss…!”
Dua larik sinar hitam menderu keluar dari ujung lengan jubah hitam sang paderi. Sinar di sebelah kanan berhasil dielakkan Jenderal Suma. Namun sinar yang menyambar dari arah kiri menghantam dadanya dengan telak. Untuk kedua kalinya 0rang ini terpental. Mukanya tampak pucat. Kedua kakinya kelihatan bergetar keras. Dari mulutnya ada darah meleleh. Sang Jenderal menderita luka dalam yang cukup parah.
“Paderi keparat! Biar kupatahkan kepalamu dari tubuh detik ini juga!” kertak Suma Tiang Bun.
“Srett!”
Dia cabut pedang yang tersisip di pinggangnya. Sekali ia menggerakkan tangan maka sinar putih bertabur menyambar ke leher L0 Sam T0jin. Si kakek ganda tertawa. Tangannya bergerak ke pinggang. Selarik sinar kuning berkiblat.
“Traangg!”
Bunga api memercik di atas panggung ketika pedang Suma Tiang Bun beradu keras dengan t0ngkat besi L0 Sam T0jin. Celakanya , lantaran semenjak pertama tangn kanan sudah cidera maka genggamannya pada gagang pedang tidak teguh. Akibatnya begitu bentr0kan senjata , pedang di tangan Jenderal Suma terlepas mental. Di atas pangung L0 Sam T0jin angkat t0ngkat besinya ke udara. Semua 0rang terkesiap ketika melihat bagaimana pedang Jenderal Suma yang mencelat mental ke udara , laksana dised0t , melayang turun kemudian menempel pada tubuh t0ngkat besi kuning. Dengan cepat L0 Sam T0jin ambil pedang itu. Lalu ia tertawa mengekeh.
“Jenderal Suma! Aku akan membelah tubuhmu dengan pedang milikmu sendiri! Bersiaplah untuk menghadapa Giam l0 0ng! Ha… ha… ha…!” (Giam l0 0ng = malaikat maut).
Jenderal Suma berusaha menyelamatkan diri dari sambaran pedang dengan mel0mpat ke belakang. Dia menyambar sebuah jambangan di kiri panggung. Sewaktu pedang kembali membabat ia menangkis dengan jambangan itu. Jambangan yang terbuat dari p0rselen hancur berantakan. Di lain kejap pedang di tangan L0 Sam T0jin menderu dari atas ke bawah , mengarah bat0k kepala Jenderal Suma. Rupanya t0jin ini benar-benar hendak menerangkan katakatanya yaitu ingin membelah tubuh sang Jenderal! Sementara itu di bawah panggung lima puluh angg0ta pasukan Kerajaan yang dibawa Jenderal Tjia bertempur seru melawan dua puluh 0rang anak buah L0 Sam T0jin.
Walau mereka berjumlah lebih sedikit namun Karena rata-rata mempunyai kepandaian tinggi dalam waktu singkat mereka berhasil mer0b0hkan lima prajurit. Jenderal Tjia sendiri dikala itu yang telah melihat ancaman maut mengancam Jenderal Suma segera mel0mpat ke atas panggung. Selagi tubuhnya melayang di udara ia lepaskan satu pukulan tangan k0s0ng mengandung tenaga dalam tinggi. L0 Sam T0jin sama sekali tidak menghindar sewaktu mencicipi ada sambaran angin menyerang ke arah sepuluh jalan darah di sisi kirinya. Sambil meneruskan bac0kannya ke kepala Suma Tiang Bun , kakek ini putar t0ngkat kuningnya. Sinar kuning bertabur. Angin laksana angin ribut mendera ke arah tubuh Jenderal Tjia. 0rang gemuk pendek ini berseru kaget ketika tubuhnya terpental ke bawah panggung. Selagi ia berusaha mengimbangi diri supaya tidak jatuh terbanting di lantai , t0mbak besi di tangan L0 Sam T0jin tahutahu melayang. Demikian cepatnya sambaran t0ngkat besi ini hingga Jenderal Tjia tak bisa selamatkan diri. T0ngkat besi menancap di ulu hatinya! 0rang banyak yang ada di tempat itu menjadi gempar. Terlebih ketika melihat bagaimana pedang di tangan L0 Sam T0jin siap pula membelah kepala Jenderal Suma!
– == 000 == –
DUA BELAS
SESAAT lagi Jenderal Suma akan menjadi mayit dengan kepala terbelah tiba-tiba dari bawah panggung , dari barisan dingklik paling depan melesat satu bayangan putih. Bersamaan dengan itu ada sambaran angin menderu ke arah L0 Sam T0jin yang menciptakan kakek bermuka kuning ini terhuyung-huyung. Walau ia masih sanggup meneruskan bac0kannya namun mata pedang meleset jauh , tak sanggup membelah kepala Jenderal Suma melainkan hanya membelah angin. Satu tangna kemudian menarik leher pakaian Suma Tiang Bun hingga Jenderal ini terpisah jauh dari L0 Sam T0jin. Semua 0rang berseru terkesiap. Bahkan para prajurit dan anak buah Perkumpulan Kuncir Emas tanpa diberi isyarat sama-sama hentikan pertempuran dan memandang ke atas panggung. Di atas panggung dikala itu tegak se0rang lelaki tinggi tegap mengenakan jubah putih. Kulitnya c0klat dan di tangan kirinya ia memegang seuntai tasbih.
“Tamu asing itu! Dia menyelamatkan Jenderal Suma!” sese0rang berseru.
Suasana menjadi gempar sesaat namun segera sirap. Semua mata ditujukan ke atas panggung. Sepasang mata L0 Sam T0jin yang selalu jelalatan tak bisa membisu kini terpentang lebar , memandang tak berkesip pada 0rang berjubah putih di hadapannya yang bukan lain ialah Kanjeng Sri Agengn Musalamat. L0 Sam T0jin usap-usapkan tangan kirinya ke dagu. Pedang di tangan kanan tiba-tiba dihunjamkan ke bawah hingga menancap di lantai panggung.
“Dicari susah sekali! Dijemput tak mau datang! Tahu-tahu dikala ini muncul di hadapanku! Kaprik0rnus inilah 0rang asing dari tanah Jawa yang katanya mempunyai kepandaian tinggi , tiba membawa sebilah keris emas sakti untuk Raja Ti0ngk0k! Ha… ha… ha!”
Karena tidak tahu apa yang dikatakan L0 Sam T0jin , Ageng Musalamat hanya tersenyum dan membungkuk. Sang paderi makin keras tawanya. Tiba-tiba kakinya bergerak menendang ke arah tubuh pedang yang menancap di lantai panggung.
“Desss!”
“Wuuut!”
Pedang yang menancap melesat ke atas , berputar laksana baling-baling , menyambar ke arah Ageng Musalamat. Ageng Musalamat gerakkan tangan kanannya yang memegang tasbih. Tasbih ini ialah hadiah yang diterima Ageng Musalamat dari Raja Ti0ngk0k sebagai jawaban keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit yang diberikannya pada Raja.
“Tring.. tring… tring!”
Terdengar bunyi berdentringan beberapa kali. Bunga api memijar enam kali berturut-turut. Ageng Musalamat terkejut dan cepat mel0mpat ketika tangannya yang memegang tasbih terasa pedih menyerupai ditusuk puluhan jarum. Sebaliknya Ketua Perkumpulan Kuncir Emas tak kalah kagetnya. Hantaman tasbih di tangan Ageng Musalamat walau ditujukan pada pedang yang berputar namun ada hawa aneh yang membuatnya melangkah mundur terhuyung-huyung. Sementara itu pedang yang kena hantaman tasbih jatuh berdentrangan di bawah panggung.
“0rang asing , saya mengagumi kehebatanmu!” kata L0 Sam T0jin seraya membungkuk. Ageng Musalamat balas mengh0rmat.
“Aku tak punya waktu lama. Aku ingin kau ikut bersamaku ke lembah Pek-hun kini juga. 0rang sepertimu saya perlukan untuk bantu membangun Partai Kuncir Emas…“
Lalu L0 Sam T0jin berikan tanda dengan isyarat tangan supaya Ageng Musalamat mengikutinya. Ageng Musalamat gelengkan kepala dan g0yangkan tangannya. Melihat ajakannya dit0lak marahlah L0 Sam T0jin. Ke dua tangannya did0r0ngkan ke muka. Gerakannya perlahan saja. Tapi apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Dari ujung dua lengan jubahnya melesat angin sederas t0pan. Panggung berg0ncang. Tirai-tirai tebal berg0yang keras bahkan ada yang r0bek. Di atas panggung tubuh Kanjeng Agung Musalamat berg0ncang hebat.
“Jatuh!” teriak L0 Sam T0jin seraya lipat gandakan tenaga dalamnya.
Mukanya yang kuning kelihatan menyerupai mengkerut. G0ncangan di tubuh Ageng Musalamat semakin hebat. Jubah putihnya tampak r0bek di beberapa bagian. Dia bertahan sambil membungkuk dan mengepalkan tinju. Tasbih di tangan kanannya berputarputar kian kemari.
“Jatuh!” teriak L0 Sam T0jin , sekali lagi.
Ageng Musalamat bertahan mati-matian supaya tidak r0b0h. Lantai panggung yang dipijaknya tiba-tiba berubah panas laksana ia menginjak bara api!
“Kalau saya bertahan , cepat atau lambat saya akan jatuh! 0rang renta bermuka kuning ini mempunyai tenaga dalam luar biasa! Aku harus mencari jalan mengalahkannya tanpa menghinanya!”
Ageng Musalamat melirik pada pecahan jambangan p0rselen yang bertebaran di lantai panggung sebelah kiri. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat. Tenaga dalamnya dikerahkan ke kaki kanan. Tiba-tiba kaki itu dihentakkannya ke lantai panggung. Laksana senjata rahasia , puluhan pecahan p0rselen menghambur ke arah L0 Sam T0jin. Selagi Ketua Perkumpulan Kuncir Emas ini berteriak kaget , puluhan pecahan p0rselen menancap di sekujur pakaian hitamnya. Pecahan p0rselen ini menancap demikian rupa laksana disisipkan dengan hatihati dan rapi hingga tak ada penggalan tubuh L0 Sam T0jin yang terluka ataupun terg0res! Kalau saja mukanya tidak dilapisi cat kuning maka semua 0rang akan melihat bagaimana wajah L0 Sam T0jin telah berubah sepucat mayat!
Kakek ini menyadari kalau mau Ageng Musalamat tadi niscaya bisa membunuhnya dengan tusukan puluhan pecahan p0rselen itu.
“0rang asing…” kata L0 Sam T0jin dengan bunyi bergetar.
“Aku menaruh kagum padamu! Aku juga menaruh h0rmat! Kalau saya tidak bias membawamu ke lembah Pek-hun untuk kujadikan guru besar Perkumpulan Kuncir Emas , pelajaran yang kau berikan dikala ini cukup membuatku puas. Aku berterima kasih untuk semua itu…” L0 Sam T0jin membungkuk berulang kali.
Ageng Musalamat membalas pengh0rmatan itu dengan cara yang sama yaitu membungkuk pula beberapa kali. Pada dikala itulah tiba-tiba tangan kanan L0 Sam T0jin bergerak dan!
“Kanjeng guru! Awas!” Sese0rang berteriak dari bawah panggung.
Ageng Musalamat cepat mengangkat kepalanya. Sebenarnya tadipun ia sudah mendengar ada bunyi menderu tiba dari depan. Ketika melihat ke depan terkejutlah dia! Lima ek0r ular aneh berwarna hitam dengan sirip di kepala dan di tubuh melesat ke arahnya.
“Ular iblis pencabut nyawa!” teriak beberapa 0rang di bawah panggung.
Ular terbang yang diberi julukan , “ular iblis pencabut nyawa” itu ialah senjata rahasia paling berbahaya yang jarang dikeluarkan L0 Sam T0jin. Di tempat penyimpanannya di dalam sebuah kant0ng di balik pakaiannya lima ular itu tak ubahnya menyerupai kayu kaku. Tapi begitu melesat di udara berubah se0lah ular sungguhan. Melesat dengan membuka lisan lebar-lebar. Siap untuk mematuk sasaran!
Ageng Musalamat tanpa pikir panjang jatuhkan diri ke atas lantai panggung. Tasbih di tangan kanan diputar sebat. Tiga ular beracun lewat di atasnya , menancap pada tiang kayu panggung. Dua lainnya dihantam hancur dengan tasbih. L0 Sam T0jin menggereng marah. Dia menerjang ke depan , menyerang dengan ganas dan tenaga dalam penuh. Lima jari tangannya terpentang , mencuat ke depan dan mendadak Ageng Musalamat melihat lima jari kiri kanan tangan lawannya menjelma cakar besi membara! Inilah ilmu hitam yang paling diandalkan 0leh L0 Sam T0jin yang selama ini tidak satu musuhpun sanggup menghadapinya.
0rang banyak di bawah panggung , terutama para pejabat tinggi yang tahu betul akan keganasan ilmu yang dimiliki Ketua Perkumpulan Kuncir Emas itu jadi tercekat. Mereka tidak bisa mengira lain. Ageng Musalamat akan menemui kematian dengan muka terk0yak , perut jeb0l dan isi perut membusai. Tapi apa yang terjadi kemudian menciptakan semuanya secara tidak sadar keluarkan seruan tertahan hampir berbarengan. Di atas panggung L0 Sam T0jin melihat muka Ageng Musalamat menjelma kepala seek0r harimau putih. Selagi ia tertegun kecut lawan telah mel0mpat ke hadapannya. Ageng Musalamat mencicipi terjadi keganjilan atas dirinya. Sepasang tangan dan ke dua kakinya bergerak diluar kendalinya.
Tasbih dalam genggamannya menderu menabur sinar angker. Dia mendengar bunyi bergedebukan berulang kali. Lalu…
“Praaakkk!” Rahang kiri L0 Sam T0jin remuk.
Tubuhnya terpelanting namun sungguh hebat. Mukanya yang kuning babak belur. Sepasang matanya menggembung infeksi dan mengeluarkan darah. Hidungnya remuk sedang mulutnya pecah! Tapi hebatnya kakek ini masih bisa berdiri walau kini kepalanya kelihatan miring. Ludah campur darah disemburkannya ke arah Ageng Musalamat hingga jubah putih 0rang ini penuh dengan n0da merah. Ageng Musalamat jadi mendidih amarahnya. Tapi sikapnya tetap tenang. Ketika lawan berusaha menyergapnya dengan satu serangan kilat , tangan Ageng Musalamat kiri kanan menderu ke depan , menghujani muka dan dada L0 Sam T0jin. Ketika paderi ini terhuyung-huyung , berusaha berdiri sambil memegang tirai panggung , kaki kanan Ageng Musalamat mendarat di dagunya. Darah menyembur.
Tubuh L0 Sam T0jin mencelat ke bawah panggung , jatuh di antara 0rang banyak. Tidak berkutik lagi , tidak bernapas lagi!
“L0 Sam T0jin mati! L0 Sam T0jin mati!” teriak beberapa 0rang.
Tempat itu menjadi gempar. Beberapa 0rang angg0ta Kuncir Emas yang tahu ancaman secepat kilat ambil langkah seribu menyelinap di antara 0rang banyak kemudian menghilang. Di atas panggung Ageng Musalamat memandang ke bawah. Tadi sewaktu ia membungkuk dan tidak sempat melihat datangnya serangan lima ular iblis pencabut nyawa , se0rang di bawah sana berteriak mengingatkannya.
“Kanjeng guru! Awas!” Dia kenal bunyi itu.
Dia merasa telah dit0l0ng dan diselamatkan. Pandangan Ageng Musalamat membentur s0s0k Cagak Gunt0r0 , murid yang telah dihukumnya lantaran mengira keras dialah yang berusaha mencuri keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit.
“Berarti… Jangan-jangan saya telah salah menjatuhkan eksekusi ,” kata Ageng Musalamat dalam hati.
– == 000 == –
TIGA BELAS
KEMATIAN L0 Sam T0jin Ketua Perkumpulan Kuncir Emas menggegerkan daratan Ti0ngk0k daerah timur. Di pegunungan Kun Lun 0rang-0rang Kun Lun Pay mengadakan pesta besar atas kematian 0rang yang mereka anggap sebagai pengkhianat itu. Lima 0rang utusan khusus Ketua Partai tiba menemui Kanjeng Sri Ageng Musalamat.
Mereka membawa hadiah-hadiah besar dan memberikan undangan Ketua Partai supaya Ageng Musalamat suka berkunjung ke markas mereka. Dengan sangat hati-hati Ageng Musalamat men0lak mendapatkan hadiah itu. Dia hanya mau berjanji bila ada kesempatan akan mendapatkan undangan dan berkunjung ke pegunungan Kun Lun. Namun utusan Ketua Partai Kun Lun memaksa supaya Ageng Musalamat mau mendapatkan hadiah itu. Setelah saling bersitegang kesannya Ageng Musalamat mengalah. Namun semua hadiah kemudian disampaikannya kepada beberapa panti asuhan , termasuk panti asuhan di Hsin Yang yang diurus 0leh P0uw G0an Keng dimana Ki H0k Kui tinggal. Ketika inf0rmasi tewasnya L0 Sam T0jin hingga ke istana , Raja meminta Ageng Musalamat datang. Kepadanya Raja menghadiahkan satu daerah subur tak jauh dari Hsin Yang.
Di situ dibangun belasan rumah yang sanggup didiami 0leh Ageng Musalamat dan r0mb0ngannya selama mereka suka. Raja juga memperlihatkan satu jabatan penting bagi Ageng Musalamat namun dengan halus kedudukan bagus itu dit0laknya. Lama kelamaan tempat kediaman Ageng Musalamat semakin berkembang luas hingga menjadi satu k0ta kecil dimana hampir semua penduduknya ialah 0rang-0rang Muslim. Dalam rimba persilatan di daratan Ti0ngk0k nama Ageng Musalamat menjadi satu nama besar. Maklum saja lantaran selama ini tidak ada satu 0rang pandai bahkan pihak Kerajaan yang bisa mengalahkan atau menangkap L0 Sam T0jin. Ageng Musalamat disejajarkan ketinggian ilmunya dengan t0k0h-t0k0h kang-0uw di daratan Ti0ngk0k pada masa itu. (kang-0uw = dunia persilatan)
Diam-diam beberapa Partai berusaha memperebutkan Ageng Musalamat dengan maksud supaya 0rang sakti ini mengajarkan kepandaiannya pada mereka. Namun Ageng Musalamat lebih suka menentukan membisu di tempat yang telah diberikan Raja padanya. Di sini ia membuka satu perguruan tinggi silat yang jumlah muridnya selalu bertambah. Ki H0k Kui termasuk salah se0rang murid yang paling disukai dan dipercaya Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Anak yang cerdik ini bukan saja menimba ilmu silat dari gurunya itu , tapi juga dengan tekun mempelajari bahasa dan g0resan pena Jawa. Sampai dua tahun dimuka jabatan Kepala Balatentara Daerah Timur yang ditinggal Jenderal Tjia masih tetap l0w0ng. Untuk sementara jabatan tinggi ini dirangkap 0leh Jenderal Suma Tiang Bun.
Namun entah dari mana asalnya tersiar kabar bahwa Raja akan mengangkat Ageng Musalamat menduduki jabatan Kepala Balatentara Daerah Timur itu. Tanpa melaksanakan penyelidikan benar tidaknya inf0rmasi itu Jenderal Suma terlanjur merasa jadi tidak suka terhadap Kanjeng Sri Ageng Musalamat lantaran menganggap 0rang ini bisa merampas kedudukan rangkap yang bekerjsama sangat ingin dipertahankannya. Rasa tidak sukanya itu ditebar demikian rupa hingga satu demi satu ia berhasil mengumpulkan 0rang-0rang penting bergabung dengan ia untuk tidak menyukai Ageng Musalamat yang bagaimanapun juga ialah 0rang asing. Tindakan Jenderal Suma tidak hingga disitu saja. Dia berkali-kali menghadap Raja untuk memberikan lap0ran yang memburukkan nama Ageng Musalamat. Ageng Musalamat sendiri bukan tidak tahu kalau banyak 0rang-0rang tertentu tidak suka padanya. Namun ia tidak ambil perduli. Sikapnya pada 0rang-0rang yang membencinya itu biasabiasa saja. Dia lebih memperhatikan pengembangan k0ta kecilnya yang melebar hingga berdampingan dengan Hsin Yang.
Akhirnya keseluruhan k0ta dijadikan satu dan diberi nama Hsin Yang. Setelah bertahun-tahun tinggal di Hsin Yang rasa betah perlahan-lahan mengikis rasa rindu terhadap tanah Jawa. Bahkan kesannya Ageng Musalamat nikah dengan se0rang penduduk 0risinil seagama. Perbuatannya ini diikuti pula 0leh hampir semua anak buahnya. Akibatnya Hsin Yang semakin berkembang dan tak sanggup lagi dikatakan k0ta kecil. Sebagian penduduknya hidup dari bertani dan sebagian lainnya menc0ba berdagang.
Nama k0ta Hsin Yang menjadi harum seharum nama Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Jumlah pengikut dan anak murid Ageng Musalamat bukan hanya ratusan tapi hingga ribu-ribuan. Cagak Gunt0r0 yang telah dibebaskan dari eksekusi semenjak lima belas tahun kemudian hidup berbahagia dengan se0rang istri dan dua anak. Munding Sura menempuh jalan berbeda. Sampai dikala itu ia tidak kawin dan sering mengelana hingga berbulan-bulan untuk menyebarkan ilmu silat pada penduduk setempat. Ratusan keluarga besar Ageng Musalamat hidup rukun di Hsin Yang membentuk satu kekuatan besar yang lambat laun menciptakan para penjahat tinggi di K0taraja merasa kurang enak. Ketidak enakan ini disulut pula 0leh Jenderal Suma Tiang Bun.
TANPA terasa telah dua puluh tahun Ageng Musalamat bermukim di Ti0ngk0k. Selama berumah tangga sayangnya ia tidak dikarunia anak. Karena itu rasa kasih sayangnya banyak tercurah pada murid terpandainya yakni Ki H0k Kui. B0leh dikatakan selama dua puluh tahun Ki H0k Kui tidak menyianyiakan kesempatan.
Pada dikala ia berusia tiga puluh hampir seluruh ilmu kepandaian Ageng Musalamat berhasil diserapnya. Bahasa Jawanyapun tak kalah med0k dengan 0rang-0rang yang tiba dari tanah Jawa itu. Keberadaan Ageng Musalamat yang tumbuh menjadi satu kekuatan besar rupanya tidak lepas dari perhatian Raja. Suatu hari ia dipanggil ke istana. Ternyata satu pertemuan penting yang dihadiri 0leh pejabat-pejabat tinggi termasuk Jenderal Suma telah diatur.
Dalam pertemuan Raja mengumumkan bahwa Kanjeng Sri Ageng Musalamat diangkat menjadi Tik0an berkedudukan di Hsin Yang dengan daerah kekuasaan tak terkira luasnya. Sekali ini Ageng Musalamat merasa sungkan untuk men0lak keputusan Raja itu. (Tik0an = jabatan sederajat Bupati) Kalau Raja merasa gembira mendapatkan Ageng Musalamat mendapatkan jabatan yang diberikannya , tidak begitu dengan 0rang-0rang yang tidak menyukainya. Di bawah pimpinan Jenderal Suma yang pernah diselamatkan nyawanya 0leh Ageng Musalamat maka disusunlah satu fitnah besar untuk menjatuhkan Tik0an gres itu.
“Heran ,” kata Jenderal Suma pada kawan-kawannya.
“Ilmu pemikat apa yang digunakan 0leh Jawa itu. Aku sudah berkali-kali memberi tahu Raja akan perbuatan-perbuatannya yang buruk dan berbahaya. Eh malah Raja mengangkatnya menjadi Tik0an….”
Se0rang wanita tinggi semampai berpakaian bagus dan berdandan menc0l0k memegang pundak Jenderal Suma. Dia ialah salah se0rang t0k0h silat istana yang berhasil ditarik Jenderal Suma Tiang Bun ke dalam kel0mp0knya.
“Untuk menjatuhkan kerikil karang , 0mbak besar tak b0leh putus asa. Jika ia tidak bisa kita jatuhkan dengan jalan halus , jalan berangasan bisa kita pergunakan. Bukankah bekas anak buah L0 Sam T0jin di lembah Pek-hun yang ribuan banyaknya itu bersumpah untuk membalas dendam kematian Ketua mereka? Lagi pula saya ada satu rencana besar yang bisa kita jalankan. Selain itu bukankah kita bisa memperalat 0rang Jawa anak murid si Kanjeng yang satu itu untuk memberi lebih banyak keterangan ihwal ilmu-ilmu yang dimiliki Ageng Musalamat?”
“Hemmm…. Apa rencana besar yang barusan kau katakan itu L0uw Bin Ni0?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan kedipkan matanya dengan genit.
“Jika kau ingin tahu bukan di sini tempatnya ,” jawab L0uw Bin Ni0 sambil memandang pada 0rang-0rang yang ada di situ.
Mendengar ucapan ini dan melihat pandangan L0uw Bin Ni0 semua 0rang yang ada di situ menjadi maklum. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu.
“Ikuti saya ,” kata L0uw Bin Ni0 sambil mengg0yangkan pinggulnya yang besar.
Perempuan ini ialah se0rang t0k0h silat istana yang semenjak masih gadis secara belakang layar telah menjadi kekasih gelap Jenderal Suma. L0uw Bin Ni0 membawa lelaki itu ke dalam sebuah kamar. Begitu pintu dikuncinya pribadi die memeluk Jenderal Suma dengan penuh nafsu seraya berbisik dengan mata berkilat-kilat.
“Sudah berapa usang kita tidak berkasih-kasihan Suma Tiang Bun…”
“Hampir dua minggu. Maafkan saya Bin Ni0 Urusanku banyak sekali akhir-akhir ini….”
“Sekarang lupakan semua urusan itu. Darahku sudah panas Suma. Cepat buka bajuku dan saya akan membuka bajumu!” Lalu jarijari tangan L0uw Bin Ni0 bergerak.
Dia bukan membuka pakaian Jendera Suma secara masuk akal tapi mer0beknya dengan penug nafsu. Justru hal inilah yang disukai sang Jenderal Perempuan itu bisa memuaskannya dengan kekerabatan tubuh yang aneh-aneh sementara istrinya yang gemuk di rumah hanya merupakan s0s0k hambar sedingin salju di puncak Thay San.
– == 000 == –
EMPAT BELAS
SALAH satu tantangan dalam hidup insan ialah kemampuan untuk bertahan terhadap g0daan. Sejak Adam termakan 0leh setan hingga memakan buah larangan kemudian bersama Hawa diusir dari Taman Firdaus , semenjak itu pula setan senantiasa membayangi insan , menarik hati supaya melaksanakan kesesatan. Hal ini yang terjadi dengan diri Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Selama dua puluh tahun ia sanggup bertahan terhadap hasutan setan yang selalu mend0r0ngnya supaya membuka halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa yang selalu dibawanya kemana-mana.
Malam itu entah mengapa , sewaktu hasutan setan menghantuinya , ia tidak berdaya melawan. Semakin dilawan semakin keras d0r0ngan untuk ingin mengetahui apa bekerjsama yang ada di halaman ke lima dan halaman berikut kitab sakti itu. Dalam keadaan bimbang kesannya Ageng Musalamat naik ke atas l0teng rumah dimana terletak sebuah ruangan tempat ia biasa bersunyi diri. Dari balik jubah putihnya dikeluarkannya Kitab Putih Wasiat Dewa. Dadanya berdebar keras , tangannya gemetar. Tengkuknya mendadak merasa dingin. Kitab yang hendak dibukanya ditutupnya kembali. Pada dikala itulah setan menghasut melalui bunyi hatinya.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , apa yang kau khawatirkan? Kau tidak disuruh merenangi lautan api atau mendaki gunung kerikil membara. Apa susahnya membalik halaman kitab itu? Jangan mau dib0d0hi Datuk Ra0 Basalauang Ameh. Dia tidak ingin kau menjadi penguasa dunia persilatan. Itu sebabnya ia melarangmu. Tapi kini kau berada jauh dari tanah Jawa. Mana mungkin ia mengetahui. Sekali kau membuka halaman ke lima kitab sakti itu , dunia persilatan berada di tanganmu. Raja Ti0ngk0k kelak akan memberikan jabatan yang lebih tinggi bagimu…” Ageng Musalamat menggigit bibirnya sendiri.
Berkali-kali ia menarik napas dalam. Akhirnya keputusannya bulat. Tangan kanannya walaupun masih gemetar bergerak membuka halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa! Begitu halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa terbuka , terpentanglah sepasang mata Kanjeng Sri Ageng Musalamat!
Ternyata halaman itu k0s0ng!
Tak ada gambar tak ada tulisan. Dibaliknya halaman-halaman berikutnya. Sama! K0s0ng!
“0rang menipuku…“ kata Ageng Musalamat terperangah.
“Datuk Ra0 Basaluang Ameh mendustaiku. Halaman kelima dan halaman lainnya ternyata tidak ada apa-apanya!”
Pada dikala itulah tiba-tiba terdengar bunyi tiupan seruling di kejauhan. Suaranya mengalun lembut berhiba-hiba kemudian menderam bunyi auman binatang. Ageng Musalamat tercekat. Parasnya menjadi pucat pasi.
“Datuk Ra0…” desisnya.
Baru saja ia menyebut nama itu di hadapannya muncul dua kepulan asap putih yang dengan cepat berubah membentuk s0s0k tubuh Datuk Ra0 Basaluang Ameh dan temannya si harimau putih berjulukan Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Datuk Ra0 menatap dengan pandangan rawan pada Ageng Musalamat. Sadar bahwa ia telah melanggar pantangan Ageng Musalamat jatuhkan diri hendak merangkul kaki Datuk Ra0. Tapi 0rang renta itu mundur dua langkah hingga ia menangkap angin.
“Sayang sekali… Sayang sekali Kanjeng Sri Ageng Musalamat! Pada saat-saat terakhir imanmu runtuh! Padahal kau telah mengulang berpuluh kali membaca Sabda Dewa yang ke delapan. Imanmu tidak sek0k0h batu! Kau juga telah puluhan kali membaca Sabda yang kuasa ke tiga. Di dalam tubuh insan ada api. Mengapa insan tidak berpikir mencari manfaat dari pada kualat?!”
“Maafkan diriku Datuk! Aku mengaku bersalah , mengaku berd0sa. Aku akan melaksanakan apa saja yang bisa menebus d0sa kesalahanku!” kata Ageng Musalamat setengah meratap.
“Mengapa kau termakan melanggar pantangan , Ageng Musalamat?”
“Aku terhasut setan Datuk! Aku m0h0n maafmu. Lagi pula ketika halaman ke lima Kitab Wasiat Dewa kubuka , tidak ada apaapanya. Halaman itu k0s0ng!” Datuk Ra0 tersenyum.
“Matamu tidak menyerupai mata malaikat. Matamu. nyalang tapi penglihatanmu dihilangkan 0leh Yang Maha Kuasa hingga kau hanya bisa melihat halaman k0s0ng!” Tengg0r0kan Ageng Musalamat turun naik. Matanya membeliak dan wajahnya seputih kain kafan.
“Aku m0h0n ampunmu Datuk. T0l0ng diriku…”
“Kesalahan telah dibuat. Larangan telah dilanggar. Penyesalan tak ada gunanya Ageng Musalamat. Aku tidak tahu nasib apa yang akan menimpamu. Aku hanya ada dua pesan terakhir. Pertama hatihatilah. Kedua jangan lupa amanat supaya kau menyerahkan Kitab Wasiat Dewa pada 0rang yang paling kau percaya!” Datuk Ra0 angkat saluang emasnya kemudian mulai meniup.
Suara seruling itu menyerupai tadi mengalun lembut berhiba-hiba. Datuk Ra0 Bamat0 Hijau membuka lisan keluarkan bunyi auman. Bersamaan dengan sirnanya bunyi auman lenyap pulalah s0s0k asap ke dua makhluk itu.
*
* *
Sepanjang malam Kanjeng Sri Ageng Musalamat tak bisa memicingkan mata. Menjelang pagi ketika sepasang matanya sempat hendak terpicing tiba-tiba di luar terdengar derap kaki kuda , menyusul bunyi pintu diged0r. Beberapa 0rang yang bertugas sebagai pengawal di gedung Tik0an itu ikut menghambur ke pintu depan.
“Tik0an! Tik0an Kan-jieng Musalamat! Bangun! Buka pintu!” Ageng Musalamat terduduk di atas ranjang.
Telinganya dipasang kembali khawatir kalau-kalau tadi ia mendengar bunyi dalam mimpi.
“Tik0an Musalamat! Buka pintu! Cepat!”
“Eh , itu bunyi Ki H0k Kui. Ada apa ia pagi-pagi buta begini mengged0r pintu. Setahuku ia berada di timur…” Kanjeng Sri Ageng Musalamat yang jadi Tik0an di Hsin-Yang itu cepat-cepat turun ke bawah.
Begitu pintu dibuka masuklah muridnya Ki H0k Kui bersama Cagak Gunt0r0 dan beberapa 0rang pengawal.
”Ada apa H0k Kui? Mukamu pucat dan napasmu sesak?” Ageng Musalamat berpaling pada Cagak Gunt0r0.
Muridnya yang satu ini juga sama keadaannya dengan Ki H0k Kui.
“Lekas tinggalkan k0ta ini Tik0an. Seluruh penduduk harus diberitahu supaya segera mengungsi!” kata Ki H0k Kui yang kini telah menjadi se0rang lelaki gagah berusia tiga puluh tahun dan telah mewarisi hampir seluruh ilmu silat dan kesaktian Ageng Musalamat , kecuali ilmu Harimau Dewa.
“Tinggalkan k0ta?! Mengungsi?! Eh kalian ini tidak habis minum-minum dan mab0k?!” ujar Ageng Musalamat.
“Demi Tuhan , Kan-jieng….”
“Katakan ada apa?!” Ageng Musalamat membentak.
“Pasukan Kerajaan. Ribuan jumlahnya. Mereka hendak menyerbu ke sini! Mereka hendak membunuh kita semua! Hsin Yang hendak dimusnahkan sama rata dengan tanah!” Paras Ageng Musalamat jadi berubah.
“Bicara yang benar H0k Kui , jangan terburu-buru…” Ki H0k Kui atur jalan napasnya kemudian menuturkan ,
“Raja mendapatkan lap0ran dari Jenderal Suma Tiang Bun bahwa Kan-jieng berserikat dengan 0rang-0rang M0ng0l untuk meruntuhkan takhta Raja Ti0ngk0k. Ada yang melihat Jenderal Suma membawa sepucuk surat rampasan yang katanya ialah dari Raja M0ng0l ditujukan pada Kan-jieng. Isinya rencana penyusunan kekuatan serta siasat penyerbuannya ke K0taraja….”
“Fitnah!” teriak Ageng Musalamat dengan kedua tangan dikepal.
“Kan-jieng tahu Jenderal Suma sudah semenjak usang tidak menyukai Kan-jieng. Dia memang memfitnah. Celakanya Raja begitu saja mempercayai. Sebelum matahari terbit balatentara Kerajaan terdiri dari enam gel0mbang masing-masing berjumlah dua ribu 0rang akan hingga di sini. Selagi ada waktu harap Kanjieng mencari jalan selamat…”
Ageng Musalamat gelengkan kepala.
“Bahaya sebesar apapun yang akan tiba saya tidak akan pergi. Kau dan Cagak Gunt0r0 lekas beritahu penduduk dan ungsikan mereka. Aku tetap di sini. Aku akan menghadapi Jenderal culas itu!”
”Tapi Kan-jieng Jenderal Suma tidak sendirian. Dia membawa enam t0k0h silat istana , dua 0rang t0k0h silat g0l0ngan hitam dan kekasihnya yaitu L0uw Bin Ni0 yang dikenal dengan julukan Tjui-hun Hui-m0 (Iblis Terbang pencabut Nyawa) Dan ada yang melihat Munding Sura bersama Jenderal Suma!”
Terkejutlah Ageng Musalamat. Dia sudah usang mendengar kekerabatan gelap Jenderal Suma dengan L0uw Bin Ni0. Perempuan satu ini kabarnya mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi dan merupakan t0k0h n0m0r satu dalam barisan t0k0h silat istana!
Lain dari itu ia tidak mengira kalau Munding Sura murid yang dulu begitu dipercayanya ternyata ialah se0rang pengkhianat.
“Seribu Jenderal Suma b0leh datang. Seribu t0k0h silat istana b0leh muncul di hadapanku dan seribu L0uw Bin Ni0 b0leh unjukkan diri di sini. Tapi saya tidak akan melarikan diri. Aku tidak akan meninggalkan Hsin Yang!” Dari balik pakaiannya Ageng Musalamat keluarkan Kitab Wasiat Putih Dewa kemudian menyerahkannya pada Ki H0k Kui.
Ternyata muridnya inilah 0rang yang paling dipercayanya.
“H0k Kui , selamatkan kitab ini dan segera tinggalkan tempat ini!”
“Kan-jieng!” seru Ki H0k Kui.
“Saya tidak akan pergi! Saya siap bertempur bersama Kan-jieng!”
“Jangan berani membangkang H0k Kui!”
“Saya ingin mati bersama Kan-jieng!” teriak Ki H0k Kui.
“Plaaaakkkk!”
Satu tamparan melayang di pipi Ki H0k Kui.
Tamparan yang dilancarkan penuh kemarahan itu sanggup meremukkan tulang rahang manusia. Tapi jangankan cidera , bergeming sedikitpun tidak! Inilah kehebatan Ki H0k Kui hingga ia dijuluki Tiat T0w H0u atau Harimau Kepala Besi.
“H0k Kui! Ini perintah! Kalau kau tidak melaksanakan kubunuh kau dikala ini juga!” teriak Ageng Musalamat.
Ki H0k Kui mundur dua langkah. Ageng Musalamat maju mendatangi dan dengan cepat memasukkan Kitab Wasiat Dewa ke dalam baju muridnya itu.
“Kitab itu lebih berharga dari nyawaku! Kau harus menyelamatkannya H0k Kui!” Tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi menderu menyerupai air bah mendatangi.
Menyusul bunyi tiupan ter0mpet. Paras Ki H0k Kui berubah.
“Astaga! Saya tidak menyangka balatentara Kerajaan ternyata tiba lebih cepat…. “
“Lekas pergi dari sini Kui H0k!” hardik Ageng Musalamat. Dia berpaling pada Cagak Gunt0r0 dan berkata.
“Bangunkan istri dan para nelayan. Ungsikan mereka ke tempat yang aman. Sejauh mungkin dari Hsin Yang.”
Ketika Ageng Musalamat melihat H0k Kui masih berdiri di tempat itu diapun berteriak marah.
“Kau tunggu apa lagi?!” Dengan muka pucat dan berusaha keras menahan titiknya air mata Ki H0k Kui melangkah mundur ke pintu. Sebelum berkelebat ia berkata.
“Kan jieng guruku tercinta , saya berd0a untuk keselamatanmu!”
– == 000 == –
LIMA BELAS
PERAHU kecil itu terapung-apung dipermainkan 0mbak. Di dalamnya terbujur satu s0s0k tubuh hanya tinggal ku!it pembalut tulang , mengenakan pakaian yang nyaris hancur. Kulitnya yang tadi putih kini kelihatan merah kehitaman lantaran disengat sinar matahari. Dua matanya yang Terpejam perlahan-lahan terbuka. Dia berusaha mengangkat tubuhnya dari lantai bahtera yang mulai lapuk dan hanya menunggu hancur. 0rang ini bukan lain ialah Ki H0k Kui , murid terpandai dan paling dipercaya Ageng Musalamat.
Setelah mengetahui bahwa balatentara Kerajaan secara ganas benar-benar menghancurkan Hsin Yang dan membantai setiap 0rang yang mereka temui di k0ta itu termasuk gurunya , Ki H0k Kui kemudian menyelamatkan diri ke timur. Kalau bukan mengingat amanat sang guru ia sudah bertekad lingkaran untuk mati bersama di Hsin Yang. Kini ia menerima beban berat untuk menyelamatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Dia sudah selamat tapi kitab itu hendak diapakannya? Kalau dibawa akan dibawa kemana , kalau diserahkan akan diserahkan pada siapa?
Seperti mendapatkan satu kekuatan mistik Ki H0k Kui walau berada dalam keadaan sangat lemah duduk di lantai perahu. Dua matanya yang cekung rnenatap tak berkesiap.
“Pulau..” desisnya.
Dig0s0knya dua matanya dengan rasa tidak percaya. Betulkah yang dilihatnya di kejauhan itu ialah sebuah pulau? Kalau pulau rnergapa keseluruhannya berwarna merah? Tiba-tiba ia mendengar satu bunyi menyerupai berdesir di belakangnya. Perlahan-lahan kepalanya dipalingkan. Pucatlah paras cekung Ki H0k Kui.
“Astaga! Bagaimana mungkin mereka bisa mengejar hingga di sini!” Ratusan t0mbak di belakang bahtera kecil H0k Kui kelihatan sebuah kapal layar besar. Dari bendera yang berkibar di tiang utama terang kapal itu ialah kapal Kerajaan Ti0ngk0k. Apa bekerjsama yang telah terjadi? Setelah balatentara Kerajaan menghancurkan Hsin Yang dan membantai semua 0rang yang mereka temui di k0ta itu , Ki H0k Kui terpaksa melarikan diri dan ia menentukan arah timur yang lebih banyak diketahui seluk beluknya. Sewaktu Ki H0k Kui hingga di Nanchang , Jenderal Suma mengetahui dari Munding Sura bahwa Ki H0k Kui diduga masih hidup. Selain itu sewaktu tempat kediaman dan mayit Ageng Musalamat diperiksa Kitab Putih Wasiat Dewa tidak ditemukan.
Munding Sura yakin kitab itu telah diserahkan 0leh Ageng Musalamat kepada H0k Kui untuk diselamatkan. Jenderal Suma tetapkan untuk mengejar H0k Kui yang dikala itu dikabarkan melarikan diri menuju k0ta pelabuhan Se0ch0w. Tujuan sang Jenderal bukan saja untuk mengikis habis semua anak murid Ageng Musalamat tapi juga untuk mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Maka pengejaranpun diteruskan hingga di Se0ch0w. Di sini diketahui bahwa Ki H0k Kui telah membeli sebuah bahtera kecil dan melaut tanpa diketahui kemana tujuannya. Namun Munding Sura mempunyai dugaan dan hal ini diberitahukannya pada Jenderal Suma Tiang Bun. Menurut pendapatnya besar kemungkinan Ki H0k Kui melarikan diri menuju tanah Jawa. Pemburuan di lautpun dilakukan. Namun lantaran nakh0da kapal pengejar tidak begitu memahami daerah maritim selatan , satu bulan kemudian gres mereka berhasil mengejar bahtera Kui H0k. Kui H0k sendiri yang buta pelayaran ternyata bukannya menuju pantai utara pulau Jawa , tapi tersesat ke pantai selatan.
Di daerah inilah Jenderal Suma berhasil mengejarnya. Dari atas kapal layar lima buah bahtera diturunkan. Masingmasing bahtera berisi tiga penumpang. Perahu terdepan ditumpangi Jenderal Suma bersama Munding Sura dan se0rang t0k0h silat istana. Perahu kedua yang meluncur di samping bahtera sang Jenderal ditumpangi 0leh L0uw Bin Ni0 alias Tjui-hun Hui-m0 (Iblis Terbang Pencabut Nyawa) didampingi dua 0rang t0k0h silat g0l0ngan hitam.
Tiga bahtera lainnya masing-masing berisi se0rang perwira tinggi Kerajaan dan dua t0k0h silat. Dalam waktu singkat bahtera kecil Kui H0k Kui segera terkejar. Lima bahtera besar mengurungnya. Lima belas 0rang berkepandaian tinggi pribadi menyerang. Ada dengan tangan k0s0ng dan ada pula dengan senjata. Malah beberapa 0rang sengaja melepaskan senjata rahasia secara licik. Iblis Terbang Pencabut Nyawa sesuai dengan gelarnya dan mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lihay melancarkan serangan laksana terbang. Berkelebat kian kemari sambil kiblatkan sebilah g0l0k panjang. Walaupun mempunyai ilmu tinggi hingga dijuluki Harimau Kepala Besi , namun bila harus menghadapi lima belas lawan yang hebat mustahil Kui H0k Kui untuk menyelamatkan diri. Apalagi keadaannya dikala itu sangat lemah pula.
Jenderal Suma berulang kali berteriak supaya H0k Kui menyerahkan Kitab Putih Wasiat Dewa yang sudah sempat terlihat tersembul dari balik dada bajunya. Tapi H0k Kui pantang menyerah.
“L0uw Bin Ni0!” teriak Jenderal Suma yang sudah tidak sabaran.
“Bunuh bedebah itu. Rampas kitab putih di dadanya!”
“Dengan senang hati kekasihku!” jawab Iblis Terbang Pencabut nyawa.
“Tapi biar kupesiangi dulu tubuhnya!” Habis berkata begitu wanita ini melesat ke atas bahtera H0k Kui. G0l0knya menciptakan putaran ganas empat kali berturut-turut.
“Crass! Craass! Crass! Craass!”
Jeritan-setinggi langit menggelegar keluar dari lisan H0k Kui. G0l0k L0uw Bin Ni0 ternyata telah membabat buntung dua tangan di penggalan pundak dan sepasang kakinya di pangkal paha! Darah membanjiri lantai perahu. Iblis Terbang Pencabut Nyawa tertawa panjang.
Ketika ia hendak merampas Kitab Putih Wasiat Dewa dari balik baju H0k Kui , murid Ageng Musalamat ini perlaku nekad. Dengan sisa tenaga yang ada tanpa tangan dan kaki ia gulingkan tubuh , mencebur masuk ke dalam laut!
“Munding Sural Lekas terjun! Kejar dan ambil kitab di balik bajunya!” teriak Jenderal Suma.
Tidak pikir panjang lagi si pengkhianat ini segera mel0mpat masuk ke dalam laut. Justru pada dikala itulah seek0r ikan hiu ganas meluncur mendatangi. Di atas lima bahtera , empat belas penumpangnya hanya bisa tercekat ketika melihat air maritim mendadak berwarna merah. Jenderal Suma memandang berkeliling kemudian berteriak keras. Tiga belas 0rang lainnya sama tersentak kaget.
Ternyata di sekitar bahtera mereka belasan ikan hiu ganas muncul berkeliaran.
“Kembali ke kapal!” teriak Jenderal Suma Tiang Bun.
Empat bahtera cepat dikayuh kembali ke kapal. Malang bagi bahtera yang ditumpangi Jenderal Suma. Dua ek0r ikan hiu besar menabrak perahunya hingga terbalik. Tubuhnya dan tubuh t0k0h silat yang terbalik dari atas bahtera segera disambar belasan ikan hiu! L0uw Bin Ni0 sang kekasih gelap memekik laksana kemasukan setan. Kalau tidak dipegangi ia niscaya akan mel0mpat ke dalam maritim menyusul Suma Tiang Bun.
*
* *
Di atas kerikil miring s0s0k tubuh Pendekar 212 tidak bergerak. Sekujur badannya dibungkus hawa aneh sedingin es. Sepasang matanya nyalang tapi ia tidak sanggup melihat apa-apa. Tiba-tiba
“Wusss!”
Sekujur tubuh murid Eyang Sint0 Gendeng itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Lalu sekali lagi terdengar bunyi ,
“Wusss!”
Dari kepala Pendekar 212 melesat keluar sebuah benda bersinar terang. Benda ini melayang ke udara dalam kecepatan luar biasa dan kesannya lenyap se0lah ditelan langit malam. Bersamaan dengan itu tubuh kaku Wir0 Sableng tampak menggeliat kemudian bergerak duduk. Dia memandang celingak-celinguk terheran-heran. Kepalanya dipegang berulang kali. Akhirnya murid Sint0 Gendeng ini garuk-garuk kepalanya.
“Aneh , barusan ini saya bermimpi atau bagaimana? Aku melihat se0rang berjulukan Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Aku melihat Kitab Putih Wasiat Dewa. Lalu ada se0rang Jenderal Cina melaksanakan kekerabatan tubuh dengan se0rang wanita berdandan men0r bergelar Tjui-bihun… Tjui… Ah setan! Tak tahu saya menyebutnya dalam bahasa Cina!” Wir0 kembali garuk-garuk kepala.
“Ki H0k Kui… Lelaki Cina yang dibuntungi tangan dan kakinya itu. Dia yang terakhir sekali mempunyai kitab Putih Wasiat Dewa. Tapi ia kecebur masuk ke dalam laut!” Wir0 garuk-garuk kepala lagi dan kembali memandang berkeliling.
Lalu ia ingat pada Delapan Sabda Dewa. Dan bicara se0rang diri. “Delapan Sabda Dewa… Tanah , Air , Api , Udara , Bulan , Kayu… Batu! Astaga mengapa saya bisa mengingatnya?!” Baru saja Wir0 berkata begitu tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi 0rang bernyanyi.
Laut Selatan tak pernah tenang
Gel0mbang selalu tiba menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu renta renta malang
Yang dinantikan budak malang
Apakah dikala ini petunjuk Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini final penantian dan permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh harapan
Agar tubuh renta ini bisa bebas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta.
“Tempat aneh nyanyian aneh. 0rangnya niscaya aneh! ,” kata Wir0 pula sambil garuk-garuk kepala ia turun dari kerikil miring itu dan melangkah ke arah datangnya bunyi nyanyian tadi.
T A M A T
Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212
Karya: Bastian Tit0
EP : DELAPAN SABDA DEWA
SATU
WALAU matahari tertutup awan kelabu tebal namun udara dipermukaan maritim terasa panas bukan main. Wir0 pandangi baju dancelana putih k0t0r yang terletak di lantai perahu. Dia berpikir-pikir apakah akan menanggalkan pakaian hitam pemberian Ratu Duyung yang dikala itu dikenakannya kemudian menggantikannya dengan pakaian putih dekil itu. Dia tak biasa berpakaian serba hitam menyerupai itu. Mungkin itu sebabnya ia merasa sangat panas. Memandang berkeliling Wir0 tidak melihat lagi bahtera yang ditumpangi Dewa Ketawa. Di kejauhan kelihatan beberapa pulau bertebaran di permukaan laut.
Sesaat wajah anggun jelita serta sepasang mata biru mempes0na Ratu Duyung terbayang di pelupuk mata Pendekar 212. “Gadis aneh.. ,” kata Wir0 dalam hati. “aku tidak mau munafik kalau merasa tidak suka kepadanya dan ingin bertemu ia lagi. Tapi mengingat permintaannya…”
Wir0 geleng-geleng kepala sambil usap tengkuknya , “Menurut penglihatan Ratu Duyung lewat cermin saktinya ada sebuah pulau aneh yang terdiri dari gunung , bukit dan kerikil merah melulu. Dia tak bisa melihat lebih terang lantaran ada satu daya t0lak luar biasa. Mungkin sekali itu tempat kediaman Raja 0bat? Letaknya jauh di tenggara. Berarti di jurusan sebelah sana…” Wir0 berpikir-pikir. “Mungkin terletak jauh di balik deretan pulau itu.” Setelah memandang ke langit , Wir0 kesannya tetapkan untuk menuju ke pulau itu. Di membel0kkan perahunya kearah tenggara. Menjelang s0re sinar sang surya meredup dan udara yang tadinya sangat panas perlahan-lahan terasa sejuk. Lalu tiba-tiba saja ia teringat pada insan bercaping yang tubuhnya penuh k0reng itu.
“Aku tak sanggup memastikan siapa adanya itu insan sialan yang dijuluki Makhluk Pembawa Bala itu! Mengapa ia berusaha membunuhku secara licik! Lalu kemana ia kaburnya? Kukira sarangnya di sekitar lautan sini. Kalau bertemu jangan harap saya mau memberi ampun…”
Selagi jag0an 212 berpikir-pikir menyerupai itu , mendadak sepasang telinganya mendengar bunyi sesuatu diantara desau angin laut. Suara itu tiba dari sisi kiri kanan bahtera yang tengah dikayuhnya. Murid Sint0 Gendeng palingkan kepalanya ke kanan. Dia tak sanggup melihat apa-apa tapi ia yakin sekali di bawah permukaan air maritim ada sesuatu yang bergerak mendekati perahunya. Wir0 palingkan kepala ke kiri. Hal yang sama dirasakannya. Ada benda bergerak meluncur cepat mendekat bahtera dari arah kiri. Hatinya berdetak tidak enak.
“Ikan buas tidak akan secerdik itu menghadang bahtera dari dua arah berlawanan ,” pikir Pendekar 212. “Heemm… saatnya saya menc0ba ilmu menembus pandang yang diberikan Ratu Duyung!” Cepat Wir0 atur jalan darah dan kerahkan tenaga dalamnya pada kedua matanya. Dia memandang lekat-lekat ke arah permukaan air maritim di sebelah kiri bahtera dan kedipkan sepasang matanya dua kali.
“Huh!” Murid Sint0 Gendeng jadi melengak sendiri. Dengan ilmu Menembus Pandang yang didapatnya dari Ratu Duyung dikala itu kurang jelas ia melihat ses0s0k tubuh insan berkulit sangat hitam. Di tangan kanannya ia memegang sebuah benda berbentuk t0mbak pendek bermata dua. Ketika Wir0 palingkan pandangannya ke kanan hal yang sama terlihat. Se0rang berkulit sangat hitam menyelam dalam maritim , meluncur cepat ke arah perahunya , membawa senjata t0mbak bermata dua!
Dua makhluk dalam air mencapai tepi bahtera dalam waktu yang bersamaan.
“Byarr! Byarr!”
Dua makhluk yang menyelam mencuat ke permukaan air. Saat itu juga Wir0 melihat dua s0s0k insan berkulit sangat hitam , berambut pendek mempunyai mata tanpa alis berwarna merah. Bibir mereka yang tebal juga berwarna sangat merah.
Wir0 perhatikan penggalan tubuh dua makhluk yang menyembul dari permukaan air maritim itu. Pada pundak kiri kanan dan penggalan tengkuk ada sebentuk daging berbentuk daging berbentuk sirip. Selain itu tubuh keduanya penuh 0t0t tanda mempunyai kekuatan luar biasa. Salah satu kehebatan mereka ialah kemampuan untuk berenang jarak jauh dan menyelam di bawah permukaan air laut.
“Siapa kalian?” hardik Pendekar 212 Wir0 Sableng.
Dua makhluk hitam menyeringai. Ternyata bukan Cuma mata dan lisan mereka saja yang berwarna merah , tapi pengecap dan gigi mereka pun berwarna merah. Anehnya barisan gigi-gigi mereka berbentuk kecil-kecil runcing menyerupai gigi ikan. Dan pengecap serta barisan gigi-gigi itu bergelimang cairan merah menyerupai darah! Dari lisan kedua mahkluk hitam ini kelular bunyi jeritan keras. Lalu s0s0k tubuh mereka melesat ke udara. T0mbak hitam bermata dua yang mereka pegang menderu ke arah rusuk kiri dan kepala penggalan kanan Wir0.
“Kurang ajar!” maki Wir0. Secepat kilat ia jatuhkan tubuh ke lantai perahu. Bersamaan dengan itu Wir0 hantamkan pendayung di tangan kanannya ke tubuh makhluk di sebelah kanan.
“Bukkk!” “Traakk!”
Kayu pendayung menghantam dada makhluk hitam sebelah kanan dengan telak. Kayu pendayung patah dua sebaliknya makhluk yang kena digebuk cuma menyeringai. Masih memegangi patahan kayu pendayung , Wir0 gulingkan diri ke penggalan kepala perahu. Ketika ia gres saja sempat berdiri dua mahkluk yang masih berada dalam air maritim bergerak mendekatinya dan pribadi menyerbu lagi.
Kali ini mereka pergunakan t0mbak masing-masing untuk menusuk penggalan bawah perut Pendekar 212!
Sambil mel0mpat cepat ke udara Wir0 keluarkan jurus “kincir padi berputar”. Kaki kanannya membabat deras ke arah kepala makhluk berkulit hitam di sebelah kiri bahtera sedang untuk yang di sebelah kanan ia lepaskan pukulan “kunyuk melempar buah”.
“Praakk!”
Tendangan kaki kanan Wir0 menghantam kepala makhluk sebelah kiri.
“Pecah kepalamu!” ujar Wir0 begitu dilihatnya lawan mencelat mental kemudian amblas ke dalam laut.
Makhluk di sebelah kanan keluarkan pekik keras melihat kawannya kena tendangan Wir0. Tubuhnya melesat ke atas dan c0ba menusukkan t0mbaknya ke arah tengg0r0kan Pendekar 212. tapi gumpalan angin sakti yang keluar dari tangan kanan Wir0 menghantam dadanya lebih dulu. Seperti temannya , makhluk yang satu ini terpental dan masuk ke dalam maritim diiringi jerit menggidikkan.
Wir0 menarik nafas lega. Dalam hati ia meng0mel. “Belum usang merasa tenteram tahu-tahu ada saja 0rang-0rang yang ingin membunuhku. Siapa mereka…? Kaki tangan 0rang renta berpenyakit kulit berjuluk Makhluk Pembawa Bala itu? Atau… ,” belum sempat Wir0 mengakhiri kata hatinya tiba-tiba di kiri kanannya terdengar teriakan keras.
“Huaahhh!” “Huaahhh!”
Dua makhluk berkulit hitam yang tadi disangkanya sudah menemui kematian dan karam tiba-tiba mencelat muncul dari dalam laut. Tubuh mereka melesat ke udara demikian tingginya hingga di lain kejap keduanya telah berada di atas Wir0.
Meskipun terkejut besar melihat insiden itu lantaran menyangka dua makhluk tadi telah menemui ajalnya namun Wir0 tak punya kesempatan untuk berpikir lebih lama. Begitu ia mend0ngak untuk melihat kedudukan lawan , dari udara makhluk-makhluk aneh ini telah menukik , lancarkan serangan berupa tusukan t0mbak ke punggung dan penggalan belakang kepala!
“Mereka tidak main-main. Mereka memang ingin membunuhku!” ujar Wir0.
Secapt kilat ia mel0mpat kemudian jatuhkan diri ke lantai perahu. Dua serangan terus memburu. Wir0 balikkan tubuhnya. Dua tangan yang dialiri tenaga dalam tinggi menggeprak ke samping. Kaki kanan menghantam ke udara. Inilah jurus yang disebut “membuka jendela memanah matahari”.
Hantaman tangan Wir0 memukul mental dua t0mbak di tangan dua lawannya. Sementara tendangan kaki kanan meny0d0k masuk ke perut salah satu dari dua makhluk berkulit hitam itu.
“Buukk!”
Makhluk yang kena hantaman tendangan menjerit keras. Tapi tubuhnya tidka mental lantaran dengan cepat kedua tangannya mencekal pergelangan kaki Wir0. Selagi Wir0 berkutat berusaha melepaskan cekalan itu , makhluk kedua berkelebat dan hantamkan satu j0t0san ke dada Pendekar 212!
Wir0 merasa dadanya menyerupai amblas! Tangan kanannya dihantamkan ke belakang melepaskan pukulan “benteng t0pan melanda samudra” , menciptakan makhluk hitam di belakangnya menjerit keras dan mental masuk ke dalam laut. Sambil menahan sakit Wir0 berusaha lepaskan kakinya yang dicekal. Perahu kecil berg0yang keras. Tiba-tiba si makhluk berteriak keras dan gerakkan kedua tangannya yang mencekal kaki Wir0. Saat itu juga tubuh murid Sint0 Gendengn itu mencelat ke udara kemudian melayang jatuh ke dalam laut!
Di dalam air , Wir0 cepat berenang berusaha mencapai perahu. Dia tahu dua lawan yang dihadapinya mempunyai kepandaian luar biasa dalam hal berenang dan menyelam. Menghadapi mereka di dalam maritim besar sekali bahayanya , apalagi dikala itu ia telah cidera akhir pukulan salah satu lawan. Namun sebelum Wir0 berhasil mencapai bahtera , salah satu kakinya tiba-tiba kena dicekal lawan yang tahutahu sudah berada di belakangnya. Dia kerahkan tenaga dalam kemudian sambil menendang menciptakan gerakan jungkir balik di dalam air. Kakinya memang bisa l0l0s namun begitu ia berbalik dua lawan sudah menggempurnya kembali.
“Makhluk-makhluk hitam ini rupanya tahan pukulan dan tendangan. Biar kuhantam dengan pukulan sinar matahari. Tapi…” Wir0 jadi meragu. Seumur hidup ia belum pernah melepaskan pukulan sakti itu di dalam air. Apakah ia sanggup melakukannya dan apakah pukulan sakti itu bisa ampuh menyerupai bila dilepaskan di daratan?
Makhluk pertama hanya tinggal satu t0mbak di depan Wir0. Murid Sint0 Gendeng segera salurkan tenaga dalamnya ke tangan kanan. Semula ia agak meragu namun ketika melihat tangan itu sebatas siku ke bawah menjelma putih menyilaukan maka legalah Wir0. Dia segera lipat gandakan tenaga dalamnya.
Di depan sana makhluk yang berada paling depan terkesiap dan hentikan gerakannya berenang sewaktu dilihatnya tangan kanan Wir0 memancarkan sinar putih menyilaukan dan air maritim di sekitar tempat itu mendadak s0ntak menjadi panas. Dua makhluk perlahanlahan berenang mundur , tak tahan 0leh hawa panas yang menyerupai hendak merebus mereka. Wir0 tidak tunggu lebih usang lagi. Dia hantamkan tangan kanannya ke arah makhluk paling depan.
Sinar putih menyilaukan berkiblat dalam laut. Satu gel0mbang air yang mendadak s0ntak menjadi panas laksana mendidih membuntal deras kemudian menyapu dahsyat ke arah makhluk hitam paling dekat. Makhluk ini berusaha menghindar dengan melesat ke kiri tapi gel0mbang air maritim yang panas menyapu lebih cepat. Tubuhnya kelihatan menggeliat merah dan mengepul kemudian terlempat jauh kemudian menyerupai sehelai daun kering melayang jatuh ke dasar laut.
“Heemm… mana kawannya… ,” ujar Wir0 dalam hati sambil memandang berkeliling. Dadanya yang terkena pukulan lawan tadi mendenyut sakit. Napasnya terasa sesak. Dia tak mungkin berada lebih usang dalma air. Napasnya sesak. Air maritim mulai tersed0t di hidung dan mulutnya. Selagi ia berusaha mengetahui dimana lawan yang kedua tiba-tiba ada satu lengna mencekal lehernya. Ketika ia c0ba melepaskan diri , tangan yang lain menjambak rambutnya. Dua tangan kemudian bergerak. Gerakannya terang hendak mematahkan batang leher Pendekar 212!
Wir0 hantamkan dua sikutnya sekaligus ke belakang.
“Bukkk!” “Bukkk!”
Hantamannya tepat mendarat di tubuh 0rang yang mencekalnya dari belakang tapi se0lah tidak dirasakan malah cekalan semakin ketat. Kepala Wir0 mulai tertekuk ke belakang. Matanya pedas tak bisa dibukakan lagi , apalagi untuk melihat. Air maritim mengucur masuk ke dalam tengg0r0kannya lewat lisan dan hidung!
“Celaka! Tamat riwayatku!” ujar Wir0. Dia kumpulkan seluruh tenaga yang ada , kerahkan tenaga dalam. Namun cekalan makhluk yang mencekalnya dari belakang tidak sanggup dilepaskan! Sementara itu napasnya sudah menyengal dan kekuatannya laksana punah. Sekujur tubuhnya menjadi lemas walau 0taknya masih bisa bekerja. Lawan yang menciptakan Wir0 tidak berdaya ternyata berlaku cerdik. Sambil terus mencekal berusaha mematahkan batang leher Pendekar 212 ia menciptakan gerakan yang membawa Wir0 bergerak semakin jauh menuju dasar maritim dimana tekanan air lebih kencang. Tekanan ini menciptakan Wir0 semakin lemas tak berdaya.
– == 000 == –
DUA
PADA saat yang sangat menetukan itu dimana kematian Pendekar 212 Wir0 Sableng b0leh dikatakan hanya tinggal sekejapan mata saja lagi , satu persatu muncul wajah-wajah 0rang yang paling bersahabat dengan dirinya. Mula-mula wajah Eyang Sint0 Gendeng sang guru si nenek sakti , kemudian wajah kakek Segala Tahu , sesaat terbayang tampang Dewa Ketawa. Lalu muncul wajah Bidadari Angin Timur. Terakhir sekali muncul wajah Ratu Duyung.
“Ra… tu…” Wir0 membuka mulut. “T0l0ng diriku…” tapi ucapan itu tak pernah keluar. Malah air maritim masuk semakin banyak ke dalam mulutnya ,. Kepalanya semakin tertekuk ke belakang. Mendadak entah bagaimana muncul satu wajah nenek berwarna putih. Hidungnya kecil dan penggalan sekitar mulutnya ditumbuhi bulubulu halus panjang. Nenek ini menyeringai memperlihatkan gigigiginya yang kecil serta lidahnya yang merah. Lalu sepasang matanya yang kehijauan membersitkan sinar menyilaukan yang sesaat menciptakan Wir0 jadi tersentak.
“Nenek Nek0… Nenek Muka Kucing…” ujar Wir0. Lalu terjadilah satu hal yang luar biasa. Mendadak s0ntak Wir0 ingat sesuatu.
“K0pp0… Ilmu Mematahkan Tulang!” desisnya. Satu kekuatan menyerupai muncul dalam diri Pendekar 212. Kedua tangannya bergerak memegang dua jari-jari kedua tangan makhluk hitam yang mencekalnya. Lalu , “Trak… trak.. trak… trak… trakk!”
Makhluk hitam menggeliat. Wajahnya memperlihatkan kesakitan setengah mati. Mulutnya terbuka lebar. Kedua matanya membeliak. Jari-jari tangannya hancur berpatahan. Tulangnya mencuat keluar. Karena tak sanggup menahan sakit makhluk ini lepaskan cekalan kemudian berenang menjauhi Wir0. (Mengenai Nenek Nek0 dan ilmu mematahkan tulang yang disebut k0pp0 silahkan baca serial Wir0 Sableng berjudul Sepasang Manusia B0nsai)
Wir0 sendiri yang tak ada niat mengejar cepat naik ke permukaan laut. Dia muncul di atas air dengan megap-megap. Ada cairan merah keluar dari mulutnya. Dia memandang berkeliling. Di kejauhan kelihatan perahunya terapung-apung dipermainkan 0mbak. Dengan susah payah Wir0 berenang mencapai bahtera itu. Perlahanlahan ia naik ke atas perahu. Rasa sakit pada dadanya belum lenyap. Malah kini napasnya bertambah sesak. Sekujur tubuhnya terasa letih dan tulang-tulangnya laksana tanggal dari persendian. Ketika ia hendak membaringkan tubuhnya di lantai bahtera tiba-tiba terdengar bunyi tawa mengekeh di belakangnya. Wir0 putar kepalanya. Sepasang matanya terpentang lebar ketika melihat siapa adanya 0rang yang duduk berjuntai di atas sebua bahtera putih yang tiba-tiba saja muncul di tempat itu tanpa diketahuinya.
“Makhluk Pembawa Bala. Manusia celaka…!” Wir0 berusaha bangun tapi tubuhnya yang lemah itu terhenyak kembali ke lantai perahu. Dari balik kain epil0g wajahnya kembali terdengar bunyi tawa mengekeh 0rang bercaping yang sekujur tubuhnya penuh k0reng membusuk.
Tiba-tiba s0s0k Makhluk Pembawa Bala yang mengenakan pakaian sebentuk jubah melesat ke udara. Dia mendarat di atas bahtera , sengaja tepat di atas tubuh Wir0. Wir0 sendiri dikala itu sudah tidak berdaya dan setengah pingsan. 0rang yang bercaping tegak dengan satu kaki menginjak perut sedang kaki satunya menginjak dada Wir0. Dia mend0ngak kemudian dari mulutnya kembali terdengar bunyi tawa bergelak.
“Mujur tak sanggup diraih , celaka tak bisa dit0lak! Kalau dulu kau masih bias l0l0s dari tangnaku , dikala ini jangan harap bisa lepas! Nyawamu memang sudah ditakdirkan harus amblas di tanganku! Ha… ha… ha… ha…!” bunyi tawa 0rang bercaping itu lenyap. Kaki kanannya diangkat kemudian dihantamkan ke arah tengg0r0kan Pendekar 212 yang terkapar di lantai dalam keadaan pingsan!
Hanya setengah jengkal lagi kaki kanan Makhluk Pembawa Bala akan menghancurkan leher dan membunuh Pendekar 212 tibatiba dari maritim sekitar bahtera melesat enam s0s0k tubuh. Bagian atas merupakan tubuh gadis anggun berambut panjang menutupi dada yang putih p0l0s sedang penggalan bawah merupakan ek0r ikan besar. Keenam gadis ini bukan lain ialah anak buah Ratu Duyung penguasa lautan di daerah itu.
“Tahan!”
Enam gadis berteriak berbarengan. Gerakan Makhluk Pembawa Bala serta merta terhenti. Memandang berkeliling dan melihat siapa yang ada di sekitar bahtera tampangnya yang tertutup kain cadar jadi berubah. Hatinya menjadi tidak lezat kalau tidak mau dikatakan gelisah.
“Jangan berani mencampuri urusanku!” Makhluk Pembawa Bala membentak.
Enam gadis membisu saja namun belakang layar mereka luruskan jari telunjuk tangan kanan masing-masing.
Melihat tidak ada yang bergerak Makhluk Pembawa Bala cepat teruskan hantaman kakinya ke leher Wir0. Pada dikala itu juga enam jari si gadis memancarkan sinar biru. Ketika mereka mengangkat jari masing-masing dan mengacungkan ke arah bahtera , enam sinar biru berkiblat , memapas ke arah tempat k0s0ng antara kaki Makhluk Pembawa Bala dengan leher Pendekar 212 yang menjadi sasaran. Makhluk Pembawa Bala berseru keras. Cepat ia tarik serangannya. Kaki kanannya diangkat. Lalu terdengar jeritan 0rang ini. Tiga ujung jari kakinya putus. Bagian sekitarnya laksana dipanggang. Ujung jubahnya mengepulkan asap pada penggalan yang kelihatan hangus.
“Kalau kau bermaksud meneruskan niat jahat membunuh lawan yang tak berdaya , kematian akan menjadi bagianmu lebih dulu! ,” salah se0rang dari enam gadis bertubuh setengah insan setengah ikan membentak.
Mulut 0rang bercaping yang terlindung di balik kain epil0g k0mat-kamit tapi tak ada bunyi yang keluar. Dia maklum jangankan enam 0rang , satu 0rang saja sulit baginya menghadapi gadis anak buah Ratu Duyung.
“Katakan pada Ratumu , lain kali sebaiknya ia sendiri yang dating untuk bertemu muka denganku!”
“Ratu kami tidak layak hadir di depan insan tak berkhasiat sepertimu!” jawab salah se0rang gadis. Makhluk Pembawa Bala menggeram dalam hati. Dia mel0mpat dari atas bahtera Wir0 , masuk ke dalam bahtera putihnya.
“Sebelum kau pergi dari sini kami perlu mengajukanbeberapa pertanyaan!” Makhluk Pembawa Bala walaupun merasa jeri terhadap enam gadis namun lantaran merasa ditekan lantas menukas.
“Jangan menciptakan saya jadi marah! Katakan apa mau kalian!?”
“Kami perlu tahu siapa kau bekerjsama dan apa perlunya semenjak sekian usang gentayangan di daerah ini!”
“Hemm… Itu rupanya pertanyaan kalian?” Makhluk Pembawa Bala mend0ngak kemudian tertawa bergelak.
“Katakan pada Ratumu , bila ia mau tiba menemuiku gres saya akan menjawab pertanyaan kalian!”
“Kau minta mampus! Terima kematianmu!” Enam larik sinar biru menyambar ke arah Makhluk Pembawa Bala.
0rang ini cepat menyambar caping di atas kepalanya. Lalu dengan sigap caping yang terbuat dari bambu itu dikibaskannya menangkis serangan enam larik sinar biru.
“Wussss!”
Makhluk Pembawa Bala menjerit keras. Caping bambu di tangannya hancur berantakam. Kepingan-kepingan caping itu bertebaran di udara dalam keadaan terbakar kemudian jatuh ke dalam laut. Si Makhluk Pembawa Bala sendiri mencelat mental dari atas bahtera hingga beberapa t0mbak kemudian tercebur masuk ke dalam laut. Enam gadis anggun anak buah Ratu Duyung menunggu hingga beberapa lamanya.
“Tubuhnya tidak muncul lagi… ,” berkata gadis di ujung kanan.
“Pasti ia sudah jadi mayit dan karam ke dasar laut. Beberapa hari di muka gres mayatnya akan mengambang di permukaan laut… ,” berkata gadis lainnya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” salah satu dari mereka bertanya. “Sesuai perintah Ratu kita harus men0l0ng perjaka ini. Ada darah di sekitar mulutnya. Jelas ia mengalamai luka dalam cukup parah… lekas berikan 0bat padanya. Aku akan men0t0k leher dan dadanya.” Lalu gadis itu membuka baju hitam Wir0 di penggalan dada. Sesaat ia pandangi penggalan tubuh yang k0k0h penuh 0t0t itu. Pada penggalan tengah dada terdapat rajah tiga angka yang tak asing lagi. Angka 212. Entah sadar entah tidak , gadis ini kemudian mengusap dada Pendekar 212 dengan lembut. Melihat hal ini mitra di sampingnya berbisik , “Apa yang kau lakukan!? Jangan berani berbuat macam-macam. Kalau hingga Ratu memantau lewat cermin saktinya dan melihat apa yang kau lakukan , kita semua di sini habis dihukumnya! Lekas t0t0k perjaka itu!”
Wajah gadis yang barusan mengusap dada Pendekar 212 tampak bersemu merah. Dia berpaling dan menjawab , “Tak perlu bicara keras. Jangan munafik. Aku tahu kau pun bekerjsama sangat tertarik pada perjaka gagah ini…”
“Sudah! Lekas t0t0k saja tubuhnya. Aku segera akan memasukkan 0bat ke dalam mulutnya!”
Gadis pertama segera mengusapkan dua ujung jarinya di penggalan leher dada Pendekar 212. Setelah itu gadis kawannya memasukkan sebutir 0bat berwarna biru ke dalam lisan Wir0. Sekali lagi gadis pertama mengusap penggalan leher Wir0. 0bat yang ada di dalam lisan murid Sint0 Gendeng meluncur ke dalam tengg0r0kannya terus ke perut.
“Sebelum matahari karam ia akan siuman dan luka dalamnya akan sembuh. Sekarang , sesuai perintah Ratu kita harus mend0r0ng bahtera ini ke arah tenggara dan meninggalkannya di satu tempat…”
Enam 0rang gadis itu lantas berenang smbil mend0r0ng bahtera kecil di atas mana Pendekar 212 Wir0 Sableng masih terbujur dalam keadaan pingsan.
– == 000 == –
TIGA
PANGERAN Matahari merangkul gadis yang duduk di pangkuannya itu kemudian dengan penuh nafsu menciumnya berulang kali. “Kekasihku , sebelum kita bersenang-senang di ruangan dalam katakana apa hasil peneyelidikanmu…”
Si gadis tersenyum. Sepasang lesung pipit muncul di pipinya kiri kanan. “Salah…” katanya seraya membelai rambut di belakang kepala Pangeran Matahari.
“Eh , apa yang salah?” tanya sang Pangeran. “Kita bersenang-senang dahulu gres nanti saya memberitahu hasil penyelidikanku!”
Pangeran Matahari tertawa lebar. Ditekapnya kedua pipi si gadis kemudian dikecupnya bibirnya lumat-lumat. Sambil menggeliat gadis dalam pelukan menurunkan tangannya ke bawah. Pangeran Matahari cepat memegang tangan itu seraya berkata. “Ingat kekasihku , urusan besar harus dikerjakan lebih dulu. S0al bersenang-senang bila semua sudah rampung seribu hari pun kau suka saya akan melayani…”
Si gadis tampak cemberut tapi serta merta pejamkan matanya dan mengeluarkan bunyi lirih ketika Pangeran Matahari menyelinapkan wajahnya ke balik pakaiannya di penggalan dada.
“Aku tidak tahan. Benar-benar tidak tahan Pangeran…” bisik si gadis setengah memelas.
Pangeran Matahari tarik kepalanya kemudian berkata. “Ceritakan padaku hasil penyelidikanmu…”
Si gadis melihat sepasang mata Pangeran Matahari memandang tak berkesip. Ada s0r0tan sinar aneh yang membuatnya jadi tak berani menatap. Dengan perilaku manja ia menggelungkan tangan kanannya di leher sang Pangeran kemudian bertanya , “Apa saja yang kau ingin ketahui , Pangeran?”
“Pertama sudah niscaya menyangkut musuh besarku Pendekar 212 Wir0 Sableng. Menurut dua bersaudara Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan , mereka berhasil membunuh Pendekar 212 di bukit di luar Kart0sur0. Aku telah meminta mereka menerangkan dengan membawa kepala Wir0 Sableng ke hadapanku. Kau sendiri apa yang kau ketahui?”
“Kemungkinan mereka memang telah membunuh Pendekar 212. Hanya saja berlaku ayal tidak membawa bukti. Tapi setahuku temp0 hari mereka telah menyerahkan Kapak Maut Naga Geni 212 dan kerikil sakti hitam milik Pendekar 212. Apakah itu belum cukup dijadikan tanda atau bukti bahwa musuh besarmu itu benar-benar sudah tewas? Atau mungkin dua senjata itu palsu belaka?”
Pangeran Matahari mengusap pinggul si gadis kemudian gelengkan kepala. “Kapak dan kerikil sakti itu asli. Tidak palsu. Tapi menyaksikan kepala Pendekar 212 jauh lebih meyakinkan daripada hanya mendengar sekedar lap0ran dari dua kaki tanganku itu…“
“Turut penyelidikanku , juga menurut beberapa keterangan 0rang-0rang kita , Pendekar 212 tidak diketahui lagi berada di mana. Ada yang mengira mayatnya dilarikan 0rang ke satu tempat di tengah maritim di selatan muara Kali 0pak….”
“Hemmm…. Kalau keteranganmu benar mengapa kaki tanganku di daerah itu belum tiba memberitahu?!” ujar Pangeran Matahari pula seraya mend0ngak dan usap dagunya yang ditumbuhi janggut pendek kasar.
“Kawasan maritim selatan berada di bawah pengawasan penguasa tertentu yang mempunyai beberapa pembantu. Salah se0rang dari mereka ialah Ratu Duyung. Ada gejala sesuatu telah terjadi di daerah itu. Beberapa aliran hawa sakti mengalami benturanbenturan aneh….”
“Ratu Duyung dari dulu memang tidak pernah mau tunduk terhadap kita…” kata Pangeran Matahari pula. “Sudah saatnya kita memikirkan untuk melaksanakan sesuatu terhadap makhluk setengah insan setengah ikan itu….”
“Pangeran ,” kata gadis yang duduk di pangkuan Pangeran Matahari. “Kalau saya b0leh mengusulkan , pada dikala kini ini sebaiknya kita jangan mencari musuh gres dulu. Salah-salah urusan besar yang tengah kau laksanakan bisa jadi tak karuan… “
“Hemmm…. Kau betul. Usulmu saya terima!” kata Pangeran Matahari kemudian menghadiahkan satu kecupan di bibir gadis itu.
“Kau lihat sendiri Pangeran. Aku tidak menyerupai gadis-gadis lain yang jadi kekasihmu. Mereka hanya menyediakan badan. Aku bukan cuma badan. Tapi juga pikiran dan sumbang saran….”
Pangeran Matahari tertawa gelak-gelak. Sambil menepuk-nepuk pundak si gadis ia berkata. “Itulah kelebihanmu , kekasihku. Itu sebabnya kau menerima tempat utama di sisiku.”
“Kalau begitu apakah kini kita bisa bersenang-senang?” tanya si gadis. Lalu kaki kirinya digelungkan ke pinggul sang Pangeran. Pakaiannya yang tipis tersingkap. Ketihatan pahanya yang bagus mulus dan putih.
Pangeran Matahari mengusap paha itu berulang kali kemudian berkata. “Masih belum saatnya kekasihku. Harap kau suka bersabar. Kau harus kembali melaksanakan penyelidikan. Aku harus tahu apa yang sebetulnya telah terjadi dengan Pendekar 212. Apa benar ia sudah menemui ajal?”
“Nada suaramu masih saja membayangkan rasa was-was Pangeran ,” kata si gadis pula. kemudian tangannya meraba ke penggalan dada Pangeran Matahari. Di balik jubah hitam dan pakaian yang dikenakannya ia menyentuh sebuah benda yang terikat kencang ke dada sang Pangeran. “Kau telah mempunyai Kitab Wasiat Iblis. Mengapa harus merasa gelisah dan selalu memikirkan Pendekar 212?”
“Ada ujar-ujar menyampaikan bahwa punya satu musuh sudah terlalu banyak sedang punya seribu sahabat masih kurang banyak!” Si gadis tersenyum. “Jadi kau ingin saya menyelidik lagi , pergi dari sini dan melupakan semua kesenangan yang bisa kita dapatkan dikala ini?”
“Kataku harap kau bersabar. Masanya akan tiba saya akan jadi Raja Di Raja dunia persilatan dan kau kekasih tunggalku….” Si gadis menarik napas dalam kemudian perlahan-lahan ia berdiri ,
”Kalau begitu ada baiknya saya minta diri kini juga ,” katanya. Dia membungkuk sedikit untuk memeluk dan mencium Pangeran Matahari.
Namun dengan gerakan bandel ia mengg0yangkan pundak dan pinggulnya. Pakaian tipis yang menempel di tubuhnya serta merta mer0s0t jatuh ke lantai. Ketika Pangeran Matahari balas memeluk maka ia merangkul tubuh si gadis. Kalau tadi sang Pangeran selalu men0lak undangan si gadis maka kini dalam keadaan menyerupai itu ia tidak sanggup menahan gelegak darahnya. Dia berdiri dan siap hendak mendukung tubuh si gadis. Tapi tiba-tiba , “Braaakkk!"
Pintu ruangan terpentang. Ses0s0k tubuh masuk dan jatuhkan diri di lantai. Gadis anggun tanpa pakaian terpekik , cepat-cepat menyambar pakaiannya yang tercampak di lantai laiu mel0mpat tinggalkan tempat itu.
Pangeran Matahari tak kurang terkejutnya. Tampangnya merah mengelam , rahangnya menggembung hingga wajahnya berubah menyerupai jadi empat persegi!
0rang yang terkapar di lantai hanya mengenakan sehelai cawat hitam. Sekujur tubuhnya mulai dari muka hingga ke kaki berwarna sangat hitam dan liat. Pada dua pundak dan tengkuknya hingga ke punggung ada daging aneh berbentuk sirip ikan. Mata dan bibirnya merah.
Pangeran Matahari kerenyitkan kening. Kedua matanya mendelik tak berkesip menyaksikan bagaimana sepasang tangan insan hitam itu , mulai dari pergelangan hingga ke ujung-ujung jari tampak hancur berpatahan. Tulang-tulangnya mencuat putih menggidikkan.
“Jahanam! Apa yang terjadi dengan dirimu! Mana kawanmu?!”
Pangeran Matahari membentak seraya melangkah ke hadapan 0rang hitam yang terkapar di lantai.
“Ka… kawanku mati!” jawab 0rang hitam.
“Mati?! Apa yang terjadi?!”
“Dia… ia mati dibunuh Pendekar 212….”
Tampang Pangeran Matahari berubah. Alisnya berjingkrak dan daun telinganya menyerupai mencuat mendengar ucapan 0rang hitam itu. Kaki kanannya ditendangkan ke dada 0rang itu hingga si hitam ini mencelat dan terbanting ke dinding ruangan.
“Lekas katakan apa yang terjadi!” hardik Pangeran Matahari.
“M0h0n maafmu Pangeran… Kami tidak berhasil menjalankan kiprah yang kau berikan. Kawanku terbunuh. Aku sendiri kau bisa saksikan. Kedua tanganku dibikin hancur 0leh Pendekar 212!”
Kembali sepasang mata Pangeran Matahari memperhatikan kedua tangan 0rang hitam itu se0lah tak percaya. Tulang-tulangnya mencuat berpatahan…. “Ilmu apa yang telah digunakan mencelakai 0rang ini? Kalau memang Pendekar 212 yang melaksanakan setahuku ia tidak mempunyai ilmu kepandaian begini rupa….”
Pangeran Matahari mend0ngak. 0taknya berpikir keras. Tetap saja ia tidak bisa mendapatkan keterangan si hitam.
“Kau berdusta! Ini bukan pekerjaannya Pendekar 212!” hardik sang Pangeran. “Dia tidak punya ilmu kepandaian mematahkan tulang menyerupai ini! Aku tahu betul!”
“Saya bersumpah memang ia yang melakukan. Kami mencegatnya di pantai selatan…”
Pangeran Matahari melamun sesaat. “Jika kau memang telah berhadapan dengan Pendekar 212 , saya ingin menc0c0kkan ciri-ciri jahanam itu dengan apa yang kau saksikan. Bagaimana keadaan rambutnya?”
“Hitam lebat dan… dan g0ndr0ng.. ,” jawab si hitam. “Apa ia mengenakan ikat kepala kain putih di keningnya?” Si hitam menggeleng. “Hemmmmm….” Pangeran Matahari bergumam. Kecurigaan bahwa si hitam itu berdusta semakin besar. “Apa ia mengenakan pakaian serba putih?”
“Ti… tidak Pangeran. Dia mengenakan baju dan celana hitam….”
“Jahanam! Jelas 0rang itu bukan Pendekar 212! Seumur hidupnya ia tidak pernah mengenakan pakaian hitam! Kau berani mendustaiku!”
”Saya bersumpah saya tidak berdusta Pangeran…”
“Manusia keparat! Aku tanya padamu , apa benar kawanmu sudah mampus?!” bertanya Pangeran Matahari seraya bungkukkan tubuhnya sedikit.
“Dia memang telah menemui kematian Pangeran. Saya menyaksikan sendiri…” jawab si hitam yang masih terkapar di lantai sambil menduga-duga apa maksud pertanyaan Pangeran itu lantaran sebelumnya ia telah menjelaskan mengenai kematian kawannya.
Di hadapan si hitam Pangeran Matahari menyeringai.
Tiba-tiba seringai itu lenyap kemudian , terdengar suaranya berucap. “Kalau begitu kau susullah temanmu! Aku tidak butuh insan buruk dan t0l0l macammu!” Habis berkata begitu Pangeran Matahari ayunkan tangan kanannya.
Bersamaan dengan itu ia alirkan tenaga dalam dari penggalan dada di mana menempel Kitab Wasiat Iblis.
Pangeran Matahari tahu betul bahwa si hitam mempunyai ilmu kebal tertentu. Dia tak mau susah. Karenanya ia sengaja meminjam kekuatan ganas yang ada pada kitab iblis itu.
“Praakkk!”
Kepala insan hitam rengkah mengerikan. Tubuhnya terbanting ke lantai tanpa nyawa lagi!
Masuk ke ruangan dalam Pangeran Matahari dapatkan gadis kekasihnya duduk di atas sebuah alas tebal dan empuk. Keadaannya masih p0l0s menyerupai tadi. Pakaian tipisriya dipergunakan menutupi auratnya yang penting tapi itu pun tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya.
“Aku hampir yakin kalau Pendekar 212 memang sudah menemui ajal. Tapi saya merasa perlu menunggu hingga Tiga Bayangan Setan dan Elang Setan muncul membawa kepala musuh besarku itu….”
“Apakah hingga dikala ini kau masih merahasiakan ihwal diriku terhadap mereka?” Pangeran Matahari mengangguk.
“Sebaliknya bagaimana dengan saudaramu. Aku tidak ingin….”
“Kau tak usah khawatir Pangeran. Sudah usang sekali saya tidak mendengar mengenai dirinya. Entah berada di mana…” jawab si gadis yang duduk di atas alas empuk sambil menjulurkan kakinya dan balik pakaian tipis.
Memandangi tubuh si gadis pikiran sang Pangeran jadi berubah. Kalau sebelumnya ia tidak berniat untuk bersenangsenang kini sehabis membunuh lelaki hitam tadi rangsangan dalam dirinya tiba-tiba saja menggelegak. Dia melangkah ke hadapan si gadis. Perlahan-lahan pakaian tipis yang menutupi tubuh si gadis itu ditariknya.
– == 000 == –
EMPAT
SINAR sang surya yang siap karam menciptakan air maritim kemerahan. Enam gadis anak buah Ratu Duyung yang mend0r0ng bahtera berhenti berenang. Gadis yang bertindak sebagai pimpinan berkata.
“Kita mengantar hingga di sini. Di kejauhan ada sebuah pulau. 0mbak akan mend0r0ng bahtera dan membawa perjaka ini ke sana. Kita harus segera kembali. Ingat pesan Ratu. Kita dihentikan berada terlalu bersahabat dengan pulau-pulau yang banyak bertebaran di sekitar daerah ini.”
Lima gadis lainnya tidak menjawab. Dalam hati bekerjsama mereka ingin mengantar bahtera berisi Pendekar 212 itu hingga ke daratan , menunggu hingga ia siuman dari pingsan. Namun kelimanya tak berani membantah.
“Mudah-mudahan ia cepat sadar dan selamat. Mari kita kembali…”
“Tunggu dulu ,” salah se0rang dari lima gadis tiba-tiba berkata.
“Ada apa?!” “Aku mendengar menyerupai ada 0rang menyanyi. Di kejauhan…”
Empat gadis lainnya picingkan mata dan pasang telinga. Lalu hampir berbarengan mereka mengiyakan. Gadis yang bertindak sebagai pemimpin bekerjsama juga sudah mendengar apa yang didengar lima temannya. Namun ia cepat berkata. “Suara desau angin maritim dan alunan gel0mbang bisa saja menipu pendengaran kita.
Kalaupun memang yang kalian dengar ialah bunyi 0rang menyanyi maka itu ialah satu keanehan. Siapa pula yang menyanyi di tengah lautan begini rupa? Dan ingat pelajaran dari Ratu. Dibalik setiap keganjilan mungkin tersembunyi satu bahaya. Kaprik0rnus , kalian tak perlu banyak bicara lagi. Ikuti saya meninggalkan tempat ini!”
Enam gadis anggun yang tubuh atas p0l0s sedang sebatas pinggang ke bawah berbentuk ek0r ikan besar itu melepaskan tangan masing-masing dari bahtera kemudian berbalik. Sesaat kemudian keenamnya lenyap masuk ke dalam laut.
Perahu tanpa kemudi tanpa dikayuh itu meluncur perlahan dibawa alunan 0mbak menuju ke tenggara dimana di kejauhan kelihatan sebuah pulau berbentuk aneh. Di sini sama sekali tidak kelihatan pep0h0nan. Yang tampak hanya daerah bebatuan. Di bawah sinar matahari yang karam dan udara yang mulai menggelap pulau itu kelihatan angker. Keangkeran itu bisa menciptakan siapa saja jadi merinding lantaran dari pertengahan pulau yang gelap dimana terdapat gunung dan bebukitan kerikil merah tiba-tiba sayupsayup hingga terdengar bunyi 0rang menyanyi.
Laut selatan tak pernah damai
Gel0mbang selalu tiba menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu renta renta malang
Yang dinantikan budak malang
Apakah dikala ini petunjuk
Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini final penantian dan permulaan dari satu impian
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh impian
Agar tubuh renta ini bisa bebas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta
0rang yang menyanyi itu duduk bersila di atas salah satu puncak kerikil berwarna merah. Tubuhnya tampak bungkuk dimakan usia. Rambut , kumis dan janggutnya yang putih panjang melambailambai tertiup angin laut. Meskipun tempat itu cukup gelap namun masih bisa terlihat keganjilan pada muka 0rang renta ini. Wajahnya sebelah kanan yaitu mulai dari pertengahan kening , hidung , lisan dan dagu berwarna biru. Di dalam mulutnya senantiasa ada segumpal sirih campur tembakau yang selalu dikunyahnya tiada henti. Bahkan ketika menyanyi tadi sirih itu masih tetap berada dalam mulutnya namun anehnya suaranya bebas lepas seakan-akan mulutnya k0s0ng tak berisi apa-apa!
Di hadapan 0rang renta berjubah putih ini , di atas kerikil , terletak benda aneh , entah kerikil entah l0gam. Benda ini mengeluarkan sinar menyeramkan merah kebiruan menyerupai nyala sumber api yang sangat panas. Namun anehnya yang terpancar dari benda itu bukan hawa panas melainkan satu kesejukan. Makin usang kesegaran itu semakin menjadi-jadi malah kini hawa di tempat itu terasa sangat dingin. Si 0rang renta bermuka biru sebelah sampai-sampai kertakkan rahang menahan gigil kedinginan.
“Saatnya sudah tiba…” kata 0rang renta bermuka belang dalam hati. Seluruh kekuatan luar dalam dikumpulkannya supaya tubuhnya tidak ambruk 0leh hawa hambar yang menggempur dari benda bercahaya di hadapannya. Dalam keadaan sekujur tubuh menggigil 0rang renta ini angkat tangan kanannya. Lengan hingga ke ujung-ujung jarinya yang kurus keriput kelihatan bergetar kaku.
“Batu sakti kerikil pembawa petunjuk…” si 0rang renta berucap dengan bunyi bergetar. “Terbanglah tinggi , membubung ke angkasa.Melayanglah turun menukik ke bumi. Cari dan dapatkan anak insan aksept0r Delapan Sabda Dewa. Di dalam dirimu ada petunjuk. Di dalam dirinya ada kekuatan untuk menangkal malapetaka. Ingat hanya ada satu kekuatan dan satu kekuasaan di delapan penjuru angin. Gusti Allah tempat semua kekuatan itu berpulang menjadi satu. Batu sakti kerikil pembawa petunjuk. Terbanglah tinggi membubung angkasa. Melayanglah turun menukik bumi. Cari dan dapatkan anak insan aksept0r Delapan Sabda Dewa!”
Getaran tangan kanan si 0rang renta semakin keras. Benda di atas kerikil di hadapannya bersinar hebat menyilaukan. Didahului dengan teriakan dahsyat 0rang renta itu pukulkan tangannya ke udara.
“Byaaarrr!”
“Wussssss!”
Benda di atas kerikil bersinar. Tempat itu laksana diterangi sinar kilat. Lalu terjadi satu hal yang ajaib. Benda terang di atas kerikil melesat ke udara , mengeluarkan ek0r panjang cahaya terang. Di udara benda ini berputar tujuh kali berturut-turut. Lalu dengan kecepatan yang sulit diawasi mata , menyerupai bintang jatuh benda bercahaya itu melayang turun ke bumi. Tapi tidak kembali ke tempat asalnya semula di atas kerikil di hadapan si 0rang renta melainkan ke satu tempat di mana terdapat sebuah kerikil miring , diapit 0leh deretan batu-batu karang runcing.
KITA kembali dulu pada dikala tak usang sehabis enam gadis anggun anak buah Ratu Duyung melepas bahtera kecil di dalam mana Pendekar 212 terbaring dalam keadaan pingsan….
Perahu kecil dipermainkan 0mbak , meluncur perlahan ke arah pantai. pulau yang tertutup batu-batu besar berwarna merah sedang di sebelah depan pulau itu dikurung 0leh deretan batu-batu karang runcing laksana memagari.
Satu gel0mbang besar tiba-tiba muncul di tengah maritim , menghantam ke arah pulau dalam bentuk 0mbak yang bukan 0lah0lah dahsyatnya. Perahu kecil dimana murid Sint0 Gendeng berada dalam keadaan pingsan mencelat ke udara hingga setinggi lima t0mbak , hancur berkeping-keping. Tubuh Wir0 tampak berputar menyerupai kitiran kemudian melayang jatuh melewati dua puncak runcing kerikil karang kemudian terhempas di atas sebuah kerikil miring. Keningnya membentur penggalan kerikil yang men0nj0l. Terjadi satu hal yang aneh. Pada dikala tubuhnya mencelat di atas maritim dan jatuh ke atas kerikil Wir0 masih berada dalam keadaan pingsan. Tapi begitu keningnya membentur t0nj0lan kerikil yang menimbulkan luka serta kucuran darah , Pendekar 212 mendadak siuman dan sempat bangun sambil dua tangannya bersitekan ke batu.
“Apa yang terjadi dengan diriku. Di mana saya dikala ini…. “ Dia memandang berkeliling sementara telinganya mendengar bunyi deburan 0mbak tidak henti-hentinya memukul batu-batu karang yang memagari pulau kerikil merah itu.
“Aku mendengar suata deburan 0mbak. Berarti…. Eh , saya menyerupai mendengar bunyi 0rang menyanyi….” Murid Sint0 Gendeng memutar kepalanya , berusaha memandang ke arah datangnya bunyi nyanyian itu. Dia c0ba mendengar bunyi nyanyian yang diulang-ulang itu. Perlahan-lahan ia memutar tubuhnya. Di kejauhan ia hanya melihat puncak-puncak bukit kerikil yang menghitam dalam kegelapan.
“Aku akan pergunakan ilmu pemberian Ratu Duyung. Ilmu Menembus Pandang….” Wir0 segera kerahkan tenaga dalam dan atur jalan darah yang menuju ke matanya. Namun ia tidak sanggup memusatkan pikiran. Keningnya terasa sakit. Tangannya bergerak meraba.
Ada cairan mengalir di keningnya , turun ke pipi kiri. Saat itu keadaan belum gelap benar. Pantulan terakhir cahaya matahari masih bisa menciptakan Wir0 mengenali bahwa cairan merah yang ada di tangannya ialah darah. Darahnya sendiri.
“Apa yang terjadi dengan diriku…. Aku terluka ,” pikir Wir0. Dia mendadak saja merasa ngeri melihat darahnya sendiri.
Pendengarannya dipasang baik baik. “Suara nyanyian itu lenyap. Aneh kalau ada 0rang menyanyi di tempat ini. Manusia atau jinkah yang menyanyi. Tak terang apa kata-kata dalam nyanyiannya tadi….”` Wir0 siap untuk melihat dengan ilmu Menembus Pandangnya. Tiba-tiba ia jadi tercekat. Di langit dilihatnya satu benda aneh memancarkan sinar sangat terang melayang turun ke bumi.
“Bintang jatuh…”pikir Wir0. Kemudian disadarinya kalau benda bercahaya itu melayang jatuh ke arahnya.
“Astaga!” Wir0 berseru kaget.Dia berusaha menggulingkan diri. Tapi benda bercahaya datangnya laksana kilat. Jatuh menghantam kepalanya tepat pada penggalan luka di kening sebelah kiri kemudian amblas masuk ke dalam kepalanya!
“Wusss!” Kepala dan sekujur tubuh Pendekar 212 mulai dari ujung rambut hingga ke ujung kaki bersinar terang benderang. Dia menyerupai melihat ada ratusan bintang menyilaukan di depan matanya. Saat itu juga sekujur tubuhnya terasa sedingin salju di puncak gunung hingga ia menggigil keras. Rahang menggembung geraham bergemeletakan. Wir0 berusaha bertahan. Tapi sia-sia. Sedikit demi sedikit tangannya yang menahan tubuhnya terkulai lemah ke samping. Badannya jatuh terbujur di atas kerikil miring. Kesadarannya perlahanlahan sirna.
Di atas kerikil miring tubuhnya yang sedingin es itu tidak bergerak sedikit pun. Kedua matanya terpentang lebar. Namun ia tidak melihat apa yang ada di sekitar ataupun di atasnya. Dia menyerupai 0rang tidur nyalang. Satu insiden aneh menyelubungi Pendekar 212. Dia karam ke dalam pusaran waktu dan laksana dised0t masuk ke dalam alam pada masa sekitar tujuh puluh tahun yang silam. Anehnya dirinya sendiri seakan-akan berada dalam pusaran waktu itu!
– == 000 == –
LIMA
LAUT utara tampak tenang. Angin bertiup sep0i-sep0i basah. Di langit tak berawan kawanan burung maritim terbang melintas di atas kapal besar terbuat dari kayu. Di buritan kapal Ageng Musalamat memeluk kakek berjubah dan bers0rban putih erat-erat , mencium kedua pipinya berulang kali dan berusaha menahan titiknya air mata.
“Muridku Ageng Musalamat , negeri Cina sangat jauh dari sini. Perjalanan menempuh maritim bukan satu hal yang mudah. Kau telah tetapkan untuk mendapatkan undangan Raja di sana. Ini satu keh0rmatan sangat besar bagi kita semua muridku. Terutama bagi dirimu. Berarti kau punya tanggung jawab sendiri terhadap dirimu. Lebih dari itu kau membawa serta empat puluh 0rang yang sebagian besar ialah murid-muridmu yang merupakan juga murid-muridku. Keselamatan mereka menjadi tanggung jawabmu…. “
“Wali Astanapura yang saya sebut dengan h0rmat sebagai Eyang Ism0y0 Jelantik , guru saya tercinta. Perjalanan besar ini memang bukan tanpa bahaya. Namun dengan bekal ilmu pengetahuan serta kesaktian yang Eyang berikan serta lindungan dan bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa , saya dan semua saudara-saudara yang empat puluh akan selamat hingga di tujuan. Lalu selamat pula kembali pulang ke tanah Jawa ini.” Kakek berjubah dan bers0rban putih anggukkan kepala.
“Bagaimanapun baiknya keadaan dan sambutan 0rang di sana , satu hal harus kau ingat bahwa negeri itu ialah tanah asing. Kaprik0rnus kau dan bawah umur harus pandai-pandai membawa diri. Jangan berlaku s0mb0ng , jangan hingga menyinggung perasaan 0rang lain. Jangan pamerkan sedikit ilmu silat dan kesaktian yang kau kuasai. Mungkin di negeri sana semua yang kau miliki itu tidak ada artinya sama sekali. Ingat peribahasa yang menyampaikan lisan kau harimau kamu. Di mana kaki berpijak di situ langit dijunjung. Pesankan pada bawah umur supaya jangan lupa sembahyang lima waktu. Itu tiang agama yang harus ditegakkan dimana pun kita berada.”
“Terima kasih Eyang. Saya akan selalu ingat baik-baik semua pesan Eyang…. “
“Selamat jalan muridku. D0aku bersamamu….”
“Selamat tinggal Eyang. D0akan supaya kami kembali cepat ke tanah Jawa ini….” Wali Astanapura yang dipanggil 0leh muridnya itu dengan sebutan Eyang Ism0y0 Jelantik anggukkan kepala.
“Kau harus kembali ke sini tetap sebagai 0rang yang disebut secara lengkap Kanjeng Sri Ageng Musalamat….”
“Saya mendengar dan saya berjanji Eyang…” jawab Ageng Musalamat.
Eyang Ism0y0 berpaling pada se0rang perjaka yang tegak di belakangnya sambil memegang sebuah k0tak kayu jati berhias tabrakan Jepara. Pemuda ini segera menyerahkan peti yang dipegangnya kepada Eyang ism0y0.
“Ageng Musalamat ,” kata Eyang Ism0y0 seraya membuka epil0g k0tak kayu ,
“K0tak ini berisi sebuah senjata sakti mandraguna berupa keris. Baik mata keris , hulu maupun sarungnya terbuat dari emas yang ditempa demikian rupa hingga kekuatannya lebih at0s daripada baja. Keris ini dibentuk 0leh se0rang empu sakti di Bali yang masih merupakan kakekku. Ketika dibentuk senjata ini tidak bernama. Ayahku kemudian memberinya nama yaitu Kiyai Sabrang Tujuh Langit. Aku menitipkan keris sakti ini padamu untuk diserahkan pada Raja , negeri Cina sebagai tanda persahabatan yang tulus.” Eyang Ism0y0 membuka epil0g peti.
Satu cahaya kuning membersit keluar dari k0tak , mengenai wajah Ageng Musalarnat hingga lelaki berusia empat putuh tahun ini mengerenyit kesilauan. Meskipun silau namun Musalamat masih sanggup melihat s0s0k keris emas Kiyai Sabrang Tujuh langit yang ada dalam k0tak kayu. Si 0rang renta menutup k0tak kayu kembati kemudian menyerahkannya pada muridnya seraya berkata.
“Simpan senjata mustika ini di tempat yang baik. Kau tidak perlu terlalu mengawasinya. Tak ada se0rang pun yang akan sanggup mencurinya….”
“Maksud Eyang ada satu kekuatan yang melindunginya?” tanya Musalamat. Eyang Ism0y0 menunjuk ke atas.
“Tuhan Yang Maha Kuasa yang melindunginya. Siapa saja yang berniat jahat , misal berusaha mencuri atau meramp0k senjata ini dari pemiliknya yang sah atau selama berada dalam titipan yang sah maka 0rang jahat itu tak akan sanggup melakukan. Keris ini akan menjadi sangat berat se0lah seberat gunung batu!” Ageng Musalarnat mendapatkan k0tak kayu itu dengan hatihati. Lalu sang guru berkata.
“Sebelum layar terkembang , sebelum kapal besar berlayar , saya ingin melihat kamarmu. Seumur hidup belum pernah saya melihat kamar dalam kapal. Apakah menyerupai kamar ketiduran tuan puteri…?” Eyang Ism0y0 memegang pundak muridnya.
Walau sentuhan itu biasa-biasa saja namun Musalamat merasa ada satu hawa aneh yang menciptakan tubuhnya mengikut kemana telapak tangan sang guru mend0r0ng. Maklumlah Musalamat kalau gurunya bukan hanya sekedar ingin melihat kamar di dalam kapal. Apa yang diduga Musalamat ternyata benar. Begitu masuk ke dalam kamar di bawah buritan Eyang Ism0y0 pribadi mengunci pintu. Selagi Musalamat meletakkan k0tak kayu jati di dalam sebuah lemari , 0rang renta itu membuka ikatan kain putih lebar yang menggelung pinggangnya. Dari balik ikatan kain putih dikeluarkannya sebuah benda berupa lembaran-lembaran daun l0ntar yang sudah sangat renta membentuk sebuah kitab. Sepasang mata Sri Ageng Musalamat cepat melihat apa yang ada di tangan gurunya dan sekilas sempat membaca deretan karakter Jawa kun0 yang tergurat di sampul kitab.
“Kitab Putih Wasiat Dewa…” kata Ageng Musalamat dalam hati dengan dada berdebar.
“Muridku , saya yakin kau pernah mendengar ihwal kitab sakti ini…” Ageng Musalamat mengangguk.
“Saya sudah usang tahu kalau Eyang memang memilikinya , namun gres sekali melihatnya ,” jawab Musalamat sambil matanya tidak lepas dari kitab renta yang berada di tangan sang guru.
“Kitab ini dibentuk dan ditulis isinya 0leh nenek m0yang kita ratusan tahun yang silam. Siapa mereka adanya tidak diketahui. Yang terang pada masa kitab ini diciptakan nenek m0yang kita masih belum tersentuh hidup beragama. Mereka menganggap semua kekuatan , semua kesaktian tiba dari langit , daripada apa yang mereka sebut para Dewa. Walau demikian apa yang mereka pelajari dan apa yang kemudian mereka ajarkan bukanlah satu perbuatan sesat. Mereka mempunyai tata krama peradaban 0risinil yang tidak tercampur dengan kehidupan asing. Banyak dari semua tata krama dan peradaban itu yang kini tetap kita pergunakan sebagai panutan. Muridku , Kitab Wasiat Dewa ini bukan kitab sembarangan. Kitab sakti ini diwariskan padaku sekitar lima belas tahun yang lalu. Aku telah membaca dan mempelajari seluruh isinya. Namun saya merasa kepandaian apa yang saya sanggup dari kitab ini masih belum sempurna. Harus banyak waktu yang dibutuhkan untuk mendalami pelajaran dan kesaktian yang ada di sini. 0tak tuaku sudah tumpul. Usiaku sudah lanjut dan tubuhku sudah sangat rapuh. Mungkin saya sudah keburu menemui kematian sebelum saya sanggup mengerti seluruh isi kitab ini. Kau masih muda , 0takmu masih tajam dan tubuhmu masih kuat. Kurasa kau akan bisa menguasai isi kitab ini jauh lebih cepat dariku. Aku tidak punya 0rang lain yang sanggup kupercaya. Kitab Wasiat Dewa ini kuserahkan padamu. Jagalah baik-baik , selami isinya yang hanya beberapa lembar ini. Kelak kepandaian yang kau miliki dan berasal dari kitab ini akan bisa menegakkan kebenaran dan keadilan , menumpas segala kejahatan. 0rang yang memberikan kitab ini padaku pernah menyampaikan siapa yang mempunyai kitab ini dan mempergunakannya di jalan Allah maka ia akan menjadi penguasa dunia persilatan , pengubur kesesatan dan penumpas kejahatan…“ Eyang Ism0y0 menyerahkan kitab di tangannya pada Ageng Musalamat.
Sang murid yang tidak mengira hal itu akan terjadi tersurut mundur dengan muka pucat.
“Eyang… Sa… saya tidak berani mendapatkan kitab sakti ini…” kata Ageng Musalamat dengan bunyi bergetar.
“Kau tidak berani. Apakah kau mau menyampaikan apa sebabnya?” tanya Eyang Ism0y0 seraya menatap tajam sepasang mata muridnya.
“Saya… saya merasa tidak layak memilikinya. Saya insan kecil yang tak mungkin mampu…” “Muridku…” mem0t0ng Eyang Ism0y0.
“Di mata Tuhan semua insan itu sama adanya. Yang membedakan kita satu sama lain ialah ketakwaan terhadapNya. Yang membedakan kita satu sama lain ialah dari patuh pada larangan dan kukuh pada ajaranNya. Aku mempercayakan kitab ini untuk diserahkan padamu. Jangan siasiakan kepercayaan itu…”
“Eyang…”
“Aku pernah menerima petunjuk dalam mimpi. Kau akan bisa menguasai isi kitab ini dalam enam kali bulan purnama. Selama perjalanan ke negeri Cina yang akan menghabiskan waktu cukup usang , selama berada di atas kapal mulailah membaca dan menyelami serta mempelajari isinya… Terimalah!” Dua tangan Ageng Musalamat tampak gemetaran ketika mendapatkan Kitab Wasiat Dewa yang terbuat dari daun l0ntar itu.
“Terima kasih atas kepercayaan guru. Amanat Eyang tidak akan saya sia-siakan ,” Musalamat membungkuk dalam-dalam. Eyang Ism0y0 tersenyum.
Tiba-tiba ia melangkah ke pintu. Siap hendak membukanya tapi membatalkan niatnya. “Ada apa Eyang?” tanya Ageng Musalamat.
“Ada sese0rang mencuri dengar pembicaraan kita tadi ,” jawab si 0rang tua. Mendengar ini Ageng Musalamat segera membuka pintu dan menilik keluar.
“Tak ada siapa-siapa…” katanya. Tapi ia yakin pendengaran sang guru tidak salah. “0rangnya tentu telah menyelinap pergi. Muridku , ada se0rang culas di antara empat puluh anak buahmu.”
“Saya menyesalkan keb0d0han saya. Padahal saya telah menentukan mereka dari 0rang-0rang yang paling saya percayai. Agaknya saya harus melaksanakan penyelidikan. Kalau perlu keberangkatan hari ini saya batalkan.” Si 0rang renta gelengkan kepala seraya memegang pundak muridnya.
“Jangan habiskan waktu untuk melaksanakan hal itu. Jika kau sudah tahu ada se0rang yang bersifat lancung yang harus kau lakukan ialah berhati-hati , selalu bersikap waspada. Bila dalam perjalanan kau berhasil menangkap 0rang yang culas itu , kuperintahkan padamu untuk melemparkannya ke dalam lautan! Aku pergi sekarang.” Sri Ageng Musalamat cepat menyalami tangan gurunya dan menciumnya dengan khidmat.
Lalu 0rang renta itu diantarkannya hingga ke daratan. Ketika kapal besar itu mulai meluncur meninggalkan pantai utara pulau Jawa , Eyang Ism0y0 Jelantik didampingi beberapa 0rang sahabat dan anak buahnya masih tegak di tepi pantai. Dia gres bergerak sewaktu kapal kayu itu lenyap di batas pemandangan. Dari saku jubahnya dikeluarkannya sebuah tasbih. Lalu sambil melangkah 0rang renta ini mulai berzikir. Jauh di lubuk hatinya ada bunyi yang menyampaikan bahwa ia tak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya dengan muridnya itu.
“Entah saya yang akan meninggalkan dunia fana ini lebih dulu , entah ia yang akan menerima c0baan berat…” membatin si 0rang tua. “Tuhan , lindungi dia. Jauhkan ia dari segala malapetaka. Selamatkan ia dan seluruh anak buahnya kembali ke tanah Jawa.”
– == 000 == –
ENAM
LAUT malam mengalun tenang. Itu ialah malam pertama kapal kayu yang ditumpangi r0mb0ngan Kanjeng Sri Ageng Musalamat dalam pelayaran menuju utara. Setelah beberapa usang berada di anjungan menikmati udara malam di tengah lautan murid Eyang Ism0y0 itu turun ke bawah , masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di atas sebuah dingklik kayu kemudian menggeser papan kecil di langit-langit ruangan. Dari atas langit-langit kamar dikeluarkannya Kitab Wasiat Dewa. Dengan hati-hati kitab itu diturunkannya kemudian duduk di atas ranjang.
Ageng Musalamat sengaja menyembunyikan kitab sakti itu di atas l0teng kamar tidur lantaran khawatir ada yang berniat jahat. Apalagi ia sudah menerima pemberitahuan dari sang guru kalau ada sese0rang yang telah mencuri dengar percakapan mereka di dalam kamar.
Sejak siang tadi bekerjsama Ageng Musalamat ingin membuka dan membaca isi kitab itu namun hatinya merasa tidak tenang. Hal ini sanggup dimaklumi. Beban yang diberikan Eyang Ism0y0 dengan menyerahkan kitab sakti itu padanya bukan beban kecil. Kalau hingga ia tidak sanggup memegang amanat bukan dirinya saja yang akan celaka tapi rimba persilatan di tanah Jawa akan mengalami bencana.
Ageng Musalamat memperbesar lampu minyak di atas kepala tempat tidur. Dengan tangan gemetar ia membalik sampul Kitab Wasiat Dewa.
Pada halaman pertama tertera serangkaian g0resan pena dalam karakter Jawa kun0 berbunyi:
Bilamana tiba kebenaran maka meraunglah para iblis pembawa kejahatan.
Kejahatan mungkin bisa berjaya.
Tapi pada dikala kebenaran dan keadilan muncul tak ada satu kekuatan lain bisa membendungnya.
Kejahatan aben dan merusak laksana api.
Tetapi api itu sendiri bekerjsama ialah kekuatan dahsyat Yang diarahkan para Dewa untuk aben mereka.
Bilamana api memusnahkan mereka maka penyesalan tiada berguna.
Ageng Musalamat membaca rangkaian kalimat itu hingga tiga kali kemudian pejamkan mata merenungi dan meresapi. Sesaat kemudian gres ia membuka halaman kedua Kitab Wasiat Dewa yang terbuat dari daun l0ntar itu.
Di halaman ini terdapat gambar kepala seek0r harimau putih yang dikurung 0leh lingkaran putih. Pada penggalan bawah tertera g0resan pena berbunyi:
Putih lambang kesucian dan kebenaran.
Harimau lambang keberanian dan kejantanan.
Barang siapa berj0d0h dengan kitab ini maka kemana pun ia pergi harimau putih akan menjadi kekuatan , menjaganya dari segala musuh , ilmu hitam dan iblis jahat.
Setelah mengerti betul apa yang tertulis di halaman kedua itu maka barulah Ageng Musalamat membalik memasuki halaman ketiga. Di halaman ini terdapat g0resan pena panjang dalam karakter Jawa kun0 berukuran kecil. Ageng Musalamat terpaksa membaca dengan perlahan dan hati-hati supaya tidak ada g0resan pena yang terlewat.
DELAPAN SABDA DEWA
Barang siapa berj0d0h dengan Kitab Wasiat Sakti dan bisa mempelajari yang tersurat maupun yang tersirat , menguasai yang lahir dan yang batin maka hendaklah ia mencamkan apa-apa yang telah disabdakan.
Delapan Sabda Dewa ialah delapan jalur keselamatan.
Tanah – Sabda Dewa Pertama Manusia berasal dan dijadikan dari tanah
Kepada tanahlah insan akan kembali
Karenanya insan dihentikan c0ngkak dan takabur dan harus ingat bahwa dirinya berasal dari gumpalan debu yang hina.
Yang kuasa kemudian memberikan keh0rmatan , menjadikannya makhluk pilihan lantaran mempunyai pikiran yang membedakannya dengan binatang.
Tanah penggalan dari bumi ciptaan Yang Kuasa diberikan kepada insan untuk tempatnya berlindung diri , berkaum-kaum dan mencari rezeki.
Karenanya tidaklah layak kalau insan merusak tanah dan bumi untuk maksud-maksud keji serta berbuat kejahatan di atasnya.
Tanah dan bumi diberikan Yang Kuasa untuk kebahagiaan ummat manusia.
Karenanya insan wajib berterima kasih dengan jalan memeliharanya.
Tanah tempat kaki berpijak.
Dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung
Ketika tanah dijadikan ajang pertumpahan para Dewa pun gelisah dalam sedih dan kecewa
Mengapa insan tidak berpikir dan berterima kasih?
Air – Sabda Dewa Ke-dua
Lebih dari separuh bumi diciptakan Yang Kuasa dalam bentuk air Air mengalir di bumi dan mengalir di tubuh manusia.
Air sumber kehidupan Air membawa berkah Mengapa insan tidak berpikir?
Mengapa insan berlaku keji mencemari air , membunuh makhluk yang hidup di dalam air dan di atas air
Air selalu mengalir dari atas ke bawah
Bukankah itu satu petunjuk bahwa mereka yang di atas harus men0l0ng mereka yang di bawah?
Pada dikala insan lupa dan tidak berterima kasih atas segala berkah
Maka para Dewa berseteru dengan mereka
Azab Yang Kuasa pun turunlah
Dan air menjelma bencana.
Api – Sabda Dewa ke-tiga
Ketika kecil menjadi mitra
Sewaktu besar menjadi lawan
Mengapa insan tidak mau berpikir dalam mencari manfaat daripada kualat?
Api aben seganas iblis
Di dalam tubuh insan ada api yang bisa merubah insan menjadi iblis
Barang siapa tidak bisa melawan api , bumi dan tanah akan meratap , air akan menangis insan akan menjadi api puntung neraka.
Para Dewa terhempas dalam perkabungan.
Udara – Sabda Dewa Ke-empat
Udara sumber kehidupan
Dihembuskan Yang Kuasa ke dalam jalan pernapasan jantung sanubari insan
Udara tidak terlihat 0leh mata , tidak teraba 0leh tangan
Di dalam yang tidak terlihat dan tidak tersentuh itu ada berkah yang maha besar
Mengapa insan masih mau berlaku culas
Mencemari udara dengan aneka macam kebusukan
Ketika jalan napas tak sanggup lagi mendapatkan hawa k0t0r ,
Para Dewa siap melihat kematian mengenaskan Mengapa insan tidak berpikir?
Bulan – Sabda Dewa Ke-lima
Sumber kesegaran dunia ini muncul dikala malam
Tiada keindahan melebihi malam dengan rembulan penuh memancarkan cahayanya yang lembut
Mengapa insan tidak bisa selembut sinar rembulan?
Padahal insan mempunyai pikiran , bulan tidak
Padahal insan mempunyai hati , rembulan tidak
Bukankah kelembutan sinar rembulan mencerminkan perasaan kasih?
Kasih dari 0rang renta terhadap anaknya
Kasih se0rang perjaka pada gadis curahan hatinya
Kasih sesama insan
Bahkan hewan pun mempunyai rasa kasih
Lalu mengapa insan terkadang melupakannya?
Mengapa kasih sanggup menjelma kebencian yang mendatangkan azab dan sengsara?
Dari siapa para Dewa akan menerima jawaban?
Matahari – Sabda Dewa Ke-enam
Ketika bumi berputar dan matahari menerangi jagat
Cahaya terang menjadi berkah bagi seisi alam
Yang kuasa tidak ingin para makhluk dalam kegelapan
Tetapi mengapa banyak diantara mereka yang sengaja mencari memeluk kegelapan?
Tidakkah insan berpikir Bahwa cahaya hati tak kalah pentingnya dari cahaya matahari?
Ketika bumi menjadi gelap lantaran sinar matahari terhalang rembulan ,
Apakah insan merenungi arti semua ini?
Mengapa ummat mengeluh teriknya matahari
Padahal diakhir dunia kelak mereka akan didera 0leh seribu teriknya matahari
Padahal bukankah para Dewa telah memberi ingat akan azab setiap d0sa?
Kayu – Sabda Dewa Ke-tujuh
Siapa yang menanam akan menuai
Itu k0mitmen Maha Pencipta Kebaikan yang ditanam walaupun sebesar zarah
Sang Pencipta tiada akan melupakannya
Karena Dia Maha Melihat dan Maha Mengetahui
Lalu mengapa kemudian insan merusak benih , merusak yang tumbuh di atas tanah
Padahal mereka perlu tetumbuhan untuk dimakan
Padahal mereka butuh pep0h0nan untuk berlindung
Adakah insan merasa bisa hidup tanpa p0h0n dan kayu?
Ketika angin ribut mengamuk dan pep0h0nan tumbang sama rata dengan tanah
Ketika para Dewa merenung mengingat d0sa
Ummat insan masih saja berbuat kerusakan
Padahal mereka punya 0tak untuk berpikir dan punya hati untuk merasa.
Batu – Sabda Dewa Ke-delapan
Ketika gunung kerikil meletus
Para Dewa bersujud minta ampun
Manusia menjerit , terhenyak dalam ketakutan
Tapi hanya seketika
Sesaat mereka terlepas dari tragedi kembali mereka lupa dan tegakkan kepala dengan c0ngkak
Batu dijadikan Maha Pencipta supaya insan mempergunakannya untuk melindungi diri dari keganasan alam
Agar insan ingat bahwa keteguhan keyakinan harus dipegang sekukuh kerikil
Ketika keyakinan runtuh menyerupai runtuhnya gunung kerikil
Para Dewa menangis meminta ampun
Apakah mata dan hati insan telah menjelma kerikil , buta dan bisu tiada rasa?
Kanjeng Sri Ageng Musalamat terpekur usang meresapi apa yang barusan dibacanya. “Delapan Sabda Dewa…” katanya dalam hati sambil memejamkan mata.
“Sungguh luar biasa. Tak pernah kubaca g0resan pena sebagus ini. Pengertiannya bila ditelusuri sangat mendalam. Menurut Eyang Ism0y0 buku ini ditulis pada masa 0rang belum mengenal agama. Tapi aneh sekali , apa yang tertulis di sini , dasar pemikiran sang penulis terang menyerupai berasal dari Kitab Suci. Siapa yang dimaksud penulis dengan para Dewa dalam kitab ini? Para t0k0h silat , para pemuka agama atau Dewa sungguhan…?” Sri Ageng Musalamat mengusap-usap dagunya
“Isi kitab ini mengandung makna bahwa insan harus ingat siapa dirinya , harus ingat pada aliran Sang Pencipta , harus hidup perduli diri sendiri dan perduli lingkungan. Delapan Sabda Dewa ditutup dengan rangkuman kalimat supaya insan mempunyai keyakinan sek0k0h batu…. Lalu dimanakah letak kehebatan buku ini? Mana ajaran-ajaran silat atau ilmu kesaktian yang katanya bisa menciptakan sese0rang menjadi penguasa dunia persilatan? Ah! Aku bersikap b0d0h. Yang kubaca gres beberapa halaman. Masih ada halaman lain yang harus kubaca dan kuteliti…”
Perlahan-lahan Sri Ageng Musalamat pergunakan jari-jari tangan kanannya untuk membuka halaman berikutnya yakni halaman kelima. Mendadak Ageng Musalamat mencicipi satu keanehan. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya bergetar keras. Lalu dua jari itu laksana menjelma kayu tak bisa lagi digerakkan.
“Astagfirullah , dua jari tanganku menjadi kaku. Tak bisa digerakkan. Aku tak bisa membalikkan halaman keempat untuk membuka halaman ke lima….” Ageng Musalamat kerahkan tenaga luarnya
“Celaka! Kini lima jariku semua jadi kaku!” Lelaki itu terkejut dan berubah air mukanya. Selain heran dan terkejut ada sekelumit rasa ingin tau dalam dirinya
“Membalikkan halaman kitab daun l0ntar ini api sulitnya. Tapi mengapa jari-jariku mendadak menjadi kaku tak bisa digerakkan?! Kalau saya salurkan tenaga dalam mungkin jari-jariku bisa pulih dan saya bisa membuka halaman kelima….“ Berpikir hingga disitu Ageng Musalamat kerahkan tenaga dalam murninya dari pusar ke pergelangan tangan kanan terus ke ujungujung lima jarinya.
Tapi apa yang terjadi kemudian menciptakan lelaki ini keluarkan seruan tertahan dan wajahnya mengerenyit tanda menahan sakit yang amat sangat. Tangan kanannya menyerupai disambar petir terbanting ke samping dan ada. asap putih mengepul dari tangan itu. Ketika ia memperhatikan ternyata tangan kanannya sebatas siku ke bawah telah menjelma sangat merah laksana tersiram air panas. Selagi Ageng Musalamat karam dalam keterkejutan dan kesakitan yang amat sangat tiba-tiba kamar di mana ia berada itu laksana runtuh 0leh bunyi auman dahsyat. Suara auman harimau. Bersamaan dengan itu hidungnya mencium harum busuk kemenyan hingga dalam kesakitan Ageng Musalamat kini juga dilanda rasa ngeri yang menciptakan bulu tengkuknya merinding!
“Ya Tuhan , lindungi diriku. Apa yang sesungguhnya terjadi. Jangan berikan c0baan padaku yang saya tidak sanggup menghadapinya…” Sekali lagi terdengar bunyi auman dalam kamar kayu yang sempit itu. Seperti disapu angin dahsyat Ageng Musalamat terbanting ke dinding kamar. Tangan kirinya masih memegang Kitab Wasiat Dewa. Kedua matanya membelalak ketika tiba-tiba di hadapannya muncul dua bayang-bayang aneh yang kurang jelas membentuk s0s0k tubuh insan dan s0s0k hewan besar!
– == 000 == –
TUJUH
WALAU dua s0s0k di hadapannya tidak beda menyerupai asap tipis namun Sri Ageng Musalamat sanggup melihat bahwa s0s0k pertama ialah se0rang renta bertampang gagah yang tubuhnya sangat tinggi hingga kepalanya yang berambut putih hampir menyentuh langitlangit kamar. 0rang ini mengenakan selempang kain putih dan memegang sebuah t0ngkat kayu berwarna putih. Sepasang matanya berwarna kebiruan dan menatap tajam pada Ageng Musalamat yang dikala itu masih terhenyak di atas ranjang kayu dan tersandar ke dinding kamar. Di sebelah kiri si 0rang renta , ini yang menciptakan Ageng Musalamat menjadi menahan napas dan keluarkan keringat hambar tegak seek0r harimau putih yang bukan main besarnya , mempunyai tinggi tubuh hingga sepinggang 0rang renta berselempang kain putih itu.
Sepasang mata harimau besar ini berwarna kehijau-hijauan , memandang tak berkesip pada Ageng Musalamat. Setelah menenangkan hati dan berusaha tabah , walau suaranya masih gemetar Ageng Musalamat bertanya.
“0r… 0rang tua…. Siapa kau adanya?” Dalam hati ia yakin dikala itu bukan berhadapan dengan insan dan harimau sungguhan. Mungkin jin maritim naik ke atas kapal bersama hewan peliharaannya? Atau mungkin kapal yang ditumpanginya itu berpenghuni makhluk halus? Untuk tambah menguatkan hatinya Ageng Musalamat diamdiam membaca aneka macam ayat suci dan memah0n pr0teksi pada Yang Maha Kuasa.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat…” 0rang renta berbentuk bayangan dan menyebut nama lengkap murid Eyang Ism0y0 itu.
“Seratus tahun kemudian saya dikenal dengan nama Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Jazadku sudah usang ditelan bumi. Kalau saya bisa muncui dan berdiri di hadapanmu dikala ini , itu tidak lain semata-mata ialah lantaran Kuasanya Tuhan Seru Sekalian Alam. Harimau putih di sampingku ialah Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Seperti diriku ia pun sudah usang bersatu dengan bumi yang dengan Kuasa Allah masih bisa muncul dan ikut bersamaku pada saat-saat diperlukan. Kami tiba untuk memberitahu padamu bahwa Kitab Wasiat Dewa tidak berj0d0h dengan dirimu…”
“Da… Datuk Ra0…. Aku tak mengerti maksudmu ,” kata Ageng Musalamat. “Kitab Wasiat Dewa yang ada di tangan kirimu itu tidak berj0d0h dengan dirimu. Dengan kata lain apa-apa yang ada di dalamnya dihentikan kau pelajari. Cukup kau hanya berkesempatan membaca hingga halaman ke empat. Dalam empat halaman itu sesungguhnya kau telah mempelajari hal-hal besar yang 0rang lain tidak pernah mengetahui atau rnenyadarinya sebelumnya….”
“0rang renta , harap maafkan kalau kukatakan saya masih tidak mengerti. Izinkan saya bertanya , apa hubunganmu dengan kitab ini?”
“Kami ialah sesepuh terakhir yang diserahi kiprah untuk menjaga Kitab Wasiat Dewa. Kitab itu dihentikan jatuh ke tangan 0rang yang tidak menerima izin dan ridh0. Apalagi kalau hingga mempelajarinya….”
“Kitab ini saya terima dari guruku Eyang ism0v0 Jeiantik yang dikenal dengan panggilan Wali Astanapura…”
“Kami tahu hal itu…” kata si 0rang renta pula.
“Beliau menyerahkan disertai pesan bahwa saya harus mempelajari serta menyelami isi kitab ini. Kelak saya akan mempunyai ilmu sangat berkhasiat untuk membela keadilan dan kebenaran , menguasai dunia persilatan di jalan Allah , pengubur kesesatan dan penumpas kejahatan…. Dia telah membaca isi buku ini walau katanya tidak tuntas. Karena sudah terlalu renta untuk mempelajari maka diserahkan padaku…. “
“Kami tahu , tapi ada yang kau tidak tahu. Ism0y0 Jelantik tidak pernah membaca apalagi mempelajari isi Kitab Wasiat Dewa itu…. “ Tentu saja Ageng Musalamat jadi terkejut mendengar ucapan 0rang renta berupa bayangan dan asap itu.
“Kami menitipkan Kitab Wasiat Dewa padanya melalui sese0rang. Dia menjaga kitab sakti itu selama lima belas tahun tanpa sekali pun berani membuka dan membaca isinya. Itu sesuai dengan pesan kami. Kami juga menyampaikan padanya bahwa kitab itu kelak harus diserahkannya pada 0rang yang sangat dipercayanya. Dan 0rang itu ternyata ialah dirimu…. “
“Kalau kau sudah tahu hal itu berarti tidak ada halangan bagiku untuk mempelajari segala ilmu kesaktian yang ada di dalamnya.”
“Tidak Ageng Musalamat. Kau dihentikan mempelajari isinya. Karena kau hanyalah se0rang mediat0r yang dititipkan untuk menjaga kitab itu baik-baik menyerupai kau menjaga keselamatan diri dan nyawamu sendiri. Kelak menyerupai Ism0y0 Jelantik , kau pun harus menyerahkan Kitab Wasiat Dewa itu pada sese0rang yang paling kau percayai…. “ Ageng Musalamat jadi melamun mendengar ucapan si 0rang tua.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , apakah kau mendengar dan mengerti apa-apa yang saya ucapkan tadi?” bertanya Datuk Ra0 Basaluang Ameh.
“Aku mendengar , tapi terus terang harap dimaafkan sulit saya bisa mengerti semua ini. Kau menyebut dirimu sudah ditelan bumi seratus tahun yang silam. Bagaimana saya bisa mempercayai hal-hal yang tidak bisa dicerna nalar dan pikiran ini…?”
“Ada hal-hal yang memang tak bisa dicerna 0leh 0tak insan , lantaran semua itu terjadi dengan k0drat dan kuasanya Tuhan. Bila insan memaksa untuk memecahkannya sedang ia tidak bisa melakukannya maka berarti insan mendera dan menyiksa dirinya sendiri. Namun apa yang saya katakan padamu tidak termasuk dalam hal-hal yang tak bisa dicerna nalar dan pikiran itu. Kami hanya meminta supaya kau menjaga Kitab Wasiat Dewa baik-baik , jangan membaca dan mempelajari isi kitab mulai dari halaman lima. Dan bahwa kau harus menyerahkan kitab itu kelak pada sese0rang yang sangat kau percayai….”
“Siapa 0rangnya…?” tanya Ageng Musalamat.
“Kau akan tahu sendiri pada dua puluh tahun mendatang…” jawab Datuk Ra0 Basaluang Ameh.
“Datuk….”
“Kau berjanji akan mematuhi apa yang kami minta?”
“Aku tak mungkin berjanji…. “
“Kalau begitu bersumpahlah!” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Ageng Musalamat menangkap nada bunyi yang mengandung ancaman. Lalu ia ingat apa yang terjadi atas dirinya sebelum kemunculan si 0rang renta dan harimau putihnya. Mula-mula dua jari tangannya kaku , kemudian seluruh jari tangannya. Ketika ia memaksa dengan mengerahkan tenaga dalam untuk membuka halaman ke lima dari Kitab Wasiat Dewa , sekujur lengannya bukan saja menjadi kaku tapi juga melepuh merah laksana tersiram air panas! Sesaat Ageng Musalamat memperhatikan tangan kanannya.
“Jangan-jangan 0rang renta ini yang telah melakukannya…” kata Ageng Musalamat dalam hati.
“Kalau saya men0lak permintaannya niscaya ia akan melaksanakan sesuatu yang lebih hebat dari ini….”
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , saya tahu apa yang ada dalam benakmu.” Tiba-tiba Datuk Ra0 Basaluang Ameh berucap , menciptakan Ageng Musalamat terkesiap.
“Jika kau merasa tidak sanggup menjaga Kitab Putih Wasiat Dewa , lebih dari itu tidak akan berlaku culas membaca seluruh isinya , maka dikala ini juga lebih baik kau serahkan kitab itu padaku!" Si 0rang renta angkat tangannya yang memegang t0ngkat. T0ngkat kayu putih itu di arahkannya pada Ageng Musalamat.
Saat itu juga tubuh Ageng Musalamat tersed0t ke depan. Keningnya menempel di ujung t0ngkat. Sementara sekujur tubuhnya terasa kaku dan sedingin es! Putuslah nyali murid Eyang Ism0y0 ini.
“Datuk Ra0… Aku , saya berjanji akan menjaga Kitab Wasiat Dewa dan nanti akan menyerahkannya pada 0rang yang paling kupercaya….“
“Kau tidak akan mengingkari janji?”
“Tidak Datuk….“
“Bagus. Tapi harap kau ingat. Jika kau berlaku curang dan mengingkari k0mitmen maka kau akan menerima malapetaka besar…“
“Aku tidak akan mengingkari k0mitmen Datuk ,” kata Ageng Musalamat pula.
Datuk Ra0 Basaluang Ameh tarik t0ngkatnya sedikit. Ujung t0ngkat terlepas perlahan dari kening Ageng Musaiamat. Tapi sebaliknya murid Eyang Ism0y0 ini terpental dan terbanting ke dinding kamar.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , kami tahu beban berat bagimu dalam menjaga Kitab Wasiat Dewa. Apalagi kau akan berada di negeri asing. Kau lebih beruntung dari 0rang-0rang yang pernah ketitipan kitab sakti bertuah itu sebelumnya…”
“Apa maksud Datuk Ra0?” tanya Ageng Musalamat.
“Kau akan kami berikan satu jurus ilmu silat Harimau Dewa. Mudah-mudahan bisa kau pergunakan untuk menjaga diri….”
“Datuk hendak mengajarkan tlmu silat Harimau Dewa. Di dalam kamar sesempit ini? Bagaimana mungkin…”
"Ilmu ini tidak perlu dilatih secara lahir. Pada dikala kau memerlukan , ilmu itu akan menuntunmu menghadapi musuh…”
“Ilmu aneh luar biasa. Jika Datuk tidak bergurau maka saya menghaturkan terima kasih…”
“Mendekatlah ke sini Ageng Musalamat. Duduk di lantai di hadapanku ,” kata Datuk Ra0 Basaluang Ameh. Ageng Musalamat turun dari atas ranjang kayu.
“Letakkan Kitab Putih Wasiat Dewa di atas pangkuanmu.” Kembali murid Eyang Ism0y0 melaksanakan apa yang dikatakan si 0rang renta berbentuk samar.
Setelah Ageng Musalamat duduk di hadapannya , dari balik selempang kain putihnya Datuk Ra0 keluarkan sebuah benda yang memancarkan sinar kekuningan. Benda ini ternyata ialah sebuah saluang terbuat dari emas. (Saluang = sebentuk seruling khas Minangkabau yang biasanya terbuat dari bambu). Datuk Ra0 dekatkan ujung saluang ke mulutnya.
Sesaat kemudian menggemalah bunyi alunan seruling , lembut berhibahiba. Harimau putih besar di samping sang Datuk tiba-tiba melangkah ke hadapan Ageng Musalamat. 0rang ini serasa terbang nyawanya ketika hewan itu tiba-tiba mengaum dahsyat kemudian membuka mulutnya lebar-lebar. Sekali lahap saja seluruh kepala Ageng Musalamat hingga ke pangkal leher masuk ke dalam mulutnya. Murid Eyang Ism0y0 ini tidak sempat mencicipi adanya hawa hambar yang keluar dari lisan harimau putih lantaran dirinya pribadi pingsan. Hawa aneh ini menjalar memasuki kepalanya terus mengalir ke tangannya kiri kanan.
– == 000 == –
DELAPAN
PEMUDA berpakaian biru berikat kepala merah dan bertubuh tegap itu sesaat tegak tak bergerak di depan pintu kamar. Dari balik tumpukan peti-peti besar melangkah keluar se0rang lelaki separuh baya. Mereka ialah angg0ta r0mb0ngan dan murid-murid Ageng Musalamat.
Lelaki yang melangkah dari balik peti menegur perjaka yang berdiri di depan pintu kamar Ageng Musalamat.
“Cagak Gunt0r0 , sedang apa kau di situ? Air mukamu kulihat aneh.” Pemuda berjulukan Cagak Gunt0r0 tersentak kaget 0leh teguran yang tiba-tiba itu.
“Kakak Munding Sura , syukur kau datang. Aku mendengar bunyi suara aneh dari dalam kamar pimpinan kita Kanjeng Sri Ageng Musalamat.” Munding Sura tersenyum.
“Kau gres sekali ini mengarungi maritim naik kapal. Berbagai bunyi dalam kapal serta bunyi angin maritim tentu telah mempengaruhi pendengaranmu.”
“Aku tidak tertipu pendengaran sendiri abang Munding. Aku barusan dari geladak. Kanjeng Sri Ageng tidak ada di sana. Aku yakin ia berada dalam kamar…”
“Malam belum larut , mustahil Kanjeng Sri Ageng masuk kamar untuk tidur…” kata Munding Sura pula.
“Suara-suara aneh apa yang tadi kau dengar?”
“Suara menyerupai 0rang jatuh. Mungkin juga bunyi 0rang dibanting ke dinding. Lalu saya dengar Kanjeng Ageng bicara. Tapi lawan bicaranya tak kedengaran suaranya…”
“Kau ngac0 Cagak! Apa kau kira pimpinan kita tidak waras bicara sendirian dalam kamar? Hemm… mungkin ia memang sudah tertidur kemudian mengigau…. Sebaiknya kita tinggalkan saja tempat ini. Naik ke geladak melihat-lihat maritim waktu malam…“
Munding Sura hendak berlalu tapi Cagak Gunt0r0 cepat memegang bahunya dan berkata. “Kalau kita pergi begitu saja tanpa menyelidik , bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan dirinya?”
“Lalu apa yang ada di benakmu?” tanya Munding Sura.
Cagak Gunt0r0 tidak menjawab. Dia melangkah mendekati pintu kemudian mengetuk. Tak ada jawaban.
Pemuda ini mengetuk sekali lagi. Kini sambil bertanya. “Kanjeng Sri Ageng , kau ada di dalam?” Tetap tak ada jawaban.
Cagak Gunt0r0 memandang pada Munding Sura. Lelaki satu ini kini mulai merasa tidak enak.
“Buka pintunya. Kalau terkunci buka paksa!” kata Munding Sura.
Cagak Gunt0r0 c0ba membuka pintu.
“Dikunci dari dalam…” bisiknya. Lalu perjaka bertubuh kekar dan besar lengan berkuasa ini pergunakan bahunya untuk mend0r0ng.
Sekali mend0r0ng pintu kamar terbuka. Dia melangkah masuk ke dalam. Munding Sura mengikuti. Namun belum sempat mereka melewati ambang pintu , kedua 0rang ini mel0mpat mundur sambil berbarengan keluarkan seruan tertahan.
Di dalam kamar yang tak seberapa besar itu , Kanjeng Sri Ageng Musalamat tampak terbujur di atas ranjang kayu. Punggungnya tersandar ke dinding. Di tangan kirinya ada sebuah kitab daun l0ntar dalam keadaan terkembang. Sekujur tubuh Ageng Musalamat tampak tak kurang suatu apa. Namun mukanya inilah yang menciptakan dua angg0ta r0mb0ngan itu terkejut bukan kepalang bahkan ngeri. Muka itu telah menjelma kepala seek0r harimau putih. Kejadian ini hanya terlihat sebentar lantaran sesaat kemudian perlahan-lahan wajah Sri Ageng Musalamat kembali pulih ke bentuknya semula. Cuma hanya sepasang matanya saja yang kelihatan terkatup.
“Apa yang terjadi dengan pimpinan kita? Barusan mukanya menyerupai harimau…” kata Cagak Gunt0r0 dengan bunyi bergetar lantaran masih diselimuti rasa ngeri.
“Aku mencium busuk kemenyan ,” balas berbisik Munding Sura.
“Yang begini merupakan gejala ilmu hitam…”
“Tidak mungkin Kanjeng Sri Ageng mempunyai ilmu hitam. Kita semua tahu betul hal itu!” kata Cagak Gunt0r0 pula.
“Jangan-jangan ada sese0rang telah berbuat jahat terhadapnya. Kita harus segera menciptakan ia sadar…” Munding Sura masuk ke dalam kamar.
Namun dikala itu perlahan-lahan Sri Ageng Musalamat membuka kedua matanya. Dalam keadaan sadar ia segera ingat akan apa yang barusan dialaminya. Namun tidak bisa memikir panjang lantaran dilihatnya ada dua 0rang anak buahnya berada dalam kamar.
“Cagak Gunt0r0 , Munding Sura! Ada apa kalian berada dalam kamarku?!” tanya Ageng Musalamat.
“Maafkan kami berdua Kanjeng Sri Ageng. Kami tidak bermaksud lancang. Namun tadi Cagak Gunt0r0 mendengar bunyi gaduh dalam kamar….”
“Betul Kanjeng. Saya mendengar bunyi menyerupai s0s0k tubuh terbanting ke dinding…. Kami mengetuk pintu kamar. Juga memanggil-manggil. Tapi tak ada jawaban. Karena khawatir terjadi apa-apa dengan Kanjeng kami kemudian memaksa masuk… ,” Begitu Cagak Gunt0r0 menerangkan.
“Waktu masuk kamar ini terselubung busuk kemenyan…” menambahkan Munding Sura.
“Begitu masuk kami lihat Kanjeng tersandar ke dinding. Mata terpejam entah tidur entah pingsan. Syukur kini Kanjeng sudah bangun. M0h0n maafmu kanjeng. Kami minta diri….”
“Tunggu…” kata Ageng Musalamat.
“Selain bunyi 0rang terbanting ke dinding , apa kalian juga mendengar suara-suara lain…?”
“Kami mendengar Kanjeng bicara dengan sese0rang. Tapi waktu kami masuk tidak ada siapa-siapa di kamar ini selain Kanjeng…. “ Menjawab Cagak Gunt0r0.
“Hemmm…. Berarti mereka tidak mendengar bunyi auman harimau putih itu. Juga tidak mendengar bunyi seruling dan bunyi Datuk Ra0 Basaluang Ameh ,” membatin Ageng Musalamat. Munding Sura melirik pada kitab yang ada di tangan kiri Ageng Musalamat dan masih dalam keadaan terbuka.
Melihat 0rang melirik gres Ageng Musalamat sadar. Kitab Wasiat Dewa cepat ditutupnya.
Lalu ia bertanya. “Apa kalian masih mencium busuk kemenyan di kamar ini?” Dua anak murid menggeleng.
“Kalian b0leh pergi. Tak usah khawatir. Tak ada apa-apa di sini. Aku berterima kasih kalian punya perhatian atas keselamatanku…. Sebelum pergi mungkin ada hal lain yang hendak kalian katakan padaku?” Cagak Gunt0r0 sesaat memandang pada Munding Sura.
Pemuda itu memandang maksudnya untuk memberi isyarat pada lelaki itu apakah akan diceritakan saja bagaimana tadi mereka menyaksikan wajah sang Kanjeng berubah menyerupai muka seek0r harimau putih. Namun Munding Sura dikala itu cepat-cepat membungkuk hingga Cagak Gunt0r0 terpaksa mengikuti meninggalkan kamar itu.
Sampai di geladak Munding Sura memegang lengan Cagak Gunt0r0 kemudian bertanya berbisik.
“Waktu di dalam kamar tadi kau berada lebih bersahabat ke tempat tidur Kanjeng Sri Ageng. Apa kau sempat memperhatikan kitab daun l0ntar yang dipegang Kanjeng?”
“Sempat , tapi saya tak tahu buku apa. Tulisannya kecil-kecil. Lagi pula ditulis menggunakan huruf Jawa kun0. Aku tidak begitu pandai membaca g0resan pena Jawa kun0… Kenapa kau menanyakan kitab itu?” “Aku khawatir kitab itu ada hubungannya dengan keadaan Kanjeng tadi…”
“Hem , bagaimana kau bisa mengira begitu abang Munding Sura?” tanya Cagak Gunt0r0.
Munding Sura melamun kemudian mengangkat bahu.
“Kurasa Kanjeng tidak suka kita membicarakan apa yang tadi kita saksikan. Sebaiknya kita lupakan saja insiden itu….”
“Kurasa begitu…” kata Cagak Gunt0r0. Lalu ia menepuk pundak Munding Sura dan berbisik.
“Lihat , Kanjeng Sri Ageng ada di ujung buritan sana…. Memang ada baiknya ia berada di maritim terbuka begini beranginangin. Dalam kamar terus-terusan udaranya kurang sehat. Panas dan pengap.”
*
* *
Sambil berpegangan pada pagar kayu k0k0h di buritan kapal sebelah kiri Ageng Musalamat meraba dadanya.
Di balik pakaiannya tersimpan Kitab Putih Wasiat Dewa. Setelah apa yang tadi terjadi di dalam kamar , kitab itu tak akan ditinggalkannya ke mana pun ia pergi.
Memandang ke arah lautan luas yang menghitam dalam kegelapan malam Ageng Musalamat merenungi apa yang telah ,dialaminya.
“Dua puluh tahun…. Menurut 0rang renta yang muncul secara aneh itu saya harus menyerahkan Kitab Wasiat Dewa pada se0rang yang paling saya percayai. Padahal Eyang Ism0y0 jelas-jelas menyampaikan bila saya mempelajari keseluruhan isi kitab ini saya akan menjadi penguasa dunia persilatan. Hemmm… mengapa 0rang renta itu berdusta? Kalau saja sebelumnya ia menceritakan terus terang padaku bahwa kitab ini tidak berj0d0h rasanya bebanku tidak akan seberat ini. Atau mungkin ia sendiri tidak mengetahui kalau dirinya , dan juga diriku hanya ketitipan saja sebelum Kitab Wasiat Dewa hingga di tangan 0rang yang benar-benar berj0d0h? Lalu siapa pula gerangan 0rang yang beruntung itu?” Ageng Musalamat menarik napas dalam berulang kali.
“Waktu kutanya apakah ada hal lain yang hendak disampaikan , Cagak Gunt0r0 kulihat menyerupai hendak menyampaikan sesuatu. Tapi Munding Sura cepat-cepat keluar hingga perjaka itu tak sempat bicara. Atau mungkin Munding Sura tidak mau Cagak Gunt0r0 mengatakan. Mengatakan apa? Aku harus menyelidik.” Lama Sri Ageng Musalamat merenung dan berpikir-pikir di buritan kapal.
Dia gres beranjak dari situ ketika angin maritim terasa semakin kencang dan lembab. Ketika ia mend0r0ng pintu kamar dan masuk ke dalam , langkah Ageng Musalamat serta merta terhenti. Peti kayu berukir tempat disimpannya keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit dilihatnya tercampak di lantai. Ageng Musalamat cepat mengambil dan membuka tutupnya untuk memeriksa. Tujuh cahaya emas membersit menyilaukannya. Hatinya lega mendapatkan senjata mustika itu masih berada dalam peti.
“Peti ini sebelumnya berada di atas meja kecil sana. Bagaimana mungkin tahu-tahu berada di lantai? Pasti ada sese0rang yang c0ba mencurinya…“ Lalu Ageng Musalamat ingat akan keterangan Eyang Ism0y0.
Barang siapa bermaksud jahat dan mencuri keris sakti itu maka senjata itu akan berubah beratnya laksana segunung batu! Ageng Musalamat c0ba mereka-reka.
“Ada sese0rang menyelinap masuk. Mengambil peti berisi keris. Ketika c0ba membawanya keluar kamar tiba-tiba keris menjadi sangat berat hingga ia tidak bisa mengangkat dan lepas dari pegangannya. Pengkhianat terkutuk. Pencuri laknat. Ada pengkhianat dan pencuri di atas kapal ini. Celakanya ia ialah salah se0rang dari murid-muridku!” Dengan mengepalkan tangan Ageng Musalamat tinggalkan buritan.
Cagak Gunt0r0 ditemuinya lebih dulu. Pemuda ini terduduk di salah satu sudut kapal. Kaki kanannya tampak infeksi dan luka. Se0rang kawannya sibuk menguruti kaki yang cidera itu.
“Hemm…. Dia rupanya ,” kata Ageng Musalamat dalam hati.
Dia melangkah mendekati 0rang yang mengurut dan menepuk bahunya.
“Pergilah… Biar saya yang meneruskan mengurut kakinya.” “Kanjeng…. Tak usah. Biarkan saja dia…” kata Cagak Gunt0r0.
Namun pandangan mata pimpinan mereka menciptakan perjaka yang tadi mengurut segera berdiri dan tinggalkan tempat itu. Setelah mereka berada berdua saja Ageng Musalamat berj0ngk0k di depan Cagak Gunt0r0. Sambii memegang kaki kanan perjaka itu ia berkata.
“Hemmm… Cidera kakimu cukup parah. Apa yang terjadi Cagak Gunt0r0?”
“Kakiku kejatuhan salah satu besi penahan tiang layar kapal…“
“Pasti kau tidak berhati-hati. Malu rasanya perjaka sehebatmu bisa dihajar lawan tidak bernapas menyerupai besi itu!” Ageng Musalamat menyeringai.
Lalu tangan kirinya bergerak memegang kaki kanan muridnya itu. Pegangan sang Kanjeng bukan pegangan sembarangan lantaran disertai tenaga yang besar lengan berkuasa hingga Cagak Gunt0r0 teraduh-aduh kesakitan.
“Dengar , saya bisa meremukkan tulang kakimu mulai dari ujung jari hingga ke mata kaki…” kata Ageng Musalamat dengan bunyi tajam dan pandangan mata tak berkesip.
“Kanjeng…. Apa maksudmu?” tanya Cagak Gunt0r0 sambil menahan sakit.
“Katakan apa yang bekerjsama terjadi! Kakimu itu cidera bukan lantaran kejatuhan besi kapal!”
“Aku tidak berdusta Kanjeng. Perlu apa….”
“Waktu saya berada di buritan kau menyelinap masuk ke dalam kamarku. Berusaha mencuri peti kayu berisi keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit! Benda sakti itu tiba-tiba menjadi berat dan kau tidak bisa memegangnya. Peti kayu terlepas dari tanganmu , jatuh menimpa kaki kananmu hingga hampir remuk!” Cagak Gunt0r0 tampak berubah mukanya.
“Kanjeng… saya tak pernah berdusta padamu…. Mengingat budimu saya mengh0rmati lebih dari mengh0rmati 0rang renta sendiri…“
“Kedua 0rang tuamu sudah mati! Tak perlu disebut-sebut. Aku tidak percaya pada keteranganmu. Ingat , kau dulu kupungut dari pasar sewaktu jadi pengemis kecil , kurus kering dan k0rengan. Hebat kalau kau menyebut segala budi. Kau memang telah membuktikan. Dengan mencuri keris itu tapi gagal lantaran kau tidak tahu bagaimana saktinya senjata itu!" Wajah Cagak Gunt0r0 tampak pucat sekali. Dia menggelenggelengkan kepalanya berulang kali.
“Menurut pesan Eyang Ism0y0 insan culas sepertimu layak dibentuk mampus. Tapi saya masih mau memberi pengampunan. Kedudukanmu sebagai murid saya cabut. Derajatmu kini sama dengan pembantu yang harus melayani semua angg0ta r0mb0ngan! Kalau kelak nanti tidak terbukti bahwa memang bukan kau yang hendak mencuri senjata mustika itu maka saya akan memikirkan untuk memulihkan kedudukanmu kembali!” Kanjeng Sri Ageng Musalamat bantingkan kaki kanan Cagak Gunt0r0 ke lantai kemudian berdiri dan tinggalkan tempat itu.
“Kanjeng!” panggil Cagak Gunt0r0.
“Kau keliru Kanjeng. Aku bersumpah bahwa saya tidak….” Ageng Musalamat tidak perduli.
Dia melangkah terus dan kesannya lenyap di.balik tumpukan peti-peti besar. Di tangga yang menghubungkan penggalan bawah dengan geladak kapal kayu besar itu Ageng Musalamat berpapasan dengan Munding Sura. Anak muridnya ini segera ditariknya ke salah satu sudut di bawah tangga.
“Aku perlu klarifikasi darimu Munding Surya. Kuharap kau menjawab dengan jujur. Jangan berani berdusta!” Walaupun heran dengan tindakan pemimpinnya itu namun Munding Sura menjawab juga. “Kanjeng Sri Ageng , apa yang hendak kau tanyakan?”
“Sewaktu kau dan Cagak Gunt0r0 berada di kamar , saya menanyakan pada perjaka itu apa ada hal lain yang hendak dikatakannya. Dia menyerupai hendak menyampaikan sesuatu padaku. Namun kau se0lah memberi isyarat supaya ia tidak bicara. Lalu kalian berdua cepat-cepat meninggalkan kamarku. Aku yakin ada sesuatu yang kalian tidak mau mengatakan!”
“Kanjeng….”
“Aku menunggu Munding Sura. Katakan cepat!”
“Waktu kami masuk ke dalam kamar , kami lihat Kanjeng Sri Ageng duduk di atas ranjang kayu , tersandar ke dinding kamar. Kami tidak tahu apakah dikala itu Kanjeng tengah tidur atau pingsan. Cuma kami melihat wajah Kanjeng tidak menyerupai biasanya….”
“Maksudmu?” tanya Ageng Musalamat.
“Muka Kanjeng tidak menyerupai muka manusia….”
“Munding Sura!” hardik Ageng Musalamat.
“Jangan kau bicara ngelantur…“
“Saya tidak ngelantur. Juga tidak dusta Kanjeng. Saat itu kami lihat muka Kanjeng telah menjelma muka seek0r harimau putih…“ Kalau ada petir menyambar di depannya mungkin tidak demikian terkejutnya Ageng Musalamat.
“Mukaku menjelma muka seek0r harimau putih katamu?!” Dalam keadaan tercekat Munding Sura anggukkan kepala.
Ageng Musalamat tegak tak bergerak. Ingatannya kembali pada apa yang terjadi di kamarnya. Muncul s0s0k Datuk Ra0 dan seek0r harimau putih. Lalu harimau putih itu mendekatinya dan membuka lisan lebar-lebar. Sewaktu hewan ini memasukkan kepalanya ke dalam mulutnya , ia jatuh pingsan.
“0rang ini tidak berdusta ,” membatin Ageng Musalamat. Lalu ia ingat pada ucapan Datuk Ra0.
“Kau lebih beruntung dari 0rang-0rang yang pernah ketitipan kitab sakti bertuah itu sebelumnya… Kau akan kami berikan satu jurus ilmu silat Harimau Dewa. Mudah-mudahan bisa kau pergunakan untuk menjaga diri…“
“Berarti….” Ageng Musalamat usap-usap dagunya ,
“Datuk Ra0 memang telah memberikan satu ilmu padaku. Ilmu silat Harimau Dewa…”
– == 000 == –
SEMBILAN
KEDATANGAN r0mb0ngan Kanjeng Sri Ageng Musalamat disambut utusan khusus Raja Ti0ngk0k di pelabuhan Se0ch0w. Bersama utusan tersebut ikut pula beberapa 0rang pejabat penting di K0taraja. Raja Ti0ngk0k ternyata bersikap pandai bijaksana. Karena tahu r0mb0ngan tamu yang tiba ialah 0rang-0rang Muslim maka ia sengaja mengirimkan 0rang-0rang seagama untuk menyambut kedatangan Ageng Musalamat dan r0mb0ngan.
Se0rang penterjemah yang juga disediakan 0leh Raja ikut hadir di tempat itu dan kelak akan mendampingi Ageng Musalamat kemana ia pergi. Di antara r0mb0ngan penjemput terdapat se0rang anak lelaki kurus berusia sembilan tahun. Setelah upacara penyambutan resmi selesai sesuai yang telah diatur , anak ini maju ke muka membawa sebuah pipa panjang khas Ti0ngk0k yang sudah diisi tembakau. Sese0rang aben tembakau itu hingga menebar asap yang harum. Si anak kemudian menyerahkan pipa pada Ageng Musalamat.
“Ah , rupanya para sahabat di sini tahu kalau saya dulunya ialah per0k0k berat. Sejak beberapa tahun belakangan ini saya berusaha mengurangi mer0k0k lantaran kurang baik untuk kesehatan. Sekarang melihat pipa sebagus ini serta tembakau seharum ini saya berpikir-pikir apakah bisa menahan selera mer0k0k?” Kanjeng Sri Ageng Musalamat tertawa lebar.
Diusapnya kepala anak lelaki itu berulang kali kemudian diambilnya pipa panjang yang diserahkan. Langsung saja ia menyed0t pipa dalam-dalam dan mengepulkan asapnya tinggitinggi ke udara.
“Terima kasih… terima kasih…” kata Ageng Musalamat berulang kali seraya membungkuk.
Dia berpaling pada anak lelaki yang barusan menyerahkan pipa padanya dan melihat sesuatu yang sudah usang diharapkannya.
“Anak ini walau kurus tapi mempunyai bentuk tubuh dan raut tulang yang jarang dimiliki anak lain. Sepasang b0la matanya jernih dan pandangannya mencerminkan satu kekuatan yang tidak gampang g0yah. Dalam sejuta belum tentu bisa ditemukan yang menyerupai dia….” Ageng Musalamat melangkah mendekati si anak kemudian bertanya.
“Anak gagah , siapa namamu?” Setelah diberi tahu 0leh Bu Tjeng si penterjemah apa yang ditanyakan 0rang si anak dengan perilaku tegak dan bunyi lantang menjawab.
“Nama saya Ki H0k Kui. Saya anak petani miskin di desa Chungwei!”
“Anak hebat!” memuji Ageng Musalamat.
“0rang tuamu niscaya gembira punya anak sepertimu…”
Setelah Bu Tjeng memberitahu si anak tampak tersenyum kemudian membungkuk.
“0rang tuaku telah tiada. Mereka meninggal enam tahun kemudian waktu terjadi air bah besar di pantai timur!”
“Ah…”
Ageng Musalamat manggut-manggut terharu. Namun dibalik keharuannya ia melihat sesuatu pada diri Ki H0k Kui. Anak ini tersenyum ketika menjawab pertanyaannya padahal ia menyampaikan sesuatu yang sangat menyedihkan dalam kehidupannya.
“Anak ini bisa menekan perasaannya. Menjawab kesedihan dengan senyum menghias bibir….”
Ageng Musalamat kembali mengusap kepala Ki H0k Kui.
“Aku menyesal mendengar kau se0rang anak yatim piatu. Nasib kita sama. Aku juga se0rang yatim piatu. Tapi kau tak usah takut. Kesusahan hidup menciptakan sese0rang menjadi tabah dan besar lengan berkuasa sekuat kerikil karang yang saya lihat banyak bertebaran di pantai menjelang pelabuhan Se0ch0w!”
Ki H0k Kui kembali tersenyum.
“Saya memang sudah pernah mendengar Kan-jieng mengucapkan kata-kata itu….” Anak ini menyebut kata Kanjeng dengan Kan-jieng.
Tentu saja Ageng Musalamat jadi terkejut. 0rang-0rang yang ada di sekitar situ juga terheran-heran mendengar ucapan anak itu.
“Ki H0k Kui , kau bilang barusan pernah mendengar saya mengucapkan kata-kata itu. Kapan… di mana? Padahal kita gres saja saling bertemu dikala ini.”
“Dalam mimpi ,” jawab Ki H0k Kui pula.
“Satu tahun kemudian saya pernah bermimpi bertemu dengan sese0rang dan bicara menyerupai itu. Begitu melihat Kan-jieng dikala ini saya segera ingat bahwa Kan-jienglah 0rang yang saya lihat dalam mimpi itu dan bicara pada saya….”
Sesaat Ageng Musalamat jadi terkesiap mendengar keterangan si anak. Begitu juga angg0ta r0mb0ngan yang lain.
“Ternyata anak ini punya daya ingat yang kuat….” kata Ageng Musalamat dalam hati.
“Aku yang gres berusia empat puluh tahunan terkadang sering-sering lupa pada hal-hal yang belum usang terjadi. Hemm…. “ Ageng Musalamat tertawa lebar.
“Apakah kau punya saudara Ki H0k Kui? Kau tinggal di k0ta ini?”
Ki H0k Kui menggeleng.
“Saya tidak punya saudara tidak punya sanak. Saya tinggal di panti asuhan bawah umur terlantar dipimpin se0rang guru besar She P0uw berjulukan G0an Keng. Dia sudah tiga kali naik haji ke tanah suci. Apakah Kan-jieng sudah pernah ke Mekkah?”
Ageng Musalamat tertawa gelak-gelak.
“Gurumu itu niscaya ulama hebat! Aku sendiri belum pernah ke tanah suci. Mungkin saya akan pergi nanti pribadi dari daratan Ti0ngk0k ini….” Ageng Musalamat tepuk-tepuk pundak Ki H0k Kui.
“Anak gagah , apakah kau akan menyertai r0mb0ngan kami ke K0taraja?” Si anak mengangguk. “Kalau begitu kita berangkat sekarang….” “Kan-jieng dan r0mb0ngan silahkan berangkat duluan. Nanti saya menyusul….” “Eh , memangnya kau hendak kemana H0k Kui?” tanya Ageng Musalamat pula.
Si anak menunjuk ke langit.
“Matahari sudah tinggi Kan-jieng…. Saya belum sembahyang Zuhur.” Ageng Musalamat terkejut.
“Astagfirullah , sem0ga Tuhan mengampuni saya dan semua 0rang yang ada di sini. Kami pun belum sempat sembahyang walau di kapal sudah melaksanakan s0lat qasar…. H0k Kui , apakah ada mesjid di sekitar sini?”
“Tidak ada Kan-jieng. Tapi tak jauh dari sini ada satu bangunan besar yang ditinggalkan pemiliknya. Keadaannya bersih. Airnya banyak untuk wudhu….”
“Kalau begitu antarkan kami ke sana. Kita sembahyang berjamaah di tempat yang kau katakan itu.” Ki H0k Kui membungkuk. Lalu tanpa sungkan-sungkan dipegangnya lengan Ageng Musalamat , membawanya ke sebuah bangunan besar yang terletak tak jauh dari sana.
*
* *
Walaupun r0mb0ngan mengendarai beberapa kereta dan ger0bak serta ada pula yang menunggangi kuda , namuh cuaca yang buruk menciptakan mereka tidak bisa bergerak cepat. Satu hari menjelang hingga di K0taraja , menjelang tengah malam r0mb0ngan berkemah di bersahabat sebuah telaga kecil. Ageng Musalamat dan anak buahnya bekerjsama ingin terus berjalan namun kuda-kuda penarik kereta dan ger0bak serta kuda-kuda tunggangan perlu beristirahat sehabis satu hari suntuk berjalan terus menerus.
Di dalam kamarnya sehabis selesai metakukan sembahyang sunat dan berkemas-kemas untuk merebahkan diri di atas sehelai tikar permadani mendadak pendengaran Ageng Musalamat mendengar bunyi derap kaki kuda banyak sekali mengitari tempat perkemahan.
Tak usang kemudian terdengar bunyi bentakan-bentakan keras. Ageng Musalamat yang satu kemah dengan penterjemah Bu Tjeng segera keluar dari dalam kemah. Ketika hingga di luar dilihatnya puluhan anak muridnya serta r0mb0ngan 0rang-0rang yang menjemput dari K0taraja tegak mengurung tujuh 0rang penunggang kuda. Selain mengenakan pakaian serba hitam , tujuh penunggang kuda ini juga menggunakan kain hitam epil0g wajah masing-masing. Di belakang punggung mereka kelihatan tersembul ujung gagang pedang.
Mereka mempunyai rambut hitam lebat. yang dikuncir di atas kepala. Anehnya rambut di sebelah atas ikatan kuncir berwarna kuning keemasan.
“Kami tiba mencari kepala r0mb0ngan tamu yang tiba dari seberang!”
Penunggang kuda di sebelah kiri depan berseru. Tidak menyerupai enam temannya , ia satu-satunya yang mengenakan mantel merah. Agaknya dialah yang jadi pimpinan r0mb0ngan tak dikenal itu. Bu Tjeng segera memberitahu Ageng Musalamat apa yang diucapkan 0rang itu.
“Ini aneh , bagaimana ia tahu diriku dan apa perlunya mencariku?” bisik Ageng Musalamat.
“Sebentar lagi pers0alannya akan jelas. Lu Li0ng 0ng , pimpinan utusan Raja tengah melangkah ke hadapan penunggang kuda bermantel merah itu ,” kata Bu Tjeng berikan jawaban.
Lu Li0ng 0ng , se0rang lelaki bertubuh kurus tinggi , berpakaian merah dan mempunyai kedudukan cukup tinggi di K0taraja serta mempunyai kepandaian silat melangkah ke depan kuda tunggangan si mantel merah.
“Aku Lu Li0ng 0ng pimpinan r0mb0ngan penjemput tamu dari tanah Jawa. Tamu Raja dihentikan diganggu. Jika kau ada keperluan harap beritahu padaku. Tapi lebih dulu harap beritahu siapa kalian adanya! Satu hal lagi sebagai tamu tidak diundang harap kau menggunakan s0pan santun peradatan. Turun dari kudamu bila kau bicara denganku!” 0rang bermantel terdengar mendengus.
“Lu Li0ng 0ng!” 0rang ini keluarkan bunyi lantang.
“Kami tahu kau pejabat tinggi salah satu 0rang kepercayaan Raja! Karena kami mengh0rmatimu maka kami tidak berniat untuk cari urusan dengan kalian 0rang-0rang Kerajaan!”
“Aku minta kau turun dari kuda kalau bicara denganku! Enam 0rang anak buahmu lekas kau perintahkan untuk melaksanakan hal yang sama!” Kembali 0rang bermantel mendengus di balik kain hitam epil0g mukanya.
Dia memandang berkeliling pada enam 0rang anak buahnya. Lalu masih duduk di atas kuda 0rang ini kibaskan mantel merahnya ke kiri. Angin deras menderu ke arah Lu Li0ng 0ng membuatnya agak semp0y0ngan. Cepat 0rang ini kerahkan tenaga dan atur kuda-kuda kedua kakinya hingga ia tidak hingga jatuh 0leh sambaran angin mantel yang hebat itu! Sambil tertawa pendek lelaki bermantel merah mel0mpat dari punggung kudanya. Dia tidak pribadi mel0mpat turun tapi melayang dulu ke atas kemudian ketika kedua kakinya yang berkasut menginjak tanah tidak sedikit suarapun terdengar.
Rupanya 0rang ini sengaja memperlihatkan kehebatan ilmu meringankan tubuhnya kepada semua 0rang yang ada di situ , terutama kepada Lu Li0ng 0ng yang diketahuinya mempunyai kepandaian tinggi.
“Hemm…. 0rang ini sengaja memamerkan ginkangnya ,” membatin Lu Li0ng 0ng. (ginkang = ilmu meringankan tubuh)
Enam penunggang kuda lainnya segera pula mel0mpat turun dari tunggangan masing-masing. Begitu berdiri berhadap-hadapan Lu Li0ng 0ng segera berkata.
“Sekarang katakan siapa kalian ini dan apa maksud kedatangan kalian ke sini! Muncul dengan menutupi wajah dengan kain bukan tindakan 0rang-0rang bermaksud baik!”
“Menurut aturan kami tidak layak memberitahu siapa kami adanya. Tapi mengingat kau ialah pejabat Kerajaan , kami sedikit berlaku murah. Kalau kami sudah memberitahu harap kau jangan banyak cingc0ng lagi!”
“Katakan saja pribadi siapa kalian!” kata Lu Li0ng 0.ng menahan jengkel.
“Kami utusan L0 Sam T0jin , Ketua Perkumpulan Kuncir Emas. Kami tiba untuk menjemput pimpinan 0rang-0rang yang tiba dari Jawa…” (T0jin = Paderi Kun Lun Pay , satu dari beberapa partai besar di daratan Ti0ngk0k)
Terkejutlah semua 0rang-0rang Kerajaan yang ada di tempat itu. Ageng Musalamat sendiri walau tetap berlaku damai namun wajahnya terang berubah. Dia segera minta keterangan pada penterjemah Bu Tjeng.
“0rang-0rang itu bermaksud menjemputmu… Itu istilah halusnya. Sebenarnya mereka hendak mengambilmu secara paksa….”
“Mau menculikku?!”
– == 000 == –
SEPULUH
SI PENERJEMAH , Bu Tjeng , mengangguk membenarkan.
“Tapi mengapa? Siapa mereka sebenarnya?” tanya Ageng Musalamat.
“Selama beberapa tahun L0 Sam T0jin dikenal sebagai salah satu pengurus tinggi Partai Kun Lun. Diantara ia dan para pengurus partai terjadi satu perselisihan besar. Paderi itu tetapkan meninggalkan Kun Lun. Beberapa 0rang yang bersahabat dengan ia ikut serta. Mereka membangun satu perkampungan di lembah Pek-hun dan mendirikan satu perkumpulan yang mereka beri nama Perkumpulan Kuncir Emas. Dari satu perkampungan kecil , lembah Pek-hun menjadi satu daerah pemukiman besar. Jumlah para pengikut L0 Sam T0jin semakin banyak. Ada selentingan bahwa mereka akan membentuk sebuah partai sebagai sempalan dari Kun Lun Pay. Setahu kami Perkumpulan Kuncir Emas bukan perkumpulan baik-baik. Mereka sering melaksanakan peramp0kan dan pembunuhan walau yang mereka ramp0k dan bunuh ialah 0rang-0rang kaya pelit atau pejabat-pejabat yang diketahui melaksanakan k0rupsi.”
Lu Li0ng 0ng rangkapkan dua tangan di depan dada. Lalu bertanya.
“Apakah L0 Sam T0jin memberitahu padamu apa maksudnya menjemput tamu kami yang tiba dari Jawa itu?”
Lelaki bermantel merah kembali tertawa pendek.
“Kami bukan anak buah yang tidak tahu diri! Berani bertanya pada pimpinan hal yang tidak layak kami ketahui! Kau sebagai 0rang luar apalagi! Kami tiba untuk menjemput 0rang itu. Mana dia! Lekas suruh ia keluar!”
“Selama 0rang itu berada bersama kami , sebagai tamu Raja maka tidak ada satu 0rang lainpun b0leh memintanya! Aku sudah tahu apa kata-kata menjemput yang kau sebutkan! Kalian bekerjsama hendak merampas 0rang itu dari tangan kami! Mau menculik tamu Raja!”
“Kalau kau sudah tahu mengapa tidak segera menyerahkan 0rang itu pada kami?!”
“Aku perintahkan kau dan anak buahmu segera meninggalkan tempat ini!” hardik Lu Li0ng 0ng.
“Lu Li0ng 0ng , tadi kami sudah bilang kami mengambil perilaku h0rmat terhadap kalian 0rang-0rang Kerajaan dan tidak ingin mencari urusan. Tapi bila kau berani menampik permintaan L0 Sam T0jin maka itu ialah satu penghinaan besar yang harus kau bayar dengan mahal!” Lu Li0ng 0ng turunkan kedua tangannya yang semenjak tadi dirangkapkan di depan dada.
“Kami memang sudah usang mendengar dan mengawasi tindak tanduk kalian 0rang-0rang Perkumpulan Kuncir Emas! Kalian tidak bisa dikatakan sebagai 0rang baik-baik. Tinggalkan tempat ini. Kembali pada pimpinan kalian. Katakan pada L0 Sam T0jin. Jika ia tidak segera membubarkan perkumpulannya maka pasukan Kerajaan akan tiba menyerbu. L0 Sam T0jin akan ditangkap dan diadili. Aku yakin hanya ada satu putusan pengadilan baginya. Yaitu aturan pancung batang leher!”
0rang bermantel merah tertawa gelak-gelak. Enam temannya ikut-ikutan tertawa.
“Lu Li0ng 0ng! Kami tahu kau se0rang pembesar Kerajaan. Tapi mulutmu lebih besar dari kedudukanmu! Kalau kau menuduh kami ini 0rang-0rang jahat mengapa tidak segera turun tangan menangkap kami?!”
Ditantang menyerupai itu walau ia jadi murka tapi Lu Li0ng 0ng tetap tenang.
“Saatnya akan tiba! Pasukan Kerajaan akan menyerbu lembah Pek-hun menumpas habis kalian semual Kalian masih untung dikala ini kami tengah membawa r0mb0ngan tamu dari seberang laut. Kaprik0rnus sebaiknya pergunakan kesempatan bagus ini untuk cepat-cepat angkat kaki!”
0rang bermantel tertawa gelak-gelak. Lalu ia berpaling pada enam anak buahnya dan berkata.
“Kawan-kawan , percuma bicara dengan insan satu ini! Bereskan dia!” Mendengar kata-kata pimpinan mereka enam 0rang berseragam hitam mel0mpat ke depan.
Mereka menebar demikian rupa hingga Lu Li0ng 0ng terkurung di tengah-tengah. Melihat insiden ini Ageng Musalamat cepat tinggalkan kemah. Namun langkahnya tertahan 0leh pegangan Ki H0k Kui. Anak ini menyampaikan sesuatu cepat sekali. Ageng Musalamat berpaling pada Bu Tjeng. 0rang ini segera memberitahu.
“H0k Kui mengkhawatirkan keselamatanmu. Dia ingin kau masuk kembali ke dalam kemah lantaran 0rang itu tiba hendak menculikmu.”
Ageng Musalamat tersenyum.
“Anak baik! Kau tak usah mengkhawatirkan keselamatanku… Kalau ada 0rang hendak berbuat jahat terhadap r0mb0ngan , walau saya dan teman-teman ialah r0mb0ngan tamu tapi kami tak bisa lepas tangan begitu saja.”
“Kalau Kan-jieng berkata begitu mana saya berani melarang. Berarti kita akan men0nt0n satu perkelahian seru!” kata Ki H0k Kui pula kemudian cepat cepat mengikuti Ageng Musalamat.
Sementara itu di depan sana , dalam gelapnya malam enam 0rang angg0ta Perkumpulan Kuncir Emas telah menyerang Lu Li0ng 0ng. Mereka mempunyai kepandaian tidak rendah. Namun yang diserang ialah se0rang pejabat yang semenjak masa mudanya telah membekal diri dengan ilmu silat tangan k0s0ng. Enam penyerang terkejut ketika gebrakan pertama yang mereka buat tidak sanggup menyentuh tubuh lawan. Keenamnya cepat menyerbu kembali. Perkelahian berlangsung hebat. Saat itulah Ageng Musalamat berteriak pada beberapa 0rang anak buahnya. Lima anak murid Ageng Musalamat , yang mempunyai kepandaian tinggi segera mel0mpat masuk ke dalam kalangan perkelahian.
Melihat ini Lu Li0ng 0ng berteriak. Bu Tjeng cepat mendekati Ageng Musalamat dan berkata.
“Pimpinan kami meminta supaya kau menyuruh mundur lima 0rang itu!”
“Tapi ia diker0y0k secara curang!” jawab Ageng Musalamat.
“Tak usah khawatir , Lu Li0ng 0ng akan bisa menghadapi mereka. Lagipula beberapa 0rang angg0ta prajurit Kerajaan yang ada di antara kami akan membantu!”
Mendengar ucapan Bu Tjeng itu Ageng Musalamat terpaksa menyuruh murid-muridnya mundur. Bersamaan dengan mundurnya mereka , maka melesatlah selusin prajurit Kerajaan ke tengah kalangan. Kalau tadi 0rang-0rang Kuncir Emas yang menger0y0k maka kini keadaan jadi terbalik. Mereka yang jadi sasaran ker0y0kan. Perkelahian tangan k0s0ng berjalan seru. Walau diker0y0k begitu rupa 0rang-0rang Kuncir Emas bisa bertahan bahkan dengan membentuk satu barisan aneh mereka menciptakan temb0k pertahanan yang k0k0h dan sekaligus bisa melancarkan seranganserangan balasan. Prajurit-prajurit Kerajaan mulai terdesak. Dua 0rang tergelimpang muntah darah akhir dimakan tendangan lawan. Lu Li0ng 0ng kertakan rahang.
0taknya yang cerdik serta matanya yang tajam cepat melihat dimana letak kelemahan barisan pertahanan enam 0rang angg0ta Kuncir Emas itu. Dia melesat ke salah satu ujung barisan kemudian menggempur habis-habisan. Lawan pertama terkapar di tanah dengan leher patah akhir hantaman pinggiran tangannya yang sekeras besi. Sesaat kemudian k0rban kedua menyusul. 0rang ini mencelat mental dan jatuh tepat di depan lelaki bermantel. Dia menggeliat-geliat beberapa kali kemudian terhenyak tak berkutik lagi. Bagian tubuh di bawah perutnya pecah akhir tendangan kaki kanan Lu Li0ng 0ng. Prajurit-prajurit Kerajaan. pengawal r0mb0ngan yang menerima semangat berhasil pula mer0b0hkan dua 0rang angg0ta Perkumpulan Kuncir Emas.
Dua 0rang yang masih tinggal walau kini menghadapi lawan yang jauh lebih banyak namun mereka tidak menjadi takut. Malah sambil keluarkan bentakan-bentakan menyerupai kalap keduanya meny0ngs0ng serangan lawan. 0rang bermantel merah yang tak mau melihat k0rban jatuh lebih banyak dipihaknya berteriak keras dan mel0mpat ke tengah kalanggn perkelahian. Dia sempat mer0b0hkan dua prajurit yang menyerang anak buahnya hingga mencelat mental dan menemui kematian dengan kepala pecah!
“Tahan! Lu Li0ng 0ng saya lawanmu!” Lu Li0ng 0ng mel0mpat mundur kemudian menyeringai.
“K0rban sudah jatuh dipihakmu dan pihakku! Memang pantas kau harus bertanggung jawab! Atas nama Kerajaan lekas mengalah dan berlutut!”
“Pejabat jahanam! Makan dulu tanganku ini!” hardik si mantel merah. Tapi ia tidak mengirimkan j0t0san atau pukulan.
Tangan kanannya berkelebat mengibaskan mantel merahnya.
“Wussss!”
Mantel itu bertabur di udara. Sinar merah memancar dalam kegelapan malam. Angin deras menghantam ke arah Lu Li0ng 0ng.
“0rang itu mempunyai tenaga dalam tinggi ,” membatin Ageng Musalamat yang menyaksikan jalannya perkelahian dan melihat bagaimana tubuh Lu Li0ng 0ng terhuyung-huyung hampir jatuh.
Selagi ia berusaha mengimbangi diri , lawan tiba menyergap dan lancarkan satu j0t0san ke pelipis kirinya! Lu Li0ng 0ng pergunakan lengan kiri untuk menangkis.
“Bukkkk!”
Dua lengan saling beradu. Entah lantaran kedudukan kedua kaki Lu Li0ng 0ng yang belum k0k0h , entah lantaran keadaan tubuhnya yang miring atau entah lantaran lawan mempunyai tenaga yang lebih besar lengan berkuasa , beradunya dua lengan itu menciptakan pejabat Kerajaan itu terjatuh keras ke tanah. Sebelum ia sempat bangun lawan bermantel mendatangi dengan satu tendangan ke arah tulang rusuknya. Lu Li0ng 0ng berteriak keras. Hanya setengah jengkal lagi tendangan lawan akan menghancurkan tulang-tulang rusuknya Lu Li0ng 0ng , gulingkan tubuhnya.
Si mantel merah tersaruk ke depan namun cepat menguasai diri. Di tanah dilihatnya Lu Li0ng 0ng menciptakan gerakan aneh. Setelah beberapa kali berguling tubuh itu melesat ke atas. Di udara menyerupai melenting tubuh Lu Li0ng 0ng berkelebat ke arah si mantel merah. Inilah jurus silat berjulukan s0an h0ng liap in yang berarti “angin berpusing mengejar awan.”
0rang bermantel keluarkan seruan kaget ketika tahu-tahu kaki kanan lawan menderu ke arah lehernya. Ini benar-benar merupakan serangan mematikan. Dia cepat mel0mpat hindarkan diri. Meski serangan mematikan. Meski lehernya selamat tapi ia masih kurang cepat. Kaki Lu Li0ng 0ng mendarat di pundak kirinya. Tubuhnya mencelat hingga dua t0mbak kemudian tergelimpang di tanah. Ageng Musalamat mengira paling tidak tulang pundak si mantel merah itu telah remuk dan tak sanggup lagi berdiri. Namun apa yang terjadi mem buatnya belakang layar merasa kagum akan kekuatan si kuncir emas itu. Setelah keluarkan bunyi menggemb0r pendek 0rang ini mel0mpat bangkit. Lu Li0ng 0ng tampak agak tercekat ketika melihat lawannya tidak cidera malah masih sanggup berdiri dan melangkah ke arahnya.
“Lu Li0ng 0ng , kesempatanmu untuk berd0a pada Thian hanya sedikit. Nyawamu hanya tinggal beberapa kejapan saja!”
“Manusia s0mb0ng tapi t0l0l! L0 Sam T0jin sengaja mengutusmu kemari untuk mencari mati!” Si mantel merah kembaii keluarkan bunyi menggemb0r.
Lalu didahului bentakan keras tubuhnya berkelebat. Sinar merah mantelnya bertabur. Lu Li0ng 0ng merasa kedua matanya perih. Ada hawa aneh keluar dari bawah mantel. Sesaat ia tidak sanggup melihat apa-apa. Tapi telinganya masih bisa mendengar datangnya serangan. Dengan cepat ia mel0mpat ke kiri.
“Bukkkkk!”
Lu Li0ng 0ng mengeluh tinggi. Mantel merah menghantam punggungnya hingga tak ampun lagi pejabat Kerajaan ini terpental ke depan. Untung ia masih sempat menggapai r0da sebuah ger0bak hingga tak hingga jatuh ke tanah.
Namun gres saja ia membalikkan tubuh , satu tendangan menghajar dadanya. Lu Li0ng 0ng tersandar ke tubuh ger0bak. Dadanya se0lah remuk. Napasnya sesak. Sewaktu ia c0ba menarik napas dalam-dalam darah mengucur dari mulutnya. Beberapa 0rang anak buahnya berseru kaget melihat insiden ini. Saat itu si mantel merah sudah berkelebat lag!. Tangan kanannya bergerak menjambak rambut Lu Li0ng 0ng. Tangan kirinya menelikung leher si pejabat. Sekali dua tangan itu bergerak niscaya patahlah tulang leher si pejabat dan nyawanya tidak ket0l0ngan lagi!.
Ketika si mantel merah siap mematahkan leher Lu Li0ng 0ng , di udara malam , melewati kepala beberapa 0rang yang ada di tempat itu , melesat satu bayangan putih. Tahu-tahu si mantel merah mencicipi ada satu tangan memegang pundak kirinya. Mendadak s0ntak tangan kirinya menjadi sangat berat dan kaku tak bisa digerakkan iagi. Bersamaan dengan itu di belakangnya ada satu bunyi menegur dalam bahasa yang tidak dimengertinya.
“0rang gagah bermantel merah. Kau telah memenangkan perkelahian. Lawan dalam keadaan tidak berdaya. Tak ada untungnya bagimu membunuh tuan Lu Li0ng 0ng….” Si mantel merah berpaling. Pandangannya membentur wajah Ageng Musalamat yang memandang tersenyum padanya.
“Kau niscaya 0rang asing yang tiba dari negeri seberang itu…” Ageng Musalamat masih tersenyum.
Tidak menjawab lantaran memang ia tidak tahu apa yang dikatakan si mantel merah. Sebaliknya si mantel merah juga tidak mengerti apa yang tadi diucapkan Ageng Musalamat. Ki H0k Kui segera mengguncang lengan Bu Tjeng. Anak ini cepat berkata.
“Paman Bu Tjeng , kau harus lekas ke sana. Dua 0rang itu saling bicara dalam bahasa yang mereka tidak mengerti satu sama lain!”
“Kau benar!” kata Bu Tjeng kemudian mel0mpat dan berdiri di antara Lu Li0ng 0ng dan si mantel merah yang masih mencekal si pejabat tapi tak sanggup meneruskan maksudnya membunuh 0rang itu.
Ageng Musalamat kembali menyampaikan sesuatu pada si mantel merah. Bu Tjeng cepat menterjemahkan.
“0rang ini memintamu supaya melepaskan pejabat Lu Li0ng 0ng. Katanya tak ada gunanya membunuh. Dia juga menanyakan ada tujuan apa dari L0 Sam T0jin hingga kau diutus untuk menjemputnya?” Si mantel merah yang sedang beringas perlahan-lahan mengendur amarahnya.
Sepasang pandangan mata lembut Ageng Musalamat menciptakan ia merasa kecut. Cekalan dan jambakannya pada Lu Li0ng 0ng dilepaskan hingga pejabat ini jatuh ke tanah setengah sadar setengah pingsan. Beberapa 0rang prajurit segera mengg0t0ngnya ke tempat aman.
“0rang asing. Ketua Perkumpulan Kuncir Emas L0 Sam T0jin ingin bertemu denganmu. Itu sebabnya ia mengutusku untuk menjemputmu dan membawamu ke lembah Pek-hun tempat kediamannya.”
“Ah , Ketuamu tentu se0rang yang sangat baik hati. Belum pernah bertemu tapi telah sudi mengundangku tiba ke tempatnya. Kau kembalilah ke danau Pek-hun. Sampaikan salam h0rmatku pada Ketuamu L0 Sam T0jin. Katakan padanya bahwa dikala ini saya sedang menjadi tamu Kerajaan. Jika ada kesempatan dan Kerajaan memberi izin saya akan tiba sendiri menyambanginya di lembah itu…” Habis berkata begitu Ageng Musalamat membungkuk memberi h0rmat.
Ketika ia hendak membalikkan tubuh si mantel merah berseru.
“0rang asing! Tunggu!” Si mantel merah cepat melangkah ke hadapan Ageng Musalamat.
“Peraturan di Perkumpulan Kuncir Emas sangat keras. Jika se0rang ditugaskan untuk menjalankan sesuatu dan tidak berhasil maka hukumannya sangat berat. L0 Sam T0jin akan memisahkan kepalaku dari tubuhku!” Sepasang alis mata Ageng Musalamat berjingkat ketika ia mendengar terjemahan ucapan si mantel merah dari Bu Tjeng.
“Jika kau tidak sanggup mengikuti aturan Perkumpulan , mengapa tidak keluar saja?”
“Itu lebih celaka lagi! L0 Sam T0jin akan membunuhku dan seluruh keluargaku!”
“Ah… Rupanya susah juga hidup ini bagimu…” kata Ageng Musalamat sambil usap-usap dagunya.
“Sebelum pergi L0 Sam T0jin menyampaikan sesuatu padaku…”
“Hemmm , saya ingin mendengarkan….”
“Katanya , bila saya tidak bisa membawamu ke lembah Pek-hun maka sebagai gantinya saya harus mendapatkan keris emas yang hendak kau persembahkan pada Raja….” Ageng Musalamat terkejut. Bagaimana 0rang ini bisa tahu saya membawa keris itu , pikirnya.
“Rupanya kabar menebar secepat kilat dan tak ada rahasia yang bisa dipendam di negeri ini. Aku memang membawa sebilah keris emas. Jika Ketuamu berpesan begitu , saya tidak keberatan menyerahkannya padamu. Silahkan kau mengambilnya sendiri.”
Beberapa 0rang anak murid Ageng Musalamat maju ke hadapan pimpinan mereka , serentak menegur keras menyatakan ketidak senangan mereka. Lu Li0ng 0ng sendiri yang setengah sadar setengah pingsan mel0mpat bangun begitu diberitahu Bu Tjeng apa yang hendak dilakukan Ageng Musalamat.
“Tamu terh0rmat Kanjeng…! Jika kau serahkan keris itu padanya maka itu ialah satu penghinaan besar bagi Raja dan rakyat Ti0ngk0k!” kata Lu Li0ng 0ng setengah berteriak kemudian perlahan-lahan jatuh terduduk di tanah.
“Sahabatku pejabat Lu Li0ng 0ng , kau tak usah khawatir… Lihat saja apa yang akan terjadi ,” kata Ageng Musalamat sambil tersenyum dan kedipkan matanya.
Ageng Musalamat memberi isyarat supaya si mantel merah mengikutinya. Lalu ia melangkah menuju kemah. Hampir semua 0rang yang ada di tempat itu mengikuti. Sampai di dalam kemah yang diterangi lampu minyak Ageng Musalamat menunjuk pada sebuah peti kecil terbuat dari kayu yang terletak di atas tumpukan barang.
“Buka epil0g peti dan lihat isinya…” Ageng Musalamat berkata pada si mantel merah.
Bu Tjeng cepat menterjemahkan ucapan Ageng Musalamat. Si mantel merah tampak ragu. Agaknya ia khawatir 0rang akan menjebaknya. Namun sehabis melihat Ageng Musalamat memandang tersenyum dan anggukkan kepala padanya , 0rang ini segera dekati peti kayu jati berukir itu. Dia ulurkan tangan membuka epil0g peti. Begitu tutup terbuka tujuh larik sinar kuning membersit keluar. Si mantel merah lindungi matanya yang kesilauan dengan telapak tangan kiri.
“Apakah benda itu yang diminta 0leh Ketuamu paderi L0 Sam?” tanya Ageng Musalamat.
Si mantel merah mengangguk sehabis mendengar kata-kata Bu Tjeng. Ageng Musalamat kembali bicara. Bu Tjeng kembali menterjemah.
“Kau b0leh mengambil senjata itu , membawanya pergi dan menyerahkan pada L0 Sam T0jin.”
”Ah…. Terima kasih… terima kasih…” kata si mantel merah sambil membungkuk berulang kali.
Dia tidak menyangka kalau 0rang akan menyerahkan keris emas itu semudah itu padanya. Peti kayu cepat ditutupnya kemudian dengan pergunakan dua tangan ia mengangkat peti dari tumpukan barang. Baru satu langkah berjalan mendadak tampang si mantel merah yang tersembunyi di balik kain hitam mengerenyit. Tubuhnya terhuyung ke depan. Peti kecil berisi keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit itu menyerupai menjelma sebuah kerikil besar yang amat berat. Bagaimanapun ia mengerahkan tenaga tetap saja ia tak sanggup bertahan. Kedua bahunya membuyut ke bawah. Dan tangannya menjadi panjang. Tak sanggup bertahan dengan tenaga berangasan ia kerahkan tenaga dalam.
“Krakk! Kraaak!”
Si mantel merah menjerit keras. Sambungan tulang bahunya kiri kanan tanggal dari persendian. Peti kayu lepas dari pegangannya dan bukkk! Peti jatuh menimpa kakinya. Kasut yang melindungi kakinya berlubang besar. Tulang kakinya remuk dan kasut itu tampak merah tanda kakinya cidera berat dan berdarah. Si mantel merah menjerit berulang kali sambil berjingkat-jingkat kesakitan.
Ageng Musalamat membungkuk mengambii peti kayu berisi keris sakti. Lalu dengan tangan kirinya dipegangnya pundak si mantel merah.
“Katakan pada Ketuamu , kau telah berusaha tapi tak sanggup membawa keris daiam peti ini. Mungkin senjata ini tidak berj0d0h dengan dirinya. Kau b0leh pergi sekarang…“ Si mantel merah hendak berteriak marah.
Tapi ketika dilihatnya 0rang bicara dengan tersenyum padanya dan lagi-lagi menyerupai ada sinar aneh memancar dari sepasang mata Ageng Musalamat maka tanpa banyak bicara lagi ia segera keluar dari dalam kemah.
– == 000 == –
SEBELAS
MALAM pertama hingga ke K0taraja r0mb0ngan Ageng Musalamat dibawa ke istana Raja. Sebelum jamuan makan malam yang dihadiri 0leh para pejabat tinggi Kerajaan serta undangan khusus dimana di antaranya terdapat beberapa t0k0h Muslim , Ageng Musalamat menyerahkan keris sakti Kiyai Sabrang Tujuh Langit pada Raja. Sebagai jawaban , Raja memberikan seuntai tasbih yang terbuat dari kerikil gi0k berwarna hijau pekat. Tasbih itu bukan tasbih biasa lantaran bisa men0lak racun serta mempunyai kekuatan besar.
Perjamuan itu menjadi semarak lantaran dipertunjukkan aneka macam tarian dari beberapa pr0pinsi. Menjelang tengah malam , perjamuan gres selesai dan r0mb0ngan diantar ke tempat bermalam yakni sebuah bangunan besar di luar temb0k selatan istana. Selama dua hari r0mb0ngan diajak melihat-lihat beberapa tempat berpemandangan indah.
Pada malam ketiga sesuai yang telah diatur kedua belah pihak mengadakan pertmuan lagi di sebuah gedung yang biasanya digunakan untuk pertunjukan termasuk perunjukan kepandaian silat. Acara kali ini tidak dihadiri 0leh Raja , tapi beberapa pejabat penting termasuk Kepala Barisan Pengawal Raja dan Kepala Balatentara Ti0ngk0k Daerah Timur ikut hadir. Lu Li0ng 0ng sendiri tidak kelihatan lantaran kabarnya masih dalam perawatan akhir perkelahian dengan anak buah L0 Sam T0jin temp0 hari. Tuan rumah menyuguhkan beberapa pertunjukan silat tangan k0s0ng dan mempergunakan senjata diseling dengan pertunjukan akr0bat. Setelah itu giliran murid-murid Ageng Musalamat ganti memperlihatkan keb0lehan mereka. Bagian ketiga yang merupakan penggalan epil0g ialah pertandingan persahabatan antara pihak tuan rumah dan tamu dari tanah Jawa.
Agaknya dalam rangka persahabatan dan saling mengh0rmat , kedua belah pihak tidak berani menurunkan tangan keras. Walau begitu pertandingan itu berjalan cukup seru dan tidak henti-hentinya mendapatkan sambutan tepuk tangan dari semua yang hadir. Ketika pemandu pr0gram berkemas-kemas untuk menutup pr0gram malam itu tiba-tiba sebuah benda kuning melesat di udara kemudian menancap di atas panggung. Ketika semua 0rang memperhatikan benda itu ternyata ialah sebatang besi sepanjang stu t0mbak yang pada ujungnya terikat sebuah bendera besar berwarna kuning. Pada penggalan tengah bendera , dalam lingkaran merah terlihat gambar berupa kunciran rambut. “Bendera Perkumpulan Kuncir Emas!” seru semua 0rang yang mengenali. Tempat itupun menjadi gempar. Belum berhenti getaran besi bendera yang menancap di lantai panggungm belum reda bunyi gaduh 0rang-0rang yang gempar tiba-tiba terdengar bunyi tawa mengekeh panjang. Lampu-lampu besar di ruangan itu berkelapkelip.
“Braakk!”
L0teng di atas panggung ambruk. Saat itu juga ses0s0k bayangan melayang turun dan tegak tepat di samping kanan bendera kuning.
“L0 Sam T0jin!” beberapa 0rang yang duduk di barisan depan hingga terl0njak dari dingklik masing-masing saking kagetnya.
Ageng Musalamat sendiri yang ada di barisan dingklik terdepan mendadak saja merasa berdebar. Kedua matanya memandang tak berkesip pada 0rang yang di atas panggung. 0rang di atas panggung ternyata ialah se0rang kakek mengenakan jubah paderi berwarna serba hitam. Mukanya berwarna kuning muda. Sepasang alis , bibir , dan rambut yang dikuncir , dicat dengan warna kuning tua! S0s0k tubuhnya yang kurus tinggi menciptakan keseluruhan diri 0rang ini menjadi menyeramkan untuk dipandang. Apalagi sepasang matanya tak bisa membisu , selalu jelalatan. Di tangan kirinya ia memegang sebatang t0ngkat besi berwarna kuning.
“Apakah kalian sudah selesai mempertunjukkan keb0d0han masing-masing?!” Tiba-tiba L0 Sam T0jin , Ketua Perkumpulan Kuncir Emas keluarkan ucapan lantang kemudian tertawa mengekeh.
“Tak ada yang menjawab! Bagus! Itu berarti kalian menyadari keb0d0han masing-masing!” seru L0 Sam T0jin kemudian kembali tertawa bergelak-gelak.
Sese0rang berpakaian kebesaran militer yang duduk di barisan depan tegak dari kursinya kemudian membentak. 0rang ini ialah Suma Tiang Bun , Kepala Barisan Pengawal Istana.
“L0 Sam T0jin! Tindakanmu sungguh kurang asuh sekali! Lekas turun dari panggung dan tinggalkan tempat ini!”
“Ah…! Ternyata pejabat-pejabat di K0taraja ini tidak besar kepala semua!” L0 Sam T0jin menjawab.
“Apa maksudmu?!” sentak Suma Tiang Bun dengan mata mendelik.
“Beberapa hari kemudian , se0rang pejabat berjulukan Lu Li0ng 0ng sesumbar jual 0m0ngan besar mau menyerbu kediamanku di lembah Pek-Hun dan mau menangkap diriku! Mana ia 0rang she Lu itu? Aku tidak melihatnya di tempat ini! Aku sengaja tiba jauh-jauh kemari. Tapi ternyata tidak ditangkap. Malah se0rang jenderal berjulukan Suma Tiang Bun dengan perilaku h0rmat memintaku untuk berlalu. Ha… ha… ha…!”
Merah padam muka Kepala Barisan Pengawal Istana itu. Dia cepat memandang berkelliling dan siap berteriak pada para pengawal untuk memberi perintah agas segera menangkap L0 Sam T0jin tapi alangkah terkejutnya Jenderal ini ketika melihat tidak satupun angg0ta pengawal ada di ruangan itu. Malah seputar dinding ruangan kelihatan sekitar dua puluh 0rang berpakaian hitam , dengan wajah tertutup kain hitam , rembut kuning dikucir di atas kepala! Di atas panggung L0 Sam T0jin kembali tertawa mengekeh.
“Jenderal Suma! ,” teriak L0 Sam T0jin , “kau tak usah khawatir. Semua anak buahmu berada di gudang belakang. Semua tertidur pulas. Tapi tanpa napas alias mati semua! Ha… ha… ha…!”
Terkejutlah Suma Tiang Bun mendengar ucapan L0 Sam T0jin itu. Dia cepat berpaling pada se0rang lelaki gemuk pendek yang tegak di sampingnya. 0rang ini ialah Jenderal Tjia , Kepala Balatentara Daerah Timur.
“Jenderal , saya minta bantuanmu. Lekas himpun kekuatan. Lucuti semua angg0ta Kuncir Emas yang ada di tempat ini. Aku akan menangkap paderi sesat itu hidup-hidup!” Jenderal Tjia mengangguk.
“Hati-hati Jenderal Suma. L0 Sam T0jin p0puler sangat lihay! Aku akan naik ke panggung membantumu begitu selesai menyusun kekuatan!” Begitu Jenderal Tjia bergerak.
Suma Tiang Bun berkelebat ke atas panggung. L0 Sam T0jin segera menyambutnya dengan ejekan.
“Ha… ha…! Aku jadi sungkan berhadapan denganmu Jenderal Suma! Kau mengenakan pakain bagus dan mewah. Aku Cuma menggunakan pakaian butut terbuat dari kain blacu hitam! Heh , pakaianmu itu tentu mahala harganya! Gajimu tentu besar! Ha… ha… ha..!”
“T0jin sesat! Tutup mulutmu! Aku masih memberi kesempatan terakhir kepadamu. Tinggalkan tempat ini!”
“H0… h0! Terus terang saya kemari bukan mencarimu. Tapi mencari 0rang lain! Sebelum saya menemukan 0rang itu jangan harapa saya akan minggat dari sini!”
“Kau akan menyesal. Sebentar lagi pasukan besar akan mengurung tempat ini. Kau dan anak buahmu tak bakal bisa keluar hidup-hidup dari sini!”
“Heemm… begitu?!” dua mata L0 Sam T0jin berputar-putar dan jelalatan kian kemari.
“mari kita main-main sebentar. Sudah usang saya tidak mengukur hingga dimana tingkat kepandaian se0rang Jenderal sepertimu!”
“Kalau kau memang minta digebuk , saya tuan besarmu tidak akan sungkan-sungkan lagi!” kata Suma Tiang Bun kemudian mel0mpat ke depan melancarkan serangan.
“Ha… ha! Hanya jurus 0uw li0ng cut t0ng! Siapa takut?!” ejek L0 Sam T0jin. Lalu sapukan t0ngkat besinya ke depan. (0uw li0ng cut t0ng = Naga hitam keluar g0a).
Jenderal Suma Tiang Bun tentu saja terkejut ketika mendengar L0 Sam T0jin menyebut nama jurus serangan yang dilancarkannya. Sebenarnya ini bukan satu hal yang mengherankan. Jenderal Suma dulunya pernah berguru pada se0rang t0k0h silat gemblengan Kun Lun Pay. Sedang L0 Sam T0jin sendiri ialah salah se0rang sesepuh itu. Kaprik0rnus ia sudah tahu semua jurus-jurus ilmu silat Partai.
“Jenderal Suma! Kalau kepandaianmu cuma sebegitu sungguh mengherankan , Raja mau mengangkatmu jadi Kepala Barisan Pengawal Istana! Lihat baik-baik. Aku akan hadapi seranganmu dengan jurus yang sama!” Lalu Ketua Perkumpulan Kuncir Emas itu sisipkan t0ngkat besi kuningnya.
Ketika serangan lawan berupa j0t0san keras siap melabrak dadanya L0 Sam T0jin berteriak keras.
“Jurus 0uw li0ng cut t0ng sejati!” Baik Jenderal Suma yang di atas panggung maupun semua 0rang yang berada di bawah panggung tidak sempat melihat kapan paderi melancarkan serangan tahu-tahu…
“Buukkk!”
Jenderal Suma terpental satu t0mbak ke belakang. Dari mulutnya terdengar erang kesakitan. Ketika ia memperhatikan tangan kanannya ternyata tangan itu telah membengkak merah. Rasa sakit masih sanggup ditahan 0leh sang Jenderal , tetapi amarah tak bisa dibendungnya. Didahului bentakan dahsyat ia mel0mpat ke depan. Kini terjadi perkelahian seru. Lima jurus Jenderal Suma Tiang Bun merangsek lawannya dengan seranganserangan ganas.
Tapi L0 Sam T0jin berubah laksana bayang-bayang. Memasuki jurus ke tujuh Jenderal Suma keluarkan seluruh kepandaiannya. Tenaga dalam dikerahkan penuh. Tubuhnya yang besar berkelebat mengeluarkan deru angin kencang. L0 Sam T0jin berseru keras ketika dapatkan dirinya karam dalam tekanan serangan lawan. Kini ia tidak menyerang dengan sepasang tangannya melainkan pergunakan lengan jubah untuk mengebut gempuran lawan.
“Wuuss…! Wuuss…!”
Dua larik sinar hitam menderu keluar dari ujung lengan jubah hitam sang paderi. Sinar di sebelah kanan berhasil dielakkan Jenderal Suma. Namun sinar yang menyambar dari arah kiri menghantam dadanya dengan telak. Untuk kedua kalinya 0rang ini terpental. Mukanya tampak pucat. Kedua kakinya kelihatan bergetar keras. Dari mulutnya ada darah meleleh. Sang Jenderal menderita luka dalam yang cukup parah.
“Paderi keparat! Biar kupatahkan kepalamu dari tubuh detik ini juga!” kertak Suma Tiang Bun.
“Srett!”
Dia cabut pedang yang tersisip di pinggangnya. Sekali ia menggerakkan tangan maka sinar putih bertabur menyambar ke leher L0 Sam T0jin. Si kakek ganda tertawa. Tangannya bergerak ke pinggang. Selarik sinar kuning berkiblat.
“Traangg!”
Bunga api memercik di atas panggung ketika pedang Suma Tiang Bun beradu keras dengan t0ngkat besi L0 Sam T0jin. Celakanya , lantaran semenjak pertama tangn kanan sudah cidera maka genggamannya pada gagang pedang tidak teguh. Akibatnya begitu bentr0kan senjata , pedang di tangan Jenderal Suma terlepas mental. Di atas pangung L0 Sam T0jin angkat t0ngkat besinya ke udara. Semua 0rang terkesiap ketika melihat bagaimana pedang Jenderal Suma yang mencelat mental ke udara , laksana dised0t , melayang turun kemudian menempel pada tubuh t0ngkat besi kuning. Dengan cepat L0 Sam T0jin ambil pedang itu. Lalu ia tertawa mengekeh.
“Jenderal Suma! Aku akan membelah tubuhmu dengan pedang milikmu sendiri! Bersiaplah untuk menghadapa Giam l0 0ng! Ha… ha… ha…!” (Giam l0 0ng = malaikat maut).
Jenderal Suma berusaha menyelamatkan diri dari sambaran pedang dengan mel0mpat ke belakang. Dia menyambar sebuah jambangan di kiri panggung. Sewaktu pedang kembali membabat ia menangkis dengan jambangan itu. Jambangan yang terbuat dari p0rselen hancur berantakan. Di lain kejap pedang di tangan L0 Sam T0jin menderu dari atas ke bawah , mengarah bat0k kepala Jenderal Suma. Rupanya t0jin ini benar-benar hendak menerangkan katakatanya yaitu ingin membelah tubuh sang Jenderal! Sementara itu di bawah panggung lima puluh angg0ta pasukan Kerajaan yang dibawa Jenderal Tjia bertempur seru melawan dua puluh 0rang anak buah L0 Sam T0jin.
Walau mereka berjumlah lebih sedikit namun Karena rata-rata mempunyai kepandaian tinggi dalam waktu singkat mereka berhasil mer0b0hkan lima prajurit. Jenderal Tjia sendiri dikala itu yang telah melihat ancaman maut mengancam Jenderal Suma segera mel0mpat ke atas panggung. Selagi tubuhnya melayang di udara ia lepaskan satu pukulan tangan k0s0ng mengandung tenaga dalam tinggi. L0 Sam T0jin sama sekali tidak menghindar sewaktu mencicipi ada sambaran angin menyerang ke arah sepuluh jalan darah di sisi kirinya. Sambil meneruskan bac0kannya ke kepala Suma Tiang Bun , kakek ini putar t0ngkat kuningnya. Sinar kuning bertabur. Angin laksana angin ribut mendera ke arah tubuh Jenderal Tjia. 0rang gemuk pendek ini berseru kaget ketika tubuhnya terpental ke bawah panggung. Selagi ia berusaha mengimbangi diri supaya tidak jatuh terbanting di lantai , t0mbak besi di tangan L0 Sam T0jin tahutahu melayang. Demikian cepatnya sambaran t0ngkat besi ini hingga Jenderal Tjia tak bisa selamatkan diri. T0ngkat besi menancap di ulu hatinya! 0rang banyak yang ada di tempat itu menjadi gempar. Terlebih ketika melihat bagaimana pedang di tangan L0 Sam T0jin siap pula membelah kepala Jenderal Suma!
– == 000 == –
DUA BELAS
SESAAT lagi Jenderal Suma akan menjadi mayit dengan kepala terbelah tiba-tiba dari bawah panggung , dari barisan dingklik paling depan melesat satu bayangan putih. Bersamaan dengan itu ada sambaran angin menderu ke arah L0 Sam T0jin yang menciptakan kakek bermuka kuning ini terhuyung-huyung. Walau ia masih sanggup meneruskan bac0kannya namun mata pedang meleset jauh , tak sanggup membelah kepala Jenderal Suma melainkan hanya membelah angin. Satu tangna kemudian menarik leher pakaian Suma Tiang Bun hingga Jenderal ini terpisah jauh dari L0 Sam T0jin. Semua 0rang berseru terkesiap. Bahkan para prajurit dan anak buah Perkumpulan Kuncir Emas tanpa diberi isyarat sama-sama hentikan pertempuran dan memandang ke atas panggung. Di atas panggung dikala itu tegak se0rang lelaki tinggi tegap mengenakan jubah putih. Kulitnya c0klat dan di tangan kirinya ia memegang seuntai tasbih.
“Tamu asing itu! Dia menyelamatkan Jenderal Suma!” sese0rang berseru.
Suasana menjadi gempar sesaat namun segera sirap. Semua mata ditujukan ke atas panggung. Sepasang mata L0 Sam T0jin yang selalu jelalatan tak bisa membisu kini terpentang lebar , memandang tak berkesip pada 0rang berjubah putih di hadapannya yang bukan lain ialah Kanjeng Sri Agengn Musalamat. L0 Sam T0jin usap-usapkan tangan kirinya ke dagu. Pedang di tangan kanan tiba-tiba dihunjamkan ke bawah hingga menancap di lantai panggung.
“Dicari susah sekali! Dijemput tak mau datang! Tahu-tahu dikala ini muncul di hadapanku! Kaprik0rnus inilah 0rang asing dari tanah Jawa yang katanya mempunyai kepandaian tinggi , tiba membawa sebilah keris emas sakti untuk Raja Ti0ngk0k! Ha… ha… ha!”
Karena tidak tahu apa yang dikatakan L0 Sam T0jin , Ageng Musalamat hanya tersenyum dan membungkuk. Sang paderi makin keras tawanya. Tiba-tiba kakinya bergerak menendang ke arah tubuh pedang yang menancap di lantai panggung.
“Desss!”
“Wuuut!”
Pedang yang menancap melesat ke atas , berputar laksana baling-baling , menyambar ke arah Ageng Musalamat. Ageng Musalamat gerakkan tangan kanannya yang memegang tasbih. Tasbih ini ialah hadiah yang diterima Ageng Musalamat dari Raja Ti0ngk0k sebagai jawaban keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit yang diberikannya pada Raja.
“Tring.. tring… tring!”
Terdengar bunyi berdentringan beberapa kali. Bunga api memijar enam kali berturut-turut. Ageng Musalamat terkejut dan cepat mel0mpat ketika tangannya yang memegang tasbih terasa pedih menyerupai ditusuk puluhan jarum. Sebaliknya Ketua Perkumpulan Kuncir Emas tak kalah kagetnya. Hantaman tasbih di tangan Ageng Musalamat walau ditujukan pada pedang yang berputar namun ada hawa aneh yang membuatnya melangkah mundur terhuyung-huyung. Sementara itu pedang yang kena hantaman tasbih jatuh berdentrangan di bawah panggung.
“0rang asing , saya mengagumi kehebatanmu!” kata L0 Sam T0jin seraya membungkuk. Ageng Musalamat balas mengh0rmat.
“Aku tak punya waktu lama. Aku ingin kau ikut bersamaku ke lembah Pek-hun kini juga. 0rang sepertimu saya perlukan untuk bantu membangun Partai Kuncir Emas…“
Lalu L0 Sam T0jin berikan tanda dengan isyarat tangan supaya Ageng Musalamat mengikutinya. Ageng Musalamat gelengkan kepala dan g0yangkan tangannya. Melihat ajakannya dit0lak marahlah L0 Sam T0jin. Ke dua tangannya did0r0ngkan ke muka. Gerakannya perlahan saja. Tapi apa yang terjadi sungguh mengejutkan. Dari ujung dua lengan jubahnya melesat angin sederas t0pan. Panggung berg0ncang. Tirai-tirai tebal berg0yang keras bahkan ada yang r0bek. Di atas panggung tubuh Kanjeng Agung Musalamat berg0ncang hebat.
“Jatuh!” teriak L0 Sam T0jin seraya lipat gandakan tenaga dalamnya.
Mukanya yang kuning kelihatan menyerupai mengkerut. G0ncangan di tubuh Ageng Musalamat semakin hebat. Jubah putihnya tampak r0bek di beberapa bagian. Dia bertahan sambil membungkuk dan mengepalkan tinju. Tasbih di tangan kanannya berputarputar kian kemari.
“Jatuh!” teriak L0 Sam T0jin , sekali lagi.
Ageng Musalamat bertahan mati-matian supaya tidak r0b0h. Lantai panggung yang dipijaknya tiba-tiba berubah panas laksana ia menginjak bara api!
“Kalau saya bertahan , cepat atau lambat saya akan jatuh! 0rang renta bermuka kuning ini mempunyai tenaga dalam luar biasa! Aku harus mencari jalan mengalahkannya tanpa menghinanya!”
Ageng Musalamat melirik pada pecahan jambangan p0rselen yang bertebaran di lantai panggung sebelah kiri. Mulutnya dikatupkan rapat-rapat. Tenaga dalamnya dikerahkan ke kaki kanan. Tiba-tiba kaki itu dihentakkannya ke lantai panggung. Laksana senjata rahasia , puluhan pecahan p0rselen menghambur ke arah L0 Sam T0jin. Selagi Ketua Perkumpulan Kuncir Emas ini berteriak kaget , puluhan pecahan p0rselen menancap di sekujur pakaian hitamnya. Pecahan p0rselen ini menancap demikian rupa laksana disisipkan dengan hatihati dan rapi hingga tak ada penggalan tubuh L0 Sam T0jin yang terluka ataupun terg0res! Kalau saja mukanya tidak dilapisi cat kuning maka semua 0rang akan melihat bagaimana wajah L0 Sam T0jin telah berubah sepucat mayat!
Kakek ini menyadari kalau mau Ageng Musalamat tadi niscaya bisa membunuhnya dengan tusukan puluhan pecahan p0rselen itu.
“0rang asing…” kata L0 Sam T0jin dengan bunyi bergetar.
“Aku menaruh kagum padamu! Aku juga menaruh h0rmat! Kalau saya tidak bias membawamu ke lembah Pek-hun untuk kujadikan guru besar Perkumpulan Kuncir Emas , pelajaran yang kau berikan dikala ini cukup membuatku puas. Aku berterima kasih untuk semua itu…” L0 Sam T0jin membungkuk berulang kali.
Ageng Musalamat membalas pengh0rmatan itu dengan cara yang sama yaitu membungkuk pula beberapa kali. Pada dikala itulah tiba-tiba tangan kanan L0 Sam T0jin bergerak dan!
“Kanjeng guru! Awas!” Sese0rang berteriak dari bawah panggung.
Ageng Musalamat cepat mengangkat kepalanya. Sebenarnya tadipun ia sudah mendengar ada bunyi menderu tiba dari depan. Ketika melihat ke depan terkejutlah dia! Lima ek0r ular aneh berwarna hitam dengan sirip di kepala dan di tubuh melesat ke arahnya.
“Ular iblis pencabut nyawa!” teriak beberapa 0rang di bawah panggung.
Ular terbang yang diberi julukan , “ular iblis pencabut nyawa” itu ialah senjata rahasia paling berbahaya yang jarang dikeluarkan L0 Sam T0jin. Di tempat penyimpanannya di dalam sebuah kant0ng di balik pakaiannya lima ular itu tak ubahnya menyerupai kayu kaku. Tapi begitu melesat di udara berubah se0lah ular sungguhan. Melesat dengan membuka lisan lebar-lebar. Siap untuk mematuk sasaran!
Ageng Musalamat tanpa pikir panjang jatuhkan diri ke atas lantai panggung. Tasbih di tangan kanan diputar sebat. Tiga ular beracun lewat di atasnya , menancap pada tiang kayu panggung. Dua lainnya dihantam hancur dengan tasbih. L0 Sam T0jin menggereng marah. Dia menerjang ke depan , menyerang dengan ganas dan tenaga dalam penuh. Lima jari tangannya terpentang , mencuat ke depan dan mendadak Ageng Musalamat melihat lima jari kiri kanan tangan lawannya menjelma cakar besi membara! Inilah ilmu hitam yang paling diandalkan 0leh L0 Sam T0jin yang selama ini tidak satu musuhpun sanggup menghadapinya.
0rang banyak di bawah panggung , terutama para pejabat tinggi yang tahu betul akan keganasan ilmu yang dimiliki Ketua Perkumpulan Kuncir Emas itu jadi tercekat. Mereka tidak bisa mengira lain. Ageng Musalamat akan menemui kematian dengan muka terk0yak , perut jeb0l dan isi perut membusai. Tapi apa yang terjadi kemudian menciptakan semuanya secara tidak sadar keluarkan seruan tertahan hampir berbarengan. Di atas panggung L0 Sam T0jin melihat muka Ageng Musalamat menjelma kepala seek0r harimau putih. Selagi ia tertegun kecut lawan telah mel0mpat ke hadapannya. Ageng Musalamat mencicipi terjadi keganjilan atas dirinya. Sepasang tangan dan ke dua kakinya bergerak diluar kendalinya.
Tasbih dalam genggamannya menderu menabur sinar angker. Dia mendengar bunyi bergedebukan berulang kali. Lalu…
“Praaakkk!” Rahang kiri L0 Sam T0jin remuk.
Tubuhnya terpelanting namun sungguh hebat. Mukanya yang kuning babak belur. Sepasang matanya menggembung infeksi dan mengeluarkan darah. Hidungnya remuk sedang mulutnya pecah! Tapi hebatnya kakek ini masih bisa berdiri walau kini kepalanya kelihatan miring. Ludah campur darah disemburkannya ke arah Ageng Musalamat hingga jubah putih 0rang ini penuh dengan n0da merah. Ageng Musalamat jadi mendidih amarahnya. Tapi sikapnya tetap tenang. Ketika lawan berusaha menyergapnya dengan satu serangan kilat , tangan Ageng Musalamat kiri kanan menderu ke depan , menghujani muka dan dada L0 Sam T0jin. Ketika paderi ini terhuyung-huyung , berusaha berdiri sambil memegang tirai panggung , kaki kanan Ageng Musalamat mendarat di dagunya. Darah menyembur.
Tubuh L0 Sam T0jin mencelat ke bawah panggung , jatuh di antara 0rang banyak. Tidak berkutik lagi , tidak bernapas lagi!
“L0 Sam T0jin mati! L0 Sam T0jin mati!” teriak beberapa 0rang.
Tempat itu menjadi gempar. Beberapa 0rang angg0ta Kuncir Emas yang tahu ancaman secepat kilat ambil langkah seribu menyelinap di antara 0rang banyak kemudian menghilang. Di atas panggung Ageng Musalamat memandang ke bawah. Tadi sewaktu ia membungkuk dan tidak sempat melihat datangnya serangan lima ular iblis pencabut nyawa , se0rang di bawah sana berteriak mengingatkannya.
“Kanjeng guru! Awas!” Dia kenal bunyi itu.
Dia merasa telah dit0l0ng dan diselamatkan. Pandangan Ageng Musalamat membentur s0s0k Cagak Gunt0r0 , murid yang telah dihukumnya lantaran mengira keras dialah yang berusaha mencuri keris Kiyai Sabrang Tujuh Langit.
“Berarti… Jangan-jangan saya telah salah menjatuhkan eksekusi ,” kata Ageng Musalamat dalam hati.
– == 000 == –
TIGA BELAS
KEMATIAN L0 Sam T0jin Ketua Perkumpulan Kuncir Emas menggegerkan daratan Ti0ngk0k daerah timur. Di pegunungan Kun Lun 0rang-0rang Kun Lun Pay mengadakan pesta besar atas kematian 0rang yang mereka anggap sebagai pengkhianat itu. Lima 0rang utusan khusus Ketua Partai tiba menemui Kanjeng Sri Ageng Musalamat.
Mereka membawa hadiah-hadiah besar dan memberikan undangan Ketua Partai supaya Ageng Musalamat suka berkunjung ke markas mereka. Dengan sangat hati-hati Ageng Musalamat men0lak mendapatkan hadiah itu. Dia hanya mau berjanji bila ada kesempatan akan mendapatkan undangan dan berkunjung ke pegunungan Kun Lun. Namun utusan Ketua Partai Kun Lun memaksa supaya Ageng Musalamat mau mendapatkan hadiah itu. Setelah saling bersitegang kesannya Ageng Musalamat mengalah. Namun semua hadiah kemudian disampaikannya kepada beberapa panti asuhan , termasuk panti asuhan di Hsin Yang yang diurus 0leh P0uw G0an Keng dimana Ki H0k Kui tinggal. Ketika inf0rmasi tewasnya L0 Sam T0jin hingga ke istana , Raja meminta Ageng Musalamat datang. Kepadanya Raja menghadiahkan satu daerah subur tak jauh dari Hsin Yang.
Di situ dibangun belasan rumah yang sanggup didiami 0leh Ageng Musalamat dan r0mb0ngannya selama mereka suka. Raja juga memperlihatkan satu jabatan penting bagi Ageng Musalamat namun dengan halus kedudukan bagus itu dit0laknya. Lama kelamaan tempat kediaman Ageng Musalamat semakin berkembang luas hingga menjadi satu k0ta kecil dimana hampir semua penduduknya ialah 0rang-0rang Muslim. Dalam rimba persilatan di daratan Ti0ngk0k nama Ageng Musalamat menjadi satu nama besar. Maklum saja lantaran selama ini tidak ada satu 0rang pandai bahkan pihak Kerajaan yang bisa mengalahkan atau menangkap L0 Sam T0jin. Ageng Musalamat disejajarkan ketinggian ilmunya dengan t0k0h-t0k0h kang-0uw di daratan Ti0ngk0k pada masa itu. (kang-0uw = dunia persilatan)
Diam-diam beberapa Partai berusaha memperebutkan Ageng Musalamat dengan maksud supaya 0rang sakti ini mengajarkan kepandaiannya pada mereka. Namun Ageng Musalamat lebih suka menentukan membisu di tempat yang telah diberikan Raja padanya. Di sini ia membuka satu perguruan tinggi silat yang jumlah muridnya selalu bertambah. Ki H0k Kui termasuk salah se0rang murid yang paling disukai dan dipercaya Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Anak yang cerdik ini bukan saja menimba ilmu silat dari gurunya itu , tapi juga dengan tekun mempelajari bahasa dan g0resan pena Jawa. Sampai dua tahun dimuka jabatan Kepala Balatentara Daerah Timur yang ditinggal Jenderal Tjia masih tetap l0w0ng. Untuk sementara jabatan tinggi ini dirangkap 0leh Jenderal Suma Tiang Bun.
Namun entah dari mana asalnya tersiar kabar bahwa Raja akan mengangkat Ageng Musalamat menduduki jabatan Kepala Balatentara Daerah Timur itu. Tanpa melaksanakan penyelidikan benar tidaknya inf0rmasi itu Jenderal Suma terlanjur merasa jadi tidak suka terhadap Kanjeng Sri Ageng Musalamat lantaran menganggap 0rang ini bisa merampas kedudukan rangkap yang bekerjsama sangat ingin dipertahankannya. Rasa tidak sukanya itu ditebar demikian rupa hingga satu demi satu ia berhasil mengumpulkan 0rang-0rang penting bergabung dengan ia untuk tidak menyukai Ageng Musalamat yang bagaimanapun juga ialah 0rang asing. Tindakan Jenderal Suma tidak hingga disitu saja. Dia berkali-kali menghadap Raja untuk memberikan lap0ran yang memburukkan nama Ageng Musalamat. Ageng Musalamat sendiri bukan tidak tahu kalau banyak 0rang-0rang tertentu tidak suka padanya. Namun ia tidak ambil perduli. Sikapnya pada 0rang-0rang yang membencinya itu biasabiasa saja. Dia lebih memperhatikan pengembangan k0ta kecilnya yang melebar hingga berdampingan dengan Hsin Yang.
Akhirnya keseluruhan k0ta dijadikan satu dan diberi nama Hsin Yang. Setelah bertahun-tahun tinggal di Hsin Yang rasa betah perlahan-lahan mengikis rasa rindu terhadap tanah Jawa. Bahkan kesannya Ageng Musalamat nikah dengan se0rang penduduk 0risinil seagama. Perbuatannya ini diikuti pula 0leh hampir semua anak buahnya. Akibatnya Hsin Yang semakin berkembang dan tak sanggup lagi dikatakan k0ta kecil. Sebagian penduduknya hidup dari bertani dan sebagian lainnya menc0ba berdagang.
Nama k0ta Hsin Yang menjadi harum seharum nama Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Jumlah pengikut dan anak murid Ageng Musalamat bukan hanya ratusan tapi hingga ribu-ribuan. Cagak Gunt0r0 yang telah dibebaskan dari eksekusi semenjak lima belas tahun kemudian hidup berbahagia dengan se0rang istri dan dua anak. Munding Sura menempuh jalan berbeda. Sampai dikala itu ia tidak kawin dan sering mengelana hingga berbulan-bulan untuk menyebarkan ilmu silat pada penduduk setempat. Ratusan keluarga besar Ageng Musalamat hidup rukun di Hsin Yang membentuk satu kekuatan besar yang lambat laun menciptakan para penjahat tinggi di K0taraja merasa kurang enak. Ketidak enakan ini disulut pula 0leh Jenderal Suma Tiang Bun.
TANPA terasa telah dua puluh tahun Ageng Musalamat bermukim di Ti0ngk0k. Selama berumah tangga sayangnya ia tidak dikarunia anak. Karena itu rasa kasih sayangnya banyak tercurah pada murid terpandainya yakni Ki H0k Kui. B0leh dikatakan selama dua puluh tahun Ki H0k Kui tidak menyianyiakan kesempatan.
Pada dikala ia berusia tiga puluh hampir seluruh ilmu kepandaian Ageng Musalamat berhasil diserapnya. Bahasa Jawanyapun tak kalah med0k dengan 0rang-0rang yang tiba dari tanah Jawa itu. Keberadaan Ageng Musalamat yang tumbuh menjadi satu kekuatan besar rupanya tidak lepas dari perhatian Raja. Suatu hari ia dipanggil ke istana. Ternyata satu pertemuan penting yang dihadiri 0leh pejabat-pejabat tinggi termasuk Jenderal Suma telah diatur.
Dalam pertemuan Raja mengumumkan bahwa Kanjeng Sri Ageng Musalamat diangkat menjadi Tik0an berkedudukan di Hsin Yang dengan daerah kekuasaan tak terkira luasnya. Sekali ini Ageng Musalamat merasa sungkan untuk men0lak keputusan Raja itu. (Tik0an = jabatan sederajat Bupati) Kalau Raja merasa gembira mendapatkan Ageng Musalamat mendapatkan jabatan yang diberikannya , tidak begitu dengan 0rang-0rang yang tidak menyukainya. Di bawah pimpinan Jenderal Suma yang pernah diselamatkan nyawanya 0leh Ageng Musalamat maka disusunlah satu fitnah besar untuk menjatuhkan Tik0an gres itu.
“Heran ,” kata Jenderal Suma pada kawan-kawannya.
“Ilmu pemikat apa yang digunakan 0leh Jawa itu. Aku sudah berkali-kali memberi tahu Raja akan perbuatan-perbuatannya yang buruk dan berbahaya. Eh malah Raja mengangkatnya menjadi Tik0an….”
Se0rang wanita tinggi semampai berpakaian bagus dan berdandan menc0l0k memegang pundak Jenderal Suma. Dia ialah salah se0rang t0k0h silat istana yang berhasil ditarik Jenderal Suma Tiang Bun ke dalam kel0mp0knya.
“Untuk menjatuhkan kerikil karang , 0mbak besar tak b0leh putus asa. Jika ia tidak bisa kita jatuhkan dengan jalan halus , jalan berangasan bisa kita pergunakan. Bukankah bekas anak buah L0 Sam T0jin di lembah Pek-hun yang ribuan banyaknya itu bersumpah untuk membalas dendam kematian Ketua mereka? Lagi pula saya ada satu rencana besar yang bisa kita jalankan. Selain itu bukankah kita bisa memperalat 0rang Jawa anak murid si Kanjeng yang satu itu untuk memberi lebih banyak keterangan ihwal ilmu-ilmu yang dimiliki Ageng Musalamat?”
“Hemmm…. Apa rencana besar yang barusan kau katakan itu L0uw Bin Ni0?” Perempuan separuh baya itu tersenyum dan kedipkan matanya dengan genit.
“Jika kau ingin tahu bukan di sini tempatnya ,” jawab L0uw Bin Ni0 sambil memandang pada 0rang-0rang yang ada di situ.
Mendengar ucapan ini dan melihat pandangan L0uw Bin Ni0 semua 0rang yang ada di situ menjadi maklum. Satu persatu mereka meninggalkan tempat itu.
“Ikuti saya ,” kata L0uw Bin Ni0 sambil mengg0yangkan pinggulnya yang besar.
Perempuan ini ialah se0rang t0k0h silat istana yang semenjak masih gadis secara belakang layar telah menjadi kekasih gelap Jenderal Suma. L0uw Bin Ni0 membawa lelaki itu ke dalam sebuah kamar. Begitu pintu dikuncinya pribadi die memeluk Jenderal Suma dengan penuh nafsu seraya berbisik dengan mata berkilat-kilat.
“Sudah berapa usang kita tidak berkasih-kasihan Suma Tiang Bun…”
“Hampir dua minggu. Maafkan saya Bin Ni0 Urusanku banyak sekali akhir-akhir ini….”
“Sekarang lupakan semua urusan itu. Darahku sudah panas Suma. Cepat buka bajuku dan saya akan membuka bajumu!” Lalu jarijari tangan L0uw Bin Ni0 bergerak.
Dia bukan membuka pakaian Jendera Suma secara masuk akal tapi mer0beknya dengan penug nafsu. Justru hal inilah yang disukai sang Jenderal Perempuan itu bisa memuaskannya dengan kekerabatan tubuh yang aneh-aneh sementara istrinya yang gemuk di rumah hanya merupakan s0s0k hambar sedingin salju di puncak Thay San.
– == 000 == –
EMPAT BELAS
SALAH satu tantangan dalam hidup insan ialah kemampuan untuk bertahan terhadap g0daan. Sejak Adam termakan 0leh setan hingga memakan buah larangan kemudian bersama Hawa diusir dari Taman Firdaus , semenjak itu pula setan senantiasa membayangi insan , menarik hati supaya melaksanakan kesesatan. Hal ini yang terjadi dengan diri Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Selama dua puluh tahun ia sanggup bertahan terhadap hasutan setan yang selalu mend0r0ngnya supaya membuka halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa yang selalu dibawanya kemana-mana.
Malam itu entah mengapa , sewaktu hasutan setan menghantuinya , ia tidak berdaya melawan. Semakin dilawan semakin keras d0r0ngan untuk ingin mengetahui apa bekerjsama yang ada di halaman ke lima dan halaman berikut kitab sakti itu. Dalam keadaan bimbang kesannya Ageng Musalamat naik ke atas l0teng rumah dimana terletak sebuah ruangan tempat ia biasa bersunyi diri. Dari balik jubah putihnya dikeluarkannya Kitab Putih Wasiat Dewa. Dadanya berdebar keras , tangannya gemetar. Tengkuknya mendadak merasa dingin. Kitab yang hendak dibukanya ditutupnya kembali. Pada dikala itulah setan menghasut melalui bunyi hatinya.
“Kanjeng Sri Ageng Musalamat , apa yang kau khawatirkan? Kau tidak disuruh merenangi lautan api atau mendaki gunung kerikil membara. Apa susahnya membalik halaman kitab itu? Jangan mau dib0d0hi Datuk Ra0 Basalauang Ameh. Dia tidak ingin kau menjadi penguasa dunia persilatan. Itu sebabnya ia melarangmu. Tapi kini kau berada jauh dari tanah Jawa. Mana mungkin ia mengetahui. Sekali kau membuka halaman ke lima kitab sakti itu , dunia persilatan berada di tanganmu. Raja Ti0ngk0k kelak akan memberikan jabatan yang lebih tinggi bagimu…” Ageng Musalamat menggigit bibirnya sendiri.
Berkali-kali ia menarik napas dalam. Akhirnya keputusannya bulat. Tangan kanannya walaupun masih gemetar bergerak membuka halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa! Begitu halaman ke lima Kitab Putih Wasiat Dewa terbuka , terpentanglah sepasang mata Kanjeng Sri Ageng Musalamat!
Ternyata halaman itu k0s0ng!
Tak ada gambar tak ada tulisan. Dibaliknya halaman-halaman berikutnya. Sama! K0s0ng!
“0rang menipuku…“ kata Ageng Musalamat terperangah.
“Datuk Ra0 Basaluang Ameh mendustaiku. Halaman kelima dan halaman lainnya ternyata tidak ada apa-apanya!”
Pada dikala itulah tiba-tiba terdengar bunyi tiupan seruling di kejauhan. Suaranya mengalun lembut berhiba-hiba kemudian menderam bunyi auman binatang. Ageng Musalamat tercekat. Parasnya menjadi pucat pasi.
“Datuk Ra0…” desisnya.
Baru saja ia menyebut nama itu di hadapannya muncul dua kepulan asap putih yang dengan cepat berubah membentuk s0s0k tubuh Datuk Ra0 Basaluang Ameh dan temannya si harimau putih berjulukan Datuk Ra0 Bamat0 Hijau. Datuk Ra0 menatap dengan pandangan rawan pada Ageng Musalamat. Sadar bahwa ia telah melanggar pantangan Ageng Musalamat jatuhkan diri hendak merangkul kaki Datuk Ra0. Tapi 0rang renta itu mundur dua langkah hingga ia menangkap angin.
“Sayang sekali… Sayang sekali Kanjeng Sri Ageng Musalamat! Pada saat-saat terakhir imanmu runtuh! Padahal kau telah mengulang berpuluh kali membaca Sabda Dewa yang ke delapan. Imanmu tidak sek0k0h batu! Kau juga telah puluhan kali membaca Sabda yang kuasa ke tiga. Di dalam tubuh insan ada api. Mengapa insan tidak berpikir mencari manfaat dari pada kualat?!”
“Maafkan diriku Datuk! Aku mengaku bersalah , mengaku berd0sa. Aku akan melaksanakan apa saja yang bisa menebus d0sa kesalahanku!” kata Ageng Musalamat setengah meratap.
“Mengapa kau termakan melanggar pantangan , Ageng Musalamat?”
“Aku terhasut setan Datuk! Aku m0h0n maafmu. Lagi pula ketika halaman ke lima Kitab Wasiat Dewa kubuka , tidak ada apaapanya. Halaman itu k0s0ng!” Datuk Ra0 tersenyum.
“Matamu tidak menyerupai mata malaikat. Matamu. nyalang tapi penglihatanmu dihilangkan 0leh Yang Maha Kuasa hingga kau hanya bisa melihat halaman k0s0ng!” Tengg0r0kan Ageng Musalamat turun naik. Matanya membeliak dan wajahnya seputih kain kafan.
“Aku m0h0n ampunmu Datuk. T0l0ng diriku…”
“Kesalahan telah dibuat. Larangan telah dilanggar. Penyesalan tak ada gunanya Ageng Musalamat. Aku tidak tahu nasib apa yang akan menimpamu. Aku hanya ada dua pesan terakhir. Pertama hatihatilah. Kedua jangan lupa amanat supaya kau menyerahkan Kitab Wasiat Dewa pada 0rang yang paling kau percaya!” Datuk Ra0 angkat saluang emasnya kemudian mulai meniup.
Suara seruling itu menyerupai tadi mengalun lembut berhiba-hiba. Datuk Ra0 Bamat0 Hijau membuka lisan keluarkan bunyi auman. Bersamaan dengan sirnanya bunyi auman lenyap pulalah s0s0k asap ke dua makhluk itu.
*
* *
Sepanjang malam Kanjeng Sri Ageng Musalamat tak bisa memicingkan mata. Menjelang pagi ketika sepasang matanya sempat hendak terpicing tiba-tiba di luar terdengar derap kaki kuda , menyusul bunyi pintu diged0r. Beberapa 0rang yang bertugas sebagai pengawal di gedung Tik0an itu ikut menghambur ke pintu depan.
“Tik0an! Tik0an Kan-jieng Musalamat! Bangun! Buka pintu!” Ageng Musalamat terduduk di atas ranjang.
Telinganya dipasang kembali khawatir kalau-kalau tadi ia mendengar bunyi dalam mimpi.
“Tik0an Musalamat! Buka pintu! Cepat!”
“Eh , itu bunyi Ki H0k Kui. Ada apa ia pagi-pagi buta begini mengged0r pintu. Setahuku ia berada di timur…” Kanjeng Sri Ageng Musalamat yang jadi Tik0an di Hsin-Yang itu cepat-cepat turun ke bawah.
Begitu pintu dibuka masuklah muridnya Ki H0k Kui bersama Cagak Gunt0r0 dan beberapa 0rang pengawal.
”Ada apa H0k Kui? Mukamu pucat dan napasmu sesak?” Ageng Musalamat berpaling pada Cagak Gunt0r0.
Muridnya yang satu ini juga sama keadaannya dengan Ki H0k Kui.
“Lekas tinggalkan k0ta ini Tik0an. Seluruh penduduk harus diberitahu supaya segera mengungsi!” kata Ki H0k Kui yang kini telah menjadi se0rang lelaki gagah berusia tiga puluh tahun dan telah mewarisi hampir seluruh ilmu silat dan kesaktian Ageng Musalamat , kecuali ilmu Harimau Dewa.
“Tinggalkan k0ta?! Mengungsi?! Eh kalian ini tidak habis minum-minum dan mab0k?!” ujar Ageng Musalamat.
“Demi Tuhan , Kan-jieng….”
“Katakan ada apa?!” Ageng Musalamat membentak.
“Pasukan Kerajaan. Ribuan jumlahnya. Mereka hendak menyerbu ke sini! Mereka hendak membunuh kita semua! Hsin Yang hendak dimusnahkan sama rata dengan tanah!” Paras Ageng Musalamat jadi berubah.
“Bicara yang benar H0k Kui , jangan terburu-buru…” Ki H0k Kui atur jalan napasnya kemudian menuturkan ,
“Raja mendapatkan lap0ran dari Jenderal Suma Tiang Bun bahwa Kan-jieng berserikat dengan 0rang-0rang M0ng0l untuk meruntuhkan takhta Raja Ti0ngk0k. Ada yang melihat Jenderal Suma membawa sepucuk surat rampasan yang katanya ialah dari Raja M0ng0l ditujukan pada Kan-jieng. Isinya rencana penyusunan kekuatan serta siasat penyerbuannya ke K0taraja….”
“Fitnah!” teriak Ageng Musalamat dengan kedua tangan dikepal.
“Kan-jieng tahu Jenderal Suma sudah semenjak usang tidak menyukai Kan-jieng. Dia memang memfitnah. Celakanya Raja begitu saja mempercayai. Sebelum matahari terbit balatentara Kerajaan terdiri dari enam gel0mbang masing-masing berjumlah dua ribu 0rang akan hingga di sini. Selagi ada waktu harap Kanjieng mencari jalan selamat…”
Ageng Musalamat gelengkan kepala.
“Bahaya sebesar apapun yang akan tiba saya tidak akan pergi. Kau dan Cagak Gunt0r0 lekas beritahu penduduk dan ungsikan mereka. Aku tetap di sini. Aku akan menghadapi Jenderal culas itu!”
”Tapi Kan-jieng Jenderal Suma tidak sendirian. Dia membawa enam t0k0h silat istana , dua 0rang t0k0h silat g0l0ngan hitam dan kekasihnya yaitu L0uw Bin Ni0 yang dikenal dengan julukan Tjui-hun Hui-m0 (Iblis Terbang pencabut Nyawa) Dan ada yang melihat Munding Sura bersama Jenderal Suma!”
Terkejutlah Ageng Musalamat. Dia sudah usang mendengar kekerabatan gelap Jenderal Suma dengan L0uw Bin Ni0. Perempuan satu ini kabarnya mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi dan merupakan t0k0h n0m0r satu dalam barisan t0k0h silat istana!
Lain dari itu ia tidak mengira kalau Munding Sura murid yang dulu begitu dipercayanya ternyata ialah se0rang pengkhianat.
“Seribu Jenderal Suma b0leh datang. Seribu t0k0h silat istana b0leh muncul di hadapanku dan seribu L0uw Bin Ni0 b0leh unjukkan diri di sini. Tapi saya tidak akan melarikan diri. Aku tidak akan meninggalkan Hsin Yang!” Dari balik pakaiannya Ageng Musalamat keluarkan Kitab Wasiat Putih Dewa kemudian menyerahkannya pada Ki H0k Kui.
Ternyata muridnya inilah 0rang yang paling dipercayanya.
“H0k Kui , selamatkan kitab ini dan segera tinggalkan tempat ini!”
“Kan-jieng!” seru Ki H0k Kui.
“Saya tidak akan pergi! Saya siap bertempur bersama Kan-jieng!”
“Jangan berani membangkang H0k Kui!”
“Saya ingin mati bersama Kan-jieng!” teriak Ki H0k Kui.
“Plaaaakkkk!”
Satu tamparan melayang di pipi Ki H0k Kui.
Tamparan yang dilancarkan penuh kemarahan itu sanggup meremukkan tulang rahang manusia. Tapi jangankan cidera , bergeming sedikitpun tidak! Inilah kehebatan Ki H0k Kui hingga ia dijuluki Tiat T0w H0u atau Harimau Kepala Besi.
“H0k Kui! Ini perintah! Kalau kau tidak melaksanakan kubunuh kau dikala ini juga!” teriak Ageng Musalamat.
Ki H0k Kui mundur dua langkah. Ageng Musalamat maju mendatangi dan dengan cepat memasukkan Kitab Wasiat Dewa ke dalam baju muridnya itu.
“Kitab itu lebih berharga dari nyawaku! Kau harus menyelamatkannya H0k Kui!” Tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi menderu menyerupai air bah mendatangi.
Menyusul bunyi tiupan ter0mpet. Paras Ki H0k Kui berubah.
“Astaga! Saya tidak menyangka balatentara Kerajaan ternyata tiba lebih cepat…. “
“Lekas pergi dari sini Kui H0k!” hardik Ageng Musalamat. Dia berpaling pada Cagak Gunt0r0 dan berkata.
“Bangunkan istri dan para nelayan. Ungsikan mereka ke tempat yang aman. Sejauh mungkin dari Hsin Yang.”
Ketika Ageng Musalamat melihat H0k Kui masih berdiri di tempat itu diapun berteriak marah.
“Kau tunggu apa lagi?!” Dengan muka pucat dan berusaha keras menahan titiknya air mata Ki H0k Kui melangkah mundur ke pintu. Sebelum berkelebat ia berkata.
“Kan jieng guruku tercinta , saya berd0a untuk keselamatanmu!”
– == 000 == –
LIMA BELAS
PERAHU kecil itu terapung-apung dipermainkan 0mbak. Di dalamnya terbujur satu s0s0k tubuh hanya tinggal ku!it pembalut tulang , mengenakan pakaian yang nyaris hancur. Kulitnya yang tadi putih kini kelihatan merah kehitaman lantaran disengat sinar matahari. Dua matanya yang Terpejam perlahan-lahan terbuka. Dia berusaha mengangkat tubuhnya dari lantai bahtera yang mulai lapuk dan hanya menunggu hancur. 0rang ini bukan lain ialah Ki H0k Kui , murid terpandai dan paling dipercaya Ageng Musalamat.
Setelah mengetahui bahwa balatentara Kerajaan secara ganas benar-benar menghancurkan Hsin Yang dan membantai setiap 0rang yang mereka temui di k0ta itu termasuk gurunya , Ki H0k Kui kemudian menyelamatkan diri ke timur. Kalau bukan mengingat amanat sang guru ia sudah bertekad lingkaran untuk mati bersama di Hsin Yang. Kini ia menerima beban berat untuk menyelamatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Dia sudah selamat tapi kitab itu hendak diapakannya? Kalau dibawa akan dibawa kemana , kalau diserahkan akan diserahkan pada siapa?
Seperti mendapatkan satu kekuatan mistik Ki H0k Kui walau berada dalam keadaan sangat lemah duduk di lantai perahu. Dua matanya yang cekung rnenatap tak berkesiap.
“Pulau..” desisnya.
Dig0s0knya dua matanya dengan rasa tidak percaya. Betulkah yang dilihatnya di kejauhan itu ialah sebuah pulau? Kalau pulau rnergapa keseluruhannya berwarna merah? Tiba-tiba ia mendengar satu bunyi menyerupai berdesir di belakangnya. Perlahan-lahan kepalanya dipalingkan. Pucatlah paras cekung Ki H0k Kui.
“Astaga! Bagaimana mungkin mereka bisa mengejar hingga di sini!” Ratusan t0mbak di belakang bahtera kecil H0k Kui kelihatan sebuah kapal layar besar. Dari bendera yang berkibar di tiang utama terang kapal itu ialah kapal Kerajaan Ti0ngk0k. Apa bekerjsama yang telah terjadi? Setelah balatentara Kerajaan menghancurkan Hsin Yang dan membantai semua 0rang yang mereka temui di k0ta itu , Ki H0k Kui terpaksa melarikan diri dan ia menentukan arah timur yang lebih banyak diketahui seluk beluknya. Sewaktu Ki H0k Kui hingga di Nanchang , Jenderal Suma mengetahui dari Munding Sura bahwa Ki H0k Kui diduga masih hidup. Selain itu sewaktu tempat kediaman dan mayit Ageng Musalamat diperiksa Kitab Putih Wasiat Dewa tidak ditemukan.
Munding Sura yakin kitab itu telah diserahkan 0leh Ageng Musalamat kepada H0k Kui untuk diselamatkan. Jenderal Suma tetapkan untuk mengejar H0k Kui yang dikala itu dikabarkan melarikan diri menuju k0ta pelabuhan Se0ch0w. Tujuan sang Jenderal bukan saja untuk mengikis habis semua anak murid Ageng Musalamat tapi juga untuk mendapatkan Kitab Putih Wasiat Dewa. Maka pengejaranpun diteruskan hingga di Se0ch0w. Di sini diketahui bahwa Ki H0k Kui telah membeli sebuah bahtera kecil dan melaut tanpa diketahui kemana tujuannya. Namun Munding Sura mempunyai dugaan dan hal ini diberitahukannya pada Jenderal Suma Tiang Bun. Menurut pendapatnya besar kemungkinan Ki H0k Kui melarikan diri menuju tanah Jawa. Pemburuan di lautpun dilakukan. Namun lantaran nakh0da kapal pengejar tidak begitu memahami daerah maritim selatan , satu bulan kemudian gres mereka berhasil mengejar bahtera Kui H0k. Kui H0k sendiri yang buta pelayaran ternyata bukannya menuju pantai utara pulau Jawa , tapi tersesat ke pantai selatan.
Di daerah inilah Jenderal Suma berhasil mengejarnya. Dari atas kapal layar lima buah bahtera diturunkan. Masingmasing bahtera berisi tiga penumpang. Perahu terdepan ditumpangi Jenderal Suma bersama Munding Sura dan se0rang t0k0h silat istana. Perahu kedua yang meluncur di samping bahtera sang Jenderal ditumpangi 0leh L0uw Bin Ni0 alias Tjui-hun Hui-m0 (Iblis Terbang Pencabut Nyawa) didampingi dua 0rang t0k0h silat g0l0ngan hitam.
Tiga bahtera lainnya masing-masing berisi se0rang perwira tinggi Kerajaan dan dua t0k0h silat. Dalam waktu singkat bahtera kecil Kui H0k Kui segera terkejar. Lima bahtera besar mengurungnya. Lima belas 0rang berkepandaian tinggi pribadi menyerang. Ada dengan tangan k0s0ng dan ada pula dengan senjata. Malah beberapa 0rang sengaja melepaskan senjata rahasia secara licik. Iblis Terbang Pencabut Nyawa sesuai dengan gelarnya dan mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang lihay melancarkan serangan laksana terbang. Berkelebat kian kemari sambil kiblatkan sebilah g0l0k panjang. Walaupun mempunyai ilmu tinggi hingga dijuluki Harimau Kepala Besi , namun bila harus menghadapi lima belas lawan yang hebat mustahil Kui H0k Kui untuk menyelamatkan diri. Apalagi keadaannya dikala itu sangat lemah pula.
Jenderal Suma berulang kali berteriak supaya H0k Kui menyerahkan Kitab Putih Wasiat Dewa yang sudah sempat terlihat tersembul dari balik dada bajunya. Tapi H0k Kui pantang menyerah.
“L0uw Bin Ni0!” teriak Jenderal Suma yang sudah tidak sabaran.
“Bunuh bedebah itu. Rampas kitab putih di dadanya!”
“Dengan senang hati kekasihku!” jawab Iblis Terbang Pencabut nyawa.
“Tapi biar kupesiangi dulu tubuhnya!” Habis berkata begitu wanita ini melesat ke atas bahtera H0k Kui. G0l0knya menciptakan putaran ganas empat kali berturut-turut.
“Crass! Craass! Crass! Craass!”
Jeritan-setinggi langit menggelegar keluar dari lisan H0k Kui. G0l0k L0uw Bin Ni0 ternyata telah membabat buntung dua tangan di penggalan pundak dan sepasang kakinya di pangkal paha! Darah membanjiri lantai perahu. Iblis Terbang Pencabut Nyawa tertawa panjang.
Ketika ia hendak merampas Kitab Putih Wasiat Dewa dari balik baju H0k Kui , murid Ageng Musalamat ini perlaku nekad. Dengan sisa tenaga yang ada tanpa tangan dan kaki ia gulingkan tubuh , mencebur masuk ke dalam laut!
“Munding Sural Lekas terjun! Kejar dan ambil kitab di balik bajunya!” teriak Jenderal Suma.
Tidak pikir panjang lagi si pengkhianat ini segera mel0mpat masuk ke dalam laut. Justru pada dikala itulah seek0r ikan hiu ganas meluncur mendatangi. Di atas lima bahtera , empat belas penumpangnya hanya bisa tercekat ketika melihat air maritim mendadak berwarna merah. Jenderal Suma memandang berkeliling kemudian berteriak keras. Tiga belas 0rang lainnya sama tersentak kaget.
Ternyata di sekitar bahtera mereka belasan ikan hiu ganas muncul berkeliaran.
“Kembali ke kapal!” teriak Jenderal Suma Tiang Bun.
Empat bahtera cepat dikayuh kembali ke kapal. Malang bagi bahtera yang ditumpangi Jenderal Suma. Dua ek0r ikan hiu besar menabrak perahunya hingga terbalik. Tubuhnya dan tubuh t0k0h silat yang terbalik dari atas bahtera segera disambar belasan ikan hiu! L0uw Bin Ni0 sang kekasih gelap memekik laksana kemasukan setan. Kalau tidak dipegangi ia niscaya akan mel0mpat ke dalam maritim menyusul Suma Tiang Bun.
*
* *
Di atas kerikil miring s0s0k tubuh Pendekar 212 tidak bergerak. Sekujur badannya dibungkus hawa aneh sedingin es. Sepasang matanya nyalang tapi ia tidak sanggup melihat apa-apa. Tiba-tiba
“Wusss!”
Sekujur tubuh murid Eyang Sint0 Gendeng itu mengeluarkan cahaya terang benderang. Lalu sekali lagi terdengar bunyi ,
“Wusss!”
Dari kepala Pendekar 212 melesat keluar sebuah benda bersinar terang. Benda ini melayang ke udara dalam kecepatan luar biasa dan kesannya lenyap se0lah ditelan langit malam. Bersamaan dengan itu tubuh kaku Wir0 Sableng tampak menggeliat kemudian bergerak duduk. Dia memandang celingak-celinguk terheran-heran. Kepalanya dipegang berulang kali. Akhirnya murid Sint0 Gendeng ini garuk-garuk kepalanya.
“Aneh , barusan ini saya bermimpi atau bagaimana? Aku melihat se0rang berjulukan Kanjeng Sri Ageng Musalamat. Aku melihat Kitab Putih Wasiat Dewa. Lalu ada se0rang Jenderal Cina melaksanakan kekerabatan tubuh dengan se0rang wanita berdandan men0r bergelar Tjui-bihun… Tjui… Ah setan! Tak tahu saya menyebutnya dalam bahasa Cina!” Wir0 kembali garuk-garuk kepala.
“Ki H0k Kui… Lelaki Cina yang dibuntungi tangan dan kakinya itu. Dia yang terakhir sekali mempunyai kitab Putih Wasiat Dewa. Tapi ia kecebur masuk ke dalam laut!” Wir0 garuk-garuk kepala lagi dan kembali memandang berkeliling.
Lalu ia ingat pada Delapan Sabda Dewa. Dan bicara se0rang diri. “Delapan Sabda Dewa… Tanah , Air , Api , Udara , Bulan , Kayu… Batu! Astaga mengapa saya bisa mengingatnya?!” Baru saja Wir0 berkata begitu tiba-tiba di kejauhan terdengar bunyi 0rang bernyanyi.
Laut Selatan tak pernah tenang
Gel0mbang selalu tiba menantang
Ribuan pagi ribuan petang
Tubuh lapuk ini menunggu kedatangan
Yang menunggu renta renta malang
Yang dinantikan budak malang
Apakah dikala ini petunjuk Yang Kuasa turun menjelang
Mungkinkah ini final penantian dan permulaan dari satu harapan
Hanya kepada Yang Kuasa tertambat seluruh harapan
Agar tubuh renta ini bisa bebas menempuh jalan abadi menghadap Sang Pencipta.
“Tempat aneh nyanyian aneh. 0rangnya niscaya aneh! ,” kata Wir0 pula sambil garuk-garuk kepala ia turun dari kerikil miring itu dan melangkah ke arah datangnya bunyi nyanyian tadi.
T A M A T
No comments for "Delapan Sabda Dewa WIRO SABLENG Cerita Silat Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Karya: Bastian Tito"
Post a Comment